Share

Bab 16

Author: Arif
Menurut aturan Kerajaan Nuala, batas terakhir membayar utang itu di tengah malam.

Apa yang sudah dilakukan Budi?

Wira memang tidak melihat apa yang sudah terjadi. Namun, saat melihat pintu aula utama yang roboh, Wulan yang berlinang air mata, tangannya yang bengkak dan memar, pisau dan gunting yang ada di tangan anak buah Budi serta para kerabat yang memegang tongkat kayu, Wira langsung mengerti apa yang terjadi.

“Suamiku!”

Saat semua anak buah Budi sedang lengah, Wulan mengambil kesempatan untuk berlari keluar dari aula utama. Dia langsung melemparkan diri ke dalam pelukan Wira dan menangis tersedu-sedu.

“Jangan takut, aku sudah pulang!”

Wira mengelus rambut panjang Wulan sambil menghiburnya. Kemudian, dia mengangkat tangan Wulan yang bengkak dan memar sambil bertanya, “Masih sakit?”

“Nggak sakit lagi!”

Meskipun Wulan masih merasa tangannya sangat sakit, dia tetap memaksakan seulas senyum. Saat melihat semua warga desa yang menatap mereka, Wulan buru-buru bersembunyi di belakang Wira sambil tersipu.

Wulan merasa sangat malu karena sudah memeluk suaminya dan bertukar kata-kata manis di hadapan semua orang.

Semua orang tidak keberatan akan hal itu. Mereka sedang melihat jubah sutra yang dipakai Wira serta pakaian baru Danu dan Sony.

Di pedesaan, orang-orang memakai pakaian sederhana yang terbuat dari katun. Namun, mereka bertiga malah memakai pakaian mewah dari sutra. Jadi, semua orang pun menatap mereka dengan bingung.

Budi berkata dengan merendahkan, “Bisa-bisanya kamu pakai pakaian bagus dan bermesra-mesraan di hadapanku. Memangnya 40 ribu gabakku sudah terkumpul?!”

Jubah sutra yang dipadu dengan giok dan tas wewangian sudah memakan hampir 10 ribu gabak.

Bahkan Budi yang mempunyai kekayaan sebesar 2 juta gabak juga keberatan membeli pakaian yang begitu bagus.

Hanya orang-orang kaya di ibu kota provinsi yang rela menghabiskan uang untuk penampilan mereka.

Agus hanya menonton seluruh kejadiannya dengan acuh tak acuh. Setelah melihat ketiga orang yang berpakaian mewah itu, dia juga tidak lagi mempersulit warga.

Herman pun maju dan berkata, “Wira, kami semua bisa pinjamkan 20 ribu gabak. Asal kamu punya 20 ribu gabak sisanya, utang ini pasti bisa dibayar lunas!”

Semalam, Hasan sudah berpesan padanya untuk mengumpulkan uang dari orang yang bersedia membantu. Jadi, Wira bisa menggunakannya apabila uang penjualan ikan tidak cukup.

“Makasih atas niat baik semuanya!”

Setelah mengucapkan terima kasih, Wira menatap Budi dan mendengus. “Aku punya uangnya. Gimana dengan surat perjanjian dan taruhan kita?”

“Serahkan uang .... Ah!”

Sebelum Budi sempat menyelesaikan kata-katanya, Wira melemparkan empat batang uang perak ke kaki Budi.

Sebatang uang perak nilainya 10 ribu gabak. Empat batang uang perak sudah cukup untuk membayar utang 40 ribu gabak Wira!

Setelah melihatnya, Wulan pun menangis. ‘Suamiku benar-benar bisa menghasilkan 40 ribu gabak untuk bayar utang!’

Para warga dusun juga menghela napas lega.

Jika ada kerabat mereka yang menjadi budak orang, mereka juga akan ditertawakan orang.

Agus berkata dengan terkejut, “Wira, penjualan ikanmu nggak mungkin bisa menghasilkan 40 ribu gabak. Keluarga Wulan juga nggak mungkin bersedia pinjamin uang untukmu. Dari mana kamu dapatkan uang ini?”

Wira menjawab dengan dingin, “Apa hubungannya sama kamu?”

Saat di depan pintu tadi, Wira sudah mendengar semuanya. Agus bukan hanya tidak membantu, tetapi malah mempersulit warga.

Agus pun langsung malu setelah mendengar jawaban Wira.

“Ini bukan uang perak, semuanya terbuat dari timah. Ini uang palsu!”

Budi memungut sebatang uang perak, lalu menunjukkannya pada Agus. “Pak Agus, benar, ‘kan?”

“Palsu?” Agus melirik uang perak itu tanpa memegangnya. “Aku jarang pakai uang perak. Jadi, nggak bisa bedain itu asli apa palsu. Pak Budi lihat saja sendiri!”

Uang perak itu sebenarnya asli. Agus sudah tahu rencana Budi, tetapi tidak mau ikut terlibat.

Jika Agus membela Wira, dia akan menyinggung Budi.

Jika Agus membantu Budi memfitnah Wira, para warga dusun akan memakinya apabila hal ini terbongkar.

Setelah mendengar kata-kata Budi, warga dusun juga terkejut.

Di desa, jarang ada transaksi jual-beli. Para warga desa biasanya hanya menggunakan koin perunggu. Jadi, mereka juga tidak pernah melihat uang perak.

Danu dan Sony pun murka.

Apa Budi sudah buta? Dia bahkan tidak bisa membedakan uang perak yang asli dan palsu.

Wulan pun berkata dengan cerdik, “Hei, jangan memfitnah! Kamu tahu jelas uang perak itu asli apa palsu. Kamu cuman mau menipu kami biar bisa merebut semua yang dimiliki Wira! Kami nggak bakal tertipu! Cepat keluarkan surat perjanjian dan surat taruhannya! Kalau nggak, kami bakal tuntut kamu ke pengadilan daerah!”

Para warga dusun pun tersadar.

Pantas saja meskipun sudah mengumpulkan cukup uang, ada banyak orang yang tetap tidak bisa mendapatkan kembali tanah mereka dari rentenir.

Ternyata meskipun seseorang memiliki uang, para rentenir juga tidak mau menerimanya agar dia melanggar perjanjian. Dengan begitu, para rentenir sudah bisa menyita tanahnya.

Danu dan Sony sangat marah hingga ingin turun tangan untuk memukul Budi.

Tidak ada yang tahu demi mengumpulkan 40 ribu gabak ini, mereka sudah bekerja sangat keras dari kemarin hingga hari ini.

Saat mereka sudah mengumpulkan cukup uang untuk membayar utang, Budi malah menggunakan cara licik seperti ini.

“Uang perak ini palsu! Kalau nggak percaya, ayo kita ke pengadilan daerah! Suruh saja pemimpin kabupaten yang menilainya!”

Budi sama sekali tidak takut.

Hari sudah hampir gelap, mereka juga hanya bisa pergi ke pengadilan daerah besok pagi. Dengan begitu, Wira akan termasuk melanggar perjanjian.

“Kamu!” Wulan sangat marah hingga tidak bisa berkata-kata.

Dalam menghadapi penipu seperti ini, Wira juga hanya bisa menahan amarahnya. “Kalau kamu nggak mau terima uang perak, kamu mau terima apa?”

“Koin perunggu!” Budi berkata dengan percaya diri, “Bayar 40 ribu gabak itu dengan koin perunggu. Aku mau kamu bayar utang hari ini juga! Kalau nggak, kamu termasuk melanggar perjanjian. Rumah, tanah, dan istrimu bakal jadi milikku. Kamu juga harus jadi budakku!”

Setelah mendengar ucapan Budi, Agus pun menggeleng.

Dengan koneksi dan karakter Wira, sudah cukup susah baginya untuk mengumpulkan 40 ribu gabak. Mana mungkin dia bisa mendapatkan 40 ribu gabak koin perunggu dalam sekejap.

Hari sudah mau gelap, Wira juga sudah tidak sempat membawa uang perak itu ke kota kecil untuk ditukarkan dengan koin perunggu.

Orang yang bisa mengeluarkan 40 ribu gabak koin perunggu di dusun ini juga hanya Agus.

Jika Wira memohon padanya, dia juga tidak mungkin setuju karena takut menyinggung Budi.

“Kenapa kamu malah menindas orang!”

Setelah memahami niat jahat Budi, para warga dusun pun marah besar.

“Mau koin perunggu?” Wira berkata dengan kesal, “Doddy, bawa 40 ribu gabak koin perunggu itu kemari.”

Tadi saat melewati kota kecil, Wira sudah menyuruh Hasan untuk menukarkan 100 ribu gabak koin perunggu agar bisa digunakan di dusun.

Setelah mendengar ucapan Wira, para warga dusun pun tercengang.

“Hei, ini 40 ribu gabak koin perunggu. Agak berat, terima yang baik!”

Doddy membawa sekantong koin perunggu ke dalam rumah, lalu menaruhnya ke tangan Budi dengan marah.

Jika tidak dicegah ayahnya, Doddy pasti sudah menghajar Budi. Sebab, Budi benar-benar sudah keterlaluan!

Sebuah koin perunggu beratnya 4 gram, 1.000 buah sudah 4 kilogram. Jadi, berat 40 ribu gabak koin perunggu adalah 160 kilogram.

Gubrak!

Budi pun jatuh tertimpa koin perunggu itu. Dia langsung berteriak, “Bajingan! Kenapa kalian masih melongo! Cepat papah aku berdiri!”

Keempat anak buahnya buru-buru menggeser kantong koin yang menimpa Budi dan memapah Budi untuk berdiri.

Sekantong koin perunggu itu berjumlah tepat 40 ribu gabak!

Agus pun tercengang!

Jika menambahkan 40 ribu gabak uang perak, 40 ribu gabak koin perunggu, dan harga pakaian ketiga orang itu, jumlahnya sudah 100 ribu gabak.

Wulan juga terkejut. ‘Bahkan kalau Kakak bersedia membantu, dia juga nggak bakal meminjamkan uang sebanyak ini. Sebenarnya, dari mana Wira mendapatkan uang sebanyak ini?’

Budi menghitung koin itu berkali-kali hingga langit mulai gelap.

Wira mengaitkan jarinya ke arah Budi sambil berkata, “Keluarkan surat perjanjian dan surat taruhannya!”

Budi masih tidak bersedia mengeluarkannya. “Koin perunggu ini sudah usang, nggak bisa dipakai lagi. Aku nggak mau terima. Kalau kamu mau bayar utang, pakai uang emas.”

Uang emas tidak dimiliki orang biasa. Bahkan Budi sendiri juga tidak mempunyai uang emas.

Kali ini, Wira pasti tidak bisa mengeluarkannya.

Agus juga mengangguk. Jangankan Wira, bahkan Agus yang merupakan orang terkaya di dusun juga tidak mempunyai uang emas.

Budi jelas-jelas sedang mempersulit Wira. Para warga dusun yang menyadari hal ini pun langsung marah.

Kesabaran Doddy juga sudah habis. “Hei! Dikasih uang perak, kamu bilang palsu. Dikasih koin perunggu, kamu bilang sudah usang. Sekarang, kamu malah minta uang emas. Aku mau tahu alasan apa lagi yang bakal kamu lontarkan! Kamu memang sengaja nggak mau kasih Kak Wira bayar utang lantaran mau monopoli propertinya, ‘kan! Berani banget kamu menindas Kak Wira! Aku pasti menghajarmu! Dasar bajingan!”

‘Hajar saja!’ teriak para warga dusun dalam hati.

Budi malah hanya menatap Doddy dengan sinis. “Aku ini pejabat pemerintah yang terdaftar. Kalau kamu berani memukulku, kamu bakal dihukum pemimpin kabupaten!”

“Nggak masalah, aku terima!”

Doddy langsung mengepalkan tangannya dan hendak meninju Budi, tetapi Wira menahannya.

Para warga dusun pun melepaskan tongkat kayu yang mereka pegang.

Meskipun pejabat seperti Budi bukan termasuk pejabat tinggi, dia tetap merupakan orang pemerintah bagi rakyat jelata.

Di Kerajaan Nuala, rakyat jelata yang berani memukul orang pemerintah akan dihukum dengan berat.

Setelah melihat semua orang terkejut, Budi pun berkata dengan sombong, “Pemboros, matahari sudah mau terbenam. Kalau kamu nggak bisa serahkan uang emas padaku, itu artinya kamu sudah melanggar perjanjian.”

Agus menggeleng.

Wira pasti sudah sangat kesulitan untuk mengumpulkan uang perak dan koin perunggu. Mana mungkin dia punya uang emas.

Hari ini, Wira akan sepenuhnya bangkrut dan tidak bisa bangkit lagi.

“Mau mempersulitku dengan uang emas? Jangan mimpi!”

Wira pun melemparkan sesuatu ke lantai dengan santai.

Saat melihat barang di atas lantai, para warga dusun dan Agus langsung membelalak!

“Aku memang mau mempersulitmu. Kalau kamu nggak bisa kasih aku uang emas, tanah dan rumahmu akan menjadi milikku. Termasuk istri cantikmu itu!”

Salah seorang anak buah Budi berkata, “Tu ... Tuan, coba lihat itu!”

“Lihat apa? Kamu kira yang dia lempar itu benar-benar emas?” cibir Budi.

Dia melirik ke lantai, lalu langsung membelalak. Setelah membungkuk untuk melihat jelas, ekspresinya berubah menjadi sangat suram.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Rakuti Jelen
novel taik
goodnovel comment avatar
Afida Muinn
agak lain cara pandang penulis
goodnovel comment avatar
Afida Muinn
aku suka semoga sampai tamat bisa buka hanya dengan nonton iklan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 17

    Cahaya matahari terbenam menyinari uang emas itu hingga terlihat sangat berkilau.Budi memungut uang emas itu, lalu menggosoknya ke baju sebelum menggigitnya. Kemudian, ekspresinya pun bertambah muram. “Dari mana kamu mendapatkannya!”Sebatang uang emas sudah bernilai 100 ribu gabak. Ditambah dengan uang perak dan koin perunggu, totalnya sudah 180 ribu gabak. Kenapa Wira bisa punya begitu banyak uang?!“Kamu nggak perlu tahu!” Wira langsung menjawab dengan ketus, “Aku cuman mau tanya, itu emas apa bukan?”Para warga dusun juga menatap Budi.Wira sudah memberikan semua yang Budi minta, mereka mau tahu bagaimana rentenir ini mau mencari alasan lagi.“Emas ini agak keras, pasti sudah dicampur dengan perunggu. Aku cuman terima emas murni!”Budi mengabaikan bekas gigitannya di batang emas, lalu mencari alasan lain untuk menolak.“Dicampur perunggu? Hei! Memangnya gigimu begitu kuat sampai bisa meninggalkan bekas gigitan di perunggu? Kenapa kamu begitu nggak tahu malu?”Amarah semua warga du

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 18

    Seluruh badan Budi terasa sakit. Dia meringkuk sambil menutup kepalanya dan memohon, “Pak Agus, kamu bakal biarkan aku dipukul begitu saja? Tunggu saja waktu musim panen nanti!”Setelah memikirkan hal penting itu, Agus buru-buru menasihati Wira, “Wira, ayo kita bicara baik-baik. Jangan ....”“Diam! Kenapa tadi kamu nggak nasihati dia untuk bicara baik-baik sama aku!”Wira bahkan tidak menoleh dan lanjut menendang Budi.Agus pun terdiam. Dia hanya bisa menatap Wulan, lalu berkata, “Bujuklah suamimu. Kalau orangnya mati, masalahnya bisa jadi besar.”Wulan hanya cemberut tanpa berkata apa-apa. Dia membatin, ‘Suamiku nggak bodoh. Dia nggak bakal bunuh si Tua Bangka itu.’Dari tadi, Wulan sudah memperhatikan Wira. Selain tinju pertama yang dilayangkan ke wajah Budi, Wira hanya menendang kaki, pantat, punggung, dan tempat-tempat tidak berbahaya lainnya. Jadi, Budi tidak akan mati.Melihat Wulan yang tetap diam, Agus menatap ke arah Danu, Doddy, dan Sony. Namun, mereka juga tidak memedulikan

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 19

    Setelah Budi pergi, sebagian besar warga dusun langsung berhamburan masuk ke rumah Wira hingga halamannya penuh.Selama ini, warga dusun sudah sering ditindas, diancam, dan bahkan dipukul Budi karena masalah pajak serta kerja rodi.Namun, tidak ada seorang pun yang berani memukul Budi hingga dia berteriak minta ampun seperti Wira.Warga dusun pun menatap Wira dengan hormat.Saat melihat wibawa Wira menjadi makin besar di hati warga dusun, Agus pun berkata, “Wira, kamu memang sudah mengalahkan Pak Budi hari ini. Tapi, apa kamu pernah mikir? Dia itu orang pemerintah, memangnya dia bakal mengampunimu?”Semua warga dusun pun terlihat takut.Jangankan memukul orang pemerintah seperti Budi, orang yang tidak membayar pajak saja sudah bisa dijebloskan ke penjara pengadilan daerah atau dipaksa kerja rodi.Setelah diperlakukan begini oleh Wira, Budi tidak mungkin mengampuninya.“Kalian nggak perlu khawatir!”Wira menyuruh Doddy mengambilkannya sebuah bangku. Kemudian, dia berdiri di atasnya dan

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 20

    Mereka sudah akan kaya!Selama sisa tahun ini, mereka sudah tidak perlu kelaparan lagi.Tahun Baru nanti, mereka juga bisa menyantap daging.Warga dusun yang berdiri di luar rumah Wira juga sangat terharu hingga menangis.Begitu masuk akhir tahun yang sering hujan, bahan pangan mereka akan makin menipis sehingga hidup mereka juga akan bertambah sulit.Ada banyak warga dusun yang saking miskinnya juga bisa mati kelaparan.Tahun ini, situasi mereka sudah akan membaik. Mereka pasti bisa melewati akhir tahun ini dengan baik.Agus mengerutkan keningnya dan membatin, ‘Si Pemboros ini mau kasih gaji yang begitu tinggi? Begitu masuk akhir tahun, curah hujan yang tinggi bakal menyulitkan orang-orang untuk tangkap ikan. Meski kamu punya teknik rahasia menangkap ikan, itu juga nggak berguna. Pada saatnya nanti, kekayaanmu yang tersisa juga nggak bakal bisa menutupi gaji sebulan semua orang yang totalnya 60 ribu gabak.”“Pilih saja dulu orang yang mau berpartisipasi dari tiap keluarga. Nanti kita

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 21

    Wulan berbisik, “Apa mungkin itu orang dari pengadilan daerah?”Wira menggeleng. “Waktu Budi pergi, gerbang kota sudah tutup. Dia nggak mungkin bisa pergi ke pengadilan daerah. Lagian, kalau itu memang orang pengadilan daerah, mereka pasti langsung mendobrak pintu. Ini perampok, tapi aku nggak tahu ada berapa orang. Kamu sembunyi saja di bawah ranjang!”Wulan menggeleng. “Walau aku itu perempuan, aku tetap bisa bantu kamu. Nggak ada yang bisa tahan kalau kepalanya dihantam.”“Oke. Jangan pakai sepatu. Begitu pintunya terbuka, kita langsung hantam kepala mereka!” bisik Wira.Mereka berdua tidak menghidupkan lampu. Setelah mengeluarkan parang dan tongkat kayu, mereka pun berjalan ke aula utama tanpa alas kaki.Dengan cahaya bulan dan bintang yang masuk melalui celah pintu, mereka bisa samar-samar melihat ujung pisau yang digunakan perampok untuk membuka gerendel pintu mereka.Ckit, ckit ....Gerendel pintu mereka perlahan-lahan terbuka.Wira dan Wulan pun menjadi tegang.Wira ingin langs

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 22

    Doddy menunjukkan posturnya, “Ini Wing Chun yang diwariskan jenderal tua kepada Ayah. Jari-jari kaki harus mencengkeram lantai, telapak kaki harus kosong, dan lutut harus sedikit ditekuk. Pantat seperti duduk di kursi, kelangkangnya diangkat, tulang ekornya diturunkan. Lalu otot perut harus ditahan, dada juga harus terbuka. Kedua tangan seperti mau mencengekeram sesuatu, bahunya diturunkan, siku ditekuk. Terus, dagu ditarik masuk dan kepalanya harus kayak lagi menahan sesuatu. Kalau berdiri lama dengan cara begini, kekuatannya bisa bertambah, reaksinya juga bisa jadi cepat. Jadi, satu orang juga bisa langsung lawan beberapa orang.”Wira pun terkejut. Teknik yang diajarkan Doddy ini mirip pencak silat Atrana Kuno.Di era di mana informasi tersebar di mana-mana, segala jenis bela diri juga diposting di internet.Ada banyak orang yang menontonnya, tetapi jarang ada yang mempraktikkannya.“Kak Wira, ini warisan rahasia. Ayah bahkan nggak kasih tahu kedua pamanku itu!” Doddy berbisik, “Aya

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 23

    Sony buru-buru berkata, "Tahu. Aku tahu jelas tentang ini!" Sejak usianya yang ke-13 hingga 19 tahun, dia sudah familier dengan siapa pun pencuri, perampok, dan siapa pun yang dikabarkan sebagai pembunuh di sekitar kota-kota terdekat.Dulu, ada pencuri yang membawanya masuk ke geng, tetapi Sony tidak cukup berani sehingga tidak jadi bergabung.Wira yang mendengar detailnya pun bertanya, "Apakah ada geng yang beranggotakan tiga orang? Mereka bisa bela diri dan menggunakan pisau!""Ada!"Sony memikirkannya sejenak, lalu berujar, "Di Dusun Gabrata yang jauhnya sekitar tujuh kilometer dari sini, ada Gavin beserta dua saudaranya. Mereka bisa melompati tembok yang setinggi manusia dalam sekejap dan aku pernah melihatnya sekali. Ayah mereka merupakan pasukan yang turun ke medan perang dan mewariskan ke mereka teknik pedang pembunuh milik pasukan. Teknik itu adalah milik orang-orang kejam dari Dusun Gabrata."Wira pun mengangguk.Ada kemungkinan bahwa ketiga bersaudara ini pencuri yang dipuku

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 24

    Akan ada orang yang melanggar perjanjian kerahasiaan, lalu meninggalkan tim untuk mencari ikan sendiri dan menjualnya.Namun, karakter seseorang dapat terlihat dengan cara ini.Orang yang memiliki pemikiran dangkal akan melupakan moralitas demi keuntungan pribadi. Jadi, mereka akan pergi menangkap ikan demi mendapatkan keuntungan sendiri. Sementara itu, orang yang memiliki karakter baik akan menepati janji dan mengajak yang lain untuk menghasilkan uang bersama-sama.Hanya saja, setelah menerima keuntungan dari ini, mereka berlima tidak akan menganggap serius metode rahasia menangkap ikan lagi.Setelah menyelesaikan sarapan dengan tergesa-gesa, Wira berganti pakaian dengan jubah sutra, lalu membawa Sony yang mengenakan pakaian satin, serta Danu dan Doddy yang membawa tongkat jujube panjang ke kediaman Jamadi yang 10 kilometer jauhnya.Tempat tinggal Jamadi di Desa Pimola adalah rumah berbata yang memiliki delapan kamar dan ada dua patung singa menghiasi kedua sisi gerbangnya. Di pedesaa

Latest chapter

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3279

    Joko dan Zaki sedang mengatur orang-orang untuk memindahkan persediaan bahan makanan. Saat ini, Zaki tampak terpikir akan sesuatu, lalu berbisik, "Menurutmu, apakah pasukan Wira akan menyerang kita?"Mendengar pertanyaan itu, Joko mengerutkan alisnya sedikit. Setelah berpikir beberapa saat, dia perlahan menyahut, "Sulit dipastikan. Tapi, karena ada kemungkinan seperti itu, kita tentu harus berhati-hati.""Lagi pula, kalau kita sudah menyelesaikan pemindahan ini, meskipun mereka menyerang, mereka hanya akan menemui kehancuran."Zaki mengangguk setuju. Dari sudut pandangnya, tampaknya tidak ada masalah dengan rencana ini.Setelah beberapa saat, Joko kembali mengernyit dan bertanya, "Masalahnya, kita akan menyimpan bahan makanan ini di mana? Nggak mungkin kita cuma memindahkannya tanpa tujuan, 'kan?"Zaki terdiam sejenak. Memang mereka belum memikirkan hal itu secara matang. Setelah merenung beberapa saat, dia menimpali, "Kalau begitu, sebaiknya kita pilih tempat yang aman dan tersembunyi

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3278

    Di pihak Wira, ketika melihat waktu sudah hampir tiba, Adjie dan Hayam langsung membawa 500 prajurit untuk berkumpul.Di lapangan luar perkemahan, Wira menatap kedua orang itu dan berkata, "Kalau misi ini berhasil, aku akan menyiapkan pesta kemenangan untuk kalian!"Mendengar perkataan Wira, Adjie dan Hayam menjadi sangat bersemangat. Setelah memberi hormat, mereka segera melompat ke atas kuda. Setelah itu, pasukan mereka mulai bergerak dengan cepat menuju perkemahan pasukan utara.Melihat Adjie dan Hayam melaju kencang ke medan perang, Wira menghela napas panjang. Di malam yang gelap gulita ini memang sangat cocok untuk serangan mendadak.Di belakang Wira, Arhan, Agha, dan Nafis berdiri tegap. Setelah beberapa saat, mereka mendekati Wira. Nafis berkata sambil memberi hormat, "Tuan, udara malam cukup dingin. Sebaiknya kamu masuk untuk istirahat."Wira mengangguk. Setelah kembali ke dalam tenda, dia menatap ketiga orang itu dan berucap, "Pesan dari Jenderal Trenggi sudah sampai. Mereka

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3277

    Mendengar perkataan Darsa, Kahlil langsung tersenyum dan mengangguk. Dia berkata, "Benar, seperti itu. Hanya dengan cara ini kita bisa benar-benar menyelesaikan masalah. Selain itu, entah musuh akan menyerang kita atau nggak, dari sudut pandang kita saat ini, ini adalah strategi terbaik."Darsa merasa sangat bersemangat mendengar itu. Setelah berpikir beberapa saat, dia tersenyum sambil mengangguk, lalu bertanya, "Strategi ini memang bagus. Bagaimana dengan kalian berdua? Ada ide lain?"Joko dan Zaki berpandangan, lalu mengangguk ringan. Setelah beberapa saat, keduanya tersenyum dan berujar, "Kalau memang seperti ini, ini jelas adalah rencana yang bagus. Justru ini adalah yang terbaik saat ini."Melihat keduanya tidak keberatan, Darsa pun tersenyum dan berucap, "Kalau begitu, kita akan mengikuti rencana ini. Tapi, pertama-tama kita harus memastikan rencana ini memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi."Mendengar itu, semua orang mengangguk. Setelah berpikir sejenak, Joko menatap

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3276

    Begitu mendengarnya, ekspresi semua orang langsung berubah. Zaki yang paling tidak sabaran pun mengernyit. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata dengan nada tidak percaya, "Kamu sudah gila?""Kalau kita melakukan itu, bukankah musuh bisa dengan mudah membakar semua persediaan kita? Ide ini nggak ada bedanya dengan langsung memberi tahu mereka kalau di sini ada pangan!"Darsa menyadari bahwa Kahlil belum selesai berbicara. Melihatnya disela oleh Zaki, dia segera mengerutkan kening dan menegur dengan tegas, "Kenapa kamu terburu-buru? Biarkan Kahlil menyelesaikan ucapannya!"Zaki langsung terdiam, menyusutkan lehernya sedikit, lalu kembali menatap Kahlil.Kahlil terkekeh-kekeh. Setelah beberapa saat, dia menunjuk peta sambil berucap, "Sebenarnya ini cukup sederhana. Kita bisa menggunakan persediaan sebagai umpan.""Dengan cara ini, kalau musuh benar-benar mencoba menargetkan persediaan kita, mereka akan masuk ke dalam perangkap kita dan kita bisa melakukan penyergapan."Mendengar it

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3275

    Mendengar ucapan Darsa, semua orang mengangguk pelan. Joko yang berdiri di samping segera menangkupkan tangan dan berkata, "Kalau begitu, biarkan kami yang mengatur segalanya. Tuan, jangan khawatir!"Melihat Joko menerima tugas itu, Darsa mengangguk.Saat ini, Kahlil yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi. Setelah berpikir sejenak, dia maju dan berkata, "Tuan, aku punya rencana. Tapi, aku nggak tahu ini pantas untuk dikatakan atau nggak."Sebelum Darsa sempat menanggapi, Zaki yang berdiri di dekatnya langsung menegur, "Kamu bicara apa? Kamu nggak lihat betapa pusingnya Tuan Darsa memikirkan masalah ini? Apa yang bisa kamu pikirkan sekarang?"Darsa pun menegur Zaki balik. Saat ini, mereka sedang menghadapi kesulitan besar. Justru karena itu, jika ada informasi atau ide baru, dia harus mendengarnya terlebih dahulu.Akhirnya, Zaki menunduk, sementara Kahlil maju dan berkata, "Tuan, ada yang ingin kutanyakan. Kalau musuh yang mulai menyerang kita, kenapa kita hanya bertahan tanpa mela

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3274

    Zaki ikut tertawa. Setelah dua kali mengalami kekalahan besar di tangan Wira, kini dia sangat ingin mengulitinya hidup-hidup.Namun, Joko yang berdiri di sampingnya mengernyit dan berkata dengan suara berat, "Sekarang ini, kita belum boleh terlalu senang."Zaki hendak membantah, tetapi ketika melihat wajah Darsa juga tampak serius, dia merasa bingung. Sambil mengernyit, dia bertanya, "Kenapa? Bukankah mendapat tambahan 10.000 pasukan dari Jenderal Besar adalah kabar baik?"Darsa tersenyum pahit, sementara Joko langsung menjawab, "Itu memang kabar baik, tapi jangan lupa kalau di belakang Wira masih ada Trenggi. Sekarang, Trenggi telah menguasai kota-kota di selatan. Tentu saja, dia juga bisa mengirim lebih banyak pasukan."Semua orang yang mendengar itu mengangguk ringan.Zaki yang awalnya bersemangat menjadi termangu. Setelah terdiam beberapa saat, dia bergumam, "Aku nggak memikirkan itu sebelumnya. Kalau begitu, kita dalam masalah."Darsa mengernyit dan berujar, "Sekarang situasinya s

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3273

    Di pihak pasukan utara, Joko dan yang lainnya telah kembali bersama pasukan mereka. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa situasi akan menjadi serumit ini.Melihat Zaki, Joko, dan Kahlil yang kembali untuk melapor, Darsa berkata dengan suara rendah, "Kalian bertiga tetap di sini, yang lainnya keluar dulu."Mendengar itu, semua orang memberi hormat, lalu berbalik dan keluar dari tenda. Setelah hanya tersisa tiga orang di dalam, Zaki mengerutkan alis dan bertanya, "Tuan, kita mengalami kerugian besar kali ini. Kenapa kita harus mundur?"Yang mengusulkan mundur adalah Joko. Joko pun sudah lebih dulu mengirim kabar kepada Darsa melalui merpati pos saat perjalanan pulang.Setelah mengetahui situasinya, Darsa memang langsung memerintahkan mereka untuk mundur. Karena itu, begitu kembali, Zaki segera menanyakan alasannya.Darsa memberi isyarat agar mereka duduk, lalu berkata, "Kali ini kita mengalami kerugian besar di tangan musuh. Kita kehilangan lebih dari 10.000 prajurit. Kalau kita teru

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3272

    Mendengar itu, Trenggi segera meraih surat dari tangan mata-mata. Setelah membaca isinya, dia mengerutkan alis. Dia tidak menyangka situasi menjadi begitu rumit, hingga kedua belah pihak kini terjebak dalam pertempuran sengit.Memikirkan hal itu, dia langsung merobek surat itu dan berucap, "Segera panggil semua wakil jenderal! Kumpul di kediaman wali kota sekarang juga!"Pengawal pribadi di samping Trenggi segera memberi hormat, lalu bergegas membawa orang-orang menuju kediaman wali kota.Setelah semua berkumpul, Trenggi berjalan ke depan dengan langkah besar. Melihatnya, semua orang langsung menangkupkan tangan memberi hormat."Nggak perlu basa-basi! Buka peta perang sekarang juga!" Dengan suara lantang, Trenggi memberi perintah agar peta dibentangkan.Setelah melihat lokasinya, dia mengetukkan jarinya 2 kali pada Pulau Hulu, lalu menunjuk arah lain sambil berkata dengan suara rendah, "Gunung Sembilan Naga .... Jadi, pasukan Tuan Wira terjebak di sana. Kita harus segera mengirim bala

  • Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius   Bab 3271

    Melihat Hayam dan Adjie telah setuju, Wira mengangguk pelan. Dia menatap keduanya sambil berkata, "Kalau begitu, tugas ini kuserahkan kepada kalian berdua. Kalian harus sangat berhati-hati! Segalanya harus dilakukan sesuai dengan rencana Adjie!"Hayam mengangguk tanpa ragu. Namun, Wira masih merasa sedikit khawatir. Dia bertanya, "Adjie, 500 orang cukup? Perlu kutambahkan pasukan untukmu?"Mendengar ini, Adjie segera menjawab dengan suara tegas, "Jangan khawatir! Lima ratus orang sudah lebih dari cukup!"Wira pun mengangguk setuju setelah mendengar jawaban itu. Setelah rencana mereka diputuskan, Wira berujar lagi, "Hari ini semua orang telah berjuang seharian. Lebih baik sekarang kita istirahat. Adjie dan Hayam, besok kalian jalankan rencana seperti yang telah disepakati!"Semua orang mengangguk, memberi hormat, lalu mundur untuk beristirahat.Setelah mereka pergi, Wira menoleh ke arah wakil jenderalnya dan berucap dengan suara rendah, "Rencana sudah ditetapkan. Sebelumnya aku menyuruh

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status