Bruk!Kembali terdengar ada suara tubuh seseorang yang jatuh ke lantai.Rupanya itu adalah tubuh Martis yang pingsan. Martis benar-benar tumbang setelah melakukan serangan menggunakan seluruh tenaga terakhirnya tadi. Baru kali ini Martis sampai pingsan setelah bertarung. Entah apa yang akan terjadi pada nasib Herupa seumpama Martis tidak ada di sana."Martis...!" Ketika melihat tubuh Martis yang terkapar di tanah, Mia langsung bersiap untuk berlari guna mendekati Martis. Namun, langkah kaki Mia segera terhenti.Nging...!Kali ini suara yang terdengar adalah suara dengungan yang sangat nyaring dan juga memekikkan telinga semua orang yang ada di sana."Aduh..., telingaku...!" Kedua tangan Mia langsung bergerak menutupi bagian telinganya dan ia juga berjongkok sambil memejamkan kedua matanya.Bukan hanya Mia, tapi semua orang melakukan hal yang sama seperti yang Mia lakukan.Slash...!Jediar..., boom!Ledakan yang satu ini terdengar paling dahsyat.Kali ini, sinar laser yang keluar itu b
Malam ini benar-benar menjadi malam yang sangat panjang bagi Martis dan Herupa.Herupa saling bekerja sama dengan Keamanan Pemerintah untuk membereskan sisa-sisa kekacauan yang terjadi di markas Herupa.Sedangkan ratusan orang pasukan Tentara Bayaran itu, langsung di ringkus dan di gelandangan ke markas Pusat Keamanan Pemerintah untuk ditindak lebih lanjut. Yang jelas, apapun alasan yang dikatakan oleh semua Tentara Bayaran itu, yang pasti mereka semua akan dihukum dan dipenjarakan nantinya. Karena mereka semua itu sudah sangat membuat onar di wilayah Negara Purple Gold. Informasi tentang Tentara Bayaran yang menyerang warga sipil itu juga berhasil menyebar dengan cepat. Berita hangat kabar tentang Herupa yang berhasil mengalahkan Tentara Bayaran ternyata menyebar ke berbagai negara lainnya. Bahkan bukan hanya negara-negara tetangga dan negara kecil saja, juga termasuk beberapa negara besar berhasil mengetahui kabar ini dengan cepat.Kabar tentang Herupa ini bisa menyebar luas dengan
Sebelum tidur, semalam Mia berniat ingin bangun lebih awal guna menyiapkan sarapan pagi untuk Martis. Tapi sayangnya ketika ia terbangun di pagi hari, ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi."Kau sudah bangun?" Baru saja Mia membalikkan tubuhnya yang berniat untuk pergi membuat sarapan pagi, namun Mia malah terkejut saat melihat bahwa Martis sudah membawa satu nampan yang berisikan beberapa menu makanan untuk sarapan. Ada dua mangkuk bubur ayam dan dua gelas susu di atas nampan yang Martis bawa itu."Ma-martis...? Ma-mafkan aku, aku baru terbangun." Karena merasa tidak enak hati, Mia langsung menundukkan wajahnya karena merasa malu juga kepada Martis. Bukannya Mia yang menyiapkan sarapan untuk Martis, eh..., malah sebaliknya. Justru Martis lah yang menyiapkan sarapan pagi untuknya."Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Dan lagi, kenapa kau harus meminta maaf padaku? Hem?" Nampan yang Martis bawa ia letakkan di meja kecil yang ada di dekat Mia."Seharusnya aku
Bam!Boom!Tiap pukulan yang dilancarkan oleh Bos Besar Kelitih dan Jendral Sabo menghasilkan suara ledakan-ledakan.Jendral Sabo juga menggunakan kekuatan elemen api yang ia pusatkan pada tinju kanannya untuk mengincar bagian wajah Bos Besar Kelitih.Siuw...!Blush...!Namun sayangnya, tinju Jendral Sabo hanya menyapu angin.Padahal ketika melancarkan pukulannya tadi, jarak antara mereka berdua sangatlah dekat.'Dia sangat cepat. Bagaimana dia bisa menghindari tinjuku yang jaraknya sedekat itu?' Pikiran Jendral Sabo mulai semakin serius."Makan ini!" Dari arah belakang, tiba-tiba saja Bos Besar Kelitih melancarkan pukulannya ke arah punggung belakang Jendral Sabo.Bam!Jediar...!Boom!Tubuh Jendral Sabo terpental dan menghantam tanah.'Sial! Kenapa dia bisa secepat dan sekuat ini?!' Sangat tidak disangka oleh Jendral Sabo bahwa Bos Besar Kelitih ternyata memiliki kemampuan sehebat ini. Baik dari segi kecepatan maupun kekuatan, Bos Besar Kelitih terlihat lebih unggul dibanding Jendra
Ternyata di tengah-tengah asyiknya mengobrol, Martis membaca satu pemberitahuan dari sistem yang muncul. Martis juga baru ingat kalau dia mendapat hadiah dari tugas yang ia selesaikan kemarin.'Wah iya juga, aku sampai lupa mengecek hadiah dari sistem. Kira-kira apa ya? Aku jadi penasaran.' Sebenarnya Martis ingin segera melihat hadiah yang diberikan sistem, tapi dia sengaja menyimpannya untuk nanti.Beberapa jam kemudian, barulah Reka dan Martis kembali ke rumah orang tua Martis. Wajah ceria Reka benar-benar membuat Martis merasa ikut bahagia. Sepanjang perjalanan, Reka tiada hentinya terus menceritakan tentang pertempuran kemarin.Reka merasa sangat bahagia karena ketika tadi ia menelepon dengan kakeknya, kakeknya sangat memuji kehebatan dan keberanian yang Reka tunjukkan kemarin. Reka juga sangat senang karena mendapat banyak hadiah dari sistem."Kak Martis, kamu juga mendapat hadiah kan, dari sistem milikmu? Apa saja hadiah yang Kak Martis dapatkan?" Setelah sampai di rumah orang
"Aku...? Apa?" Entah kenapa, Martis merasa sangat penasaran dengan jawaban dari Reka."Aku..., e..., aku ingin membuat istana es!" Dan benar saja, sesuai dugaan Martis. Reka pasti menginginkan sesuatu yang aneh-aneh."Hah? Apa? Istana es? Perft..., hahahaha...!" Tawa Martis langsung menggelegar di dalam ruangan ini.Martis benar-benar tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar Reka yang ingin membuat sebuah istana es menggunakan kekuatan elemen es yang kelak ia kuasai."Kak Martis! Hih...!" Seperti biasa, Reka mengerucutkan bibirnya seraya menggembungkan kedua pipinya. Penampakan wajah Reka yang manja seperti inilah yang membuat Martis sangat gemas."Hahahaha...! Reka, Reka..., kau ini yah, bisa saja. Hahahaha..., aduh, duh..., perutku sakit. Hahahaha...!" Martis tertawa terpingkal-pingkal bahkan sampai keluar air mata di kedua sudut matanya."Sudahlah! Kak Martis tidak asik!" Karena merajuk, Reka berdiri dari duduknya dan kemudian pergi meninggalkan Martis.***Kabar tentang Martis
Martis sungguh tidak menyangka, ketika ia membuka kabar berita di media sosial ternyata namanya sedang viral. Banyak sekali orang yang memuji keberanian dan kehebatan Martis yang telah berhasil mengalahkan dua Cyborg sekaligus.Martis sebenarnya penasaran dengan orang yang telah menyebar luaskan video rekamannya ketika bertarung melawan kedua Cyborg waktu itu. Dan anehnya lagi, orang yang sengaja menyebarkan videonya itu seperti sengaja hanya menonjolkan dirinya saja. Sedangkan bagian video yang terdapat gambar Reka sudah dipotong. Jadi sepengetahuan semua orang, Martis lah yang melawan kedua Cyborg itu seorang diri.'Hem..., aneh. Kenapa cuplikan videonya hanya menampilkan diriku saja? Ke mana cuplikan ketika Reka yang mengeksekusi kedua Cyborg itu kemarin? Sebenarnya, apa tujuan orang ini menyebarkan video pertarungan kami kemarin ya?' Di dalam kamarnya, Martis yang sedang menatap layar ponsel sedang berpikir dan ingin mencari tahu siapa orang yang sengaja menyebarkan video pertarun
"Tidak masalah kok Kak. Justru aku malah ingin melihat Kak Martis bertarung melawan Ayah." Sangat kebetulan sekali bagi Reka yang memang penasaran dengan kemampuan Ayahnya. Apakah Ayahnya bisa mengalahkan Martis, atau tidak? Reka memang sempat memikirkan hal ini."Baiklah, aku akan mencarinya sebentar. Kau tunggu saja di sini dulu, ya?" Tanpa menunggu lama, Martis langsung pergi mencari ayah Reka.Hanya butuh waktu lima menit bagi Martis untuk menemukan keberadaan Roki. Setelah bertemu dengan Roki, Martis juga tidak mau berbasa-basi dan langsung mengutarakan maksud dan tujuannya mencari Roki. Roki juga tidak menolak saat Martis mengajaknya untuk berlatih tanding."Kalau begitu ayo, kita berlatih tanding di tempat biasa aku dengan Reka berlatih saja, Paman." Martis mengajak Roki kembali ke aula di mana tempat ia biasa berlatih bersama Reka.Kali ini mereka sepakat, Reka lah yang akan menjadi wasit dalam pertarungan latih tanding antara Martis dan Roki hari ini."Apakah kalian berdua su
Tiba-tiba, Martis terpikirkan suatu hal di masa lalu. 'Oh, iya, Sistem, eh, tidak! Ririn..., apakah kau ingat dengan nama itu?' Tring! "Sistem tidak akan pernah lupa dengan apapun yang telah dilakukan oleh User setiap detik pun. Benar, aku adalah Ririn." Martis senang mendengar jawaban dari Ririn. "Apakah Martis masih memiliki pertanyaan dan keluh kesah lainnya? Ririn akan siap membantu mencari solusi terbaik untuk Martis. Karena itu adalah tugas dan kewajiban Ririn sebagai Sistem." Entah kenapa, Martis merasa terharu setelah membaca jawaban balasan dari Ririn. Sepertinya Martis merasa bahwa Ririn adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. Tanpa Sistem, Martis tidak akan bisa jadi sepertinya orang yang sampai saat ini terbilang kehidupannya sangat didambakan oleh banyak orang."Em..., Ririn, bisakah kau membuat visualisasi tubuh? Aku akan merasa lebih senang jika kau dapat melakukannya."Permintaan Martis ada-ada saja, ya? Dia sudah dapat berkomunikasi
Kemudian Martis berpikir sejenak. "Aku...? Aku bisa menggunakan gelar Raja Kegelapan karena telah mengalahkan Raja Kegelapan yang sebelumnya? Jadi..., itu artinya..., em...?" Martis termenung, ia sedang berpikir apa yang akan ia lakukan dengan gelar itu. Ia pun bergumam, 'Apakah berati aku setara dengan Raja Iblis? Tapi..., bukankah Raja Kegelapan jauh lebih tinggi dibanding Raja Iblis? Benar, tidak, sih? Ah..., aku jadi penasaran. Bagaimana jika aku masuk dalam dimensi dunia kegelapan? Apakah di sana aku akan dapat pencerahan? Sebab di masa lalu, aku ingat betul, bahwa aku pernah mengalahkan Lord dan blablabla...,' ungkap Martis dalam hatinya yang saat ini sedang berkecamuk. 'Tapi..., jika dipikir lebih jeli lagi, sebenarnya gelar-gelar itu tidaklah sesuai dengan keadaannya.' Martis memuntahkan secangkir teh hangat dan lanjut bertarung dengan pikirannya. 'Kalau begitu..., inilah arti dari pribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Kelurahan Raja Kegelapan, aku kira sangatlah kuat
Nampak ada lingkaran cahaya yang makin lama semakin membesar. Lingkaran cahaya itu sangat bulat, dan ada pancaran kehangatan bagi orang di sekitar yang dapat merasakannya. 'Kehangatan itu terasa sangat nyaman,' Bahkan, Martis sekalipun merasakan kenyamanan saat ia akan melakukan Teknik Legendaris ini. Kemudian, Martis yang tengah mengangkat kedua tangannya seperti menadah ke udara, ia lalu menggerakkan kedua tangannya. Lantas, lingkaran cahaya yang berbentuk bulat dan mengambang di atas kepala Martis tadi itu bergerak, dan gerakannya sesuai dengan apa yang Martis pikirkan. "Hiyat...!" teriak Martis, dengan tubuhnya yang saat ini langsung dibanjiri oleh keringat. "Denki Gama...!" Sekali lagi Martis berteriak dengan keras. Teriakan itu adalah kode, sebagaimana kuatnya usaha Martis dalam melakukan teknik sekuat ini. Lingkaran cahaya bulat yang berwarna kuning keputihan itu kemudian melesat ke arah Raja Kegelapan. "Jurus apa ini?! Selama ratusan tahun ku hidup di dunia ini
Pertarungan Martis melawan Raja Kegelapan masih berlanjut. Tapi kali ini, Martis nampak biasa saja. Karena sekarang sistem miliknya sudah pulih seperti semula. Jadi, semua terasa mudah bagi Martis. "Martis...! Kenapa kekuatanmu jauh berbeda dibanding saat terakhir kali kita bertemu?!" Raja Kegelapan akhirnya sadar, ternyata Martis jauh lebih kuat darinya. "Kenapa? Apakah sekarang kau mulai merasa takut? Hem?" Martis bertingkah santai. Ia sengaja menahan semua serangan dari Raja Kegelapan. "Jangan sembarangan, kau! Aku...? Takut padamu?! Mimpi...!" Raja Kegelapan kali ini benar-benar melupakan seluruh kekuatan dan kemampuan miliknya demi menghadapi Martis. Sudah ratusan tahun Raja Kegelapan hidup, namun baru hari ini ia menghadapi seorang manusia yang seperti Martis. Namun, walaupun ia tahu Martis adalah manusia yang kuat, rasa gengsi yang sangat besar dalam dirinya tak membuatnya takut. Ia berpikir ini mempertaruhkan harga dirinya. Apa kata orang nantinya, jika tahu Raja Kegelapan
Saat Emily dan Phynoglip berbicara, mereka tidak menyadari bahwa Martis sedang melakukan sesuatu yang sangat penting. Martis berjalan ke arah sebuah ruangan yang tersembunyi di balik sebuah pintu rahasia. Di dalam ruangan tersebut, Martis menemukan sebuah perangkat yang sangat canggih. Perangkat tersebut adalah sebuah alat yang dapat mendeteksi keberadaan Raja Kegelapan. Martis telah mencari alat tersebut selama bertahun-tahun, dan akhirnya ia menemukannya. Martis mengaktifkan alat tersebut dan menunggu beberapa saat hingga alat tersebut menunjukkan hasilnya. Saat hasilnya muncul, Martis terkejut. Raja Kegelapan ternyata berada di sebuah tempat yang sangat dekat dengan mereka. Martis tidak menyangka bahwa Raja Kegelapan akan berada di tempat yang begitu dekat. Martis segera mematikan alat tersebut dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Ia harus segera memberitahu Emily dan Phynoglip tentang hasilnya. Saat Martis kembali ke tempat Emily dan Phynoglip, ia melihat bahwa mer
Dalam benaknya, Martis terus berpikir. Dengan konsentrasinya yang sangat baik, Martis mencoba menelaah tentang kejadian hari ini. Dan pada saat ini, Mia sedang berjalan ke arah pintu yang tersembunyi di belakang tirai, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis juga mengikuti mereka, dengan rasa penasaran yang semakin besar. Saat mereka mencapai pintu tersebut, Mia berhenti dan menatap Martis dengan senyumannya yang lembut. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Dan tiba-tiba saja, ada kejadian aneh. Mia menghilang begitu saja di hadapan mereka. Phynoglip serta Emily terkejut dan menatap bayangan tersebut dengan rasa penasaran. "Apa yang terjadi?" tanya Phynoglip heran. "Aku tidak tahu," ucap Emily yang sama herannya. "Tapi aku rasa Mia yang kita lihat sebelumnya bukanlah Mia yang sebenarnya." Dan selang beberapa menit kemudian, Mia muncul kembali. Ternyata..., sosok yang mengaku sebagai Mia ini hanyalah bayang
Mia berjalan ke arah Martis, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu ingin lakukan, Mia?" tanya Martis dengan suara yang keras. Mia tetap tersenyum lembut, kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku ingin menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Martis menatap Mia dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang kamu maksud?!" tanya Martis dengan suara yang keras. Dengan senyum lembutnya, Mia kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita hanya memiliki puisi yang tidak berharga," ucap Mia dengan suara yang masih sama pelannya. Mia kemudian mengambil kertas yang memiliki puisi yang tertulis di dalamnya dari Emily, kemudian memberikannya kepada Martis. Martis menatap kertas tersebut dengan rasa penasaran, kemudian berbicara dengan suara yang keras. "Apa yang
Mia memimpin mereka ke arah mesin tersebut, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Saat mereka mendekati mesin tersebut, mereka melihat bahwa mesin tersebut memiliki sebuah layar yang besar dan beberapa tombol yang berkilauan. Mia menekan salah satu tombol tersebut, dan layar mesin tersebut langsung menyala. Phynoglip dan Emily terkejut melihat bahwa layar tersebut menampilkan sebuah gambar yang aneh, seperti sebuah peta yang kompleks. "Apa ini?" tanya Phynoglip dengan suara yang penasaran. Mia menjawab, "Ini adalah peta sistem yang kita gunakan untuk mengontrol dunia ini," ucap Mia dengan suara yang pelan. "Dengan peta ini, kita dapat melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dan bagaimana kita dapat mengubahnya." Emily kemudian menatap peta tersebut dengan rasa penasaran. "Bagaimana kita dapat mengubahnya?" tanya Emily dengan suara yang pelan. Mia memandang Emily dengan mata yang berbinar. "Kita dapat mengubahnya dengan menggunakan kode yang tepat," ucap Mia
Phynoglip mengangguk, kemudian menatap sekeliling tempat mereka berada. "Tempat ini aneh," ucap Phynoglip dengan suara yang pelan. "Aku merasa seperti berada di dalam komputer atau sesuatu." "Aku juga merasa seperti itu. Sepertinya kita berada di dalam sistem atau dimensi lain." jawab Emily dengan nada yang sama dengan Phynoglip. Keduanya terdiam sejenak, kemudian Phynoglip bertanya lagi. "Kamu pikir apa yang disembunyikan oleh Martis?" Emily memandang Phynoglip dengan serius. "Aku pikir Tuan Martis menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting." Phynoglip mengangguk, kemudian keduanya terdiam lagi. Akan tetapi, kali ini tiba-tiba, Phynoglip berbicara dengan nada yang berbeda. "Emily, aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Sepertinya kita tidak sendirian." Emily menatap Phynoglip dengan heran, kemudian menoleh ke sekeliling. Tiba-tiba, dia melihat bayangan yang bergerak di kejauhan. "Apa itu?" bisik Emily dengan suara yang pelan. Kemudian Phynoglip berjalan menuju bayangan te