Share

Bab 752

Author: Arif
Ibu kota Kerajaan Agrel ini cukup makmur. Wira belum pernah ke ibu kota Kerajaan Nuala, tetapi keadaannya seharusnya tidak jauh berbeda. Wira, Danu, dan Mandra mulai berkeliling. Biarpun menyebutnya jalan-jalan, nyatanya Wira bukan berkeliling tanpa tujuan. Dia pergi ke beberapa tempat-tempat bagus, bertemu banyak tuan muda dan sesekali mengobrol ringan dengan mereka.

Sudah hampir tengah hari saat mereka pulang ke penginapan. Biantara yang menghilang sepanjang pagi pun telah kembali. Keduanya saling menyapa dengan senyuman. Kemudian, Wira berkata, "Sini kuperkenalkan, ini Mandra dan Danu. Mereka berdua adalah orang-orang kepercayaanku."

Mendengar itu, Biantara buru-buru mengepalkan tinju tanda hormat seraya berujar, "Aku sudah lama dengar kalau ada banyak master di sisi Wira. Benar saja, kalian tampak luar biasa."

Biantara pada dasarnya adalah orang yang mahir bergaul, meskipun terkadang kejam, dia juga berhati tulus. Danu dan Mandra tidak berani mengabaikannya. Bagaimanapun, orang itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
adrianto27886
katanya biantara gk berani manggil nama Wira tapi dengan sebutan tuan Wahyudi, knp jadi beralih ke Wira lagi panggilan nya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 753

    Mendengar itu, Danu dan Mandra hanya bisa mengangguk. Ucapan Biantara memang masuk akal."Tapi, Kak Wira sudah punya dua istri!" ujar Danu sambil mengerjap.Biantara segera mengibaskan tangannya dan berkata, "Wajar saja seorang pria memiliki beberapa istri. Apalagi, kalau orangnya itu Wira. Memangnya kalian nggak tahu ambisi Wira? Dewina juga wanita yang berpendidikan tinggi dan sangat cerdas. Dinilai dari kualifikasinya, dia bisa menjadi istri yang baik untuk Wira! Apa kalian tega menghalangi cinta mereka?"Begitu kata-kata ini terlontar, Danu dan Mandra akhirnya mengangguk paham."Biantara, kata-katamu ada benarnya!" ujar Danu buru-buru."Iya, untung kamu bilang. Kalau nggak, kami nggak akan menyadarinya!" timpal Mandra."Yah, wajar kalau kalian berdua nggak kepikiran hal ini. Ke depannya, kalian harus lebih memperhatikannya. Oke, kita bicarakan masalah lainnya. Danu, Mandra, siapa di antara kalian berdua yang paling jago dalam berpedang? Fisik siapa yang lebih kuat?" tanya Biantara.

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 754

    Sementara Biantara menceritakan rencananya pada Danu dan Mandra, Dewina dan Wira juga sedang berbincang di ruang kerja."Wira, boleh aku tahu alasanmu mencariku? Jangan-jangan kamu mau menyatakan cinta, ya?" kata Dewina sambil tersenyum. Dia mengerucutkan bibirnya, lalu mulai terkekeh-kekeh."Bukan, ada masalah serius yang ingin kudiskusikan denganmu," sahut Wira buru-buru."Masalah serius? Ngomong-ngomong, kenapa hanya kita berdua di sini? Dulu, selalu ada dua penjaga di depan pintumu," balas Dewina.Mendengar itu, Wira sontak tertegun. Dia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Danu dan Mandra. Namun, setelah memikirkannya, dia langsung paham. Biantara seharusnya sudah bertindak sesuai rencana."Mereka sedang ada urusan. Aku memintamu ke sini karena aku ingin meminta bantuanmu," ungkap Wira tanpa basa-basi.Dewina seketika mengulum senyum dan berkata, "Wira, katakan saja langsung kalau kamu punya perintah. Kurang pantas kalau kamu terlalu formal begitu. Bagaimanapun, kita berdua su

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 755

    Di sisi lain, Dewina menawan sekaligus sedikit ceria. Kedua kualitas yang saling bertentangan ini dimiliki Dewina, membuatnya sangat menggoda.Wira menarik napas dalam-dalam, lalu buru-buru berkata, "Nona Dewina, sebaiknya kamu nggak melakukan ini di depanku. Pengendalian diriku nggak sebagus itu."Dewina sontak terkekeh-kekeh sambil menutupi bibirnya. Kemudian, dia berkata, "Sudah, aku pergi dulu. Sampai jumpa besok."Dewina keluar dari pintu bertepatan dengan Biantara dan yang lainnya masuk. Melihat penampilan berantakan wanita itu, Danu dan Mandra langsung tercengang. Sebaliknya, Biantara hanya tersenyum tipis.Setelah Dewina pergi, Danu berseru, "Astaga, ternyata benar! Biantara, ucapanmu sama sekali nggak salah!"Biantara berkata bangga, "Sudah pasti. Penilaianku ini akurat lho!"Saat ini, Wira yang keluar dari ruang kerja langsung melihat ekspresi aneh ketiga orang itu.Wira tertegun sejenak, tetapi sebelum dia sempat bicara, Biantara sudah menangkupkan tinjunya dan berujar, "Wir

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 756

    Segala sesuatu sudah diatur dengan baik. Keesokan malam, Wira muncul di Restoran Sentosa. Selain Wira, ada pula Dewina, Mandra, dan pelayan pribadi Dewina. Orang-orang ini memesan semeja berisi hidangan lezat di Restoran Sentosa."Makan dulu, setelah itu baru bertindak," ujar Wira sambil terkekeh-kekeh. Dia pun mulai makan.Restoran Sentosa ini layak menyandang reputasi sebagai restoran terbaik di Kerajaan Agrel. Semua hidangannya benar-benar enak."Oke," sahut Dewina sambil tersenyum. Dia juga menyantap makanan dengan hati gembira.Pada saat itu, seseorang mengetuk pintu dua kali dengan pelan. Wira tersenyum, lalu menatap Dewina seraya berkata, "Orangnya sudah datang, sekarang semua tergantung padamu."Dewina segera mengangguk, lalu melangkah keluar.Saat ini, Gilang datang bersama dua anak buahnya untuk makan. Beberapa hari terakhir, dia selalu datang ke sini. Bukan karena dia sangat menyukai makanan di Restoran Sentosa, tetapi karena dia tengah gundah. Ayahnya ingin memberontak, tet

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 757

    "Kak Gilang, sudahlah, lupakan saja!" bujuk Dewina buru-buru.Akan tetapi, Gilang sama sekali tidak mendengarkan. Dia langsung menendang pintu ruangan dan berseru marah, "Wira! Berani sekali kamu!"Begitu masuk, Gilang langsung melihat Wira yang tengah menyantap makanan dengan santai. Alhasil, amarahnya makin menggelegar.Melihat kedatangan Gilang, Wira langsung bertanya, "Siapa kamu?""Aku Gilang, putra Raja Ararya. Aku kepala eksekutor pasukan Kerajaan Agrel!" jawab Gilang sambil mendengus dingin.Mendengar itu, Wira sontak tertawa, lalu berkata, "Rupanya kamu kepala eksekutor yang baru dipromosikan itu. Aku benaran nggak mengerti kenapa Ibu Suri masih membiarkanmu memegang posisi ini. Aih ... Ibu Suri terlalu baik hati. Seharusnya orang-orang dari kediaman Raja Ararya nggak boleh dibiarkan hidup!" ujar Wira tanpa belas kasihan.Ucapan itu membuat Gilang tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia menggebrak meja dan membentak, "Apa kamu bilang? Kubunuh kamu!" Mata Gilang berapi-api. Tad

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 758

    Wira melirik Gilang. Nyawa orang ini baru saja terancam, tetapi dia masih sempat-sempatnya memperingatkannya. Namun, Wira memang sengaja bersikap seperti ini. Jika tidak, rencananya tidak akan berhasil.Mandra terluka saat Wira juga ada di sana, ini adalah bukti terbaik! Tidak peduli seberapa pintar Raja Ararya, dia tidak akan pernah bisa menebak strateginya."Gilang, aku akan mengingat pesanmu. Tenanglah, aku akan memperlakukannya dengan baik," ujar Wira. Kemudian, Wira langsung pergi bersama orang-orangnya.Gilang menarik napas dalam-dalam. Saat melihat kaca jendela yang pecah, dia tidak bisa menyembunyikan amarahnya."Tuan, siapa orang yang berencana membunuhmu malam-malam begini?" salah satu pengawal Gilang bertanya dengan ekspresi terkejut di wajahnya.Mendengar ini, Gilang sontak mendengus, lalu berkata dengan raut dingin, "Siapa lagi? Huh! Selain dia, aku nggak kepikiran orang lainnya!"Gilang kembali ke kediaman Raja Ararya dengan marah, lalu menceritakan segala yang terjadi ke

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 759

    Usai Raja Ararya berkata demikian, Gilang tak kuasa bertanya, "Ayah, tapi kita sudah berkomitmen untuk berseberangan dengan Ibu Suri, jadi kenapa dia masih melakukan ini?"Raja Ararya melanjutkan, "Berseberangan dan memiliki dendam itu sedikit berbeda. Mungkin saat berseberangan sebelumnya, kita masih menyisakan ruang untuk berkompromi. Tapi sekarang, setelah ada dendam pembunuhan, itu menandakan bahwa perdamaian nggak akan pernah terjadi lagi. Kediaman Raja Ararya pasti akan murka!""Tapi ... dia melakukan semua ini juga demi alasan kedua, yaitu setelah kamu mati, Kediaman Raja Ararya nggak akan memiliki keturunan lagi! Dalam keluarga kerajaan, keturunan adalah yang paling penting. Begitu kamu mati, garis keturunanku akan terputus. Kalaupun kita menang, itu nggak berarti apa-apa," jelas Raja Ararya."Semua orang di Kerajaan Agrel juga menyaksikan. Aku akan makin tua dan nggak ada yang menggantikanku. Sementara itu, Raja Byakta memiliki banyak keturunan. Masa depan kerajaan pasti bera

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 760

    Wira tersenyum sambil menggelengkan kepala. Melihat reaksi seperti ini, Biantara tertegun sejenak dan tampak bingung. Itu sebabnya, dia bertanya, "Kenapa? Apa perkataanku salah?"Wira mengangguk sembari menjawab, "Benar, tapi nggak sepenuhnya benar juga."Biantara pun makin kebingungan. Dia segera bertanya, "Apa maksudnya?"Wira menjelaskan, "Sangat sederhana. Kalau aku mencoba membujuknya untuk mendukung Ibu Suri, dia pasti akan merasa kesal. Bagaimanapun, dia adalah Raja Ararya. Dia adalah orang yang sangat angkuh sehingga nggak akan mudah diajak berkompromi."Pada saat ini, Biantara tak kuasa bertanya, "Jadi, apa yang akan kamu katakan?""Jangan khawatir, pasti ada jalan keluarnya!" Usai mengatakan itu, Wira pun menguap dan melihat jam sekilas. Ini sudah waktunya dia pergi. Dengan diantar di belakang, Wira pun menaiki kuda dan langsung menuju Kediaman Raja Ararya. Setelah melakukan begitu banyak persiapan, kini sudah waktunya untuk membahas segalanya dengan Raja Ararya.Sementara it

Latest chapter

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3283

    Melihat para prajurit yang sedang memindahkan logistik, Joko dan Zaki segera bertanya, "Masih ada berapa banyak logistik yang belum dipindahkan?"Seorang perwira pembawa bendera mendekat. Setelah melihat Joko, dia memberi hormat dan berkata, "Jenderal, saat ini masih ada sisa dua gerobak logistik. Kalau dilihat dari kecepatan kita, mungkin butuh waktu sekitar sepuluh menit lagi sudah selesai."Mendengar jawaban itu, Joko langsung menganggukkan kepala dengan puas. Setelah terdiam sejenak, dia menatap Zaki yang berdiri di sampingnya berkata dengan pelan, "Ada kabar dari para mata-mata?"Zaki menggelengkan kepala dan berkata, "Nggak ada kabar sama sekali dari mata-mata, mungkin mereka belum menemukan apa-apa. Kalau ada informasi, mereka pasti akan langsung melapor."Mendengar jawaban itu, Joko juga tidak berpikir terlalu banyak lagi karena dia merasa memang belum ada hal yang mencurigakan juga.Tepat pada saat itu, Adjie dan rombongan yang sedang bergegas menuju ke saluran air juga sudah

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3282

    Mendengar laporan itu, Adjie dan Hayam langsung tertegun. Mereka berpikir mengapa musuh bisa tiba-tiba memindahkan logistik mereka di saat seperti ini, seolah-olah mereka sudah mengetahui rencana mereka terlebih dahulu.Tepat pada saat itu, Adjie yang memperhatikan situasinya sejak tadi pun mengernyitkan alis dan berkata, "Mereka memindahkan logistiknya ke mana?"Mata-mata itu mengernyitkan alis dan perlahan-lahan berkata, "Sepertinya dipindahkan ke arah saluran air. Selain itu, mereka juga memasang banyak jebakan di tempat logistik mereka yang lama, seolah-olah mereka sudah tahu kita akan menyerang logistik mereka."Adjie menganggukkan kepala dan berkata dengan pelan, "Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Beri tahu para prajurit untuk jangan bergerak dulu."Mata-mata itu memberi hormat, lalu berbalik dan pergi.Hayam langsung bertanya dengan bingung, "Adjie, apa yang harus kita lakukan sekarang?"Adjie tersenyum dan perlahan-lahan berkata, "Hehe. Karena musuh sudah memindahkan logistik

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3281

    Adjie dan Hayam langsung duduk di tanah untuk beristirahat. Menurut mereka, saat ini yang paling penting adalah menyelidiki situasi musuh di depan terlebih dahulu baru bisa mengambil keputusan selanjutnya. Mengetahui situasi sendiri dan musuh baru bisa menang dalam setiap pertempuran.Beberapa saat kemudian, Adjie mengeluarkan peta dan perlahan-lahan membukanya. Peta ini adalah peta rute di sekitar saluran air yang dibuatnya sendiri dengan sangat teliti.Melihat peta itu, Hayam juga tertegun sejenak.Adjie pun tersenyum dan menjelaskan, "Hehe. Aku menggambar peta ini saat aku masih di Desa Riwut. Saat itu aku nggak tahu peta ini akan berguna, tapi sekarang kelihatannya memang berguna."Mendengar penjelasan Adjie, Hayam tersenyum. Tidak ada yang menyangka hal yang dilakukan tanpa maksud ternyata akan sangat berguna sekarang. Setelah terdiam sejenak, dia memberi hormat dan berkata, "Kalau kamu memang sudah persiapan seperti ini, kita nggak mungkin akan kalah dalam pertempuran ini."Adjie

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3280

    Joko segera memberikan perintah, "Sekarang aku akan mengatur semuanya. Kalian bawa orang-orang untuk memindahkan persediaan ke saluran air, sementara sisakan sebagian di sini sebagai kamuflase. Mengerti?"Mendengar perintah itu, beberapa orang sempat termangu. Kemudian, salah satu dari mereka berkata, "Jenderal, cara ini memang nggak ada salah, tapi memindahkan persediaan ke saluran air agak merepotkan."Sebelum Joko sempat berbicara, Zaki langsung menyela, "Begini saja, kita gunakan gerobak untuk membawa semua persediaan ke sana. Setelah semuanya siap, kita bisa mengembalikan gerobaknya agar nggak menimbulkan kecurigaan."Saat ini, semua persediaan disimpan dalam gerobak untuk memudahkan pengangkutan. Joko mengangguk setuju dan mengiakan, "Ya sudah, kita lakukan seperti itu!"Mendengar perintah itu, para komandan bendera segera memberi hormat. Kemudian, mereka bergegas pergi untuk melaksanakan tugas mereka.Melihat semuanya sudah diatur, Joko akhirnya bisa bernapas lega. Setelah beber

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3279

    Joko dan Zaki sedang mengatur orang-orang untuk memindahkan persediaan bahan makanan. Saat ini, Zaki tampak terpikir akan sesuatu, lalu berbisik, "Menurutmu, apakah pasukan Wira akan menyerang kita?"Mendengar pertanyaan itu, Joko mengerutkan alisnya sedikit. Setelah berpikir beberapa saat, dia perlahan menyahut, "Sulit dipastikan. Tapi, karena ada kemungkinan seperti itu, kita tentu harus berhati-hati.""Lagi pula, kalau kita sudah menyelesaikan pemindahan ini, meskipun mereka menyerang, mereka hanya akan menemui kehancuran."Zaki mengangguk setuju. Dari sudut pandangnya, tampaknya tidak ada masalah dengan rencana ini.Setelah beberapa saat, Joko kembali mengernyit dan bertanya, "Masalahnya, kita akan menyimpan bahan makanan ini di mana? Nggak mungkin kita cuma memindahkannya tanpa tujuan, 'kan?"Zaki terdiam sejenak. Memang mereka belum memikirkan hal itu secara matang. Setelah merenung beberapa saat, dia menimpali, "Kalau begitu, sebaiknya kita pilih tempat yang aman dan tersembunyi

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3278

    Di pihak Wira, ketika melihat waktu sudah hampir tiba, Adjie dan Hayam langsung membawa 500 prajurit untuk berkumpul.Di lapangan luar perkemahan, Wira menatap kedua orang itu dan berkata, "Kalau misi ini berhasil, aku akan menyiapkan pesta kemenangan untuk kalian!"Mendengar perkataan Wira, Adjie dan Hayam menjadi sangat bersemangat. Setelah memberi hormat, mereka segera melompat ke atas kuda. Setelah itu, pasukan mereka mulai bergerak dengan cepat menuju perkemahan pasukan utara.Melihat Adjie dan Hayam melaju kencang ke medan perang, Wira menghela napas panjang. Di malam yang gelap gulita ini memang sangat cocok untuk serangan mendadak.Di belakang Wira, Arhan, Agha, dan Nafis berdiri tegap. Setelah beberapa saat, mereka mendekati Wira. Nafis berkata sambil memberi hormat, "Tuan, udara malam cukup dingin. Sebaiknya kamu masuk untuk istirahat."Wira mengangguk. Setelah kembali ke dalam tenda, dia menatap ketiga orang itu dan berucap, "Pesan dari Jenderal Trenggi sudah sampai. Mereka

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3277

    Mendengar perkataan Darsa, Kahlil langsung tersenyum dan mengangguk. Dia berkata, "Benar, seperti itu. Hanya dengan cara ini kita bisa benar-benar menyelesaikan masalah. Selain itu, entah musuh akan menyerang kita atau nggak, dari sudut pandang kita saat ini, ini adalah strategi terbaik."Darsa merasa sangat bersemangat mendengar itu. Setelah berpikir beberapa saat, dia tersenyum sambil mengangguk, lalu bertanya, "Strategi ini memang bagus. Bagaimana dengan kalian berdua? Ada ide lain?"Joko dan Zaki berpandangan, lalu mengangguk ringan. Setelah beberapa saat, keduanya tersenyum dan berujar, "Kalau memang seperti ini, ini jelas adalah rencana yang bagus. Justru ini adalah yang terbaik saat ini."Melihat keduanya tidak keberatan, Darsa pun tersenyum dan berucap, "Kalau begitu, kita akan mengikuti rencana ini. Tapi, pertama-tama kita harus memastikan rencana ini memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi."Mendengar itu, semua orang mengangguk. Setelah berpikir sejenak, Joko menatap

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3276

    Begitu mendengarnya, ekspresi semua orang langsung berubah. Zaki yang paling tidak sabaran pun mengernyit. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata dengan nada tidak percaya, "Kamu sudah gila?""Kalau kita melakukan itu, bukankah musuh bisa dengan mudah membakar semua persediaan kita? Ide ini nggak ada bedanya dengan langsung memberi tahu mereka kalau di sini ada pangan!"Darsa menyadari bahwa Kahlil belum selesai berbicara. Melihatnya disela oleh Zaki, dia segera mengerutkan kening dan menegur dengan tegas, "Kenapa kamu terburu-buru? Biarkan Kahlil menyelesaikan ucapannya!"Zaki langsung terdiam, menyusutkan lehernya sedikit, lalu kembali menatap Kahlil.Kahlil terkekeh-kekeh. Setelah beberapa saat, dia menunjuk peta sambil berucap, "Sebenarnya ini cukup sederhana. Kita bisa menggunakan persediaan sebagai umpan.""Dengan cara ini, kalau musuh benar-benar mencoba menargetkan persediaan kita, mereka akan masuk ke dalam perangkap kita dan kita bisa melakukan penyergapan."Mendengar it

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3275

    Mendengar ucapan Darsa, semua orang mengangguk pelan. Joko yang berdiri di samping segera menangkupkan tangan dan berkata, "Kalau begitu, biarkan kami yang mengatur segalanya. Tuan, jangan khawatir!"Melihat Joko menerima tugas itu, Darsa mengangguk.Saat ini, Kahlil yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi. Setelah berpikir sejenak, dia maju dan berkata, "Tuan, aku punya rencana. Tapi, aku nggak tahu ini pantas untuk dikatakan atau nggak."Sebelum Darsa sempat menanggapi, Zaki yang berdiri di dekatnya langsung menegur, "Kamu bicara apa? Kamu nggak lihat betapa pusingnya Tuan Darsa memikirkan masalah ini? Apa yang bisa kamu pikirkan sekarang?"Darsa pun menegur Zaki balik. Saat ini, mereka sedang menghadapi kesulitan besar. Justru karena itu, jika ada informasi atau ide baru, dia harus mendengarnya terlebih dahulu.Akhirnya, Zaki menunduk, sementara Kahlil maju dan berkata, "Tuan, ada yang ingin kutanyakan. Kalau musuh yang mulai menyerang kita, kenapa kita hanya bertahan tanpa mela

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status