Harry dan Daniel sama-sama menempelkan kepala mereka di kaca jendela belakang untuk melihat Eleanor.Daniel terlihat agak khawatir. "Apa Mama bisa melawan seorang pria?"Harry tertawa. "Tentu saja bisa, mudah saja kok. Mama sangat hebat, Kakak lihat saja."Di sebelah mobil hitam, pria berpakaian hitam itu sedang menunduk untuk mengutak-atik kamera. Dia tidak menyadari bahwa Eleanor sudah berdiri tepat di depannya.Saat dia mengangkat kepala, kamera tiba-tiba terlepas dari tangannya. "Hei ...."Pria itu hendak merebut kameranya kembali, tetapi dia terkejut saat melihat wanita tinggi ramping yang berdiri di hadapannya.Eleanor memegang kamera dengan satu tangan. Tatapannya tajam seperti elang. "Apa yang kamu foto?"Pria itu langsung kaget dan segera menjawab, "Nggak, nggak ada. Kembalikan kameraku."Eleanor mengangkat alis dan mulai membuka foto-foto di kamera. "Kenapa kamu ambil foto diam-diam?"Pria itu semakin cemas karena ketahuan. Nada bicaranya menjadi agak kesal. "Siapa yang fotoi
"Siapa yang mengutusmu kemari?" Eleanor mengencangkan genggamannya.Pria itu ragu sejenak sebelum menjawab, "Ada ... ada seorang wanita yang kasih aku uang buat membuntutimu dan memotretmu bersama orang-orang di sekitarmu.""Terus?" Eleanor sudah menduganya. Pasti Tiara atau Yoana. Selain mereka, siapa lagi yang kurang kerjaan begini?"Terus? Nggak ada lagi, cuma itu.""Tunjukkan bukti transfernya kepadaku.""Hah? Ya, ya." Pria itu buru-buru mengeluarkan ponselnya, lalu membuka riwayat transaksi dan menunjukkannya kepada Eleanor. "Ini."Eleanor melihatnya sekilas. Akun anonim, ini susah dilacak. Mereka benar-benar berwaspada. Dia mengalihkan pandangannya, lalu berujar, "Kasih aku memori kameramu, ada masalah?""Nggak, nggak. Silakan diambil."Setelah mengambil kartu memori itu, Eleanor melemparkan kamera itu kembali. Pria itu buru-buru menangkapnya.Kemudian, matanya tertuju pada pistol digenggam oleh Eleanor. Dengan penasaran, dia bertanya, "Kak, dari mana kamu dapat pistol?"Di zaman
Kali ini, Eleanor lebih berhati-hati. Setiap kali ada yang mengetuk pintu atau menekan bel, dia tidak akan sembarangan membuka pintu lagi. Penyusupan yang dilakukan oleh Jeremy malam itu membuatnya trauma.Eleanor mengintip melalui lubang pintu dan melihat seorang pria berjas di luar. Itu adalah Andy.Eleanor mengernyit. Bukankah Jeremy sedang dinas? Jika Jeremy pergi, bukankah asistennya ikut?Kenapa Andy malah muncul di depan pintunya pada jam segini? Tebersit pikiran yang menyedihkan di benak Eleanor. Dia pasti datang untuk menjemput Daniel.Andy mengetuk pintu lagi karena tidak ada respons dari dalam. Eleanor merasa tidak enak hati jika berpura-pura tidak ada di rumah. Setelah memastikan hanya Andy yang berada di luar, dia akhirnya membuka pintu.Andy menyapa dengan sopan seperti biasa. "Bu Eleanor."Eleanor mengangguk ringan. "Hm, kenapa datang malam-malam begini?"Andy menjawab, "Aku datang untuk menjemput Tuan Daniel pulang."Eleanor merasa kecewa. Ternyata memang untuk menjempu
Saat ini, Jeremy seperti menyadari sesuatu. Dia mendongak dan memandang Eleanor.Eleanor termangu, lalu berbalik untuk kembali. Namun, dia merasa tindakannya ini terlalu aneh. Dia lantas menghentikan langkahnya dengan paksa.Andy dan Harry yang berdiri di samping tentu melihatnya. Mereka tanpa sadar menggaruk kepala masing-masing.Eleanor merasa ada tatapan dingin yang dilontarkan kepadanya. Tubuhnya tak kuasa merinding. Jeremy menatap Eleanor dengan tatapan suram. Ternyata wanita ini masih bisa berinisiatif menemuinya? Heh. Jangan kira dia akan berbicara dengan Eleanor hanya karena Eleanor mencarinya.Setelah berpikir begitu, Jeremy mengangkat tangannya untuk merapikan jas mahalnya. Di sisi lain, Eleanor berdiri di tempatnya dengan ragu. Tangannya terkepal dengan erat.Insiden malam itu segera muncul di otaknya. Dia tidak bisa melupakannya sampai sekarang. Makanya, dia tidak bisa mengobrol dengan Jeremy seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi.Selain itu, tatapan Jeremy begitu ding
"Aku serius. Kalau aku bohong, kamu jadi anjing." Harry menunjukkan senyuman yang sangat tulus.Jeremy menatap ekspresi Harry yang berseri-seri. Dia menyunggingkan bibirnya sedikit. "Kalau kamu bohong, kamu jadi anjing?""Nggak mau." Harry tidak mau jadi anjing.Jeremy meliriknya. "Dasar kamu ini." Dia tahu Eleanor tidak mungkin berbicara sebanyak itu."Papa, kamu sudah senang?"Jeremy menyingkirkan senyumannya. Dengan ekspresi datar, dia menyahut, "Nggak."Harry lantas menggembungkan pipinya. Susah sekali membujuk ayahnya ini. "Ya sudah, kamu lanjut marah saja."Meskipun Jeremy membantah, ekspresi di wajahnya menunjukkan semuanya dengan jelas. Jeremy tidak marah lagi. Andy bisa merasakan perubahan pada suasana di dalam mobil.Andy sungguh tidak menyangka bosnya ini begitu mudah untuk dibujuk. Hanya dengan beberapa kalimat dari Eleanor, suasana hati bosnya membaik. Ini sungguh di luar nalar.....Setelah sampai di rumah Keluarga Adrian, Harry mengikuti di belakang Jeremy. Ketika hendak
Tiara membungkukkan badannya, wajahnya terlihat suram.Mood Yoana memang sedang jelek, terutama dua hari ini. Dia benar-benar seperti orang yang salah makan obat. Tiara harus sangat berhati-hati jika bicara dengannya. Jika salah sedikit saja, Yoana bisa langsung meledak."Mungkin dia terlalu hati-hati .... Kamu juga tau dia licik sekali. Kasih aku waktu lagi ya?""Waktu?" Yoana mengernyit. "Jeremy saja sudah mau batalin pernikahan kami gara-gara Eleanor si jalang itu. Kalau aku kasih kamu waktu, siapa yang kasih aku waktu?"Tiara terkejut. Jeremy mau membatalkan pernikahannya dengan Yoana? Pantas saja, beberapa hari ini Yoana marah-marah terus. Ternyata ini penyebabnya.Tiara maju selangkah. "Pasti Eleanor yang merayu Pak Jeremy.""Kamu kira aku nggak tahu?" Yoana menatap dengan galak. Hatinya diliputi kebencian dan dendam. Eleanor. Sebenarnya apa yang membuat Jeremy begitu terobsesi pada Yoana? Sial!Yoana tidak akan membiarkan pernikahannya dengan Jeremy batal. Posisi Nyonya Keluarga
Di rumah Keluarga Haningrat.Malam itu, Eleanor kembali ke rumah untuk makan malam. Jovita terlihat sangat bahagia. Dia bahkan memasak hampir semua hidangan favorit Eleanor."Eleanor, duduklah di sini," ujar Jovita sambil menepuk kursi di sebelahnya. Dia mengisyaratkan agar Eleanor duduk di sampingnya.Eleanor sebenarnya tidak memiliki perasaan apa pun terhadap rumah ini. Ketika duduk di meja makan sambil memandang berbagai hidangan lezat di depannya, dia sama sekali tidak berselera makan. Namun karena Jovita selama ini memperlakukannya dengan sangat baik, Eleanor merasa tidak pantas menolak undangan tersebut sebagai seorang cucu. Setelah duduk, dia menyadari ada pertukaran pandangan samar antara Tiara dan Felicia."Hari ini, Eleanor jarang-jarang pulang. Nenekmu pasti sangat senang," ujar Felicia sambil tersenyum palsu. Dia melanjutkan dengan ramah, "Eleanor, kalau ada waktu sering-seringlah pulang. Bagaimanapun, ini rumahmu juga."Jari Eleanor bergerak pelan di sekitar sumpitnya. Su
Eleanor menghabiskan seluruh mangkuk sup yang diberikan kepadanya. Setelah meletakkan mangkuk kosong di atas meja, dia mengangkat pandangannya dan menangkap kilauan kegembiraan di mata Tiara."Eleanor, temani Nenek duduk di ruang tamu ya," ujar Jovita dengan lembut."Oke," jawab Eleanor tanpa ragu. Dia mendorong kursi roda neneknya menuju ruang tamu.Tiara dan Felicia saling bertukar pandang penuh arti. Tatapan bahagia mereka sulit untuk disembunyikan.Setelah mengobrol sebentar dengan Jovita, Eleanor mulai merasa pusing. Dia coba mengatur napas sambil menggeleng, tetapi rasa kantuk mulai menyerang.Melihat Eleanor seperti akan tertidur, Jovita bertanya dengan cemas, "Eleanor, kamu kenapa?"Eleanor mengusap pelipisnya seraya menjawab, "Tiba-tiba rasanya pusing dan sangat ngantuk.""Apa kamu kurang istirahat? Kalau begitu, jangan pulang malam ini. Nenek akan suruh orang menyiapkan kamar untukmu," ujar Jovita dengan penuh kekhawatiran.Eleanor menekan rasa pusingnya, lalu membalas, "Ngga
Saat mendengar tentang kedua anak itu, akhirnya ada sedikit emosi di mata Jeremy.Melihat itu, Andy segera melanjutkan, "Para pelayan bilang kondisi mereka kurang baik. Tuan Daniel memang pendiam, tapi sekarang Tuan Harry juga jarang bicara. Pak Simon jatuh sakit, sedangkan Bu Bella menangis setiap hari. Bos, sebaiknya kamu di rumah malam ini."Ada sedikit perubahan di mata Jeremy. Dia sebenarnya lebih memahami situasi ini daripada siapa pun. Jika selama tiga hari ini dia tidak menemukan Eleanor, hanya ada dua kemungkinan. Eleanor mungkin diselamatkan oleh seseorang, atau kemungkinan terburuk telah terjadi ....Jeremy mengusap pelipisnya dan berkata, "Suruh orang-orang di laut mencari di sekitar. Periksa rumah-rumah di tepi pantai, kapal yang berlayar dalam beberapa hari terakhir, serta semua rumah sakit, klinik, dan apotek di sekitar.""Baik, aku akan segera mengaturnya."....Larut malam di ruang tamu, satu orang dewasa dan dua anak kecil duduk dalam diam, seolah-olah telah kehilanga
Bella melirik Alicia dan Patrick, lalu menghapus air mata di sudut matanya. "Bawa anak-anak ke atas dulu."Setelah Harry dan Daniel naik ke lantai atas, ekspresi Bella langsung berubah dingin. Dia menepis tangan Alicia yang menariknya dengan dingin.Sebelumnya saat belum tahu bahwa kedua anak itu adalah keturunan Keluarga Adrian, dia sudah merasa tindakan Yoana terlalu kejam.Sekarang setelah mengetahui bahwa mereka adalah cucunya sendiri, kebenciannya terhadap Yoana semakin dalam.Wanita itu hampir saja membunuh cucunya! Dasar perempuan jahat itu! Yoana benar-benar tidak layak untuk hidup.Kali ini, demi menyingkirkan Eleanor, dia bahkan tidak ragu menyeret Jeremy ke dalam bahaya."Keluar!" Bella menunjuk ke arah pintu dan berteriak marah, "Putrimu hampir membunuh cucuku dan sekarang nyaris mencelakai anakku. Berani-beraninya kamu datang menemuiku dan menyebut namanya?""Alicia, kalau kamu nggak bisa mendidik anakmu dengan baik, pasti ada orang lain yang akan melakukannya untukmu.""B
Dia benar-benar bodoh. Dulu dia hanya berpikir bahwa Eleanor membenci Yoana yang selalu berada di sisinya, jadi timbul niat jahat untuk menyingkirkan Yoana dan anak itu.Namun dia lupa, saat itu Eleanor sendiri sudah hamil 8 bulan dan hampir melahirkan. Dari mana wanita itu punya waktu atau niat untuk mencelakai seorang anak yang bahkan tidak ada hubungannya dengannya?Jeremy terlalu terpaku pada kebenaran yang terlihat di matanya, sampai-sampai dia lupa bahwa Eleanor telah bersamanya selama dua tahun tanpa pernah berebut apa pun, mencari masalah, ataupun menyakiti orang. Dengan kepribadiannya yang lembut, bagaimana mungkin dia bisa mencelakai seseorang?Jeremy tersenyum sinis, mengejek kebodohannya sendiri di masa lalu. Di antara orang luar dan istrinya, dia tidak pernah memilih untuk percaya pada istri sendiri."Ya, aku juga nggak tahu kenapa dia ingin mencelakaiku .... Tapi orang yang mencelakaiku memang dia .... Bukankah kamu sudah menyelidikinya? Kebenaran ada di depan mata. Pembu
Yoana merasakan sakit yang luar biasa. Dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari Jeremy benar-benar akan memperlakukannya seperti ini demi Eleanor.Saat Jeremy menembak 3 kali, Andy yang berdiri di samping hanya bisa menyaksikan dengan ngeri. Akhirnya, dia maju dan mengingatkan, "Bos, kalau terus menembaknya, dia akan mati. Takutnya, pihak Keluarga Pratama nggak akan tinggal diam."Bagaimanapun, Yoana adalah Nona Besar Keluarga Pratama. Jika dia mati seperti ini, mereka pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.Jeremy melirik Yoana yang tergeletak di lantai seperti seonggok daging tak bernyawa, matanya dipenuhi dengan kebencian yang dalam. Dia melemparkan pistol di tangan ke Andy, lalu mengambil saputangan yang diberikan Andy. Sambil mengelap tangan, dia berucap dengan suara dingin, "Kematian terlalu mudah baginya."Kematian sering kali merupakan bentuk pembebasan terbaik. Saat ini, Yoana bahkan tidak pantas untuk mati."Panggil dokter untuk mengobatinya. Nggak perlu menggunakan
"Bu Vivi, bos kami juga sangat sedih. Tolong tenang." Andy maju untuk menarik Vivi menjauh.Vivi tiba-tiba terjatuh di atas pasir, wajahnya penuh air mata. "Dosa apa yang telah Eleanor lakukan sampai harus bertemu denganmu? Sebenarnya keuntungan apa yang dia dapatkan?""Semua ini salahmu, salahmu! Berengsek! Untuk apa kamu berlutut di sini? Saat dia masih ada, kamu nggak menghargainya. Sekarang dia sudah nggak ada, untuk apa kamu pura-pura sedih di sini?"Entah kalimat mana yang memicu emosi Jeremy, tetapi cahaya di matanya semakin dingin. Akhirnya, dia mendongak dan menatap Vivi dengan tegas, "Dia nggak mati. Dia hanya marah padaku dan sembunyi. Aku akan menemukannya. Aku pasti akan menemukannya dan membawanya pulang."Jeremy meyakinkan dirinya sendiri. Eleanor hanya sedang marah dan tidak mau memaafkannya. Selama amarahnya reda, dia pasti akan kembali.Selama Eleanor kembali, apa pun yang wanita itu inginkan akan diberi, entah itu orang atau nyawa, semuanya akan diberikan. Asalkan di
"Ah! Jangan pukul lagi .... Lepaskan, ah ... ah! Tolong! Tolong ....""Aku akan membunuhmu, Yoana! Kamu memang pembawa sial! Kamu berkali-kali mencelakai Jeremy! Aku akan membunuhmu!" pekik Bella.Simon memegang keningnya, menutup mata, dan menarik napas dalam-dalam. Kemudian, dia melambaikan tangan dengan tak berdaya. "Seret dia.""Segera siapkan mobil, panggil semua orang untuk mencari! Cepat, cepat sedikit!"....Jeremy mencari di laut selama setengah jam penuh. Tidak ditemukan! Tidak ada yang ketemu!Jeremy terus memperluas area pencariannya. Permukaan laut terasa sunyi dan mencekam, tak seorang pun berani bersuara.Semua orang tahu, dengan ombak yang begitu besar tadi, orang yang terluka dan tersapu ombak selama setengah jam tanpa ditemukan ... tidak akan berakhir baik."Nggak mungkin, Eleanor bisa berenang! Dia akan baik-baik saja, pasti baik-baik saja ...." Jeremy terus mencari tanpa lelah.....Eleanor tidak tahu bagaimana akhirnya dia bisa sampai ke tepian. Ombak dingin terus
Justin segera menopang tubuh Simon dengan kedua tangannya dan menepuk dada Simon untuk menenangkan dirinya. "Tuan Simon? Tuan Simon? Tuan, bertahanlah. Cepat panggil dokter. Cepat!"Namun, dua menit kemudian, sebuah kabar datang lagi lebih cepat daripada datangnya dokter. "Tuan Simon, ada kabar dari sana bilang Tuan Jeremy baik-baik saja. Dia tidak jatuh ke laut."Simon pun menarik napas dalam-dalam dengan bantuan Justin, tatapannya akhirnya terlihat kembali bersinar. Dia langsung memerintah dengan lantang dan suara yang serak, "Jadi, dia sudah kembali? Uhuk uhuk. Dia sudah kembali? Cepat suruh dia pulang!"Pada saat itu, seorang pengawal lainnya yang baru saja menutup telepon bergegas masuk ke ruangan itu. "Tuan Simon, Tuan Jeremy ...."Simon segera maju dan bertanya, "Ada apa dengan dia?""Nona Eleanor jatuh ke laut, jadi Tuan Jeremy ikut melompat untuk mengejarnya," jawab pengawal itu.Wajah Simon yang baru saja pulih pun kembali pucat, Justin juga segera menopang tubuhnya dengan si
Eleanor menahan napasnya saat melihat tangan besar yang sedang mencengkeram belati yang tajam itu. Darah pun terus menetes ke wajahnya dari ujung belati itu.Jeremy berdiri di sana dengan wajah yang pucat dan kening serta pipi kanannya terluka akibat benturan. Bahkan pakaiannya pun sudah robek karena tergores benda tajam. Penampilannya terlihat sangat berantakan.Melihat Jeremy yang menggigit bibirnya dan menatapnya dengan tatapan yang dingin, pria yang tadi mencoba menusuk Eleanor langsung ketakutan dan melepaskan belatinya. Dia secara refleks mundur. Namun, di detik berikutnya, belati itu langsung memelesat ke lehernya.Melihat kejadian itu, pemimpin kelompok itu langsung tercengang saat melihat Jeremy tidak mati. "Tuan ... Jeremy?"Eleanor juga menatap Jeremy dengan tidak percaya. Setelah terdiam cukup lama, dia akhirnya memanggil nama Jeremy.Jeremy segera membungkuk dan memeriksa kondisi Eleanor. Melihat tubuh Eleanor yang penuh dengan luka, dia langsung menyipitkan matanya. Dia m
Para pria itu mulai merasa waspada. Mereka mengangkat belati mereka dan perlahan-lahan mendekati Eleanor.Meskipun tubuhnya penuh dengan luka, amarah di hati Eleanor membuatnya tetap bertahan. Dia juga tidak tahu dari mana datangnya kekuatan ini. Saat para pria itu mengarahkan belati mereka ke arahnya, dia kembali mengayunkan tongkat kayu di tangannya.Namun kali ini, para pria itu sudah mempersiapkan diri mereka. Mereka mengarahkan belati mereka untuk menyerang Eleanor dari arah yang berbeda. Mereka menyerang bagian yang tidak mematikan, tetapi cukup membuat Eleanor kesakitan.Gerakan Eleanor yang terluka parah sudah tidak secepat dan sekuat sebelumnya lagi, sehingga tongkat kayunya berhasil ditendang terlepas dari tangannya dan lengannya terluka karena ditebas. Dia hanya bisa merintih kesakitan, membuat pria yang memimpin kelompok itu tertawa terbahak-bahak."Jangan biarkan dia mati terlalu cepat," kata pemimpin kelompok itu."Heh." Eleanor yang terhuyung-huyung pun menundukkan kepal