Danu tertegun sejenak, dia agak kebingungan. Wira menyahut, "Benar, dia itu sohibku."Danu yang penasaran bertanya, "Um ... Kak Wira, siapa dia?"Bagi Danu, Wira sangat hebat. Jadi, mana mungkin orang biasa bisa menjadi sohib Wira? Meskipun Danu dan lainnya telah mengikuti Wira untuk waktu yang lama, hubungan mereka hanya sebatas saudara. Hal ini karena sering kali mereka tidak mampu memahami Wira.Menurut pemahaman Danu, sohib adalah orang yang sangat memahami kita. Di seluruh Kerajaan Agrel, orang yang bisa menjadi sohib Wira benar-benar sangat sedikit."Sudahlah, siapkan perjamuan makan malam. Nanti malam aku mau bersenang-senang!" ujar Wira yang merasa sangat antusias. Dia menyimpan surat itu dan menunggu dengan tenang.Saat tengah malam, hanya ada Wira di ruang kerja. Kala ini, dia sudah selesai membuat hotpot dan menyiapkan arak, lalu menunggu kedatangan tamunya.Tak lama kemudian, pintu ruang kerja diketuk. Wira pun tersenyum dan berkata, "Pintunya nggak ditutup. Masuk saja."Se
Biantara tampak kebingungan, dia melirik Wira sekilas dan berujar, "Dari dulu, wanita nggak pernah memegang kekuasaan. Ini aturan yang diturunkan oleh leluhur. Wira, kamu begitu pintar. Apa kamu nggak tahu masalah akan timbul kalau wanita yang memegang kekuasaan?"Wira langsung tertawa setelah mendengar perkataan Biantara. Sebenarnya, hal ini tidak bisa disamaratakan. Selain para pria yang memang tidak berkompeten, belum tentu pria bisa mengendalikan kekuasaan lebih baik daripada wanita.Wira yang berasal dari kehidupan modern tentu tahu bahwa pria dan wanita itu setara. Bukan hanya itu, bahkan posisi wanita lebih tinggi dari pria. Umumnya, para wanita yang mengelola keuangan di dalam keluarga. Jika ingin menjalani kehidupan yang baik, seorang pria harus menuruti kehendak istrinya.Hal seperti ini menjadi pilihan sebagian besar pria. Mereka menyerahkan gaji dan keuangan mereka kepada sang istri. Kehidupan mereka mungkin tidak sempurna, tapi yang pasti tidak buruk. Tentu saja, itu masih
Biantara tidak ingin pergi karena Wira. "Apa kamu masih ingat saat kamu datang mengunjungi makamku?" tanya Biantara dengan tiba-tiba. Wira tertegun, lalu menimpali, "Hah? Bagaimana kamu tahu? Jangan-jangan ... kamu juga ada di sana?" Wira tidak menyangka dia bisa bertemu dengan Biantara secara kebetulan.Biantara mengangguk sambil tersenyum, lalu berucap, "Benar. Aku ada di sana. Aku juga sudah mendengar semua yang kamu ucapkan. Jujur saja, aku nggak pernah menyangka kamu akan datang ke makamku. Orang lain pasti senang karena sudah menyingkirkan lawannya, tapi aku malah melihat kamu merasa kehilangan!"Biantara menatap Wira dan mengungkapkan seluruh isi hatinya di bawah pengaruh bir.Wira mengangguk sembari menyahut, "Aku memang merasa kehilangan. Biantara, aku ingin mengatakan ini lagi. Aku menang karena posisi yang menguntungkan! Bisa dibilang situasi dan kondisi mendukung. Dengan bantuan Giandra dan Raja Kresna, kami baru bisa mengalahkanmu dan Raja Ararya. Meskipun aku menang, ak
Biantara berlutut di tanah dengan bersungguh-sungguh. Melihat ini, Wira langsung tertawa, lalu berkata, "Cepat berdiri. Kamu nggak perlu begini."Wira paling membenci melihat orang berlutut padanya. Dia berpikir bahwa semua manusia itu setara, tidak ada perbedaan antara orang yang berkedudukan tinggi dan rendah. Oleh sebab itu, orang lain tidak perlu berlutut padanya. Terlebih lagi, ada beberapa hal yang hanya perlu diketahui saja. Cukup dengan memahami tanpa harus mengatakannya. Setelah itu, Wira membantu Biantara berdiri dengan senang dan berucap, "Ingat, aku bukan tuanmu. Aku adalah temanmu dan rekan seperjuanganmu. Nggak ada seorang pun di dunia ini yang menjadi tuanmu. Mulai sekarang, kamu cukup panggil aku Wira saja. Mengerti?"Ucapan Wira membuat Biantara makin takjub. "Itu nggak cukup sopan. Aku akan memanggilmu Tuan Wahyudi saja!" timpal Biantara sembari tersenyum. Wira sama sekali tidak keberatan. Dia pun mengangguk seraya berkata, "Biantara, sekarang sudah nggak ada yang h
Wira berkata sambil terkekeh-kekeh, "Begitu datang, kamu sudah memberiku hadiah pertemuan. Ini benar-benar mengejutkan. Coba katakan, apa rencanamu?"Biantara memikirkannya sejenak sebelum berkata, "Wira, apa kamu tahu siapa orang dengan keterampilan bela diri terhebat di Kerajaan Agrel?""Nggak tahu," sahut Wira sambil menggeleng.Biantara berujar perlahan, "Di istana Kerajaan Agrel, ada orang misterius yang sangat kuat. Bisa dibilang, dia itu orang dengan kekuatan tempur terhebat di kerajaan ini. Tentu saja, yang ingin aku kubahas bukan dia, tapi orang lain.""Selain orang itu, ada seseorang bernama Gideon yang merupakan pengikut Raja Byakta. Kudengar pria ini direkrut dari luar oleh Raja Byakta dan identitasnya masih menjadi misteri. Nggak ada yang tahu dari mana asalnya, tapi teknik pedangnya adalah yang terbaik kedua di Kerajaan Agrel.""Yang ketiga itu Dwipangga, pengikut Raja Ararya. Tempo hari, orang-orang yang kalian kirim bisa ditanganinya sendirian. Tujuh orang itu berhasil
Ibu kota Kerajaan Agrel ini cukup makmur. Wira belum pernah ke ibu kota Kerajaan Nuala, tetapi keadaannya seharusnya tidak jauh berbeda. Wira, Danu, dan Mandra mulai berkeliling. Biarpun menyebutnya jalan-jalan, nyatanya Wira bukan berkeliling tanpa tujuan. Dia pergi ke beberapa tempat-tempat bagus, bertemu banyak tuan muda dan sesekali mengobrol ringan dengan mereka.Sudah hampir tengah hari saat mereka pulang ke penginapan. Biantara yang menghilang sepanjang pagi pun telah kembali. Keduanya saling menyapa dengan senyuman. Kemudian, Wira berkata, "Sini kuperkenalkan, ini Mandra dan Danu. Mereka berdua adalah orang-orang kepercayaanku."Mendengar itu, Biantara buru-buru mengepalkan tinju tanda hormat seraya berujar, "Aku sudah lama dengar kalau ada banyak master di sisi Wira. Benar saja, kalian tampak luar biasa."Biantara pada dasarnya adalah orang yang mahir bergaul, meskipun terkadang kejam, dia juga berhati tulus. Danu dan Mandra tidak berani mengabaikannya. Bagaimanapun, orang itu
Mendengar itu, Danu dan Mandra hanya bisa mengangguk. Ucapan Biantara memang masuk akal."Tapi, Kak Wira sudah punya dua istri!" ujar Danu sambil mengerjap.Biantara segera mengibaskan tangannya dan berkata, "Wajar saja seorang pria memiliki beberapa istri. Apalagi, kalau orangnya itu Wira. Memangnya kalian nggak tahu ambisi Wira? Dewina juga wanita yang berpendidikan tinggi dan sangat cerdas. Dinilai dari kualifikasinya, dia bisa menjadi istri yang baik untuk Wira! Apa kalian tega menghalangi cinta mereka?"Begitu kata-kata ini terlontar, Danu dan Mandra akhirnya mengangguk paham."Biantara, kata-katamu ada benarnya!" ujar Danu buru-buru."Iya, untung kamu bilang. Kalau nggak, kami nggak akan menyadarinya!" timpal Mandra."Yah, wajar kalau kalian berdua nggak kepikiran hal ini. Ke depannya, kalian harus lebih memperhatikannya. Oke, kita bicarakan masalah lainnya. Danu, Mandra, siapa di antara kalian berdua yang paling jago dalam berpedang? Fisik siapa yang lebih kuat?" tanya Biantara.
Sementara Biantara menceritakan rencananya pada Danu dan Mandra, Dewina dan Wira juga sedang berbincang di ruang kerja."Wira, boleh aku tahu alasanmu mencariku? Jangan-jangan kamu mau menyatakan cinta, ya?" kata Dewina sambil tersenyum. Dia mengerucutkan bibirnya, lalu mulai terkekeh-kekeh."Bukan, ada masalah serius yang ingin kudiskusikan denganmu," sahut Wira buru-buru."Masalah serius? Ngomong-ngomong, kenapa hanya kita berdua di sini? Dulu, selalu ada dua penjaga di depan pintumu," balas Dewina.Mendengar itu, Wira sontak tertegun. Dia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Danu dan Mandra. Namun, setelah memikirkannya, dia langsung paham. Biantara seharusnya sudah bertindak sesuai rencana."Mereka sedang ada urusan. Aku memintamu ke sini karena aku ingin meminta bantuanmu," ungkap Wira tanpa basa-basi.Dewina seketika mengulum senyum dan berkata, "Wira, katakan saja langsung kalau kamu punya perintah. Kurang pantas kalau kamu terlalu formal begitu. Bagaimanapun, kita berdua su
Melihat para prajurit yang sedang memindahkan logistik, Joko dan Zaki segera bertanya, "Masih ada berapa banyak logistik yang belum dipindahkan?"Seorang perwira pembawa bendera mendekat. Setelah melihat Joko, dia memberi hormat dan berkata, "Jenderal, saat ini masih ada sisa dua gerobak logistik. Kalau dilihat dari kecepatan kita, mungkin butuh waktu sekitar sepuluh menit lagi sudah selesai."Mendengar jawaban itu, Joko langsung menganggukkan kepala dengan puas. Setelah terdiam sejenak, dia menatap Zaki yang berdiri di sampingnya berkata dengan pelan, "Ada kabar dari para mata-mata?"Zaki menggelengkan kepala dan berkata, "Nggak ada kabar sama sekali dari mata-mata, mungkin mereka belum menemukan apa-apa. Kalau ada informasi, mereka pasti akan langsung melapor."Mendengar jawaban itu, Joko juga tidak berpikir terlalu banyak lagi karena dia merasa memang belum ada hal yang mencurigakan juga.Tepat pada saat itu, Adjie dan rombongan yang sedang bergegas menuju ke saluran air juga sudah
Mendengar laporan itu, Adjie dan Hayam langsung tertegun. Mereka berpikir mengapa musuh bisa tiba-tiba memindahkan logistik mereka di saat seperti ini, seolah-olah mereka sudah mengetahui rencana mereka terlebih dahulu.Tepat pada saat itu, Adjie yang memperhatikan situasinya sejak tadi pun mengernyitkan alis dan berkata, "Mereka memindahkan logistiknya ke mana?"Mata-mata itu mengernyitkan alis dan perlahan-lahan berkata, "Sepertinya dipindahkan ke arah saluran air. Selain itu, mereka juga memasang banyak jebakan di tempat logistik mereka yang lama, seolah-olah mereka sudah tahu kita akan menyerang logistik mereka."Adjie menganggukkan kepala dan berkata dengan pelan, "Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Beri tahu para prajurit untuk jangan bergerak dulu."Mata-mata itu memberi hormat, lalu berbalik dan pergi.Hayam langsung bertanya dengan bingung, "Adjie, apa yang harus kita lakukan sekarang?"Adjie tersenyum dan perlahan-lahan berkata, "Hehe. Karena musuh sudah memindahkan logistik
Adjie dan Hayam langsung duduk di tanah untuk beristirahat. Menurut mereka, saat ini yang paling penting adalah menyelidiki situasi musuh di depan terlebih dahulu baru bisa mengambil keputusan selanjutnya. Mengetahui situasi sendiri dan musuh baru bisa menang dalam setiap pertempuran.Beberapa saat kemudian, Adjie mengeluarkan peta dan perlahan-lahan membukanya. Peta ini adalah peta rute di sekitar saluran air yang dibuatnya sendiri dengan sangat teliti.Melihat peta itu, Hayam juga tertegun sejenak.Adjie pun tersenyum dan menjelaskan, "Hehe. Aku menggambar peta ini saat aku masih di Desa Riwut. Saat itu aku nggak tahu peta ini akan berguna, tapi sekarang kelihatannya memang berguna."Mendengar penjelasan Adjie, Hayam tersenyum. Tidak ada yang menyangka hal yang dilakukan tanpa maksud ternyata akan sangat berguna sekarang. Setelah terdiam sejenak, dia memberi hormat dan berkata, "Kalau kamu memang sudah persiapan seperti ini, kita nggak mungkin akan kalah dalam pertempuran ini."Adjie
Joko segera memberikan perintah, "Sekarang aku akan mengatur semuanya. Kalian bawa orang-orang untuk memindahkan persediaan ke saluran air, sementara sisakan sebagian di sini sebagai kamuflase. Mengerti?"Mendengar perintah itu, beberapa orang sempat termangu. Kemudian, salah satu dari mereka berkata, "Jenderal, cara ini memang nggak ada salah, tapi memindahkan persediaan ke saluran air agak merepotkan."Sebelum Joko sempat berbicara, Zaki langsung menyela, "Begini saja, kita gunakan gerobak untuk membawa semua persediaan ke sana. Setelah semuanya siap, kita bisa mengembalikan gerobaknya agar nggak menimbulkan kecurigaan."Saat ini, semua persediaan disimpan dalam gerobak untuk memudahkan pengangkutan. Joko mengangguk setuju dan mengiakan, "Ya sudah, kita lakukan seperti itu!"Mendengar perintah itu, para komandan bendera segera memberi hormat. Kemudian, mereka bergegas pergi untuk melaksanakan tugas mereka.Melihat semuanya sudah diatur, Joko akhirnya bisa bernapas lega. Setelah beber
Joko dan Zaki sedang mengatur orang-orang untuk memindahkan persediaan bahan makanan. Saat ini, Zaki tampak terpikir akan sesuatu, lalu berbisik, "Menurutmu, apakah pasukan Wira akan menyerang kita?"Mendengar pertanyaan itu, Joko mengerutkan alisnya sedikit. Setelah berpikir beberapa saat, dia perlahan menyahut, "Sulit dipastikan. Tapi, karena ada kemungkinan seperti itu, kita tentu harus berhati-hati.""Lagi pula, kalau kita sudah menyelesaikan pemindahan ini, meskipun mereka menyerang, mereka hanya akan menemui kehancuran."Zaki mengangguk setuju. Dari sudut pandangnya, tampaknya tidak ada masalah dengan rencana ini.Setelah beberapa saat, Joko kembali mengernyit dan bertanya, "Masalahnya, kita akan menyimpan bahan makanan ini di mana? Nggak mungkin kita cuma memindahkannya tanpa tujuan, 'kan?"Zaki terdiam sejenak. Memang mereka belum memikirkan hal itu secara matang. Setelah merenung beberapa saat, dia menimpali, "Kalau begitu, sebaiknya kita pilih tempat yang aman dan tersembunyi
Di pihak Wira, ketika melihat waktu sudah hampir tiba, Adjie dan Hayam langsung membawa 500 prajurit untuk berkumpul.Di lapangan luar perkemahan, Wira menatap kedua orang itu dan berkata, "Kalau misi ini berhasil, aku akan menyiapkan pesta kemenangan untuk kalian!"Mendengar perkataan Wira, Adjie dan Hayam menjadi sangat bersemangat. Setelah memberi hormat, mereka segera melompat ke atas kuda. Setelah itu, pasukan mereka mulai bergerak dengan cepat menuju perkemahan pasukan utara.Melihat Adjie dan Hayam melaju kencang ke medan perang, Wira menghela napas panjang. Di malam yang gelap gulita ini memang sangat cocok untuk serangan mendadak.Di belakang Wira, Arhan, Agha, dan Nafis berdiri tegap. Setelah beberapa saat, mereka mendekati Wira. Nafis berkata sambil memberi hormat, "Tuan, udara malam cukup dingin. Sebaiknya kamu masuk untuk istirahat."Wira mengangguk. Setelah kembali ke dalam tenda, dia menatap ketiga orang itu dan berucap, "Pesan dari Jenderal Trenggi sudah sampai. Mereka
Mendengar perkataan Darsa, Kahlil langsung tersenyum dan mengangguk. Dia berkata, "Benar, seperti itu. Hanya dengan cara ini kita bisa benar-benar menyelesaikan masalah. Selain itu, entah musuh akan menyerang kita atau nggak, dari sudut pandang kita saat ini, ini adalah strategi terbaik."Darsa merasa sangat bersemangat mendengar itu. Setelah berpikir beberapa saat, dia tersenyum sambil mengangguk, lalu bertanya, "Strategi ini memang bagus. Bagaimana dengan kalian berdua? Ada ide lain?"Joko dan Zaki berpandangan, lalu mengangguk ringan. Setelah beberapa saat, keduanya tersenyum dan berujar, "Kalau memang seperti ini, ini jelas adalah rencana yang bagus. Justru ini adalah yang terbaik saat ini."Melihat keduanya tidak keberatan, Darsa pun tersenyum dan berucap, "Kalau begitu, kita akan mengikuti rencana ini. Tapi, pertama-tama kita harus memastikan rencana ini memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi."Mendengar itu, semua orang mengangguk. Setelah berpikir sejenak, Joko menatap
Begitu mendengarnya, ekspresi semua orang langsung berubah. Zaki yang paling tidak sabaran pun mengernyit. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata dengan nada tidak percaya, "Kamu sudah gila?""Kalau kita melakukan itu, bukankah musuh bisa dengan mudah membakar semua persediaan kita? Ide ini nggak ada bedanya dengan langsung memberi tahu mereka kalau di sini ada pangan!"Darsa menyadari bahwa Kahlil belum selesai berbicara. Melihatnya disela oleh Zaki, dia segera mengerutkan kening dan menegur dengan tegas, "Kenapa kamu terburu-buru? Biarkan Kahlil menyelesaikan ucapannya!"Zaki langsung terdiam, menyusutkan lehernya sedikit, lalu kembali menatap Kahlil.Kahlil terkekeh-kekeh. Setelah beberapa saat, dia menunjuk peta sambil berucap, "Sebenarnya ini cukup sederhana. Kita bisa menggunakan persediaan sebagai umpan.""Dengan cara ini, kalau musuh benar-benar mencoba menargetkan persediaan kita, mereka akan masuk ke dalam perangkap kita dan kita bisa melakukan penyergapan."Mendengar it
Mendengar ucapan Darsa, semua orang mengangguk pelan. Joko yang berdiri di samping segera menangkupkan tangan dan berkata, "Kalau begitu, biarkan kami yang mengatur segalanya. Tuan, jangan khawatir!"Melihat Joko menerima tugas itu, Darsa mengangguk.Saat ini, Kahlil yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi. Setelah berpikir sejenak, dia maju dan berkata, "Tuan, aku punya rencana. Tapi, aku nggak tahu ini pantas untuk dikatakan atau nggak."Sebelum Darsa sempat menanggapi, Zaki yang berdiri di dekatnya langsung menegur, "Kamu bicara apa? Kamu nggak lihat betapa pusingnya Tuan Darsa memikirkan masalah ini? Apa yang bisa kamu pikirkan sekarang?"Darsa pun menegur Zaki balik. Saat ini, mereka sedang menghadapi kesulitan besar. Justru karena itu, jika ada informasi atau ide baru, dia harus mendengarnya terlebih dahulu.Akhirnya, Zaki menunduk, sementara Kahlil maju dan berkata, "Tuan, ada yang ingin kutanyakan. Kalau musuh yang mulai menyerang kita, kenapa kita hanya bertahan tanpa mela