Alvin merasa ekspresi diam Vera bahkan lebih menarik dari sebelumnya. Jadi, dia terdorong untuk mencicipinya lebih dalam lagi.Ekspresi Vera saat itu terpatri dalam benak Alvin. Setiap kali memikirkannya, Alvin tidak bisa menahan senyumannya.Vera terbelalak tidak percaya. Butuh beberapa saat agar keterkejutan di matanya berubah menjadi kegembiraan.Akhirnya, ketika Alvin melepaskan ciuman itu, Vera mendongak dan mengalungkan lengannya di leher Alvin. Lalu, dia bertanya dengan malu-malu sambil tersenyum."Alvin, dibandingkan dengan Berlin, kamu pasti lebih menyukaiku, 'kan?"Alvin tidak menjawab pertanyaannya. Dia hanya memegang dagu Vera, mengangkat alisnya dan berkata, "Kalau kamu banyak tanya, aku bakal cium kamu lagi."Vera tidak malu-malu. Dia berjinjit dan mencondongkan tubuh ke telinga Alvin, berbisik pelan, "Alvin, aku suka ciumanmu."Napas hangat menerpa telinga Alvin, membuat Alvin sedikit menoleh.Mata dan bibirnya dipenuhi senyuman karena kata-kata Vera.Malam itu, entah si
Robert menendang pintu ruangan dan lampu langsung menyala.Dia menginjak sepatu bot militer dan menaiki tangga, mendekati Alvin selangkah demi selangkah.Tangannya yang menggunakan sarung tangan menekan tombol di kursi depan.Kursi pun berputar perlahan. Robert duduk di kursi dan menatap Alvin."Harusnya kamu sudah bisa menebak kalau akulah yang menjebloskanmu ke penjara."Alvin menarik kembali lamunannya, mendongakkan sorot redupnya untuk menatap Robert dengan dingin."Alan memperlakukanmu dengan baik sejak kamu masih kecil. Dia itu kakakmu. Kenapa kamu membunuhnya?""Siapa pun yang menghalangi jalanku akan mati, terlepas itu kakakku atau bukan. Selain itu, dia bukan kakak kandungku. Jadi, nggak perlu disesalkan."Robert sangat acuh dan tersenyum tipis. Sepertinya di matanya, hidup hanya untuk bersenang-senang."Apa menurutmu dengan membunuh Alan, keluarga kerajaan akan menyerahkan hak warisnya kepadamu?"Mana mungkin keluarga kerajaan membiarkan anak angkat yang tidak memiliki hubung
Melihat ekspresi penyesalan Alvin, Robert merasa sangat bahagia. Dia menyeletuk ringan, kembali memperkeruh suasana yang sudah memanas."Alvin, aku sangat tahu cara menghancurkan hatimu. Jadi setelah kamu keluar dari penjara, aku mengatur sebuah pertunjukan untukmu."Robert bertepuk tangan lagi dan layar beralih ke video lain ....Video itu menunjukkan adegan Vera dan Robert berhubungan seks di tempat tidur, sementara Alvin diikat ke kursi dan dipaksa untuk menonton!Pembuluh darah di punggung tangan Alvin langsung menyembul keluar. Dia mengepalkan tangannya, melangkah maju dan meninju wajah Robert dengan keras.Namun karena tubuhnya dirantai, dia hanya bisa menjambak rambut di dahi Robert, tidak bisa berbuat lebih jauh kepadanya.Dengan mata merahnya, dia menggertakkan gigi dan berteriak pada Robert, "Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu!"Robert mencibir dingin, "Alvin, kalau aku masih jadi tunawisma seperti dulu, akan sangat mudah kalau kamu ingin membunuhku. Sayangnya keberuntu
Robert menarik kembali pandangannya dari video Vera, menoleh dan menatap dingin ke arah Alvin, yang diikat di kursi dan tidak bisa bergerak."Aku menipunya biar dia mau menikah denganku, menipunya biar dia mau tidur denganku. Semua kulakukan karena ingin kamu marah!""Seperti yang aku duga. Kamu tertipu dan mulai menjadi gila. Kamu menyiksa Vera dan mengincarku ....""Saat itu aku tahu kalau kamu gila, tapi itu masih nggak cukup!""Biar bisa bikin kamu benar-benar gila, aku sengaja bawa Vera pergi ....""Saat Vera pergi, kamu benar-benar gila. Aku puas banget melihatmu menjadi gila!""Apalagi saat aku tahu kalau Keluarga Chris membuangmu dan mengangkat keponakan dalam keluarga sebagai ahli waris. Aku benar-benar sangat gembira!""Tapi aku nggak sangka Vera akan memilih untuk meninggal dalam damai ...."Ketika Robert mengucapkan kata-kata terakhir, ekspresi bahagia di wajahnya tiba-tiba hilang."Apa kamu tahu kenapa Vera memilih meninggal dalam damai?"Robert menegakkan tubuh, meraih wa
Hati Alvin terasa sakit saat mendengar ucapan Vera.Rasa sakit yang menyayat hati gagal membuatnya bergegas mendekat dan memeluknya dari belakang."Mereka yang pantas mati nggak pantas hidup di dunia ini."Vera tertegun di tempatnya sambil memegang embrio di tangannya.Agak tidak percaya dengan apa yang dia dengar, dia perlahan berbalik untuk menatapnya.Alvin tidak bisa mengingat ekspresi seperti apa yang dirinya tunjukkan saat itu.Dia mungkin bersikap dingin dan tidak berperasaan, berdiri di dekat Vera dan menatapnya dengan dingin.Bagaimanapun, setelah Vera melihat ekspresinya, keterkejutan di matanya berangsur-angsur berubah menjadi kekecewaan.Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menundukkan kepalanya dan menatap embrio di tangannya dengan bingung.Saat Alvin berjalan menjauh, dia samar-samar bisa mendengar suara Vera dari belakang ...."Ternyata aku pantas mati."Alvin terdiam, berbalik dan melirik Vera yang berdiri di samping tempat sampah dengan wajah pucat.Dia
Gisel melihat Paman Aneh itu sedang terikat pada kursi, dengan keadaan kedua kaki tertembak dan berlumuran darah. Wujud pria itu saat ini benar-benar menakutkan.Gisel buru-buru melompat dari pelukan pengawal dan berlari ke arah Robert sembari menarik-narik bajunya."Ayah, kumohon panggilkan dokter. Biarkan dokter obati kakinya, kumohon Ayah."Gisel menatap wajah Paman Aneh yang sudah memucat dan tubuhnya gemetar. Entah apakah karena ayahnya itu marah pada Alvin atau wajahnya memucat akibat rasa sakit pada lukanya yang tak tertahankan.Namun, yang pasti, Gisel merasa sakit seolah hatinya tersayat melihat Paman Aneh itu menderita.Paman Aneh yang diingat Gisel selalu bersikap dingin, santai dan tidak pernah terlihat tidak berdaya seperti saat ini.Gisel berharap ayahnya bisa melepaskan Paman Aneh dan membiarkan dokter untuk segera merawat Alvin. Kalau terus dibiarkan seperti ini, Paman Aneh itu bisa-bisa mati karena kehabisan darah.Robert menundukkan kepala menatap lembut anak gadisnya
Kalau sampai ayahnya yang turun tangan menembak, Paman Aneh pasti akan berakhir sama seperti pengawal itu. Sekujur tubuhnya pasti akan berlumuran penuh akan darah, kedua matanya tidak akan kembali terbuka, dan selamanya kehilangan kesadarannya.Kalau dia sendiri yang menembak, ada kemungkinan peluru tidak akan keluar dari pistol dan Paman Aneh masih akan berkesempatan untuk hidup.Memikirkan itu, Gisel mengangkat senjata di tangannya dengan mantap dan mulai menarik pelatuk pada pistol dengan tegas ...."Jangan!"George yang berlari dari ruang bawah tanah seketika terkejut hingga berteriak keras."Gisel, kamu nggak boleh bunuh ayah kandungmu!"Namun, sayangnya pelatuk pistol pada tangan Gisel sudah ditembakkan ....Untungnya, tak ada satu pun peluru yang keluar dari pistol tersebut!Gisel yang masih memegang pistol itu menghela napasnya merasa lega.George yang baru saja naik dari ruang bawah tanah juga ikut menghela napasnya lega.Sedangkan pria yang terduduk pada kursi itu, wajahnya t
Pergerakan itu membuat sekujur tubuh Gisel bergetar, perlahan matanya mulai berkaca-kaca dan bergerak menatap pria yang menodongkan pistol ke kepalanya."Ayah, kamu mau membunuhku?""Nggak, Ayah cuman bermain denganmu."Robert meraih tangan Gisel."Gisel, kemarilah. Ayo lanjutkan permainan menembak dengan Ayah."Gisel menggelengkan kepalanya sembari meraih leher Alvin dengan tangan mungilnya.Gisel mengeratkan pelukannya pada tubuh Alvin, seolah menolak terang-terangan tak ingin melanjutkan kegiatan tembak-menembak itu.Melihat itu, tatapan ramah pada mata Robert perlahan memudar."Gisel, kalau kamu jadi nggak nurut sama Ayah. Kalau anak nakal yang nggak nurut akan dihukum loh."Setiap kali omongan itu diucapkan ayahnya, Gisel akan selalu mengingat adegan di mana dia dikurung ayahnya dalam sebuah kamar gelap. Mengingat adegan itu, wajah Gisel berubah pucat.Melihat sosok mungil di pangkuannya mulai bergetar sekujur badan, Alvin tiba-tiba merasakan sakit pada hatinya.Rasa sakit itu ber