"Daniel!" Ivy hampir menangis diperlakukan seperti ini, Daniel mengecup sisi lehernya tanpa ampun, meninggalkan jejak merah merona di sana.Tak sampai di sana, tangan pria itu mulai merambah area pribadinya, memaksa masuk tanpa diundang. Rasanya perih, tentu saja, karena Ivy belum siap. "Aku suamimu, bukan dia! Kenapa kau bisa tertawa bersamanya, tapi tidak denganku?" Daniel menarik napas dalam, membaui tubuh Ivy. Ia ingin menguasai tubuh wanita ini, ingin melahapnya sampai tak bersisa sehingga siapa pun tak bisa memilikinya. Ya! Ivy adalah miliknya, hanya miliknya seorang."Lepaskan kubilang!" Ivy menggertakkan gigi, jantungnya bertalu kuat melihat kegilaan di mata hijau indah milik suaminya.Daniel melepaskan pakaiannya sambil menahan tubuh Ivy."Daniel, jangan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesalinya." Ivy memberi peringatan, meskipun dia mulai merasa takut.Mata Daniel berkilat oleh nafsu, ia tak peduli lagi dengan kondisi istrinya yang sedang hamil muda. Daniel menindih Ivy
Amy Forrester bukanlah wanita biasa yang akan membiarkan apa yang sudah berada di tangannya direbut oleh orang lain. Dia tahu, dalam kondisi saat ini tak akan mungkin membongkar hubungannya dengan Daniel pada suaminya. Pria itu tak akan memaafkannya, tidak saat dia telah memiliki wanita lain.Amy menggigit kukunya, menatap layar ponsel dengan cemas. Angkat teleponmu sekarang juga! Ketiknya cepat.Tak lama kemudian ponselnya mulai berdering. "Hallo, kenapa lama sekali?" hardik Amy marah."Sudah kubilang jangan menghubungiku jika tak penting.""Aku juga tak akan menghubungimu jika tak perlu, rencana kita gagal. Daniel tak takut dengan ancamanku."Terdengar tawa kecil di seberang sana. "Tentu saja dia tak takut, sekarang dia sudah melebarkan sayapnya di bisnis senjata. Bahkan Mr. Forrester sekarang tak akan bisa menganggunya.""Apa?!" Amy menggigit bibir. "Jadi, apa yang harus kita lakukan?"Terdengar tarikan napas keras. "Aku tak menyangka bekerja sama denganmu ternyata sia-sia. Kau t
Amy menyadari, walaupun Daniel tidak langsung menanggapi godaannya, ada sesuatu yang tersirat di matanya—sebuah ketertarikan yang tak bisa ia pungkiri. Saat dia menyentuh lengan Daniel, ada keheningan sejenak sebelum akhirnya Daniel menarik napas panjang dan menggeser gelasnya menjauh dengan kasar."Amy," ujarnya dengan suara lebih berat, penuh peringatan, "Kita tidak perlu bermain-main seperti ini."Amy hanya tertawa pelan, menarik kembali tangannya, lalu mundur beberapa langkah dengan senyum penuh arti. "Baiklah, Daniel. Aku kalah. Dia memang luarbiasa sampai bisa membuatmu seperti ini."Amy tersenyum penuh arti, langkahnya tenang, tapi penuh keyakinan saat dia mundur sedikit, berbalik hendak meninggalkan Daniel. Namun, sebelum dia bisa pergi lebih jauh, sesuatu dalam diri Daniel seolah pecah. Rasanya seperti ada dorongan yang tak bisa dihentikan—sesuatu yang mendalam dan mengganggu—dan tanpa sadar, dia bangkit dari kursinya dan meraih tangan Amy, menariknya kembali.Amy tampak terk
Plak!Ivy terhuyung ke belakang, hampir jatuh menghantam lantai, beruntung dia berhasil memegang kursi sehingga bisa menyeimbangkan tubuh.Amy baru saja menamparnya sekuat tenaga, dia berhasil lolos dari penjagaan Daniel. Ivy yang kepalang tanggung dikuasai emosi, tak memedulikan kondisinya yang sedang hamil. Dia menerjang ke arah Amy, memukul wanita itu."Cukup!" Daniel menahan lengan Ivy, menariknya menjauhi Amy."Oh, jadi kau membelanya!" teriak Ivy gusar. Daniel tak menjawab, ia membopong istrinya ala bridal. Ivy memberontak dan memukul, tapi suaminya tak melepaskannya.Amy tertawa keras di belakang mereka, membuat darah Ivy semakin mendidih. "Sialan! Lepaskan aku! Akan kuhajar wajah sialannya itu! Lepaskan!" Ivy tak ingin begini, mungkin karena hormon hamilnya membuat menjadi begitu mudah tertawa emosi. Dia tak bisa mengendalikan amarahnya.Daniel menggertakkan gigi saat rambutnya dijambak, pipinya dipukul, Ivy bahkan sampai menggigit pundak pria itu agar melepaskannya."Ivy! C
Daniel yang terkejut dan cemas, langsung berlari menuju kamar dengan langkah terburu-buru. Begitu memasuki kamar, ia mendapati Ivy tergeletak lemah di atas ranjang, wajahnya pucat dan bibirnya terkatup rapat. Daniel segera mendekat, matanya penuh kekhawatiran. “Ivy? Ivy, bangun. Ivy!” Ia menoleh cepat pada Jenna. "Apa yang terjadi?""Nyonya menolak makan, lalu tiba-tiba pingsan.""Fuck! Ivy, sadarlah!"Tidak ada jawaban, hanya napas yang berat terdengar dari hidung wanita itu. Daniel dengan cepat meraih tubuhnya, mengangkatnya dengan hati-hati. "Jenna siapkan mobil!""Baik Tuan!" Jenna bergegas melakukan perintah Daniel.Pelayan ikut berlari keluar, sementara Daniel memeluk tubuh Ivy, membawanya keluar dari kamar menuju ruang tamu.Sopir sudah menunggu dengan pintu mobil terbuka lebar. Daniel memasukkan istrinya ke kursi belakang, lalu ikut masuk. Kepala Ivy diletakkan di pangkuan Daniel."Cepat jalan!""Baik, Tuan."***Beberapa saat kemudian, di rumah sakit.Lorong rumah sakit itu
Ivy menatap jalanan di luar, tak ingin berbicara dengan Daniel, meskipun pria itu memegang lengannya dan membisikkan kalimat-kalimat menenangkan."Dokter bilang asal makan dengan teratur, semua akan baik-baik saja. Jangan tunda makan lagi ya."Ivy memilih menjadi orang bisu. "Jika kau marah padaku, pukul aku, tapi jangan sampai menyakiti dirimu sendiri."Akhirnya Ivy menoleh menatapnya. "Untuk apa menyakiti tanganku, di saat hatiku sudah sakit."Daniel menghela napas kasar. "Kau ingin pindah ke tempat yang lebih tenang? Di pedesaan?""Kau tahu apa yang aku mau Daniel.""Please, Iv." Sekarang, mereka bahkan tak bisa berkomunikasi seperti biasa.Sang sopir yang sekaligus bertindak sebagai bodyguard diam-diam mengernyit tak percaya. Daniel Forrester adalah pria kejam yang tak tunduk pada siapa pun. Sudah berapa wanita yang ia buat menangis, berapa pria yang ia bunuh. Namun lihat sekarang, di hadapan Ivy Gilmore, pria itu tampak tak berdaya. Jika musuh mereka tahu, mereka bisa dengan mud
Ivy tak mengerti kenapa dia bertindak seperti ini. Cinta memang buta, berapa kali pun Daniel menyakitinya, Ivy tak sanggup melihatnya terluka.Jika dia harus mati, Ivy bersedia mati bersama Daniel. Cinta, mampu membuat orang kehilangan segalanya, bahkan nyawanya sendiri.Dor!Tembakan itu mengenai tanah karena pria bertopeng lain mendorong lengan temannya hingga sasarannya meleset."Hei! Apa yang kau lakukan?" hardik pria yang hendak menembak Daniel marah."Jangan membunuh mereka dulu. Lihat!" Ia mengedikkan kepala pada Ivy. "Kapan lagi kita bisa menikmati wanita secantik ini. Top tier."Senyum pria satunya langsung melebar, lidahnya terjulur penuh nafsu.Ivy tak bisa mendengarkan mereka, matanya fokus memperhatikan Daniel. Darah pria itu terlalu banyak keluar. Kenapa bodyguard Daniel tak mengikuti mereka? Ke mana mereka saat tuannya sekarat seperti ini? Ivy menggertakkan gigi, berusaha menahan darah keluar dengan tangannya.Bibir Daniel bergerak pelan, Ivy langsung menunduk. "Lari, d
Tatapan Ivy terfokus pada sosok Daniel yang terbaring tak berdaya. Suara alat-alat medis yang bekerja memberikan kesan bahwa waktu seakan berhenti. Lampu-lampu putih yang redup di langit-langit hanya memperburuk suasana yang penuh dengan kecemasan dan ketakutan."Ivy, Nyonya Ivy! Ayo keluar dulu, lebih baik—" Christian berusaha menarik lengan Ivy."Tidak!" Ivy mengempaskan tangannya, berlari ke arah dokter dan perawat yang sedang bekerja."Dok! Bagaimana kondisi suamiku?"Dokter menatap Christian, seolah meminta persetujuan untuk memberitahu Ivy. Christian menghela napas, mengangguk pelan. Toh Ivy sudah terlanjur melihat kondisi Daniel, berbohong juga percuma saja."Mr. Forrester mengalami koma karena syok hipovolemik."Pupil mata Ivy melebar ketakutan. "Apa maksudnya, Dok?""Mr. Forrester kehilangan banyak darah, jantungnya tidak dapat memasok darah yang cukup ke tubuh."Ivy merasa dunianya ambruk, dia terhuyung ke belakang. Beruntung Christian dengan sigap menopang tubuhnya.Christ
Ivy menjerit memilukan saat pakaiannya ditarik sampai terlepas. Nicolas seperti kesetanan, tak peduli dengan pemberontakan Ivy.Dia berubah, hati Ivy terasa tawar melihat mata pria itu dipenuhi nafsu birahi. Mereka semua sama, mereka hanya menginginkan tubuhnya. "Ini salahmu, kau membuat kami terobsesi padamu. Jangan salahkan aku, Iv. Kau yang menjerumuskanku ke dalam jurang dosa ini." Bersama kalimatnya Ivy merasa pria ini menerobos masuk, tanpa foreplay, kehangatan, atau kata manis. Sakitnya mengoyak kewarasan Ivy, ia mencakar punggung Nicolas, mendorongnya menjauh, tapi pria itu terus menekan ke dalam dirinya."Ugh. Lepas!" Ivy menggigit bibirnya menahan rasa malu dan marah. Lagi lagi dia jatuh di bawah kekuasaan mereka, tak berdaya. Kenapa dia harus terlahir sebagai wanita lemah?"I can't. I can't stop." Nicolas mencium sisi lehernya, tidak! Mengisap kuat, memberi jejak cinta di sana.Air mata Ivy mengalir membasahi seprai. Perut bawahnya terasa menyakitkan, pria itu masih berg
Ivy kehilangan arah dan waktu, saat ikatan tali dan mulutnya dilepas dia sudah berada di sebuah rumah kecil di tempat terpencil. Kendaraan mereka dibawa pergi oleh rekan Nicolas. Dan rumah kayu kecil mereka dikelilingi oleh hutan."Di mana ini?" tanya Ivy cemas, membuka gorden jendela lebar-lebar. Dia bisa melihat pemandangan hijau sampai di kejauhan."Rumah kita mulai sekarang.""Kau mengurungku?" Ivy ingin meledak oleh kemarahan, tapi tetap menahan diri. Bayangan bagaimana Nicolas menikam Daniel masih terngiang jelas dalam ingatannya. "Tidak, kau bebas bergerak di rumah ini. Kau bisa memasak, membersihkan rumah, atau melakukan hobimu. Sini lihat!" Nicolas mendorong Ivy ke jendela kaca samping. "Aku sudah membuat kebun bunga untukmu. Kau bisa membaca sambil melihat pemandangan, kau juga bisa memetik bunga-bunga cantik itu untuk menghias rumah kita."Mata Ivy melebar, pemandangan di luar jendela kacanya memang sangat memukau. Aneka warna dan jenis bunga terhampar di pekarangan, dita
Saat melihat pria itu tersadar, dengan mata hijaunya yang tajam dan menatap Nicolas penuh kebencian, Ivy tanpa sadar menyentuh lengan suaminya.Dia tak tahu apa yang mungkin Daniel lakukan, pria itu bisa saja membunuh Nicolas dengan satu kalimat. Ya! Satu perintah saja, maka bodyguard di luar ruangan akan mengeroyok Nicolas.Dan Nicolas ... Ivy merasa tak mengenalnya setelah dia terluka. Dia tampak lebih berani, menyimpan sesuatu di dalam hatinya yang mungkin akan menggiring mereka ke dalam bencana."Nic ...." Ivy memberi peringatan dengan pandangan matanya. Sayangnya, hal itu membuat hati Daniel semakin panas. Kedua orang di depannya sedang bertukar isyarat, apa mereka meremehkannya karena dia baru bangun dari koma?"Apa yang kalian rencanakan?" Ivy menggigit bibir. "Tidak ada.""Aku tak bertanya padamu, Iv. Tapi dia!"Nicolas menyipitkan matanya. "Kau tentu tahu untuk apa aku kemari.""Kau ingin mengambil istriku?"Nicolas tak menjawab, tak perlu karena dia tahu Daniel hanya memas
Daniel terbangun dari tidurnya yang panjang dengan kepala yang berat, matanya perlahan membuka. Pandangannya samar, dan tubuhnya terasa lemah. Namun saat ia mencoba bergerak, rasa sakit mengingatkannya pada kenyataan—ia baru saja melewati waktu yang lama dalam ketidakberdayaan. Ketika matanya akhirnya menatap wajah Ivy yang ada di dekatnya, ada sedikit ketenangan dalam dirinya. Namun, rasa tenang itu hanya sesaat. Ivy, yang berdiri di samping tempat tidurnya, merasakan perubahan sikap Daniel. Biasanya, matanya akan dipenuhi dengan kehangatan dan cinta, tetapi kali ini, hanya ada kehampaan di sana. Mata Daniel yang biasanya penuh gairah kini terlihat dingin dan jauh."Ivy," suara Daniel terdengar serak, penuh kebingungan. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya masih lemah. "Ya!" Saking bahagianya Ivy sampai memeluk Daniel erat-erat. Lupa bahwa suaminya baru saja membuka mata. "Nyonya, Dokter di sini!" Jenna berseru sambil masuk diikuti oleh dokter dan perawat yang memang standby sewaktu Da
Amy menguji batas kesabaran Ivy dengan mengambil alih semua peran yang biasanya gadis itu lakukan.Amy melangkah masuk ke kamar Daniel tanpa memberikan kesempatan bagi Ivy untuk mengatakan apa pun. Dengan senyum yang penuh percaya diri, dia memerintahkan pelayan yang ada di sana untuk menyiapkan segala keperluan dan memperbaiki kamar, seolah dia adalah orang yang paling berhak di situ."Ambil air hangat untukku, pastikan semuanya teratur!" perintah Amy tegas. Sang pelayan, meski ragu, segera melakukan apa yang diperintahkan.Ivy berdiri beberapa langkah di belakang, merasakan ketegangan yang semakin memuncak di dadanya. Dia menatap Amy tak percaya. Amy bergerak begitu bebas, seolah dia adalah pemilik ruangan ini, sementara Ivy—sebagai istri Daniel—hanya bisa diam di sudut, menjadi orang tersisih.Amy duduk di sisi tempat tidur Daniel tanpa ragu. Dengan gerakan lembut tapi penuh kontrol, dia mulai menyeka tubuh Daniel dengan kain basah, membersihkan wajah pria itu dengan cara yang sang
Ivy dengan rutin membersihkan tubuh Daniel telaten. Matanya berkaca-kaca setiap kali mengusap wajah suaminya.Ia merindukan suara Daniel, tangan hangatnya, juga kecupan mesra pria itu. "Buka matamu, apa kau tak merindukanku?"Air matanya mengalir turun, ia membawa tangan Daniel menyentuh perutnya sendiri. "Anak kita makin bertumbuh, dia butuh dirimu, Daniel. Please, kembalilah.""Nyonya." Jenna masuk ke dalam ruangan. "Ada tamu yang datang.""Siapa?" Ivy menghapus jejak air mata di wajahnya.Jenna tampak gugup."Ada apa, Jenna?" Ivy menoleh ke arah pelayan pribadinya."Mrs. Forrester datang berkunjung.""Apa?!" Mata Ivy melebar tak percaya. Kenapa wanita itu datang lagi setelah berulah?"Apa saya harus mengusirnya?" tanya Jenna cemas, dia tak ingin nyonyanya menghadapi stres di kala hamil muda."Tidak! Aku akan menemuinya." Ivy merapikan gaunnya, bergegas keluar ruangan. Baru saja beberapa langkah, matanya membelalak saat mengenali seseorang. Jenna mengikuti pandangan nyonyanya. "I
Christian menatap ke bawah, ke arah dadanya, tapi dia tak merasakan sakit. Apa yang terjadi? Christian menoleh, melihat sang gadis menatapnya nanar, memegang dadanya yang berlumuran darah segar."Apa yang—" Christian membuang uangnya, berlari menyambut tubuh gadis malang itu yang jatuh tak berdaya."Dia mau membunuhmu, ja-jadi aku menembaknya. Ini bukan salahku, aku hanya menolongmu!" Seorang pemuda berteriak histeris, dia belum pernah menembakkan pistol, tangannya masih gemetar hebat.Mata gadis itu nanat menatap Christian. "Please! Please!" Ia mencengkeram baju Christian erat, meninggalkan jejak darah di sana. "Please, aku tak mau mati, please. Ugh! Sakit! Sakit sekali!""Hei kau! Panggil ambulans!" teriak Christian, tapi pemuda yang menembak gadis itu tak bisa bergerak, tampak syok."Sialan!" Christian tak membawa ponselnya hari ini, dia berusaha menekan luka si gadis agar darah tak semakin banyak keluar."Aku akan mati, aku akan mati!" Si gadis mulai menangis histeris."Sialan! He
"Kau sampai dengan cepat." Christian tertawa renyah.Amy mendorongnya menjauh. "Ah, aku mungkin sedang horny.""Kau memikirkan Daniel saat bercinta denganku?" Pria itu mengangkat alisnya, tampak muram."Tidak, apa kau tuli? Aku menyebut namamu, tak seperti dirimu yang menyebut nama gadis lain saat bersamaku." Amy berguling ke samping, lalu naik ke atas tubuh Christian."Ah, kau membahasnya lagi.""Aku masih marah setiap kali mengingatnya. Ivy ... Ivy, aahhh ...." Amy mengejek Christian.Wajah Christian memerah malu. "Jangan menyebut namanya.""Kenapa? Karena dia sudah menolakmu?""Karena kau tak pantas menyebut namanya.""Sialan kau, Ti!" Amy menjambak rambut Christian, ia menurunkan wajah dan menggigit bibirnya."Jadi kau pantas menyebut namanya?" Amy membawa keperkasaan Christian kembali memasuki dirinya. "Tidak. Aku pun tak pantas, pendosa sepertiku." Christian mendesah, leher jenjangnya terekspos saat ia mendongak ke atas. Amy mulai bergerak, turun naik, seperti menunggangi kuda
Amy diajari banyak hal, mengalami banyak kegiatan seksual yang bahkan tak pernah dia pikirkan sebelumya. Dari diikat, dicambuk, dipukul, sampai pada dicekik. Mr. Forrester begitu ahli sehingga Amy tak merasa tersiksa. Sensasi bercinta dengan pria itu membuatnya kecanduan. Lambat laun, Amy menjadi menyimpang. Dia tak bisa lagi melakukan hubungan sex tanpa kekerasan.Praktik masokis dari Mr. Forrester berhasil membuatnya Amy yang polos berubah. Pria itu memang menepati janjinya, membeli Amy dari Helga, tapi dia juga melatih Amy menjadi alat transaksi bagi kliennya. Amy belajar berbicara manis, bertindak manipulatif sehingga lawan mudah dilumpuhkan. Dengan kekayaan dari Mr. forrester, Amy menjadi semakin bersinar. Semua pakaian mewah, perhiasan, tas, mobil. Mr. Forrester memberikan apa yang Amy mau.Namun Amy baru menyadari, pria itu tak pernah terikat dengan satu wanita. Mr. Forrester punya beberapa wanita lain di luar sana. Mulanya Amy merasa marah, tertipu, menyangka pria ini mempe