Share

Mendapat Pertolongan

Penulis: NHOVIE EN
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-19 13:27:39

Rania masih terus berusaha. Keyakinan yang kuat dan rasa rindu yang mendalam pada Bintang memaksanya untuk kuat dan bertahan.

“Aku harus... aku harus bangkit,” gumamnya lirih, hampir seperti doa.

Matanya mencari sesuatu di sekelilingnya. Samar, ia melihat sebatang kayu tak jauh dari tempatnya terbaring. Dengan sisa tenaga, ia merangkak perlahan, tanah dingin melumuri lengannya. Tangannya akhirnya meraih kayu itu, menggenggamnya erat meskipun jemarinya terasa kaku.

Rania menancapkan kayu ke tanah, menjadikannya sebagai penopang. Dengan usaha luar biasa, ia mendorong tubuhnya untuk bangkit. Lututnya gemetar, seolah menolak untuk berdiri, tapi Rania memaksa dirinya tetap tegak. Ia menggertakkan gigi, menahan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya.

“Aku harus keluar dari sini,” desisnya, suaranya nyaris tak terdengar.

Dengan langkah tertatih, Rania mulai berjalan. Setiap langkah seperti menempuh ribuan kilometer. Kakinya yang lemah nyaris tidak bisa menopang tubuhnya, tetapi pikiranny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
Fatimah Azzahra
syukurlah rania udah ketemu orang baik sepertinya semoga setelah ini bisa balik berkumpul dengan bintang
goodnovel comment avatar
Al-rayan Sandi Sya
seorang penolong di utus malaikat buat menolong Rania di saat keadaan yg genting ,bisa jadi ada benang tipis yg terhubung antara Rania dan wanita penolong ini
goodnovel comment avatar
Wiediajheng
dan semoga saja ibu yg menolong ini adalah ibu kandung rania yaa...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Perawatan Terbaik Untuk Rania

    Setibanya di rumah sakit terdekat, mobil SUV itu berhenti di depan pintu Instalasi Gawat Darurat (IGD). Petugas rumah sakit yang berjaga segera menghampiri dengan tandu. Tanpa membuang waktu, tubuh lemah Rania dibaringkan di atas tandu, dan petugas medis langsung membawanya masuk ke dalam ruang IGD.Wanita anggun bernama Rita berjalan cepat mengikuti para petugas medis. Wajahnya penuh kecemasan, dan ia terus memastikan bahwa Rania mendapatkan perhatian yang layak. Sesampainya di ruang IGD, Rita berbicara dengan dokter jaga yang menyambut mereka.“Dokter, tolong segera tangani dia. Lakukan apa pun yang diperlukan. Saya tidak peduli berapa biayanya, pastikan dia mendapat perawatan terbaik,” ucap Rita dengan nada tegas namun tetap sopan.Dokter mengangguk. “Baik, Bu. Kami akan segera memeriksa kondisinya.”Rita berdiri di luar ruang IGD, memandang ke dalam melalui kaca kecil di pintu. Ia melihat tim medis sibuk memeriksa kondisi Rania. Beberapa selang dipasang untuk memastikan wanita itu

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-19
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Menemukan Tanda

    Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Rita mulai merasa tubuhnya sedikit gerah. Dari pagi, ia belum sempat mengganti pakaiannya, dan rasa tidak nyaman itu mulai mengganggu. Ia memanggil pengawalnya, Deri, yang setia menunggu di luar ruangan.“Deri, tolong ambil koper saya di mobil,” pinta Rita dengan tenang.“Baik, Bu,” jawab Deri singkat, segera bergegas melaksanakan perintahnya.Setelah koper itu sampai, Rita meminta salah seorang suster untuk menjaga Rania selama ia pergi membersihkan diri. Rita masuk ke kamar mandi khusus yang ada di ruangan itu. Usai mandi, ia mengenakan pakaian santai namun tetap elegan—sebuah gaun selutut berwarna krem dengan balutan syal tipis di lehernya. Rambutnya yang sebelumnya diikat rapi kini ia biarkan tergerai, memberikan kesan lebih sederhana namun tetap anggun.Selesai bersiap, Rita kembali duduk di sofa tunggu, memperhatikan ruangan itu yang memang jauh lebih nyaman daripada ruangan rumah sa

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-19
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Kegelisahan Yang Tidak Dimengerti

    Setelah dokter pergi, Rita mendekati Rania yang masih terbaring di ranjang. Senyuman lembut terlukis di wajah Rita, menunjukkan ketulusan yang membuat Rania merasa sedikit lebih nyaman. Ia menarik kursi di sisi ranjang dan duduk, memperhatikan wanita muda itu dengan penuh perhatian.“Bagaimana kabarmu sekarang, sayang?” tanya Rita dengan suara lembut, seperti seorang ibu yang penuh kasih.Rania mengangguk pelan, tersenyum tipis. “Sudah jauh lebih baik, Bu. Terima kasih atas bantuan dan perhatian Ibu. Saya… saya ingin pulang.”“Syukurlah,” jawab Rita. Ia diam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. “Tapi, apa tidak terlalu cepat kalau kamu ingin pulang? Tubuhmu masih terlihat lemah.”Rania tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. “Saya rindu, Bu. Ibu saya pasti khawatir, dan… anak saya juga menunggu di rumah.”Rita tertegun mendengar itu. Matanya membulat sedikit, mencerminkan ket

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Merasa Punya Hubungan Dekat

    Ketika makan malam untuk Rania tiba, Rita menyambut suster yang membawanya dengan senyuman hangat. “Terima kasih banyak, ya,” ujar Rita sambil mengambil nampan berisi makanan bergizi itu. Ia mendekat ke sisi ranjang Rania dengan hati-hati, meletakkan nampan di meja kecil.“Rania, sudah waktunya makan. Kamu butuh tenaga untuk cepat pulih,” kata Rita lembut.Rania menggeleng pelan. “Terima kasih, Bu, tapi saya bisa makan sendiri.”Rita tersenyum, menunjukkan tekadnya. “Oh, tidak. Kamu masih lemah. Biar saya yang membantu.”Awalnya, Rania tetap menolak, namun setelah Rita terus memaksa dengan kelembutan yang sulit ditolak, ia pun menyerah. Dengan canggung, Rania membiarkan wanita itu menyuapinya seperti seorang ibu kepada anaknya.“Saya jadi teringat saat dulu menyuapi anak saya,” ujar Rita, membuka percakapan. “Rasanya seperti ini. Memberi makan dengan penuh kasih sayang.”

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Melakukan Tes secara Diam-Diam

    Malam semakin larut, namun Rita tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di sofa panjang di sudut kamar, menatap Rania yang mulai terlelap. Pikirannya terus dipenuhi oleh pertanyaan tentang siapa sebenarnya Rania dan kenapa ia merasa begitu dekat dengannya.Di luar kamar, pengawal Rita menghampirinya, membawa secangkir teh hangat. “Bu Rita, mungkin Anda perlu istirahat. Sudah terlalu larut,” ujarnya dengan sopan.Rita menggeleng pelan. “Aku tidak bisa tidur. Ada terlalu banyak hal yang harus kupikirkan.”Pengawalnya hanya menunduk hormat, lalu meninggalkan ruangan.Ketika waktu menunjukkan pukul dua dini hari, ponsel Rita bergetar pelan di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Boby, suaminya.Rita, bagaimana kabar di sana? Aku dengar kamu belum pulang. Apa semuanya baik-baik saja?Rita menghela napas, lalu mengetik balasan.Aku menemukan sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup kita, Mas. Aku akan jelaska

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Bertemu Lagi Dengan Bintang

    Mobil SUV putih itu melaju tenang, menyusuri jalanan menuju Lembang. Di dalam kabin yang nyaman, tawa kecil sesekali terdengar dari Rania dan Rita yang bercengkrama sepanjang perjalanan. Suasana hangat itu hampir membuat Rania lupa sejenak tentang penderitaan yang baru saja ia lalui.Ketika mobil akhirnya berhenti di depan halaman rumah sederhana Rania, seketika hatinya membuncah. Ia menatap rumah itu dengan mata berkaca-kaca. Sudah lebih dari seminggu ia terpisah dari tempat itu, dari ibunya, dan dari Bintang.“Saya pulang, Bu Rita,” ucap Rania dengan suara pelan, namun penuh keharuan.Rita tersenyum lembut. “Ayo, Rania. Kita turun. Aku juga ingin sekali bertemu keluargamu.”Rania mengangguk, lalu membuka pintu mobil dengan hati yang penuh harap. Begitu kakinya menyentuh tanah, matanya tidak lepas menatap rumah itu, seperti ingin memastikan kalau semua ini nyata.Dari dalam rumah, terdengar suara langkah tergesa. Pintu depan terbuka lebar, dan sosok Cucu muncul di ambang pintu. Wajah

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Kehilangan Benda Paling Berharga

    Setelah Rita berpamitan pulang, Rania membawa dirinya ke kamar. Aroma khas yang menyambutnya begitu menenangkan, seperti pelukan hangat yang sudah lama dirindukannya. Kamar itu sederhana, tapi setiap sudutnya memancarkan cinta dan kenyamanan. Ia berjalan perlahan, lalu duduk di kursi dekat jendela. Pandangannya menembus kaca, melihat bintang-bintang yang berkerlap-kerlip di langit. Di atas ranjang, Bintang sudah terlelap, napas kecilnya terdengar ritmis dan damai.“Terima kasih, ya Allah,” bisik Rania pelan. Hatinya penuh dengan rasa syukur.Tak lama, Cucu masuk ke kamar dengan secangkir wedang jahe hangat di tangannya. Aroma jahe itu segera mengisi ruangan, menciptakan suasana yang semakin nyaman.“Minumlah ini, Nak. Wedang jahe kesukaanmu. Biar tubuhmu hangat,” ujar Cucu lembut sambil menyerahkan cangkir itu kepada Rania.Rania tersenyum kecil, menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Bu.”Cuc

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Perhatian Dan Banyak Cinta

    Pagi itu, suasana rumah Rania tampak lebih hidup. Beberapa tetangga terdekat berdatangan membawa buah tangan—berupa makanan, buah, bahkan beberapa perlengkapan kecil untuk membantu Rania selama masa pemulihannya. Aroma teh hangat dan kudapan yang disuguhkan oleh Cucu memenuhi ruang tamu sederhana itu.Citra dan Icha, yang selama ini membantu menjaga Bintang dan menemani Cucu, juga datang dengan senyum cerah. Citra bahkan membawa sup ayam yang baru saja dimasaknya di rumah.“Mbak Rania harus makan ini. Supnya masih hangat,” ujar Citra sambil menyerahkan mangkuk sup kepada Rania.“Terima kasih, Citra,” ucap Rania dengan senyum lembut. “Aku nggak tahu harus bilang apa. Kalian semua terlalu baik.”“Sudahlah, Mbak,” Icha menimpali. “Mbak itu sudah seperti keluarga kami. Tentu kami peduli.”Rania tersenyum haru, menatap satu per satu wajah yang ada di depannya. Ia tidak menyangka bahwa selama ini ia dikelilingi orang-orang yang begitu perhatian.Salah seorang tetangga, Bu Wati, duduk mendek

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20

Bab terbaru

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Berpisah

    “Selamat pagi, Bintang…” Dengan senyum merekah, Nora dan Prakas datang dengan sebuah buket bunga berukuran besar. Mereka sengaja memesan buket khusus untuk cucu mereka yang kini kondisinya sudah jauh lebih baik.“Terima kasih, Oma,” balas Bintang.“Bintang sekarang sudah segar ya, sudah ganteng. Hari ini, kita akan pulang ke rumah. Tapi oma sedih deh, karena nggak akan bisa bebas lagi bertemu dengan Bintang.” Nora sedikit cemberut. Namun manyun itu malah membuat Bintang tertawa.“Siapa bilang jeng Nora dan mas Prakas tidak bisa bebas datang ke rumah. Kalian bisa datang kapan pun untuk bertemu dengan Bintang. Selama di rumah sakit, kami sadar kalau ikatan darah tidak dapat dipisahkan begitu saja,” ucap Rita.“Iya, Tante. Tante dan om boleh kok datang kapan saja dan bertemu dengan Bintang.” Rania menggenggam lembut tangan kanan Nora.Nora tersenyum lembut. Ia belai pipi Rania sekali, lalu ia pun kembali mengalihkan pandangan ke arah Bintang. “Terima kasih, Rania. Kamu memang sangat baik

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Patah Hati

    Setelah beberapa jam berada di ruang observasi pascaoperasi, Bastian dan Bintang akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Mereka ditempatkan di satu ruangan yang sama, kamar VVIP terbaik di rumah sakit itu, yang telah disiapkan sebelumnya oleh keluarga mereka. Meski keduanya sudah sadar, kondisi mereka masih sangat lemah. Namun, Bastian terlihat lebih baik dibandingkan dengan Bintang yang masih tampak pucat dan lemah.Rania duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecil putranya dengan lembut. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi anaknya yang masih begitu rapuh. Sesekali, ia mengusap rambut Bintang dengan penuh kasih sayang. Di tempat tidur sebelah, Bastian menatap ke arah mereka dengan senyum tipis. Meski tubuhnya masih terasa nyeri akibat operasi, hatinya terasa lebih ringan karena telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan putranya.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Rania lirih, suaranya penuh perhatian.Bastian mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja. Jangan khaw

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Operasi pun Dimulai

    “Hasilnya..." dokter berhenti sejenak, melihat ekspresi cemas mereka. Semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas, menunggu kelanjutan dari kalimat dokter."Bastian cocok menjadi donor untuk Bintang."Ruangan itu seketika dipenuhi helaan napas lega. Rania menutup wajahnya dengan tangan, menangis tanpa suara. Bastian mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. Namun, dokter belum selesai. "Namun, ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan lebih lanjut. Operasi ini harus dilakukan secepat mungkin."Rania menghapus air matanya dengan cepat. "Secepat mungkin? Seberapa cepat, Dok?""Idealnya, dalam 24 jam ke depan. Kondisi Bintang semakin melemah. Jika kita menunda lebih lama, risiko kegagalan akan semakin besar. Kami akan segera menyiapkan jadwal operasi dan memastikan semua persiapan berjalan lancar."Bastian langsung mengangguk. "Saya siap, Dok. Kapan pun operasi akan dilakukan, saya siap."Dokter tersenyum tipis. "Baik. Kami akan segera mempersiapkan ruang operasi dan tim bedah. Un

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Hasil Pemeriksaan Bastian

    Di dalam ruangan dokter, suasana terasa begitu tegang. Rania menggenggam jemarinya sendiri, sementara Bastian duduk dengan wajah serius menatap dokter ahli yang akan menangani transplantasi hati Bintang."Sebelum kita melanjutkan ke tahap pemeriksaan, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu risiko yang mungkin terjadi dalam operasi ini," ujar dokter dengan nada hati-hati.Bastian mengangguk mantap. "Tolong jelaskan, Dok. Saya ingin tahu semua risikonya."Dokter menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. "Pertama, operasi transplantasi hati merupakan prosedur besar yang memiliki risiko komplikasi. Bagi pasien penerima, dalam hal ini Bintang, ada kemungkinan tubuhnya menolak organ baru meskipun sudah cocok secara medis. Jika ini terjadi, kita harus segera mengambil langkah medis tambahan untuk mengatasinya."Rania menelan ludah, hatinya semakin gelisah. "Lalu bagaimana dengan risiko untuk pendonor? Maksud saya... untuk Bastian?"Dokter menatap keduanya dengan tenang. "Sebagai pendono

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Keputusan Berat

    Ruangan rumah sakit dipenuhi keheningan yang mencekam. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang ketika pintu kamar terbuka dan seorang dokter spesialis masuk dengan raut wajah serius. Semua mata langsung tertuju padanya.Dokter itu berjalan mendekati ranjang tempat Bintang terbaring lemah. Ia memeriksa kondisi bocah itu dengan seksama, mencatat beberapa hal di berkasnya sebelum akhirnya menatap seluruh keluarga yang berkumpul di dalam ruangan.“Saya ingin membicarakan hasil pemeriksaan terbaru Bintang,” kata dokter dengan suara tenang namun tegas.Rania menggenggam tangan kecil putranya yang terasa dingin. Hatinya berdebar kencang. Begitu pula dengan Rita, Boby, Nora, Prakas, dan tentu saja Bastian yang berdiri dengan wajah tegang di sudut ruangan.Dokter menarik napas dalam, lalu berkata, “Hasil menunjukkan bahwa Bintang mengalami gagal hati akut. Kondisinya cukup serius, dan kami harus bertindak cepat untuk menyelamatkannya.”Ruangan kembali sunyi. Pernyataan itu seperti petir di sia

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Suasana Yang Berbeda

    Pagi itu, udara rumah sakit masih terasa dingin. Rita dan Boby tiba lebih awal dari biasanya, membawa sekantong penuh buah segar dan makanan untuk Rania. Keduanya berjalan menuju kamar tempat Bintang dirawat dengan hati yang dipenuhi kecemasan.Saat mereka masuk, mata mereka langsung tertuju pada sosok Bastian yang tertidur di sofa dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Tubuhnya sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada lengannya, dan nafasnya terdengar teratur namun lelah. Selimut tipis yang diberikan perawat tadi malam masih membungkus tubuhnya.Rania yang sedang duduk di tepi tempat tidur Bintang, menoleh dan tersenyum lemah melihat kedua orang tuanya.“Dia tidak tidur semalaman,” bisik Rania, sebelum mereka sempat bertanya.Rita menghela napas panjang. Meski dalam hatinya masih ada sedikit ganjalan terhadap Bastian, ia tidak bisa menyangkal bahwa lelaki itu benar-benar peduli terhadap anaknya.“Bagaimana keadaan Bintang?” tanya Boby, suaranya lirih.Rania menatap buah hatinya

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Bersama-sama Menjaga Bintang

    Satria berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Bastian duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecilnya dengan penuh kepedulian. Ada sesuatu dalam tatapan Bastian—ketulusan, ketakutan, sekaligus rasa tanggung jawab yang begitu besar. Hal yang selama ini Satria ingin berikan untuk Rania dan Bintang, namun nyatanya, dia hanya orang luar dalam kisah ini.Ia menghela napas panjang. Melawan perasaannya sendiri, ia akhirnya memilih untuk mundur. Untuk saat ini, Bintang memang membutuhkan orang tua kandungnya. Tidak ada ruang untuknya di sini. Dengan langkah pelan, ia mendekati Rita dan Boby yang masih berdiri di dekat pintu.“Tante, Om... Aku pamit dulu,” katanya dengan suara rendah.Rita menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. “Terima kasih sudah datang, Satria. Kami sangat menghargainya.”Satria tersenyum tipis. “Tidak masalah, Tante. Jika ada yang bisa aku bantu, aku selalu siap.”Boby menepuk pundaknya dengan ringan, tanda penghormatan dan terima kasih

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Butuh Transplantasi?

    Suasana di rumah sakit masih dipenuhi kecemasan. Setelah diputuskan untuk dirawat inap, Bintang kini berada di kamar VVIP dengan perawatan terbaik. Monitor di samping tempat tidurnya terus berbunyi pelan, menampilkan angka-angka yang mengukur kondisi tubuhnya. Rania tak bergeming dari sisi putranya, menggenggam tangan mungil itu dengan erat. Di wajahnya tergambar kelelahan, namun ia tak ingin pergi barang sejenak pun.Di ruang tunggu rumah sakit, Prakas dan Nora berdiri dengan gelisah. Sesekali, Prakas melirik jam tangannya, menanti kedatangan Bastian yang sudah dalam perjalanan dari Singapura. Nora memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri meski hatinya terus bergetar memikirkan cucunya.Tak lama, langkah cepat terdengar dari arah pintu masuk. Bastian muncul dengan wajah yang penuh kecemasan, masih mengenakan pakaian dari penerbangannya yang terburu-buru. Matanya langsung mencari kedua orang tuanya. Begitu melihat mereka, ia berjalan cepat dan langsung bertanya,“Mami, Papi!

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Diagnosa Yang Mengejutkan

    Di lorong rumah sakit yang terasa begitu dingin, Nora dan Prakas berjalan mendekati Rita dan Boby. Ekspresi wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Sebagai orang tua Bastian, mereka memang harus menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok. Namun, saat ini, hati mereka benar-benar tak tenang melihat kondisi Bintang yang terbaring lemah di ruang IGD.“Rita... Boby...” suara Nora bergetar saat berbicara, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap penuh simpati. “Kami sangat prihatin dengan kondisi Bintang. Apa yang sebenarnya terjadi?”Boby menarik napas panjang, seolah berusaha menahan emosinya yang sudah meluap-luap sejak tadi. Sementara itu, Rita hanya mampu mengusap air matanya yang terus mengalir. “Kami masih menunggu hasil lab,” ucapnya dengan suara lirih. “Dokter masih melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.”Prakas menatap Rita dan Boby dengan penuh empati. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Bintang bukan hanya cucu mereka, tetapi juga cucu kandungnya s

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status