“Kenapa kamu tega menculikku dan membawaku kemari, Freya Farista?” Alecta menatap galak. Dia tahu perempuan di hadapannya itu adalah seorang aktris ternama, tapi di masa lalu, perempuan itu adalah teman sebangkunya semasa SMA. Dan ia juga merupakan salah satu orang yang masuk dalam daftar hitam Alecta. Daftar hitam yang tidak pernah diceritakan oleh siapapun.
Freya menyeringai, lalu mendekati Alecta. Dia membetulkan rambut Alecta yang kusut, memerah dan bercabang di ujung-ujungnya. “Tenanglah, Alec. Aku tidak akan menyakitimu. Kamu mengenalku selama tiga tahun masa SMA kita. Anggaplah pertemuan ini adalah reuni kita.”
Mendadak hawa dingin menyusup di balik baju kerja Alecta yang berbau keringat. Dia mundur selangkah karena Freya yang terus membetulkan letak rambutnya. “Kenapa kamu menculikku!” Dia ingin pertanyaan di awal segera dijawab. Dan jangan lupakan, tidak ada sejarahnya reuni dilakukan cara menculik.
“Aku ingin menawarimu sesuatu, Sayang.” Freya memegang dagu Alecta dengan ketenangan yang membuat Alecta bergidik ngeri. Namun itu bukan sebuah jawaban.
Harus Alecta akui, jika kecantikan Freya tidak ada bandingnya daripada dirinya sendiri. Freya layaknya seorang ratu yang memiliki kecantikan abadi, karena dulu sewaktu SMA, dia sudah terlihat cantiknya. Hingga banyak anak laki-laki yang memperebutkannya.
Dibandingkan dirinya, Alecta tampak seperti upik abu dari golongan ras dengan level kecantikan yang mendekati nol! Rambut yang kusut tak terawat, jerawat yang masih memerah ada di pipi dan di dahi. Jangan lupakan pakaian lusuh yang jahitannya terlihat di beberapa tempat. Sejujurnya Alecta tidak pantas menganggap Freya sebagai rival. Karena dilihat dari segi apapun Freya lebih unggul segalanya dibanding Alecta.
“Kamu mau kopi, Alec?” Freya sudah berjalan menuju mesin kopi, di sana sudah terseduh kopi dengan aroma yang kuat.
“Tolong jawab pertanyaanku!” Alecta masih tidak yakin jika pertanyaannya belum terjawab. Dia butuh jawaban, bukan secangkir kopi.
Tangan Freya terhenti ketika memegang cangkir. Ia menatap Alecta. “Seharunya kamu beruntung tidak diculik oleh debt collector.” Ia berhenti sejenak, lalu mengambil sebuah amplop cokelat yang ada di laci meja. “Sebab, kudengar para debt collector sering sekali menculik nasabahnya yang tidak kuat membayar hutang beserta bunganya. Rata-rata nasabah yang seperti itu, akan diambil organ-organ dalam yang masih bagus untuk dijual di pasar gelap.”
Mendadak perut Alecta mual mendengar penuturan Freya. Sebenarnya apa yang dikatakan Freya hanyalah berita bohong yang tidak ada kebenarannya. Alecta pernah mendengar desas-desus ini, tapi dia hanya mengganggap isu ini sebagai formula untuk menakut-nakuti. Walaupun hari-harinya harus diliputi rasa was-was. Alecta tak mau mati dengan cara semacam itu.
Freya menyodorkan amplop cokelat besar itu kepada Alecta. “Bacalah, kamu akan tau alasanku menculikmu.”
Alecta menerima amplop besar itu. Di dalamnya berisi beberapa kertas yang tebal. Dia membacanya sambil duduk di meja makan. Sedangkan Freya sedang menikmati kopi seduhannya. Freya menikmati kopinya sendirian, sebab Alecta sepertinya tidak mau menerima kopi darinya.
Alecta memang hanya lulusan SMA, tapi dia tahu garis besar dari kertas-kertas ini. Freya sedang menawarinya sebuah kontrak untuk menjadi surrogate mother.
“Apa kamu sedang bercanda, Freya?” Alecta memasukkan kertas-kertas itu ke dalam amplop seperti semula. “Kamu ingin menyewa rahimku?”
Freya menaruh cangkir kopinya. “Kurang lebih seperti itu. Bagaimana, apa kamu setuju dengan penawaranku?”
Dalam kontrak itu dijelaskan kalau Alecta akan terbebas dari jeratan hutang. Selain itu, tertulis juga, kalau Alecta akan mendapat kehidupan yang lebih layak dan terbaik saat proses surogasi itu berhasil. Tapi, bukankah ini juga termasuk proses yang tidak serta-merta tahu keselamatannya. Bagaimana kalau proses surogasi itu gagal?
Alecta masih terpaku menatap Freya yang mengindahkan kuku-kukunya yang berwarna cerah dengan motif bunga sakura. Dia teringat akan sesuatu, berita miring yang sedang menyerang Freya, berita tentang kemandulan. Bahkan jagad dunia maya juga geger karena itu. Bahkan berita itu masih berseliweran di program acara TV khusus gosip artis.
“Apa kamu benar-benar mandul?” Alecta tidak bisa mengerem mulutnya. Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Mata Freya terbelalak, lalu melempar cangkir kopi itu ke lantai hingga pecah. “Bisakah kita jangan membahas itu?” suara Freya seakan ditahan agar tidak berteriak.
Alecta terlonjak kaget. “Lalu kenapa kamu ingin menyewa rahimku? Oh! Atau jangan-jangan berita tentang kemandulanmu itu suatu kebenaran?” Alecta menyeringai, sejujurnya dia menikmati ketika wajah Freya merah padam seperti akan meledak. Dan satu lagi, perempuan yang tampak sempurna pun tak luput dari ketidaksempurnaan itu sendiri.
Freya bangkit dan menggebrak meja. “Padahal aku sudah berbaik hati menawarimu jalan keluar dari masalah-masalah yang membelenggumu.” Amarahnya tertahan.
Alecta juga bangkit. “Terima kasih, tapi aku tidak bisa menerima tawaranmu. Lebih baik aku segera pergi dari tempat ini.”
Alecta berjalan melewati Freya yang masih terpaku menahan amarahnya. “Aku akan mengambil jaket dan sepatuku setelah itu aku akan pergi.”
Alecta mengambil satu-satunya jaket miliknya yang bisa menghalau angin dingin, lalu memakai sepatu yang kondisinya memprihatinkan. Setelah tidak ada barangnya yang tertinggal, Alecta pergi dari ruangan itu dan kembali melewati Freya.
“Tunggu!” seru Freya sebelum Alecta membuka pintu keluar.
Alecta berhenti, lalu berbalik. Freya mendekatinya sambil menyodorkan amplop cokelat besar itu. “Jika kamu berubah pikiran, kamu bisa hubungi aku.”
Alecta menerima amplop itu, lalu bergegas pergi. Sebenarnya dia tak mau berurusan dengan orang semacam Freya. Terlalu beresiko. Alecta menyadari jika tempat yang dipijaknya ini adalah apartemen di pusat Kota Dennosam. Dari yang dia ketahui, dia berada di lantai lima belas.
Alecta berhasil masuk ke dalam lift. Di dalam ruang persegi yang bergerak turun ada dua orang bergaya yang glamor menatap tajam ke arah Alecta. Dia bisa menafsirkan yang ada di pikiran mereka. Mungkin mereka merasa risih karena seorang gembel datang di apartemen mewah. Sesungguhnya, Alecta tak peduli. Yang dia pedulikan adalah keselamatannya sendiri. Dia ingin pulang.
Lift terbuka, dan Alecta sudah mencapai lantai dasar. Segera saja dia berlari keluar dari apartemen yang tinggi menjulang ini. Ternyata suasana di luar sudah gelap. Dia buru-buru mencari halte bus terdekat.
Sejauh 400 meter, Alecta baru menemukan halte bus. Beruntung di tempat itu masih ada beberapa orang yang menunggu kedatangan bus warna kuning yang menjadi khas transportasi paling murah pertama di Kota Dennosam.
Jam digital yang terpasang di langit-langit halte bus menunjukkan pukul 20.00. itu berarti dia sudah di apartemen Freya sekitar 4 jam. “Lama juga,” pikirnya.
Bus kuning dengan kode 07A datang, dan pintu terbuka. Alecta menjadi penumpang kedua yang naik setelah seorang ibu yang membawa tas keranjang berisi sayuran yang masuk dahulu.
Alecta duduk di dekat pintu. Dia memang memilih bus jurusan 07A karena jalur yang akan dilewatinya cukup jauh, namun aman. Tidak seperti jalan persimpangan yang biasa dilaluinya. Alecta tidak mau melewati jalan itu lagi.
Suasana bus terasa hening. Di tangannya masih ada amplop cokelat besar pemberian Freya. Dia mengingat-ingat lagi apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.
Semua warga Kota Dennosam pasti tahu tentang Freya Farista yang memiliki suami taipan dan kaya raya. Suaminya bernama Priam Ardiaz. Alecta sempat melihat prosesi pernikahan mereka yang super mewah bak di kerajaan dongeng ala Disney. Itu terjadi lima tahun yang lalu, saat Alecta masih bersama mantan suaminya yang kelewat berengsek. Pernikahan mereka disiarkan di saluran Televisi Nasional selama sehari penuh.
Sebenarnya reuni tadi cukup mengejutkan bagi Alecta. Pasalnya, Freya yang terkenal itu tak segan-segan menculiknya, dan menurutnya ini terlalu berlebihan.
Bus berhenti di halte yang letaknya tak jauh dari rumah sewa Alecta. Dia turun dan hanya membayar lima ribu saja untuk perjalanan sejauh itu. Tak jauh dari halte tempat Alecta turun, di sana ada penjual roti bakar.
Perut Alecta sudah keroncongan. Dia memutuskan untuk membeli roti bakar. Alecta memilih rasa cokelat kacang. Setelah pesanannya selesai, dia membayar sesuai harga yang tertera, lalu pulang.
“Kalaupun tadi aku tidak diculik, pastinya saat ini aku sudah merebahkan diri di kasurku.” Yang dimaksud ‘kasurku’ adalah kasur tipis yang sering dilipatnya saat selesai digunakan. Rumah sewa Alecta memang tidak terlalu luas. Hanya ada dua kamar dan ruang yang bisa beroperasi sebagai ruang tamu ataupun ruang menonton televisi.
Meskipun Alecta sangat ingin pulang, ada satu rintangan lagi yang harus dilewatinya, yaitu melewati rumah besar Mami Gendut. Mami Gendut adalah induk semang, pemilik rumah sewa yang ditempati Alecta.
Para penghuni ini tahu, Mami Gendut selalu stand by di dekat pintu dan menyapa para penghuni rumah sewanya. Jika kamu menyewa rumah Mami Gendut, maka nyalimu sudah besar untuk menghadapi berbagai macam teriakan dan sumpah serapah yang isinya nama-nama binatang yang dianggap sebagai penghinaan.
Kali ini Alecta harus menebalkan muka, karena sebentar lagi teriakan Mami Gendut akan menggema. Alecta sudah tiba di rumah Mami Gendut, dan seperti biasa, perempuan gembrot itu menyapanya dengan nada tak mengenakkan.
“BAGUS! KAU MASIH INGAT DENGAN RUMAH KECIL ITU, ALEKTA! KAPAN KAU NAK BAYAR UANG SEWA! SUDAH TIGA MINGGU KAU MENUNGGAK! HEI! KAU DENGAR ITU! JANGAN PURA-PURA TULI!” Mami Gendut sedang menyapa Alecta. “JIKA KAU TAK SEGERA BAYAR, JANGAN SALAHKAN BESOK PAKAIAN MILIK KAU ADA DI LUAR DAN JANGAN TIDUR DI RUMAH ITU LAGI!”
Alecta hanya melambaikan tangan. Malas jika harus berlutut dan memohon di hadapan Mami Gendut. Energinya sudah terkuras habis. Asal kamu tahu, Alecta mendengarkan sapaan itu sebanyak dua kali dalam sehari. Pertama saat dia berangkat kerja, dan yang kedua saat ini.
Sebenarnya meredakan teriakan Mami Gendut itu sangatlah mudah, yaitu dengan membayar uang sewa tepat waktu. Kalau bisa dilebihkan sedikit, maka Mami Gendut akan menyapamu dengan riang gembira, tak lupa juga dia akan memberimu pancake dengan rasa manis ala kadarnya tanpa tambahan saus karamel. Akan tetapi, Alecta sudah menunggak pembayaran selama tiga minggu. Teriakan itu cukup untuk menjadi alarm agar tubuhnya jangan sakit, sebab dia harus berkerja lebih keras lagi.
Sesampainya di halaman mungil rumah Alecta, dia disapa oleh tiga pria dengan tampang garang seperti kumpulan kucing garong yang kumal dan suka berebut makanan dari tempat sampah.
Setelah teriakan Mami Gendut yang menjadi pembuka makan malam, sekarang tiga pria ini menagih uang Alecta. Mereka adalah para debt collector yang berkerja untuk perusahaan hutang yang menjerat Alecta.
“Mana setoranmu! Kamu sudah jatuh tempo!” Salah seorang pria dengan wajah codet mengeram.
“Aku belum gajian, minggu depan pasti kubayar. Jadi minggirlah.” Kepala Alecta serasa mau pecah. Kurang tujuh hari lagi, dia akan mendapatkan gaji dari pabrik saus tempatnya bekerja.
“Minggu depan lagi, minggu depan lagi!” seru pria yang mulutnya bau jigong, meskipun wajahnya bisa dibilang lebih lumayan daripada dua pria lainnya.
“Aku sudah bilang, minggu depan. Karena aku baru gajian minggu depan.” Alecta tidak mau kalah garangnya.
Bungkusan yang berisi roti bakar rasa cokelat kacang di rebut oleh pria gendut dengan kepala botak mirip bohlam. “Roti bakar! Mayan nih buat cemilan.”
“Kembalikan rotiku!” Alecta merebut roti bakar yang belum dicicipi sama sekali. Tapi pria gendut itu mendorongnya sampai jatuh.
Pria bermuka codet itu menjepit dagu Alecta hingga wajahya terangkat. “Kamu tau, gimana nyari uang dengan cara cepat.” Pria codet itu mendekat ke telinga Alecta. “Jual dirimu, jangan pedulikan harga dirimu.”
Seketika sebuah tamparan melayang ke pipi Pria codet. “Jaga bicaramu!”
“Udahlah, Bro gak usah kamu ladenin.” Pria bermulut bau jigong menengahi pria codet yang ingin balik menampar Alecta. “Kami akan pergi, tapi inget! Minggu depan kamu harus bayar hutangmu!”
Ketiga pria itu pergi, dan mereka membawa roti bakar yang baru dibelinya tadi. Alecta membuka rumah kecilnya. Dia melempar amplop cokelat dari Freya ke meja. Alecta melepaskan sepatu dan jaket lusuh yang dikenakannya tadi.
Rasa lapar yang tadi menyergap terasa hilang seketika. Setelah mencuci muka dan mengganti pakaiannya, setelah itu dia menggelar kasur tipisnya di lantai dan mulai merebahkan diri.
Dia memandang langit-langit rumahnya yang tidak terlalu teran dan ada beberapa sarang laba-laba yang menghiasinya.
“Hidup itu berat ternyata,” ucapnya sambil memejamkan mata. Alecta sudah merasa muak dengan rutinitas yang dijalaninya ini. Dia ingin hidup dengan kenyamanan tanpa harus mendengarkan teriakan Mami Gendut ataupun segerombolan debt collector yang menyambangi rumahnya.
Alecta bangkit lagi dan membaca lagi isi di amplop cokelat dari Freya. “Apakah aku harus menerima tawarannya?”
Keesokan harinya, Freya mendatangi Kantor Mata-mata dan Pekerjaan Kotor lagi. Dia ingin menyewa jasa seperti kemarin, tapi bukan untuk menculik, melainkan membuat dunia Alecta serasa runtuh seketika. Hingga Alecta bersedia untuk menandantangani kontrak sebagai surrogater mother.Mobil mewah yang ditumpangi Freya berhenti di tempat parkir. Sebenarnya Kantor Mata-mata dan Pekerjaan Kotor ini tidak memiliki nama yang jelas. Bahkan orang awam tidak akan menyangka jika bangunan ini ada kantor seperti itu, karena mereka menutupinya dengan memasang plang bertuliskan gedung olahraga. Yang mana di lantai dasar ada tiga lapangan bulu tangkis yang bisa disewakan.Sedangkan lantai ketiga hingga seterusnya, adalah Kantor Mata-mata dan Pekerjaan Kotor itu sendiri. Pekerjaan mereka bisa dibilang pekerjaan yang sangat dibutuhkan dan memiliki resiko yang tinggi dan harga yang tidak murah. Mereka menawarkan jasa mata-mata untuk mencari informasi seseorang, menawar
Ponsel Freya berdering, tanda ada pesan baru. Freya meliriknya sekilas, lalu menyambar ponsel itu di sela-sela malamnya bersama Priam. Dia membaca pesan-pesan dari Laurent, jika misinya berhasil dan segera meminta bayaran yang dijanjikan.“Dari siapa, Sayang.” Priam menoleh dari buku yang dibacanya ke arah istrinya yang sedang menyisir rambut di depan cermin meja hiasnya.“Hah! Da-dari sutradara. Dia menawariku sebuah projek film untuk ditayangkan tahun depan.” Freya tersenyum manis, meskipun dia sedang berbohong.Priam ber-oh, kemudian melanjutkan bacanya lagi.Freya yang merasa respon oh dari Priam adalah sebuah kekecewaan. Dia memutuskan untuk mematikan ponselnya, lalu mendekati dan bermanja di lengan suaminya. “Sepertinya buku yang kamu baca menarik sekali, Sayang.”Priam menutup bukunya, kemudian mengacak-acak rambut Freya yang telah ditatanya.“Sayang!” Freya tertawa karena
“Aaaaakkk!” Alecta memejamkan mata, lalu menjerit hingga tubuhnya sedikit terdorong ke belakang. Dia baru membuka mata dan menyadari jika jarak wajahnya dengan ujung depan mobil sangat dekat. Jantungnya berdegup kencang, Alecta baru saja selamat dari kematian.“Anda tidak apa-apa?” tanya seorang pria berjas hitam dan memakai sarung tangan warna putih. “Hei! Apakah Anda terluka?” tanyanya lagi.Alecta menengadah, wajah pria itu tidak tampak karena silau dari sinar matahari. Sampai pria itu ikut berjongkok di hadapan Alecta. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Alecta.Alecta terkesima dengan pria di hadapannya. Dia seperti dewa yang diutus untuk turun ke bumi dan menemui Alecta.Astaga! Tampan sekali!Meskipun pria itu memakai kacamata, tidak mengurangi pesonanya. Rambutnya yang tertata rapi, wajah yang bersih tanpa jerawat ataupun bintik hitam kecil, dan sarung tangan putih yang membungkus ta
“Anda tau, Nyonya Freya. Bahkan perempuan berbadan gendut itu mengusir Alecta, tak peduli ada uang di tangannya.” Laurent tertawa. “Lalu setelah perempuan itu diusir, tiga debt collector itu merampas uangnya, dan terakhir dia bermalam di depan toko.” Laurent menjentikkan jarinya. “Bukankah itu menyenangkan?”Freya hanya tersenyum simpul. Meskipun Laurent berhasil menjungkirbalikkan kehidupan Alecta, tapi perempuan itu belum menghubunginya sampai sekarang. Jika ia sudah menyerah, harusnya sejak tadi malam minta untuk dijemput.“Jadi bagaimana dengan bayarannya?” tanya Laurent.Freya mengambil amplop yang berisi uang untuk membayar jasa Laurent, pria yang mirip Swiper si rubah pencuri. “Silakan dihitung.”Laurent tertawa. “Aku percaya padamu, Nyonya.”Freya mengecek ponselnya. Tidak ada panggilan masuk ataupun pesan baru. Dia mulai resah.“Sepe
Sebuah mobil putih mengkilat dengan ban-ban hitam yang kontras dengan warna aspal berhenti di depan rumah tak berpenghuni. Seorang pria berpenampilan rapi keluar dari mobil, lalu menatap ke sebuah jendela tanpa kaca. Di sana Alecta sudah menunggu.Alecta mengambil napas panjang. “Ini saatnya memulai membalaskan dendam. Kamu bisa Alecta. Buat Freya menderita karena pernah merampas orang yang kamu sukai! Buat Freya menanggung akibat karena menjungkirbalikan kehidupanmu dalam semalam. Buat Freya membayar semua ini.”Alecta sudah memantapkan tekadnya. Dia hanya ingin membuat Freya merasa kehilangan. Dia mengangkat tas besar dan amplop berisi surat kontrak yang tulisan sudah pudar. Saat melangkah keluar, Alecta mendapat sambutan penuh penghormatan di lakukan oleh pria itu.“Saya Naratama, utusan dari Nyonya Freya. Silakan masuk, Miss Alecta.” Pria itu membukakan pintu mobil seakan menyuruh Alecta agar segera bergegas.Alec
“Poin ke-15, tidak boleh keluar apartemen kecuali saat pemeriksaan berkala ataupun dalam keadaan mendesak. Poin ke-16, tidak boleh membocorkan hal ini kepada media dan hindari paparazi.” Aleta tidak percaya jika isi surat kontrak ini ada 100 poin yang harus dipatuhinya. “Kamu membuat surat ini jauh lebih detail dari sebelumnya.”Freya masih menikmati kopinya. Sejenak ia belum menjawab pertanyaan Alecta.“Poin ke-27, dilarang membawa teman ataupun saudara ke apartemen ini. Kamu ingin menyiksaku dalam kesepian?” Alecta menatap tajam lawan bicaranya yang masih menyesap kopi. “Jawab aku, Frey.” Alecta sudah merasa gemas karena tak kunjung dijawab.Freya meletakkan cangkir kopinya dengan lembut, seolah sedang makan bersama keluarga kerajaan. Kini, ia menatap Alecta. “Iya, aku mendetailkan semua surat kontrak itu agar kerahasiaan surogasi ini tetap terjaga. Tidak bocor pada media, karena aku tidak men
Alecta mendekatkan wajahnya ke Naratama. “Bagaimana kepribadian Priam Ardiaz?”Refleks Naratama menghindar, lalu menyodorkan sekotak donat. “Miss mau donat?”Alecta tersenyum, pertanyaannya tidak dijawab oleh Naratama. Dia tidak memperlihatkan rasa kesalnya melainkan tersenyum dan mengambil satu donat bertopping cokelat. “Terima kasih, kelihatannya lezat.”Alecta memainkan aktingnya. Dia memakan donat yang dipilihnya, seolah melupakan pertanyaan nekat tadi. “Donat ini sungguh enak!”Naratama tertawa hambar sambil menggaruk belakang kepalanya. Bagi Alecta, perilaku seperti itu berarti lawan bicaranya sedang grogi.“Kenapa Miss bertanya soal Tuan Ardiaz?”Alecta diam sejenak, memikirkan apa yang ingin dia jawab, karena perilaku Naratama agaknya sulit ditebak.“Iya ... Aku hanya takut. Selama ini aku belum pernah bertemu langsung dengan Priam Ardiaz, tapi aku
Priam sedang terjebak dalam lautan manusia. Rapatnya sudah selesai tiga puluh menit yang lalu, tapi perjalanan menuju restoran, tempat pertemuannya dengan kandidat surrogate mother akan terlambat. Dia sudah mengirim pesan kepada Freya, kalau dirinya akan terlambat sampai waktu yang tidak bisa diprediksi.“Macet banget, Pak.” Pak Samsul berusaha memecah kesunyian serta kecemasan tuannya.“Tidak apa-apa, Pak. Lagian banyak orang yang turun ke jalan. Apa mereka sedang demo?” Priam bertanya balik.Pak Samsul yang tadi sudah menegangkan wajahnya karena takut kena semprot Priam karena keterlambatan ini, akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya tuannya tidak memasang wajah galak seperti singa jantan yang ingin berkelahi dengan singa lainnya.“Sepertinya tidak, Pak. Kalau tidak salah sedang ada festival kembang api untuk memperingati hari jadi kota ini, Pak,” Pak Samsul menjawab santai. Ia tahu berita fest
Akhirnya selesai jugaaa, huft. (Not) A Queen telah tamat di tanggal 11 November 2021 (Hehehe ditulis aja, biar gak lupa) Terima kasih untukmu yang telah membaca kisah ini sampai tuntas. Entah mengapa aku merasa sangat lega dan yaaa akhirnya punya waktu untuk membaca buku lebih banyak lagi Aku mohon maaf kalau ada beberapa kata yang masih typo dan belum maksimal memberikan yang terbaik untukmu. Di buku yang akan datang, semoga bisa lebih baik lagi. Oh iya, aku pernah dapat pertanyaan semacam ini: apakah setelah tamat nggak ada skuelnya? Gimana yaaa, jawabnya? Memangnya butuh perpanjangan lagi? Ekstra chapter? Tapi, kurasa ini sudah cukup panjang. :0 Sebelum catatan ini selesai, aku pengen spoiler dikit tentang rencanaku. Sebenarnya ada satu novelku lagi yang ada di sini judulnya LEVIATHAN yang bergenre sci-fi. Sayangnya, belum muncul (sampai catatan ini ditulis).
Freya akhirnya tertangkap sehari setelah kejadian yang memilukan itu. Sedangkan David perlu tiga hari karena berhasil kabur menuju kota lain. Berita mengenai hal ini langsung menjadi topik utama yang disiarkan berulang-ulang oleh acara berita disegala stasiun televisi. Kejadian itu menyita banyak perhatian masyarakat.Bibi Lani telah dimakamkan. Feris masih menangis. Lusi dan Naratama juga merasakan kesedihan mendalam akibat kehilangan itu.Alecta baru siuman setelah dua hari dirawat di rumah sakit. Dia menangis saat diberitahu kalau Bibi Lani meninggal dunia demi menyelamatkan Baby Leon dan Alecta.Priam memutuskan untuk menjaga Baby Leon di rumahnya karena Alecta masih dirawat di rumah sakit. Tubuhnya dipenuhi banyak luka, dan beruntung tidak ada tulang yang patah.Feris telah memutuskan sesuatu. Malam ini dia akan membicarakan keputusannya dengan Alecta. Perempuan itu sudah lebih baik beberapa hari ini, dan kemungkinan dua hari lagi dia d
Mobil yang dikemudikan David memasuki kawasan hutan. Setahunya, kawasan itu memang sepi dan ada sebuah bangunan yang mirip gudang penyimpanan kayu yang sudah lama tidak digunakan.Mobil berhenti di depan bangunan itu. David menyeret Alecta ke gudang itu, sedangkan Freya masih berkutat dengan Leon yang hanya bisa menangis.Setelah masuk ke dalam gudang tak terpakai itu, David meletakkan Alecta di tempat yang kering. Sementara Freya yang sudah pusing dengan tangisan bayi itu akhirnya menyerah. Dia meletakkan Leon di sebuah keranjang dari ayaman rotan yang kondisinya sudah tidak layak. David jadi berpikir, kalau Freya bukanlah ibu yang baik. David mendekati Freya dan menyerahan tongkat baseball yang tadi dipakai untuk memukul sopir tadi. Freya menerima tongkat baseball itu dan mengabaikan tangisan Leon.“Gunakan untuk menyiksanya.” David menunjuk Alecta yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya. “Aku harus segera melak
Selama hampir saatu tahun ini, kondisi keuangan Freya mulai memburuk. Dia memiliki utang hampir ratusan juta karena tidak mampu menunjang gaya hidupnya. Setelah bercerai dengan Priam, Freya terpaksa menyewa apartemen kecil bersama David.Semua kontrak kerjanya dibatalkan termasuk iklan, sponsor, dan film yang harunya dibintanginya. Namanya terhempas seolah nama Freya Farista sudah tidak lagi bersinar. Freya telah jatuh, tersingkir, dan tidak dibutuhkan lagi.Kondisi diperburuk dengan David yang namanya sudah dicoret dari keluarga besarnya karena ketahuan menjalin hubungan dengan perempuan yang sudah bersuami. Alhasil, David menjadi pengangguran, kerjaannya hanya tidur, makan dan mabuk, hanya itu siklus hidupnya. Sementara Freya harus merelakan tabungannya menunjang kebutuhan dua orang terlebih lagi Freya harus memangkas pengeluaran untuk kecantikan karena dia juga harus makan.Hampir setahun ini Freya dan David persis seperti pasangan pengangguran
Pada akhirnya Priam juga menerima keputusan dari Feris kalau untuk ‘untuk sementara waktu hingga belum ditentukan’ Baby Leon akan diasuh oleh Alecta dan Feris di rumah ini. Dua hari setelah kepulangan Alecta dari rumah sakit, Priam datang bersama dua pelayannya yang cukup menggemaskan. Di ruang tamu, Priam dan Feris berbicara layaknya teman meskipun penuh kecanggungan. Sementara di kamar Alecta, terdengar gelak tawa dari Naratama dan Lusiana. Mereka, dua pelayan yang menggemaskan, begitu sebutan dari Bu Marie. “Baby Leon sangat tampan sekali!” Lusi tampak sangat senang ketika mendapat kesempatan untuk menggendong Baby Leon. “Bukankah seharusnya kita memanggilnya dengan sebutan Tuan Muda?” Natatama menimpali. Dia hanya berani menyentuh pipi bulat Baby Leon. “Kamu benar, Nara. Aku tidak sabar melihat Tuan Muda Leon besar. Dia akan lebih menggemaskan lagi.” Lusi tertawa membayangkan hal itu terjadi. “Percayalah, Leon lebih suka dip
Feris masih merasa kesal karena pertemuannya dengan Alecta tertunda hampir empat puluh lima menit. Bagaimana tidak? Di dalam ruangan itu kekasihnya sedang bersenda gurau dengan Priam. Ditambah Bibi Lani menyarankan agar Feris menunggu sampai Priam selesai bertemu dengan buah hatinya.Hari ini, tanpa disangka Alecta melahirkan, dan ternyata perkiraan dokter itu meleset. Sebagai orang yang kurang berpengalaman dengan hal ini, Feris merasa menjadi orang bodoh. Harusnya dia tidak pergi hari ini. Harusnya, dia mengubah jadwal pertemuannya dengan Pak Edzard yang akan membeli rumah dan tanah warisan dari neneknya.Alasan kenapa Feris mau melepaskan properti itu karena dia ingin membeli rumah di Kota Milepolis. Dia bertekad ingin memulai kehidupannya yang baru bersama Alecta. Sebab, semakin Alecta di sini, semakin gencar pula Priam mendekatinya.Tapi sekarang, sepertinya Priam sudah mulai mendekati Alecta lagi. Mereka berbincang di dalam, padahal Feris sempa
Priam sangat takjub dengan apa yang dilihatnya. Alecta yang tertidur dengan wajah sedikit kelelahan dan ada bayi mungil yang sedang ditelungkupkan meminum asi. Dulu Priam selalu menganggap apa ang dilihatnya itu tidak pernah jadi kenyataan. Kini, hari ini, dengan mata kepalanya sendiri dia melihat calon penerus keluarga Ardiaz telah lahir. Priam mendekati Alecta secara perlahan agar tidak membangunkan Alecta yang sedang tertidur. Dia mencoba menyelipkan jari telunjuknya ke tangan si bayi. Perlahan tapi pasti, tangan mungil bayi itu menggenggam jari Priam. Ada ledakan kebahagian membuncah di dada Priam. Tangan mungil bayi itu seolah menyapa Priam. Rasanya tidak ada yang bisa mendeskripsikan perasaan semacam ini. “Feris ... apa itu kamu?” tanya Alecta lirih. Priam terdiam. Alecta lalu menoleh ke arah orang yang di sampingnya. Dia terkejut ketika menemukan Priam duduk di sana. Padahal tadi dia sempat bermimpi kalau ynag dat
Kehamilan Alecta memasuki bulan kesembilan. Perutnya sudah makin besar, tendangan ‘dia’ makin aktif dan terkadang membuat Alecta kesulitan untuk tidur. Setelah sarapan, Feris memutuskan akan pergi ke Kota Lunars. “Tapi sebentar lagi aku akan melahirkan,” ucap Alecta. Sejak pindah ke rumah ini, Alecta selalu mengecek kehamilan secara berkala bersama Feris. Kata dokter, Alecta diprediksi akan melahirkan satu minggu lagi. “Aku pergi tidak lama. Mungkin nanti pulang sore. Ada orang yang tertarik membeli propertiku di Kota Lunars, My Bee.” Feris mengelus kepala Alecta dengan penuh kasih sayang. Alecta menggeleng. Dia harus mencari cara agar Feris tidak pergi. “Dia ingin mendengarkanmu membaca cerita.” Yang dimakud ‘dia’ adalah kehidupan yang ada di perut Alecta. Beberapa waktu yang lalu, kata dokter kandungan yang memeriksa Alecta mengatakan, kalau Alecta akan melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja Priam senang menden
Semua berjalan sesuai kehendak Semesta. Perut Alecta makin membesar seiring bertambahnya usia kehamilan. Feris juga selalu sigap ada di samping Alecta.Sekarang perubahan yang terjadi pada tubuh Alecta membuatnya tampak cantik dan menggemaskan. Entah mengapa kalau perempuan hamil selalu cantik meskipun pipinya mulai chubby dan bada yang berisi.Alecta juga mengalaminya. Kini pipinya agak mengembang. Dadanya makin menyembul padat dan perutnya makin buncit.Terkadang Feris membenamkan wajahnya ke dada Alecta. Katanya itu bagian favoritnya karena lebih kenyal, padat, dan menyenangkan. Kalau malam Feris lebih suka mengelus-elus perut Alecta yang buncit, dan dia yang ada di dalam pasti merespon dengan tendangan.Priam masih datang walaupun jaraknya tidak menentu. Kadang seminggu sekali, lima hari sekali, atau dua minggu sekali untuk melihat Alecta dan calon anaknya. Meskipun terkadang suasana ruang tamu jadi canggung.Priam yang meny