âKamu bekerja di Pacific Mall?ââKe-kenapa Anda tahu?âOliver menunjuk seragam kerja Jihan yang menggantung di standing hanger, dengan dagu.âAh... iya, saya bekerja di sana.â Jihan tertawa, mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang setelah barusan Oliver menelepon nomor Yara dan terdengar deringan ponsel di dalam kamar.Dasar Yara bodoh! pekik Jihan dalam hati.âTapi Anda harus percaya sama saya, di dalam memang ada handphone Yara, tadi dia sempat ke sini dan handphone-nya tertinggal diâââApa menurutmu saya akan percaya pada omong kosongmu?â sela Oliver, yang membuat Jihan menelan ludah. Oliver memutar kenop pintu, tetapi terkunci. âBerikan kunci ganda atau saya akan menelepon manajer Pacific Mall untuk memecatmu!âAncaman Oliver tersebut membuat Jihan terkesiap. Tentu saja ia tahu bahwa Pacific Mall merupakan salah satu anak usaha dari New Pacific Group, perusahaan yang Oliver pimpin.Akhirnya, karena ancaman Oliver tampak tidak main-main dan ia tak ingin dipecat, Jihan memberi
Oliver tidak benar-benar fokus pada kemarahan Yara yang terus mengomel selama perjalanan. Ia tidak mengerti, kenapa yang ada di dalam kepalanya hanya tentang pertemuan Yara dan Marshall di cafe tadi siang? Sial!Oliver mengumpat sambil menepikan mobil ke pinggir jalan.âYara, apa yang kamu lakukan di belakangku bersama Marshall?â Lagi-lagi Oliver mengumpat karena pertanyaan itu tak dapat ia cegah. Bayangan Yara yang tertawa bersama sepupunya membuat kemarahan Oliver tidak dapat dibendung lagi.Yara mengerutkan kening, menatap Oliver dengan tatapan bingung. âKamu tahu aku ketemu Marshall?ââTentu saja.ââJadi, diam-diam kamu memperhatikanku?â tanya Yara sambil mendengus kasar.Oliver mengembuskan napas berat. Ia menatap Yara dengan tatapan sulit diartikan. âJadi itu yang kamu lakukan selama aku nggak ada, Yara? Kamu tertawa bersamanya seolah-olah kamu istri yang
âTapi dia anakku juga, Yara!âKata-kata Oliver kemarin sore kembali terngiang di telinga Yara.Karena terlalu kaget mendengar kata-kata itu bisa keluar dari mulut Oliver, Yara hanya terpaku, lidahnya terasa kelu. Dan Oliver pergi begitu saja setelah mengatakannya.Yara merasakan hatinya campur aduk. Setelah menyuruhnya menggugurkan kandungannya, kini Oliver tiba-tiba mengklaim anak ini sebagai anaknya? Sebenarnya ada apa dengan pria itu?âYara, kamu nggak apa-apa?ââOh?â Pertanyaan Jinggaâyang sesuai ucapan Oliver bahwa ibunya itu akan datang ke rumah hari ini, mengeluarkan Yara dari lamunannya. Yara mengangguk. âAku... aku nggak apa-apa, Ma. Tadi Mama bicara apa? Maaf aku sedikit melamun barusan.âJingga tersenyum lembut sembari mengalihkan tatapannya dari Yara, ke arah Zio yang sedang bermain di depan mereka. Keduanya tengah duduk di sofa di ruang keluarga.
Yara terperangah. Mengusap wajah, lalu mengeluarkan suara setengah mendengus dan setengah tertawa sinis. âLalu memangnya kenapa kalau kamu memiliki hak atas anak ini? Kamu jadi sesuka hati mau menggugurkannya?ââAku nggak akan mengugurkannya,â gumam Oliver nyaris tak terdengar, membuat Yara tersentak.Oliver masuk begitu saja ke rumah kecil Yara hingga bahunya sedikit menyenggol bahu Yara yang berdiri di ambang pintu. Ia bisa menghidu aroma manis parfum Yara yang mengisi seisi ruangan, berbeda dengan Yara yang selama ini selalu memakai parfum beraroma lembut milik ZaraâYara yang dimanipulasi. Sekarang Oliver tahu bahwa Yara menyukai parfum beraroma manis.âHey, hey! Tunggu! Kenapa masuk tanpa melepas sepatu?!â protes Yara, âkamu nggak baca tulisan di depan? Ruangan ini bebas dari sepatu dan sandal, tahu? Lagian kenapa kamu tiba-tiba masuk tanpa seizin dari aku, sih?â Yara mengomel dengan ekspresi jengkel yang tak ia
Belanja keperluan pribadi yang seharusnya menyenangkan, justru malah terasa canggung karena kehadiran Oliver yang terus membuntuti Yara ke manapun Yara pergi. Pria itu tidak banyak berbicara, tapi Yara merasa tatapan pria itu menghunus punggungnya.âOliver, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?â Yara akhirnya menyerah dan memilih bersuara lebih dulu sambil mendorong troli yang sudah terisi beberapa kebutuhannya.âMaksudmu?â tanya Oliver dengan ekspresi datar.âKamu tiba-tiba berubah, dan sekarang kamu terus membuntutiku seolah-olah aku anak kecil yang akan hilang kalau nggak diawasi,â cerocos Yara tanpa jeda.Oliver mengembuskan napas berat. âSudah kubilang, aku harus mengawasimu, karena siapa tahu kamu berencana kabur dariku,â katanya sambil menyenggol tubuh Yara hingga Yara sedikit terhuyung dan menjauh dari troli. Oliver mengambil alih troli itu. âIngat, kamu mengandung anakku, Yara. Aku harus menjaga anakku baik-baik dari wanita ceroboh sepertimu.â Lalu ia mendorong troli, mendahului
Yara bersama Jingga dan beberapa staf dari studionya sedang sibuk melaksanakan acara bakti sosial di panti jompo. Suasananya dipenuhi dengan keceriaan. Berbagai aktivitas dirancang untuk menghibur para penghuni panti. Senyum merekah terbit di wajah-wajah para orang tua yang duduk di kursi roda, menikmati perhatian yang diberikan oleh para sukarelawan.Yara yang hari ini mencoba menjadi dirinya sendiri, mengenakan baju santai dengan kemeja putih dan jeans, sedang berbicara penuh semangat di tengah kerumunan. Tawa riang terdengar saat Yara melontarkan lelucon-lelucon kecil yang membuat para lansia terhibur."Baiklah, sekarang aku akan memainkan sesuatu yang kalian pasti suka," kata Yara dengan senyum lebar seraya memegang gitar akustik yang sudah ia siapkan dari tadi.Ia mulai memainkan gitar tersebut dan menyanyikan beberapa lagu-lagu klasik yang populer di masa muda para lansia. Suaranya terdengar merdu, dengan alunan gitar yang membuat para lansia bernostalgia. Mereka ikut bernyanyi
Yara memilih tidur di kamarnya yang ada di rumah Oliver malam ini. Ia terlalu enggan berjalan menuju ârumah kubusnyaâ karena morning sickness yang terus menerus menyerangnya.Saat Yara sedang berusaha memejamkan mata, seseorang tiba-tiba membuka pintu kamarnya tanpa diketuk terlebih dulu. Yara tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma woody yang menguar sudah menjawab semuanya.âKamu nggak tahu caranya mengetuk pintu, ya? Gimana kalau kamu datang di saat aku lagi ganti baju?â gerutu Yara dengan sebal sambil merapatkan selimutnya, posisinya masih membelakangi pintu.âBangunlah. Aku membawa ini untukmu,â ucap Oliver, tanpa memedulikan gerutuan Yara barusan.Yara tidak ingin mendengarkan ucapan Oliver, tapi ia penasaran. Apa yang pria itu bawa untuknya? Dukun beranakkah untuk menggugurkan kandungannya? pikir Yara sambil tersenyum kecut.Meski begitu, Yara merasa penasaran. Ia akhirnya berusaha bangun meski badannya lemas, ia lihat Oliver sedang berdiri menjulang sambil mene
Yara benar-benar tak habis pikir, ada apa dengan Oliver belakangan ini? Apa kepalanya terbentur sesuatu hingga membuat pikirannya berubah secara drastis?Semalam pria itu tidur di sofa hingga pagi, dan ia tidak meminta Yara untuk membuatkannya sarapan.âHari ini istirahat saja, jangan melakukan apapun,â katanya sebelum pergi ke kantor dan ia sempat melihat Yara kembali mengalami morning sickness.Yara mengembuskan napas panjang sambil geleng-geleng kepala. âBenar-benar sulit dimengerti,â gumamnya, sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali aktifitasnyaâmendekor ruangan tengah di rumahnya, sebuah bangunan seperti kubus di tengah-tengah taman belakang rumah Oliver.Yara membawa tangga lipat dan menaikinya untuk memajang lukisan di dinding.Saat tatapannya tak sengaja tertuju ke arah lapangan basket melalui dinding kaca, seketika itu juga ia tercenung. Setiap kali mengingat basket, ia jadi teringat dengan hubungannya bersama Oliver dan Zara yang rumit, di masa lalu.Saat itu, ia menjadi mur
âSiapa yang kirim bunga untuk Airell?!â seru Oliver dengan galak saat ia mendengar Lisa berbicara dengan kurir yang mengantarkan seikat bunga mawar merah dan menyebut-nyebut nama Airell.Oliver kemudian merebut seikat bunga itu dari tangan Lisa dan membaca pesan yang tertulis dalam secarik kertas.âBunga ini memang cantik, tapi kalah cantik sama kamu, Airell. âBenâââBen? Siapa Ben?â geram Oliver. Berani-beraninya bocah ingusan bernama Ben itu menggombali Airell!âKenapa, Sayang?â tanya Yara yang baru saja menghampiri suaminya dengan kening berkerut.Oliver menunjukkan bunga itu. âLihat, Sayang. Ada yang kirim bunga buat Airell. Namanya Ben. Astaga, anak jaman sekarang, pipis aja belum lurus tapi sudah berani menggombali anak orang!ââHush!â Yara memukul pelan lengan Oliver. âAirell sudah remaja, lho. Kamu lupa?âJustru karena sudah remaja, Oliver jadi semakin protektif pada Airell, begitu pula pada Avery yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.Oliver hendak membuang bunga itu ke te
âSayang, kita mau nambah anak lagi nggak?ââNggak!â jawab Yara galak. âTiga aja cukup.âOliver terkekeh di seberang sana. âKali aja mau. Aku siap, kok. Kalau aku pulang nanti aku siap nambah anak lagi.ââIdih! Itu sih maunya kamu.â Yara memutar bola matanya malas, lalu ikut tertawa saat Oliver tertawa di ujung telepon.âKamu nggak tanya kapan aku pulang, gitu? Atau maksa aku pulang?â Suara Oliver terdengar menggoda.âMemangnya kenapa? Kan sudah jelas kamu akan pulang tiga hari lagi.âYara bangkit dari kursi kerja suaminya. Walaupun sebenarnya ia rindu pada Oliver setelah LDR hampir satu minggu. Namun Yara terlalu gengsi untuk mengakui dan memaksa Oliver pulang. Ia bahkan sering duduk di kursi kerja Oliver demi mengobati rasa rindunya pada pria itu.âPaksa aku pulang, kek. Aku kangen kamu dan anak-anak. Tapi pekerjaan di sini belum selesai.â Oliver terdengar menghela napas panjang. Saat ini ia sedang berada di luar kota untuk perjalanan kantor.Belum sempat Yara menanggapi ucapan suami
Oliver duduk dengan punggung tegak di atas sunbed, netra hitam di balik kacamata hitamnya memperhatikan Yara yang sedang mengajari Avery berjalan tanpa alas kaki di atas pasir pantai. Deburan ombak sesekali terdengar dari kejauhan, diiringi bunyi sekawanan burung camar yang sesekali melintas di udara. âSial! Apa yang laki-laki itu lakukan?â desis Oliver pada dirinya sendiri saat melihat seorang lelaki tak dikenal menghampiri Yara dan mengajaknya mengobrol. Tidak bisa dibiarkan. Detik itu juga Oliver berdiri, dan sempat bicara pada si kembar Arthur dan Airell yang tengah bermain pasir di sebelahnya, âArthur, Airell, tunggu di sini sebentar.â Oliver bergegas menghampiri Yara setelah mendapat anggukkan dari kedua anaknya. âMaaf, ada kepentingan apa Anda dengan istri saya?â tanya Oliver pada lelaki itu tanpa basa-basi sambil menekankan kata âistri sayaâ. Lelaki yang hanya mengenakan celana selutut itu tersenyum canggung dan tampak terintimidasi oleh tatapan tajam Oliver. âOh, t
âKak Zio!ââYeay! Kak Zio datang! Aku kangen Kak Zio!âArthur dan Airell berlari menghampiri Zio. Zio berjongkok, merentangkan kedua tangan dan memeluk si kembar secara bersamaan.âAku juga kangen kalian,â ucap Zio sambil tertawa bahagia.Arthur yang pertama kali melepaskan diri dari pelukan itu. âKak Zio, ayo lihat adik aku. Avery cantik, lho!âMendengar ucapan Arthur, Airell pun cemberut. âMemangnya aku tidak cantik?ââCantik, sih. Tapi sedikit.â Arthur tertawa jahil.âArthur...!â rengek Airell dengan bibir yang semakin memberengut.Zio tersenyum dan menggenggam tangan Airell. âKamu cantik, Airell. Nggak ada yang ngalahin cantiknya kamu.âMata Airell seketika berbinar-binar. âSungguh?ââHm! Aku serius.â Zio mengangguk. âKalau begitu ayo kita lihat Avery. Di mana dia sekarang?âAirell tersenyum ceria, ia menarik tangan Zio sambil berkata, âAvery lagi sama Daddy. Ayo!âMelihat interaksi mereka bertiga, Yara pun tersenyum penuh haru. Tak bisa dipungkiri bahwa ia pun merindukan Zio.âZi
âOliver, kamu baik-baik saja?â Marshall menelengkan kepala, menatap wajah sepupunya yang terdapat lingkaran hitam di bawah matanya. âKamu sepertinya kurang tidur.âOliver mengembuskan napas panjang. Ia duduk dengan tegap di sofa, tepat di hadapan Marshall. âMenurutmu aku bisa tidur nyenyak? Setiap malam Avery selalu bangun dan saat siang dia tidur nyenyak.âAvery William adalah nama untuk anak ke tiga Yara dan Oliver. Nama itu Oliver sendiri yang memberikannya.Mendengar keluhan Oliver, Marshall tertawa puas. âGimana dengan Yara?ââAku membiarkan dia tidur kalau malam. Lagian Avery selalu ingin bersamaku. Seolah-olah dia tahu kalau dulu ayahnya nggak menemani kakak-kakak dia waktu masih bayi.â Oliver tersenyum kecil, hatinya berdenyut nyeri kala membayangkan Yara melewati masa-masa mengurus bayi kembar sendirian.âMengurus satu bayi saja sudah repot, apalagi dua,â timpal Marshall, âkamu tahu maksudku?âOliver mengembuskan napas. âAku tahu. Kamu nggak perlu menambah rasa bersalahku kar
Oliver terduduk lemas di kursi yang ada di koridor rumah sakit. Wajahnya pucat pasi. Rambutnya acak-acakan. Dan kedua lengannya tampak merah, dipenuhi bekas gigitan dan cakaran. Oliver melamun. Seakan-akan sibuk dengan dunianya sendiri, hingga Oliver mengabaikan keadaan di sekitarnya.Jingga keluar dari ruangan bersalin. Ia prihatin melihat kondisi Oliver yang tampak terguncang. Lalu menghampirinya.âOliver, kenapa kamu diam di sini? Yara dan bayi kalian menunggu di dalam,â ucap Jingga dengan lembut.Ya, Yara sudah melahirkan beberapa saat yang lalu ditemani Oliver. Setelah bayinya berhasil dilahirkan dengan selamat dan sempurna, Oliver pun keluar dari ruangan itu dan duduk termenung sendirian.âOliver...,â panggil Jingga saat Oliver tidak merespons ucapannya.Oliver tetap bergeming. Melamun dengan tangan gemetar.Jingga menghela napas panjang. Ia duduk di samping putranya, lalu menggenggam tangannya yang terasa dingin.Saat itulah Oliver keluar dari lamunannya dan menatap Jingga deng
âOliver, perutku sakit banget.âBisikan Yara tersebut berhasil menghentikan Oliver yang sedang berbincang-bincang dengan kliennya. Oliver langsung menoleh pada Yara dan melihat wanita itu tengah mengerutkan kening seperti menahan rasa sakit.âSayang, perut kamu sakit?âYara mengangguk. âSakit banget,â katanya sembari mencengkeram lengan Oliver kuat-kuat.Raut muka Oliver seketika berubah menegang. Tangannya menangkup pipi Yara dan berkata dengan tegas, âKita ke rumah sakit sekarang!âTanpa basa-basi, Oliver segera mengangkat Yara ke pangkuan. Sikapnya itu mengundang perhatian dari orang-orang di sekitar mereka. Namun Oliver tampak tidak peduli. Saat itu juga ia membawa Yara keluar dari ballroom dengan ekspresi panik yang gagal ia sembunyikan.âOliver, jangan terlalu khawatir. Sekarang sakitnya sudah hilang lagi, kok,â kata Yara, berusaha menenangkan Oliver yang kini tengah mengemudi dengan tatapan kalut.âSayang, mana bisa aku nggak khawatir,â sergah Oliver sembari mengusap wajah deng
âOliver, sudah kubilang, aku bisa melakukannya sendiri. Astaga....ââTidak! Selama aku bisa melakukannya untukmu, akan kulakukan!â tegas Oliver, sebelum akhirnya pria itu memangku Yara ke kamar mandi.Yara memutar bola matanya malas, tapi ia tidak menolak lagi. Karena sekali lagi Yara menegaskan, Oliver adalah pria yang tidak menerima penolakan.Sejak awal kehamilan, Oliver selalu memberi perhatian lebih dan memanjakan Yara. Apalagi saat kehamilan Yara sudah membesar seperti sekarang, Oliver bahkan tidak mengizinkan Yara melakukan aktifitas yang sedikit berat. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. memenuhi segala kebutuhan Yara dan melayaninya dengan sepenuh hati.Oliver sering berkata pada Yara bahwa ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu yang tidak menemani Yara sewaktu kehamilan si kembar.âJangan lihat aku. Aku malu,â protes Yara saat Oliver sudah melepaskan seluruh kain yang membungkus tubuhnya.Oliver tersenyum kecil. âApa yang membuat kamu malu, Sayang?â tanya
âDaddy! Mommy! Ada tamu!ââShit!â Oliver mengumpat sambil memejamkan matanya sejenak kala mendengar seruan Airell di luar sana.Namun, hal itu tidak menyurutkan gairah Oliver. Ia berusaha menggerakkan dirinya dengan selembut mungkin agar tidak menyakiti istrinya yang kini berada di hadapannya. Posisi wanita itu memunggunginya.âOliver...,â desah Yara sambil mencengkeram sprai erat-erat. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan desah agar tidak keluar lebih keras lagi. âAirel bilang... ada tamu.â Yara berkata dengan napas terengah-engah. âItu pasti Zara, dia sudah... datang.ââSsstt!â Oliver menarik dagu Yara agar menoleh ke arahnya. Lantas dilumatnya bibir sang istri dengan rakus tanpa menghentikan gerakannya. âJangan hiraukan, Sayang. Fokus saja padaku,â bisik Oliver sesaat setelah ia menjauhkan bibir mereka berdua.âDaddy! Mommy! Ada Aunty Zara!â seru Airell lagi, kali ini diiringi ketukan pintu.