Yujie membiarkan rintihan wanita itu. Dia masih berdiri dengan bersedekap. Terus memandangi, menikmati kesakitan Marta atas perbuatannya. Pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Yujie. Marta terlihat sangat menderita, tubuhnya seperti sudah tidak bisa dikendalikan. Tali yang mengikat pergelangan tangan, mulai menggores kulit cantiknya.
Hingga waktunya sudah tiba, Yujie melangkahkan kaki ke arah pintu. "It's time," gumamnya. "Lakukan tugasmu!" Perintah Yujie pada seorang pria yang telah menunggu di depan pintu."Baik, Bos.""Namanya Marta, dia ingin dipanggil ketika dipuaskan," ucap Yujie dingin.Pria yang baru saja masuk kedalam kamar itu pun tersenyum. Tentu saja itu hal yang paling dia inginkan. "Apa alasannya kali ini, Bos?" tanya Pria itu.Yujie selalu punya alasan yang berbeda setiap kali memutuskan untuk mencari mangsa. Banyak pria di bar ini yang akan dia beri kesempatan untuk bersenang-senang."Wanita itu pemilih, aku hanya muak dengannya.""Anda selalu nakal seperti biasa, Bos.""Aku nakal, kamu juga menikmatinya bukan?""Hehe, benar, Bos. Aku berterima kasih.""Ya, sudah, lakukan saja. Ingat, pergi sebelum wanita itu sadar.""Siap, Bos."Yujie menoleh ke arah tempat tidur sejenak sebelum meninggalkan wanita itu. Marta menatap nanar ke arahnya. Masih dengan racauan yang semakin tak karuan. Obat telah mempengaruhi hingga Marta kehilangan kendali. Dia sudah mulai berhalusinasi. Ketika dia sadar nantinya, maka hal terakhirlah yang akan dia ingat.Pria yang ditugaskan oleh Yujie, mulai mendekati Marta. Yujie berbalik dengan rasa puas telah mengerjai wanita itu."Kau sudah selesai?" tanya Bob saat Yujie kembali ke meja bar."Sudah, seperti biasa.""Kau benar-benar pria brengsek, Yu. Kadang aku berpikir, apa kau tidak punya hati sama sekali? Setelah kau puas, kau serahkan setiap wanita yang kau jebak pada pria lain."Bob tidak pernah ingin tau apa yang telah Yujie lakukan pada mangsanya. Sebagai seorang pria yang bekerja di bar, dia sudah yakin, Yujie pasti bertingkah seperti pria brengsek lainnya."Apakah orang sepertiku harus punya hati, Bob? Apakah bersenang-senang harus dengan hati?" Tawa renyah terdengar dari mulut Yujie.Bob hanya menggeleng mendengar jawaban Yujie. Mereka sudah saling mengenal selamat empat tahun. Bob sangat tau bagaimana tindak tanduk Yujie selama ini. Hanya satu yang Bob tidak tau, identitas Yujie yang sebenarnya. Bagaimana jika dia tau kalau pria tampan, gagah dan nakal itu adalah seorang wanita? Bob pasti akan menganga dengan kenyataan itu."Masih ingin minum, Yu?" tanya Bob kemudian. Membahas tentang kenakalan Yujie tak akan pernah selesai."Tidak usah, yang tadi sudah cukup banyak.""Tumben, biasanya habis hingga lima botol.""Aku tidak ingin tidur malam ini. Kalau mabuk, aku sulit bangun lagi."Bob mengernyitkan dahinya mendengar hal itu. Kenapa bisa sulit bangun? Kalau tidur pasti akan bangun bukan?Kebingungan Bob disadari oleh Yujie. "Ahh, sudahlah bukan apa-apa. Kenapa kau memikirkan perkataanku?" Yujie berdecak. "Berikan aku yang ringan saja. Aku sedang menunggu Imanuel, kau melihatnya?""Dia sedang ada transaksi di pelabuhan. Kau cari saja dia di sana," ucap Bob sambil menyerahkan minuman racikannya.Yujie meminumnya perlahan. Mengurangi rasa mabuk akibat taruhan dengan Marta tadi. "Tidak, sebaiknya aku ke jalanan saja. Aku mau bertaruh malam ini."Bob pun teringat akan sesuatu. "Kau mau balapan? Ah iya, beberapa hari yang lalu Kenzi mencarimu. Ada yang menantangmu katanya.""Kebetulan, aku sedang bosan. Aku mau lihat kemampuan orang itu." Yujie menyesap sisa minumannya "Aku akan menghubungi Kenzi. Aku pergi, Bob.""Oke, baiklah."Yujie memang pantas disebut sebagai seorang badboy. Dia bebas bergaul dengan siapa saja. Dikenal sebagai pria yang berhati dingin. Meski jiwanya terperangkap dalam tubuh wanita saat ini."Tolong hentikan, Yu. Balapan itu sangat berbahaya." Tiba-tiba suara Jiena terdengar dari dalam. Yujie menghentikan sejenak niat menyalakan motor sport miliknya."Kamu terbangun saudariku?" Entah panggilan itu berupa sindiran atau memang menganggap Jiena sebagai saudarinya. Dia bahkan tidak peduli dengan keberadaan Jiena saat ini."Kamu akan mempertaruhkan nyawa lagi. Kamu sadar, kita akan sama-sama mati jika terjadi kecelakaan." Suara Jiena terdengar lemah."Kenapa, kau takut? Bukankah selama ini aku baik-baik saja. Kau tau, aku sangat handal dalam hal ini. Diamlah, jangan ganggu kesenanganku!"Percuma, tak ada satupun usaha Jiena yang berhasil. Dia lelah hingga tak sanggup lagi untuk bangun. Seolah tenaganya juga terkuras habis saat Yujie menguasai tubuhnya.***Ketika Jiena sadar, sudah tiga hari berlalu. Dia melenguh merasakan sakit di kepala dan sekujur tubuhnya. Matanya mengerjap sesaat, mengedarkan ke segala penjuru ruangan apartemen kecil itu. Botol minuman berserakan di mana-mana. Sampah makanan ringan dan laptop dalam keadaan standby."Dia melakukannya lagi? Dasar perampok!" kesal Jiena bermonolog, dia mengeram karena perbuatan Yujie."Berapa banyak yang dia rampok kali ini? Astaga, 200 juta?" Jiena melotot, tak percaya dengan nominal angka yang tertera di layar. "Gajiku saja tak ada seperempat dari jumlah ini."Tatapan Jiena beralih pada secarik kertas yang terselip di bawah laptopnya.'Aku tebak, kau pasti marah, kan? Haha … aku cukup puas membayangkan ekspresi wajahmu. Ayolah, setidaknya aku tidak menggunakan uang dari hasil kerja konyol yang kau lakukan. Aku berfoya-foya dengan uangku sendiri. Bye my sister, I want to rest.'"Uang yang kau hasilkan dari membobol rekening orang lain, cihh!" Kertas pesan dari Yujie dia remuk tak berbentuk.Jiena beranjak dari tidurnya. Waktunya pergi bekerja sekarang. Namun, apartemennya seperti kapal pecah, terpaksa dia membersihkan kekacauan ini terlebih dahulu.Jiena hanya bisa pasrah dengan keadaan. Hidup sendiri dan mengandalkan diri sendiri. Tanpa saudara atau teman di sampingnya. Dia hanya perlu bertahan hingga menemukan jalan keluar. Suatu saat, Jiena akan melenyapkan Yujie dari hidupnya.Setelah selesai bersiap, Jiena melangkahkan kaki keluar apartemen. Dia harus mampir ke apotik sebelum berangkat ke kantor. Entah berapa botol yang Yujie minum semalam, sehingga perut Jiena terasa tidak nyaman. Untung saja apotik dua empat jam dekat dari kawasan apartemennya, Jiena hanya perlu berjalan kaki lima menit.Jiena bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Sudah lebih tiga tahun Jiena bekerja di sana, dan dia merasa sangat nyaman. Lingkungan kerja yang tak mempermasalahkan siapa dirinya. Tak ada yang mempertanyakan identitasnya, walau banyak yang ragu. Entah bagaimana ceritanya, Jiena lebih dikenal sebagai seorang pria di kantor. Bahkan orang-orang memanggilnya Jie—persis nama pria."Ini obatnya, Mas." Gadis apoteker menyerahkan obat yang Jiena beli. Panggilan 'Mas' sudah biasa dia dengar, dan Jiena tak memperdulikan itu."Terima kasih." Jiena mengambil kembalian setelah melakukan pembayaran, dia segera pergi dari sana.Saat Jiena berbalik dan baru berjalan beberapa melangkah. "Aahhh …."Tubuhnya tiba-tiba bertabrakan dengan pria yang lebih tinggi, menangkap dirinya.Hampir saja Jiena terjerembab, ditambah dengan kepalanya yang masih pusing, sehingga tubuhnya tidak stabil. Untung saja pria itu dengan sigap menangkap Jiena, tepat di pinggangnya. Walau pemandangan itu terlihat agak aneh, sampai membuat gadis apoteker menganga, tapi pinggul Jiena selamat dari benturan lantai. "Maaf, saya tidak sengaja," kata Jiena setelah berdiri seimbang. Dia mendongak, tapi tak melihat dengan jelas wajah pria itu. Jiena lupa menggunakan kacamata, dia menyipit."Nggak apa-apa? Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu. Sekelebatan dia merasa indra penciumannya terusik, nyaman.Jiena tak bisa melihat raut wajah pria itu, tapi dia yakin, pria itu bisa maklum. "Aku baik, terima kasih." Jiena menyingkirkan tangan pria itu dari pinggangnya tanpa ragu.Pria itu tersentak dan mundur selangkah. "Ah iya, maaf.""Iya, tidak masalah. Saya permisi." Tanpa berkata apa-apa lagi Jiena berlalu pergi. Tanpa dia tau, si pria tersenyum melihat kepergiannya. "Mas …." Gadis apoteker memang
Para karyawan tampak berbisik-bisik. Hal itu membuat Yudi memasang wajah sangar. Dia menarik napas panjang, menghentikan kebisingan."Perhatian semua!" Suara bariton Yudistira membuat semua terdiam."Huff … akhirnya tenang juga. Saya tau saya ganteng. Tidak perlu bicara di belakang saya. Bilang aja di depan saya. Saya paling suka orang yang jujur. Hahaha …." Ucapan sang bos baru, terdengar sangat percaya diri.Karyawan yang terdiam menganga seketika. Ternyata bos mereka sangat percaya diri. Sudah di level narsis tingkat tinggi sepertinya. Sebagian ada yang kagum. Mata mereka terlihat berbinar memandangi pesona si bos baru. Sebagian lagi ada yang merasa itu lucu. Sehingga tanpa sadar tersenyum geli. Ada juga yang diam tanpa ekspresi apapun, termasuk Jiena.Si bos malah senang melihat respon semua karyawan. Senyuman manis tak pernah pudar dari bibirnya yang kemerahan. Setelah menjeda sejenak, dia melanjutkan ucapannya."Selamat pagi karyawan semuanya," sapa pria berbadan tegap itu denga
"Jie, waktunya makan siang, yuk!"Tepukan pada bahu, membuat Jiena tersentak seketika. Tubuh dan pikiran terasa tidak pada tempatnya dari pagi tadi. Efek dari minuman keras yang Yujie konsumsi secara berlebihan. Obat penghilang pengar yang dia minum tadi pun, tidak banyak membantu. Jiena benar-benar tidak bisa fokus pada pekerjaan.Met menyadari itu, dia yang berdiri di sebelah Jiena mengamati lebih dekat. "Kamu kenapa, Jie? Sakit?" Kedua belah pipi Jiena ditangkupnya. "Muka lo pucet banget, Jie." Hal itu membuat Jiena sedikit gugup, lalu segera menepis kedua tangan Met. "Gue nggak apa-apa, cuma lelah aja. Lo pergi makan aja sana, gue mau pesan delivery aja," ucapnya seraya memalingkan wajah."Tapi lo pucet banget, sebaiknya lo ke klinik biar diperiksa dokter." Memet memberi saran."Nggak perlu, cuma pusing dikit aja. Abis makan nanti gue minum obat." Jiena berucap dengan wajah datar seperti biasa. Dia pikir juga hanya pusing sedikit tidak akan ada masalah."Lo yakin?" Jiena menjawab
“Bukakan pintunya, cepat!”Yudhistira yang mendapat perintah langsung membukan pintu ruang kantor sang atasan. Sekilas dia melirik wajah Haikal yang terlihat tenang, tapi sudah tampak gurat kecemasan semejak di lift. Wajar saja jika si asisten akan berpikir bahwa tindakan Haikal sangat berlebihan. Terlebih lagi hanya untuk karyawan yang baru hari ini dia kenal. Bos-nya itu bahkan melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Dengan kaki panjang itu tak akan butuh waktu lama untuk mencapai depan pintu ruangan kerjanya.“Aku akan membaringkannya.” Haikal menuju sofa hitam panjang berbahan kulit di ruangannya.Yudhistira gegas menata bantal duduk agar bisa digunakan Jiena untuk berbaring. “Sudah, Bos.” Dia memundurkan tubuh untuk memberi sang atasan ruang gerak.Tubuh Jiena dibaringkan secara perlahan. “Badannya kecil, tapi bugar,” gumam Haikal seraya melatakkan perlahan kepala wanita itu di bantal. Tanpa disadari dia telah terpesona dengan kulit putih Jiena yang sangat dekat di pandangannya
“Maaf, Pak ... saya makan sendiri saja.”Sedikit ragu wanita itu menolak, lalu mengulurkan tangan meminta sendok yang diarahkan padanya. Rasanya kurang pantas ketika dia menerima perlakuan sang atasan seperti ini. Terlebih lagi dia baru saja mengenal atasan barunya itu.“Kenapa? Keberatan saya suapin?”“Bukan gitu, Pak. Tapi ....”Dengan santainya Haikal bertanya, tanpa memahami secanggung apa Jiena saat ini. Entah apa yang membuat pria itu bersikap baik seperti ini. Semua terasa tidak biasa, bahkan jika sekretarisnya ada, juga akan merasa heran dengan sikapnya. Terutama bagi Jiena yang pastinya lebih binggung. Jelas wanita itu juga merasa sungkan, sampai dia berpikir ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu.“Se-sebaiknya saya kembali ke ruangan saya.”“Hmm ... oke, oke.” Haikal krmudian baru sadar akan penolakan wanita yang di matanya adalah seorang laki-laki. Pria itu pun mengalah dan meletakkan sendok di tangannya. Lalu berdiri dan berjalan ke mini dispenser mengambil air minum.S
Jiena duduk di antara dua pria yang saling berhadapan, seakan bertanya sendiri ‘siapa dia’. Raut wajah keduanya dilihat bergantian, situasinya terasa aneh. Tidak ada satu pun yang berbicara. Jiena kemudian berdeham, memecah suasana dan keduanya menoleh padanya bersamaan.Lingga pun buka suara. “Jie, ayo makan. Ini tomyam dari resto kesukaan kamu.” dia menggeser mangkuk ke depan sang adik. Tersenyum setelah mengubah cara bicaranya.Sang kakak tiba-tiba bersikap manis, membuat kedua alis wanita itu tertaut. Dia hanya bisa tersenyum canggung karena sikap aneh Lingga di depan atasannya. Lalu dilihat tatapan dingin Haikal pada sang kakak, sedangkan Lingga masih tetap santai. Sekarang keduanya terlihat sama-sama bersikap anehnya.“Jie, saya bawa sup daging. Ini bagus buat kesehatan kamu,” ucap Haikal tidak mau kalah. Dia sepertinya juga ingin menunjukkan perhatian.Wadah sup bawaannya dikeluarkan dari kantong plastik, lalu membuka tutup dan menggeser ke hadapan Jiena. Aroma sup yang hangat
“Jie? Seberapa cepat kamu mengemudi?” Pertanyaan pertama yang Haikal ajukan saat wanita itu hendak turun dari motor besarnya.Wanita itu tidak segera menjawab, dia segera turun setelah menerima helm pria yang dia bonceng. Ini sudah terlambat, klien akan semakin kecewa jika masih mengulur waktu. Studio juga akan digunakan oleh tim lain, jadi mereka harus menyelesaikan proses syuting dengan cepat.“Tidak ada waktu, Pak. Nanti saja saya jawab.” Jiena lalu memberi isyarat pada model yang dia jemput untuk segera masuk. “Permisi, Pak Haikal. Klien sudah menunggu,” pamit Jiena segera berlalu pergi. Haikal hanya terdiam merasa terabaikan.Sebelum melangkah masuk, Jiena melempar kunci motornya pada satpam yang berjaga di pintu. Dengan memberi isyarat pada sang satpam untuk membantunya memindahkan motor di tempat parkir.“Wow … itu benar-benar keren,” seru pria yang berada di sampingnya. “Bro, bisa bawa aku naik motormu lagi lain kali?” tanya pria itu sambil menopang lengannya di bahu Jiena.Ji
Keringat dingin mulai muncul dari pori-pori wajah Jiena. Suara di pikirannya mengganggu, membuatnya cemas hingga sesak napas. Tak ingin hal yang ditakutkan terjadi. Yujie mampu melakukan apa saja yang dia mau. Meski sulit, Jiena berusaha mengendalikan diri.Suara ketukan pintu terus terdengar, diiringi seruan sang kakak yang terus memanggil namanya. Dia enggan menghampiri, tapi jika dibiarkan Lingga akan terus membuat keributan.“Tidak! Jangan sekarang!” Jiena memberi peringatan. “Kakakku tidak terlibat!” Wanita itu berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin.“Terlibat atau tidak. dia akan mulai menggali kuburnya sendiri.” Suara Yujie di pikiran Jiena terus mengintimidasi.“Katakan … apa mau kamu. Jangan ganggu kakakku!” Jiena menyentak, menopang kedua telapak tangannya pada cermin. Benda yang memantulkan dirinya itu sedikit bergetar.“Mauku? Kamu jelas berniat menyingkirkanku sekali lagi. Seharusnya kamu tahu apa yang aku mau. Kamu pikir aku akan membiarkan?”“Aku tidak akan mela
Keringat dingin mulai muncul dari pori-pori wajah Jiena. Suara di pikirannya mengganggu, membuatnya cemas hingga sesak napas. Tak ingin hal yang ditakutkan terjadi. Yujie mampu melakukan apa saja yang dia mau. Meski sulit, Jiena berusaha mengendalikan diri.Suara ketukan pintu terus terdengar, diiringi seruan sang kakak yang terus memanggil namanya. Dia enggan menghampiri, tapi jika dibiarkan Lingga akan terus membuat keributan.“Tidak! Jangan sekarang!” Jiena memberi peringatan. “Kakakku tidak terlibat!” Wanita itu berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin.“Terlibat atau tidak. dia akan mulai menggali kuburnya sendiri.” Suara Yujie di pikiran Jiena terus mengintimidasi.“Katakan … apa mau kamu. Jangan ganggu kakakku!” Jiena menyentak, menopang kedua telapak tangannya pada cermin. Benda yang memantulkan dirinya itu sedikit bergetar.“Mauku? Kamu jelas berniat menyingkirkanku sekali lagi. Seharusnya kamu tahu apa yang aku mau. Kamu pikir aku akan membiarkan?”“Aku tidak akan mela
“Jie? Seberapa cepat kamu mengemudi?” Pertanyaan pertama yang Haikal ajukan saat wanita itu hendak turun dari motor besarnya.Wanita itu tidak segera menjawab, dia segera turun setelah menerima helm pria yang dia bonceng. Ini sudah terlambat, klien akan semakin kecewa jika masih mengulur waktu. Studio juga akan digunakan oleh tim lain, jadi mereka harus menyelesaikan proses syuting dengan cepat.“Tidak ada waktu, Pak. Nanti saja saya jawab.” Jiena lalu memberi isyarat pada model yang dia jemput untuk segera masuk. “Permisi, Pak Haikal. Klien sudah menunggu,” pamit Jiena segera berlalu pergi. Haikal hanya terdiam merasa terabaikan.Sebelum melangkah masuk, Jiena melempar kunci motornya pada satpam yang berjaga di pintu. Dengan memberi isyarat pada sang satpam untuk membantunya memindahkan motor di tempat parkir.“Wow … itu benar-benar keren,” seru pria yang berada di sampingnya. “Bro, bisa bawa aku naik motormu lagi lain kali?” tanya pria itu sambil menopang lengannya di bahu Jiena.Ji
Jiena duduk di antara dua pria yang saling berhadapan, seakan bertanya sendiri ‘siapa dia’. Raut wajah keduanya dilihat bergantian, situasinya terasa aneh. Tidak ada satu pun yang berbicara. Jiena kemudian berdeham, memecah suasana dan keduanya menoleh padanya bersamaan.Lingga pun buka suara. “Jie, ayo makan. Ini tomyam dari resto kesukaan kamu.” dia menggeser mangkuk ke depan sang adik. Tersenyum setelah mengubah cara bicaranya.Sang kakak tiba-tiba bersikap manis, membuat kedua alis wanita itu tertaut. Dia hanya bisa tersenyum canggung karena sikap aneh Lingga di depan atasannya. Lalu dilihat tatapan dingin Haikal pada sang kakak, sedangkan Lingga masih tetap santai. Sekarang keduanya terlihat sama-sama bersikap anehnya.“Jie, saya bawa sup daging. Ini bagus buat kesehatan kamu,” ucap Haikal tidak mau kalah. Dia sepertinya juga ingin menunjukkan perhatian.Wadah sup bawaannya dikeluarkan dari kantong plastik, lalu membuka tutup dan menggeser ke hadapan Jiena. Aroma sup yang hangat
“Maaf, Pak ... saya makan sendiri saja.”Sedikit ragu wanita itu menolak, lalu mengulurkan tangan meminta sendok yang diarahkan padanya. Rasanya kurang pantas ketika dia menerima perlakuan sang atasan seperti ini. Terlebih lagi dia baru saja mengenal atasan barunya itu.“Kenapa? Keberatan saya suapin?”“Bukan gitu, Pak. Tapi ....”Dengan santainya Haikal bertanya, tanpa memahami secanggung apa Jiena saat ini. Entah apa yang membuat pria itu bersikap baik seperti ini. Semua terasa tidak biasa, bahkan jika sekretarisnya ada, juga akan merasa heran dengan sikapnya. Terutama bagi Jiena yang pastinya lebih binggung. Jelas wanita itu juga merasa sungkan, sampai dia berpikir ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu.“Se-sebaiknya saya kembali ke ruangan saya.”“Hmm ... oke, oke.” Haikal krmudian baru sadar akan penolakan wanita yang di matanya adalah seorang laki-laki. Pria itu pun mengalah dan meletakkan sendok di tangannya. Lalu berdiri dan berjalan ke mini dispenser mengambil air minum.S
“Bukakan pintunya, cepat!”Yudhistira yang mendapat perintah langsung membukan pintu ruang kantor sang atasan. Sekilas dia melirik wajah Haikal yang terlihat tenang, tapi sudah tampak gurat kecemasan semejak di lift. Wajar saja jika si asisten akan berpikir bahwa tindakan Haikal sangat berlebihan. Terlebih lagi hanya untuk karyawan yang baru hari ini dia kenal. Bos-nya itu bahkan melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Dengan kaki panjang itu tak akan butuh waktu lama untuk mencapai depan pintu ruangan kerjanya.“Aku akan membaringkannya.” Haikal menuju sofa hitam panjang berbahan kulit di ruangannya.Yudhistira gegas menata bantal duduk agar bisa digunakan Jiena untuk berbaring. “Sudah, Bos.” Dia memundurkan tubuh untuk memberi sang atasan ruang gerak.Tubuh Jiena dibaringkan secara perlahan. “Badannya kecil, tapi bugar,” gumam Haikal seraya melatakkan perlahan kepala wanita itu di bantal. Tanpa disadari dia telah terpesona dengan kulit putih Jiena yang sangat dekat di pandangannya
"Jie, waktunya makan siang, yuk!"Tepukan pada bahu, membuat Jiena tersentak seketika. Tubuh dan pikiran terasa tidak pada tempatnya dari pagi tadi. Efek dari minuman keras yang Yujie konsumsi secara berlebihan. Obat penghilang pengar yang dia minum tadi pun, tidak banyak membantu. Jiena benar-benar tidak bisa fokus pada pekerjaan.Met menyadari itu, dia yang berdiri di sebelah Jiena mengamati lebih dekat. "Kamu kenapa, Jie? Sakit?" Kedua belah pipi Jiena ditangkupnya. "Muka lo pucet banget, Jie." Hal itu membuat Jiena sedikit gugup, lalu segera menepis kedua tangan Met. "Gue nggak apa-apa, cuma lelah aja. Lo pergi makan aja sana, gue mau pesan delivery aja," ucapnya seraya memalingkan wajah."Tapi lo pucet banget, sebaiknya lo ke klinik biar diperiksa dokter." Memet memberi saran."Nggak perlu, cuma pusing dikit aja. Abis makan nanti gue minum obat." Jiena berucap dengan wajah datar seperti biasa. Dia pikir juga hanya pusing sedikit tidak akan ada masalah."Lo yakin?" Jiena menjawab
Para karyawan tampak berbisik-bisik. Hal itu membuat Yudi memasang wajah sangar. Dia menarik napas panjang, menghentikan kebisingan."Perhatian semua!" Suara bariton Yudistira membuat semua terdiam."Huff … akhirnya tenang juga. Saya tau saya ganteng. Tidak perlu bicara di belakang saya. Bilang aja di depan saya. Saya paling suka orang yang jujur. Hahaha …." Ucapan sang bos baru, terdengar sangat percaya diri.Karyawan yang terdiam menganga seketika. Ternyata bos mereka sangat percaya diri. Sudah di level narsis tingkat tinggi sepertinya. Sebagian ada yang kagum. Mata mereka terlihat berbinar memandangi pesona si bos baru. Sebagian lagi ada yang merasa itu lucu. Sehingga tanpa sadar tersenyum geli. Ada juga yang diam tanpa ekspresi apapun, termasuk Jiena.Si bos malah senang melihat respon semua karyawan. Senyuman manis tak pernah pudar dari bibirnya yang kemerahan. Setelah menjeda sejenak, dia melanjutkan ucapannya."Selamat pagi karyawan semuanya," sapa pria berbadan tegap itu denga
Hampir saja Jiena terjerembab, ditambah dengan kepalanya yang masih pusing, sehingga tubuhnya tidak stabil. Untung saja pria itu dengan sigap menangkap Jiena, tepat di pinggangnya. Walau pemandangan itu terlihat agak aneh, sampai membuat gadis apoteker menganga, tapi pinggul Jiena selamat dari benturan lantai. "Maaf, saya tidak sengaja," kata Jiena setelah berdiri seimbang. Dia mendongak, tapi tak melihat dengan jelas wajah pria itu. Jiena lupa menggunakan kacamata, dia menyipit."Nggak apa-apa? Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu. Sekelebatan dia merasa indra penciumannya terusik, nyaman.Jiena tak bisa melihat raut wajah pria itu, tapi dia yakin, pria itu bisa maklum. "Aku baik, terima kasih." Jiena menyingkirkan tangan pria itu dari pinggangnya tanpa ragu.Pria itu tersentak dan mundur selangkah. "Ah iya, maaf.""Iya, tidak masalah. Saya permisi." Tanpa berkata apa-apa lagi Jiena berlalu pergi. Tanpa dia tau, si pria tersenyum melihat kepergiannya. "Mas …." Gadis apoteker memang
Yujie membiarkan rintihan wanita itu. Dia masih berdiri dengan bersedekap. Terus memandangi, menikmati kesakitan Marta atas perbuatannya. Pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Yujie. Marta terlihat sangat menderita, tubuhnya seperti sudah tidak bisa dikendalikan. Tali yang mengikat pergelangan tangan, mulai menggores kulit cantiknya. Hingga waktunya sudah tiba, Yujie melangkahkan kaki ke arah pintu. "It's time," gumamnya. "Lakukan tugasmu!" Perintah Yujie pada seorang pria yang telah menunggu di depan pintu."Baik, Bos.""Namanya Marta, dia ingin dipanggil ketika dipuaskan," ucap Yujie dingin.Pria yang baru saja masuk kedalam kamar itu pun tersenyum. Tentu saja itu hal yang paling dia inginkan. "Apa alasannya kali ini, Bos?" tanya Pria itu.Yujie selalu punya alasan yang berbeda setiap kali memutuskan untuk mencari mangsa. Banyak pria di bar ini yang akan dia beri kesempatan untuk bersenang-senang. "Wanita itu pemilih, aku hanya muak dengannya.""Anda selalu nakal seperti biasa