Arnold berpikir jika semua wanita menyukai kejantanan yang besar. Meskipun dilecehkan, mereka pasti suka. Padahal semua itu salah. Angeline murka melihatnya. Dia langsung mendorong Arnold dan langsung berdiri. “Pak Arnold, ini sudah keterlaluan sekali! Aku sudah tidak bisa mentolerirnya!” kata Angeline dengan suara yang bergetar karena emosi. Arnold terkejut dengan reaksi Angeline. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Angeline berani menolaknya. “Kamu marah? Kenapa? Bukankah tadi kamu meminta bantuan dariku?” tanya Arnold dengan kedua alis yang diangkat. Dengan wajah yang merah padam, Angeline berkata, “Ya, tadi memang aku meminta bantuan padamu. Tapi bukan yang seperti ini. Aku lebih memilih untuk menjaga kehormatanku sebagai seorang wanita.” “Cih! Sombong sekali!” Arnold meludah ke samping kanan. Wajahnya terlihat sangat kesal. “Zaman sekarang tidak ada wanita seumurmu yang masih suci. Jadi kamu juga jangan sok suci karena kehormatanmu juga sudah tidak ada. Iya, ‘kan?
Kedatangan Axel di Bank Vittese tepat waktu. Jadi, Lucas bisa langsung meminta Axel untuk membawa Arnold.‘Kamu bawa general manager Bank Vittese ke salah satu markas Veleno yang sepi. Aku ingin membuat perhitungan kepada dia!’ ucap Lucas pada pesan singkat yang dikirimkan kepada Axel.‘Siap laksanakan!’ balas Axel.Angeline menatap Lucas. Sebenarnya dia masih ingin bersama dengan Lucas namun dia tidak bisa melarang Lucas untuk pergi. Dia terlalu naif untuk sekedar mengatakan “jangan pergi”.“Baiklah.”Angeline keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam gedung perusahaan Liquid.Saat Angeline masuk, pandangan dari para karyawan terlihat berbeda. Kejadian tadi pagi masih sangat membekas di kepala mereka.Banyak dari mereka yang merasa kagum dengan Angeline karena bisa melewati masalah dengan baik dan masih bisa terlihat tenang saat ini.Ketika dia tiba di ruangannya, Jeremy langsung datang menemuinya.“Bagaimana kondisimu, Angeline?” tanya Jeremy.Angeline mengangkat kedua bah
Arnold berpikir jika dia menjual nama para jenderal, Axel tidak akan berani untuk macam-macam dengannya. Namun, pikiran itu salah besar.Axel sama sekali tidak takut dengan ancaman Arnold itu.“Panggil saja mereka jika mereka bisa menyelamatkanmu!” tantang balik Axel.Arnold yang sudah merasa menang, terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka jika Axel masih berani dan malah menantangnya.“Apa kamu pikir aku bermain-main? Hah!” Arnold berbicara dengan nada suara yang tinggi.Arnold mengambil ponselnya. Lalu dia menunjukkan ponselnya, di mana pada layar tertera nama seorang jenderal.“Aku akan menghubunginya dan meminta dia datang untuk menangkapmu jika kamu tidak mau bersujud di kakiku!” seru Arnold, kembali mengancam.Ingin sekali Axel langsung membunuh Arnold saat ini juga. Tapi dia ingat dengan perintah yang diberikan oleh Raja Mafia, yang mana dirinya hanya diminta untuk membawa Arnold.Karena situasi semakin ramai, Axel pun memilih untuk langsung melumpuhkan Arnold dan membawanya
Mendengar polisi datang, membuat Arnold merasa lega. Masa depannya yang gelap kini muncul secercah harapan.Aku selamat!Lucas menoleh ke arah Axel dengan tatapan mata bingung.“Sialan! Apa mereka tidak tahu ini adalah tempatku!” geram Axel.“Urus mereka!” seru Lucas.“Siap laksanakan!” Axel pun langsung bergerak ke depan markas.Lucas mengembalikan pandangannya kepada Arnold masih dengan ekspresi wajah sedingin es.Kini Arnold tidak lagi merasa takut kepada Lucas. Bahkan dia mulai berani berbicara angkuh.“Bagaimana? Apakah kamu mau membebaskan aku?” tanya Arnold.Lucas diam saja. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Arnold dan hanya menatap kedua mata pria itu dengan dingin.“Aku sudah katakan kalau aku berteman dengan banyak jenderal polisi. Buktinya sekarang, para polisi datang tanpa aku harus memintanya. Jadi, sebelum terlambat, lepaskan aku,” jaga Arnold dengan wajah yang kini tampak cerah.Lucas tertawa kecil. Dia kemudian mengambil rokok dan menyalakannya.Setelah beberapa hisap
Di dalam mobil, Ryan memarahi Mirko karena sudah bertindak gegabah dengan melawan Organisasi Veleno.“Mirko! Kamu benar-benar sembrono! Kenapa kamu tidak berpikir dulu sebelum berbicara? Mereka bisa dengan mudah membunuhmu. Paham!” omel Ryan.“Aku hanya berbicara sesuai dengan fakta. Lagi pula kita ke sana pun memang untuk membebaskan general manager Bank Vittese, ‘kan?” jawab Mirko.Ryan menarik napas dalam-dalam. Lalu dia mengembuskannya dengan sekali entakan.“Ya, memang seperti itu. Tapi yang sedang berhadapan dengan kita adalah Organisasi Veleno, organisasi mafia terbesar di negara kita. Mereka memiliki banyak koneksi dan pemimpin mereka adalah seorang raja mafia yang sangat segani bahkan di dalam dunia militer,” kata Ryan dengan nada suara yang tinggi. Mirko terdiam. Menurutnya, tidak ada gunanya jika berbicara dengan Ryan. Sebab, dia tidak akan pernah menang.“Lain kali, lebih baik kamu menutup mulutmu daripada membawa bahaya bagi dirimu sendiri maupun orang lain yang ada di s
Di rumah, Rose duduk di hadapan Magdalena yang terlihat angkuh dan tampak tidak nyaman berada di sana.Kondisi rumah yang sederhana membuat wanita itu merasa jijik. Padahal rumah Rose dalam keadaan bersih dan juga tidak terlihat kumuh. Hanya saja memang berada di tengah-tengah perkampungan saja.“Apakah dia masih lama? Aku sudah tidak nyaman berada di sini. Duh … jijik sekali,” kata Magdalena.“Biasanya memerlukan waktu 20 sampai 30 menit dari kantornya sampai ke rumah. Ditunggu saja,” jawab Rose dengan lembut.Magdalena menghela napas panjang. Baginya waktu 20-30 menit adalah waktu yang sangat lama.“Masih lama banget. Akun tidak bisa menunggunya. Aku sudah tidak tahan,” kata Magdalena.Rose bingung harus bagaimana. Sedangkan dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi masalah Magdalena dengan Lucas.“Begini saja, aku minta sertifikat rumah ini saja sebagai jaminan. Jika dia bisa membayar 50 Juta, aku akan kembalikan lagi. Aku tidak bisa berlama-lama berada di sini,” kata Magdalena.Sebe
Keluarga Carter adalah keluarga terbesar ke 5 di Kota Verdansk. Mereka menguasai bisnis hiburan di Kota Verdansk. Mulai dari taman bermain, klub malam hingga memiliki arena tinju.Keluarga Carter disegani oleh keluarga besar lain, bukan hanya karena masuk 5 besar keluarga teratas Kota Verdansk tetapi juga karena dekat dengan kelompok bawah tanah, termasuk para mafia.Angeline memaksakan diri untuk bersikap baik kepada Ashton. Karena kondisi keluarga yang sedang goyang, dia tidak mau menambah imej buruk jika dia bersikap tidak sopan kepada Ashton.Angeline sadar, dengan menjentikan jari saja, Ashton bisa membuat keluarganya bisa hancur lebur.“Senang juga bertemu denganmu, Tuan Ashton!” ucap Angeline.Ashton melambaikan tangannya seraya tersenyum. “Cukup panggil nama saja.”Angeline mengangguk canggung.Mereka kemudian duduk kembali di sofa. Angeline dan Ashton duduk di sofa yang sama, sofa panjang. Namun Angeline menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.“Pak Ashton sedang berkunjung ke
Lucas datang ke restoran milikmu Magdalena untuk menemui wanita itu. Dia ingin mengambil kembali sertifikat rumah yang telah dibawanya.“Di mana Magdalena? Di mana wanita itu?” tanya Lucas tanpa memberikan sikap sopannya.Satpam yang berjaga cukup terkejut dengan Lucas yang datang sambil marah-marah.“Bu Bos belum ke sini hari ini. Mungkin besok dia baru ke sini,” terang satpam.Satpam itu tidak lagi berani kepada Lucas karena kejadian beberapa hari yang lalu. Karena Lucas yang kuat dan juga ternyata kenal dengan Albin, membuat satpam tidak berani macam-macam.Lucas berkacak pinggang. Dia sangat kesal sekali kepada wanita itu.Pasalnya Magdalena telah menyeret ibunya dalam permasalahan ini. Itu yang tidak bisa diterima olehnya.“Kamu punya nomernya? Aku minta. Tenang, aku tidak akan bilang akali aku dapat nomernya darimu,” kata Lucas.Mau tidak mau, satpam itu pun memberikan nomor ponsel Magdalena. Dia benar-benar tidak mau berurusan panjang dengan Lucas karena tidak mau terluka kemba
Matias menelan ludah, menyadari sepenuhnya bahwa nyawa mereka kini dalam ancaman. Dalam situasi seperti ini, harga diri bukan lagi hal yang penting. Satu-satunya hal yang berarti adalah bertahan hidup.“Tuan Lucas, saya... saya minta maaf!” Matias berkata dengan suara bergetar, menundukkan kepala dalam-dalam. “saya telah melakukan kesalahan. Mohon maafkan saya.”Lucas memicingkan matanya, menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. “Maksudmu, kau mengakui bahwa kau telah korupsi?”Matias terdiam. Ia tahu, jawaban ini adalah pertaruhan besar. Jika ia mengaku, ada kemungkinan dia akan langsung dieksekusi. Tapi jika tidak mengaku, ada kemungkinan Lucas tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan pengakuan.Saat Matias ragu-ragu untuk menjawab, Lucas menghela napas. Dalam sekejap, kakinya melayang dan menendang wajah Matias. Tendangan itu tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat tubuh Matias terpelanting beberapa meter ke belakang.“Arrggh!!” Matias menjerit kesakitan. Hidungnya patah, dar
Nero menatap kedua pria yang kini berlutut di hadapan Lucas, wajah mereka penuh ketakutan. Dia bisa melihat jelas bagaimana keringat mengalir di pelipis Matias, sementara Randy tampak mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan mengalihkan pandangan. Namun, tidak ada yang bisa lolos dari tatapan tajam Nero.Lucas. Duduk diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun pria itu sudah menebarkan tekanan yang membuat suasana di ruangan semakin mencekam."Aku tidak mengerti..." Randy akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, suaranya bergetar. "Kenapa kami dibawa ke sini? Apa yang terjadi?"Matias menelan ludah, mencoba mengendalikan emosinya. Dia menoleh ke arah Nero, suaranya sedikit lebih tenang meski tetap dipenuhi ketegangan."Nero, ada apa ini? Jangan karena kau tidak bisa menemukan bukti soal tuduhan korupsi itu, kau bertindak kriminal seperti ini!"Mata Nero menyipit. Dia mendekat, lalu meraih kerah Matias dengan kasar."Berkacalah, Matias! Berhenti bertingkah seolah kau ini orang s
Mobil hitam melaju dengan tenang di jalanan malam yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh pemandangan lahan kosong dan gedung-gedung tua di pinggiran kota. Di dalam mobil, dua pria terikat dengan kasar, duduk di kursi belakang dengan wajah penuh luka dan mata dipenuhi ketakutan.Randy menggeliat, mencoba menggerakkan tangannya yang terikat. "Sial! Kalian pikir kalian ini siapa? Lepaskan aku sekarang juga!"Buuuk!Tinju keras mendarat di pipinya. Kepalanya terlempar ke samping, rasa besi memenuhi mulutnya."Diam," suara berat dari salah satu pria Veleno terdengar dingin. "atau aku buat kau lebih menderita dari ini."Matias menelan ludah, napasnya tersengal saat melihat darah menetes dari bibir Randy. "Ke-kenapa kalian membawa kami? Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami orang penting! Kalian bisa dalam bahaya."Dari jok penumpang depan, Hugo tertawa kecil. Dia melirik ke belakang dengan ekspresi bosan. "Orang penting? Di mata siapa? Kalian ha
Pria itu menekan tombol panggilan dengan tangan gemetar. Suaranya tertahan di tenggorokan, tetapi dia tahu tidak bisa ragu. Jika dia gagal menyampaikan ini, konsekuensinya tidak akan terbayangkan."Tuan," suaranya rendah, berusaha tetap tenang meskipun napasnya tersengal. "Kita punya masalah besar. Verdansk jatuh. Bos Marchetti dikalahkan ... dalam satu serangan."Hening sejenak. Kemudian, suara berat di seberang sana menjawab dengan nada dingin, "Apa yang kau katakan?""Lucas ... dia menghancurkan Marchetti. Dia mengambil alih Verdansk untuk Veleno. Kita ... butuh instruksi."Sementara itu, Lucas dan kelompoknya meninggalkan markas Dominus Noctis. Mereka bergerak cepat, kembali ke sasana Brotherhood. Mobil melaju dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara, tetapi ketegangan masih terasa di udara. Lucas menatap ke luar jendela, ekspresinya datar, tetapi pikirannya masih menganalisis segala sesuatu yang baru saja terjadi.Saat mereka sampai di sasana, Kai langsung berlari ke ruang teng
Marchetti melangkah maju dengan penuh percaya diri. Tatapan matanya tajam, penuh determinasi."Aku adalah pemimpin baru Dominus Noctis di Verdansk," ucapnya dengan nada yang menggema di seluruh ruangan.Julian menatapnya dengan mata menyipit, bibirnya membentuk seringai tipis. "Jadi kamu pemimpinnya? Bagus. Aku tidak perlu repot-repot mencari lagi."Marchetti menyilangkan tangan di dada. "Jika kau datang ke sini saat pemimpin lama masih berkuasa, mungkin kau akan menang. Tapi sekarang berbeda. Aku yang memimpin. Dan aku tidak terkalahkan."Julian tertawa kecil. "Oh? Benarkah?"Dari balik pintu, langkah kaki terdengar. Semua kepala menoleh.Lucas melangkah masuk, tatapan matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Dia berhenti di samping Julian, menatap Marchetti dengan santai namun penuh tekanan."Jadi, kau yang sekarang memimpin Dominus Noctis?" tanya Lucas.Marchetti menatapnya dengan bingung. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Dan jika kau hanya orang biasa, lebih baik tutup
Ketiga pria itu masih menunduk, tubuh mereka sedikit gemetar. Mereka tahu, begitu mereka membawa Lucas ke markas Dominus Noctis, nyawa mereka bisa terancam. Tapi di sisi lain, jika menolak, mereka akan mati di tangan Julian."Kalian sudah mengambil keputusan, bukan?" Lucas bertanya dengan nada datar.Salah satu dari mereka mengangguk cepat. "Ya … kami akan mengantar kalian ke markas."Lucas melangkah ke mobil dengan tenang. Julian menyusul di belakangnya, lalu sebelum masuk, dia menoleh."Lucas, kau sudah memikirkan ini matang-matang?"Lucas menatapnya. "Kenapa? Kamu takut?"Julian mendengus. "Takut? Tidak. Aku hanya ingin memastikan kamu sadar konsekuensinya. Jika kita pergi ke sana, itu berarti kita secara resmi berperang dengan Dominus Noctis."Lucas menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dan tersenyum tipis. "Lalu kenapa? Aku adalah pemimpin Veleno. Aku tidak peduli berapa banyak musuh yang datang. Jika mereka mengancam wilayahku, maka aku akan menghancurkan mereka terlebih dahul
Pemimpin pasukan musuh berdiri tegak. Seolah dia Ingin menunjukkan diri jika dia tidak takut kepada siapapun."Kalian pikir siapa, hah? Aku bukan orang yang bisa kalian takuti begitu saja!" Pemimpin musuh mendengus, melangkah maju dengan mata penuh keyakinan. Tatapannya menyapu tubuh Lucas dan Julian dengan penuh rasa percaya diri."Aku telah melalui lebih banyak pertempuran daripada yang bisa kalian bayangkan," katanya lagi, suaranya tajam. "Jika kalian berani melawanku, bersiaplah untuk mati!"Julian tersenyum tipis, menatap pria itu dengan tatapan yang hampir mengejek. "Lebih baik kalian semua menyerahkan diri sekarang," katanya santai. "kau sudah kehilangan banyak orang. Tidak ada gunanya melawan."Pemimpin musuh itu menggeram, matanya menyala karena amarah. "Serahkan diri? Setelah kalian membunuh anak buahku?”“Ciih! Aku tidak akan pernah melakukannya!" ucapnya dengan angkuh.Julian mengangkat bahu. "Kalau itu keputusanmu, kau juga akan mati sebentar lagi."Pria itu terkekeh, men
"Aku tidak suka ini," gumam Hugo, tatapannya tajam menyapu sekeliling. Lima pria bersenjata berdiri dalam formasi setengah lingkaran, mengawasi mereka seperti pemangsa menunggu mangsanya jatuh ke perangkap.Nero tetap tenang, meskipun pikirannya berpacu cepat. “Kita ulur waktu," bisiknya nyaris tak terdengar. "The Obsidian Blade pasti sudah membaca pesanku. Dia akan datang untuk menolong.”Hugo mengangguk kecil. Dia langsung memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa mengukur waktu.Setelah beberapa saat, Hugo mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi malas. "Hei, aku kesulitan membuka pintunya," katanya, suaranya terdengar santai, seolah situasi ini bukan ancaman serius.Pemimpin kelompok itu,seorang pria bertubuh kekar dengan janggut tebal dan bekas luka di pelipisnya, menyipitkan mata. "Jangan main-main dengan kami!” ucapnya."Aku serius," kata Hugo, memasang ekspresi kesal. "kuncinya macet. Bagiamana aku bisa keluar?”Salah satu pria bertato di leher melangkah maju, menatap H
“Kendalikan dirimu.”Nero menatap Hugo dengan tajam. Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi ada ketegasan yang tak bisa diabaikan.Hugo tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya terus menatap Randy dan Matias yang kini duduk santai di sudut restoran, berbincang seolah dunia sedang berpihak pada mereka.“Kita tidak bisa menyerang mereka sekarang,” lanjut Nero. “itu bukan perintah.”Hugo mengembuskan napas kasar. “Kalau bukan karena perintah dari The Obsidian Blade, mereka sudah mati di tempat ini.”“Dan itulah sebabnya kau harus menahan diri.” Nero mengaduk kopinya perlahan. “kita tunggu.”Hugo mengepalkan tangannya di bawah meja. “Tunggu apa? Sampai mereka menghancurkan semuanya?”Nero tidak menjawab. Matanya masih memperhatikan Randy dan Matias yang kini tidak lagi sendirian. Dua pria bertubuh besar masuk ke restoran, tubuh mereka dipenuhi tato, dari tangan, leher, hingga wajah. Salah satunya bahkan memiliki luka panjang di pipi kanan, memberi kesan bahwa ia bukan orang ya