Di balik air terjun itu ada pintu gua.
Slaap...!
Baraka masuk ke dalam gua dan segera meletakkan Nyai Betari Ayu di atas pembaringan tak berkaki. Pembaringan itu dulu bekas tempat tidur Baraka selama menjadi murid Setan Bodong.
Pendekar Kera Sakti segera menggenggam telapak kaki Nyai Betari Ayu, lalu ia menggumam sendiri. "Hmmm... masih sedikit hangat!"
Dengan satu sentakan tangan kanannya, jari tengah Baraka mengeras lurus dan dari ujung jari itu melesat sinar putih bening seperti kaca. Sinar itu menghantam pertengahan dada Nyai Betari Ayu.
Clapp...! Dess...!
Lebih dari lima helaan napas sinar bening mirip kaca itu dibiarkan menghantam punggung Nyai Betari Ayu. Beberapa saat kemudian, tampak kulit tubuh yang terluka itu bergerak-gerak. Dari berubah warnanya sampai gerakannya membentuk kesatuan seperti semula.
Baraka merasa lega. Itu pertanda jiwa Betari Ayu bisa tertolong, tinggal menunggu kesembuhan berikutnya. Andaikata Pendekar Ke
"O, jadi kaulah murid tersisa dari Iblis Pulau Bangkai?!""Ya. Dan bagaimana jika murid bertemu murid untuk membereskan hutang gurunya, hah?! Setelah kubereskan muridnya, segera akan kubereskan gurunya! Biar sama-sama meratap di dasar neraka!" Geram Nagadipa dengan matanya yang menampakkan kebengisan.Sepertinya ia sangat tak sabar ingin segera merobek-robek tubuh Pendekar Kera Sakti dengan kuku-kukunya yang panjang dan runcing itu.Setan Bodong memang pernah bercerita kepada Baraka tentang pertarungannya dengan Iblis Pulau Bangkai. Juga, cerita tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang masih penasaran menuntut balas atas kematian gurunya. Tapi seingat Baraka, Setan Bodong menceritakan tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama Nagadipa itu sebagai pemuda yang tampan dan menawan.Hati Pendekar Kera Sakti sempat ragu melihat penampilan pak tua yang mengaku sebagai Nagadipa itu. Mulanya Baraka menganggap orang itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai Nagadipa
"Aku sudah siap menghadapi kalian berdua!""O, tak perlu berdua. Cukup aku saja yang membereskan dirimu. Biar istriku jadi penonton yang baik!""Majulah, Nagadipa. Tapi aku tak tanggung jika istrimu kecewa melihat polahmu seperti anak kecil!""Bocah tak tahu diuntung!" Geram Nagadipa."Hiaaat...!"Cepat sekali tangan Nagadipa bergerak berkelebat depan seperti orang melemparkan pasir ke atas. Dan pada saat itu, Pendekar Kera Sakti segera bersalto mundur satu kali, karena ia merasakan akan datangnya gelombang panas yang hampir menyambar tubuhnya.Dengan bersalto ke belakang satu kali, semburan gelombang panas itu terhindar darinya. Melesat mengenai sebatang dahan pohon, dan dahan itu tiba-tiba menjadi kering dalam sekejap. Putri Alam Baka kelihatan kagum dan bangga melihat serangan itu walaupun meleset, ia berkata kepada Nagadipa. "Desak terus dia. Jangan kasih kesempatan sedikit pun!"Baru saja diam mulut Putri Alam Baka, tiba-tiba Bar
Beberapa saat kemudian, badai menjadi reda. Sedikit demi sedikit kabut hitam di angkasa itu menyisih, cahaya matahari kembali tampak menyinari bumi.Suara gemuruh gaduh pun mulai reda. Baraka berdiri dengan mata terbelalak tak berkedip. Ia sama sekali tak menyangka kalau kibasan Suling Naga Krishna-nya dengan kekuatan penuh menjadi sedemikian dahsyat dan mengerikan.Bumi seperti habis dilanda kiamat setempat. Bahkan Baraka melihat tanah yang longsor pada sebuah lereng. Ada yang terbongkah dari keadaan aslinya. Batu-batu yang semula terpendam di tanah dan hanya muncul di permukaan sedikit itu juga ada yang terpental keluar dan menggelinding jauh dari tempat awalnya. Entah berapa yang tumbang dan rusak berat akibat badai dahsyat tadi. Bahkan pohon besar pun sampai sekarang masih meliuk dan tak bisa kembali tegak dari posisinya semula."A.. Apa yang terjadi? Oh, mengerikan sekali?! Lantas bagaimana nasib Nagadipa dan Putri Alam Baka...?! Di mana mereka?!"
Namun dari tempat Baraka berdiri, ia melihat sebatang pohon kelapa tumbang dan beberapa genteng melorot dari atap. Baraka pun segera lari ke desa untuk melihat lebih jelas lagi. Ternyata memang tidak ada korban manusia di sana kecuali dua ekor kerbau yang sedang dilepas di tepian sawah dekat tanah lapang. Dua ekor kerbau itu masing-masing dalam keadaan kepala pecah dan tubuh terkoyak-koyak. Dua ekor kerbau itu mati dalam keadaan telentang, keempat kakinya mengeras ke atas.Dari percakapan orang-orang desa itu terpetik satu kesimpulan dalam benak Baraka, bahwa mereka hanya mengalami rasa takut yang begitu hebat. Bahkan ada yang menyangka langit akan rubuh dan bumi akan mengalami kiamat. Kerugian yang ditimbulkan dan diderita oleh penduduk desa itu tak seberapa banyak, kecuali pemilik dua ekor kerbau yang genteng atap rumahnya hampir melorot semua. Kepada pemilik dua ekor kerbau itu, Baraka memberikan sejumlah uang sebagai ganti ruginya."Uang untuk apa itu, Anak Muda?"
"Bukan. Perempuan! Ya, aku dengar kau cari-cari pe... perempuan yang ber... bernama Hyun Jelita." Tersentak kaget Pendekar Kera Sakti mendengarnya.Senyumnya hilang seketika begitu mendengar nama Hyun Jelita disebutkan oleh Dewa Racun. Ia maju setindak dan rendahkan badan, setengah jongkok di depan Dewa Racun agar wajahnya sejajar dengan wajah si kerdil itu."Apakah kau mengenal Hyun Jelita?""Ya. Ak... aku kenal nama itu," Jawab Dewa Racun."Tap... tap... tapi aku tidak tahu siapa dia dan di mana dia.""Dari siapa kau tahu nama Hyun Jelita?""Dar... dar... dar... dar....""Cepat katakan! Jangan hanya main dar-daran saja?!" Sentak Baraka tak sabar."Maksudku, dar... dari mulut Peramal Pikun!"Pendekar Kera Sakti tertegun sejenak, ia berdiri dari jongkoknya. Terbayang wajah bermata cekung bertubuh kurus kering milik Peramal Pikun. Baraka hampir saja melupakan seraut wajah pikun. Dialah orang yang menjadi kunci tentang rah
Kemudian, Pendekar Kera Sakti maju setindak dan berkata kepada Perawan Sesat. "Apa maksudmu menghadang langkahku, Perawan Sesat?!"Dengan mata tajam bersikap bermusuhan, Perawan Sesat menjawab. "Aku hanya ingatkan kamu, dua hari lagi purnama tiba!""Apa maksudmu dengan purnama tiba?""Kau punya janji pertarungan dengan Manusia Sontoloyo yang bernama Dirgo Mukti itu! Apakah kau masih ingat dengan pertarungan yang akan terjadi di Bukit Jagal itu?"Pendekar Kera Sakti tertawa berkesan meremehkan. "Ya, ya... sekarang aku ingat. Hampir saja aku lupa kalau aku mendapat tantangan dari Dirgo Mukti. Tapi... sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Masalahnya tidak penting dipertarungkan!""Buat Dirgo Mukti kau punya urusan dengannya yang amat penting! Menentukan siapa yang berhak menerima cinta Peri Malam, itu adalah masalah yang sangat penting buat Dirgo Mukti!"Sekali lagi Baraka lontarkan tawa meremehkan. "Bilang kepada Dirgo, suruh dia ambil perem
Tubuhnya melayang menerabas semak berduri. Suaranya pun hilang dari pendengaran tiga perempuan patah hati itu. Dirgo Mukti sendiri sebenarnya juga terhempas ke mana-mana. Mungkin akan lebih jauh terpentalnya dibanding Datuk Marah Gadai. Tetapi, tangan Peri Malam berhasil memegangi kaki Dirgo Mukti yang hampir terbawa terbang hembusan badai dahsyat itu. Sambil berpegangan pada pohon, Peri Malam mempertahankan tubuh Dirgo Mukti yang merayap-rayap bagaikan buaya tanpa kaki."Bantu aku menahan tubuhnya!" Teriak Peri Malam saat itu, dan Selendang Maut pun menahan pundak Dirgo Mukti dengan kedua kakinya. Pundak itu tak bisa maju karena mendapat tahanan dua kaki dari depan, sedangkan kedua tangan dan pundak Selendang Maut menahan diri ke salah satu batang pohon. Ia pun bertahan sekuat tenaga agar tidak ikut terlempar oleh hembusan angin badai yang menggila itu. Saat-saat berikutnya, badai itu reda. Suasana di sekitar telaga persis bumi yang habis mengalami kiamat.Padahal dar
Peri Malam cepat menjawab. "Kehangatan itu akan tiba jika kemenanganmu tergenggam di tangan. Kurasa Perawan Sesat juga akan memberikan kehangatan yang lebih indah lagi setelah kau berhasil membunuh Baraka!"Selendang Maut menambahkan kata. "Kau akan memperoleh kemenangan ganda, Dirgo! Selain namamu jadi cepat dikenal di rimba persilatan sebagai seseorang yang mampu mengalahkan Pendekar Kera Sakti, juga kau akan memperoleh kemenangan batin yang luar biasa tingginya, yaitu memperoleh tiga istri sekaligus!""Tiga istri?! Waaah..., ha ha ha ha...!"Dirgo Mukti tertawa kegirangan. Kedua perempuan itu dirangkulnya kanan-kiri. Kedua perempuan itu juga membiarkan dicium wajahnya oleh Dirgo Mukti yang tampak jelas serakah dengan kemesraannya.-o0o-Di Pantai Saru, ketika malam hadirkan sunyi, Perawan Sesat renungkan diri, duduk di atas bebatuan tak berlumut. Satu persatu Peri Malam dan Selendang Maut mendekat, lalu mereka saling bergunjing ten