Hanya saja, Suri tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Ia segera melarikan diri dari kamar yang telah menjadi saksi bisu penderitaannya selama ini.
Bingung harus ke mana, Suri berlari ke bagian belakang mansion, menuju kamar pelayan.
Hanya tempat itu yang aman bagi dirinya saat ini. Tidak mungkin ia menuju ke depan mansion karena di sana masih ada Diva, ibu mertua, dan adik iparnya.
Dengan tubuh yang gemetar, Suri berhenti di depan kamar Bi Wina.
Selama ini, hanya wanita tua yang sudah bertahun-tahun bekerja di mansion keluarga Albantara itu yang pernah menunjukkan rasa simpati padanya.
“Bi Wina,” suara Suri terdengar pecah, ia menahan isak. “Bolehkan aku bermalam di sini? Aku tidak ingin kembali ke kamarku.”
Bi Wina terkejut dan menatap Suri penuh kebingungan. Namun, melihat mata Suri yang sembap dan memerah, ia bisa merasakan kepedihan yang sedang ditanggung perempuan muda itu.
Dengan lembut, Bi Wina mempersilakan Suri duduk di atas tempat tidur kecil di sudut kamarnya.
“Nona Suri, apa yang terjadi? Apa saya bisa bantu?” tanya Bi Wina dengan suara pelan, penuh perhatian.
Suri menggeleng, menahan air matanya yang sudah cukup deras. “Tidak apa-apa, Bi. Aku hanya… butuh waktu. Jangan khawatirkan aku.” Ia menunduk, berusaha meredakan perasaannya yang masih kalut.
Bi Wina mengangguk, tak ingin mendesak lebih jauh, meskipun ada banyak pertanyaan yang menggantung di benaknya. Perempuan tua itu menyodorkan segelas air putih, yang segera diminum habis oleh Suri.
Satu jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda Romeo akan mengejarnya ke kamar pelayan. Suri masih duduk di kamar Bi Wina, memeluk dirinya sendiri di tempat tidur. Ia yakin jika suaminya itu sudah pergi untuk mengantarkan Diva pulang ke apartemen.
Pikiran Suri berkelana ke berbagai tempat, berusaha memahami segala hal yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. Dalam keheningan itu, ponsel di saku bajunya berbunyi, menyadarkan Suri dari lamunan.
Begitu melihat nama sang pengacara di layar, Suri segera meraih ponselnya.
“Suri,” suara Tuan Josua terdengar di ujung telepon. “Surat gugatan cerai sudah siap. Kurasa, lebih baik kamu mengambilnya besok pagi saja di kantorku.”
Suri mengangguk meski tahu pengacara itu tidak bisa melihatnya. “Terima kasih, Paman,” katanya, suaranya masih terdengar lemah. “Tapi, bisakah aku menemui Paman sekarang? Aku ingin menyodorkan surat cerai itu kepada Romeo begitu dia bangun tidur.”
Tuan Josua terdiam sejenak. Namun, tak berselang lama pria paruh baya itu memberikan jawaban. “Datang saja ke rumahku, Suri. Aku akan menunggumu.”
Usai panggilan telepon itu berakhir, Suri menghapus air matanya.
Tidak ada waktu lagi untuk menangis. Suri bertekad untuk meninggalkan mansion diam-diam sebelum Romeo kembali.
Ketika napasnya sudah lebih stabil, Suri memesan taksi melalui aplikasi ponselnya dan bersiap-siap meninggalkan kamar Bi Wina.
Apa pun yang terjadi, ia harus segera mendapatkan surat cerai itu dan meminta Romeo untuk menandatanganinya!
Yang jelas, malam ini, ia akan menemui pengacaranya, lalu menginap satu malam di hotel untuk menenangkan diri.
***
“Suri, dari mana saja kau? Apa kau berniat mencoreng nama baik keluarga Albantara, dengan pergi keluyuran semalaman?”
Begitu tiba, ia disambut sinis oleh mertuanya.
Namun semua kata-kata itu terdengar seperti angin lalu bagi Suri.
Tidak ada yang penting lagi selain kebebasan yang sudah di depan mata.
Jadi, Suri memilih berjalan lurus ke kamar untuk mencari Romeo dengan berkas perceraian di tangan.
Hanya saja, pria itu tidak ada di sana.
Bahkan, seprai putih yang terbentang di atas ranjang masih terlihat rapi, seperti tidak tersentuh sama sekali.
Drrt!
Seolah tahu kebingungannya, nomor tak dikenal itu mengirim foto Romeo dengan Diva.
Suri seketika tersenyum sinis. Ia rasa pemilik nomor ini adalah Diva.
Tapi, rasa sakit itu sudah hilang dan berganti amarah.
Tanpa pikir panjang, Suri lantas mengunci pintu kamar dari dalam.
Ia membuka lemari dan mengeluarkan koper besar dari rak atas.
Seolah mendapatkan kekuatan baru, Suri memasukkan pakaian, sepatu, dan barang-barang pribadinya ke dalam koper.
Setiap kali tangannya menyentuh pakaian, perasaan sakit muncul di dadanya, tetapi Suri menahannya sedapat mungkin.
Ia harus segera pergi dari tempat ini dan memulai hidup baru yang bebas dari bayang-bayang Romeo.
Selesai mengemasi barang-barang, Suri duduk di tepi ranjang sambil memandang koper yang telah siap di sampingnya. Tangannya meremas map berwarna cokelat yang berisi berkas perceraian. Ia akan menunggu dengan sabar, menanti Romeo pulang ke mansion dan meminta lelaki itu melepaskan dirinya dari belenggu pernikahan.
Hanya saja, hingga menjelang waktu makan siang, Romeo tak kunjung menampakkan diri.
Rasanya seperti menunggu dalam kekosongan, tenggelam dalam sunyi yang menyesakkan.
Suri menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa kesal dan cemas yang semakin menggerogoti. Ia bahkan tak menghiraukan teriakan ibu mertuanya maupun ketukan di pintu, yang memaksanya untuk keluar dari kamar.
Akhirnya, Suri meraih ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Romeo. Dada Suri berdebar kencang, berharap suaminya—atau sebentar lagi mantan suaminya—mengangkat panggilan tersebut.
Namun suara di seberang sana bukanlah suara Romeo, melainkan Yonas, asisten sekaligus tangan kanan Romeo.
"Maaf, Nona Suri. Tuan Romeo sedang ada meeting bersama klien, tidak bisa diganggu,” kata Yonas dengan nada datar.
Suri meremas ponselnya, menekan amarah yang mulai mendidih. "Kapan selesai?" tanyanya dengan suara dingin.
Yonas terdengar ragu sebelum menjawab, "Saya tidak bisa memastikan, Nona, mungkin sampai sore hari. Selesai meeting, Tuan Romeo juga ada pertemuan penting sekaligus makan malam bersama Tuan Thomas dan Nona Diva di Hotel Orion."
Ck!Ucapan Yonas itu membuat Suri mendengus sinis.Sudah jelas, bukan? Romeo lebih memilih menghabiskan waktu bersama Diva daripada pulang dan menyelesaikan masalah rumah tangganya. "Sampaikan pada Romeo," kata Suri dengan nada tajam, "aku hanya minta sepuluh menit waktunya. Sepuluh menit saja untuk menandatangani surat cerai." Yonas terdiam sesaat, lalu berkata hati-hati, "Baik, Nona Suri. Nanti saya sampaikan." Suri tahu, tak ada gunanya berharap banyak.Romeo pasti akan mencari alasan untuk terus mengabaikannya, lalu memadu kasih dengan Diva tanpa rasa bersalah. Tut!Dengan gerakan tegas, Suri memutus sambungan telepon dan meletakkan ponselnya di meja.Ia lalu membuka kopernya sekali lagi.Tangannya terulur, menyentuh sebuah gaun merah anggun yang sudah lama tidak ia pakai.Gaun itu pernah menjadi favoritnya—simbol keberanian dan kekuatan.Namun sejak kehidupannya dengan Romeo berubah menjadi penjara, gaun itu hanya berdiam dalam gelap, seperti dirinya.Suri melepas pakaian
Begitu tiba, Suri berjalan cepat memasuki lobi Hotel Orion.Gaun merah yang ia kenakan berayun mengikuti gerakan tubuhnya, menarik perhatian tamu dan staf hotel.Namun, Suri tidak peduli. Hanya satu hal yang ada dalam pikirannya malam ini—mengakhiri pernikahan dengan Romeo. Ia langsung menuju meja resepsionis dan bertanya, “Di mana letak restoran?” “Di sebelah kanan lobi, Nyonya.”Setelah mendapat arahan dari sang resepsionis, Suri mengayunkan langkah. Begitu sampai di depan pintu restoran, ia berhenti sejenak, mengatur napas. Dari celah pintu kaca, Suri langsung menangkap sosok Romeo yang duduk di meja besar bersama seorang pria berjas hitam. Ia menebak pria itu adalah Tuan Thomas. Sementara di samping Romeo, ada Diva yang terlihat cantik dengan gaun model sabrina berwarna hitam. Suri mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyergap hatinya. Ia melihat mereka berbincang akrab, seperti tak ada beban. Sejenak, ia ingin berbalik dan pergi, tetapi ia sudah terlalu jauh. Ini buka
Suri terkejut dan mencoba melawan, tetapi Romeo menggenggam tangannya lebih erat. Ia menyeret Suri keluar dari restoran tanpa menghiraukan tatapan heran para tamu. “Romeo, kamu gila!” Suri berteriak.Romeo terus menariknya menuju lift, lalu menekan tombol ke lantai tujuh dengan terburu-buru. Pintu lift tertutup, mengurung mereka berdua dalam ruang sempit yang penuh dengan ketegangan. “Kenapa kamu melakukan ini?” Suri berbisik, suaranya bergetar antara marah dan takut. Romeo menatapnya dengan mata yang penuh emosi. “Kamu ingin kebebasan, Suri? Kamu akan mendapatkannya setelah kita selesaikan semuanya malam ini.” Suri menelan ludah, hatinya berdegup kencang. Ia merasa terperangkap dalam situasi yang tak terduga. Meski begitu, ia tidak akan membiarkan Romeo menang. Begitu lift sampai di lantai yang dituju, Romeo menarik Suri keluar dan membawanya ke depan pintu kamar. Dengan satu gerakan cepat, lelaki itu menyeret Suri masuk lalu menutup pintu dengan keras. Bunyi pintu yang te
Entah berapa lama, Suri tak tahu.Romeo benar-benar tak dapat dicegah sama sekali.Pria itu benar-benar keras, panas, dan tak tertahankan.Tapi begitu memaksa di saat bersamaan.Hal ini sungguh berbeda dari bayangan Suri sebelumnya.Ia selalu membayangkan malam pertamanya dengan sang suami akan begitu hangat dan lembut. Bukan kemarahan seperti ini.Perlahan, Suri merasakan kantuk.Ia terlalu lelah, hingga menyerah.Dibiarkannya Romeo menguasai tubuhnya.***"Arrgh..." erang Suri kala terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, seolah-olah ia baru saja dilindas truk.Kepalanya terasa berat, dan tubuhnya lemas, seperti kehilangan seluruh energi dan harapannya.Di kamar hotel yang mewah itu, matanya mengerjap beberapa kali kala menyadari kenyataan pahit yang menimpanya—Romeo sudah tidak ada.Suri meremas selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Napasnya terasa berat, seolah-olah ada beban tak terlihat yang menekan dadanya. Ia memaksa dirinya turun dari tempat tidur denga
Selama perjalanan, Suri menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Ia memikirkan semua kenangan buruk dan perasaan terperangkap yang ia alami bersama Romeo semalam. Pria itu, yang tidak pernah menyentuhnya selama pernikahan, justru mengambil kesuciannya secara paksa di saat-saat terakhir mereka bersama. Betapa ironisnya cinta yang dulu ia pikir akan membuatnya bahagia, kini hanya menyisakan luka mendalam.Suri mengepalkan tangan di atas pangkuan. Romeo boleh mengambil surat cerai mereka, tetapi pria itu tidak akan bisa menghentikan niatnya untuk pergi. Apapun risikonya, ia akan menggugat Romeo secara hukum untuk mengakhiri pernikahan mereka.Saat taksi berhenti di tempat tujuan, Suri menghela napas sepenuh dada. Dengan langkah gontai, ia keluar dari taksi. Gaun merah yang ia kenakan tampak kusut, dan wajahnya terlihat begitu pucat, membuat aura kerapuhan menyelimuti dirinya. Meski tubuhnya serasa tak bertenaga, Suri tahu bahwa langkah pertama menuju kebebasan sudah dimulai. Kini
Setelah asisten Tuan Josua membelikan blazer baru, Suri segera melanjutkan perjalanan ke rumah sakit dengan diantar mobil pribadi milik pengacaranya. Di dalam mobil, tubuh Suri bersandar lemah, tetapi pikirannya berputar. Setiap detik berlalu terasa lambat, dan hatinya masih bergejolak dengan kenangan buruk semalam.Ia menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang berlalu begitu cepat, seolah mengisyaratkan bahwa waktu tak akan berhenti menunggunya. Begitu sampai di rumah sakit, Suri turun dengan langkah berat. Blazer yang ia kenakan sedikit memberikan rasa nyaman, seolah menyembunyikan luka batin yang menggerogoti hatinya.Di ruang tunggu, ia duduk sejenak sebelum akhirnya perawat memanggilnya masuk ke ruangan dokter Adrian. Ketika dokter Adrian melihat Suri masuk, wajahnya langsung memancarkan keterkejutan.“Suri, apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah jadwal operasimu besok siang?” tanyanya, bingung.
Baru saja Romeo meletakkan gagang telepon, pintu ruangannya terbuka. Diva masuk dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, menenteng kantong cokelat yang terlihat seperti bungkusan makan siang. Dengan gaya berjalan bak model di atas catwalk, wanita itu mendekati meja kerja Romeo.“Kak Romeo, aku bawakan makan siang untukmu. Aku sendiri yang masak,” tuturnya dengan nada menggoda. Padahal, makanan itu dipesannya dari salah satu restoran mahal. Ia tahu Romeo menyukai perhatian semacam itu, dan Diva sangat ahli memainkan peran wanita ideal di hadapan pria yang ia inginkan. Romeo melonggarkan dasi di lehernya yang terasa mencekik. Kemudian, ia beranjak dari kursi untuk membuang amplop cokelat dan potongan kertas yang masih tersisa di meja.Mata Diva langsung menangkap benda yang dibawa oleh Romeo, dan ia menyadari apa itu. “Bukankah itu surat cerai dari Suri?” tanyanya dengan nada terkejut, alisnya terangkat. “Kenapa Kak Romeo malah membuangnya? Aku pikir Kak Romeo sudah menandatang
Ketika akhirnya mobil tiba di depan Hotel Orion, Romeo langsung melompat keluar bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti. Ia masuk ke lobi dengan langkah lebar. Tanpa mempedulikan pandangan staf hotel yang memperhatikannya, Romeo menghampiri meja resepsionis. Yonas yang melihat kedatangan sang atasan, buru-buru mendampingi Romeo.“Di mana istri saya, Suri Albantara?” suaranya tajam dan dingin seperti pisau. Resepsionis yang bertugas tampak canggung, menunduk sedikit sambil berkata dengan hati-hati, “Maaf, Tuan Romeo. Kami tidak tahu. Istri Anda meninggalkan hotel sekitar pukul sembilan pagi.”Romeo semakin berang. “Bagaimana kalian bisa tidak tahu? Bukankah setiap tamu VIP di sini harus diperhatikan?” Suaranya meninggi, membuat beberapa tamu di sekitar lobi menoleh dengan rasa ingin tahu bercampur ketakutan.Manajer hotel yang mendengar keributan itu segera datang, wajahnya tegang. Ia mengenali Romeo sebagai salah satu tamu penting, sekaligus rekan bisnis dari keluarga Gunarto, pe
Tubuh Serin menegang. Ia tidak menyangka calon suami mendiang Liora akan semarah itu padanya. “A-aku tidak bermaksud melukai siapapun. Aku hanya menerima tawaran dari pihak yayasan,” jawab Serin. Suaranya melemah, nyaris seperti seorang anak yang tidak mengerti kenapa ia harus disalahkan atas sesuatu yang di luar kendalinya. “Aku mengerti, Serin. Tapi, pria itu sepertinya sedang kehilangan akal sehat.” Dara menegaskan, suaranya semakin cemas.Kemudian, gadis itu mencodongkan tubuh ke depan, supaya Serin bisa mendengar suaranya dengan lebih jelas. “Nanti saat penghilatanmu sudah pulih, kamu harus mengingat ciri-ciri pria itu. Dia berwajah tampan, bermata hazel, tingginya sekitar 180cm, dan penampilannya seperti eksekutif muda.”Serin mencoba membayangkan seseorang dengan ciri-ciri itu dalam benaknya. Namun, semuanya masih gelap. Yang terlintas di pikirannya, justru sosok seorang pria dewasa yang garang dan tak mengenal belas kasihan. “…dan kalau aku tidak salah dengar, namanya Jev
Meski langit mulai gelap, Jevandro masih bersimpuh di depan makam Liora. Rasa kehilangan menekan dadanya begitu kuat, membuat lelaki itu sulit untuk bernapas. Butiran tanah yang terselip di jari-jarinya terasa nyata, mengingatkan Jevandro bahwa sang kekasih telah meninggalkan dunia fana. Rakyan dan Jeandra berjongkok di samping Jevandro, wajah mereka penuh iba. "Jevan," suara Jeandra lirih, hampir tak terdengar di antara suara desir angin. "Kita harus pulang." Jevandro tetap diam, matanya masih terpaku pada nisan di hadapannya, seakan berharap jika ia menatap cukup lama, keajaiban akan terjadi. "Kondisimu masih lemah, Kak," kali ini Rakyan yang berbicara. "Kakak harus istirahat." Jevandro menjawab dengan anggukan kepala. Ia tahu, tinggal di sini lebih lama pun tidak akan mengubah kenyataan. Dengan perlahan, ia menerima uluran tangan Jeandra yang menggenggam erat jemarinya, sementara Rakyan menopang bahunya dengan kokoh. Mereka bertiga berjalan meninggalkan area makam yang s
Seperti singa yang terluka, Jevandro menuju pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Lampu merah masih menyala, pertanda bahwa prosedur sedang berlangsung. Namun, ia tidak peduli sama sekali.Dengan mata memerah dan napas terengah-engah, lelaki itu mengangkat tangan dan menggedor pintu dengan keras."Buka pintunya! Jangan sentuh, Liora!"Jevandro tidak ingin menerima kenyataan ini. Tidak sekarang, maupun selamanya. Amarah bercampur kesedihan membuat Jevandro lepas kendali. Ia mengangkat kakinya, mencoba menendang pintu operasi sekuat tenaga. Buru-buru, Rakyan menariknya ke belakang, menahannya supaya sang kakak tidak berbuat semakin nekat.“Sabar, Kak. Jangan seperti ini.”Namun, Jevandro tetap meronta-ronta. “Tidak boleh ada yang mengambil Liora dariku! Liora masih ….”Kalimatnya terputus oleh isakan. Tiba-tiba, Jevandro terhuyung dan jatuh berlutut di depan pintu ruang operasi, dadanya naik turun, bahunya berguncang hebat. Melihat kondisi Jevandro, Kenzo bergegas mendekat. Ia men
Jevandro menoleh dengan gerakan lambat, tatapan matanya masih kosong. Suaranya bergetar ketika akhirnya satu kata terlontar dari bibirnya, begitu lirih tetapi penuh luka. "Liora.…”Hanya nama itu yang mampu ia ucapkan. Satu nama yang selama ini mengisi hatinya. Satu nama yang selalu ia bayangkan akan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Rakyan tertegun. Ia menunduk, mengambil ponsel Jevandro yang masih tergeletak di meja. Layar ponsel itu telah gelap, panggilan sudah terputus. Tanpa banyak berpikir, Rakyan mencari nomor terakhir yang baru saja menghubungi Jevandro, kemudian menghubungi nomor tersebut dengan ponselnya sendiri. Nada sambung terdengar beberapa kali, sebelum suara serak dan penuh kesedihan menyapa dari seberang. "Halo, siapa ini?”"Om Kenzo, saya Rakyan. Apa yang sebenarnya terjadi?" sapa Rakyan sedikit bergetar. Perasaannya dipenuhi oleh firasat buruk.Terdengar helaan napas berat di seberang sana. Ada jeda panjang, seolah kata-kata itu begitu sulit untuk diucapka
"Terima kasih, Bu Marisa. Saya pasti bekerja semaksimal mungkin untuk perusahaan,” balas Serin tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Bisa terpilih di antara sekian banyak pelamar, adalah sebuah karunia yang patut ia syukuri. “Senin nanti, Anda harus membawa fotokopi KTP dan rekening bank atas nama Anda sendiri. Selain itu, datanglah dengan pakaian yang rapi dan profesional, rambut disanggul rapi ke atas, sesuai dengan standar penampilan dari staf call center Verdant Group.”"Baik, Bu. Saya akan menyiapkannya." Serin mengangguk, meskipun ia tahu lawan bicaranya tak bisa melihat.“Kalau begitu, selamat bergabung dengan Verdant Group. Saya tunggu kedatangan Anda Senin nanti.”Begitu panggilan berakhir, Serin menurunkan ponselnya perlahan, masih belum sepenuhnya percaya bahwa apa yang ia dengar adalah kenyataan. Ia diterima bekerja di perusahaan besar.Air mata haru mulai menggenang di sudut mata Serin. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dunia tak pernah berpihak padanya. Namun, har
Tak terasa, empat hari sudah berlalu sejak Liora pergi untuk menjalankan tugas mulia. Empat hari yang terasa begitu lama bagi Jevandro. Untung saja kepulangan Rakyan ke mansion, bisa sedikit mengisi kekosongan hari-harinya tanpa sang kekasih.Suasana masih begitu sunyi, ketika Jevandro terbangun oleh dering ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan mata masih setengah terpejam, ia meraih benda pipih itu, dan melihat nama yang tertera di layar—Liora. Seketika, rasa kantuk Jevandro lenyap. Senyum lelaki itu mengembang, semangatnya bangkit hanya dengan melihat nama calon istrinya. Tanpa berpikir panjang, ia segera menggeser layar untuk menerima panggilan. "Baby," sapa Jevandro dengan suara masih sedikit parau.Dari seberang, terdengar suara lembut Liora, seperti alunan melodi yang sudah lama ingin didengarnya. "Maaf, Sayang, aku mengganggu tidurmu sepagi ini. Aku hanya ingin memberitahu, kalau setengah jam lagi aku akan pulang ke kota Velmora.”Mata Jevandro sontak terbuka leba
Jeandra berjalan dengan langkah tergesa menuju parkiran basement. Setibanya di mobil, ia membuka pintu dengan cepat lalu duduk di kursi pengemudi. Tangannya segera melepas kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya, lalu mengurai rambut panjangnya ke bahu.Dengan terampil, Jeandra melepas ikatan rambutnya dan meraih sisir dari dalam tas. Setelah merapikan diri dan membenahi riasan di wajahnya, Jeandra menyalakan mesin dan melajukan kendaraan beroda empat itu meninggalkan gedung Pradipta Group.Perjalanan menuju mansion terasa lebih panjang, mungkin karena ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan sang adik. Begitu gerbang mansion terbuka, Jeandra memarkirkan mobilnya lalu turun dengan langkah ringan. Tujuan utamanya adalah ke ruang makan, di mana aroma makanan yang lezat tercium dari kejauhan. Senyum Jeandra mengembang kala menangkap pemandangan yang begitu akrab—kedua orang tuanya, Jevandro, dan Rakyan yang sedang duduk mengitari meja makan.Tanpa berpikir panjang, Jeandra ber
Sebelum Jeandra sempat menjawab, suara langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah belakang. “Kenan, aku baru saja akan mencarimu.”Jeandra menoleh, dan menatap pria berkacamata dengan setelan jas hitam yang berdiri di dekat mereka. Ia menebak bahwa pria tersebut adalah Gavin, asisten Kenan yang akan mewawancarai dirinya sebentar lagi.Gavin tampak sedikit terkejut melihat Jeandra dan Kenan dalam jarak sedekat ini, tetapi ia segera menutupi ekspresi itu dengan profesionalisme. "Ah, Nona Jeandra. Anda sudah datang. Perkenalkan, saya Gavin," katanya dengan sopan, lalu melirik ke arah Kenan sejenak, seperti menunggu reaksi pria itu. Jeandra menelan ludah. Jadi ini benar-benar Kenan, CEO Pradipta Group, target utama dari misi pentingnya.Kenan pun mengalihkan pandangan dari Jeandra, lalu memandang Gavin dengan ekspresi yang sama dinginnya. "Pastikan dia benar-benar memenuhi kualifikasi," titahnya pendek, sebelum melangkah masuk ke lift.Jeandra tetap berdiri di tempatnya, menga
Jeandra melajukan mobilnya perlahan, saat gerbang Pradipta Group tampak di hadapannya. Gedung berlantai sepuluh yang berdiri di tengah pusat bisnis itu, menjulang tinggi dengan struktur beton yang kokoh. Pintu gerbangnya dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan berseragam hitam, menunjukkan bahwa tempat ini bukanlah perusahaan sembarangan. Ketika mobilnya mendekat, salah seorang petugas keamanan melangkah maju, mengangkat satu tangan untuk memberi isyarat agar Jeandra berhenti. "Selamat pagi, Nona. Siapa nama Anda dan ada keperluan apa?" tanya petugas itu. Buru-buru, Jeandra meraih kacamata tebal berbingkai hitam yang sudah ia siapkan sebelumnya. Sekali lagi, ia memastikan bahwa rambutnya tetap rapi dalam kuncir ekor kuda sederhana.Perlahan, ia menurunkan kaca jendela dan menampilkan senyumnya yang ramah. “Saya Jeandra. Kandidat sekretaris yang akan mengikuti wawancara hari ini.”Sambil berkata demikian, Jeandra menyerahkan kartu identitas yang telah dipersiapkan. Petugas ke