Roselia berkata, "Kalau begitu, tolong bawa Jeje keluar."Erna mengeluarkan sebuah kantong kecil dari sakunya dan melemparkannya kepada Roselia. Dia berkata, "Itu obat penawar untukmu. Cepat dimakan, bisa meredakan rasa sakitmu."'Berengsek.' Roselia hampir mengumpat. Dia berujar, "Aku nggak mau makan obat itu. Obat itu cuma bisa meredakan rasa sakitku untuk sementara waktu. Cuma Yoga yang bisa mengobati penyakitku sampai ke akarnya.""Kalau begitu, kamu mati kesakitan saja," sahut Erna dengan tidak acuh."Aku ...." Roselia sungguh kehabisan kata-kata.Jeje membujuk, "Kak, cepat makan obat itu. Selama ada Kak Erna, jangan harap kalian berdua bisa melakukannya. Tadi Kak Kamelia juga sudah menelepon. Dia bilang akan mengebiri Kak Yoga kalau sudah nggak perjaka."'Benar-benar berengsek!' maki Roselia dalam hati. Dilihat dari penolakan ini, sepertinya dia tidak mungkin melakukannya dengan Yoga lagi. Pada akhirnya, dia hanya bisa menelan obat penawar itu.Setelah merasa lebih baik, Roselia
Semua orang bersenang-senang, sedangkan Hilda dan Wenny hanya duduk di sudut sambil mengobrol. Mereka tidak minum ataupun bernyanyi, seolah-olah bukan datang untuk menghadiri acara ini.Tama menghampiri untuk bersulang. "Hilda, Wenny, jangan cuma duduk dong. Ayo, kita minum-minum."Hilda segera menolak. "Maaf sekali, Tama. Kamu tahu aku nggak minum alkohol sejak dulu. Gimana kalau aku bersulang dengan teh saja?"Tama menyahut, "Kamu harus mencobanya sekali. Ayo, dicicipi dulu. Aku jamin kamu akan takjub dengan rasanya."Hilda masih menolak, tetapi Tama terus memaksanya untuk mencoba. Wenny akhirnya tidak tahan lagi. Dia berkata, "Pak, adikku benar-benar nggak minum alkohol. Biar aku saja yang minum.""Ya, ya." Tama segera mengiakan. Setelah bersulang, dia memberi isyarat mata kepada orang lain supaya bersulang dengan Wenny juga.Wenny buru-buru melambaikan tangan dan berkata, "Maaf, maaf. Aku nggak bisa minum lagi. Aku bersulang dengan teh saja."Seorang wanita yang terlihat berwajah g
Selain itu, mereka tidak ingin diantar Yoga.Ketika sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara seorang pria. "Hei, apa yang kamu lakukan? Minggir, jangan ganggu mereka!"Ternyata itu Tama. Tama memapah Wenny dan Hilda yang tampak sempoyongan sambil bertanya, "Kalian baik-baik saja, 'kan?""Ya, kami baik-baik saja." Wenny dan Hilda bersikeras untuk terlihat baik-baik saja.Yoga mengernyit dan bertanya, "Kamu yang membuat mereka mabuk?""Bukan urusanmu. Jangan ikut campur urusan kami!" tegur Tama sambil mengerlingkan matanya. Kemudian, dia berkata dengan lembut, "Hilda, Wenny, ayo kita pergi.""Berhenti!" Yoga tiba-tiba membentak, "Siapa suruh kalian pergi?"Tama mendorong Yoga dan menghardik, "Sudah kubilang jangan ikut campur! Jangan cari masalah untuk diri sendiri!"Yoga sontak meraih kerah baju Tama dan menyahut, "Tadi memang bukan urusanku. Tapi, sekarang sudah menjadi urusanku karena kamu membentakku. Cepat minta maaf!"Tama sungguh murka. Dia hendak menampar Yoga, tetapi kecepa
Yoga berkata dengan tidak acuh, "Oke, aku tunggu kedatangannya."Hilda dan Wenny bertatapan dengan cemas. Bagaimanapun, Yoga mendapat masalah karena mereka. Mereka tidak berharap sesuatu terjadi padanya.Jadi, kedua wanita itu mulai memohon kepada Lita, "Kak, nggak perlu merepotkan manajer restoran. Aku rasa nggak perlu berlebihan begitu.""Benar, kita bisa bernegosiasi dengan kepala dingin. Kita pasti bisa menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasi masalah ini."Yoga melirik kedua wanita itu. Ternyata masih punya hati nurani. Sementara itu, Tama mendengus sebelum berujar, "Hilda, Wenny, ini masalahku dengannya. Kalian nggak perlu ikut campur. Aku nggak akan memaafkannya, kecuali dia berlutut minta maaf atau menampar diri sendiri 10 kali."Yoga terkekeh-kekeh menatap Tama sambil menantang, "Kamu saja yang menamparku 10 kali kalau berani.""Aku ...." Tama tidak berani mendekati Yoga. Ketika Tama masih ragu, seorang teman bodohnya maju dan berujar, "Kak, biar aku saja."Pria itu sont
Yoga menjatuhkan keempat pengawal itu semudah membalikkan telapak tangan. Keempat pengawal itu seketika terkapar tak berdaya, sedangkan Yoga tetap berdiri di tempatnya dengan gagah.Nadine termangu. Dia tahu betul sehebat apa keempat pengawalnya. Sejak mengikuti Nadine, keempat pengawal itu tidak pernah kalah dan telah membantunya membunuh banyak orang.Tanpa diduga, mereka justru dikalahkan oleh seorang pemuda. Parahnya, mereka bahkan tidak sanggup menahan satu pun serangan Yoga. Bisa dilihat, betapa hebatnya Yoga. Seketika, Nadine menjadi ingin merekrutnya.Sementara itu, Tama dan lainnya justru merasa senang. Menurut mereka, Yoga telah membuat masalah besar. Pria ini sudah pasti akan mati hari ini. Mereka bahkan berharap Yoga membakar Restoran Floran supaya dosanya makin besar.Nadine berkata, "Bocah, aku sudah meremehkanmu. Kamu masih muda, tapi sudah begitu hebat. Masa depanmu pasti tak terbatas.""Aku orang yang sangat menghargai bakat. Apa kamu tertarik mengikutiku? Aku jamin ka
Sekarang satu-satunya cara untuk menyelamatkan Yoga adalah dengan mencari Kamal dan Dirga. Bagi anggota keluarga terkemuka seperti mereka, sebenarnya meminta bantuan dari keluarga untuk mencapai tujuan sendiri adalah hal yang tabu.Namun, gara-gara Yoga, sekarang mereka terpaksa melanggar tabu ini. Hal ini membuat mereka sangat kesal kepada Yoga.Hilda menelepon Kamal. "Kakek, ada sedikit masalah di sini. Aku mungkin butuh bantuan Kakek ...."Hilda menceritakan semuanya kepada Kamal. Setelah mendengarnya, Kamal tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Tenang saja, masalah sepele itu nggak ada apa-apanya untuk Yoga.""Kalau nggak sanggup mengatasi hal semacam ini, mana mungkin Yoga memenuhi syarat menjadi menantuku."Wenny juga menceritakan semuanya kepada Dirga. Dirga berkata dengan santai, "Setahuku, nggak ada seorang pun yang sanggup menyulitkan bocah itu. Justru bagus kalau Restoran Floran bisa menghabisinya. Bocah itu terus mendatangkan kerepotan untukku. Aku akan berterima kasih kepad
Pantas saja, Yoga begitu arogan. Sepertinya dia punya punya latar belakang yang hebat. Bahkan, si Gemuk sangat menghormati Yoga.Namun, Nadine sudah memutuskan untuk membela Tama. Jadi, dia tidak akan tunduk kepada Yoga. Nadine berucap kepada si Gemuk, "Kak, kalau Pak Yoga ini temanmu, masalah ini nggak usah dibesar-besarkan lagi. Kami juga nggak mau buat perhitungan. Anggap saja masalah ini nggak terjadi, bagaimana?"Si Gemuk berkata dengan ekspresi serius, "Kak Nadine, aku sarankan kamu jangan ikut campur. Nanti kamu terlibat masalah. Tapi aku peringatkan kamu, jangan sembarangan menyinggung orang."Wanita yang dekat dengan Yoga punya kartu VIP. Bahkan, pemilik Restoran Floran harus menghormati mereka. Nadine tentu tidak bisa menandingi para wanita itu.Akan tetapi, sudah jelas Nadine tidak menyadari keseriusan masalah ini. Dia memutuskan untuk ikut campur.Nadine berujar sembari menatap Yoga, "Tadi aku meremehkanmu. Ternyata kamu kenal dengan si Gemuk. Aku harap kamu bisa memaklumi
Hilda dan Wenny tampak tidak percaya. Bukannya Yoga hanya satpam di Perusahaan Farmasi Hansa? Lagi pula, itu juga bukan perusahaan besar. Kenapa Yoga begitu berkuasa di Restoran Floran?Bahkan, Yoga bisa menggertak Nadine dan si Gemuk. Dia pasti punya banyak rahasia. Hilda dan Wenny ingin mengetahuinya.Tama terus memohon kepada Hilda dan Wenny, "Hilda, Wenny, aku buat acara ini demi bantu kalian. Tadi aku juga berniat menolong kalian, makanya aku menyinggung Pak Yoga. Masa kalian nggak mau selamatkan aku?"Ucapan Tama memang benar. Tentu saja, Hilda dan Wenny tidak akan berdiam diri. Hilda berucap, "Yoga, apa kamu bisa ampuni Tama demi kami?"Wenny menimpali, "Anggap saja kami berutang budi kepadamu."Sebenarnya, Yoga tidak berniat menghabisi Tama. Bagaimanapun, dia belum menyelidiki rahasia Tama. Yoga mendesak Tama hanya untuk menakut-nakutinya supaya dia tidak berniat jahat kepada Hilda dan Wenny.Yoga menyindir sambil menatap Hilda dan Wenny, "Kalian hampir dicelakai Tama, tapi kal
Tampaknya pria itu ingin lebih teliti mengamati siapa Yoga sebenarnya. Yoga melemparkan sebuah benda kecil dengan santai, lalu berujar, "Berikan ini pada pengurus kalian. Dia pasti akan datang menemuiku."Pria itu menangkap benda tersebut. Begitu melihatnya, dia langsung terkejut hingga terperanjat. Matanya membelalak, sementara pupilnya mengecil. Benda itu ... adalah besi hitam."Oke, aku akan segera mengurusnya!" balas pria itu. Dia tidak berani membuang waktu, melainkan langsung berbalik dan pergi dengan langkah cepat.Melihat pria itu yang tergesa-gesa, Yoga tersenyum dingin penuh ejekan. Hanya sepotong kecil besi hitam saja sudah membuatnya begitu heboh. Padahal, Yoga memiliki seluruh makam yang dipenuhi dengan besi hitam.Bimo memperingatkan, "Eh, benda ini sangat berharga. Jangan sampai menarik perhatian orang yang punya niat jahat!"Yoga membalas tak acuh, "Nggak masalah. Lagian, aku nggak punya barang lain."Bimo menimpali, "Kamu benar-benar belum memahami betapa pentingnya be
"Tenang saja!" balas Yoga dengan penuh percaya diri. Dia tersenyum lebar sambil memberi isyarat dengan tangannya.Hanya saja, Sutrisno merasa gelisah saat melihat senyuman itu. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, seolah-olah dirinya telah dijebak. Pasti semua ini tidak sesederhana seperti yang Yoga katakan."Ayo, ikut aku pulang!" gumam Sutrisno pelan sambil terus memperhatikan Yoga, bahkan menyisakan sedikit kewaspadaan dalam hatinya. Dia berpikir apakah dirinya sudah benar-benar dijebak?Di sisi lain, Yoga terlihat santai dan tidak peduli. Dia ikut pergi bersama Sutrisno. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kompleks hunian. Tempat itu penuh dengan deretan vila mewah yang jelas bernilai fantastis."Ini salah satu rumahku. Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara waktu. Tapi ingat, jangan sekali-kali berkeliaran sembarangan. Kalau sampai ketahuan bahwa Keluarga Salim melindungimu, itu akan membawa masalah besar bagi kami!" ucap Sutrisno seraya menatap Yoga dengan serius.Sut
Yoga berkata, "Begitu juga dengan sebaliknya, 'kan? Dunia kultivator kuno juga bisa memusnahkan dunia bela diri kuno."Bimo membalas, "Bisa dibilang begitu. Tapi, sekarang kamu sudah mencapai kultivator raja, jadi harus lebih berhati-hati."Yoga kembali berkata, "Aku mengerti. Sekarang auramu terus menyebar, aku harus segera mencari caranya."Bimo berkata, "Baguslah kalau kamu ingat itu."Setelah terdiam sejenak, Yoga melihat ke sekeliling karena tidak tahu harus pergi ke mana. Jika tadi perjalanannya tidak tertunda sebentar, dia bisa pergi bersama dengan Winola. Namun, sekarang dia sudah berhasil masuk ke sini, dia tentu saja tidak akan pergi ke rumah Keluarga Bramasta lagi. Jika tidak, dia harus berdiskusi dengan mereka tentang pertunangannya dengan Winola."Oh ya!" Yoga teringat dengan sesuatu dan segera menelepon Sutrisno. Bagaimanapun juga, orang ini masih bisa membantunya.Sutrisno berkata, "Kamu sudah masuk ya? Aku dengar ada masalah di pintu masuk."Yoga berkata, "Kamu datang j
Aura yang sangat kuat menyebar ke seluruh tempat dan terus menghancurkan segalanya, membuat semua orang terkejut.Yoga yang menerima kekuatan dari hukum alam semesta, merasakan kekuatan itu terus mengalir di dalam tubuhnya dengan makin kuat. Dia membuka pintu yang tertutup itu dengan satu gerakan dan berdiri di dalamnya, lalu menoleh ke belakang. Langit sudah kembali tenang, sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan efek samping dari kekuatan kultivator raja.Pemimpin penjaga gerbang itu tercengang dan menatap Yoga dengan bingung. Ekspresinya terlihat kaku dan sulit untuk kembali tenang.Apa yang terjadi? Apa yang dilakukan anak ini? Dari mana asalnya perasaan menekan yang sangat kuat ini? Mengapa kekuatan ini sangat mirip dengan kekuatan kultivator raja?Pemimpin penjaga gerbang itu merasa sangat tidak tenang dan sulit untuk mengendalikan dirinya. Keringatnya mengalir dengan deras, seolah-olah kehilangan kendali atas dirinya. Setetes darah mengalir keluar dari mulutnya, lalu menyemprot
Formasi di tanah tiba-tiba meledak, lalu cahaya-cahaya emas bermunculan dari permukaan tanah dan menyerbu ke arah Yoga.Boom boom boom!Setelah itu, cahaya-cahaya emas itu pun terus menyerang Yoga dengan kecepatan yang luar biasa, membuat orang yang melihatnya tertegun. Kecepatan itu bahkan sulit untuk dilihat dengan mata orang biasa.Namun, Yoga hanya menggaruk telinganya dengan santai dan terlihat agak kesal. Formasi ini hanya trik sampah baginya, bahkan formasi dari Pelindung Kebenaran pun dia tidak takut. Dia hanya berdiri dengan diam di tempatnya dan tubuhnya kembali dikelilingi petir.Boom!Cahaya-cahaya emas dari formasi yang menyerang semuanya malah dimusnahkan oleh petir di tubuh Yoga. Dalam sekejap, semuanya berubah menjadi hampa."Apa?" Pemimpin penjaga gerbang itu langsung mundur selangkah dengan ekspresi terkejut. Dia tidak menyangka serangan dari formasi itu ternyata sama sekali tidak berpengaruh terhadap Yoga."Apa yang sebenarnya ada di dalam tubuhmu?" tanya pemimpin it
Benar-benar ingin menerobos masuk gerbang ini?Dalam sekejap, mata semua penjaga gerbang membelalak dan ekspresi mereka terlihat sangat terkejut. Mereka tidak menyangka Yoga benar-benar berani bertindak. Yoga bahkan melakukan semua itu sendirian, tanpa bantuan dari Keluarga Bramasta."Kamu ini benar-benar nggak tahu diri," teriak pemimpin penjaga gerbang itu dengan nada yang dingin.Ekspresi para penjaga gerbang lainnya pun terlihat serius dan menatap Yoga dengan tajam. Mereka penuh dengan aura membunuh dan bersiap untuk membunuh Yoga."Huh. Ayo maju," kata Yoga dengan angkuh dan menatap semua penjaga gerbang itu dengan dingin. Saat itu, dia terlihat penuh dengan tekad dan wibawa."Serang!"Seiring dengan perintah pemimpin itu, semua orang yang berada di tempat itu langsung menyerbu. Mereka terlihat sangat bersemangat dan ingin segera membunuh Yoga. Kecepatan mereka juga sangat luar biasa.Swish swish swish!Setelah para penjaga gerbang itu menyerbu dan mengepung Yoga, salah seorang da
"Nggak perlu meminta maaf. Kalian masuk dulu, aku akan menyusul nanti," kata Yoga sambil tersenyum dengan tenang dan terlihat santai, seolah-olah hal ini sama sekali tidak memengaruhinya."Nggak perlu menghiburku. Ini mungkin terakhir kalinya kita bertemu, aku ...," kata Winola dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang terasa sangat sakit. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu memberanikan diri untuk mendekat dan mencium bibir Yoga dengan lembut.Seluruh tubuh Yoga langsung bergetar saat merasakan sentuhan yang lembut itu. Ini ....Orang-orang di sekitar yang melihat adegan itu pun terpesona dan iri. Winola adalah wanita yang terkenal kecantikannya di dunia kultivator kuno, malah diam-diam menaruh hati pada seorang pria dari dunia bela diri kuno.Beberapa saat kemudian, Winola melepaskan ciumannya dari Yoga dengan wajah yang memerah. Dia menatap Yoga dengan ekspresi tulus dan berkata dengan nada lembut, "Setelah berpisah, kita mungkin nggak akan bertemu lagi dan pertunangan kita juga m
Winola sudah menduga perjalanan mereka pasti akan menghadapi hambatan di sini. Bagaimanapun juga, semua penjaga gerbang ini adalah orang yang hanya mementingkan keuntungan saja. Sekarang dia membawa orang baru untuk kembali, para penjaga ini pasti akan mempersulitnya.Melihat isi dari bungkusan yang diberikan Winola, pemimpin itu akhirnya tersenyum dengan puas."Baiklah, silakan lewat," kata pemimpin itu sambil memberikan isyarat dengan menganggukkan kepala.Winola menghela napas lega, lalu menatap Yoga dan berkata, "Ayo pergi."Yoga pun merespons dan bersiap untuk pergi.Namun, ada seseorang tiba-tiba mendekat dengan terburu-buru dan berbisik di telinga pemimpin itu.Setelah itu, pemimpin itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Yoga. Dia tertegun sejenak, lalu matanya langsung membelalak."Berhenti!" teriak pemimpin itu dengan marah."Apa?" tanya Winola dengan terkejut dan secara refleks menatap pemimpin itu.Semua anggota Keluarga Bramasta pun langsung waspada, mengira akan terj
Perasaan senang terpancar jelas di wajah Winola. Dia menatap Yoga dengan sangat bersemangat, lalu menganggukkan kepala. Dia segera mulai bersiap-siap dan membawa Yoga serta para bawahan dari Keluarga Bramasta di dunia bela diri kuno untuk berangkat.Berita tentang Keluarga Bramasta yang mengundang Bimo segera menyebar sampai ke telinga Sutrisno dan membuatnya merasa sangat iri. Dia segera menelepon Yoga dan bahkan menawarkan diri untuk ikut bergabung dalam perjalanan itu. Setelah Bimo bertamu ke rumah Keluarga Bramasta di dunia kultivator kuno, dia akan mengundang Bimo bertamu ke rumah Keluarga Salim juga.Lagi pula, sudah bertamu ke satu keluarga, Yoga merasa tidak ada salahnya untuk bertamu ke satu keluarga lagi. Ini adalah kesempatan untuk menjalin hubungan dengan Keluarga Salim juga, mungkin saja kelak mereka bisa bekerja sama untuk melawan Keluarga Husin dan Keluarga Kusuma. Dia pun setuju untuk bertamu, tetapi tidak bisa pulang bersama karena dia tidak ingin menambah masalahnya.