Jenderal lainnya mengangguk mendengar usul ini. Ishan menyahut, "Kudengar, Wira sudah punya 200.000 pasukan. Jumlah kita memang lebih banyak. Tapi, kalau bertarung dengan pasukan Wira, gimana kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menguasai Kerajaan Nuala? Begitu Kerajaan Nuala diberi peluang untuk beristirahat, mereka mungkin menjadi bencana besar."Ishan adalah orang yang tegas. Pendapat semua orang sama, tetapi pendapatnya justru berbeda. Kemudian, Ishan sontak menggebrak meja dan berkata, "Lakukan sesuai perintahku. Taklukkan Kerajaan Nuala terlebih dahulu, sisanya baru kita pertimbangkan nanti."Kini, Ishan jelas sudah berbeda. Dia adalah Jenderal Besar Kerajaan Beluana yang memiliki banyak bawahan dan berkuasa atas kekuatan militer.Karena Ishan sudah membuat keputusan, tidak ada yang berani berkutik lagi meskipun merasa tidak puas.Ketika orang-orang hendak keluar, seorang prajurit tiba-tiba berlari masuk dengan tergesa-gesa dan berteriak, "Lapor!"Tatapan para jenderal son
"Ishan sudah bergerak? Sepertinya, mereka nggak bisa sabar lagi karena kita menaklukkan Kota Siluet. Siapa suruh mereka mencuri pangan kita?" ucap Wira yang berzirah dan menunggang kuda dengan tidak acuh.Wira awalnya belum berniat bermusuhan dengan Kerajaan Beluana, tetapi mereka benar-benar keterlaluan. Kebetulan sekali, Wira bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendamaikan negara kembali. Target pertamanya pun adalah Kerajaan Beluana."Kita punya meriam, siapa juga yang takut dengan Ishan? Kita bisa meledakkan semua pasukan yang ada!" ujar Danu dengan antusias. Dia ingin sekali bertarung dengan pasukan Ishan sekarang, supaya prestisenya di medan perang makin besar."Meriam itu memang hebat, tapi juga punya kelemahan. Banyak waktu dan energi yang habis saat digunakan, juga tidak bisa digunakan dalam pertarungan jarak dekat. Selain itu, harus ada pasukan elite yang bertugas menjaga meriam. Nggak masalah kalau hanya meledakkan gerbang kota. Tapi, kalau bertarung seperti biasa, kita h
"Baiklah. Kalau begitu, kamu akan sangat lelah selanjutnya. Bukan hanya berperang bersamaku, tapi juga melatih pasukan panahan. Kalau mereka berjasa di medan perang, aku pasti akan memberimu gelar nanti," ucap Wira yang menepuk bahu Nafis. Meskipun masih muda, Nafis punya kemampuan. Inilah bakat yang diperlukan Wira."Aku nggak akan mengecewakan Jenderal!" sahut Nafis dengan penuh keyakinan lagi. Wira pun tersenyum puas, lalu membawa pasukannya menuju ke Benteng Talog.Di luar Benteng Talog, setelah Wira tiba, Ishan dan pasukannya juga tiba. Kedua belah pihak sama-sama membangun tenda di sana."Jenderal! Ishan mengutus orang untuk mengantar surat!" seru Danu yang berjalan ke depan meja Wira dengan penuh hormat. Saat ini, Wira dan lainnya baru selesai membangun tenda."Menarik juga, dia mengambil inisiatif untuk mengirimku surat? Entah apa yang direncakan pria ini," gumam Wira sambil tersenyum. Pada saat yang sama, dia membuka surat itu dan membaca sekilas."Rupanya begitu." Ishan menya
"Kenapa aku nggak tahu bawahanku mencuri panganmu? Pasti ada kesalahpahaman, 'kan?" balas Ishan yang bersikeras tidak ingin mengaku.Jika Wira memulai perang, itu artinya dia bersikap tidak masuk akal. Sementara itu, mereka dapat menjadikan hal ini sebagai alasan untuk melawan.Meskipun hubungan Kerajaan Beluana dengan Wira belum sepenuhnya hancur, cepat atau lambat, mereka pasti akan bertemu di medan perang.Apabila Kerajaan Beluana ingin menguasai seluruh provinsi, Provinsi Lowala yang dikuasai oleh Wira tentu harus jatuh ke tangan mereka juga!"Jenderal Ishan, berhenti berpura-pura bodoh. Qolbu sudah memberitahuku semuanya. Semua yang dia lakukan jelas atas perintahmu. Jadi, kamu nggak perlu bersembunyi lagi. Sebagai jenderal besar, kamu pasti tahu semua yang dilakukan bawahanmu, 'kan?""Kalian sudah termasuk beruntung karena aku nggak mempermasalahkannya saat kalian mencuri panganku untuk pertama kalinya. Tapi, kalian malah makin merajalela. Ini artinya, kamu membiarkan bawahanmu m
"Kak Wira! Prajurit Kerajaan Beluana mengejar kita! Apakah kita harus melawan atau kembali ke kamp?" tanya Danu sambil mengamati situasi di belakang.Wira memicingkan matanya, lalu menyahut dengan tidak acuh, "Tenang saja. Sebelum keluar, aku sudah memasang perangkap di sekitar sini.""Aku tahu mereka nggak mungkin diam begitu saja. Karena Ishan sendiri yang begitu nggak tahu diri, aku pun nggak perlu memedulikannya lagi."Wira terkekeh-kekeh. Dia mengeluarkan tabung kembang api dari sakunya, lalu terlihat kembang api menyala di langit. Saat berikutnya, dua pasukan muncul dari belakang bukit di sekitar dan menyerbu ke arah pasukan Kerajaan Beluana.Dalam sekejap, pertarungan dimulai. Lantaran jumlah pasukan Wira lebih banyak, prajurit Kerajaan Beluana pun mundur satu per satu dan tidak berani berlama-lama di sana."Kak Wira, kamu memang genius! Ternyata kamu sudah memasang perangkap sejak tadi! Sia-sia aku khawatir ...," puji Danu sambil mengacungkan jempolnya. Dia merasa sangat puas d
"Para jenderal, segera siapkan pasukan untuk menyerang kota bersamaku. Asalkan Benteng Talog dijatuhkan, kita bisa memaksa Ishan untuk menyerah!" ujar Wira.Para jenderal serempak berseru, "Kita harus memenangkan perang ini!"Para prajurit telah dilatih sejak lama untuk saat seperti ini. Setelah menunggu begitu lama, wajar saja jika semangat orang-orang ini menggebu-gebu. Hari ini, kesempatan unjuk gigi akhirnya tiba!Sore itu, Wira duduk di kamp pusat, sementara para jenderal sibuk memobilisasi pasukan masing-masing. Aura semua orang tampak begitu mengesankan.Baru dua jam bertarung, pasukan Kerajaan Beluana sudah kewalahan. Serangan Meriam Darmadi terus mendesak mundur pasukan Ishan. Saat ini, mereka bahkan tidak berani melancarkan serangan apa pun lagi. Mereka hanya bisa bertahan di Benteng Talog."Ada 500.000 prajurit di pasukanku dan sekarang semuanya berdiam di Benteng Talog! Pasukan Wira bahkan nggak mencapai 200.000 orang! Aku benar-benar nggak mengerti. Perang baru saja dimul
Ishan memandang situasi di medan perang tanpa bersuara. Pasukan Wira tampaknya memang berniat menyingkirkan mereka dari Benteng Talog."Ini nggak semenakutkan pemikiran kalian. Situasi pasukan kita juga nggak seburuk itu," ujar Ishan.Ishan tiba-tiba menunjuk kamp Meriam Darmadi di kejauhan dan melanjutkan, "Apa kalian sadar kalau jangkauan serangan senjata itu ada limitnya? Senjata itu sama sekali nggak membahayakan musuh yang berada di jarak dekat, tepatnya senjata itu hanya bisa menyerang musuh dari jarak jauh.""Kalau kita mengutus pasukan untuk menyerang tenda mereka, kita pasti bisa mendapat peluang. Kita unggul dalam jumlah. Selama bisa mengatasi serangan senjata itu, kita bisa membalikkan keadaan! Para jenderal, dengarkan perintahku. Segera bagi 100.000 prajurit menjadi tiga kelompok, lalu serang tenda mereka dari arah berbeda!" ujar Ishan lagi.Ishan memang layak disebut jenderal berbakat era ini. Dia baru saja maju ke garda depan medan perang, tetapi sudah mendapat cara untuk
Pada awalnya, Doddy berinisiatif untuk menjadi prajurit garda depan. Penyerangan terhadap Kota Siluet sebelumnya hanyalah pemanasan. Kali ini, baru dianggap sebagai pertempuran pertama mereka. Doddy tentu berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya."Kak Wira, lawan kita lebih banyak. Sekarang, mereka sudah keluar dari kota dan terlibat dalam pertempuran dengan pasukan kita. Berperang di dataran sama sekali nggak menguntungkan bagi pasukan kita. Aku khawatir akan ada perubahan. Kalau boleh tahu, apa kamu masih punya rencana cadangan?" tanya Danu yang penasaran.Dalam pertempuran, selain dibutuhkan beberapa jenderal yang mahir, tentu saja juga diperlukan penasihat strategi. Dengan perencanaan bersama, kesuksesan dalam pertempuran akan lebih terjamin.Namun, ini tidak berlaku di tempat Wira. Setiap bawahannya mahir dalam pertempuran, tetapi tidak ada satu pun penasihat strategi di antara mereka. Semua orang hanya mengikuti perintah dari Wira.Sebagai panglima tertinggi, Wira tentu saja har
Melihat para prajurit yang sedang memindahkan logistik, Joko dan Zaki segera bertanya, "Masih ada berapa banyak logistik yang belum dipindahkan?"Seorang perwira pembawa bendera mendekat. Setelah melihat Joko, dia memberi hormat dan berkata, "Jenderal, saat ini masih ada sisa dua gerobak logistik. Kalau dilihat dari kecepatan kita, mungkin butuh waktu sekitar sepuluh menit lagi sudah selesai."Mendengar jawaban itu, Joko langsung menganggukkan kepala dengan puas. Setelah terdiam sejenak, dia menatap Zaki yang berdiri di sampingnya berkata dengan pelan, "Ada kabar dari para mata-mata?"Zaki menggelengkan kepala dan berkata, "Nggak ada kabar sama sekali dari mata-mata, mungkin mereka belum menemukan apa-apa. Kalau ada informasi, mereka pasti akan langsung melapor."Mendengar jawaban itu, Joko juga tidak berpikir terlalu banyak lagi karena dia merasa memang belum ada hal yang mencurigakan juga.Tepat pada saat itu, Adjie dan rombongan yang sedang bergegas menuju ke saluran air juga sudah
Mendengar laporan itu, Adjie dan Hayam langsung tertegun. Mereka berpikir mengapa musuh bisa tiba-tiba memindahkan logistik mereka di saat seperti ini, seolah-olah mereka sudah mengetahui rencana mereka terlebih dahulu.Tepat pada saat itu, Adjie yang memperhatikan situasinya sejak tadi pun mengernyitkan alis dan berkata, "Mereka memindahkan logistiknya ke mana?"Mata-mata itu mengernyitkan alis dan perlahan-lahan berkata, "Sepertinya dipindahkan ke arah saluran air. Selain itu, mereka juga memasang banyak jebakan di tempat logistik mereka yang lama, seolah-olah mereka sudah tahu kita akan menyerang logistik mereka."Adjie menganggukkan kepala dan berkata dengan pelan, "Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Beri tahu para prajurit untuk jangan bergerak dulu."Mata-mata itu memberi hormat, lalu berbalik dan pergi.Hayam langsung bertanya dengan bingung, "Adjie, apa yang harus kita lakukan sekarang?"Adjie tersenyum dan perlahan-lahan berkata, "Hehe. Karena musuh sudah memindahkan logistik
Adjie dan Hayam langsung duduk di tanah untuk beristirahat. Menurut mereka, saat ini yang paling penting adalah menyelidiki situasi musuh di depan terlebih dahulu baru bisa mengambil keputusan selanjutnya. Mengetahui situasi sendiri dan musuh baru bisa menang dalam setiap pertempuran.Beberapa saat kemudian, Adjie mengeluarkan peta dan perlahan-lahan membukanya. Peta ini adalah peta rute di sekitar saluran air yang dibuatnya sendiri dengan sangat teliti.Melihat peta itu, Hayam juga tertegun sejenak.Adjie pun tersenyum dan menjelaskan, "Hehe. Aku menggambar peta ini saat aku masih di Desa Riwut. Saat itu aku nggak tahu peta ini akan berguna, tapi sekarang kelihatannya memang berguna."Mendengar penjelasan Adjie, Hayam tersenyum. Tidak ada yang menyangka hal yang dilakukan tanpa maksud ternyata akan sangat berguna sekarang. Setelah terdiam sejenak, dia memberi hormat dan berkata, "Kalau kamu memang sudah persiapan seperti ini, kita nggak mungkin akan kalah dalam pertempuran ini."Adjie
Joko segera memberikan perintah, "Sekarang aku akan mengatur semuanya. Kalian bawa orang-orang untuk memindahkan persediaan ke saluran air, sementara sisakan sebagian di sini sebagai kamuflase. Mengerti?"Mendengar perintah itu, beberapa orang sempat termangu. Kemudian, salah satu dari mereka berkata, "Jenderal, cara ini memang nggak ada salah, tapi memindahkan persediaan ke saluran air agak merepotkan."Sebelum Joko sempat berbicara, Zaki langsung menyela, "Begini saja, kita gunakan gerobak untuk membawa semua persediaan ke sana. Setelah semuanya siap, kita bisa mengembalikan gerobaknya agar nggak menimbulkan kecurigaan."Saat ini, semua persediaan disimpan dalam gerobak untuk memudahkan pengangkutan. Joko mengangguk setuju dan mengiakan, "Ya sudah, kita lakukan seperti itu!"Mendengar perintah itu, para komandan bendera segera memberi hormat. Kemudian, mereka bergegas pergi untuk melaksanakan tugas mereka.Melihat semuanya sudah diatur, Joko akhirnya bisa bernapas lega. Setelah beber
Joko dan Zaki sedang mengatur orang-orang untuk memindahkan persediaan bahan makanan. Saat ini, Zaki tampak terpikir akan sesuatu, lalu berbisik, "Menurutmu, apakah pasukan Wira akan menyerang kita?"Mendengar pertanyaan itu, Joko mengerutkan alisnya sedikit. Setelah berpikir beberapa saat, dia perlahan menyahut, "Sulit dipastikan. Tapi, karena ada kemungkinan seperti itu, kita tentu harus berhati-hati.""Lagi pula, kalau kita sudah menyelesaikan pemindahan ini, meskipun mereka menyerang, mereka hanya akan menemui kehancuran."Zaki mengangguk setuju. Dari sudut pandangnya, tampaknya tidak ada masalah dengan rencana ini.Setelah beberapa saat, Joko kembali mengernyit dan bertanya, "Masalahnya, kita akan menyimpan bahan makanan ini di mana? Nggak mungkin kita cuma memindahkannya tanpa tujuan, 'kan?"Zaki terdiam sejenak. Memang mereka belum memikirkan hal itu secara matang. Setelah merenung beberapa saat, dia menimpali, "Kalau begitu, sebaiknya kita pilih tempat yang aman dan tersembunyi
Di pihak Wira, ketika melihat waktu sudah hampir tiba, Adjie dan Hayam langsung membawa 500 prajurit untuk berkumpul.Di lapangan luar perkemahan, Wira menatap kedua orang itu dan berkata, "Kalau misi ini berhasil, aku akan menyiapkan pesta kemenangan untuk kalian!"Mendengar perkataan Wira, Adjie dan Hayam menjadi sangat bersemangat. Setelah memberi hormat, mereka segera melompat ke atas kuda. Setelah itu, pasukan mereka mulai bergerak dengan cepat menuju perkemahan pasukan utara.Melihat Adjie dan Hayam melaju kencang ke medan perang, Wira menghela napas panjang. Di malam yang gelap gulita ini memang sangat cocok untuk serangan mendadak.Di belakang Wira, Arhan, Agha, dan Nafis berdiri tegap. Setelah beberapa saat, mereka mendekati Wira. Nafis berkata sambil memberi hormat, "Tuan, udara malam cukup dingin. Sebaiknya kamu masuk untuk istirahat."Wira mengangguk. Setelah kembali ke dalam tenda, dia menatap ketiga orang itu dan berucap, "Pesan dari Jenderal Trenggi sudah sampai. Mereka
Mendengar perkataan Darsa, Kahlil langsung tersenyum dan mengangguk. Dia berkata, "Benar, seperti itu. Hanya dengan cara ini kita bisa benar-benar menyelesaikan masalah. Selain itu, entah musuh akan menyerang kita atau nggak, dari sudut pandang kita saat ini, ini adalah strategi terbaik."Darsa merasa sangat bersemangat mendengar itu. Setelah berpikir beberapa saat, dia tersenyum sambil mengangguk, lalu bertanya, "Strategi ini memang bagus. Bagaimana dengan kalian berdua? Ada ide lain?"Joko dan Zaki berpandangan, lalu mengangguk ringan. Setelah beberapa saat, keduanya tersenyum dan berujar, "Kalau memang seperti ini, ini jelas adalah rencana yang bagus. Justru ini adalah yang terbaik saat ini."Melihat keduanya tidak keberatan, Darsa pun tersenyum dan berucap, "Kalau begitu, kita akan mengikuti rencana ini. Tapi, pertama-tama kita harus memastikan rencana ini memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi."Mendengar itu, semua orang mengangguk. Setelah berpikir sejenak, Joko menatap
Begitu mendengarnya, ekspresi semua orang langsung berubah. Zaki yang paling tidak sabaran pun mengernyit. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata dengan nada tidak percaya, "Kamu sudah gila?""Kalau kita melakukan itu, bukankah musuh bisa dengan mudah membakar semua persediaan kita? Ide ini nggak ada bedanya dengan langsung memberi tahu mereka kalau di sini ada pangan!"Darsa menyadari bahwa Kahlil belum selesai berbicara. Melihatnya disela oleh Zaki, dia segera mengerutkan kening dan menegur dengan tegas, "Kenapa kamu terburu-buru? Biarkan Kahlil menyelesaikan ucapannya!"Zaki langsung terdiam, menyusutkan lehernya sedikit, lalu kembali menatap Kahlil.Kahlil terkekeh-kekeh. Setelah beberapa saat, dia menunjuk peta sambil berucap, "Sebenarnya ini cukup sederhana. Kita bisa menggunakan persediaan sebagai umpan.""Dengan cara ini, kalau musuh benar-benar mencoba menargetkan persediaan kita, mereka akan masuk ke dalam perangkap kita dan kita bisa melakukan penyergapan."Mendengar it
Mendengar ucapan Darsa, semua orang mengangguk pelan. Joko yang berdiri di samping segera menangkupkan tangan dan berkata, "Kalau begitu, biarkan kami yang mengatur segalanya. Tuan, jangan khawatir!"Melihat Joko menerima tugas itu, Darsa mengangguk.Saat ini, Kahlil yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi. Setelah berpikir sejenak, dia maju dan berkata, "Tuan, aku punya rencana. Tapi, aku nggak tahu ini pantas untuk dikatakan atau nggak."Sebelum Darsa sempat menanggapi, Zaki yang berdiri di dekatnya langsung menegur, "Kamu bicara apa? Kamu nggak lihat betapa pusingnya Tuan Darsa memikirkan masalah ini? Apa yang bisa kamu pikirkan sekarang?"Darsa pun menegur Zaki balik. Saat ini, mereka sedang menghadapi kesulitan besar. Justru karena itu, jika ada informasi atau ide baru, dia harus mendengarnya terlebih dahulu.Akhirnya, Zaki menunduk, sementara Kahlil maju dan berkata, "Tuan, ada yang ingin kutanyakan. Kalau musuh yang mulai menyerang kita, kenapa kita hanya bertahan tanpa mela