"Kau yakin? Bukan hanya karena kemarahan sejenak saja?" Christian tak ingin Ivy menyesal setelah memilih pergi bersamanya.Ivy menahan air mata. Ia benci harus menangis karena pria berengsek itu. Daniel nyatanya tak pernah berubah dan dia ... lagi lagi terjebak dalam kalimat manis suaminya."Ya. Aku tak menyesal, aku tak akan menyesal. Kupastikan akan membalas semua bantuanmu, Christ. Aku ... tak ingin berutang kepada siapa pun." Juga, tak ingin jatuh cinta pada siapa pun lagi.Christian terdiam cukup lama."Apa pun, akan kuberikan asalkan kau membawaku pergi.""Ivy, aku ingin hatimu ... bisa kau berikan itu?"Setetes air mata jatuh, Ivy membekap mulutnya. Di saat dia berbicara dengan Christian, kenapa wajah Daniel hadir dalam benaknya. pria itu mencium Amy. "Sorry ...."Christian menghela napas."Yang kupunya hanya tubuhku.""Jangan menangis." Ucapan Christian semakin membuat Ivy menangis keras. "Iv, aku tak sama seperti Daniel. Aku tak akan membuatmu menangis."Sayangnya, Ivy tak
Daniel menatap Ivy dengan mata menyipit tajam, tampak berpikir lama."Kau ingin aku stres di sini? Kau tak kasihan dengan bayimu?" Ia sengaja memegang perutnya.Daniel yang membuatnya seperti ini, ya! Dialah yang mengajari Ivy bagaimana caranya berbohong dan memanipulasi orang dengan rasa cinta."Ok! Kau boleh pergi dengannya. Beli apa pun yang kau mau selagi keluar."Kemewahan bukanlah sesuatu yang menarik bagi Ivy, tidak lagi sejak dia tahu orang seperti apa suaminya."Tentu, sebagai nyonya Forrester aku harus berpenampilan menarik bukan? Jangan sampai aku kalah dengan ibu tirimu." Ivy melangkah menjauh. "Mandilah, aku mual mencium bau parfumnya di tubuhmu."Daniel menghidu pakaiannya diam-diam. Ia mendesah kesal dan beranjak ke kamar mandi.Bahkan setelah kejadian tak mengenakkan di kamar basement, Amy tak jua pergi. Wanita bermuka tebal itu bertindak layaknya nyonya rumah. Ketika Ivy turun ke lantai satu keesokan harinya, makanan sudah tersedia. Ivy tahu Amy sengaja membuatnya kes
Suasana di kedai es krim itu terasa sangat hangat dan mengundang. Lampu-lampu gantung kecil dengan cahaya lembut menyinari interior kedai yang penuh warna cerah. Dinding-dindingnya dihiasi dengan gambar-gambar retro es krim dan poster-poster vintage, membawa nuansa nostalgia yang menyenangkan.Bau manis dari es krim yang baru dibuat tercampur dengan aroma waffle yang sedang dipanggang di bagian belakang kedai, membuat siapa saja yang masuk tak bisa menahan diri untuk mencicipi.Lantai kayu yang halus berderit lembut di setiap langkah, menambah kesan homy. Rak-rak es krim berisi berbagai pilihan rasa, mulai dari cokelat klasik yang pekat hingga rasa buah segar yang ceria, masing-masing tertata rapi dalam wadah-wadah kaca berkilau. Di balik konter, pelayan muda dengan senyum ramah sibuk melayani pelanggan, menggali es krim dari tabung besar dan menyiapkannya dalam cangkir atau cone dengan topping yang berlimpah. Meja-meja kayu kecil dengan kursi nyaman yang tersebar di seluruh kedai,
Film yang dipilih Ivy membuat Christian melongo tak percaya, dia kira wanita lembut ini akan memilih genre romansa, siapa yang menyangka Ivy justru memilih film horor.Christian mencengkeram sandaran kursi, menatap layar bioskop besar yang memancarkan cahaya terang ke dalam ruang gelap, menciptakan suasana mencekam yang semakin tegang seiring dengan dimulainya film horor. Suara dentuman musik keras dan cepat mengisi udara, membuat jantung setiap penonton semakin berdebar, termasuk pria tampan itu.Para penonton terkumpul dalam keheningan penuh antisipasi, mata tertuju ke layar. Bau popcorn dan permen manis menguar di udara, tapi tidak cukup untuk menghilangkan ketegangan yang terasa mencekam. Setiap kali adegan menegangkan muncul, suara teriakan pelan terdengar dari penonton, bercampur dengan desahan cemas. Beberapa penonton menutup mata atau memeluk teman mereka dengan erat, mencoba melindungi diri dari bahaya yang tidak bisa mereka hindari. Tawa canggung juga terkadang terdengar,
"Daniel!" Ivy hampir menangis diperlakukan seperti ini, Daniel mengecup sisi lehernya tanpa ampun, meninggalkan jejak merah merona di sana.Tak sampai di sana, tangan pria itu mulai merambah area pribadinya, memaksa masuk tanpa diundang. Rasanya perih, tentu saja, karena Ivy belum siap. "Aku suamimu, bukan dia! Kenapa kau bisa tertawa bersamanya, tapi tidak denganku?" Daniel menarik napas dalam, membaui tubuh Ivy. Ia ingin menguasai tubuh wanita ini, ingin melahapnya sampai tak bersisa sehingga siapa pun tak bisa memilikinya. Ya! Ivy adalah miliknya, hanya miliknya seorang."Lepaskan kubilang!" Ivy menggertakkan gigi, jantungnya bertalu kuat melihat kegilaan di mata hijau indah milik suaminya.Daniel melepaskan pakaiannya sambil menahan tubuh Ivy."Daniel, jangan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesalinya." Ivy memberi peringatan, meskipun dia mulai merasa takut.Mata Daniel berkilat oleh nafsu, ia tak peduli lagi dengan kondisi istrinya yang sedang hamil muda. Daniel menindih Ivy
Amy Forrester bukanlah wanita biasa yang akan membiarkan apa yang sudah berada di tangannya direbut oleh orang lain. Dia tahu, dalam kondisi saat ini tak akan mungkin membongkar hubungannya dengan Daniel pada suaminya. Pria itu tak akan memaafkannya, tidak saat dia telah memiliki wanita lain.Amy menggigit kukunya, menatap layar ponsel dengan cemas. Angkat teleponmu sekarang juga! Ketiknya cepat.Tak lama kemudian ponselnya mulai berdering. "Hallo, kenapa lama sekali?" hardik Amy marah."Sudah kubilang jangan menghubungiku jika tak penting.""Aku juga tak akan menghubungimu jika tak perlu, rencana kita gagal. Daniel tak takut dengan ancamanku."Terdengar tawa kecil di seberang sana. "Tentu saja dia tak takut, sekarang dia sudah melebarkan sayapnya di bisnis senjata. Bahkan Mr. Forrester sekarang tak akan bisa menganggunya.""Apa?!" Amy menggigit bibir. "Jadi, apa yang harus kita lakukan?"Terdengar tarikan napas keras. "Aku tak menyangka bekerja sama denganmu ternyata sia-sia. Kau t
Amy menyadari, walaupun Daniel tidak langsung menanggapi godaannya, ada sesuatu yang tersirat di matanya—sebuah ketertarikan yang tak bisa ia pungkiri. Saat dia menyentuh lengan Daniel, ada keheningan sejenak sebelum akhirnya Daniel menarik napas panjang dan menggeser gelasnya menjauh dengan kasar."Amy," ujarnya dengan suara lebih berat, penuh peringatan, "Kita tidak perlu bermain-main seperti ini."Amy hanya tertawa pelan, menarik kembali tangannya, lalu mundur beberapa langkah dengan senyum penuh arti. "Baiklah, Daniel. Aku kalah. Dia memang luarbiasa sampai bisa membuatmu seperti ini."Amy tersenyum penuh arti, langkahnya tenang, tapi penuh keyakinan saat dia mundur sedikit, berbalik hendak meninggalkan Daniel. Namun, sebelum dia bisa pergi lebih jauh, sesuatu dalam diri Daniel seolah pecah. Rasanya seperti ada dorongan yang tak bisa dihentikan—sesuatu yang mendalam dan mengganggu—dan tanpa sadar, dia bangkit dari kursinya dan meraih tangan Amy, menariknya kembali.Amy tampak terk
Plak!Ivy terhuyung ke belakang, hampir jatuh menghantam lantai, beruntung dia berhasil memegang kursi sehingga bisa menyeimbangkan tubuh.Amy baru saja menamparnya sekuat tenaga, dia berhasil lolos dari penjagaan Daniel. Ivy yang kepalang tanggung dikuasai emosi, tak memedulikan kondisinya yang sedang hamil. Dia menerjang ke arah Amy, memukul wanita itu."Cukup!" Daniel menahan lengan Ivy, menariknya menjauhi Amy."Oh, jadi kau membelanya!" teriak Ivy gusar. Daniel tak menjawab, ia membopong istrinya ala bridal. Ivy memberontak dan memukul, tapi suaminya tak melepaskannya.Amy tertawa keras di belakang mereka, membuat darah Ivy semakin mendidih. "Sialan! Lepaskan aku! Akan kuhajar wajah sialannya itu! Lepaskan!" Ivy tak ingin begini, mungkin karena hormon hamilnya membuat menjadi begitu mudah tertawa emosi. Dia tak bisa mengendalikan amarahnya.Daniel menggertakkan gigi saat rambutnya dijambak, pipinya dipukul, Ivy bahkan sampai menggigit pundak pria itu agar melepaskannya."Ivy! C
Ivy menjerit memilukan saat pakaiannya ditarik sampai terlepas. Nicolas seperti kesetanan, tak peduli dengan pemberontakan Ivy.Dia berubah, hati Ivy terasa tawar melihat mata pria itu dipenuhi nafsu birahi. Mereka semua sama, mereka hanya menginginkan tubuhnya. "Ini salahmu, kau membuat kami terobsesi padamu. Jangan salahkan aku, Iv. Kau yang menjerumuskanku ke dalam jurang dosa ini." Bersama kalimatnya Ivy merasa pria ini menerobos masuk, tanpa foreplay, kehangatan, atau kata manis. Sakitnya mengoyak kewarasan Ivy, ia mencakar punggung Nicolas, mendorongnya menjauh, tapi pria itu terus menekan ke dalam dirinya."Ugh. Lepas!" Ivy menggigit bibirnya menahan rasa malu dan marah. Lagi lagi dia jatuh di bawah kekuasaan mereka, tak berdaya. Kenapa dia harus terlahir sebagai wanita lemah?"I can't. I can't stop." Nicolas mencium sisi lehernya, tidak! Mengisap kuat, memberi jejak cinta di sana.Air mata Ivy mengalir membasahi seprai. Perut bawahnya terasa menyakitkan, pria itu masih berg
Ivy kehilangan arah dan waktu, saat ikatan tali dan mulutnya dilepas dia sudah berada di sebuah rumah kecil di tempat terpencil. Kendaraan mereka dibawa pergi oleh rekan Nicolas. Dan rumah kayu kecil mereka dikelilingi oleh hutan."Di mana ini?" tanya Ivy cemas, membuka gorden jendela lebar-lebar. Dia bisa melihat pemandangan hijau sampai di kejauhan."Rumah kita mulai sekarang.""Kau mengurungku?" Ivy ingin meledak oleh kemarahan, tapi tetap menahan diri. Bayangan bagaimana Nicolas menikam Daniel masih terngiang jelas dalam ingatannya. "Tidak, kau bebas bergerak di rumah ini. Kau bisa memasak, membersihkan rumah, atau melakukan hobimu. Sini lihat!" Nicolas mendorong Ivy ke jendela kaca samping. "Aku sudah membuat kebun bunga untukmu. Kau bisa membaca sambil melihat pemandangan, kau juga bisa memetik bunga-bunga cantik itu untuk menghias rumah kita."Mata Ivy melebar, pemandangan di luar jendela kacanya memang sangat memukau. Aneka warna dan jenis bunga terhampar di pekarangan, dita
Saat melihat pria itu tersadar, dengan mata hijaunya yang tajam dan menatap Nicolas penuh kebencian, Ivy tanpa sadar menyentuh lengan suaminya.Dia tak tahu apa yang mungkin Daniel lakukan, pria itu bisa saja membunuh Nicolas dengan satu kalimat. Ya! Satu perintah saja, maka bodyguard di luar ruangan akan mengeroyok Nicolas.Dan Nicolas ... Ivy merasa tak mengenalnya setelah dia terluka. Dia tampak lebih berani, menyimpan sesuatu di dalam hatinya yang mungkin akan menggiring mereka ke dalam bencana."Nic ...." Ivy memberi peringatan dengan pandangan matanya. Sayangnya, hal itu membuat hati Daniel semakin panas. Kedua orang di depannya sedang bertukar isyarat, apa mereka meremehkannya karena dia baru bangun dari koma?"Apa yang kalian rencanakan?" Ivy menggigit bibir. "Tidak ada.""Aku tak bertanya padamu, Iv. Tapi dia!"Nicolas menyipitkan matanya. "Kau tentu tahu untuk apa aku kemari.""Kau ingin mengambil istriku?"Nicolas tak menjawab, tak perlu karena dia tahu Daniel hanya memas
Daniel terbangun dari tidurnya yang panjang dengan kepala yang berat, matanya perlahan membuka. Pandangannya samar, dan tubuhnya terasa lemah. Namun saat ia mencoba bergerak, rasa sakit mengingatkannya pada kenyataan—ia baru saja melewati waktu yang lama dalam ketidakberdayaan. Ketika matanya akhirnya menatap wajah Ivy yang ada di dekatnya, ada sedikit ketenangan dalam dirinya. Namun, rasa tenang itu hanya sesaat. Ivy, yang berdiri di samping tempat tidurnya, merasakan perubahan sikap Daniel. Biasanya, matanya akan dipenuhi dengan kehangatan dan cinta, tetapi kali ini, hanya ada kehampaan di sana. Mata Daniel yang biasanya penuh gairah kini terlihat dingin dan jauh."Ivy," suara Daniel terdengar serak, penuh kebingungan. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya masih lemah. "Ya!" Saking bahagianya Ivy sampai memeluk Daniel erat-erat. Lupa bahwa suaminya baru saja membuka mata. "Nyonya, Dokter di sini!" Jenna berseru sambil masuk diikuti oleh dokter dan perawat yang memang standby sewaktu Da
Amy menguji batas kesabaran Ivy dengan mengambil alih semua peran yang biasanya gadis itu lakukan.Amy melangkah masuk ke kamar Daniel tanpa memberikan kesempatan bagi Ivy untuk mengatakan apa pun. Dengan senyum yang penuh percaya diri, dia memerintahkan pelayan yang ada di sana untuk menyiapkan segala keperluan dan memperbaiki kamar, seolah dia adalah orang yang paling berhak di situ."Ambil air hangat untukku, pastikan semuanya teratur!" perintah Amy tegas. Sang pelayan, meski ragu, segera melakukan apa yang diperintahkan.Ivy berdiri beberapa langkah di belakang, merasakan ketegangan yang semakin memuncak di dadanya. Dia menatap Amy tak percaya. Amy bergerak begitu bebas, seolah dia adalah pemilik ruangan ini, sementara Ivy—sebagai istri Daniel—hanya bisa diam di sudut, menjadi orang tersisih.Amy duduk di sisi tempat tidur Daniel tanpa ragu. Dengan gerakan lembut tapi penuh kontrol, dia mulai menyeka tubuh Daniel dengan kain basah, membersihkan wajah pria itu dengan cara yang sang
Ivy dengan rutin membersihkan tubuh Daniel telaten. Matanya berkaca-kaca setiap kali mengusap wajah suaminya.Ia merindukan suara Daniel, tangan hangatnya, juga kecupan mesra pria itu. "Buka matamu, apa kau tak merindukanku?"Air matanya mengalir turun, ia membawa tangan Daniel menyentuh perutnya sendiri. "Anak kita makin bertumbuh, dia butuh dirimu, Daniel. Please, kembalilah.""Nyonya." Jenna masuk ke dalam ruangan. "Ada tamu yang datang.""Siapa?" Ivy menghapus jejak air mata di wajahnya.Jenna tampak gugup."Ada apa, Jenna?" Ivy menoleh ke arah pelayan pribadinya."Mrs. Forrester datang berkunjung.""Apa?!" Mata Ivy melebar tak percaya. Kenapa wanita itu datang lagi setelah berulah?"Apa saya harus mengusirnya?" tanya Jenna cemas, dia tak ingin nyonyanya menghadapi stres di kala hamil muda."Tidak! Aku akan menemuinya." Ivy merapikan gaunnya, bergegas keluar ruangan. Baru saja beberapa langkah, matanya membelalak saat mengenali seseorang. Jenna mengikuti pandangan nyonyanya. "I
Christian menatap ke bawah, ke arah dadanya, tapi dia tak merasakan sakit. Apa yang terjadi? Christian menoleh, melihat sang gadis menatapnya nanar, memegang dadanya yang berlumuran darah segar."Apa yang—" Christian membuang uangnya, berlari menyambut tubuh gadis malang itu yang jatuh tak berdaya."Dia mau membunuhmu, ja-jadi aku menembaknya. Ini bukan salahku, aku hanya menolongmu!" Seorang pemuda berteriak histeris, dia belum pernah menembakkan pistol, tangannya masih gemetar hebat.Mata gadis itu nanat menatap Christian. "Please! Please!" Ia mencengkeram baju Christian erat, meninggalkan jejak darah di sana. "Please, aku tak mau mati, please. Ugh! Sakit! Sakit sekali!""Hei kau! Panggil ambulans!" teriak Christian, tapi pemuda yang menembak gadis itu tak bisa bergerak, tampak syok."Sialan!" Christian tak membawa ponselnya hari ini, dia berusaha menekan luka si gadis agar darah tak semakin banyak keluar."Aku akan mati, aku akan mati!" Si gadis mulai menangis histeris."Sialan! He
"Kau sampai dengan cepat." Christian tertawa renyah.Amy mendorongnya menjauh. "Ah, aku mungkin sedang horny.""Kau memikirkan Daniel saat bercinta denganku?" Pria itu mengangkat alisnya, tampak muram."Tidak, apa kau tuli? Aku menyebut namamu, tak seperti dirimu yang menyebut nama gadis lain saat bersamaku." Amy berguling ke samping, lalu naik ke atas tubuh Christian."Ah, kau membahasnya lagi.""Aku masih marah setiap kali mengingatnya. Ivy ... Ivy, aahhh ...." Amy mengejek Christian.Wajah Christian memerah malu. "Jangan menyebut namanya.""Kenapa? Karena dia sudah menolakmu?""Karena kau tak pantas menyebut namanya.""Sialan kau, Ti!" Amy menjambak rambut Christian, ia menurunkan wajah dan menggigit bibirnya."Jadi kau pantas menyebut namanya?" Amy membawa keperkasaan Christian kembali memasuki dirinya. "Tidak. Aku pun tak pantas, pendosa sepertiku." Christian mendesah, leher jenjangnya terekspos saat ia mendongak ke atas. Amy mulai bergerak, turun naik, seperti menunggangi kuda
Amy diajari banyak hal, mengalami banyak kegiatan seksual yang bahkan tak pernah dia pikirkan sebelumya. Dari diikat, dicambuk, dipukul, sampai pada dicekik. Mr. Forrester begitu ahli sehingga Amy tak merasa tersiksa. Sensasi bercinta dengan pria itu membuatnya kecanduan. Lambat laun, Amy menjadi menyimpang. Dia tak bisa lagi melakukan hubungan sex tanpa kekerasan.Praktik masokis dari Mr. Forrester berhasil membuatnya Amy yang polos berubah. Pria itu memang menepati janjinya, membeli Amy dari Helga, tapi dia juga melatih Amy menjadi alat transaksi bagi kliennya. Amy belajar berbicara manis, bertindak manipulatif sehingga lawan mudah dilumpuhkan. Dengan kekayaan dari Mr. forrester, Amy menjadi semakin bersinar. Semua pakaian mewah, perhiasan, tas, mobil. Mr. Forrester memberikan apa yang Amy mau.Namun Amy baru menyadari, pria itu tak pernah terikat dengan satu wanita. Mr. Forrester punya beberapa wanita lain di luar sana. Mulanya Amy merasa marah, tertipu, menyangka pria ini mempe