Tangan Sara merangkul kedua lengan Banyu. Pagutan Banyu semakin dalam dan dalam. Tidak pernah Sara bilang bahwa ciuman Banyu biasa saja. Banyu selalu memberikan sensasi aneh di setiap sentuhannya dan Sara selalu terbuai. Ya, Sara masih normal merasakan hal ini bukan? Lelaki itu mengabsen satu per satu deretan gigi Sara, membelai lidahnya. Tangan Banyu sudah berada di tengkuk Sara, mengatur irama kedalaman ciuman ini dengan handalnya. Kaki-kaki Sara sudah seperti pensil inul yang lunglai dan tak sanggup lagi menapaki lantai. Kini bibir Banyu turun di dagunya, kemudian menjelajahi lehernya. Mengecup, menghisap dan menggigit kecil. Banyu suka berada di leher jenjang itu.Dada Sara sudah membusung tatkala Banyu turun di dadanya yang masih terbungkus kaos. Banyu pun langsung menatap Sara, meminta persetujuan perempuan itu dari matanya. Namun, Sara tidak memberikan respon apa-apa sampai Banyu mengecup bibirnya lagi. Tangan Banyu satunya yang tidak bisa diam, mulai meraba punggung Sara dan
"Ra, pengamanku nyangkut di dalam itumu." ujar Banyu dengan wajah yang sudah pias.Ya Dewa!!!Sara membelalakkan matanya, bibirnya menganga lebar dan ekspresi wajahnya sudah tidak karuan. Ia ikutan panik saat Banyu mengusap rambutnya sendiri dengan kasar. Ini gila! Kok bisa pengaman itu nyangkut?"Bay! Kok bisa nyangkut?!" teriak Sara, wajahnya sudah tidak karuan.Takut, cemas, sedih jadi satu. Sara hanya menggeleng terus bergerak mencari cara apapun."Aku gak tahu Ra!""Bilang aja lo gak berpengalaman pakai begituan, ini gak akan terjadi kalau lo hati-hati!! Asss!!!""Ya namanya juga 1 dari 1000 kemungkinan, semua bisa terjadi Ra. Aku mana tahu kalau risiko satu itu terjadi sama kita sekarang!" Banyu menatap Sara semakin frustasi. Keduanya mendesah kian cemas."Terus gue harus gimana?! Cepet mikir Bay!!"Banyu mengabaikan ucapan Sara dan menunduk dalam, memukul kepalanya mencari ide yang bisa ia lakukan untuk mengeluarkan benda kenyal itu. Sementara Sara terus menggerutu dan kepanik
"Darimana?" tanya Banyu yang sudah duduk di mini bar dan meminum kopi.Lelaki itu sudah berpakaian kerja rapi, rambut yang disisir kebelakang dan siap untuk berangkat."Buang sampah di depan." jawab Sara.Seperti yang telah mereka sepakati dari kompromi kemarin, suasana keduanya menjadi lebih adem. Sara lebih kalem dalam menanggapi Banyu dan Banyu pun juga tidak sengaja jahil-jahil lagi hingga membuat Sara kesal. Mereka sudah bisa berkomunikasi secara normal. Ya meskipun kadang Banyu gatal juga sehari saja tidak mengerjai Sara."Itu apa?" tanya Banyu lagi melihat Sara membawa satu kantong plastik putih."Oh ini, fruit sando. Tadi ada anak sekolah yang jualan keliling pakai sepeda, kasihan jadi aku beli. Kamu mau?" Banyu mengernyit dan tersenyum. "Wait! wait! Aku? kamu?" Banyu malah fokus pada perkataan Sara yang kini sudah membahasakan dengan 'aku kamu'. "Aku gak salah denger kan?"Sara menipiskan bibirnya. Ia lalu dudu
"Bisa diam gak? Aku lagi konsentrasi!" seloroh Banyu yang masih duduk di belakang meja kerjanya.Setelah meeting Sara dengan tim legal selesai, Sara mau langsung pulang, tapi Banyu bilang harus bareng pulangnya. Jadilah, Sara duduk di sofa ruangan Banyu. Namun, karena ia bosan melihat lelaki itu bekerja, maka ia memutuskan untuk mencoba merambah platform sosial media lain. Ya lumayan untuk hiburan."Kenapa sih, tadi aku gak boleh pulang duluan. Sekedar jajan di cafe depan juga gak boleh, sekarang aku harus diam aja kayak patung?""Ya paling enggak duduk diam, dengerin musik pakai earphone atau baca buku. Ini malah joget-joget gak jelas. Terus itu musik apaan sih, aneh banget. Udah paling bener kamu tidur aja.""Aku gak ngantuk. Lagian karirku udah end jadi selebgram, ini lagi coba-coba aja sosial media lain. Seru-seruan doang."Banyu menepuk jidadnya. "Tapi yang elegan dikit kenapa sih jogetnya. Gerakan amburadul, pantat kemana-mana, gak enak dilihat. Yang anggun dikit lah."Sara mend
Banyu memperhatikan Sara yang berjalan di belakangnya. Perempuan ini lambat sekali jalannya seperti siput. Sambil main ponsel pula, padahal Banyu keburu lapar. "Lambat sekali sih jalanmu, katanya kamu juga lapar."Sara justru berhenti dan menatap Banyu kesal. "Parkir kantor kamu jauh banget sih Bay. Aku capek." ujarnya merengek."Terus berharap aku gendong kamu? Itu tinggal deket doang."Sara menghela napas kasar. Ia membatin saja kalau lelaki ini tidak peka dengan apa yang terjadi di tubuh Sara. Sebetulnya sudah sejak pagi tubuhnya seperti diterjang truk tronton, sakit, terutama di bagian perut ke bawah. Bagaimana tidak? Terakhir ia melakukan lima tahu lalu, dan sekarang mungkin sudah rapat kembali, tiba-tiba ia melakukan lagi dengan milik Banyu yang sebesar dan sepanjang itu. Mana ada insiden pengamannya tersangkut pula.Sejak tadi ia berusaha mengabaikan sakitnya dengan Stretching ringan, berjalan membuang sampah di depan rumah dan joget-joget, tapi semakin kesini rasanya tambah p
Sara baru selesai mandi setelah tidur yang tidak terlalu lama, tapi cukup nyenyak. Ia mengeringkan rambutnya lalu membuka gorden jendela. Langit ternyata sudah menggelap. Ia bisa melihat jalanan kompleks rumah elit yang luas itu. Sepi. Mungkin ini weekday jadi orang-orang yang kebanyakan kerja kantoran masih berada di kantornya atau urusan yang lain. Mengingat kebanyakan yang tinggal di sini adalah pengusaha dan bos eksekutif.Ia meregangkan otot-ototnya. Mencoba merasakan tubuhnya yang sudah mulai membaik, tapi masih terasa pegal. Setidaknya sudah tidak sekaku tadi. Saat ia mendongak lagi sebelum menutup gorden, matanya menyipit. Ada sesuatu yang aneh yang matanya tangkap. Sumpah ia sampai maju ke depan dan melihat apa yang ada di depan sana.Lalu, ia menutup mulutnya dengan tangan. Syok berat. Itu rumah Popy dan Roby. Mereka sedang ... Astaga!Sara langsung menutup gorden itu dengan cepat. Ia menimbang, apa ia harus bilang ke Banyu atau tidak.
Kepulangan mbak Yah dan Pak Kodir membuat Sara kesepian. Banyu jelas sedang menjemput seseorang di bandara dan ia di suruh tinggal di rumah saja, tanpa boleh menghadiri undangan dari Popy dan Roby. Sebetulnya Sara juga sedikit malas menghadiri undangan itu, tapi tiba-tiba tetangga sebelahnya yang seorang istri bos batu bara bernama tante Rosi, mengajaknya untuk berangkat bersama. Katanya buat menghormati yang sudah mengundang. Sara mau menolak, tetapi perempuan paruh baya —yang gaulnya mengalahi anak muda sekarang— itu mengajak Sara dengan sopan dan penuh keramahan. Maka, berakhirlah Sara di sini. Di ruang tengah rumah mewah Popy dan Roby. Para tetangga semua berkumpul di sini, bersenda gurau dengan asyiknya. Masalahnya kalau melihat Popy dan Roby, ingatannya selalu mengarah tertuju pada peristiwa tadi malam dan hari-hari sebelumnya. Dimana mereka berdua menunjukkan hal-hal aneh di depan Sara dan Banyu. Sara jadi berpikir, apa tetangga yang lain juga di
Riuh tepuk tangan dan antusiasme orang-orang membuat Sara ikut menyunggingkan senyum. Kini, Health Fresh fruit —branding baru dari cabang HH— telah dibuka kembali. Karyawan yang sudah siap kembali untuk bekerja, berbahagia dengan momen ini. Sara sendiri yang memimpin pembukaan HFF ini. Namun, ia tidak akan jadi CEO atau direktur. Sebab, ia belum mau terlibat dalam urusan bisnisnya secara langsung. Ia akan tetap jadi owner yang sesekali akan datang dan memeriksa. Untuk jabatan penting ia serahkan pada tim ahli yang telah lama bekerja di sini. Sara mempercayakan penuh pada mereka. Yang penting Sara memastikan bahwa perusahaan ini beroperasi dengan baik dan dapat mensejahterakan karyawannya. Keuntungan itu urusan dua atau tiga tahun lagi. Sambil berprogres dan menata kembali sistemnya."Saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik. Perusahaan ini mungkin tidak langsung sebesar Seperti Healthy Human, tapi kedepannya jika kita lebih baik dari segi sistem dan Operasional, kita pasti akan ja