"TING TONG."Suara bunyi bel pintu membuat seorang wanita dari dalam sebuah rumah townhouse dua lantai itu bergegas menyambut tamu yang telah dia nantikan."Hello, Pretty Girl!" ucap sesosok pria yang membawa buket bunga segar warna-warni di tangannya."Austin!" seru wanita itu seraya menghambur hingga naik ke gendongan pria kekasih gelapnya selama tiga tahun belakangan, cinta pertamanya. "Muaach ... muuuaachh!" kecup Ellen penuh napsu menghujani wajah Austin Robertson. "Rindu sekali rupanya!" Austin menepuk bokong mungil Ellen yang tak mau turun dari gendongannya bak seekor anak koala. Dia pun masuk ke dalam rumah lalu menendang pintu teras hingga menutup. Dia langsung membawa Ellen naik ke lantai dua tepatnya ke kamar tidur."Jadi, bagaimana kau bisa lepas dari pengawasan istri tuamu yang bengis itu, Sayang?" pancing Ellen yang masih dendam karena dipermalukan oleh Esme di lobi kantor Austin tempo hari.Pria itu membaringkan Ellen ke tengah ranjang lalu melucuti setelan jas mahalny
"Papa, suruhlah Celia membantuku di perusahaan. Aku butuh manager pemasaran dan kreasi produk. Dia itu pengangguran sok sibuk, huhh!" Esmeralda memasang tampang judesnya seperti biasa di hadapan Tuan Arnold Richero yang malah tertawa geli melihatnya."Kupikir kamu bisa menangani perusahaan sendirian dan tak ingin diganggu oleh adikmu, Esme!" sindir pria berumur yang terlihat lebih segar pasca operasi transplantasi ginjal itu.Esmeralda berdecak kesal sambil bersedekap. "Kalau dia berani mengganggu pekerjaanku akan kutendang sampai ke Afrika! Biar dia dimakan macan di sana, hmm. Ayolah, Pa suruh dia bekerja mulai besok pagi!" desaknya lagi."Ckk ... kamu ini sukanya memaksa, Esme Sayang. Baiklah, Papa coba telepon Celia. Ngomong-ngomong, kamu tidak berniat menindas adikmu di kantor 'kan?" sahut Tuan Arnold dengan lirikan menyelidik."Tidak. Pekerjaan kantor harus dilakukan profesional. Tinggal Celia mampu berprestasi atau sekadar bermalas-malasan!" jawab Esmeralda sportif.Maka Tuan Ar
"Terima kasih untuk Cranberry Angel Cake yang kau bawakan, Morgan. Kata dokter memang cranberry, salah satu buah yang direkomendasikan untuk menurunkan kadar kreatinin ginjal dan mencegah infeksi saluran kemih. Kamu memiliki bakat memasak yang hebat!" puji Tuan Arnold Richero saat dijenguk oleh calon menantunya bersama Celia di rumah sakit.Morgan pun menjawab seraya terkekeh, "Sebenarnya yang mengeksekusi resep kue itu dariku adalah Celia, Sir. Dia punya bakat terpendam menjadi penguasa dapur!""Celia? Wow, ini kabar yang mengejutkan. Setahuku dia tidak pernah masuk ke dapur untuk memasak di rumah kami," seru Tuan Arnold serasa tak percaya, putri bungsunya yang sering dikatai manja oleh banyak orang justru bisa memasak di bawah bimbingan chef."Hmm ... jangan salah, Pa. Guruku sangat hebat, kalau aku masih bloon di dapur pastinya memalukan!" jawab Celia yang sontak membuat kedua pria beda generasi itu tertawa bersamaan.
Pagi jelang siang selepas Dokter Jarvis menyatakan bahwa Tuan Arnold Richero sudah bisa melanjutkan perawatan di rumah saja dengan beberapa jadwal kontrol kesehatan rutin nantinya, rombongan kecil itu bertolak menuju Elmwood Cemetery. Carlos Peron duduk di bangku depan sebelah sopir, berbeda dengan sekompi pengawal yang mengikuti dalam mobil lain di belakang limousine hitam itu. Ada perasaan haru bercampur kelegaan di hati asisten pribadi Arnold semenjak masa mudanya itu, sebuah kebenaran yang terkubur lama bersama mendiang Cassandra Higgins akhirnya terkuak. Penjahat yang sebenarnya telah mendekam di sel tahanan sementara kantor polisi Kansas City. Dia selalu berada dalam pemantauan Carlos yang mengenal petinggi kepolisian dan juga sipir penjara di sana. Emilia tidak boleh dibiarkan bebas dengan jaminan karena kasus hukum yang menjeratnya kelas berat. "Papa, apakah dulu berkenalan dengan mama saat masih kuliah?" tanya Celia mencoba memancing agar cerita zaman dahulu kala itu menga
"Thank you, Esme untuk dukunganmu. Ideku jadi bisa dieksekusi dengan cepat!" ucap Celia ketika mendampingi photo shot Morgan sebagai brand ambassador produk-produk perusahaan Richero.Esmeralda tersenyum tipis sembari menatap chef tampan itu tanpa berkedip. "Kuakui ... Morgan itu good looking!" pujinya. "Ehm ... tolong jangan berpikir macam-macam tentang Morgan. Beberapa hari ke depan kami akan menikah, Esme. Cukup hubunganku dengan Austin dulu yang kandas—" Celia sampai-sampai tak sanggup meneruskan perkataannya yang terdengar mengiba.Kakak tirinya tertawa penuh arti sembari melirik ke arah Celia. "Bukankah, ini semua idemu? Memamerkan betapa tampannya 'calon' suamimu ke seluruh penjuru dunia dengan menaruh fotonya di kemasan produk Richero!" sindir Esme. "Ini sah-sah saja menurutku karena reputasi Morgan yang seorang chef handal dan ternama. Sangat jarang CEO perusahaan mau membiarkan fotonya dipajang di kemasan produk komersil. Dan dia melakukannya demi menyenangkan hatiku!" kel
"Aakhh ... Austin, jangan di sini! Kita dilihat pengunjung resort lainnya!" tolak Ellen di antara desahan birahinya.Mereka sedang berjemur di bangku tepi kolam renang pagi itu. Berbagai makanan seafood yang disantap oleh Austin selama berada di Florida rupanya membuat libidonya meningkat. Namun, pria beristri itu seolah-olah tak peduli karena jauh dari Kansas. Austin menciumi leher jenjang mulus berwarna karamel itu hingga meninggalkan jejak kemerahan bibirnya."Apa yang kau takutkan, Ellen Darling? Tamu-tamu di sini tak ada yang mengenal kita. Esme pun berada di Kansas, dia sibuk dengan project kemasan produk Richero yang baru!" kilah Austin yang mulai menjamah bulatan kembar di balik kain segitiga bikini merah yang dikenakan Ellen.Dari sudut matanya, Ellen melihat seorang pria yang juga tamu resort mengambil beberapa foto mereka diam-diam. Otaknya segera berpikir bahwa foto mereka berdua bisa jadi bom nuklir ya
"Wah, model di kemasan produk Richero yang baru ini tampan sekali, siapa dia?!" komentar seorang nyonya konglomerat di sebelah rekannya yang diundang acara launching produk di atrium mall Oak Park."Itu adalah Chef Morgan Bradburry, gosipnya dia pemilik waralaba restoran terkenal Tasty Guaranted, Mrs. Leona!" bisik Nyonya Miriam Dawson khas ibu-ibu biang gosip.Serbuan lampu blitz wartawan membuat Morgan memicingkan mata birunya yang indah. Dia berdiri di antara Esmeralda dan Celia Richero untuk sesi wawancara sebagai brand ambassador produk perusahaan Richero.Ketika Celia mundur ke backstage lalu pergi ke toilet mall, dia tak menyangka akan dipepet oleh mantan tunangannya sekali lagi."Apa maumu, Austin? Aku sibuk!" hardik Celia seraya memandang risih ke wajah Austin. Ketampanan dan perawakan pria itu memang sanggup membuat kaum Hawa melunglai oleh pesonanya. Namun, itu tak berlaku bagi
"Hilda, ke mana pelayan membawa bantal dan selimut itu?" tanya Tuan Arnold Richero yang berpapasan dengan rombongan pelayan rumahnya."Ohh ... mereka menyiapkan kamar tamu untuk Tuan Muda Austin. Beliau akan tidur di sana mulai malam ini!" jawab Hilda yang diperintahkan oleh Esmeralda demikian.Tuan Arnold segera berseru ke rombongan pelayan itu, "Kalian berhenti!" Sontak ketiga perempuan muda berseragam biru tua dan celemek putih itu tak berani lagi melangkahkan kaki mereka ke kamar tamu."Ada apa, Sir?" tanya Hilda kebingungan."Hilda, panggil Esme dan Austin ke ruang keluarga untuk menemuiku!" titah Tuan Besar Richero. Dia lalu berjalan dengan bantuan tongkat sendirian sembari menunggu putri sulung dan menantunya bergabung untuk bicara.Austin yang sedang duduk bersantai sambil melihat konten di media sosial handphonenya di patio taman belakang rumah agak terkejut karena mendadak dipanggil oleh papa mertuanya. Dia masih trauma dengan ancaman Tuan Arnold di atrium mall kemarin."Oka
Emilia menjalankan rencananya untuk memikat John Barlow, dia menanggalkan seragam oranye tahanan penjara dan berganti dengan lingerie merah maroon berenda semi transparan. Dia keluar dari kamar mandi lalu menemui John."Whoa ... kejutan yang menakjubkan, Emmy!" desah kagum John saat dia melihat wanita itu melenggak-lenggok menggodanya.Mudah bagi Emilia yang memang seorang jalang tulen membangkitkan gairah kaum Adam, dia duduk di paha kekar berbulu lebat milik John Barlow sembari bergelanyut manja dengan tatapan sayu. "Apa yang kau tunggu, Darling? Aku siap untuk melayanimu!" ucapnya lalu mengecupi jakun pria itu."Ough ... kau menyiksaku dengan bertingkah binal, Emmy!" John membanting tubuh ramping beraroma wangi lembut itu hingga terlentang di atas ranjang. Lututnya melebarkan paha Emilia agar terbuka untuk serangan ganas berikutnya."Akhh ... John, kau membuatku tak berdaya!" pekik Emilia bernada manja yang membuat gangster berbadan bak beruang Grizzly itu lebih menginginkannya. Se
"John, mantan suamiku belum tewas dalam kecelakaan mobil itu. Bisakah kau menolongku sekali lagi?" bujuk Emilia Pilscher saat menemui sang penguasa bawah tanah penjara federal di Kansas City itu.Pria bercambang tipis itu berdecak malas lalu menjawab, "Maaf, Emmy. Aku tak ingin melibatkan diri dalam urusanmu yang berbahaya. Menghilangkan nyawa orang itu berat hukumannya bila ketahuan. Setiap sudut kota ada kamera CCTV yang dipasang pemerintah. Anak buahku pastinya juga akan terdeteksi pergerakannya setelah usaha mereka kemarin gagal melenyapkan Arnold Richero!"Emilia beringsut memeluk John lalu berbicara dengan nada sedih. "Apa kau tak bisa menyewa pembunuh bayaran profesional saja dari pada menyuruh anak buahmu, Darling?" "Astaga, Emmy. Dengar ya, tadinya kupikir kau ini wanita baik-baik yang dijebak hingga masuk penjara. Nyatanya pikiranmu itu keji persis seperti layaknya seorang narapidana kasus pembunuhan atau konspirasi pembunuhan. Tidak. Aku tak mau!" John bangkit dari bangku
"Papa, ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Jeff!" seru Esmeralda ketika memasuki ruang keluarga. Tuan Arnold Richero sedang menonton berita di televisi stasiun lokal yang membahas mengenai kecelakaan tadi siang di Wild Flower Bridge. Bruce, sopir pribadinya ditemukan tak bernyawa karena kehabisan oksigen pasca mobil terjun dan tenggelam di sungai. Mobil Rolls Royce tahun 2010 itu diderek keluar dari sungai dengan susah payah hingga petang ini."Ohh, duduklah kalian. Apa yang ingin dibicarakan oleh Jeff?" sambut Tuan Arnold tanpa menebak bahwa putrinya akan dilamar secara mendadak.Dokter Jeffrey Norton berusaha mengendalikan perasaan gugup dalam dirinya. Rasanya seperti menghadap dosen penguji thesis S2 dulu. "Selamat malam, Sir. Izinkan saya untuk meminang putri Anda, Esmeralda. Kami menjalin hubungan spesial belakangan ini dan saya sudah menunda cukup lama sampai kami merasa nyaman satu sama lain. Kesimpulan saya adalah Esmeralda cocok dijadikan sebagai pendamping hidup say
"Hai, Esme. Lama kita tak berjumpa. Bagaimana kabarmu dan keluarga Richero?" sapa Emilia berpura-pura ramah dan sok tidak tahu apa yang terjadi siang tadi atas Tuan Arnold.Esmeralda tersenyum palsu lalu menjawab, "Hai juga, Emmy. Maaf sekian lama baru sempat menjengukmu di sini. Hari ini terjadi kecelakaan naas, mobil Rolls Royce antik milik papa terjun dari jembatan jalan tol menuju Brookside!" Dia pun berair mata dan mulai memainkan sandiwara yang menyedihkan. Dokter Jeffrey Norton menepuk-nepuk punggung Esmeralda, dia juga mengulurkan sapu tangan untuk mengeringkan air mata kekasihnya. Sepintas tatapan matanya memperhatikan Emilia yang tak dapat menyembunyikan senyum iblisnya. Dia puas berhasil mencelakakan Tuan Arnold.Kamera CCTV dan perekam pembicaraan di ruang besuk narapidana wanita aktif terpasang. Itu yang mereka butuhkan sebagai sumber barang bukti menambah vonis hukuman Emilia Pilscher.Emilia berkomentar dengan wajah simpatik, "Aku turut prihatin mendengar kabar buruk i
"Halo, Esme. Ada apa?" jawab Tuan Arnold Richero yang sedang menjenguk cucu sahabatnya di kediaman Harrison."Halo, Pa. Apa Papa baik-baik saja? Di mana Papa sekarang?" Esmeralda melontarkan serentetan pertanyaan tanpa jeda dengan suara panik.Tuan Arnold mengerutkan keningnya, dia curiga ada yang tak beres. "Tenangkan dirimu, Nak. Papa baik-baik saja dan sedang menengok cucu Uncle Johan di rumahnya sepulang main golf bersama. Bahkan, setelah ini kami akan berkunjung ke rumah Uncle Paris dan Uncle Edmund!" "Ohh Gosh, syukurlah. Mobil yang dikendarai Bruce kehilangan kendali dan menabrak pagar pembatas jembatan jalan tol menuju Brookside. Terjun ke sungai bersama satu mobil lain yang berada di depannya. Media berspekulasi bahwa Papa berada di dalam mobil itu dan tenggelam pasca cedera parah karena pintu bagian penumpang terbuka!" tutur Esmeralda seperti diberitakan heboh di semua media berita lokal Kansas.Insting tanda bahaya Tuan Arnold langsung menyala. Dia pun berpesan kepada putr
"Hey, Arnold. Akhirnya semua sudah berkumpul. Ayo kita naik golf cart sekarang saja sebelum matahari bertambah terik!" sambut Johannes Harrison, sahabat baik Tuan Arnold Richero."Maaf, tadi aku sedikit terhambat di jalan karena ada perbaikan gorong-gorong air yang membuat lalu lintas macet. Okay, kita berangkat saja sekarang ke padang golf, Johan!" jawab Tuan Arnold lalu naik ke sisi penumpang belakang golf cart.Seorang caddy golf perempuan mengemudikan kereta golf berisi empat orang pria tersebut. Dia membawa rombongan yang akan bermain golf itu ke tempat favorit mereka di padang rumput golf yang terawat rapi."By the way, apa kau sudah memiliki cucu, Arnold?" tanya Edmund Carey, teman main golfnya."Emm ... belum, tetapi putri bungsuku baru saja pulang berbulan madu. Sepertinya dia akan memberi kabar gembira tak lama lagi!" jawab Tuan Arnold Richero optimis. Dia memang paling terakhir menim
"Ini surat kaleng yang harus dikirim ke Esmeralda dan Celia. Dan apa hari ini kau jadi menyuruh anak buahmu mengutak-atik mobil Arnold?" ujar Emilia sembari menyerahkan dua amplop surat yang dia tulis tangan untuk dua anak tirinya ke John Barlow.Ekspresi wajah pria itu hanya datar saja, dia memang menuruti keinginan Emilia kali ini. Namun, enggan terlibat langsung. Surat kaleng yang diberikan wanita itu dia terima dan dimasukkan ke dalam kantong celana panjang seragam oranye penjara. "Okay. Mobil pria tua itu sangat banyak di garasinya karena dia konglomerat kaya raya. Anak buahku akan menguntitnya saat pergi ke luar rumah dan membuat rem mobil yang dipakainya blong. Cukup sekali saja ya aku menuruti maumu untuk membalas dendam selebihnya tidak!" ujar John dengan keengganan terlihat jelas di wajah serta perkataannya.Emilia agak kecewa karena tidak sesuai rencananya justru John tak mendukung pembalasan dendamnya. "Kenapa begini, John? Katamu dulu musuhku juga musuhmu!" tegurnya halu
"Di rumah sakit mana Morgan dirawat, Celia?" tanya Carlos Peron sembari membantu nona mudanya turun dari tangga private jet usai pendaratan dini hari di Bandara Washington DC.Celia memang agak mengantuk dan letih tentunya karena kurang istirahat. Pikirannya tak tenang mengetahui suaminya dirawat di IGD hingga kini belum sadarkan diri."Morgan diopname di Medstar Washington Hospital Center. Dia ditemani Chef Eugene dan Chef Thomas. Kita naik taksi saja ke sana!" jawab Celia sembari melangkah keluar dari gerbang kedatangan penumpang pesawat. Fabio dan Louis mengawalnya sambil membawakan koper milik Celia. Taksi bandara stand by 24 jam di area sekitar pintu keluar. Mereka memakai satu taksi saja meskipun Celia jadi harus duduk di bangku depan dan ketiga pria besar itu berdempetan di bangku belakang.Perjalanan yang tak terlalu jauh jaraknya itu berakhir juga pada pukul 03.00. Rumah sakit masih lengang tak banyak pengunjung dan juga tenaga medis yang bersliweran di sana. Celia menghampi
"Kau kenapa, Morgan?!" seru Elizabeth berpura-pura panik. Dia lalu berteriak meminta tolong ke pegawai bar and lounge hotel agar membantunya memapah Morgan ke lift untuk kembali ke kamarnya.Rencana Elizabeth nampaknya berjalan mulus. Mata chef tampan itu nyaris terpejam tak fokus lagi melihat sekelilingnya, badan kekarnya limbung ditopang oleh dua waiter di dalam lift."Ada apa dengan tuan ini, Nona? Apakah Anda istri atau kekasihnya?" tanya salah satu waiter bernama Ronny."Dia terlalu lelah beraktivitas dan tadi minum-minum sedikit. Aku istrinya!" jawab Elizabeth berakting begitu meyakinkan.Akhirnya, kedua waiter itu membawa Morgan ke kamar Elizabeth dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dengan segera Elizabeth memberikan tip untuk mereka lalu berterima kasih. Dia langsung mengunci pintu kamar lalu berjingkat-jingkat menghampiri mantan kekasihnya itu. "Morgan Darling, apa kau mendengarku?" ucap Elizabeth sembari membelai wajah pria itu. Peluh Morgan bercucuran di dahinya, di