Share

Bab 14

Author: Arif
Dalam perjalanan pulang, Hasan menarik gerobak di depan, sedangkan Danu mengawal di belakang. Doddy dan Sony sedang berjalan sambil mengobrol, sementara Wira tidur di atas gerobak. Dia sudah tidak tahan begadang dari semalam.

Doddy berkata dengan semangat, “Kak Sony, coba cerita sekali lagi gimana Kak Wira menjual gulanya.”

“Doddy, aku sudah cerita berkali-kali! Tenggorokanku sudah mau sakit!”

Sony pun menunduk dan bermain dengan bajunya.

“Ya sudah kalau nggak mau cerita lagi. Tapi kelak, panggil aku Zabran! Itu nama yang diberi Kak Wira untukku!” ujar Doddy dengan serius.

Sony mengangkat lengan bajunya sambil berkata, “Zabran, kenapa kamu nggak ganti baju baru? Baju ini nyaman banget, lho!”

Setelah meninggalkan Toko Gula Keluarga Sutedja, Wira pun berbelanja banyak. Semua orang mendapatkan dua set pakaian dan sepatu baru.

Doddy melirik ke arah ayahnya yang sedang menarik gerobak. Baju baru harus disimpan sampai Tahun Baru, mana mungkin Doddy berani langsung memakainya seperti Sony. Jika tidak, ayahnya pasti bakal langsung mencambuknya hingga harus diseret pulang dengan gerobak.

“Hoam!” Wira yang tidur di atas gerobak sudah bangun. Saat mengamati sekeliling yang tidak ada orang, dia pun membuka kotak uangnya.

“Paman Hasan, berhenti dulu. Danu, Doddy, Sony, kemari, kalian masing-masing dapat 50 ribu gabak. Paman Hasan dapat 60 ribu gabak, soalnya kerjanya paling capek. Kalian nggak keberatan, ‘kan?”

“Ng ... nggak!” jawab Sony dengan terbata-bata.

Mereka tahu Wira pasti akan membagikan uang kepada mereka. Namun, mereka mengira Wira paling banyak juga hanya akan memberikan 5.000 gabak untuk mereka.

Alhasil ....

“Jangan, itu kebanyakan. Wira, kamu sudah belikan kami begitu banyak barang. Kami sudah puas. Nggak perlu kasih uang lagi!” Hasan menggeleng.

Jika Danu dan Doddy masing-masing mendapatkan 50 ribu gabak dan dirinya mendapat 60 ribu gabak, totalnya sudah 160 ribu gabak.

Baik teknik menangkap ikan, Teknik Busur Ikan maupun cara pembuatan gula putih, itu semua adalah teknik rahasia Wira. Jika dia mencari orang untuk bekerja untuknya, semua orang juga sudah akan berebutan kerja dengan gaji 30 gabak sehari. Jadi, bagaimana bisa mereka menerima begitu banyak uang dari Wira?

“Benar, nggak boleh!” Danu dan Doddy juga menyuarakan pendapat mereka.

Mereka itu kerabat, hanya dengan ditraktir makan dan dibelikan baju sebagai imbalan saja sudah cukup.

Sony juga bersuara, “Wira, aku cuman seorang gelandangan. Biasanya aku selalu kekurangan makanan, juga nggak punya baju ganti. Ke mana-mana juga selalu dipandang rendah sama orang lain. Tapi selama dua hari ini, aku sudah bisa makan enak. Sekarang, kamu juga belikan aku baju. Aku sudah puas kok. Uangnya nggak perlu lagi.”

Bukannya mereka tidak mau menerimanya, tetapi tidak boleh menerimanya. Jika tidak, mereka akan merasa bersalah.

Wira pun berkata sambil tersenyum, “Memangnya 50-60 ribu gabak itu banyak?”

Danu, Doddy dan Sony langsung mengangguk. Namun, Hasan malah merenung.

Setelah melihat reaksi mereka, Wira berkata, “Harga tanah seluas 600-700 meter persegi sudah butuh 5.000 gabak. Budi punya 20 hektar tanah, nilainya paling nggak 1,5 juta gabak. Itu masih belum termasuk bahan pangan dan uang tunai yang dia punya. Kalau mereka begitu kaya, uang ini termasuk apa?”

Keempat orang itu langsung terkejut dan mengangguk setelah mendengar ucapan Wira.

Enam ratus ribu gabak memang terlihat banyak, tetapi sebenarnya masih tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan Budi.

“Tapi, asalkan tetap berupaya keras, kita pasti bisa segera melampaui mereka.” Wira berkata dengan senyum usil, “Kelak, kita bahkan bisa dapat 6 juta atau 60 juta gabak.”

“Enam juta atau enam puluh juta gabak?” Sony menggaruk kepalanya sambil termenung.

Sony hanya tahu hitungan sampai ribuan, sedangkan puluh ribuan menandakan sangat banyak. Namun, dia tidak tahu spesifik jumlahnya.

Danu dan Doddy hanya melongo. Sementara Hasan yang selalu bersikap tenang juga terlihat terkejut.

“Aku kasih uang ini untuk kalian, bukan suruh kalian untuk sembarangan foya-foya.”

Wira memasukkan batang perak ke tangan mereka berempat, lalu berkata dengan serius, “Sony, Danu, Doddy, kalian sudah dewasa dan cukup umur untuk menikah. Pakai uang ini untuk bangun rumah, lalu carilah istri yang cantik dan baik. Kalau uangnya nggak cukup, nanti aku kasih lagi. Ingat, harus bangun rumah batu yang punya pekarangan. Nanti aku bantu desain rumahnya. Kalau kalian bangun gubuk jerami, nggak usah ikut aku lagi kelak.”

“Menikah? Bangun rumah batu?” tanya Sony dengan terkejut. Kemudian, dia tiba-tiba menangis dan berlutut, “Wira, nyawaku ini sudah jadi milikmu. Kelak, kamu mau suruh aku bunuh orang juga boleh!”

Sony tidak pernah membayangkan bahwa dirinya bisa memakan nasi dengan lauk, minum alkohol, pakai baju bagus, bangun rumah batu dan menikah. Namun, impian yang terasa jauh ini sudah tercapai dengan hanya bekerja untuk Wira selama dua hari.

“Kami juga!” seru Danu dan Doddy bersamaan.

Meskipun Hasan tidak berbicara, dia mengangguk ringan sambil menatap uang perak di tangannya.

Biasanya, penduduk desa sudah menikah di usia 13-14 tahun. Danu dan Doddy sudah mencapai usia itu. Mereka juga sudah pernah mencoba mencari pasangan, tetapi tidak ada gadis yang bersedia setelah mendengar keadaan keluarga mereka.

Hasan juga ingin mendapatkan uang untuk membangun beberapa rumah agar kedua putranya bisa menikah.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Hasan sudah punya tambahan tiga orang anak. Kedua putra yang belajar bela diri darinya juga punya nafsu makan yang besar. Mereka sudah kerja keras selama beberapa tahun, tetapi uang yang terkumpul masih 3.000 gabak. Entah kapan mereka baru bisa mengumpulkan cukup banyak uang agar bisa menikah.

Sekarang, kedua putranya sudah bisa langsung menikah dengan 160 ribu gabak ini.

Wira memapah Sony untuk berdiri, lalu berkata, “Buat apa bunuh orang? Pokoknya kita berusaha saja untuk kerja dan hasilkan uang supaya kehidupan kita bisa jadi makin baik.”

Keempat orang itu langsung mengangguk dengan yakin. Mereka sudah merasa cukup senang apabila bisa hidup berkecukupan.

“Danu, Doddy!” Hasan menatap uang perak di tangan mereka dan berkata, “Sini, Ayah bantu kalian simpan uangnya!”

Danu langsung tersenyum dan menyerahkan uang perak itu kepada Ayahnya.

Doddy juga menyerahkan uang perak itu dengan cemberut. “Ayah, panggil aku Zabran dong!”

Hasan mengangkat cambuk di tangannya, lalu Doddy pun buru-buru kabur.

Melihat gerakan Doddy yang gesit, Wira pun bertanya, “Paman Hasan, Doddy bisa menghadapi sekaligus sembilan orang di Pasar Timur. Iwan juga bilang dia itu orang yang berlatih bela diri. Apa kamu yang mengajari mereka?”

Sony juga penasaran.

Hasan sudah pensiun militer selama lima tahun, tetapi tidak pernah menunjukkan kemampuannya. Waktu para warga saling berebut air di musim kemarau, baik Hasan, Danu maupun Doddy juga tidak pernah main tangan meskipun dimaki orang.

“Emm!” Setelah merenung sesaat, Hasan menjawab, “Itu keterampilan bela diri yang diajarkan panglima militer dulu!”

Wira bertanya dengan penasaran, “Kalau gitu, kamu bisa lawan berapa orang sekaligus?”

Hasan menjawab, “Tergantung. Sekarang tubuhku sudah lemah, kalau dengan tangan kosong, aku bisa hadapi 10 orang biasa. Kalau lawanku punya senjata dan aku tangan kosong, sekitar 5-6 orang sudah bisa mengepungku. Kalau yang berlatih bela diri, tiga orang saja sudah bisa menangkapku. Makanya waktu di kota, sebisa mungkin jangan berkelahi. Orang-orang di sana punya senjata, bisa bahaya kalau dikepung!”

“Emm!”

Wira memandang ke langit, lalu berkata, “Ayo jalannya cepat dikit. Kita harus sampai rumah sebelum gelap. Kalau nggak, Budi pasti datang tagih utang. Aku takut dia bertindak sembarangan ke Wulan kalau tahu dia sendirian di rumah.”

...

Buk, buk, buk!

Ada empat orang bawahan Budi yang menendang pintu rumah Wira.

Budi berteriak, “Wira! Buka pintunya! Sudah saatnya kamu bayar utang! Jangan sembunyi lagi! Cepat keluar dan jadilah budakku! Selain itu, suruh istrimu mandi yang bersih. Hari ini, aku mau menidurinya!”

Wulan sudah menggunakan sebatang kayu untuk menahan gerbang rumah mereka.

“Mau jual ikan untuk bayar utang?” Budi tersenyum mengejek, lalu melanjutkan, “Mana mungkin segampang itu bisa mendapatkan 40 ribu gabak! Jangan menipuku lagi! Cepat buka pintu dan bayar utangnya! Kalau nggak, aku dobrak ya!”

Buk, buk, buk!

Keempat bawahan itu mulai mendobrak.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rio Kan
salam buat pak SUGENG
goodnovel comment avatar
Banyamin Hj Rabiee
Bookmark ...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 15

    Namun, pintunya tetap tidak terbuka setelah didobrak.Budi melambaikan tangannya sambil berkata, “Jangan dobrak lagi, sudah ditahan dari dalam. Panjat dinding saja!”Keempat bawahan itu pun berhenti mendobrak. Kemudian, mereka mulai bertumpu pada satu sama lain untuk memanjat dinding rumah Wira. Setelah melompat masuk, bawahan itu pun membukakan pintu dari dalam agar Budi bisa masuk.Setelah melihat Budi masuk ke rumahnya, Wulan langsung berlari ke ruang utama dengan panik.Budi melangkah dengan santai sambil berkata, “Cantik, suamimu sudah kabur, tapi kamu masih begitu setia padanya. Bukannya lebih baik hidup bersamaku yang penyayang?”“Suamiku nggak kabur! Dia pasti pulang untuk bayar utang! Kamu jangan macam-macam!”Wulan menyeret meja di dalam ruang utama untuk menahan pintu.“Apa bagusnya si Pemboros itu hingga kamu begitu setia padanya?”Budi memberi isyarat pada bawahannya, lalu dua bawahannya langsung mendobrak pintu.Saat pintu didobrak, Wulan yang sedang menahan meja juga ter

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 16

    Menurut aturan Kerajaan Nuala, batas terakhir membayar utang itu di tengah malam.Apa yang sudah dilakukan Budi?Wira memang tidak melihat apa yang sudah terjadi. Namun, saat melihat pintu aula utama yang roboh, Wulan yang berlinang air mata, tangannya yang bengkak dan memar, pisau dan gunting yang ada di tangan anak buah Budi serta para kerabat yang memegang tongkat kayu, Wira langsung mengerti apa yang terjadi.“Suamiku!”Saat semua anak buah Budi sedang lengah, Wulan mengambil kesempatan untuk berlari keluar dari aula utama. Dia langsung melemparkan diri ke dalam pelukan Wira dan menangis tersedu-sedu.“Jangan takut, aku sudah pulang!”Wira mengelus rambut panjang Wulan sambil menghiburnya. Kemudian, dia mengangkat tangan Wulan yang bengkak dan memar sambil bertanya, “Masih sakit?”“Nggak sakit lagi!”Meskipun Wulan masih merasa tangannya sangat sakit, dia tetap memaksakan seulas senyum. Saat melihat semua warga desa yang menatap mereka, Wulan buru-buru bersembunyi di belakang Wira

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 17

    Cahaya matahari terbenam menyinari uang emas itu hingga terlihat sangat berkilau.Budi memungut uang emas itu, lalu menggosoknya ke baju sebelum menggigitnya. Kemudian, ekspresinya pun bertambah muram. “Dari mana kamu mendapatkannya!”Sebatang uang emas sudah bernilai 100 ribu gabak. Ditambah dengan uang perak dan koin perunggu, totalnya sudah 180 ribu gabak. Kenapa Wira bisa punya begitu banyak uang?!“Kamu nggak perlu tahu!” Wira langsung menjawab dengan ketus, “Aku cuman mau tanya, itu emas apa bukan?”Para warga dusun juga menatap Budi.Wira sudah memberikan semua yang Budi minta, mereka mau tahu bagaimana rentenir ini mau mencari alasan lagi.“Emas ini agak keras, pasti sudah dicampur dengan perunggu. Aku cuman terima emas murni!”Budi mengabaikan bekas gigitannya di batang emas, lalu mencari alasan lain untuk menolak.“Dicampur perunggu? Hei! Memangnya gigimu begitu kuat sampai bisa meninggalkan bekas gigitan di perunggu? Kenapa kamu begitu nggak tahu malu?”Amarah semua warga du

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 18

    Seluruh badan Budi terasa sakit. Dia meringkuk sambil menutup kepalanya dan memohon, “Pak Agus, kamu bakal biarkan aku dipukul begitu saja? Tunggu saja waktu musim panen nanti!”Setelah memikirkan hal penting itu, Agus buru-buru menasihati Wira, “Wira, ayo kita bicara baik-baik. Jangan ....”“Diam! Kenapa tadi kamu nggak nasihati dia untuk bicara baik-baik sama aku!”Wira bahkan tidak menoleh dan lanjut menendang Budi.Agus pun terdiam. Dia hanya bisa menatap Wulan, lalu berkata, “Bujuklah suamimu. Kalau orangnya mati, masalahnya bisa jadi besar.”Wulan hanya cemberut tanpa berkata apa-apa. Dia membatin, ‘Suamiku nggak bodoh. Dia nggak bakal bunuh si Tua Bangka itu.’Dari tadi, Wulan sudah memperhatikan Wira. Selain tinju pertama yang dilayangkan ke wajah Budi, Wira hanya menendang kaki, pantat, punggung, dan tempat-tempat tidak berbahaya lainnya. Jadi, Budi tidak akan mati.Melihat Wulan yang tetap diam, Agus menatap ke arah Danu, Doddy, dan Sony. Namun, mereka juga tidak memedulikan

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 19

    Setelah Budi pergi, sebagian besar warga dusun langsung berhamburan masuk ke rumah Wira hingga halamannya penuh.Selama ini, warga dusun sudah sering ditindas, diancam, dan bahkan dipukul Budi karena masalah pajak serta kerja rodi.Namun, tidak ada seorang pun yang berani memukul Budi hingga dia berteriak minta ampun seperti Wira.Warga dusun pun menatap Wira dengan hormat.Saat melihat wibawa Wira menjadi makin besar di hati warga dusun, Agus pun berkata, “Wira, kamu memang sudah mengalahkan Pak Budi hari ini. Tapi, apa kamu pernah mikir? Dia itu orang pemerintah, memangnya dia bakal mengampunimu?”Semua warga dusun pun terlihat takut.Jangankan memukul orang pemerintah seperti Budi, orang yang tidak membayar pajak saja sudah bisa dijebloskan ke penjara pengadilan daerah atau dipaksa kerja rodi.Setelah diperlakukan begini oleh Wira, Budi tidak mungkin mengampuninya.“Kalian nggak perlu khawatir!”Wira menyuruh Doddy mengambilkannya sebuah bangku. Kemudian, dia berdiri di atasnya dan

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 20

    Mereka sudah akan kaya!Selama sisa tahun ini, mereka sudah tidak perlu kelaparan lagi.Tahun Baru nanti, mereka juga bisa menyantap daging.Warga dusun yang berdiri di luar rumah Wira juga sangat terharu hingga menangis.Begitu masuk akhir tahun yang sering hujan, bahan pangan mereka akan makin menipis sehingga hidup mereka juga akan bertambah sulit.Ada banyak warga dusun yang saking miskinnya juga bisa mati kelaparan.Tahun ini, situasi mereka sudah akan membaik. Mereka pasti bisa melewati akhir tahun ini dengan baik.Agus mengerutkan keningnya dan membatin, ‘Si Pemboros ini mau kasih gaji yang begitu tinggi? Begitu masuk akhir tahun, curah hujan yang tinggi bakal menyulitkan orang-orang untuk tangkap ikan. Meski kamu punya teknik rahasia menangkap ikan, itu juga nggak berguna. Pada saatnya nanti, kekayaanmu yang tersisa juga nggak bakal bisa menutupi gaji sebulan semua orang yang totalnya 60 ribu gabak.”“Pilih saja dulu orang yang mau berpartisipasi dari tiap keluarga. Nanti kita

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 21

    Wulan berbisik, “Apa mungkin itu orang dari pengadilan daerah?”Wira menggeleng. “Waktu Budi pergi, gerbang kota sudah tutup. Dia nggak mungkin bisa pergi ke pengadilan daerah. Lagian, kalau itu memang orang pengadilan daerah, mereka pasti langsung mendobrak pintu. Ini perampok, tapi aku nggak tahu ada berapa orang. Kamu sembunyi saja di bawah ranjang!”Wulan menggeleng. “Walau aku itu perempuan, aku tetap bisa bantu kamu. Nggak ada yang bisa tahan kalau kepalanya dihantam.”“Oke. Jangan pakai sepatu. Begitu pintunya terbuka, kita langsung hantam kepala mereka!” bisik Wira.Mereka berdua tidak menghidupkan lampu. Setelah mengeluarkan parang dan tongkat kayu, mereka pun berjalan ke aula utama tanpa alas kaki.Dengan cahaya bulan dan bintang yang masuk melalui celah pintu, mereka bisa samar-samar melihat ujung pisau yang digunakan perampok untuk membuka gerendel pintu mereka.Ckit, ckit ....Gerendel pintu mereka perlahan-lahan terbuka.Wira dan Wulan pun menjadi tegang.Wira ingin langs

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 22

    Doddy menunjukkan posturnya, “Ini Wing Chun yang diwariskan jenderal tua kepada Ayah. Jari-jari kaki harus mencengkeram lantai, telapak kaki harus kosong, dan lutut harus sedikit ditekuk. Pantat seperti duduk di kursi, kelangkangnya diangkat, tulang ekornya diturunkan. Lalu otot perut harus ditahan, dada juga harus terbuka. Kedua tangan seperti mau mencengekeram sesuatu, bahunya diturunkan, siku ditekuk. Terus, dagu ditarik masuk dan kepalanya harus kayak lagi menahan sesuatu. Kalau berdiri lama dengan cara begini, kekuatannya bisa bertambah, reaksinya juga bisa jadi cepat. Jadi, satu orang juga bisa langsung lawan beberapa orang.”Wira pun terkejut. Teknik yang diajarkan Doddy ini mirip pencak silat Atrana Kuno.Di era di mana informasi tersebar di mana-mana, segala jenis bela diri juga diposting di internet.Ada banyak orang yang menontonnya, tetapi jarang ada yang mempraktikkannya.“Kak Wira, ini warisan rahasia. Ayah bahkan nggak kasih tahu kedua pamanku itu!” Doddy berbisik, “Aya

Latest chapter

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3279

    Joko dan Zaki sedang mengatur orang-orang untuk memindahkan persediaan bahan makanan. Saat ini, Zaki tampak terpikir akan sesuatu, lalu berbisik, "Menurutmu, apakah pasukan Wira akan menyerang kita?"Mendengar pertanyaan itu, Joko mengerutkan alisnya sedikit. Setelah berpikir beberapa saat, dia perlahan menyahut, "Sulit dipastikan. Tapi, karena ada kemungkinan seperti itu, kita tentu harus berhati-hati.""Lagi pula, kalau kita sudah menyelesaikan pemindahan ini, meskipun mereka menyerang, mereka hanya akan menemui kehancuran."Zaki mengangguk setuju. Dari sudut pandangnya, tampaknya tidak ada masalah dengan rencana ini.Setelah beberapa saat, Joko kembali mengernyit dan bertanya, "Masalahnya, kita akan menyimpan bahan makanan ini di mana? Nggak mungkin kita cuma memindahkannya tanpa tujuan, 'kan?"Zaki terdiam sejenak. Memang mereka belum memikirkan hal itu secara matang. Setelah merenung beberapa saat, dia menimpali, "Kalau begitu, sebaiknya kita pilih tempat yang aman dan tersembunyi

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3278

    Di pihak Wira, ketika melihat waktu sudah hampir tiba, Adjie dan Hayam langsung membawa 500 prajurit untuk berkumpul.Di lapangan luar perkemahan, Wira menatap kedua orang itu dan berkata, "Kalau misi ini berhasil, aku akan menyiapkan pesta kemenangan untuk kalian!"Mendengar perkataan Wira, Adjie dan Hayam menjadi sangat bersemangat. Setelah memberi hormat, mereka segera melompat ke atas kuda. Setelah itu, pasukan mereka mulai bergerak dengan cepat menuju perkemahan pasukan utara.Melihat Adjie dan Hayam melaju kencang ke medan perang, Wira menghela napas panjang. Di malam yang gelap gulita ini memang sangat cocok untuk serangan mendadak.Di belakang Wira, Arhan, Agha, dan Nafis berdiri tegap. Setelah beberapa saat, mereka mendekati Wira. Nafis berkata sambil memberi hormat, "Tuan, udara malam cukup dingin. Sebaiknya kamu masuk untuk istirahat."Wira mengangguk. Setelah kembali ke dalam tenda, dia menatap ketiga orang itu dan berucap, "Pesan dari Jenderal Trenggi sudah sampai. Mereka

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3277

    Mendengar perkataan Darsa, Kahlil langsung tersenyum dan mengangguk. Dia berkata, "Benar, seperti itu. Hanya dengan cara ini kita bisa benar-benar menyelesaikan masalah. Selain itu, entah musuh akan menyerang kita atau nggak, dari sudut pandang kita saat ini, ini adalah strategi terbaik."Darsa merasa sangat bersemangat mendengar itu. Setelah berpikir beberapa saat, dia tersenyum sambil mengangguk, lalu bertanya, "Strategi ini memang bagus. Bagaimana dengan kalian berdua? Ada ide lain?"Joko dan Zaki berpandangan, lalu mengangguk ringan. Setelah beberapa saat, keduanya tersenyum dan berujar, "Kalau memang seperti ini, ini jelas adalah rencana yang bagus. Justru ini adalah yang terbaik saat ini."Melihat keduanya tidak keberatan, Darsa pun tersenyum dan berucap, "Kalau begitu, kita akan mengikuti rencana ini. Tapi, pertama-tama kita harus memastikan rencana ini memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi."Mendengar itu, semua orang mengangguk. Setelah berpikir sejenak, Joko menatap

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3276

    Begitu mendengarnya, ekspresi semua orang langsung berubah. Zaki yang paling tidak sabaran pun mengernyit. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata dengan nada tidak percaya, "Kamu sudah gila?""Kalau kita melakukan itu, bukankah musuh bisa dengan mudah membakar semua persediaan kita? Ide ini nggak ada bedanya dengan langsung memberi tahu mereka kalau di sini ada pangan!"Darsa menyadari bahwa Kahlil belum selesai berbicara. Melihatnya disela oleh Zaki, dia segera mengerutkan kening dan menegur dengan tegas, "Kenapa kamu terburu-buru? Biarkan Kahlil menyelesaikan ucapannya!"Zaki langsung terdiam, menyusutkan lehernya sedikit, lalu kembali menatap Kahlil.Kahlil terkekeh-kekeh. Setelah beberapa saat, dia menunjuk peta sambil berucap, "Sebenarnya ini cukup sederhana. Kita bisa menggunakan persediaan sebagai umpan.""Dengan cara ini, kalau musuh benar-benar mencoba menargetkan persediaan kita, mereka akan masuk ke dalam perangkap kita dan kita bisa melakukan penyergapan."Mendengar it

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3275

    Mendengar ucapan Darsa, semua orang mengangguk pelan. Joko yang berdiri di samping segera menangkupkan tangan dan berkata, "Kalau begitu, biarkan kami yang mengatur segalanya. Tuan, jangan khawatir!"Melihat Joko menerima tugas itu, Darsa mengangguk.Saat ini, Kahlil yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi. Setelah berpikir sejenak, dia maju dan berkata, "Tuan, aku punya rencana. Tapi, aku nggak tahu ini pantas untuk dikatakan atau nggak."Sebelum Darsa sempat menanggapi, Zaki yang berdiri di dekatnya langsung menegur, "Kamu bicara apa? Kamu nggak lihat betapa pusingnya Tuan Darsa memikirkan masalah ini? Apa yang bisa kamu pikirkan sekarang?"Darsa pun menegur Zaki balik. Saat ini, mereka sedang menghadapi kesulitan besar. Justru karena itu, jika ada informasi atau ide baru, dia harus mendengarnya terlebih dahulu.Akhirnya, Zaki menunduk, sementara Kahlil maju dan berkata, "Tuan, ada yang ingin kutanyakan. Kalau musuh yang mulai menyerang kita, kenapa kita hanya bertahan tanpa mela

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3274

    Zaki ikut tertawa. Setelah dua kali mengalami kekalahan besar di tangan Wira, kini dia sangat ingin mengulitinya hidup-hidup.Namun, Joko yang berdiri di sampingnya mengernyit dan berkata dengan suara berat, "Sekarang ini, kita belum boleh terlalu senang."Zaki hendak membantah, tetapi ketika melihat wajah Darsa juga tampak serius, dia merasa bingung. Sambil mengernyit, dia bertanya, "Kenapa? Bukankah mendapat tambahan 10.000 pasukan dari Jenderal Besar adalah kabar baik?"Darsa tersenyum pahit, sementara Joko langsung menjawab, "Itu memang kabar baik, tapi jangan lupa kalau di belakang Wira masih ada Trenggi. Sekarang, Trenggi telah menguasai kota-kota di selatan. Tentu saja, dia juga bisa mengirim lebih banyak pasukan."Semua orang yang mendengar itu mengangguk ringan.Zaki yang awalnya bersemangat menjadi termangu. Setelah terdiam beberapa saat, dia bergumam, "Aku nggak memikirkan itu sebelumnya. Kalau begitu, kita dalam masalah."Darsa mengernyit dan berujar, "Sekarang situasinya s

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3273

    Di pihak pasukan utara, Joko dan yang lainnya telah kembali bersama pasukan mereka. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa situasi akan menjadi serumit ini.Melihat Zaki, Joko, dan Kahlil yang kembali untuk melapor, Darsa berkata dengan suara rendah, "Kalian bertiga tetap di sini, yang lainnya keluar dulu."Mendengar itu, semua orang memberi hormat, lalu berbalik dan keluar dari tenda. Setelah hanya tersisa tiga orang di dalam, Zaki mengerutkan alis dan bertanya, "Tuan, kita mengalami kerugian besar kali ini. Kenapa kita harus mundur?"Yang mengusulkan mundur adalah Joko. Joko pun sudah lebih dulu mengirim kabar kepada Darsa melalui merpati pos saat perjalanan pulang.Setelah mengetahui situasinya, Darsa memang langsung memerintahkan mereka untuk mundur. Karena itu, begitu kembali, Zaki segera menanyakan alasannya.Darsa memberi isyarat agar mereka duduk, lalu berkata, "Kali ini kita mengalami kerugian besar di tangan musuh. Kita kehilangan lebih dari 10.000 prajurit. Kalau kita teru

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3272

    Mendengar itu, Trenggi segera meraih surat dari tangan mata-mata. Setelah membaca isinya, dia mengerutkan alis. Dia tidak menyangka situasi menjadi begitu rumit, hingga kedua belah pihak kini terjebak dalam pertempuran sengit.Memikirkan hal itu, dia langsung merobek surat itu dan berucap, "Segera panggil semua wakil jenderal! Kumpul di kediaman wali kota sekarang juga!"Pengawal pribadi di samping Trenggi segera memberi hormat, lalu bergegas membawa orang-orang menuju kediaman wali kota.Setelah semua berkumpul, Trenggi berjalan ke depan dengan langkah besar. Melihatnya, semua orang langsung menangkupkan tangan memberi hormat."Nggak perlu basa-basi! Buka peta perang sekarang juga!" Dengan suara lantang, Trenggi memberi perintah agar peta dibentangkan.Setelah melihat lokasinya, dia mengetukkan jarinya 2 kali pada Pulau Hulu, lalu menunjuk arah lain sambil berkata dengan suara rendah, "Gunung Sembilan Naga .... Jadi, pasukan Tuan Wira terjebak di sana. Kita harus segera mengirim bala

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3271

    Melihat Hayam dan Adjie telah setuju, Wira mengangguk pelan. Dia menatap keduanya sambil berkata, "Kalau begitu, tugas ini kuserahkan kepada kalian berdua. Kalian harus sangat berhati-hati! Segalanya harus dilakukan sesuai dengan rencana Adjie!"Hayam mengangguk tanpa ragu. Namun, Wira masih merasa sedikit khawatir. Dia bertanya, "Adjie, 500 orang cukup? Perlu kutambahkan pasukan untukmu?"Mendengar ini, Adjie segera menjawab dengan suara tegas, "Jangan khawatir! Lima ratus orang sudah lebih dari cukup!"Wira pun mengangguk setuju setelah mendengar jawaban itu. Setelah rencana mereka diputuskan, Wira berujar lagi, "Hari ini semua orang telah berjuang seharian. Lebih baik sekarang kita istirahat. Adjie dan Hayam, besok kalian jalankan rencana seperti yang telah disepakati!"Semua orang mengangguk, memberi hormat, lalu mundur untuk beristirahat.Setelah mereka pergi, Wira menoleh ke arah wakil jenderalnya dan berucap dengan suara rendah, "Rencana sudah ditetapkan. Sebelumnya aku menyuruh

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status