“Jika kamu berhasil menjual satu potong baju minggu ini. Aku akan memberimu upah 10 persen dari harga baju tersebut, bagaimana?” Ruth pun menyetujui usul Marissa yang sepertinya tidak main-main jika soal pekerjaan. “Hem, menarik!” senyumnya mengembang dengan sempurna. “Hitung-hitung, kamu bantu temanmu ini.” Lalu ia meringis dan memperlihatkan sederet giginya. Ruth manyun, lalu menautkan kedua alisnya. “Memangnya kamu sudah berpikir masak-masak soal itu?”Marissa menghembuskan napas dengan kasar, “Mau bagaimana lagi?”“Kamu tidak merasa sayang apa?” selidik Ruth yang mendekatkan diri saat menatapnya. “Sayang kenapa?” Marissa mengernyitkan dahi saat membalas tatapan Ruth yang menurutnya sangat mengherankan. “Ada seorang pria mapan, tajir melintir dan sangat tampan. Dia bersedia menikahimu yang ….” Ruth tidak melanjutkan kalimatnya, ia melirik ke arah Marissa dari bawah kaki sampai atas kepala. “Itu hanya accident, Ruth.” Jawab Marissa sambil melengos.“Accident atau tidak, kenya
Hanya berselang beberapa minggu saja, galeri fashion milik Ruth sudah kembali ramai seperti sedia kala. Perempuan cantik berambut cepak tersebut melebarkan senyumannya saat melihat sekeliling. Tidak ada raut cemberut atau mengajukan protes karena dulu ia selalu menolak retur produk dari para pelanggan. “Jangan bengong! Bantu aku melayani mereka,” Marissa menyenggol bahu Ruth hingga perempuan itu tersadar. Ia menoleh pada Marissa yang baru saja melewati dirinya dan membaur dengan pelanggan di depan sebuah manekin. “Kenapa bisa?” bisik Ruth setelah mendekat. Marissa menoleh, ia memanyunkan bibirnya lalu mengedikkan kedua bahu. “Buktinya bisa ‘kan?” jawab Marissa singkat. Ia terlihat sangat ramah saat melayani para pembeli yang menurut Ruth sangat cerewet itu. Marissa bersikap profesional seolah dirinya sudah terbiasa dengan pekerjaan tersebut. “Hem, bagus deh.” Ujar Ruth sambil mengangguk pelan. Waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Ruth melirik jarum jam di pergelangan tangan kir
Marissa terlihat pucat saat ia turun dari lantai atas. Perempuan itu tidak memiliki semangat seperti hari-hari sebelumnya, “Kamu sakit?” tanya Ruth ketika meletakkan dua piring berisi omelet di atas meja makan.“I’m fine,” jawabnya singkat sambil menarik kursi dan duduk di hadapan sepiring makanan yang baru saja dihidangkan oleh Ruth.Ia memijat pangkal hidungnya setelah mencium aroma yang menurut Marissa sangat menyengat. Tangannya meraih segelas air putih dan, “Hoek,” ia merasa mual dan buru-buru membekap mulutnya sendiri.Marissa beranjak dari tempat duduk, ia berlari kecil menuju kamar mandi yang berada di lantai dasar. Sementara Ruth, ia tidak bisa melakukan apapun selain melihat Marissa yang tengah bingung dengan sendirinya.“Kenapa dengannya?” Ruth mengernyitkan dahi dengan kelopak mata dipicingkan.Ruth menyusul Marissa, ia mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan jika sahabatnya itu baik-baik saja. “Marissa, are you ok?” Terdengar bunyi kran air dinyalakan, sepertinya Mar
Marissa duduk termenung, ia melihat luar jendela dengan sebuah tespek yang ada dalam genggaman tangannya. Garis dua. Ya, ia positif hamil setelah mencoba lari dari dekapan Deniz. ‘Aku harus bagaimana?’ (tanya Marissa dalam hati).Gurat wajahnya terlihat mengeras, meski mau marah rasanya akan sia-sia. Marissa menahannya, menahan semua emosi yang hampir saja meledak di ujung ubun-ubun. Perlahan ia meremas celana berbahan spandek yang dikenakan, tapi kenapa tak juga membuat gemuruh di dadanya bisa reda saat itu juga?“Aku antar ke dokter, ya?” sentuhan di pundaknya membuyarkan lamunan Marissa seketika. Ia yang semula bertarung dengan pikirannya sendiri, mendadak harus mengendalikan perasaannya. Tanpa menoleh, Marissa menggeleng lemah. Tatapannya nanar ke luar jendela seakan ia tidak ingin terusik oleh apapun.“Biar bisa memastikan jika kamu dan calon bayimu,” Marissa beranjak dari tempat duduknya, sehingga meninggalkan bunyi berdecit akibat pergesekan kaki kursi dengan lantai keramik
Untuk apa pulang, jika tidak ada ruang untuk berbagi. Gempitanya redam setelah apa yang diinginkannya terkabul dengan mudah, tapi kenapa Marissa seakan tidak suka. Ia meremas kertas yang beberapa waktu lalu sampai ke tangannya. “Marissa,”Lekas ia mengangkat tangan kanannya, menandakan jika Marissa tidak menerima bentuk protes atau apapun saat ini. Semesta memang lucu, ketika mempertemukan dua insan tanpa rasa menjadi sebuah asa. Begitu pula cara memisahkannya, hingga Marissa tidak bisa mengekspresikannya dengan tawa sekalipun. “Maafkan aku,” Ruth mundur kembali, ia berbalik arah dan meninggalkan Marissa dalam kesunyian. Ia sempat menoleh setelah berjalan beberapa langkah. Ruth melihatnya masih dalam posisi yang sama, Marissa mematung dengan tatapan yang— entah. Tanpa mediasi ataupun kehadirannya dalam persidangan. Pihak pengadilan langsung mengabulkan permohonan gugatan cerai yang dilayangkan beberapa waktu lalu, tapi kenapa Marissa tidak terlihat senang atau bahagia? ‘Kamu pas
Srettt ….!Suara kartu kredit unlimited digesek tanpa ragu. Ruth meniup napas dari arah mulut untuk meredam gejolak emosi yang tiba-tiba saja membuat kepalanya hampir meledak. Tagihan yang tertera di atas nota saat ia menghadap meja resepsionis rumah sakit mengharuskannya mendapatkan uang yang tidak sedikit dalam waktu singkat.“Berapa nomor aksesnya?” tanya Ruth seakan tidak memperdulikan kondisi Marissa yang menahan sakit. Dengan kesadaran yang sisa separuh, Marissa melirik pada tangan Ruth yang tengah memegang black card miliknya. “Cepat Marissa! Sudah tidak ada waktu lagi, demi bayi yang ada dalam kandunganmu.” Kata Ruth yang mendesaknya di hadapan perawat dan dokter obgyn.“Nona,” salah satu perawat mencoba untuk menghentikan aksi bar-bar Ruth yang dinilai anarkis pada pasien mereka.“Jangan sekalipun menghalangi! Kalau tidak, maka pasien ini urung melakukan tindakan operasi.” Ancam Ruth tidak main-main.“R-Ruth,” sepotong kata itu terdengar serak di dalam ruangan operasi.Ruth
“Ruth? Ruth Asmeer Khalif?” Deniz mengulang ucapan dari resepsionis rumah sakit dengan dahi berkerut.Ia menoleh ke samping di mana Sam tengah berdiri di sisinya. Sam menggeleng saat kedua mata mereka saling bersirobok. “Apa Tuan muda mengenalnya?” tanya Sam dengan setengah berbisik.Deniz menggeleng lemah, “Tidak.” Jawabnya singkat sambil memasang wajah penuh kekecewaan.Deniz tiba di kota Adana tepat menjelang malam hari, musim dingin sempat menunda penerbangannya ke kota tersebut hampir dua jam. Ia yang baru menginjakkan kaki ke kota wisata tersebut langsung menuju ke rumah sakit swasta dengan petunjuk Sam.“Bekukan!”“Tapi Tuan muda,”“Tidak ada kata— tapi. Kamu mau mereka menguras uangku begitu saja?” Deniz membalikkan badan dan langsung mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Sam.“Tidak Tuan, maafkan saya.” Sam menelan salivanya dengan pandangan tak tenang.Sam menghela napas perlahan setelah Deniz menurunkan jari telunjuk dari hadapannya. Ia melihat pria itu berkac
Hampir 6 tahun Marissa terbiasa hidup berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat yang lain. Sengaja ia memilih hidup terpisah dengan Ruth sejak kejadian di malam itu, Marissa mencoba peruntungan baru dalam kehidupannya.“Tapi kamu akan membutuhkan tenaga orang lain untuk membantu merawat putrimu,” saran Ruth waktu itu.“Tidak, aku bisa sendiri Ruth.” Jawabnya tanpa ragu sedikitpun.“Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi dengan modal yang tidak seberapa besar ini, bagaimana kamu akan menghidupi putrimu Marissa?” “Aku bisa, tenang saja.” Ucapan Marissa seperti keputusan yang mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Dan Ruth pun tidak bisa berbuat apapun selain mengiyakan, lalu ia meninggalkan Marissa dan putrinya pada sebuah rumah kecil di pinggir kota Adana.“Huft, ….” Marissa memegang buku tabungan dengan helaan napas kuat.Perempuan itu duduk di meja makan setelah ia memeriksa nominal dalam rekeningnya. “Tinggal segini, aku harus mencari kerja tambahan.” Marissa bermonolog dengan dir
"Seberapa kaya dirimu, Mas?" tanya Marissa saat keduanya tengah menikmati semilir angin di teras balkon bungalow. Pemandangan laut telah menyihir mereka untuk tetap berlama-lama di waktu menjelang siang hari. Matahari bersinar cukup terik, tapi tidak mengusik ketenangan mereka sedikitpun. Bahkan sekarang keduanya tengah menikmati segelas jus nanas untuk Marissa dan segelas wine untuk, Deniz. Deniz memanyunkan bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari, Marissa. "Sangat kaya," jawabnya kemudian menyesap minumannya dengan penuh perasaan. "Sebesar apa? Kenapa keluarga Ghazy bisa masuk ke jajaran pengusaha sukses di rate 10 orang terkaya di dunia?" Marissa penasaran, ia ingin mendapatkan satu kisah tentang keluarga Ghazy dari mulut suaminya sendiri. "Kamu tidak akan bisa menghitungnya, apalagi dengan jari-jari lentik itu." Deniz menggeleng pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke laut lepas yang ada di hadapannya. Marissa mengarahkan bola matanya ke samping dengan bibir dilipat k
Kaki jenjang sehalus susu itu berlari kencang menghampiri ombak yang menggulung di bibir pantai. Saat kaki indahnya basah karena sapuan air laut, Marissa tergelak senang. Tawanya begitu lebar hingga kelopak matanya hanya terlihat bagaikan garis melengkung.Deniz tersenyum tipis saat melihat perempuan cantik yang sedang menari dan berputar lincah itu sedang melambaikan tangan ke arahnya. Deniz membalasnya, hingga menampilkan deretan gigi putih rapi miliknya. Ia memilih untuk menikmati panorama senja dengan siluet Marissa yang menawan di hamparan pasir putih, bahagia; itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.Setelah memuaskan diri dengan hanya menatap presensi Marissa di tepi laut, Deniz yang mengenakan setelan casual pun menggulung celananya hingga batas betis dan berniat untuk ikut bergabung dengan istrinya. Sepertinya berlarian di atas pasir dan mengejar perempuan menawan di depannya dengan sebuah godaan adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini, hin
“Really?” Marissa masih mematung di tempat, bola matanya hampir lepas dengan decak kagum menjadi-jadi.“Kamu belum pernah naik pesawat?” tanya Deniz saat langkah kakinya berhenti tepat di samping, Marissa.Marissa menoleh cepat, ia dengan wajahnya yang tercengang namun bagi Deniz apa yang dilihatnya sungguh menggemaskan. “Ini jet pribadi, Mas.” Jawabnya sangat antusias.“Iya, terus?” Deniz memiringkan kepalanya, nampak dua alisnya saling bertautan.“Kalau naik pesawat di bandara-bandara gitu sih udah biasa, Mas. Marissa kan belum pernah ngerasain naik pesawat pribadi model begini, apalagi ini adalah milik suaminya aku.” Gestur wajahnya berubah-ubah saat menjelaskan, kadang kelopaknya memicing serius, lalu berubah menjadi datar kemudian tergelak senang.Deniz menikmati pemandangan di hadapannya seperti sebuah mukjizat, baginya Marissa bukan hanya sebagai obat dalam hidupnya, namun perempuan itu adalah anugerah dari Tuhan yang diturunkan untuknya. “Milik aku itu juga milik kamu, Sayang
"Jangan telat minum obat, Deniz! Apalagi sengaja untuk lupa," canda dokter Sunny. "Tenang saja Dok, kan sudah ada alarm original buat ingetin aku." Jawab Deniz dengan senyum simpulnya. "Alarm original?" ulang dokter Sunny sambil mengernyitkan keningnya. Deniz melirik Marissa yang duduk di sebelahnya, "Ini alarm original ku, Dok." Senggol Deniz pada lengan istrinya yang sejak datang memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. "Idih, apaan sih?" ujar Marissa malu-malu. "Tapi ada benarnya lho, sejak kalian kembali rujuk, aura Deniz berubah menjadi semacam lampu mercusuar yang menerangi lautan lepas." Kata dokter Sunny dengan antusias. "Jokes Anda sungguh terlalu Dokter, segala lampu mercusuar dibawa-bawa ...." Deniz tergelak. "Aku tidak bohong, Deniz. Kamu sebelum kembali dengannya, jangankan rutin melakukan fisioterapi ataupun medical check up. Untuk obat pun kamu sengaja tidak mau menebusnya, padahal dari segi finansial seorang CEO perusahaan manufaktur terbesar di dunia,
Satu bulan berlalu, sejak masa fisioterapi yang dilakukan Deniz di London kala itu. Kini Deniz aktif melakukan olahraga rutin seperti jogging ringan untuk membantu mempercepat proses pemulihannya. Semua perubahan drastis itu tidak lepas dari peran Marissa yang menyiapkan makanan sehat untuk menyeimbangkan asupan yang masuk ke dalam tubuh, Deniz. "Mas, diminum dulu jusnya." Marissa membawakan satu gelas jus jeruk segar setelah Deniz datang dengan keringat penuh membasah hampir di seluruh tubuhnya. "Makasih Sayang," lalu Deniz menghabiskan jus jeruk di tangannya seperti onta yang sedang berada di tengah gurun Sahara. "Hm ...." jawab Marissa bergumam, tentu saja di bibir berpoles warna pink nude itu tidak lepas menarik garis senyuman. "Oh ya, Mas mau sarapan apa? Aku masakin bentar ya, setelah ini Mas mandi dulu. Kita ada janji lho sama dokter Sunny, aku tidak ingin Mas terlambat untuk itu." Lanjut Marissa yang hendak pergi ke arah dapur. "Eeeh .... tunggu dulu, mau ke mana Sa
Genap 3 Minggu mereka menghabiskan waktu di London, Inggris. Marissa dengan sabarnya mendampingi Deniz dalam segi pengobatan dan juga kesembuhan mentalnya. Seperti hari ini di mana Marissa menghabiskan waktu setengah harinya melatih Deniz untuk berjalan meskipun masih dengan bantuan tongkat penyangga. Merasa lelah setelah berputar di taman rumah sakit, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan. Tak putus kata semangat Marissa lontarkan, "Bagus Mas, ya, terus .... pelan-pelan, kalau capek kita bisa berhenti dulu." Marissa memegang pinggang Deniz dengan erat, sementara tangan kiri suaminya dilingkarkan pada bahunya agar mereka bisa berjalan secara beriringan. "Kalimat kamu itu, bisa diralat nggak sih?" sahut Deniz dengan napas sedikit tersengal karena menahan nyeri di bagian sendinya. "Kalimat aku? Bagian yang mananya, Mas?" tanya Marissa dengan dua alis menukik tajam. "Kalau kalimat itu terucap lagi dari bibir kamu, bisa-bisa orang menyangka kalau kamu itu lagi a
Marissa masih terjaga saat jarum jam di dinding menunjukkan angka 11 malam. Ia melihat Deniz sudah tertidur pulas sejak kepulangan mereka 4 jam yang lalu. Marissa membuka kacamata minusnya, lalu meletakkan ke samping lembaran dokumen yang baru saja ia pelajari, Marissa harus memenuhi konsekuensinya untuk membantu mengembalikan data perusahaan milik suaminya. seperti yang diketahui sebelumnya data perusahaan yang Deniz pimpin telah bocor, akibat beberapa akses perusahaan manufaktur yang dipegang terakses oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dipijatnya pangkal hidung yang terasa nyeri, "Kenapa tingkat keamanannya tidak berlapis? Padahal perusahaan ini begitu besar. Selama ini mereka fokus ngerjain apa aja sih? Bisa-bisanya data investor, kolega serta pemilik saham bisa kecolongan seperti ini." Monolog Marissa dengan helaan napas berat. Langkah kakinya menuntun Marissa menuju dapur apartemen, ia membuka satu botol Tequila dan menuangkannya ke dalam gelas kristal. Otaknya harus ri
Di kursi belakang, Marissa merebahkan bobot tubuh Deniz di atas kursi penumpang. Ia meminta agar Sam memberi mereka waktu sebentar. Berbekal beberapa lembar uang yang diberikan Marissa, Sam pun memilih untuk menunggu dua anak manusia yang tengah terbakar gelora itu di sebuah Coffee Shop. Menyesap kopinya dengan penuh hati-hati, Sam hanya bisa bergumam kala melihat SUV berwarna hitam di tepi parkir tengah bergoyang secara perlahan. Bibirnya berjengit menarik senyuman, lalu menggeleng kecil saat memikirkan apa yang telah terjadi di dalam sana. Kepulan asap yang keluar dari arah pods yang dihembuskan oleh Sam membuat perasaannya sedikit lega. Hingga tiga puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda mereka yang ada di dalam mobil akan menyerah. "Harap maklum, Sam. Mereka sudah menahannya cukup lama ...." monolog Sam pada dirinya sendiri. Dan suara geram tertahan itu berkali-kali lolos dari mulut Deniz saat Marissa mencari kepuasan di bawah sana. Dengan posisinya yang mendominasi di
"Sakit, Sayang ...." Peluh Deniz menetes dari keningnya, ia menahan bobot tubuhnya di tiang penyangga yang terdapat di kedua sisi tangannya. Hampir saja menyerah ketika dirinya sudah terlalu nyaman duduk di kursi roda. Penyakit tidak percaya dirinya muncul begitu saja saat dua kakinya tidak lagi mampu berpijak dengan tepat di atas lantai. "Ada aku, Mas. Jangan menyerah!" bisik Marissa sambil mengangkat sebelah tangan suaminya dan meletakkan di bahu agar Deniz tidak terjatuh. Deniz menggeleng lemah, deru napasnya tidak teratur. "Mas duduk dulu, istirahat lah! Aku ambil minum sebentar, Mas." Marissa pergi ke sudut ruang setelah mendudukkan Deniz di sebuah sofa untuk mengambil satu botol air mineral. "Jangan dipaksa, pelan-pelan saja Nyonya Sawyer." Ucap salah satu perawat yang menghampirinya. Marissa menoleh, ia terlihat sangat tegang. "Oh, i-iya." Kata Marissa sambil mengangguk ragu. "Butuh waktu, Nyonya harus bersabar saat mendampingi tuan Ghazy." Sambung perawat di ha