'Mister Carlos, target sudah mulai melancarkan aksinya. Dua pengawal berhasil dia hasut untuk meninggalkan pos jaga!' ketik Fabio Hernandes di layar ponselnya.Di dalam mobil yang melaju, Carlos membalas pesan anak buahnya, 'Berpura-puralah kalian semua sibuk ke toilet dan tempat lainnya atau tertidur saat berjaga. Setelah penjahat itu beraksi kejutkan dia lalu ringkus. Pastikan barang bukti berupa video agar kuat diserahkan ke pihak kepolisian. Aku sebentar lagi sampai di rumah sakit.'Fabio mengirim pesan ke rekan-rekan pengawal satu regu dengannya. Dia menjelaskan adanya pembunuh bayaran yang menyusup ke skuad pengawal pagi ini dan memberi instruksi sesuai saran Carlos. Selepas kepergian Timothy dan Leonard dari lorong poli ICU depan kamar Tuan Arnold Richero, para pengawal lainnya meminta izin untuk ke toilet dan kantin rumah sakit. Hanya Fabio Hernandes dan Aaron MacKay yang duduk sambil bersedekap mengantuk di bangku tunggu.Hugo Clarke menyeringai puas dengan kesempatan emas y
"Suster, tolong panggil asisten pribadiku, Carlos Peron kalau dia ada di luar ruangan ini!" ujar Tuan Arnold Richero di pembaringannya.Karena sudah lewat tiga hari pasca operasi transplantasi ginjal, maka perawat mengizinkan pasien menerima tamu sekali pun tetap harus dengan pakaian steril standar dari rumah sakit. "Baik, Sir. Akan saya panggilkan, mohon ditunggu!" jawab Suster Calista Brown lalu keluar dari ruang ICU.Sekitar lima belas menit kemudian, Carlos Peron masuk menemui big bossnya. Kondisi Tuan Arnold memang sudah pulih meskipun masih pucat wajahnya. "Bagaimana kabar Anda, Sir?" tanya Carlos singkat. Dia memiliki banyak stok kabar buruk yang terjadi dari berbagai kejadian selama majikannya itu dioperasi dan memulihkan diri pasca operasi."Lumayan, Carlos. Aku ingin mendengar apa saja yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri kemarin!" ujar Tuan Arnold. Dia yakin bahwa segalanya tidak sedang baik-baik saja melihat bahasa tubuh asisten kepercayaannya itu.Carlos menghela
"Halo, Celia. Apa kamu tidak merindukan Papa?" sapa Tuan Arnold Richero di telepon. Dia sudah dua hari dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan pasien VIP. Namun, putri bungsu kesayangannya justru tak kunjung menjenguk hingga pria berumur itu agak merajuk dan terpaksa menelepon Celia.Latar belakang suara pria dari handphone gadis itu membuat Tuan Arnold menebak sebelum putrinya menjawab pertanyaannya tadi. "Kamu sedang bersama siapa? Apa benar itu Morgan Bradburry?" "Halo, Papa. Maaf, aku harus merawat Morgan karena dia tertembak peluru nyasar setelah papa dipindah ke ruang ICU!" jawab Celia yang membuatnya sedikit malu."Ohh ... baiklah. Apa kalian tidur bersama?" cecar Tuan Arnold yang membuat Celia lebih malu mengakuinya. Morgan yang mendengar pertanyaan itu dari loud speaker menunggu Celia menjawab. Baginya, sedikit bantuan dari calon papa mertuanya akan sangat besar artinya untuk hubungan mereka agar naik ke jenjang yang lebih serius."Paa—aku belum siap menikah!" kelit C
"TING TONG."Suara bunyi bel pintu membuat seorang wanita dari dalam sebuah rumah townhouse dua lantai itu bergegas menyambut tamu yang telah dia nantikan."Hello, Pretty Girl!" ucap sesosok pria yang membawa buket bunga segar warna-warni di tangannya."Austin!" seru wanita itu seraya menghambur hingga naik ke gendongan pria kekasih gelapnya selama tiga tahun belakangan, cinta pertamanya. "Muaach ... muuuaachh!" kecup Ellen penuh napsu menghujani wajah Austin Robertson. "Rindu sekali rupanya!" Austin menepuk bokong mungil Ellen yang tak mau turun dari gendongannya bak seekor anak koala. Dia pun masuk ke dalam rumah lalu menendang pintu teras hingga menutup. Dia langsung membawa Ellen naik ke lantai dua tepatnya ke kamar tidur."Jadi, bagaimana kau bisa lepas dari pengawasan istri tuamu yang bengis itu, Sayang?" pancing Ellen yang masih dendam karena dipermalukan oleh Esme di lobi kantor Austin tempo hari.Pria itu membaringkan Ellen ke tengah ranjang lalu melucuti setelan jas mahalny
"Papa, suruhlah Celia membantuku di perusahaan. Aku butuh manager pemasaran dan kreasi produk. Dia itu pengangguran sok sibuk, huhh!" Esmeralda memasang tampang judesnya seperti biasa di hadapan Tuan Arnold Richero yang malah tertawa geli melihatnya."Kupikir kamu bisa menangani perusahaan sendirian dan tak ingin diganggu oleh adikmu, Esme!" sindir pria berumur yang terlihat lebih segar pasca operasi transplantasi ginjal itu.Esmeralda berdecak kesal sambil bersedekap. "Kalau dia berani mengganggu pekerjaanku akan kutendang sampai ke Afrika! Biar dia dimakan macan di sana, hmm. Ayolah, Pa suruh dia bekerja mulai besok pagi!" desaknya lagi."Ckk ... kamu ini sukanya memaksa, Esme Sayang. Baiklah, Papa coba telepon Celia. Ngomong-ngomong, kamu tidak berniat menindas adikmu di kantor 'kan?" sahut Tuan Arnold dengan lirikan menyelidik."Tidak. Pekerjaan kantor harus dilakukan profesional. Tinggal Celia mampu berprestasi atau sekadar bermalas-malasan!" jawab Esmeralda sportif.Maka Tuan Ar
"Terima kasih untuk Cranberry Angel Cake yang kau bawakan, Morgan. Kata dokter memang cranberry, salah satu buah yang direkomendasikan untuk menurunkan kadar kreatinin ginjal dan mencegah infeksi saluran kemih. Kamu memiliki bakat memasak yang hebat!" puji Tuan Arnold Richero saat dijenguk oleh calon menantunya bersama Celia di rumah sakit.Morgan pun menjawab seraya terkekeh, "Sebenarnya yang mengeksekusi resep kue itu dariku adalah Celia, Sir. Dia punya bakat terpendam menjadi penguasa dapur!""Celia? Wow, ini kabar yang mengejutkan. Setahuku dia tidak pernah masuk ke dapur untuk memasak di rumah kami," seru Tuan Arnold serasa tak percaya, putri bungsunya yang sering dikatai manja oleh banyak orang justru bisa memasak di bawah bimbingan chef."Hmm ... jangan salah, Pa. Guruku sangat hebat, kalau aku masih bloon di dapur pastinya memalukan!" jawab Celia yang sontak membuat kedua pria beda generasi itu tertawa bersamaan.
Pagi jelang siang selepas Dokter Jarvis menyatakan bahwa Tuan Arnold Richero sudah bisa melanjutkan perawatan di rumah saja dengan beberapa jadwal kontrol kesehatan rutin nantinya, rombongan kecil itu bertolak menuju Elmwood Cemetery. Carlos Peron duduk di bangku depan sebelah sopir, berbeda dengan sekompi pengawal yang mengikuti dalam mobil lain di belakang limousine hitam itu. Ada perasaan haru bercampur kelegaan di hati asisten pribadi Arnold semenjak masa mudanya itu, sebuah kebenaran yang terkubur lama bersama mendiang Cassandra Higgins akhirnya terkuak. Penjahat yang sebenarnya telah mendekam di sel tahanan sementara kantor polisi Kansas City. Dia selalu berada dalam pemantauan Carlos yang mengenal petinggi kepolisian dan juga sipir penjara di sana. Emilia tidak boleh dibiarkan bebas dengan jaminan karena kasus hukum yang menjeratnya kelas berat. "Papa, apakah dulu berkenalan dengan mama saat masih kuliah?" tanya Celia mencoba memancing agar cerita zaman dahulu kala itu menga
"Thank you, Esme untuk dukunganmu. Ideku jadi bisa dieksekusi dengan cepat!" ucap Celia ketika mendampingi photo shot Morgan sebagai brand ambassador produk-produk perusahaan Richero.Esmeralda tersenyum tipis sembari menatap chef tampan itu tanpa berkedip. "Kuakui ... Morgan itu good looking!" pujinya. "Ehm ... tolong jangan berpikir macam-macam tentang Morgan. Beberapa hari ke depan kami akan menikah, Esme. Cukup hubunganku dengan Austin dulu yang kandas—" Celia sampai-sampai tak sanggup meneruskan perkataannya yang terdengar mengiba.Kakak tirinya tertawa penuh arti sembari melirik ke arah Celia. "Bukankah, ini semua idemu? Memamerkan betapa tampannya 'calon' suamimu ke seluruh penjuru dunia dengan menaruh fotonya di kemasan produk Richero!" sindir Esme. "Ini sah-sah saja menurutku karena reputasi Morgan yang seorang chef handal dan ternama. Sangat jarang CEO perusahaan mau membiarkan fotonya dipajang di kemasan produk komersil. Dan dia melakukannya demi menyenangkan hatiku!" kel
"Halo, Esme. Ada apa?" jawab Tuan Arnold Richero yang sedang menjenguk cucu sahabatnya di kediaman Harrison."Halo, Pa. Apa Papa baik-baik saja? Di mana Papa sekarang?" Esmeralda melontarkan serentetan pertanyaan tanpa jeda dengan suara panik.Tuan Arnold mengerutkan keningnya, dia curiga ada yang tak beres. "Tenangkan dirimu, Nak. Papa baik-baik saja dan sedang menengok cucu Uncle Johan di rumahnya sepulang main golf bersama. Bahkan, setelah ini kami akan berkunjung ke rumah Uncle Paris dan Uncle Edmund!" "Ohh Gosh, syukurlah. Mobil yang dikendarai Bruce kehilangan kendali dan menabrak pagar pembatas jembatan jalan tol menuju Brookside. Terjun ke sungai bersama satu mobil lain yang berada di depannya. Media berspekulasi bahwa Papa berada di dalam mobil itu dan tenggelam pasca cedera parah karena pintu bagian penumpang terbuka!" tutur Esmeralda seperti diberitakan heboh di semua media berita lokal Kansas.Insting tanda bahaya Tuan Arnold langsung menyala. Dia pun berpesan kepada putr
"Hey, Arnold. Akhirnya semua sudah berkumpul. Ayo kita naik golf cart sekarang saja sebelum matahari bertambah terik!" sambut Johannes Harrison, sahabat baik Tuan Arnold Richero."Maaf, tadi aku sedikit terhambat di jalan karena ada perbaikan gorong-gorong air yang membuat lalu lintas macet. Okay, kita berangkat saja sekarang ke padang golf, Johan!" jawab Tuan Arnold lalu naik ke sisi penumpang belakang golf cart.Seorang caddy golf perempuan mengemudikan kereta golf berisi empat orang pria tersebut. Dia membawa rombongan yang akan bermain golf itu ke tempat favorit mereka di padang rumput golf yang terawat rapi."By the way, apa kau sudah memiliki cucu, Arnold?" tanya Edmund Carey, teman main golfnya."Emm ... belum, tetapi putri bungsuku baru saja pulang berbulan madu. Sepertinya dia akan memberi kabar gembira tak lama lagi!" jawab Tuan Arnold Richero optimis. Dia memang paling terakhir menim
"Ini surat kaleng yang harus dikirim ke Esmeralda dan Celia. Dan apa hari ini kau jadi menyuruh anak buahmu mengutak-atik mobil Arnold?" ujar Emilia sembari menyerahkan dua amplop surat yang dia tulis tangan untuk dua anak tirinya ke John Barlow.Ekspresi wajah pria itu hanya datar saja, dia memang menuruti keinginan Emilia kali ini. Namun, enggan terlibat langsung. Surat kaleng yang diberikan wanita itu dia terima dan dimasukkan ke dalam kantong celana panjang seragam oranye penjara. "Okay. Mobil pria tua itu sangat banyak di garasinya karena dia konglomerat kaya raya. Anak buahku akan menguntitnya saat pergi ke luar rumah dan membuat rem mobil yang dipakainya blong. Cukup sekali saja ya aku menuruti maumu untuk membalas dendam selebihnya tidak!" ujar John dengan keengganan terlihat jelas di wajah serta perkataannya.Emilia agak kecewa karena tidak sesuai rencananya justru John tak mendukung pembalasan dendamnya. "Kenapa begini, John? Katamu dulu musuhku juga musuhmu!" tegurnya halu
"Di rumah sakit mana Morgan dirawat, Celia?" tanya Carlos Peron sembari membantu nona mudanya turun dari tangga private jet usai pendaratan dini hari di Bandara Washington DC.Celia memang agak mengantuk dan letih tentunya karena kurang istirahat. Pikirannya tak tenang mengetahui suaminya dirawat di IGD hingga kini belum sadarkan diri."Morgan diopname di Medstar Washington Hospital Center. Dia ditemani Chef Eugene dan Chef Thomas. Kita naik taksi saja ke sana!" jawab Celia sembari melangkah keluar dari gerbang kedatangan penumpang pesawat. Fabio dan Louis mengawalnya sambil membawakan koper milik Celia. Taksi bandara stand by 24 jam di area sekitar pintu keluar. Mereka memakai satu taksi saja meskipun Celia jadi harus duduk di bangku depan dan ketiga pria besar itu berdempetan di bangku belakang.Perjalanan yang tak terlalu jauh jaraknya itu berakhir juga pada pukul 03.00. Rumah sakit masih lengang tak banyak pengunjung dan juga tenaga medis yang bersliweran di sana. Celia menghampi
"Kau kenapa, Morgan?!" seru Elizabeth berpura-pura panik. Dia lalu berteriak meminta tolong ke pegawai bar and lounge hotel agar membantunya memapah Morgan ke lift untuk kembali ke kamarnya.Rencana Elizabeth nampaknya berjalan mulus. Mata chef tampan itu nyaris terpejam tak fokus lagi melihat sekelilingnya, badan kekarnya limbung ditopang oleh dua waiter di dalam lift."Ada apa dengan tuan ini, Nona? Apakah Anda istri atau kekasihnya?" tanya salah satu waiter bernama Ronny."Dia terlalu lelah beraktivitas dan tadi minum-minum sedikit. Aku istrinya!" jawab Elizabeth berakting begitu meyakinkan.Akhirnya, kedua waiter itu membawa Morgan ke kamar Elizabeth dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dengan segera Elizabeth memberikan tip untuk mereka lalu berterima kasih. Dia langsung mengunci pintu kamar lalu berjingkat-jingkat menghampiri mantan kekasihnya itu. "Morgan Darling, apa kau mendengarku?" ucap Elizabeth sembari membelai wajah pria itu. Peluh Morgan bercucuran di dahinya, di
Morgan semakin merindukan Celia setelah telepon mereka berakhir. Dia menghela napas lalu mengisi daya ponsel di nakas samping tempat tidur. Masih lusa barulah dia bisa kembali ke Kansas. Pekerjaan memasak di Gedung Putih tidak bisa diwakilkan bila tidak dalam keadaan sangat terpaksa karena menyangkut reputasi bisnis jasa boga Tasty Guaranted yang dia besarkan dari nol.Malam bergulir lambat menuju pagi, alarm di handphone Morgan meraung-raung berusaha membangunkan chef tampan yang masih membenamkan wajahnya di bantal. "Huhh ... cepat sekali pagi tiba!" gumam Morgan seraya meraih benda pipih yang terus berisik memekakkan telinganya.Dia menatap angka jam di layar ponsel lalu menyeret tubuhnya ke bawah shower. Air dingin menjadi opsi terbaik agar sel-sel sarafnya dapat tersegarkan setelah terlelap semalaman.Pikiran Morgan terbagi antara pekerjaan dapur yang akan dikerjakannya di The White House dan istrinya. Dia sangat ri
"Creamy Mushroom Black Pepper Salmon with Spinach apa sudah siap?" seru Morgan di tengah dapur Gedung Putih yang hectic dengan suara alat masak berbunyi bergantian bak orchestra.Chef Eugene Botswa yang terbiasa menjadi asisten executive chef menyahut, "Ready, Chef!""Minta pelayan mengeluarkan kereta hidangan salmon setelah ini kita fokus ke dessert sebagai penutup makan malam tamu Mister President!" ujar Morgan sembari memeriksa progres Tres Leches Cake atau yang dikenal dengan nama Dulce De Tres Leches, dessert lezat berupa kue bolu ringan yang direndam dalam tiga campuran susu manis dengan topping whipcream dan stroberi segar. Kue dingin ini terkenal di Mexico dan Amerika.Aroma manis susu menguar di dalam dapur dan menerbitkan air liur bagi siapa pun yang menciumnya. Kepiawaian Morgan sebagai executive chef tak diragukan oleh kru dapurnya. Pilihan menu darinya tak pernah monoton dan selalu extraordinary
Hurricane Restoran. Papan nama berhias lampu neon terang mengelilingi tulisan berwarna merah keemasan yang menyiratkan kemewahan itu menyambut mobil-mobil para pengunjung yang berhenti menurunkan penumpang. John memarkir sendiri mobilnya dan menolak jasa vallet parking usai menurunkan Emilia Pilscher di depan pintu masuk restoran. Alasannya agak jika terjadi sesuatu tak terduga, dia dapat langsung kabur dengan mobil miliknya karena tahu di mana lokasi terparkir.Sesaat menunggu John bergabung dengannya di depan pintu restoran menyisakan ketegangan di wajah Emilia. Dari kaca pintu restoran dia melihat keluarga Richero ditemani seorang pria muda perlente duduk mengelilingi meja makan bundar. Mereka tertawa riang sembari berbincang seru.'Ahh sialan! Bagaimana bisa restoran yang dimiliki kolega John juga dipilih sebagai tempat keluarga laknat itu makan malam?!' gerutu Emilia sambil mengamati rombongan kecil itu dari depan pintu restoran.John menghampiri wanita itu dan menepuk bahunya.
"Wow, Emmy kau sangat beruntung dipuja oleh sang penguasa penjara!" sanjung Anne yang melihat koleksi perawatan tubuh dan juga kosmetik yang dimiliki teman satu sel tahanannya itu.Lilly pun menimpali, "Rambutmu yang dipangkas cepak oleh Katlin Rookie juga sudah tumbuh makin panjang berkat shampo dan krim yang diberikan oleh John Barlow!"Senyuman sombong terukir di bibir Emilia Pilscher, dia memang bak seorang ratu kecil di penjara wanita Kansas City saat ini melengserkan posisi Katlin Rookie. Wanita malang sok hebat itu mengalami depresi berat akibat pembalasan dari John tempo hari karena memimpin pengeroyokan serta penganiayaan atas dirinya.Katlin kini dijauhi oleh seisi penjara wanita, terkadang senior juga membully dia seenak perut mereka. Tak ada lagi bekingan dari John Barlow yang membuat narapidana berkepala plontos itu mengangkat dagunya arogan di hadapan penghuni penjara lainnya."Aku mema