Pagi ini, Anna, Alex dan Robert sudah bersiap untuk berangkat menuju kerajaan naga laut. Seperti yang sudah Alex sampaikan, begitu tiba, mereka akan langsung merias diri dan bersumpah setia di hadapan Dewi Exi. Berdasarkan penjelasan Alex, Dewi Exi adalah Dewi yang memberkati dan menjaga bangsa naga laut.
Begitu sampai, Anna takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Persis seperti istana fantasi yang tergambar dalam cerita fiksi. Rumah luas dengan interior klasik, banyak ruang serta banyak pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Kastil ini masih di darat, pinggir pantai lebih tepatnya. Sebelumnya, Anna berpikir bahwa kerajaan naga laut ini akan berada jauh di dalam laut. Anna yang heran pusing iseng bertanya pada Alex.
"Karena tempat tinggalmu di darat, apa itu berarti kau tak bisa bernafas dalam air?" bisik Anna.
"Pertanyaan macam apa itu, tentu aku bisa."
“Selamat datang Yang Mulia…” ucap para dayang dan pelayan serempak, membuat Anna tak lagi melanjutkan pecakapannya dengan Alex.
“Tolong bawa calon istriku untuk bersiap-siap,” perintah Alex.
“Segera kami laksanakan Yang Mulia…”
Setelah menjawab titah Alex, para pelayan langsung berpencar entah kemana.
“Perkenalkan, saya Julie nona, saya ditugaskan Yang Mulia Alex untuk menjadi dayang pribadi nona,” ujar seorang dayang membungkuk dengan hormat pada Anna.
“Senang bertemu denganmu, Julie,” jawab Anna sambil tersenyum.
Mendapatkan senyum dari orang yang akan ia layani, tentu saja membuat Julie tambah bersemangat.
“Mari ikuti saya nona, kita harus segera bersiap-siap.”
Anna sekali lagi kembali menebar senyum dan mengikuti langkah kaki Julie.
Sesampainya di suatu kamar, para dayang sudah berada di posisinya masing-masing. Depan meja rias, sebelah baju pengantin serta depan kamar mandi. Julie membantu Anna melepas pakaian dan membawa Anna untuk masuk dalam bak besar. Julie dan beberapa dayang lain memandikan Anna. Produk seperti sampo dan sabun yang digunakan sangat wangi, aroma stroberi, sesuai kesukaan Anna. Anna juga mendapatkan pelayanan lulur dan pijat.
Selesai tahap mandi, Anna mengenakan gaun pengantinnya. Gaun putih polos, ringan dan pas badan. Anna sangat menyukai gaun ini, ia belum ingin duduk untuk berias. Anna masih girang sekali mengenakan gaun pengantinnya.
“Nona puas dengan gaunnya?” tanya Julie.
“Yaaa, tentu saja. Aku sangaaattt menyukai ini.”
Anna masih belum berhenti mengagumi gaun yang sedang ia pakai. Ia berkaca dan masih berputar-putar seperti anak kecil.
“Syukurlah, berarti Yang Mulia berhasil,” celetuk Amrita, salah satu dayang yang membantu Anna memakai gaun pengantinnya.
“Yang Mulia? Maksudmu Alex?”
Amrita mengangguk cepat.
“Betul nona. Saat persiapan pernikahan, Yang Mulia Alex benar-benar memperhatikan semuanya dari awal sampai akhir dimulai dari gaun pengantin, baju nona sehari-hari, serta keperluan perawatan diri nona. Semua dipilih sendiri oleh Yang Mulia,” jelas Julie dengan mata berbinar-binar.
“Benarkah?” tanya Anna memastikan.
Anna masih tak percaya Alex melakukan itu. Benarkah Alex yang membalas w******p nya paling cepat dalam tiga hari itu melakukannya?
“Tentu saja nona, Yang Mulia sudah lama sekali menunggu saat ini tiba. Yang Mulia berwajah datar itu, yang kami ketahui hanya akan tersenyum lebar karena dua hal. Pertama adalah ketika persiapan pernikahan dan kedua adalah saat akan pergi bertemu nona. Saat akan ke rumah nona, Yang Mulia akan berkali-kali bertanya pada kami apakah ia terlihat tampan dengan pakaian yang sedang ia kenakan,” jawab Julie dengan semangat menceritakan perilaku Alex di masa lalu.
Anna masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia senang sekali mendengar cerita para dayang. Anna pun tak sabar ingin bertemu Alex dan akhirnya duduk dengan tenang untuk dirias. Gadis itu tak sabar menanyakan kebenaran.
“Waaahhhh, nona sangat cantik,” puji Amrita. Tak hanya Amrita, para dayang lain silih berganti memuji Anna.
“Sudah…sudah… Ayo kita segera pergi ke tempat pemberkatan,” kata Anna pada para dayangnya dengan wajah merah padam. Ia malu mendapat pujian bertubi-tubi.
Tempat pemberkatan pernikahan Anna dan Alex adalah sebuah goa kecil di tepi laut. Disana, sudah hadir Robert dan warga kerajaan. Anna gugup sekali. Para rakyat menyambutnya dengan sukacita dan mengucapkan selamat sepanjang perjalanan menuju goa.
Anna sudah berpikir bahwa goa yang ia tuju akan minim penerangan. Sebaliknya, goa tempat dia akan mengikat janji dengan Alex sangat terang, Anna sendiri tak mengerti dari mana sumber cahaya goa itu. Ia dapat melihat Alex dengan pakaian panglima perang berwarna putih, khas pemeran utama dalam komik kerajaan modern.
Di sepanjang jalan mendampingi Anna menuju goa, Julie menjelaskan bahwa pakaian pernikahan raja naga adalah pakaian yang diwariskan secara turun menurun. Akan tetapi, Anna tidak melihat tanda lusuh di baju itu. Baju putih itu benar-benar seperti baru dan pas sekali dengan tubuh Alex, pria itu sangat gagah.
'Bertahanlah jantungku, jangan sampai suara debaranmu terdengar jelas' – batin Anna.
Tata cara pemberkatan mirip dengan pemberkatan pernikahan di Gereja. Disini, Anna dan Alex diberkati oleh seseorang yang dianggap titisan Dewa di depan patung seorang wanita. Patung ini dipercaya sebagai wujud manusia dari Dewi Exi.
Seseorang yang diberkati Dewa bisa pria atau wanita. Selama orang ini hidup, belum akan muncul penerusnya. Dibuktikan dengan cawan suci yang tersimpan di kuil. Apabila cawan suci menyala ketika disentuh, orang inilah yang merupakan titisan Dewa.
Pemberkatan pernikahan ini juga selalu bersamaan dengan penobatan ratu. Berdasarkan penjelasan Julie, apabila raja menikah saat menjadi pangeran, maka penobatan raja dan ratu akan dilakukan bersamaan di hari yang sudah ditentukan. Akan tetapi, ketika menikah dalam posisi sudah menjadi raja, penobatan raja akan dilaksanakan lebih dulu dan penobatan ratu akan dilakukan langsung di hari pemberkatan penikahan. Seperti yang saat ini sedang dijalankan oleh Anna. Acara penobatan ini selalu menjadi momen paling mendebarkan bagi wanita yang menikah dengan raja. Anna hanya diberi pengarahan singkat bahwa ia kan diberikan jubah dan mahkota oleh Felix, seorang yang dipercaya sebagai titisan Dewa pada masa ini.
“……. Dengan ini, saya, mewakili rakyat, nobatkan engkau, nona Joanna Anastasia Marine, istri dari raja kami, Alexander von Pieterburg sebagai ratu kerajaan ini. Semoga berkat para Dewa selalu menyertai engkau dan setiap langkah yang kau ambil untuk kesejahteraan bangsa ini.”
Bersamaan dengan selesainya penuturan Felix, Anna menunduk dan mahkota sudah disematkan di atas kepalanya.
“Hidup ratu Joanna..hidup ratu Joanna..”
Para rakyat senang sekali menyaksikan penobatan ratu mereka. Berita raja Alexander yang mencintai seorang gadis sejak lama sudah menyebar di kalangan rakyat. Para rakyat penasaran dengan sosok sang gadis, akhirnya dapat melihat sosok itu secara langsung.
"Wahhh, ratu kita cantik sekali."
"Ratu kita benar-benar cantik, pantas saja Yang Mulia tergila-gila padanya."
Mendengar bisikan-bisikan keras dari tempat rakyat berkumpul, membuat Anna tersipu malu. Berbanding terbalik dengan Anna, Alex justru tak menunjukkan reaksi apapun.
Salah satu ukuran martabat bangsa naga laut adalah kesetiaan terhadap pasangannya. Oleh karena itu, tak hanya rakyat, raja mereka pun sangat berhati-hati dalam memilih pasangan. Siapapun yang terpilih, semuanya akan mendukung dengan gembira.
Selanjutnya, mempelai pria dipersilahkan mencium mempelai wanita. Anna tidak berharap banyak untuk ini setelah melihat reaksi Alex. Ia sangat tenang karena berpikir bahwa Alex hanya akan menempelkan bibir ke bibirnya sebentar untuk formalitas seperti yang Alex lakukan di Gereja. Akan tetapi, Alex memasukkan lidahnya ke dalam mulut Anna. Ia melumat bibir Anna dengan lembut.
Anna merasa haus. Akan tetapi, badannya juga tidak mengizinkan Anna beranjak dari tempat tidur. Kasur ini seolah memiliki magnet, Anna benar-benar di posisi yang sangat nyaman dengan bantal guling dalam pelukannya. Meski fisiknya nyaman dan tenang, suasana hati Anna seperti petasan yang meledak-ledak. Ia terus terngiang-ngiang sentuhan bibir Alex yang lembut. Anna benar-benar ingin berteriak sekarang juga, ia senang sekaligus gugup, bagaimana ia harus bersikap di depan Alex.Usai pemberkatan pernikahan dan penobatan, mereka mengadakan perjamuan untuk para rakyat dan baru saja selesai sekitar setengah jam lalu. Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul 23:00. Sepanjang perjamuan, mereka berdua tak memiliki kesempatan untuk berbincang. Para pekerja istana dan rakyat selalu mengajak mereka untuk berinteraksi nyaris tanpa henti. Meski lelah, Anna bahagia pernikahannya mendapat berkat dari banyak orang. Ia tak berhenti untuk tersenyum.“Lex, boleh minta tolong ambilkan air putih?” tanya Anna
Alex diam, ia tak menanggapi kalimat Anna. Alex menduga istrinya sedang manja dan ingin mendengar kalimat-kalimat gombal. Jika kondisi Anna diterjemahkan ke dalam bahasa anak-anak kekinian Jakarta, tipe bahasa cinta atau yang lebih dikenal sebagai ‘love languange’ Anna adalah ‘Words of Affirmation’. Alex merasa bahwa ia tak perlu lagi mengulanginya. Sebelum menikah, ia sudah mengutarakan bahwa tak ingin Anna berada dalam bahaya sehingga bersedia ditolak. Alexander tetap berpendirian bahwa 'bertindak' adalah bukti cinta yang sempurna, ia tak suka jika harus banyak bicara, terutama mengulang kalimat yang sudah pernah ia katakan.Alex pun hanya membenamkan kepalanya di pundak Anna dalam keadaan masih menindih istrinya. Tak hanya itu, Alex juga meletakkan tangan Anna dikepalanya untuk diusap-usap. Melihat tingkah manja suaminya, pipi Anna seketika membentuk gelembung tanda merajuk.“Karena kau tak menjawab pertanyaanku, aku tak mengizinkanmu untuk mencium dan melakukan hubungan suami-istr
“Iii…ini… benar bayi Yang Mulia,” ucap seorang wanita paruh baya ketakutan berhadapan dengan Alex. Mendengar kabar mengejutkan tadi, Alex dan Anna langsung menuju tempat wanita yang Diego maksud berada. Di sinilah mereka, ruang kerja Alex. Ruangan luas serba coklat dengan satu meja, kursi dan dua sofa. Anna langsung menatap Alex sinis seolah meminta penjelasan apa maksud dari semua ini. Alex pun memegang tangan Anna, malangnya, langsung mendapat penolakan dari wanita itu. “Kau sudah siap menerima hukumanmu kan wanita tua?” tanya Alex tenang. “Aaa… Apa maksud Yang Mulia? Anak perempuan ini benar adalah darah daging Yang Mulia,” jawab wanita itu dengan tangan gemetar. Keringat dingin bahkan membanjiri wajah dan lehernya. Bayi yang tidur tentram di pelukan wanita itu pun ikut terguncang. “Dia bukan anakku. Aku tak pernah berhubungan dengan wanita selain istriku. Jelas sekali kau berbohong. Sekarang ceritakan padaku yang sebenarnya. Siapa bayi ini dan mengapa kau menyebutnya sebagai
Di tempat tidur, Anna terlihat sedang tidur pulas. Alex hanya ingin memandang istrinya dan berniat tidur di ruangan lain hari ini. Alex khawatir Anna masih belum siap bertemu dengannya.“Mengapa kau hanya diam di sana seperti orang bodoh?” tanya Anna.Anna yang semula berbaring dengan posisi miring, beranjak untuk duduk. Di tengah cahaya malam yang masuk ke kamar melalui jendela besar kamar mereka, Anna duduk di tempat tidur dengan selimut menutupi kakinya. Wajahnya pun terlihat lelah.“Kau berantakan sekali, mandilah dulu. Setelah itu, baru kita bicara,” kata Anna memandang suaminya yang masih berdiri di depan pintu.“Aku mandi dulu,” jawab Alex pelan dan melangkah keluar kamar.Begitu suara langkah kaki Alex menjauh, rasa tegang Anna baru menghilang. Anna masih sangat takut dengan kejadian tadi siang.Anna sudah sering melihat para pria dan wanita muda berhalusinasi akibat pengaruh narkoba hingga overdosis. Tak berhenti di sana, Anna juga sering berinteraksi dengan rentenir, preman,
“Masih belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Suatu hari, bangsa duyung mulai menawarkan kerja sama untuk menghancurkan dunia manusia pada ketiga kerajaan lainnya. Akan tetapi, semua itu ditolak karena bertentangan dengan keinginan para dewa-dewi pencipta. Sehari setelah penawaran kerja sama berlangsung, titah dewa turun pada orang terpilih di masing-masing kerajaan. Semua isinya sama, tak boleh memulai perang untuk menghancurkan manusia,” jelas Theo panjang lebar. Pria itu kini sudah berdiri di samping Julie, tepatnya di samping kanan depan kursi Anna. “Hanya dengan penawaran kerja sama, mengapa mereka harus dijadikan musuh?” tanya Anna dengan kedua alis yang sudah berkerut. Theo dan Julie menghembuskan nafas kasar bersamaan, sementara Diego hanya bergeming. Anna tentu kebingungan melihat tingkah mereka. “Setelah penawaran ditolak, mereka menyerang semua kerajaan. Mereka tak begitu kuat dulu. Akan tetapi, mereka berhasil mencuri buku sihir terlarang d
“Masih belum menghasilkan apapun. Satu-satunya hal yang kuketahui hanya pelaku yang merupakan duyung muda, selain itu tak ada lagi. Hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah memperketat penjagaan sambil terus berusaha,” jawab Alex. Ia benar-benar terlihat lelah. “Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu,” kata Anna sambil mengemasi buku dan alat tulisnya yang juga dibantu oleh Julie. Masih saja dengan wajah cantik yang datar tanpa ekspresi. Melihat itu, Alex benar-benar frustasi. Alex sangat bingung bagaimana cara agar Anna tak meragukannya. Rasanya Anna tak akan mempercayainya hingga semua fakta terungkap. Akan tetapi, berapa lama baru akan terungkap? Ia merindukan senyum istrinya itu setengah mati. Berapa lama ini, Anna sengaja menghindar. Jika bertemu secara kebetulan, Anna juga tak tersenyum dan hanya lewat saja. Anna yang baru saja keluar dari ruang kerja Alex menghembuskan nafas kasar. Dia masih kurang nyaman untuk berte
“Jika berkenan, apa Duchess bersedia memberitahu rumor apa saja yang beredar tentangku?” tanya Anna hati-hati. Duchess Herta tersenyum. Ia bercerita bahwa di pesta-pesta teh para nyonya dan nona bangsawan, Anna masih menjadi topik hangat. Dimulai dari kisah Alex yang sehari-hari selalu ditakuti wanita karena selalu berekspresi tegas dan tidak peduli ketika ada wanita yang sengaja mendekat.“Benarkah suamiku seperti itu?” tanya Anna heran.“Tentu saja Yang Mulia. Yang Mulia Raja memang selalu menjaga etika terhadap wanita, tapi benar hanya sebatas itu saja. Yang Mulia Raja berdansa seperlunya dan juga tak terlihat melakukan pembicaraan pribadi dengan wanita manapun. Wajahnya pun selalu datar,” oceh Duchess Herta.Melihat Anna yang masih tidak percaya, Duchess Herta pun tersenyum. Wanita dengan gaun merah muda polos dan cukup tipis itu tak berhenti memamerkan deretan giginya yang rapi, mirip bintang iklan pasta gigi. Duchess Her
“Aku tak ingin melepaskannya,” jawab Alex setengah merengek.“Aku ingin ke toilet, kau ingin aku buang air kecil di tempat tidur?” tanya Anna kesal. Anna benar-benar sudah tak tahan lagi.“Berjanjilah dulu kau akan tidur sambil memelukku saat kembali dari toilet.”“Aaaarrggghhh, baiklaaahhh… Aku akan memelukmu, sekarang lepaskan aku, oke?”Alex pun tersenyum dan melepaskan istrinya. Anna pun segera berlari sekencang mungkin menuju toilet.“Haahhhh, apa yang ada di pikiran Alex. Bisa-bisanya dia bertingkah seperti itu,” gumam Anna saat selesai buang air kecil.Anna yang sedang dalam perjalanan menuju ke kamar menjadi gugup. Apakah seharusnya mereka pisah kamar untuk sementara? Sesampainya di kamar, ternyata Alex sudah tidur.“Jika akan tidur sebelum aku kembali, untuk apa kau bersikeras memintaku untuk memelukmu?” batin Anna kesal.Anna naik ke
Para hiu langsung menghilang dan Anna langsung terbangun."Uwwaaahhhhhhh...""Haaaahhh....""Haaaahhhhh...'"Haaahhhhhhhh..."Nafas Anna terengah-engah dan kondisi Anna masih buruk seperti biasanya."Mimpi apa aku tadi.." gumam Anna berusaha mencerna situasi.Anna mengatur nafas dan berusaha mengingat apa yang terjadi di dalam mimpinya itu. Ia bisa mengingat sedikit mimpinya itu, hanya saja kepalanya terasa sangat sakit setiap kali coba untuk mengingat."Aku benar-benar bisa ambruk jika terus seperti ini," gumam Anna lagi.Anna merasa ada yang aneh itu meraba dahinya."Handuk basah? Pantas saja dahiku berat. Kurasa tubuhku sedikit lebih baik dari sebelum tidur.""Meski masih tetap saja sakit, cih..."Anna melirik sebelah tempat tidurnya yang kosong. Ia meraba bantal dan ranjang sedikit lama.Dingin.Bibir Anna mengerucut, "Apa dia tidak tidur di sini?"Anna yang merasa kecewa lan
"Anda benar, Grand Duke. Saya akan memulai pengobatan tahap pertama dengan menenggelamkan Yang Mulia Ratu selama tiga jam. Di malam hari, kita akan memberi beliau handuk air seperti ini. Hanya saja, saya masih tak yakin dengan kutukan mimpi buruk ini. Setidaknya, saya harus membuat pikiran Yang Mulia Ratu tenang dulu dengan membuat beliau bisa dengan sadar membedakan mimpi dan kenyataan," jelas Nancy panjang lebar.Nancy Graham sangat khawatir dengan kutukan mimpi buruk Anna. Belum ada catatan yang menunjukkan cara sembuh dari kutukan ini sebelumnya.Meskipun air bisa menjadi obat, sampai kapan Anna harus tenggelam dalam air?Satu tahun? Tiga tahun? Apakah benar-benar bisa diobati? Ataukah Yang Mulia Ratu kalah dan mengambil nyawanya sendiri lebih dulu sebelum bisa sembuh?Banyak kemungkinan yang muncul dalam kepala Nancy."Meski mendapat hasil yang jauh lebih lambat, semua penyakit yang ada bangsa kita bisa disembuhkan dengan air. Mengapa aku bisa
"Selamat datang, kepala akademi," ucap Alexander menyambut Nancy.Sementara Nancy, Raymond dan Aslan langsung bungkuk untuk memberi hormat pada Alexander dan Noah."Hormat pada Yang Mulia Raja dan Grand Duke Hillary," ucap Nancy menundukkan kepalanya.Wanita itu sudah tidak bisa membungkuk seperti yang lain dikarenakan kondisi tubuhnya yang sudah tidak memungkinkan."Terima kasih sudah datang dan silahkan duduk," ucap Noah."Saya permisi Yang Mulia, Grand Duke," ucap Aslan pamit keluar.Alex hanya mengangguk dan mempersilahkan Nancy untuk duduk. Raymond sendiri langsung mengambil posisi berdiri di belakang Nancy.Nancy Graham memperhatikan dua pria yang sedang duduk di hadapannya ini."Meski jangka hidup bangsa kita cukup panjang, ternyata waktu cukup cepat berlalu," ucap Nancy.Bagi Nancy, Noah dan Alexander hanyalah dua pria muda nakal yang hobi membuat onar. Dua pembuat onar itu sudah menjadi resmi mengambil peran pen
"Sekarang sudah waktunya kau kembali ke dunia," ujar Cynthia."Tidakkk! Kau masih belum memberitahuku!"Raut wajah Cynthia menunjukkan kekecewaan. Bola mata wanita itu seolah menjelaskan betapa sakit yang ia rasakan."Jangan membunuh lagi dan hiduplah menjadi raja yang bijaksana. Lalu, jangan pernah berpikiran untuk merebut ratu naga. Kuperingatkan kau, naga yang kehilangan pasangannya itu akan menjadi sangat mengerikan!" teriak wanita itu."Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana Alexander von Pieterburg menjadi lebih buruk dari seorang psikopat," ujar Cynthia lirih.Konon katanya, kau bisa melihat segalanya saat kau sudah tidak lagi hidup di dunia. Cynthia percaya itu. Dia bahkan bisa melihat betapa gelapnya hati Alexander saat melihat sang istri terluka.Kegelapan bisa menelan Alexander kapan saja. Cynthia enggan membayangkan apa yang akan terjadi jika adik bodohnya itu mencari gara-gara lagi.Cynthia pun menyihir Steven untuk kembali ke dunianya."Tidakkk! Tidaaakkk! Tungguuuuu
"Kau nyaris mati, bodoh!" umpat Cynthia.Cynthia menatap adiknya seolah meminta penjelasan."Untuk apa kau menatapku seperti itu? Kau harus menjawab pertanyaanku, bukan meminta penjelasan padaku," ujar Steven kesal."Cih..."Cynthia menggelengkan kepalanya. Apakah adik bodohnya ini tidak pernah merasa bersalah? Atau otaknya sudah menyusut karena perlahan dikonsumsi sihir hitam?"Coba kau ingat lagi apa yang sedang kau lakukan sebelum tidak sadarkan diri?""Menyerang dunia manusia," jawab Steven kesal.Kapan pertanyaan Steven akan terjawab?"Berarti kau juga ingat bahwa kau terluka dan muntah darah akibat terlalu banyak membantai manusia?" tanya Cynthia lagi.Wajah yang semula tertekuk kesal itu berubah menjadi sendu. Sejujurnya Steven sendiri merasa sakit dan tersiksa saat itu."Di saat itu, kau nyaris kehilangan nyawamu. Sehebat apapun para dokter kerajaan kita, mereka tidak akan bisa melawan aturan yang sudah di
"Aku benar-benar tidak habis pikir bisa memiliki adik yang sangat tolol seperti mu.""Arrrgggghhhhh, stop Tiaaaa!!" teriak Steven dalam hati.Steven benar-benar sangat kesal. Ditambah, dia sendiri tidak bisa membalas kakaknya.Setelah puas berteriak, Cynthia menarik Steven kembali ke ruangan serba putih.Kondisi ruangan ini sangat mengerikan, benar-benar berantakan seperti lokasi konstruksi.Cynthia kemudian memandang adiknya itu dengan tatapan jijik."Mengapa kau melihatku seperti itu?" tanya Steven dalam hatinya. Steven yang kesal itu tercermin dari matanya yang kini sedang melotot."Cih... Kau benar-benar tak berhak untuk kesal padaku. Bola matamu nyaris keluar," gerutu Cynthia.Lalu, jari tangan kanan Cynthia membentuk angka satu. Cahaya putih keluar dari jari telunjuknya. Perlahan, lokasi konstruksi itu berubah menjadi bangunan utuh.Kini, jari Cynthia tertuju pada Steven. Cynthia benar-benar menyihir adiknya.
"Hikksss.... hikkksss... hiikkkssss..."Terlihat seorang gadis berambut panjang sedang meringkuk dan menangis. Rambut yang lurus dan halus itu tergerai dengan indah hingga menutupi wajah sang pemilik."Tempat apa ini? Aku di mana?" batin Steven.Saat membuka mata, Steven hanya melihat gadis ini menangis tersedu-sedu di sebelahnya. Steven juga tidak bisa menebak di mana ia berada saat ini. Ruangan ini hanya dipenuhi cahaya dan berhiaskan putih.Lantai tempat ia dibaringkan, dinding yang bisa dijangkau mata, putih.Langit-langit dan entah apa lagi yang ada di sana, tak bisa Steven deskripsikan. Pria itu hanya bisa melihat cahaya."Apa aku sudah tiada? Aku benar-benar mati semudah ini?" batin Steven.Steven pun menoleh pada gadis cengeng ini."Aaa.... Aaa...."Suara Steven tertahan. Ia tak bisa mengeluarkan satu patah kata pun. Steven pun berusaha meraih gadis di sebelahnya untuk meminta bantuan.Nihil!Steven juga tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya."Kenapa ini? Apa yang terjadi p
Alex tahu bahwa ini adalah pertanyaan yang sangat bodoh. Tapi dia sendiri pun frustasi. Pria itu tidak tahu harus bagaimana menghadapi istrinya.Raymond belum kembali. Anna juga tak kunjung membaik."Tidak," jawab Anna pelan.Alex memegang tangan Anna dan mengarahkan tangan sang istri untuk menyentuh pipinya.Air mata perlahan keluar dari ujung mata pria itu.Anna sendiri pun turut menangis. Rasanya sakit sekali melihat Alex meneteskan air mata."Sayang, apa kau benar baik-baik saja?" tanya Alex perlahan.Kepala Anna seketika pusing. Ingatan saat dicambuk Steven langsung kembali merasuki dirinya dengan cepat."Pusing sekali," batin Anna.Wanita itu langsung merinding, bahkan seluruh indra yang ada di tubuhnya masih mengingat dengan jelas penderitaan yang disebabkan Steven von McWheel."Sakit..." gumam Anna."Sakit...""Sakit...""Sakit...""Sakit..."Anna terus bergumam sak
Pagi ini Anna kembali terbangun dengan perasaan gelisah.Mimpi buruk masih terus hinggap di tidurnya."Haaaahh.... Haaahhh... Haaaaa...."Jantung Anna berdebar-debar dan keringat dingin sudah membasahi tubuhnya."Tenang Anna... Tenang... Ini baru kenyataan ini baru kenyataan, tadi hanya mimpi tadi hanya mimpi," batin Anna.Wanita itu langsung meraih gelas berisi air yang ada di meja dan meneguknya dengan cepat. Anna yang merasa sudah sedikit tenang menatap langit-langit."Syukurlah aku di kamar," gumam Anna.Anna yang sudah sedikit tenang itu merasa tubuhnya tidak nyaman karena basah dan lengket."Sepertinya aku harus berganti pakaian," gumam wanita itu.Namun, Anna merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Ia menoleh ke samping dan nyaris berteriak."Aa..."Ada Alex yang sedang tertidur pulas di sebelahnya.Seketika Anna teringat percakapannya dengan sang ayah bahwa pria ini adalah sua