Home / Romansa / PENGUASA RAGA / 2. Kelicikan Yujie

Share

2. Kelicikan Yujie

Author: MamGemoy
last update Last Updated: 2022-11-20 22:51:35

Permainan, kata yang disebut Yujie saat ingin mendapat kesenangan. Matanya masih menatap rakus pada sosok wanita di sana. Menelisik tiap jengkal tubuh langsing itu. Seolah matanya bisa menilai apa yang dia lihat walau dari jauh.

Seraya meneguk minumannya, Yujie memikirkan hal yang akan dia lakukan. "Pria seperti apa yang dia mau?" Paras wanita itu cukup cantik, wajar jika dia berselera tinggi. "Cihh, sombong!"

"Kurang tau, wanita itu terlalu rumit," jawab Bob.

Sudut bibir kiri Yujie terangkat. Permainan baru akan segera ia mulai. "Menarik, dia akan jadi milikku malam ini. Berikan aku seperti biasa."

Bob mengangguk, lalu tersenyum kecil. Pria itu sangat tau apa yang akan Yujie lakukan. Lalu Bob menyerahkan botol kecil yang berisi bubuk putih.

Setelah meminum seteguk, kaki Yujie mulai melangkah, menghampiri wanita itu. Tak ketinggalan, dia membawa gelas wiski miliknya.

Wanita pemilih tidak ayal sebuah pajangan berdebu di sudut ruangan, itu yang ada dalam pikiran Yujie. Bermodal polesan lipstik merah di bibir dan bedak sama sekali tidak akan membuatnya tertarik terkecuali ada keuntungan yang akan dia dapatkan.

"Aku heran untuk apa seorang wanita datang ke sini tapi tidak bersenang-senang," ujar Yujie. Tanpa menunggu persetujuan sang pemilik ia mendaratkan bokongnya di samping wanita itu.

Wanita berambut lurus bergelombang memindai Yujie dari atas sampai bawah. Tak ada yang terlewat meski setitik debu di bahu Yujie, entah benar debu atau ketombe yang jatuh. Ah sial, membayangkan saja sudah mengocok perutnya.

"Dan ada urusannya dengan Anda, Tuan?"

Jika dilihat lagi sosok pria di hadapannya. Kebanyakan wanita akan langsung terpesona dengan wajah tampan tersebut, termasuk dirinya. Namun, wanita itu tak ingin tertarik dengan pria manapun. Dia ingin menikmati kesendirian saat ini. Akan tetapi, dia berpikir sekali lagi, sendiri sangat membosankan.

"Tidak, tidak ada." Yujie mengibaskan tangan pelan. "Hanya sayang sekali kalau wanita secantik dirimu malah menutup diri di sini," sambungnya.

Wanita itu hanya berdecak, mengangkat segelas wiski lalu meminumnya hingga tandas. Namun, bagi Yujie itu akan mempermudah keinginannya.

"Wow, kau sangat pemberani, Nona. Tak kusangka wanita yang terlihat anggun bisa sangat … menantang." Yujie sengaja menekan kalimat akhirnya dengan seringaian yang khas.

"Ini hanya segelas wiski, siapa pun bisa meminumnya sampai habis! Apa kau tinggal di hutan selama ini!" tukas sang wanita sarkat. Masih terlihat enggan untuk menanggapi.

Gelak tawa ringan keluar dari bibir Yujie, perempuan berjiwa lelaki itu mencondongkan tubuh ke arah wanita. "Mau bagaimana lagi, selama ini hidupku suram. Tapi sekarang, aku menemukan lenteraku." Sorot matanya begitu hangat saat menatap wanita di depannya.

Wanita tersebut mengernyit, dia membalas tatapan Yujie penuh selidik. Mencari kunci jawaban atas ucapan Yujie yang terkesan ambigu. "Apa maksudmu?"

"Hahaha, tidak ada. Mau bertaruh denganku? Jika kau menang aku akan menjadi pelayanmu. Tapi kalau kau kalah, kau harus mengikuti keinginanku." Yujie menaik turunkan alisnya.

Sejenak tak ada suara dari keduanya, kecuali iringan musik DJ serta gelak tawa dari para manusia setengah waras yang kehilangan kesadaran akibat alkohol.

"Deal." Mereka berjabat tangan.

"Dasar wanita bodoh, kau pikir mudah melawanku," guman Yujie dalam hati.

Lihat saja saat wanita itu lengah dia akan melakukan trik yang selalu dia gunakan untuk menggaet wanita. Jahatkah dia? Tentu saja, karena dia Yujie. Seorang yang licik.

"Biar aku yang tuangkan untukmu, Nona. Anggap saja rasa hormatku." Yujie merebut sebotol wiski dari tangan wanita itu.

Mereka saling beradu pandang, Yujie tetap dengan ekspresinya datar, tak terbaca. Sementara sang wanita tersenyum penuh keyakinan, jika dia mampu mengalahkan Yujie. Keduanya tampaknya tak akan menyerah hingga salah satu dari mereka tumbang.

Mereka berdua masih menikmati seteguk demi teguk wiski. Obrolan ringan mengalir begitu saja, terutama sang wanita—derai tawanya terdengar ringan seakan beban di dadanya perlahan menguap.

Tiba-tiba saja di tengah perbincangan ringan, sang wanita mendadak muntah. Mengeluarkan semua cairan yang masuk ke dalam perutnya. "Oh, shit!" rutuknya kesal.

"Hahaha, kau kalah, Nona. Sayang sekali." Yujie memasang wajah menyesal padahal dalam hati ia bersorak kegirangan.

"Aku akan ambilkan kau air putih. Diam dan tunggu aku di sini, oke!" Yujie berlari kecil ke tempat Bob, dia meminta segelas air. "Mari kita nikmati permainan sesungguhnya, Baby," gumamnya sambil memasukan bubuk putih tak berbau ke dalam air. Dia menyeringai sebelum meninggalkan meja bar.

Bob hanya bisa geleng-geleng kepala. Yujie sungguhlah pria nakal yang bertingkah sesuka hatinya. Private room di sini seakan menjadi saksi bisu banyaknya kelicikan Yujie bersama para wanita yang ditipunya.

Wanita asing tersebut bersandar lemas pada kursi, pening di kepalanya semakin terasa berdenyut dengan hentakan musik yang mulai menggebu. "Sial, seharusnya aku tak melakukan hal gila ini!" makinya.

Yujie menyodorkan segelas air, tetapi wanita itu tak mengindahkannya. Dia terus saja memijit pelipisnya. "Aku tidak mau minum, lelaki sepertimu pasti menaruh sesuatu di dalam air tersebut."

"What? Kau menuduhku. Kau benar-benar gila, Nona! Aku berusaha berbaik hati memberi air ini!" Sial sekali, baru pertama kali dalam misinya untuk menggaet wanita cantik kini terancam gagal.

Wanita tersebut melirik Yujie, rasa ragu memenuhi dadanya. Parno akan kejadian tempo dulu yang sudah menghancurkan harga diri. Namun, melihat dari sisi lain, dia juga merasa butuh segelas air dari Yujie. "Kemarikan!"

Yujie memutar bola matanya malas, berpura-pura kesal sambil menyerahkan segelas air. "Lain kali jangan terlalu curiga pada orang, Nona. Itu tidak baik."

"Hemm."

***

Saat ini, Yujie maupun si wanita telah berada di private room bar tersebut. Wanita yang tanpa dia kenali namanya, telah terikat kedua pergelangan tangan pada tali. Yujie memang tidak pernah mau mengenal siapa wanita yang dia jerat. Dia akan membuat wanita-wanita itu menjauh dari dirinya. Jika mereka tidak ada yang mau menjauh, Yujie yang akan menjauh. Mencari kesenangan di tempat yang berbeda adalah kebiasaannya.

Tubuh si wanita terlihat menggeliat di atas ranjang. Matanya merah, menatap nanar pada Yujie yang berada di hadapannya. Wajahnya pun memerah, tubuhnya terasa sangat panas. Mulutnya yang terbuka serta mengeluarkan suara erotis, mampu menggetarkan hasrat lelaki yang mendengarkan.

"Tolong aku … panas!"

Tali yang mengikat tangan wanita itu, bergerak seiring gerakan tubuhnya yang meliuk-liuk. Kakinya mencoba menggapai Yujie, terus berusaha agar segera disentuh.

"Sabarlah, Sayang. Aku pasti akan memuaskanmu," ucap Yujie dengan seringai yang menjijikkan.

"Kau … sentuh aku!" Wanita itu telah memohon berkali-kali. "Cepatlah!" Suaranya telah di ujung tenggorokan, nyaris terdengar berbisik. Dia mendesah merasakan gejolak yang kian menyakitinya. Jika tidak dituntaskan segera, akan menyebabkan kerusakan pada tubuhnya.

Yujie yang masih berdiri memandangi si wanita. Tersenyum menikmati bagaimana wanita itu terlihat tersiksa karena ulahnya. Obat yang tadi dimasukkan ke dalam minuman. Mampu membuat reaksi yang luar biasa, bahkan bisa berhalusinasi.

"Wanita yang jatuh ke tanganku, akan berakhir menyakitkan!" Seringai Yujie tampak menakutkan.

"Siapa namamu tampan, berikan cintamu padaku malam ini, please!"

"Kamu tidak perlu tau siapa aku, nikmati saja malam ini, Baby."

"Baiklah, setidaknya kamu harus tau aku. Aku Marta, namaku Marta … sebutkanlah namaku dalam permainan kita."

"Baiklah, Marta … kamu sudah siap? Tunggulah sebentar lagi."

"Sayang, aku sudah tidak tahan!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
lovelypurple
Asli ceritanya bikin penasaran. Cocok dibaca buat temen bersantai. Semangat ya, author!
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • PENGUASA RAGA   3. Tidak punya hati

    Yujie membiarkan rintihan wanita itu. Dia masih berdiri dengan bersedekap. Terus memandangi, menikmati kesakitan Marta atas perbuatannya. Pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Yujie. Marta terlihat sangat menderita, tubuhnya seperti sudah tidak bisa dikendalikan. Tali yang mengikat pergelangan tangan, mulai menggores kulit cantiknya. Hingga waktunya sudah tiba, Yujie melangkahkan kaki ke arah pintu. "It's time," gumamnya. "Lakukan tugasmu!" Perintah Yujie pada seorang pria yang telah menunggu di depan pintu."Baik, Bos.""Namanya Marta, dia ingin dipanggil ketika dipuaskan," ucap Yujie dingin.Pria yang baru saja masuk kedalam kamar itu pun tersenyum. Tentu saja itu hal yang paling dia inginkan. "Apa alasannya kali ini, Bos?" tanya Pria itu.Yujie selalu punya alasan yang berbeda setiap kali memutuskan untuk mencari mangsa. Banyak pria di bar ini yang akan dia beri kesempatan untuk bersenang-senang. "Wanita itu pemilih, aku hanya muak dengannya.""Anda selalu nakal seperti biasa

    Last Updated : 2022-11-21
  • PENGUASA RAGA   4. CEO baru

    Hampir saja Jiena terjerembab, ditambah dengan kepalanya yang masih pusing, sehingga tubuhnya tidak stabil. Untung saja pria itu dengan sigap menangkap Jiena, tepat di pinggangnya. Walau pemandangan itu terlihat agak aneh, sampai membuat gadis apoteker menganga, tapi pinggul Jiena selamat dari benturan lantai. "Maaf, saya tidak sengaja," kata Jiena setelah berdiri seimbang. Dia mendongak, tapi tak melihat dengan jelas wajah pria itu. Jiena lupa menggunakan kacamata, dia menyipit."Nggak apa-apa? Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu. Sekelebatan dia merasa indra penciumannya terusik, nyaman.Jiena tak bisa melihat raut wajah pria itu, tapi dia yakin, pria itu bisa maklum. "Aku baik, terima kasih." Jiena menyingkirkan tangan pria itu dari pinggangnya tanpa ragu.Pria itu tersentak dan mundur selangkah. "Ah iya, maaf.""Iya, tidak masalah. Saya permisi." Tanpa berkata apa-apa lagi Jiena berlalu pergi. Tanpa dia tau, si pria tersenyum melihat kepergiannya. "Mas …." Gadis apoteker memang

    Last Updated : 2022-11-21
  • PENGUASA RAGA   5. Penasaran

    Para karyawan tampak berbisik-bisik. Hal itu membuat Yudi memasang wajah sangar. Dia menarik napas panjang, menghentikan kebisingan."Perhatian semua!" Suara bariton Yudistira membuat semua terdiam."Huff … akhirnya tenang juga. Saya tau saya ganteng. Tidak perlu bicara di belakang saya. Bilang aja di depan saya. Saya paling suka orang yang jujur. Hahaha …." Ucapan sang bos baru, terdengar sangat percaya diri.Karyawan yang terdiam menganga seketika. Ternyata bos mereka sangat percaya diri. Sudah di level narsis tingkat tinggi sepertinya. Sebagian ada yang kagum. Mata mereka terlihat berbinar memandangi pesona si bos baru. Sebagian lagi ada yang merasa itu lucu. Sehingga tanpa sadar tersenyum geli. Ada juga yang diam tanpa ekspresi apapun, termasuk Jiena.Si bos malah senang melihat respon semua karyawan. Senyuman manis tak pernah pudar dari bibirnya yang kemerahan. Setelah menjeda sejenak, dia melanjutkan ucapannya."Selamat pagi karyawan semuanya," sapa pria berbadan tegap itu denga

    Last Updated : 2022-11-21
  • PENGUASA RAGA   6. Lift

    "Jie, waktunya makan siang, yuk!"Tepukan pada bahu, membuat Jiena tersentak seketika. Tubuh dan pikiran terasa tidak pada tempatnya dari pagi tadi. Efek dari minuman keras yang Yujie konsumsi secara berlebihan. Obat penghilang pengar yang dia minum tadi pun, tidak banyak membantu. Jiena benar-benar tidak bisa fokus pada pekerjaan.Met menyadari itu, dia yang berdiri di sebelah Jiena mengamati lebih dekat. "Kamu kenapa, Jie? Sakit?" Kedua belah pipi Jiena ditangkupnya. "Muka lo pucet banget, Jie." Hal itu membuat Jiena sedikit gugup, lalu segera menepis kedua tangan Met. "Gue nggak apa-apa, cuma lelah aja. Lo pergi makan aja sana, gue mau pesan delivery aja," ucapnya seraya memalingkan wajah."Tapi lo pucet banget, sebaiknya lo ke klinik biar diperiksa dokter." Memet memberi saran."Nggak perlu, cuma pusing dikit aja. Abis makan nanti gue minum obat." Jiena berucap dengan wajah datar seperti biasa. Dia pikir juga hanya pusing sedikit tidak akan ada masalah."Lo yakin?" Jiena menjawab

    Last Updated : 2023-01-03
  • PENGUASA RAGA   7. Bocah laki-laki

    “Bukakan pintunya, cepat!”Yudhistira yang mendapat perintah langsung membukan pintu ruang kantor sang atasan. Sekilas dia melirik wajah Haikal yang terlihat tenang, tapi sudah tampak gurat kecemasan semejak di lift. Wajar saja jika si asisten akan berpikir bahwa tindakan Haikal sangat berlebihan. Terlebih lagi hanya untuk karyawan yang baru hari ini dia kenal. Bos-nya itu bahkan melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Dengan kaki panjang itu tak akan butuh waktu lama untuk mencapai depan pintu ruangan kerjanya.“Aku akan membaringkannya.” Haikal menuju sofa hitam panjang berbahan kulit di ruangannya.Yudhistira gegas menata bantal duduk agar bisa digunakan Jiena untuk berbaring. “Sudah, Bos.” Dia memundurkan tubuh untuk memberi sang atasan ruang gerak.Tubuh Jiena dibaringkan secara perlahan. “Badannya kecil, tapi bugar,” gumam Haikal seraya melatakkan perlahan kepala wanita itu di bantal. Tanpa disadari dia telah terpesona dengan kulit putih Jiena yang sangat dekat di pandangannya

    Last Updated : 2024-03-07
  • PENGUASA RAGA   8. Perhatian Haikal

    “Maaf, Pak ... saya makan sendiri saja.”Sedikit ragu wanita itu menolak, lalu mengulurkan tangan meminta sendok yang diarahkan padanya. Rasanya kurang pantas ketika dia menerima perlakuan sang atasan seperti ini. Terlebih lagi dia baru saja mengenal atasan barunya itu.“Kenapa? Keberatan saya suapin?”“Bukan gitu, Pak. Tapi ....”Dengan santainya Haikal bertanya, tanpa memahami secanggung apa Jiena saat ini. Entah apa yang membuat pria itu bersikap baik seperti ini. Semua terasa tidak biasa, bahkan jika sekretarisnya ada, juga akan merasa heran dengan sikapnya. Terutama bagi Jiena yang pastinya lebih binggung. Jelas wanita itu juga merasa sungkan, sampai dia berpikir ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu.“Se-sebaiknya saya kembali ke ruangan saya.”“Hmm ... oke, oke.” Haikal krmudian baru sadar akan penolakan wanita yang di matanya adalah seorang laki-laki. Pria itu pun mengalah dan meletakkan sendok di tangannya. Lalu berdiri dan berjalan ke mini dispenser mengambil air minum.S

    Last Updated : 2024-05-30
  • PENGUASA RAGA   9. Mengambil kesempatan

    Jiena duduk di antara dua pria yang saling berhadapan, seakan bertanya sendiri ‘siapa dia’. Raut wajah keduanya dilihat bergantian, situasinya terasa aneh. Tidak ada satu pun yang berbicara. Jiena kemudian berdeham, memecah suasana dan keduanya menoleh padanya bersamaan.Lingga pun buka suara. “Jie, ayo makan. Ini tomyam dari resto kesukaan kamu.” dia menggeser mangkuk ke depan sang adik. Tersenyum setelah mengubah cara bicaranya.Sang kakak tiba-tiba bersikap manis, membuat kedua alis wanita itu tertaut. Dia hanya bisa tersenyum canggung karena sikap aneh Lingga di depan atasannya. Lalu dilihat tatapan dingin Haikal pada sang kakak, sedangkan Lingga masih tetap santai. Sekarang keduanya terlihat sama-sama bersikap anehnya.“Jie, saya bawa sup daging. Ini bagus buat kesehatan kamu,” ucap Haikal tidak mau kalah. Dia sepertinya juga ingin menunjukkan perhatian.Wadah sup bawaannya dikeluarkan dari kantong plastik, lalu membuka tutup dan menggeser ke hadapan Jiena. Aroma sup yang hangat

    Last Updated : 2025-03-08
  • PENGUASA RAGA   10. Dia bangun?

    “Jie? Seberapa cepat kamu mengemudi?” Pertanyaan pertama yang Haikal ajukan saat wanita itu hendak turun dari motor besarnya.Wanita itu tidak segera menjawab, dia segera turun setelah menerima helm pria yang dia bonceng. Ini sudah terlambat, klien akan semakin kecewa jika masih mengulur waktu. Studio juga akan digunakan oleh tim lain, jadi mereka harus menyelesaikan proses syuting dengan cepat.“Tidak ada waktu, Pak. Nanti saja saya jawab.” Jiena lalu memberi isyarat pada model yang dia jemput untuk segera masuk. “Permisi, Pak Haikal. Klien sudah menunggu,” pamit Jiena segera berlalu pergi. Haikal hanya terdiam merasa terabaikan.Sebelum melangkah masuk, Jiena melempar kunci motornya pada satpam yang berjaga di pintu. Dengan memberi isyarat pada sang satpam untuk membantunya memindahkan motor di tempat parkir.“Wow … itu benar-benar keren,” seru pria yang berada di sampingnya. “Bro, bisa bawa aku naik motormu lagi lain kali?” tanya pria itu sambil menopang lengannya di bahu Jiena.Ji

    Last Updated : 2025-03-14

Latest chapter

  • PENGUASA RAGA   11. Hidup sendiri, cukup baik

    Keringat dingin mulai muncul dari pori-pori wajah Jiena. Suara di pikirannya mengganggu, membuatnya cemas hingga sesak napas. Tak ingin hal yang ditakutkan terjadi. Yujie mampu melakukan apa saja yang dia mau. Meski sulit, Jiena berusaha mengendalikan diri.Suara ketukan pintu terus terdengar, diiringi seruan sang kakak yang terus memanggil namanya. Dia enggan menghampiri, tapi jika dibiarkan Lingga akan terus membuat keributan.“Tidak! Jangan sekarang!” Jiena memberi peringatan. “Kakakku tidak terlibat!” Wanita itu berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin.“Terlibat atau tidak. dia akan mulai menggali kuburnya sendiri.” Suara Yujie di pikiran Jiena terus mengintimidasi.“Katakan … apa mau kamu. Jangan ganggu kakakku!” Jiena menyentak, menopang kedua telapak tangannya pada cermin. Benda yang memantulkan dirinya itu sedikit bergetar.“Mauku? Kamu jelas berniat menyingkirkanku sekali lagi. Seharusnya kamu tahu apa yang aku mau. Kamu pikir aku akan membiarkan?”“Aku tidak akan mela

  • PENGUASA RAGA   10. Dia bangun?

    “Jie? Seberapa cepat kamu mengemudi?” Pertanyaan pertama yang Haikal ajukan saat wanita itu hendak turun dari motor besarnya.Wanita itu tidak segera menjawab, dia segera turun setelah menerima helm pria yang dia bonceng. Ini sudah terlambat, klien akan semakin kecewa jika masih mengulur waktu. Studio juga akan digunakan oleh tim lain, jadi mereka harus menyelesaikan proses syuting dengan cepat.“Tidak ada waktu, Pak. Nanti saja saya jawab.” Jiena lalu memberi isyarat pada model yang dia jemput untuk segera masuk. “Permisi, Pak Haikal. Klien sudah menunggu,” pamit Jiena segera berlalu pergi. Haikal hanya terdiam merasa terabaikan.Sebelum melangkah masuk, Jiena melempar kunci motornya pada satpam yang berjaga di pintu. Dengan memberi isyarat pada sang satpam untuk membantunya memindahkan motor di tempat parkir.“Wow … itu benar-benar keren,” seru pria yang berada di sampingnya. “Bro, bisa bawa aku naik motormu lagi lain kali?” tanya pria itu sambil menopang lengannya di bahu Jiena.Ji

  • PENGUASA RAGA   9. Mengambil kesempatan

    Jiena duduk di antara dua pria yang saling berhadapan, seakan bertanya sendiri ‘siapa dia’. Raut wajah keduanya dilihat bergantian, situasinya terasa aneh. Tidak ada satu pun yang berbicara. Jiena kemudian berdeham, memecah suasana dan keduanya menoleh padanya bersamaan.Lingga pun buka suara. “Jie, ayo makan. Ini tomyam dari resto kesukaan kamu.” dia menggeser mangkuk ke depan sang adik. Tersenyum setelah mengubah cara bicaranya.Sang kakak tiba-tiba bersikap manis, membuat kedua alis wanita itu tertaut. Dia hanya bisa tersenyum canggung karena sikap aneh Lingga di depan atasannya. Lalu dilihat tatapan dingin Haikal pada sang kakak, sedangkan Lingga masih tetap santai. Sekarang keduanya terlihat sama-sama bersikap anehnya.“Jie, saya bawa sup daging. Ini bagus buat kesehatan kamu,” ucap Haikal tidak mau kalah. Dia sepertinya juga ingin menunjukkan perhatian.Wadah sup bawaannya dikeluarkan dari kantong plastik, lalu membuka tutup dan menggeser ke hadapan Jiena. Aroma sup yang hangat

  • PENGUASA RAGA   8. Perhatian Haikal

    “Maaf, Pak ... saya makan sendiri saja.”Sedikit ragu wanita itu menolak, lalu mengulurkan tangan meminta sendok yang diarahkan padanya. Rasanya kurang pantas ketika dia menerima perlakuan sang atasan seperti ini. Terlebih lagi dia baru saja mengenal atasan barunya itu.“Kenapa? Keberatan saya suapin?”“Bukan gitu, Pak. Tapi ....”Dengan santainya Haikal bertanya, tanpa memahami secanggung apa Jiena saat ini. Entah apa yang membuat pria itu bersikap baik seperti ini. Semua terasa tidak biasa, bahkan jika sekretarisnya ada, juga akan merasa heran dengan sikapnya. Terutama bagi Jiena yang pastinya lebih binggung. Jelas wanita itu juga merasa sungkan, sampai dia berpikir ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu.“Se-sebaiknya saya kembali ke ruangan saya.”“Hmm ... oke, oke.” Haikal krmudian baru sadar akan penolakan wanita yang di matanya adalah seorang laki-laki. Pria itu pun mengalah dan meletakkan sendok di tangannya. Lalu berdiri dan berjalan ke mini dispenser mengambil air minum.S

  • PENGUASA RAGA   7. Bocah laki-laki

    “Bukakan pintunya, cepat!”Yudhistira yang mendapat perintah langsung membukan pintu ruang kantor sang atasan. Sekilas dia melirik wajah Haikal yang terlihat tenang, tapi sudah tampak gurat kecemasan semejak di lift. Wajar saja jika si asisten akan berpikir bahwa tindakan Haikal sangat berlebihan. Terlebih lagi hanya untuk karyawan yang baru hari ini dia kenal. Bos-nya itu bahkan melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Dengan kaki panjang itu tak akan butuh waktu lama untuk mencapai depan pintu ruangan kerjanya.“Aku akan membaringkannya.” Haikal menuju sofa hitam panjang berbahan kulit di ruangannya.Yudhistira gegas menata bantal duduk agar bisa digunakan Jiena untuk berbaring. “Sudah, Bos.” Dia memundurkan tubuh untuk memberi sang atasan ruang gerak.Tubuh Jiena dibaringkan secara perlahan. “Badannya kecil, tapi bugar,” gumam Haikal seraya melatakkan perlahan kepala wanita itu di bantal. Tanpa disadari dia telah terpesona dengan kulit putih Jiena yang sangat dekat di pandangannya

  • PENGUASA RAGA   6. Lift

    "Jie, waktunya makan siang, yuk!"Tepukan pada bahu, membuat Jiena tersentak seketika. Tubuh dan pikiran terasa tidak pada tempatnya dari pagi tadi. Efek dari minuman keras yang Yujie konsumsi secara berlebihan. Obat penghilang pengar yang dia minum tadi pun, tidak banyak membantu. Jiena benar-benar tidak bisa fokus pada pekerjaan.Met menyadari itu, dia yang berdiri di sebelah Jiena mengamati lebih dekat. "Kamu kenapa, Jie? Sakit?" Kedua belah pipi Jiena ditangkupnya. "Muka lo pucet banget, Jie." Hal itu membuat Jiena sedikit gugup, lalu segera menepis kedua tangan Met. "Gue nggak apa-apa, cuma lelah aja. Lo pergi makan aja sana, gue mau pesan delivery aja," ucapnya seraya memalingkan wajah."Tapi lo pucet banget, sebaiknya lo ke klinik biar diperiksa dokter." Memet memberi saran."Nggak perlu, cuma pusing dikit aja. Abis makan nanti gue minum obat." Jiena berucap dengan wajah datar seperti biasa. Dia pikir juga hanya pusing sedikit tidak akan ada masalah."Lo yakin?" Jiena menjawab

  • PENGUASA RAGA   5. Penasaran

    Para karyawan tampak berbisik-bisik. Hal itu membuat Yudi memasang wajah sangar. Dia menarik napas panjang, menghentikan kebisingan."Perhatian semua!" Suara bariton Yudistira membuat semua terdiam."Huff … akhirnya tenang juga. Saya tau saya ganteng. Tidak perlu bicara di belakang saya. Bilang aja di depan saya. Saya paling suka orang yang jujur. Hahaha …." Ucapan sang bos baru, terdengar sangat percaya diri.Karyawan yang terdiam menganga seketika. Ternyata bos mereka sangat percaya diri. Sudah di level narsis tingkat tinggi sepertinya. Sebagian ada yang kagum. Mata mereka terlihat berbinar memandangi pesona si bos baru. Sebagian lagi ada yang merasa itu lucu. Sehingga tanpa sadar tersenyum geli. Ada juga yang diam tanpa ekspresi apapun, termasuk Jiena.Si bos malah senang melihat respon semua karyawan. Senyuman manis tak pernah pudar dari bibirnya yang kemerahan. Setelah menjeda sejenak, dia melanjutkan ucapannya."Selamat pagi karyawan semuanya," sapa pria berbadan tegap itu denga

  • PENGUASA RAGA   4. CEO baru

    Hampir saja Jiena terjerembab, ditambah dengan kepalanya yang masih pusing, sehingga tubuhnya tidak stabil. Untung saja pria itu dengan sigap menangkap Jiena, tepat di pinggangnya. Walau pemandangan itu terlihat agak aneh, sampai membuat gadis apoteker menganga, tapi pinggul Jiena selamat dari benturan lantai. "Maaf, saya tidak sengaja," kata Jiena setelah berdiri seimbang. Dia mendongak, tapi tak melihat dengan jelas wajah pria itu. Jiena lupa menggunakan kacamata, dia menyipit."Nggak apa-apa? Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu. Sekelebatan dia merasa indra penciumannya terusik, nyaman.Jiena tak bisa melihat raut wajah pria itu, tapi dia yakin, pria itu bisa maklum. "Aku baik, terima kasih." Jiena menyingkirkan tangan pria itu dari pinggangnya tanpa ragu.Pria itu tersentak dan mundur selangkah. "Ah iya, maaf.""Iya, tidak masalah. Saya permisi." Tanpa berkata apa-apa lagi Jiena berlalu pergi. Tanpa dia tau, si pria tersenyum melihat kepergiannya. "Mas …." Gadis apoteker memang

  • PENGUASA RAGA   3. Tidak punya hati

    Yujie membiarkan rintihan wanita itu. Dia masih berdiri dengan bersedekap. Terus memandangi, menikmati kesakitan Marta atas perbuatannya. Pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Yujie. Marta terlihat sangat menderita, tubuhnya seperti sudah tidak bisa dikendalikan. Tali yang mengikat pergelangan tangan, mulai menggores kulit cantiknya. Hingga waktunya sudah tiba, Yujie melangkahkan kaki ke arah pintu. "It's time," gumamnya. "Lakukan tugasmu!" Perintah Yujie pada seorang pria yang telah menunggu di depan pintu."Baik, Bos.""Namanya Marta, dia ingin dipanggil ketika dipuaskan," ucap Yujie dingin.Pria yang baru saja masuk kedalam kamar itu pun tersenyum. Tentu saja itu hal yang paling dia inginkan. "Apa alasannya kali ini, Bos?" tanya Pria itu.Yujie selalu punya alasan yang berbeda setiap kali memutuskan untuk mencari mangsa. Banyak pria di bar ini yang akan dia beri kesempatan untuk bersenang-senang. "Wanita itu pemilih, aku hanya muak dengannya.""Anda selalu nakal seperti biasa

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status