Share

Bab, 17.

last update Last Updated: 2025-02-14 14:09:51

Pov Seno.

Namaku Seno, setelah cukup lama merantau di kota akhirnya, aku menikah dengan seorang perempuan bernama Dinda yang tinggal di panti asuhan, merasa dia sebatang kara aku bawa ke kampung halaman. Namun, pernikahan itu membuat ibuku tak merestui hubungan kami walaupun Dinda sudah aku buat hamil duluan.

"Kamu itu anak kesayangan pertama ibu satu-satunya! Kamu itu bukannya harus menikah dengan wanita miskin, seperti dia, Ibu nggak mau tahu, ya, kamu harus bawa dia tinggal di rumah ibu yang lama! Tak sudi aku tinggal serumah dengan wanita itu," ucap ibuku kala itu di saat aku pertama kali membawa Dinda ke rumah.

"Ingat! Kamu tidak boleh memberi dia uang walaupun sedikit, dia pasti keenakkan, kasih beras satu liter seminggu saja sudah cukup!" Ibuku kembali mengingatkan diriku agar gajiku selama bekerja menjadi mandor di PT Abadi diberikan seperlunya pada ibuku.

Kehidupan setelah itu kami jalani sampai melahirkan anak ketiga, Dinda selama menikah denganku selalu nurut walaupun aku j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 18.

    Seminggu kemudian aku sudah bekerja bersama Rini dan suaminya di PT sawit Abadi, aku mengajak Bagas untuk ikut bersamaku agar dia tidak merasa bosan. Aku dan Rini bekerja sebagai penebas sawit piringan sedangkan Dimas sebagai pemanen sawit.Setelah jam istrirahat, kami duduk di bawah pohon sawit sembari menyantap makan siang. Ini saatnya aku memberitahu Rini tentang kelakuan Mas Seno yang bermain api d, ,i belakangku."Tuh, 'kan apa aku bilang benar, aku tak salah, sudah Din tinggalkan saja suami, seperti itu, jahatnya nggak ketulungan," sahut Rini berapi-api sambil menyantap nasi berlauk ayam sambal."Hus! Dek, kok begitu dengan teman nggak boleh tau menyuruh bercerai," timpal Dimas pada istrinya seketika membuat Rini menghentikan makannya."Dengar, ya Bang! Untuk apa dipertahankan suami macam itu, jahat sama istri, kau bayangkan, ya, Bang, dia dengan istri Rahmat lembut berbicara mendayu-dayu, kalau dengan Dinda kasarnya minta ampun sama sifatnya dengan Marni," sentak Rini membusun

    Last Updated : 2025-02-15
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 19.

    Seorang pria paruh baya memakai kaca mata hitam, lengkap dengan pakaian jas berwarna hitam, rambut kepalanya terlihat sudah memutih, keluar dari mobil berwarna hitam.Kakinya berayun melangkah kemari, tangannya menarik jas ke depan terlihat sangat berwibawa. Matanya terus memandang ke arahku."Ada, apa kalian ribut-ribut?" tanyanya sembari melepas kaca mata, terlihat lah wajahnya yang sangat mirip dengan Bagas, mungkin kebetulan saja."Ini, Pak Gibran. Mandor ini berkelahi pada salah satu karyawan sawit kita," celetuk Riko."Heh! Jelas kamu yang mulai duluan!" bentak Mas Seno pada Riko sembari mengacungkan jari."Sudah! Sudah! Cukup! Apa alasan kamu marah-marah pada karyawan di sini Seno?" tanya Pak Gibran melirik pandangannya ke kami semua."Dia marah, istrinya bekerja di sini, Pak." Rini menjawab ucapan Pak Gibran sembari menunduk."Hmm, ternyata itu duduk perkaranya, saya harap selesaikan baik-baik perkara rumah tangga kamu dulu Seno! Jangan membuat keonaran di tempat ini. Jamal sa

    Last Updated : 2025-02-16
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 20

    Ririn menghela napas kasar lalu baru mulai mengeluarkan suara. Manik matanya terus menatap mataku, aku mengangguk agar dia cepat berbicara."Mona ... Me--meninggal karena ulah suamimu sendiri, Din." Ririn berbicara gagap, tapi masih bisa aku mengerti.Sontak aku terkejut mendengar penuturan itu, tak dapat aku pungkiri, berarti lebam di lengan Mona itu dapat kekerasan dari ayahnya, yang jadi pertanyaanku kenapa dengan tega Mas Seno membunuh darah dagingnya sendiri, terbuat dari apa hatinya Ya Allah."Bangsat! Kenapa dia membunuh anaknya sendiri, tunggu kau Seno, ku bunuh juga kau nanti!" Aku memekik kencang tangisku terdengar nyaring dan pilu.Biarkan semua orang di sini menganggap aku gila, hatiku sangat rapuh mengingat Mona meninggal secara, seperti itu, tidak ada di dunia ini seorang ibu rela anaknya meninggal di tangan seorang kepala keluarganya sendiri."Dari mana, Mbak tahu?" Riko ternyata penasaran setelah membantu Ririn menenangkanmu.Bagas terus menangis tersedu-sedu memeluk t

    Last Updated : 2025-02-17
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 21.

    Winda dengan bangganya bergelayut manja di lengan Seno, apa dia kurang waras? Apa dia tidak punya rasa malu di tonton di khalayak ramai, bahkan yang dia dekati bukan suaminya melainkan Abang ipar sendiri.Matanya sempat melirik ke arahku dengan bangganya menjulurkan lidah padaku, aku yang sudah tersulut emosi menahan amarah, bergegas mendekati, tak lupa gunting ku ambil di saku celanaku. Tanpa pikir panjang rambut panjangnya yang menjuntai lurus berwarna pirang ku pangkas dengan gesit di depan umum. Rambut yang sudah terpotong kulempar kasar ke wajahnya, terlihat sudah rambut pendeknya yang tak beraturan."Dasar! Pelakor gatal! Apakah Rahmat kurang memberimu jatah?! Sampai-sampai Abang ipar sendiri di embat," ujarku di depan semua orang sampai terperangah, termasuk yang punya PT Abadi yang ikut hadir di depan."Heh! Jaga mulutmu!" teriak Mas Seno menunjuk ke arahku, sudah tampak wajahnya memerah panik."Kenapa?! Takut? Takut kelakuan bejat kalian terbongkar? Sudah terbongkar Seno, ta

    Last Updated : 2025-02-18
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 22

    "Maaf, apa betul bentuk jari kananmu, seperti ini?" tanya Pak Gibran dengan raut wajah heran, sembari mengangkat jari jemariku, yang memang jari jempol dan jari telunjuk menyatu."E--e betul, Pak ini sejak saya lahir, sudah begini, kata pengasuh di panti asuhan." Aku menarik tanganku cepat rasa malu tersirat di wajahku, semua orang tertuju padaku."Panti asuhan? Kamu tinggal di sana?" pertanyaan Pak Gibran membuat aku semakin bimbang sekaligus terheran mengapa sedetail itu menanyakanku."Iya, Pak, saya dari bayi di asuh di sana, kata pengasuh di panti asuhan, sejak bayi saya ditinggalkan di depan pintu panti asuhan, Pak.""Apa nama, panti asuhannya kalau saya boleh tahu?" tanyanya lagi lalu Riko berdehem membuat Pak Gibran mengalihkan pandangan ke semua orang."Kalian minta tanda tangan dengan Riko saja, saya ada perlu sedikit dengan anak ini," titah Pak Gibran lalu semua karyawan berpindah tempat ke Riko.Aku melipir ke tepi tempat yang sedikit lapang dari mereka, kulirik sekilas Rin

    Last Updated : 2025-02-19
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 23.

    Mobil terparkir di depan sebuah rumah mewah cat berwarna putih, Pak satpam segera membukakan pintu pagar, aku terpana melihat halamannya yang cukup luas di tanam berbagai buah-buahan.Tubuh kekar body guard yang sering ku dengar di TV, berdiri menyambut kedatangan kami."Aku kira ada hajatan atau syukuran, ya Rin, tetapi kenapa tampak sepi, kita hanya yang datang."Aku tampak terheran-heran melihat tidak ada tamu yang datang."Mungkin hanya kita saja yang di undang," jawab Ririn sembari menuntun anakku masuk sedangkan aku masih terbengong melihat rumah bak pesis istana megah, yang seumur hidup baru kali ini aku tapaki.Setelah masuk ke dalam ruangan diriku lebih terpaku lagi melihat isi rumah Pak Gibran, Ririn, Dimas tampak terkagum-kagum. Riko mempersilahkan kami duduk di sofa ruang tamu yang sangat empuk"Kalian tunggu di sini, dulu saya permisi ke dalam menemui Pak Gibran," ujar Riko lalu pergi ke belakang."Mimpi apa kita semalam, ya, Din! Datang ke rumah orang kaya. Bos atasan kit

    Last Updated : 2025-02-20
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 24.

    "I--itu punyaku waktu masih bayi," celetukku ingin meminta yang di bawa asisten rumah tangga di rumah ini.Bagaimana tidak switer yang dibuat dengan benang wol dirajut menggunakan tangan, serta kalung yang bermotif huruf D, terbuat dari manik-manik kecil, benda itu sengaja aku tinggalkan di panti asuhan, sekarang berada di sini."Ini, benar switer punya kamu? Tak sengaja aku menyuruh Wati membawa kenangan masa kecilmu dulu." Pak Gibran berbicara lalu mendadak menangis tergugu."Eh, Pak. Kenapa? Ada apa?" tanya Riko mulai panik dengan sikap Pak Gibran."Wati?! Apa betul kau yang menemukan Dinda waktu masih bayi di depan pintu panti asuhan kala waktu masih hujan?!" Pak Gibran tak mempedulikan ucapan Riko. Tangannya memegang dada, sembari terus menatap Mak Wati serius."I--iya, betul, pada waktu itu memang aku menemukan Dinda di saat malam pada waktu hujan." Mak Wati tergagap sekilas menatap wajahku sendu."Bearti, selama ini dugaanku benar, hmmm, maafkan ayahmu ini, Nak." Pak Gibran me

    Last Updated : 2025-02-21
  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 25.

    Sejak kejadian itu aku akhirnya, tinggal di rumah mewah yang tak pernah aku duga, sebelumnya, aku tidak lagi bekerja menjadi karyawan sawit, malah menggantikan ayahku untuk menerima laporan, tetapi bisa saja tidak turun secara langsung ke lapangan. Namun, aku terasa jenuh berdiam diri tak ada teman di rumah, Bagas sudah di bawa oleh ayahku sekitar dua minggu yang lalu ke luar negeri. Bagas akan bersekolah di sana di sekolah terkenal dengan biaya yang mahal, ayahku semua yang handle. Sudah aku bicarakan pada ayahku, Bagas itu tidak pernah duduk di bangku SD, bagaimana dia sekolah sedangkan umurnya sudah sepuluh tahun lebih. "Tenang, dia akan ikut tes pribadi di sana, diajari berhitung serta membaca sampai bisa," ujar ayahku sehingga aku merasa tenang, semoga Bagas menjadi anak yang membanggakan orang tua nantinya. *** Banyak sepasang mata melihat perubahan diriku yang berubah drastis, mata mereka jelalatan melirik dari atas sampai bawah, Ririn tersenyum memanggilku setelah aku men

    Last Updated : 2025-02-22

Latest chapter

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 41. Winda Terjengkang.

    Aku mengetuk pintu yang tertutup, terdengar bunyi tangisan seseorang membuat aku memfokuskan indera pendengaranku."Kau dengar ngggak, Rik?" tanyaku seraya tangan ini menempelkan daun telinga."Iya, dengar kayaknya dari dalam deh suaranya." Riko lalu mendorong pintu perlahan ternyata pintu tidak dikunci.Terlihat Winda meringkuk, menenggelamkan kepala diantara kedua kaki, tubuhnya bergetar menangis.Suara berisik dari arah dapur terdengar sangat jelas membuat jantung terasa copot, aku dan Riko bergegas berlari ke dapur tanpa mempedulikan Winda terlebih dahulu.Pecahan piring dan tumpahan air di mana-mana, Seno, Pak Satono, Bu Marni, sedang beradu mulut satu sama lain terlihat baju mereka terkoyak serta rambut awut-awutan.Mereka semua berhenti lalu menatapku. Sudah aku duga pasti karena masalah Chea bukan anak Rahmat sudah pasti itu."Jangan lagi diributkan, nasi sudah jadi bubur, kalian harus menerima kosekuensinya, tak ada gunanya lagi dipermasalahkan, aku datang kemari lagi ada yan

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 40 Kehilangan Barang Bukti

    "Ini pasti dianiaya ini," tutur Riko terus membolak balikan tubuh Chea."Dasar! Ibu nggak guna itu si Winda dan bibinya," kelakar Ririn memghentakkan tangan ."Ini harus lapor ke polisi ini agar bibinya di tangkap," usul Riko lalu kembali ke setir mobil."Nggak usah Rik, itu anak juga nggak apa-apa, sini Rin kasih ini dan beri minum," tolakku karena tak mau jadi masalah lagi seraya memberikan cemilan snack dan air putih.Setelah memakan beberapa roti dan meminum air Chea kembali enteng tak menangis, seperti tadi."Itu anak kelaparan, sudah berapa lama anak itu tak makan, lihat! Makan begitu lahap," tunjukku ke arah Chea yang masih di pangku Ririn.Jelas sekali aku melihat anak ini teringat dengan almarhum anakkku, terlintas dibenakku hatiku tersayat-sayat mengingat perlakuan si bangsat Seno, tunggu pembalasanku Seno."Kamu kenapa, menatap anak ini begitu, Din?" tanya Ririn kepadaku saat mobil mulai berjalan lagi."Tidak ada, cuma aku hanya teringat dengan almarhum, Mona," sahutku lema

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 39. Semua Kelakuan Winda Terbongkar

    "Winda! Ini anakmu, kamu saja yang urus, kami tak sanggup!" teriak Ibu bertubuh gempal itu berlari memberikan Chea yang sedang menangis sesenggukan kepada Winda. "Nggak! Ah! Bibi aja yang urus, aku sih ogah ngurus dia lagi kenapa juga bawa ke sini, sudah bawa pulang sana," usir Winda mendorong tubuh Chea dengan kasar. Tubuh anak kecil itu tampak kurus, dekil tak terurus, kasihan sekali anak itu. Plak! Satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Winda, Ibu yang bertubuh gempal memakai daster bunga menatap bengis, matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. "Apa kau tak sadar ini anak hasil hubunganmu sama, suami Nita hah?! Kau lah yang urus bukan aku!" teriak Ibu itu kepada Winda lalu meletakkan Chea ke depan teras rumah lalu berlenggang melangkah. "Bibi! Tak kau lihat kah?! Dengan keadaanku sekarang, aku tak punya banyak uang untuk beri makan itu anak," kelakar Winda dengan lantang tak mempedulikan Chea menangis terduduk, Ririn yang tak tega segera mengambil anak itu.

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 38, Kuputuskan Membawa Mereka Pulang.

    Status yang dibuat Cantika di media sosial, terpampang di layar ponsel Ririn, seketika itu membuat emosiku, terpancing, hidungku kembang kempis menahan gejolak amarah yang meningkat, bagaimana tidak kutipan status itu, dirinya mengaku bahwa dialah pemilik sawit yang berjumlah 20 hektar itu. "Riko! Belok kiri antar mereka semua kembali ke rumah asal mereka," titahku dengan mata tetap fokus ke depan menahan emosi. Pak Satono dan Mas Seno tiada henti meminta maaf sedangkan Winda, ibu mertuaku, Cantika terdiam membisu. "Barang-barang kami masih di sana, Din," celetuk Mas Seno sembari meringis. "Besok! Biar Riko yang antar ke tempat kalian." Aku tanpa menoleh menatap mereka jijik. "Halah! Hanya buat status macam itu aja marahnya selangit! Kayak nggak boleh aja bikin orang seneng!" Cantika merengut, aku mendelik dari kaca spion di dalam mobil menatap bengis wajahnya. "Kok begitu sih, Din. Mau makan apa kalau kami pulang ke rumah yang lama," tutur Bu Marni tak terima, terlihat waj

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 37. Baru Satu Hari Bekerja Sudah Mengeluh

    "Wih! Enak, banget jadi mereka." Lagi-lagi Cantika merepet yang membuat diriku terbakar api amarah."Loh! Bisa diam nggak?! Sekarang kerja, ambil itu parang, jangan ada yang istirahat sebelum jam sepuluh!" bentakku kepada mereka yang hanya berdiri mematung saja."Aku, di sini saja, ya, Din. Hamil besar nih nggak bisa kerja berat," rengek Winda sembari memegang perutnya yang tampak sudah sangat besar."Nggak ada, kamu bisa nebas sedikit-sedikit pakai parang panjang itu, ibu hamil tua itu harus banyak bergerak agar persalinan nanti lancar," sahutku menolak lalu menunjuk parang yang tergeletak di tanah dilipat di dalam karung, "biaya persalinan itu mahal, Win, siapa yang mau menanggung jikalau tak kerja." Aku memberi penekanan supaya dia sadar diri."Halah! Mas Seno, 'kan ada, Din. Ini darah dagingnya seharusnya dia lah yang membiayai nanti." Winda berkelakar congkak, wajahnya mendongak ke arah Mas Seno yang sedang bersiap memanen sawit."Jangan banyak berkhayal, Win orang susah itu kerj

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 36. Gaji Karyawan Pemanen sawit Yang Fantastis.

    "Nak, Ibu selalu ada untukmu walaupun kau tak pernah diberi kasih sayang ayahmu, tapi Ibu 'kan ada. Apa Bagas tak ingat dengan perlakuan ayahmu dahulu," aku mencoba agar Bagas mengingat kisah masa lalunya yang begitu pahit."Ingat, Bu, tetap Bagas ingat, tapi kenapa dia datang ke rumah ini, Bu?" tanya Bagas berbalik padaku."Biarkan saja mereka di sini, Nak mereka katanya tak mempunyai tempat tinggal," sahutku merangkul kedua bahunya.Terlihat wajah Bagas terlihat ketus tak menjawab ucapanku lagi, ayahku merangkul Bagas hendak membawanya ke depan."Besok, Bagas pergi ke luar negeri lagi, bersamaku, Din." Ayah menoleh ke arahku sebentar.Biarkan saja Bagas pergi ke sana lagi, toh di rumah ini tidak akan membuatnya betah ada setan dalam rumah ini.***"Rin, Dimas, hari ini kita survey ke kebun sawit ku, ya sambil healing buang kotoran," sindirku sembari menoleh ke arah keluarga Mas Seno."Ciah! Ke kebun sawit healing, mending ke mall, ke tempat wisata, percuma banyak duit liburannya di

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 35, Meja Makan Dibuat Berserakan.

    "Din, ambil napas, lalu hembuskan, 'kan aku sudah bilang jangan kau bawa mereka ke sini, jadi runyam, bukan? Mereka itu dasarnya memang tak tahu malu," celetuk Ririn duduk di tepi ranjang di sampingku."Aku membawa, mereka ke sini, memberi mereka pelajaran, Rin agar tak semena-mena denganku lagi, jujur Rin, aku dendam pada mereka,"jawabku berapi-api sembari mencengkram kuat alas kasurku."Dendam, tetapi kau bawa ke sini, tidak ada cara lain, membalaskan sakit hatimu, itu?" tanya Ririn.Baru ingin aku menjawab bunyi suara gaduh dari arah dapur terdengar nyaring, aku dan Ririn bergegas bangkit berlari tergopoh-gopoh.Mataku membulat dengan sempurna, melihat makanan di atas meja makan habis berserakan, piring dan gelas pecah berhamburan ke lantai.Terlihat Bik Nur, memungut pecahan beling di lantai ubin, ayahku menghela napas menyaksikan ini semua.Dimas dan Riko yang baru datang cepat membantu Bik Nur, memungut pecahan gelas dan piring itu."Hati-hati, kacanya, Nur," ujar Riko hati-hati

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 34. Mereka Tak Tahu Malu.

    "Ada apa Bik Nur?" tanyaku juga, ikut panik apa yang sedang terjadi. "Itu, Non, keluarga yang baru itu, tadi teriak-teriak mau makan katanya, sudah aku bilang tunggu, Pak Gibran dan Nyonya Dinda dulu, mereka masih tak peduli." Bik Nur berbicara sembari napasnya terengah-engah. Aku yang mendengar mereka tak sabaran, seperti itu membuatku diriku naik pitam, bergegas aku melangkah sedikit berlari kecil. Telingaku mendengar Bik Nur memanggil ayahku serta Bagas. Benar saja yang dikatakan Bik Nur, mereka antusias menyusun makanan di atas meja, mata mereka berbinar melihat lau-pauk yang terpampang di atas meja, ayahku, Bagas, Riko, Ririn serta Dimas tergopoh-gopoh berlari dari belakang. "Eh! Dinda, kami sudah lapar, Din mau makan," celetuk ibu mertuaku tanpa ada rasa malu sedikit pun. "Maaf, di rumah ini makan malam sehabis shalat maghrib, bukan jam tiga sore, seperti ini," sahutku cepat dengan sorot mata tak suka memandang mereka. "Din! Biarkan saja mereka makan jam segini, mun

  • Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic   Bab, 33. Mencoba Untuk Merayu Ayahku.

    Aku ingin menguji berapa besar kesabaran mereka tinggal di rumah ini."Cantika! Cantika!" Suaraku menggelegar memanggil adik Mas Seno yang masih berada di dalam kamar.Lama daun pintu tak terbuka, terlihat Rahmat mengesot ke lantai ubin keluar dari kamar yang berbeda."Ada apa, Din? Ada yang bisa dibantu?" tanya Rahmat memperlihatkan wajah belas kasihnya kepadaku.Aku yang menatap dirinya merasa ada belas kasihan dengan keadaannya sekarang, tetapi lintasan pikiranku teringat dengan sikap jahat mulutnya membuat belas kasihku pudar."Aku bukan memanggil dirimu, yang aku panggil Cantika," ujarku seraya melipat kedua tangan."Biar aku saja, Din. Mungkin Cantika beristirahat," kilah Rahmat lagi yang membuat diriku semakin jengah."Cantika! Keluar mggak kamu sekarang!!!" Aku tak mempedulikan rengekan Rahmat, suaraku menggelegar pecah memanggil Cantika berulang kali.Knop pintu tampak diputar terlihat Cantika menyembul dari balik pintu, rambutnya acak-acakan, mata terlihat merem melek."Ada

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status