Hanum langsung berkaca—kaca ketika di bentak oleh Bu Rita sang majikan.
"Maafkan saya nyonya." Ucapnya lirih meminta maaf.Sementara itu bibi Lastri hanya diam menatap Hanum yang di omeli dan dimarahi Bu Rita. Tak ada keinginan untuk membela asisten baru itu."Ya sudah, untuk kali ini kamu aku maafkan!" Ucap Bu Rita lalu meninggalkan Hanum dan bibi Lastri di ruang setrika. Perasaan Hanum lega ketika Bu Rita berkenan memaafkannya dan tak memecatnya."Bibi, maafkan saya. Saya tadi memang benar-benar ingat kalau setrika itu sudah saya lepas, tapi kenapa malah setrikanya justru masih menyala.""Makanya lain kali hati-hati!" Hardik asisten senior itu kemudian meninggalkan Hanum sendirian di sana. Tidak ada perasaan curiga apapun pada wanita paru baya itu. Hanum harus bisa menempatkan posisi, kalau dia memang baru di sana. Mungkin gadis itu memang lupa belum mematikan dan mencabut setrika saat akan meninggalkan nya.***Hari berganti dan bulan berlalu. Sudah tiga bulan Hanum bekerja di rumah Bu Rita, dan dia pun tak jadi pulang kampung. Pekerjaan yang dijalaninya bener-bener begitu menguras tenaga dan pikirannya. Namun gadis itu selalu bersyukur, untuk lulusan sekolah yang tak tinggi bisa diterima bekerja. Hanum selalu menyempatkan untuk mengirim uang dan juga menelpon Bu Yanti lewat tetangganya. Rencananya kalau tabungannya sudah terkumpul, Hanum akan membelikan ponsel ibunya."Nanti masak yang enak dan banyak, karna putraku Ardi dan Monica istrinya akan datang dari luar kota." Titah Bu Rita pada Lastri dan juga Hanum.Ardi sendiri mempunyai usaha besar di luar kota dan juga bekerja sebagai direktur keuangan di perusahaan Jepang. Sedangkan Monica punya butik baju.Keduanya pun mengangguk dan mencatat apa saja yang akan dibeli di pasar nanti, sesuai dengan keinginan Bu Rita sang majikan."Bibi, memangnya Tuan Ardi dan Bu Monica itu seperti apa orangnya?" Tanya Hanum pada bibi Lastri, ketika mereka berdua sudah mulai memasak dan berkutat di depan kompor. Karena selama tiga bulan bekerja di rumah Bu Rita, Hanum sama sekali belum bertemu dengan anak dan menantu dari majikannya itu.Hanum mulai memotong sayuran, sedangkan bibi Lastri yang sedang membersihkan ikan juga daging untuk segera di presto."Ganteng dan mapan, istrinya juga sangat cantik dan sholihah, lemah lembut. Makanya pak Ardi itu sangat menyayangi Bu Monica Hapsari. Yang pasti beda lah sama kamu, Num." Terlihat sekali bibi Lastri begitu merendahkan dan menghina Hanum, menatap Hanum dari ujung rambut sampai ujung kaki."Tapi sayang sekali, mereka belum punya anak di usia pernikahan yang sudah menginjak 5 tahun. Padahal mereka berdua punya uang dan sudah periksa ke dokter spesialis di manapun. Bahkan juga keluar negeri. Namun hasilnya tetap saja, Bu Monica belum juga hamil." Bibi Lastri mulai bercerita."Sudah sudah kamu jangan banyak tanya, lebih baik kita bekerja biar cepat matang." Hanum mengangguk pelan dan cepat bekerja lagi.Tepat pukul 7 malam, terdengar suara deru mobil dan klakson yang masuk ke halaman rumah Bu Rita.Tin tin...Bu Rita yang tahu itu adalah putra dan menantunya, langsung beranjak dari sofa tempat dia duduk di ruang tengah untuk menyambut keduanya."Assalamualaikum mah." Sapa Ardi mengucap salam lalu mencium dengan begitu takzim tangan sama mama."Waalaikumsalam nak, mama sudah sangat merindukanmu. Kamu apa kabar?" Ucap wanita baya itu.Begitu juga Monica sang menantu yang mengekor di belakang sang suami, menatap pada ibu mertuanya dan mencium tangannya dengan begitu takzim dan sopan."Alhamdulillah sehat semua mah, mama juga apa kabarnya?""Mama sehat dan baik Ardi, seperti yang kamu lihat ini. Ayo ayo masuk semua! Mama dah masakin makanan kesukaan kamu Ardi." Ucap Bu Rita segera menggandeng tangan Putra sulungnya. Sedangkan anak kedua Bu Rita, perempuan dan sedang menempuh pendidikan kuliah di luar negeri.Ardi dan juga Monica kemudian diajak duduk di meja makan. Bibi Lastri langsung melayani dan mengambilkan piring juga aneka makanan yang tadi sudah di masak."Num, cepat bawa sup dagingnya ke depan. Hati-hati kamu bawanya, karna panas." Titah bibi Lastri yang juga terlihat sibuk menata di dapur."Iya bibi." Hanum segera membawa mangkok besar berisi sup daging dengan bau yang begitu harum menggugah selera siapapun yang menciumnya. Dengan penuh hati-hati Hanum segera meletakkan mangkok sup itu di atas meja makan, mengangguk hormat dan senyum pada Monica dan juga Ardi yang masih fokus menatap ponselnya."Makasih ya," ucap Monica tersenyum membalas senyuman Hanum.Hanum kemudian berbalik dan masuk lagi ke dapur. Sementara itu Monica menatap pada ibu mertuanya bu Rita."Mbak itu tadi siapa, mah?""Pembantu, Mon!" Ucap Bu Rita yang langsung mengambil piring dan nasi."Ardi sayang, kamu kok main ponsel saja. Ayo kita makan karena makanan sudah siap.""Iya ma sebentar." Sahut Ardi tanpa menatap pada sang mama, karna sedari tadi masih sibuk dengan pekerjaannya."Ambilkan nasi suamimu Mon!" Titah Bu Rita pada Monica yang mengangguk hormat.Sementara itu di dapur Hanum membereskan bekas-bekas masak mereka. Sementara terlihat Bibi Lastri beristirahat karena kelelahan."Ternyata Bu Monica benar-benar cantik dan ramah ya Bi." Ucap Hanum pada bibi Lastri."Memang!" Jawab wanita baya itu dengan datar.Pagi menjelang, kabut masih terlihat di sekitar rumah Bu Yanti ketika wanita itu mulai menyapu halaman. Suasana desa yang sepi dan terpencil, membuat nya bertambah sedih kala mengingat dan merindukan ketiga anaknya. Niko anak pertama sudah tinggal di kota dengan istri dan keluarganya. Rahma anak kedua sedang bekerja di luar kota dan masih single. Terakhir, Hanum anak bungsu yang juga kerja di kota."Eh Bu Yanti pagi-pagi sudah bersih-bersih?" Sapa Bu Indri yang hendak pergi belanja sayur. Karna pasar sayur juga tak terlalu jauh dari rumah Bu Yanti."Iya Bu Indri." Senyum wanita baya itu tersungging, melihat Bu Indri dan anak menantunya yang terlihat begitu akur berjalan bersama menuju ke pasar. Beda sekali dengannya, Raya tak seakrab seperti menantu Bu Indri, Humairah."Oh ya, saya lihat anak-anaknya Bu Yanti tidak pernah pulang? Apa Mas Niko sangat sibuk ya kerja di pabriknya? Terus itu si Hanum sama si Rahma kakaknya juga jarang terlihat pulang. Sebentar lagi puasa loh bu, kalau p
Pagi-pagi sekali, Monica sudah bangun dan bersiap untuk jogging. Mumpung mereka memang ambil cuti, jadi bisa lebih lama tinggal di rumah Bu Rita Ibu mertuanya. Saat membuka mata, Monica masih melihat Ardi sang suami terlelap. Wanita cantik itu menatap pada sang suami dan mengelus pelan pucuk rambutnya. 'Terima kasih ya Mas sudah selalu ada untukku. Terima kasih juga untuk kesabarannya selama ini. Semoga Allah segera ijabah doa-doa kita dan mendapatkan titipan amanah Nya.'Setelahnya Monica bangun dan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Suara orang beraktivitas di dapur rumah Ibu mertuanya mulai terdengar. Ardi yang baru membuka mata mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan tak nampak sang istri. Namun dari kamar mandi terdengar suara gemericik air, yang berarti Monica ada di dalam.Ardi mengucek matanya dan sesekali menguap, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran head—board.Ceklek...Pintu kamar mandi terbuka dan nampak Monica keluar dengan rambut yang basah. "
Monica memejamkan matanya ketika mendengar Bu Rita mengucapkan kalimat seperti itu. Meskipun sudah terbiasa mendengarnya, namun setiap kali wanita paruh baya yang sudah melahirkan suaminya itu menyindirnya, tetap saja Monica merasa sakit hati. Berusaha untuk menahan air matanya agar tak jatuh, dan membuat mood sarapan pagi mereka semua hancur."Ma, kok pagi-pagi sudah ngomong seperti itu lagi sih?" Ardi selalu menjadi pembela untuk istrinya."Lohh memangnya kenapa sayang, kan apa yang mama katakan benar? ngapain kalian susah-susah jogging 5 tahun lebih tapi nggak juga hamil."Bu Rita berkata seenaknya, meskipun dia sendiri tahu ikhtiar seperti apa yang tengah Ardi dan Monica jalani selama ini. Namun sepertinya wanita paruh baya itu seperti tutup mata tak peduli dengan perjuangan mereka berdua.Hanum dan bik Lastri hanya mendengar dari dapur. Mereka berdua saling berpandangan. "Ya seperti itu Bu Rita sama mbak Monica!" Ucap bibi Lastri mengatupkan bibirnya. Membuat Hanum menganggukkan
Dengan langkah tergopoh, Bu Yanti tersenyum ketika mendapat kabar dari Bu Ira tetangganya bahwa Hanum menelpon. Maklum wanita tua itu tak mempunyai ponsel seperti kebanyakan orang. Jadi ketika mendapat kabar, Hanum anak bungsunya yang sekarang sedang bekerja di kota, dia begitu bahagia.Keringat yang mengucur deras di dahinya tak dirasakan, demi cepat sampai di rumah Bu Ira sang juragan di desanya. Sebuah desa yang terpencil dan jauh dari kota. Bu Ira adalah seseorang yang begitu kaya raya, di juluki sebagai juragan tanah. Dan tidak ada yang boleh melebihi kekayaan nya."Cepetan Bu Yanti! lelet amat sih!" sentak Bu Ira dengan mata melotot menoleh ke arah belakang di mana bu Yanti dengan sedikit tergesa, berusaha untuk mensejajari Bu Ira"I—iya Bu, maafkan saya selalu merepotkan Bu Ira." Ucap Bu Yanti lirih yang berjalan di belakang Bu Ira.Sampai di rumah Bu Ira, ponsel Bu Ira pun berbunyi."Jangan lama-lama, nanti baterai saya cepat habis! lagian ya orang miskin kok nggak ada habis-h
Monica memejamkan matanya ketika mendengar Bu Rita mengucapkan kalimat seperti itu. Meskipun sudah terbiasa mendengarnya, namun setiap kali wanita paruh baya yang sudah melahirkan suaminya itu menyindirnya, tetap saja Monica merasa sakit hati. Berusaha untuk menahan air matanya agar tak jatuh, dan membuat mood sarapan pagi mereka semua hancur."Ma, kok pagi-pagi sudah ngomong seperti itu lagi sih?" Ardi selalu menjadi pembela untuk istrinya."Lohh memangnya kenapa sayang, kan apa yang mama katakan benar? ngapain kalian susah-susah jogging 5 tahun lebih tapi nggak juga hamil."Bu Rita berkata seenaknya, meskipun dia sendiri tahu ikhtiar seperti apa yang tengah Ardi dan Monica jalani selama ini. Namun sepertinya wanita paruh baya itu seperti tutup mata tak peduli dengan perjuangan mereka berdua.Hanum dan bik Lastri hanya mendengar dari dapur. Mereka berdua saling berpandangan. "Ya seperti itu Bu Rita sama mbak Monica!" Ucap bibi Lastri mengatupkan bibirnya. Membuat Hanum menganggukkan
Pagi-pagi sekali, Monica sudah bangun dan bersiap untuk jogging. Mumpung mereka memang ambil cuti, jadi bisa lebih lama tinggal di rumah Bu Rita Ibu mertuanya. Saat membuka mata, Monica masih melihat Ardi sang suami terlelap. Wanita cantik itu menatap pada sang suami dan mengelus pelan pucuk rambutnya. 'Terima kasih ya Mas sudah selalu ada untukku. Terima kasih juga untuk kesabarannya selama ini. Semoga Allah segera ijabah doa-doa kita dan mendapatkan titipan amanah Nya.'Setelahnya Monica bangun dan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Suara orang beraktivitas di dapur rumah Ibu mertuanya mulai terdengar. Ardi yang baru membuka mata mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan tak nampak sang istri. Namun dari kamar mandi terdengar suara gemericik air, yang berarti Monica ada di dalam.Ardi mengucek matanya dan sesekali menguap, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran head—board.Ceklek...Pintu kamar mandi terbuka dan nampak Monica keluar dengan rambut yang basah. "
Pagi menjelang, kabut masih terlihat di sekitar rumah Bu Yanti ketika wanita itu mulai menyapu halaman. Suasana desa yang sepi dan terpencil, membuat nya bertambah sedih kala mengingat dan merindukan ketiga anaknya. Niko anak pertama sudah tinggal di kota dengan istri dan keluarganya. Rahma anak kedua sedang bekerja di luar kota dan masih single. Terakhir, Hanum anak bungsu yang juga kerja di kota."Eh Bu Yanti pagi-pagi sudah bersih-bersih?" Sapa Bu Indri yang hendak pergi belanja sayur. Karna pasar sayur juga tak terlalu jauh dari rumah Bu Yanti."Iya Bu Indri." Senyum wanita baya itu tersungging, melihat Bu Indri dan anak menantunya yang terlihat begitu akur berjalan bersama menuju ke pasar. Beda sekali dengannya, Raya tak seakrab seperti menantu Bu Indri, Humairah."Oh ya, saya lihat anak-anaknya Bu Yanti tidak pernah pulang? Apa Mas Niko sangat sibuk ya kerja di pabriknya? Terus itu si Hanum sama si Rahma kakaknya juga jarang terlihat pulang. Sebentar lagi puasa loh bu, kalau p
Hanum langsung berkaca—kaca ketika di bentak oleh Bu Rita sang majikan. "Maafkan saya nyonya." Ucapnya lirih meminta maaf.Sementara itu bibi Lastri hanya diam menatap Hanum yang di omeli dan dimarahi Bu Rita. Tak ada keinginan untuk membela asisten baru itu."Ya sudah, untuk kali ini kamu aku maafkan!" Ucap Bu Rita lalu meninggalkan Hanum dan bibi Lastri di ruang setrika. Perasaan Hanum lega ketika Bu Rita berkenan memaafkannya dan tak memecatnya."Bibi, maafkan saya. Saya tadi memang benar-benar ingat kalau setrika itu sudah saya lepas, tapi kenapa malah setrikanya justru masih menyala.""Makanya lain kali hati-hati!" Hardik asisten senior itu kemudian meninggalkan Hanum sendirian di sana. Tidak ada perasaan curiga apapun pada wanita paru baya itu. Hanum harus bisa menempatkan posisi, kalau dia memang baru di sana. Mungkin gadis itu memang lupa belum mematikan dan mencabut setrika saat akan meninggalkan nya.***Hari berganti dan bulan berlalu. Sudah tiga bulan Hanum bekerja di rum
Dengan langkah tergopoh, Bu Yanti tersenyum ketika mendapat kabar dari Bu Ira tetangganya bahwa Hanum menelpon. Maklum wanita tua itu tak mempunyai ponsel seperti kebanyakan orang. Jadi ketika mendapat kabar, Hanum anak bungsunya yang sekarang sedang bekerja di kota, dia begitu bahagia.Keringat yang mengucur deras di dahinya tak dirasakan, demi cepat sampai di rumah Bu Ira sang juragan di desanya. Sebuah desa yang terpencil dan jauh dari kota. Bu Ira adalah seseorang yang begitu kaya raya, di juluki sebagai juragan tanah. Dan tidak ada yang boleh melebihi kekayaan nya."Cepetan Bu Yanti! lelet amat sih!" sentak Bu Ira dengan mata melotot menoleh ke arah belakang di mana bu Yanti dengan sedikit tergesa, berusaha untuk mensejajari Bu Ira"I—iya Bu, maafkan saya selalu merepotkan Bu Ira." Ucap Bu Yanti lirih yang berjalan di belakang Bu Ira.Sampai di rumah Bu Ira, ponsel Bu Ira pun berbunyi."Jangan lama-lama, nanti baterai saya cepat habis! lagian ya orang miskin kok nggak ada habis-h