“Sayang, besok Joanna sudah berusia 21 tahun. Dia juga sudah lulus kuliah. Berarti sudah saatnya kan?” tanya Ratih pada suaminya, Sanjaya.
“Kamu benar Ratih. Aku akan atur pertemuan dengan Chandra besok.”
Ratih hanya tersenyum puas. Akhirnya, ia tak akan melihat wajah Joanna lagi. Jika Joanna bisa pergi sekarang juga, Ratih akan rela membantu Joanna untuk mengemasi barang-barangnya. Bahkan apabila Joanna hanya memerintah tanpa membantu, Ratih akan dengan senang hati menjadi pembantu gadis itu sehari.
“Besok sore, Chandra akan kemari, pemberkatan penikahan Chandra dan Anna akan dilaksanakan lusa. Untuk dokumen-dokumen lain juga akan diurus oleh pihak mereka. Akan tetapi, agak disayangkan kita harus kehilangan Anna.”
“Apa yang perlu kau sayangkan? Perjanjian ini sudah kita sepakati saat Anna berusia tujuh tahun. Jika tidak dipenuhi, kita akan ditendang ke jalanan sekarang juga oleh Chandra.”
“Aku tahu itu Ratih, Chandra mau mendukung kita besar-besaran dengan Anna sebagai imbalannya. Tapi, kamu tidak lupa kan kalau Anna anak yang pandai? Beberapa bisnis besar kita, Anna yang mengurusnya hingga menghasilkan keuntungan yang besar pula. Tommy saja masih kalah jauh dengan Anna.”
Sanjaya menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Anna adalah maskot keberuntungan bagi Sanjaya. Saat dia kesulitan, Chandra mau menopang bisnisnya dengan jumlah modal fantastis karena Anna. Tak hanya itu, Anna selalu membuatnya berdiri dengan bangga dimana pun ia berada. Di sekolah cerdas, pandai berbisnis dari usia yang bahkan belum menyentuh 18 tahun, serta penurut. Sungguh tidak bisa dibandingkan dengan dua anak kandungnya sendiri.
Namun, dia tetap harus merelakan Joanna. Jika tidak, Chandra akan menarik seluruh investasinya dan menyebabkan guncangan dahsyat untuk perekonomian keluarga Sanjaya.
“Ada Tommy dan Valencia, anak-anak kita yang akan meneruskan semua ini. Anak-anak kita pasti akan lebih hebat dari Anna. Sudahlah, Anna juga bukan anak kita, sudah saatnya dia membayar hutang budi pada kita yang sudah memberi dia tempat tinggal dan makanan,” kata Ratih kesal.
Suaminya itu selalu membela Anna, sehingga Tommy dan Valencia menganggap Sanjaya pilih kasih. Sikap Sanjaya yang selalu membanding-bandingkan itu membuat Ratih makin membenci Anna. Apabila Sanjaya sedang tak berada di rumah, Ratih dan kedua anaknya akan membuat Anna kesulitan.
‘Brrruuukkk…’
Terdengar suara dari luar ruang kerja Sanjaya. Sepasang suami istri itu segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.
“Hiikksss… Pa..Ma.. Aku nggak mau menikah sama om Chandra, aku masih terlalu muda untuk menikah,” isak Anna yang terduduk di depan pintu. Joanna telah mendengar seluruh percakapan Ratih dan Sanjaya.
Ratih hanya diam, sama sekali tak berniat membantu Anna untuk berdiri.
“Ayo nak, bangun dulu, kita bicarakan ini di dalam,” kata Sanjaya seraya membantu Anna untuk berdiri.
Sanjaya mengambil sekotak tisu untuk Anna. Air mata dan ingus membanjiri wajah cantik Anna yang sudah dirawat Ratih dengan susah payah.
“Anna..hikkss..Anna.. tidak mau pa. Anna benar-benar tak ingin menikah dengan om Chandra. Dia sudah sangat tua, Anna tidak mau,” pinta Anna pada Sanjaya.
Joanna tidak asing dengan Chandra. Chandra adalah rekan bisnis Sanjaya. Meskipun sudah tua, Chandra termasuk tampan serta lembut dalam bertutur kata. Dulu, Chandra sering datang ke rumah mereka untuk berbicang dengan Sanjaya. Setelah menyapa sebentar, Anna akan diminta untuk menemani Alexander (anak Chandra) bermain. Anna tak menyangka sama sekali bahwa Chandra menargetkannya untuk menjadi ibu tiri Alex.
Menikah berarti harus menjalankan kewajiban sebagai istri, termasuk berhubungan badan. Membayangkan tubuhnya akan dipegang oleh om-om tua dan tidak ia cintai, Anna benar-benar tidak sudi.
“Tidak bisa Anna, kamu harus menikah dengan Chandra, itu adalah perjanjian yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Jika tidak dipenuhi, kita semua akan menjadi gelandangan,” kata Ratih tegas.
“Anna tidak keberatan jika harus melepas semua kekayaan ini, kita masih bisa cari uang lagi. Anna benar-benar tidak ingin menikah dengan om Chandra ma, tolong…”
‘Plaaaakkkk’
Tamparan Ratih mendarat di pipi Anna, kencang sekali.
“Kau ingin menjadikan kami gelandangan? Kurang ajar sekali kamu, dasar anak tidak tahu diuntung. Sudah diberi tempat tinggal, makanan dan pendidikan. Tidak tahu terima kasih!” bentak Ratih.
Joanna tak berani berkomentar lagi, ia memelas ke Sanjaya, berharap Sanjaya akan membelanya. Joanna tahu bahwa di rumah ini, hanya Sanjaya yang menyayanginya. Ratih dan kedua kakaknya amat membencinya.
“Papa kecewa sama kamu Anna, tega sekali kamu berbicara seperti itu. Papa, mama dan kedua kakakmu tidak ingin jatuh miskin. Kamu harus menikah dengan Chandra sebagai balas budi terhadap kami. Seperti yang sudah kamu dengar tadi, kamu bukan anak kandung kami. Lebih tepatnya, kamu keponakanku, anak yang ditinggalkan kakak di depan pintu rumah sebelum dia meninggal.”
“Tapi..tapi.. aku juga berguna pa, aku bisa menghasilkan uang. Perusahaan-perusahaan yang aku urus sukses pa, papa benar-benar akan merelakanku?”
Air mata Anna kembali jatuh. Sekarang ia mengerti kenapa Ratih dan kedua kakak sangat membencinya, ia adalah eksistensi yang tidak seharusnya ada dalam keluarga ini. Sesayang apapun Sanjaya padanya, hanyalah sebatas alat transaksi dan pekerja yang berguna.
“Keuntungan yang kamu hasilkan masih sangat jauh dibandingkan dengan penawaran Chandra. Jika kalian menikah, Chandra berjanji akan selalu membantu keluarga kita selama dua puluh tahun ke depan dan memberikan satu tambang emas miliknya. Kau tidak lupa kan bahwa Chandra ini sangat kaya?”
Anna tak bisa berbicara apa-apa lagi, Chandra sangat mengingingkan dirinya sehingga memberikan penawaran yang sangat luar biasa. Tak hanya bantuan di masa lalu, masa depan keluarga ini juga amat terjamin dengan mengorbankan Anna seorang.
“Sekarang kamu masuk kamar, lusa kamu akan dijemput dan menikah. Persiapkan diri kamu, papa tidak mau melihat wajah bengkakmu di hari yang bahagia.”
Joanna yang sudah masuk kamar terus menangis meratapi nasibnya. Namun, ia tak ingin menyerah. Anna memiliki uang yang cukup di rekening pribadinya dan juga cukup pintar serta telah menjadi sarjana pula. Keluar dari sini, hidupnya masih aman 2-3 tahun ke depan tanpa bekerja.
Anna segera bangun dari tempat tidurnya, mengemasi beberapa helai pakaian dan dokumen penting seperti KTP, SIM, buku tabungan dan paspor. ATM pribadi dan ponsel tentu saja tak boleh tertinggal. Bawaannya harus sedikit agar ia dapat berlari dengan mudah. Selesai berkemas, Anna bergegas keluar.
“Sial!” umpat Anna.
Ternyata, pintu kamarnya terkunci. Sepertinya Ratih dan Sanjaya sudah memperkirakan hal ini. Satu-satunya jalan untuk kabur adalah balkon kamar. Tapi, ini lantai dua. Anna kembali memaksa otaknya untuk bekerja. Akhirnya, ia mengikat semua selimut dan bed cover yang ada di kamarnya.
“Semoga sampai ke bawah…Semoga sampai ke bawah…Semoga sampai ke bawah…”
Anna terus berdoa dan berucap agar yang dikerjakannya ini tidak sia-sia.
“Yeeeessss, sampai…”
Tuhan mendengar doanya. Selimut dan bed cover ini pas menyentuh tanah. Dengan cepat Anna menuruni balkon kamarnya.
“Huuwwaaaa, nyaris jatuh. Untung saja aku bisa sampai ke bawah sebelum ikatan ini putus. Syukurlah.”
Jantung Anna belum bisa beristirahat. Belum selesai rasa tegangnya akibat hampir terjatuh tadi, ia baru sadar bahwa ini masih dini hari. Rumah dan halaman depannya masih gelap. Tetapi, ia tetap menguatkan hati, ini masih lebih baik daripada harus menikah dan menyerahkan tubuhnya pada Chandra.
Anna yang memilih sepatu paling kuat dan ringan itu sebisa mungkin berlari tanpa mengeluarkan suara.
“Aannnnaaaaaa!!! Mau kemana kamu?” teriak Ratih dari teras.
Anna ketahuan Ratih. Ratih memanggil semua penjaga di rumahnya untuk menangkap Anna. Ia sendiri juga ikut mengejar Anna dengan kaki telanjang. Tak peduli jika kakinya harus kotor atau terluka, sumber hartanya itu tak boleh lepas!Anna berlari sekuat yang dia bisa untuk keluar. Dia sudah bersiap untuk memanjat jika sudah tiba di gerbang. Namun, sayang sekali Anna tertangkap saat bersiap untuk memanjat.“Kamu akan tetap disini sampai hari pernikahan kamu tiba,” kata Ratih sambil mendorong Anna.Anna ditempatkan di gudang bawah tanah tanpa jendela bersama tumpukan barang-barang tak terpakai. Tempat ini memang selalu bersih karena sengaja diisi barang-barang bekas yang masih bisa dijual dengan harga tinggi. Jika Anna bukan sumber investasinya, Ratih tidak akan menempatkan Anna di gudang yang memang rutin dibersihkan ini. Apabila ingin ke toilet, penjaga di depan gudang akan mengantar Anna. Untuk makanan, penjaga juga akan membuka pintu sebentar untuk meletakkan makanan dan mengambil piri
Alexander yang mengenakan baju tidur dan telanjang dada itu, baru saja selesai mandi. Pria itu sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju tempat tidur. Alex terlihat sangat tenang, tak terlihat rasa bersalah dari wajahnya karena sudah memasuki kamar pengantin sang ayah dan istri baru.“Mau ketemu istri, Na. Apa aku tidak boleh bertemu istriku?”“Istri? Siapa istrimu?” tanya Anna heran. Sekarang, Anna benar-benar berada di sudut tempat tidur dengan terbungkus selimut.“Kamu istriku, Na. Bukan istri ayah,” jawab Alex tenang. Pria itu sudah duduk di tempat tidur, agak jauh dari Anna. Ia tahu Anna pasti takut padanya.“Aku akan jelaskan sekarang. Tapi kau benar-benar harus janji untuk tidak berteriak.”Anna masih diam, dia hanya mengangguk.“Pertama, kamu harus percaya bahwa sihir itu ada.”“Apa maksudmu Lex?”Alex pun langsung mengusap wajahnya dari kanan ke kiri menggunakan tangan kanan. Anna terkejut dengan apa yang ada didepannya sekarang. Itu Chandra! Alex ber
Tok..tok..tok..Anna yang baru tidur pukul 05:00 pagi itu dibangunkan oleh suara ketukan pintu.“Hmmm… siapa?” tanya Anna dengan suara yang masih serak.“Ini saya nyonya, saya datang membawakan nyonya baju. Terus tuan juga mengajak nyonya sarapan bersama,” ujar asisten rumah tangga yang Anna belum tahu namanya.“Ya sudah, masuk saja bi.”Wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam kamar Anna dan membantunya berdiri. Anna dibawa ke kamar mandi dan dibiarkan untuk bersiap-siap sendiri. Menunggu Anna selesai mandi, wanita yang tak muda lagi itu merapikan tempat tidur dan menyiapkan keperluan Anna seperti sisir, jepit rambut, aksesoris, skincare dan alat make-up.“Ohh iya bi, saya belum tahu nama bibi kemarin,” kata Anna yang baru saja selesai mandi. Pakaian gadis itu sudah berganti dan dengan santai mengeringkan rambut menggunakan handuk.“Saya Sri, nyonya. Panggil saja mbak Sri, biasanya tuan panggil saya begitu.”Anna hanya tersenyum.“Iya mbak Sri, terima kasih ya sudah siapkan keperluan
Pagi ini, Anna, Alex dan Robert sudah bersiap untuk berangkat menuju kerajaan naga laut. Seperti yang sudah Alex sampaikan, begitu tiba, mereka akan langsung merias diri dan bersumpah setia di hadapan Dewi Exi. Berdasarkan penjelasan Alex, Dewi Exi adalah Dewi yang memberkati dan menjaga bangsa naga laut.Begitu sampai, Anna takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Persis seperti istana fantasi yang tergambar dalam cerita fiksi. Rumah luas dengan interior klasik, banyak ruang serta banyak pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Kastil ini masih di darat, pinggir pantai lebih tepatnya. Sebelumnya, Anna berpikir bahwa kerajaan naga laut ini akan berada jauh di dalam laut. Anna yang heran pusing iseng bertanya pada Alex."Karena tempat tinggalmu di darat, apa itu berarti kau tak bisa bernafas dalam air?" bisik Anna."Pertanyaan macam apa itu, tentu aku bisa."“Selamat datang Yang Mulia…” ucap para dayang dan pelayan serempak, membuat Anna tak lagi melanjutkan pecakapannya deng
Anna merasa haus. Akan tetapi, badannya juga tidak mengizinkan Anna beranjak dari tempat tidur. Kasur ini seolah memiliki magnet, Anna benar-benar di posisi yang sangat nyaman dengan bantal guling dalam pelukannya. Meski fisiknya nyaman dan tenang, suasana hati Anna seperti petasan yang meledak-ledak. Ia terus terngiang-ngiang sentuhan bibir Alex yang lembut. Anna benar-benar ingin berteriak sekarang juga, ia senang sekaligus gugup, bagaimana ia harus bersikap di depan Alex.Usai pemberkatan pernikahan dan penobatan, mereka mengadakan perjamuan untuk para rakyat dan baru saja selesai sekitar setengah jam lalu. Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul 23:00. Sepanjang perjamuan, mereka berdua tak memiliki kesempatan untuk berbincang. Para pekerja istana dan rakyat selalu mengajak mereka untuk berinteraksi nyaris tanpa henti. Meski lelah, Anna bahagia pernikahannya mendapat berkat dari banyak orang. Ia tak berhenti untuk tersenyum.“Lex, boleh minta tolong ambilkan air putih?” tanya Anna
Alex diam, ia tak menanggapi kalimat Anna. Alex menduga istrinya sedang manja dan ingin mendengar kalimat-kalimat gombal. Jika kondisi Anna diterjemahkan ke dalam bahasa anak-anak kekinian Jakarta, tipe bahasa cinta atau yang lebih dikenal sebagai ‘love languange’ Anna adalah ‘Words of Affirmation’. Alex merasa bahwa ia tak perlu lagi mengulanginya. Sebelum menikah, ia sudah mengutarakan bahwa tak ingin Anna berada dalam bahaya sehingga bersedia ditolak. Alexander tetap berpendirian bahwa 'bertindak' adalah bukti cinta yang sempurna, ia tak suka jika harus banyak bicara, terutama mengulang kalimat yang sudah pernah ia katakan.Alex pun hanya membenamkan kepalanya di pundak Anna dalam keadaan masih menindih istrinya. Tak hanya itu, Alex juga meletakkan tangan Anna dikepalanya untuk diusap-usap. Melihat tingkah manja suaminya, pipi Anna seketika membentuk gelembung tanda merajuk.“Karena kau tak menjawab pertanyaanku, aku tak mengizinkanmu untuk mencium dan melakukan hubungan suami-istr
“Iii…ini… benar bayi Yang Mulia,” ucap seorang wanita paruh baya ketakutan berhadapan dengan Alex. Mendengar kabar mengejutkan tadi, Alex dan Anna langsung menuju tempat wanita yang Diego maksud berada. Di sinilah mereka, ruang kerja Alex. Ruangan luas serba coklat dengan satu meja, kursi dan dua sofa. Anna langsung menatap Alex sinis seolah meminta penjelasan apa maksud dari semua ini. Alex pun memegang tangan Anna, malangnya, langsung mendapat penolakan dari wanita itu. “Kau sudah siap menerima hukumanmu kan wanita tua?” tanya Alex tenang. “Aaa… Apa maksud Yang Mulia? Anak perempuan ini benar adalah darah daging Yang Mulia,” jawab wanita itu dengan tangan gemetar. Keringat dingin bahkan membanjiri wajah dan lehernya. Bayi yang tidur tentram di pelukan wanita itu pun ikut terguncang. “Dia bukan anakku. Aku tak pernah berhubungan dengan wanita selain istriku. Jelas sekali kau berbohong. Sekarang ceritakan padaku yang sebenarnya. Siapa bayi ini dan mengapa kau menyebutnya sebagai
Di tempat tidur, Anna terlihat sedang tidur pulas. Alex hanya ingin memandang istrinya dan berniat tidur di ruangan lain hari ini. Alex khawatir Anna masih belum siap bertemu dengannya.“Mengapa kau hanya diam di sana seperti orang bodoh?” tanya Anna.Anna yang semula berbaring dengan posisi miring, beranjak untuk duduk. Di tengah cahaya malam yang masuk ke kamar melalui jendela besar kamar mereka, Anna duduk di tempat tidur dengan selimut menutupi kakinya. Wajahnya pun terlihat lelah.“Kau berantakan sekali, mandilah dulu. Setelah itu, baru kita bicara,” kata Anna memandang suaminya yang masih berdiri di depan pintu.“Aku mandi dulu,” jawab Alex pelan dan melangkah keluar kamar.Begitu suara langkah kaki Alex menjauh, rasa tegang Anna baru menghilang. Anna masih sangat takut dengan kejadian tadi siang.Anna sudah sering melihat para pria dan wanita muda berhalusinasi akibat pengaruh narkoba hingga overdosis. Tak berhenti di sana, Anna juga sering berinteraksi dengan rentenir, preman,
Para hiu langsung menghilang dan Anna langsung terbangun."Uwwaaahhhhhhh...""Haaaahhh....""Haaaahhhhh...'"Haaahhhhhhhh..."Nafas Anna terengah-engah dan kondisi Anna masih buruk seperti biasanya."Mimpi apa aku tadi.." gumam Anna berusaha mencerna situasi.Anna mengatur nafas dan berusaha mengingat apa yang terjadi di dalam mimpinya itu. Ia bisa mengingat sedikit mimpinya itu, hanya saja kepalanya terasa sangat sakit setiap kali coba untuk mengingat."Aku benar-benar bisa ambruk jika terus seperti ini," gumam Anna lagi.Anna merasa ada yang aneh itu meraba dahinya."Handuk basah? Pantas saja dahiku berat. Kurasa tubuhku sedikit lebih baik dari sebelum tidur.""Meski masih tetap saja sakit, cih..."Anna melirik sebelah tempat tidurnya yang kosong. Ia meraba bantal dan ranjang sedikit lama.Dingin.Bibir Anna mengerucut, "Apa dia tidak tidur di sini?"Anna yang merasa kecewa lan
"Anda benar, Grand Duke. Saya akan memulai pengobatan tahap pertama dengan menenggelamkan Yang Mulia Ratu selama tiga jam. Di malam hari, kita akan memberi beliau handuk air seperti ini. Hanya saja, saya masih tak yakin dengan kutukan mimpi buruk ini. Setidaknya, saya harus membuat pikiran Yang Mulia Ratu tenang dulu dengan membuat beliau bisa dengan sadar membedakan mimpi dan kenyataan," jelas Nancy panjang lebar.Nancy Graham sangat khawatir dengan kutukan mimpi buruk Anna. Belum ada catatan yang menunjukkan cara sembuh dari kutukan ini sebelumnya.Meskipun air bisa menjadi obat, sampai kapan Anna harus tenggelam dalam air?Satu tahun? Tiga tahun? Apakah benar-benar bisa diobati? Ataukah Yang Mulia Ratu kalah dan mengambil nyawanya sendiri lebih dulu sebelum bisa sembuh?Banyak kemungkinan yang muncul dalam kepala Nancy."Meski mendapat hasil yang jauh lebih lambat, semua penyakit yang ada bangsa kita bisa disembuhkan dengan air. Mengapa aku bisa
"Selamat datang, kepala akademi," ucap Alexander menyambut Nancy.Sementara Nancy, Raymond dan Aslan langsung bungkuk untuk memberi hormat pada Alexander dan Noah."Hormat pada Yang Mulia Raja dan Grand Duke Hillary," ucap Nancy menundukkan kepalanya.Wanita itu sudah tidak bisa membungkuk seperti yang lain dikarenakan kondisi tubuhnya yang sudah tidak memungkinkan."Terima kasih sudah datang dan silahkan duduk," ucap Noah."Saya permisi Yang Mulia, Grand Duke," ucap Aslan pamit keluar.Alex hanya mengangguk dan mempersilahkan Nancy untuk duduk. Raymond sendiri langsung mengambil posisi berdiri di belakang Nancy.Nancy Graham memperhatikan dua pria yang sedang duduk di hadapannya ini."Meski jangka hidup bangsa kita cukup panjang, ternyata waktu cukup cepat berlalu," ucap Nancy.Bagi Nancy, Noah dan Alexander hanyalah dua pria muda nakal yang hobi membuat onar. Dua pembuat onar itu sudah menjadi resmi mengambil peran pen
"Sekarang sudah waktunya kau kembali ke dunia," ujar Cynthia."Tidakkk! Kau masih belum memberitahuku!"Raut wajah Cynthia menunjukkan kekecewaan. Bola mata wanita itu seolah menjelaskan betapa sakit yang ia rasakan."Jangan membunuh lagi dan hiduplah menjadi raja yang bijaksana. Lalu, jangan pernah berpikiran untuk merebut ratu naga. Kuperingatkan kau, naga yang kehilangan pasangannya itu akan menjadi sangat mengerikan!" teriak wanita itu."Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana Alexander von Pieterburg menjadi lebih buruk dari seorang psikopat," ujar Cynthia lirih.Konon katanya, kau bisa melihat segalanya saat kau sudah tidak lagi hidup di dunia. Cynthia percaya itu. Dia bahkan bisa melihat betapa gelapnya hati Alexander saat melihat sang istri terluka.Kegelapan bisa menelan Alexander kapan saja. Cynthia enggan membayangkan apa yang akan terjadi jika adik bodohnya itu mencari gara-gara lagi.Cynthia pun menyihir Steven untuk kembali ke dunianya."Tidakkk! Tidaaakkk! Tungguuuuu
"Kau nyaris mati, bodoh!" umpat Cynthia.Cynthia menatap adiknya seolah meminta penjelasan."Untuk apa kau menatapku seperti itu? Kau harus menjawab pertanyaanku, bukan meminta penjelasan padaku," ujar Steven kesal."Cih..."Cynthia menggelengkan kepalanya. Apakah adik bodohnya ini tidak pernah merasa bersalah? Atau otaknya sudah menyusut karena perlahan dikonsumsi sihir hitam?"Coba kau ingat lagi apa yang sedang kau lakukan sebelum tidak sadarkan diri?""Menyerang dunia manusia," jawab Steven kesal.Kapan pertanyaan Steven akan terjawab?"Berarti kau juga ingat bahwa kau terluka dan muntah darah akibat terlalu banyak membantai manusia?" tanya Cynthia lagi.Wajah yang semula tertekuk kesal itu berubah menjadi sendu. Sejujurnya Steven sendiri merasa sakit dan tersiksa saat itu."Di saat itu, kau nyaris kehilangan nyawamu. Sehebat apapun para dokter kerajaan kita, mereka tidak akan bisa melawan aturan yang sudah di
"Aku benar-benar tidak habis pikir bisa memiliki adik yang sangat tolol seperti mu.""Arrrgggghhhhh, stop Tiaaaa!!" teriak Steven dalam hati.Steven benar-benar sangat kesal. Ditambah, dia sendiri tidak bisa membalas kakaknya.Setelah puas berteriak, Cynthia menarik Steven kembali ke ruangan serba putih.Kondisi ruangan ini sangat mengerikan, benar-benar berantakan seperti lokasi konstruksi.Cynthia kemudian memandang adiknya itu dengan tatapan jijik."Mengapa kau melihatku seperti itu?" tanya Steven dalam hatinya. Steven yang kesal itu tercermin dari matanya yang kini sedang melotot."Cih... Kau benar-benar tak berhak untuk kesal padaku. Bola matamu nyaris keluar," gerutu Cynthia.Lalu, jari tangan kanan Cynthia membentuk angka satu. Cahaya putih keluar dari jari telunjuknya. Perlahan, lokasi konstruksi itu berubah menjadi bangunan utuh.Kini, jari Cynthia tertuju pada Steven. Cynthia benar-benar menyihir adiknya.
"Hikksss.... hikkksss... hiikkkssss..."Terlihat seorang gadis berambut panjang sedang meringkuk dan menangis. Rambut yang lurus dan halus itu tergerai dengan indah hingga menutupi wajah sang pemilik."Tempat apa ini? Aku di mana?" batin Steven.Saat membuka mata, Steven hanya melihat gadis ini menangis tersedu-sedu di sebelahnya. Steven juga tidak bisa menebak di mana ia berada saat ini. Ruangan ini hanya dipenuhi cahaya dan berhiaskan putih.Lantai tempat ia dibaringkan, dinding yang bisa dijangkau mata, putih.Langit-langit dan entah apa lagi yang ada di sana, tak bisa Steven deskripsikan. Pria itu hanya bisa melihat cahaya."Apa aku sudah tiada? Aku benar-benar mati semudah ini?" batin Steven.Steven pun menoleh pada gadis cengeng ini."Aaa.... Aaa...."Suara Steven tertahan. Ia tak bisa mengeluarkan satu patah kata pun. Steven pun berusaha meraih gadis di sebelahnya untuk meminta bantuan.Nihil!Steven juga tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya."Kenapa ini? Apa yang terjadi p
Alex tahu bahwa ini adalah pertanyaan yang sangat bodoh. Tapi dia sendiri pun frustasi. Pria itu tidak tahu harus bagaimana menghadapi istrinya.Raymond belum kembali. Anna juga tak kunjung membaik."Tidak," jawab Anna pelan.Alex memegang tangan Anna dan mengarahkan tangan sang istri untuk menyentuh pipinya.Air mata perlahan keluar dari ujung mata pria itu.Anna sendiri pun turut menangis. Rasanya sakit sekali melihat Alex meneteskan air mata."Sayang, apa kau benar baik-baik saja?" tanya Alex perlahan.Kepala Anna seketika pusing. Ingatan saat dicambuk Steven langsung kembali merasuki dirinya dengan cepat."Pusing sekali," batin Anna.Wanita itu langsung merinding, bahkan seluruh indra yang ada di tubuhnya masih mengingat dengan jelas penderitaan yang disebabkan Steven von McWheel."Sakit..." gumam Anna."Sakit...""Sakit...""Sakit...""Sakit..."Anna terus bergumam sak
Pagi ini Anna kembali terbangun dengan perasaan gelisah.Mimpi buruk masih terus hinggap di tidurnya."Haaaahh.... Haaahhh... Haaaaa...."Jantung Anna berdebar-debar dan keringat dingin sudah membasahi tubuhnya."Tenang Anna... Tenang... Ini baru kenyataan ini baru kenyataan, tadi hanya mimpi tadi hanya mimpi," batin Anna.Wanita itu langsung meraih gelas berisi air yang ada di meja dan meneguknya dengan cepat. Anna yang merasa sudah sedikit tenang menatap langit-langit."Syukurlah aku di kamar," gumam Anna.Anna yang sudah sedikit tenang itu merasa tubuhnya tidak nyaman karena basah dan lengket."Sepertinya aku harus berganti pakaian," gumam wanita itu.Namun, Anna merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Ia menoleh ke samping dan nyaris berteriak."Aa..."Ada Alex yang sedang tertidur pulas di sebelahnya.Seketika Anna teringat percakapannya dengan sang ayah bahwa pria ini adalah sua