“DIAM! SEMUANYA DIAM! JANGAN ADA YANG BERGERAK!” seorang pria bertubuh kekar memperingatkan semua orang dengan ancaman senjata api di tangan. “Siapa yang berani bergerak, maka akan aku tembak kepalanya!” ancam pria lainnya dengan suara menggelegar, membuat siapa saja bergetar ketakutan. Suasana seketika hening, hanya terdengar deru napas yang terengah-engah. “Cepat, hubungi Bosmu dan minta dia datang ke sini segera!” perintah pria itu kepada manajer club. “Baik… baik, saya akan hubungi segera,” ucap sang manajer dengan suara bergetar ketakutan. Siapa yang tidak takut jika nyawanya sedang terancam seperti ini? Dinginnya ujung senjata api yang ditempelkan di keningnya terasa sangat jelas di kulitnya, membuatnya semakin sulit bernapas. Sang manajer pun segera menghubungi Bosnya, yang tak lain adalah pemilik club ini. Ketika telepon berhasil terhubung, sang manajer tidak sempat berbicara karena ponselnya dirampas, diambil alih oleh pria yang saat ini mengancamnya. Tak banyak yang di
*** "Club ini tutup!" seru seorang pria kepada Victor dan Olso, berusaha menghalangi jalan mereka untuk masuk ke dalam club. Di depan club, ternyata ada dua pria yang berjaga. Sementara itu, petugas yang seharusnya menjaga tempat itu telah mereka bunuh, dan nasib mayatnya entah dibuang ke mana. "Aku tahu ini tengah malam, tapi bisakah jangan membuat lelucon?" sarkas Olso, menatap kedua pria itu dengan tatapan bengis secara bergantian. Di sampingnya, Victor hanya diam, menatap kedua pria itu dengan tatapan datar dan tajam. Setelah jeda sejenak, Olso melanjutkan, "Kau bilang club ini sudah tutup. Kau pikir aku buta sehingga tidak bisa melihat mobil-mobil para pengunjung yang terparkir di sana?" Kedua pria itu sontak saling melirik, memberi isyarat lewat anggukan kepala. Detik berikutnya, dengan gesit mereka mengangkat senjata yang tersembunyi di balik punggung dan mengacungkannya ke arah Olso dan Victor. Namun, dalam hitungan detik, Olso tak kalah sigap. Ia meraih pergelangan tan
Di belakang Victor, seorang pria mengangkat sebuah kursi hendak memukulnya. Namun, dengan refleks yang tak bisa diragukan lagi, Victor segera memutar tubuh untuk menghindar dari pukulan lawannya. Bug! Dengan kekuatan penuh, Victor meninju perut pria itu. Bug! Pukulan kedua Victor menghantam tepat di rahang lawannya. Kali ini, kekuatan pukulannya sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya, membuat sang lawan tersungkur ke lantai dengan tulang rahang yang patah. DOR! Victor mengakhiri pertarungan dengan menembak pria itu tepat di atas kepalanya. Seketika, nyawanya melayang. Victor melirik sekilas ke arah Mary, dan tatapan mereka bertemu. Ia melihat wanita itu memeluk tubuhnya, tampak ketakutan dan terkejut. Victor membuka jaketnya dengan sigap, melangkah lebar menuju Mary untuk menyerahkan jaketnya. Namun, tiba-tiba seseorang menyerangnya dari belakang. Pria itu memukul punggung Victor, tetapi tidak berhasil membuatnya jatuh. Victor segera berbalik, menatap pria itu dengan t
Victor kemudian segera turun dari mobil dan bergerak masuk ke dalam apotek. Tujuannya adalah untuk membeli pembersih luka serta obat untuk Mary. Di dalam mobil, Mary menatap ke arah apotek, penasaran apa yang sedang dibeli oleh Victor. Tak berapa lama, ia melihat pria itu keluar dari apotek sambil menenteng sebuah plastik kecil. Victor masuk ke dalam mobil dan menyerahkan plastik di tangannya pada Mary. "Obat untuk luka di bibirmu," ucapnya tanpa melihat wanita itu. Mary tertegun, namun segera mengambilnya. Ia melirik sejenak pada plastik tersebut sebelum kembali menatap Victor, yang kini mengikat seatbelt sebelum melajukan mobil untuk melanjutkan perjalanan. "Terima kasih," ucap Mary pelan. Victor tak menghiraukan. Mary menghela napas, menarik pandangan dari Victor. "Babi bisa tuli juga," gumamnya pelan, mengira bahwa Victor tidak akan mendengar. Namun, dugaannya salah. Kini, Victor menatap tajam padanya. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Mary dengan polosnya. Alih-alih men
“Pelan-pelan, sakit,” keluh Mary. “Tahan sebentar,” jawab Victor, berusaha tenang. “Iya, tapi tetap sakit,” protes Mary, mencengkram pergelangan tangan Victor yang kekar, berusaha menahan gerakan pria itu yang tengah membersihkan luka di sudut bibirnya. “Sedikit lagi selesai. Tahan!” Victor menjauhkan tangan Mary dari dirinya dan melanjutkan membersihkan luka memar di bibir wanita itu. “Sudah, nanti saja,” tolak Mary lagi, kali ini mundur sedikit dan menciptakan jarak antara mereka. “Sangat perih, aku tidak tahan. Pipiku juga nyeri.” Victor menatapnya dengan jengkel. “Dan membiarkan lukamu seperti itu? Bagaimana kalau nanti infeksi?” Ia mendekat lagi, meraih tangan Mary untuk membawanya kembali ke pinggir wastafel. Mereka berada di apartemen Mary, baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Sebelumnya, Mary melarang Victor untuk masuk, tetapi pria itu tidak menghiraukan larangannya dan tetap memaksa masuk. Akhirnya, Mary menyerah karena merasa percuma melanjutkan protes. Vi
*** “Aku hanya bertanya, Mary. Lantas, pertanyaanku membuatmu tersinggung?” Nathan mendudukkan tubuh di samping Mary, tidak melepaskan pandangannya dari wanita itu. Sejenak, Mary terdiam, mencerna ucapan Nathan. “Dari segi mana aku tersinggung?” lantas membalas tatapan mata dingin pria itu. “Aku bertanya,” Nathan memperjelas. “Dan pertanyaan mu membuatku bingung, Nathan. Bukankah tadi sudah aku jawab, kalau aku baik-baik saja? Apakah ada yang salah dengan jawabanku itu? Kalau iya… lantas dimana salahnya? Tolong, kasih tahu aku,” Mary yang tadinya duduk bersandar di sofa, sontak menegakkan tubuhnya dan menatap dalam mata pria itu. Nathan tidak langsung membalas. Ia menarik pandangannya dari Mary, lantas menatap lurus ke depan. Menghela napas, ia berusaha mengusir rasa sesak yang terasa berat di dadanya. “Aku sebagai kekasihmu merasa tidak berguna. Wanitanya dalam bahaya, tapi tidak tahu apa-apa. Seharusnya kau menghubungiku saat kamu membutuhkan pertolongan, bukan malah membiark
Namun sekali lagi, Nathan menegaskan: dia sangat yakin kalau Victor menyukai kekasihnya. Dan dia sangat percaya dengan kata hati sendiri.Nathan memutar setir mobilnya dan berbelok masuk ke area sebuah nightclub, tetapi bukan club tempat Mary bekerja. Ia memarkirkan mobil, lalu turun dan melangkah masuk, bergabung dengan orang-orang yang tengah menikmati dunia malam mereka yang terlihat sangat menyenangkan.Nathan duduk di meja bar, dan ia disuguhkan koktail oleh bartender. Ia mengangkat gelas kecil tersebut menuju bibirnya, meneguk cairan di dalamnya yang terasa membakar sepanjang tenggorokannya. Panas, namun membuat Nathan ketagihan hingga tak terasa dia sudah meminumnya dalam jumlah yang sangat banyak.Pada akhirnya, Nathan mabuk. Ketika bangkit dari duduknya, hendak menuju toilet dengan langkah sempoyongan, tanpa sengaja, ia menabrak salah satu pengunjung, yang langsung marah dan terjadi keributan.Nathan yang mabuk tidak sadar dengan apa yang dilakukannya, sementara pria yang
Seharian itu, Nathan tidak tenang. Ia tampak sangat gelisah memikirkan peristiwa di mana Daisy tidur di atas ranjangnya sambil ia memeluk wanita itu. Nathan merasa bersalah terhadap Mary, kekasihnya karena telah mengkhianati wanita itu. Kini, Nathan dihadapkan pada sebuah dilema. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus jujur kepada Mary, meski itu berisiko membuat wanita itu marah dan mungkin meninggalkannya? Atau sebaiknya ia diam saja, bersikap seperti biasa, dan berusaha melupakan kejadian itu? Nathan benar-benar bingung.Di sisi lain, setelah Daisy pergi, rasa penasaran Nathan semakin menggelayuti pikirannya. Ia ingin tahu bagaimana bisa Daisy terpaksa tidur bersamanya. Akhirnya, Nathan memutuskan untuk memeriksa rekaman CCTV yang ada di kamarnya.Setelah melihat rekaman tersebut, Nathan menghela napas berat. Ternyata, memang Daisy telah berusaha menolak, tetapi tetap tidak berdaya.Satu fakta yang sangat mengejutkan baginya adalah ia telah mencium Daisy dengan sangat bruta
*** Hari itu penuh dengan aktivitas seru. Mereka menjelajahi jalur hiking pendek yang mudah untuk anak-anak, melewati hutan mangrove yang teduh. Zack bersama Calvin dan Valentin tampak kagum melihat kepiting kecil di sela-sela akar pohon, sementara Katty dan Cassandra sibuk mengumpulkan daun-daun u
*** Setibanya di lokasi camping, keluarga Victor dan Mary langsung terpukau oleh keindahan alam yang terbentang di hadapan mereka. Taman itu memiliki pemandangan yang memanjakan mata: pepohonan mangrove yang rimbun, udara segar dengan aroma laut yang khas, dan suara burung-burung yang berkicau merd
*** "Katty sudah dibantu oleh Daddy, Mom," jawab Zack sambil menunjuk ke arah luar rumah. Mary hanya mengangguk pelan, merasa lega mendengar semua sudah terkendali. Sementara itu, di halaman depan, Katty yang berusia tiga tahun tampak bersemangat membantu Victor memuat barang-barang ke dalam mobil
*** Empat Tahun Kemudian… Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah lima tahun usia pernikahan Mary dan Victor. Kehidupan mereka dipenuhi kebahagiaan, berkat cinta yang terus tumbuh dan keluarga kecil yang mereka bina bersama. Dari pernikahan mereka, Tuhan menganugerahi dua buah hati yang menj
*** Victor kemudian menegakkan tubuh, berdiri menjulang di hadapan Mary yang tengah terengah-engah. Kedua tangannya bergerak menurunkan celana serta boxer, kemudian berlanjut dengan kaos hitam yang melapisi tubuh atletisnya. Hingga kini, Victor berdiri dengan tubuh polos tanpa sehelai benang yang m
*** "Victor!" pekik Mary terkejut, tubuhnya memantul ringan saat ditempatkan di permukaan kayu yang dingin. Refleks, tangannya mencengkeram bahu kokoh suaminya, mencari keseimbangan. Victor menatapnya lekat, wajahnya begitu dekat hingga Mary bisa merasakan hangat napasnya. Ada intensitas di matany
*** Mary mengalihkan pandangannya ke dinding kamar, memperhatikan jam besar di sana. Jarum jam menunjukkan waktu yang sudah cukup larut. Ia menghela napas, menyadari suaminya masih saja sibuk di ruang kerja. "Sudah jam segini, tapi dia masih bekerja," gumamnya pelan, nada suaranya seperti protes ke
*** Langit Miami, Florida, kini telah diselimuti kegelapan malam. Mary, baru saja menyelesaikan ritual malamnya setelah menidurkan putra kecilnya, Zack. Anak lelaki itu telah lelap di kamarnya, meninggalkan keheningan di rumah mereka. Mary melangkah masuk ke dalam kamar mandi, membasuh wajahnya d
Dominic menghela napas panjang, seolah beban berat terangkat dari pundaknya. “Syukurlah,” gumamnya, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. Namun, matanya melirik sekilas ke arah Michael, seolah ingin memastikan reaksi menantunya. Michael, yang sedari tadi memperhatikan dengan seksama, memicing