"Ethan? Kau ... berdarah?" pekik Crystal.
Matanya masih menelusuri aliran air berwarna merah yang keluar dari celah-celah kaki Ethan, lalu mengalir ke arah saringan pembuangan air.Rasa sakit itu terasa berdenyut Ethan rasakan, karena bekas tembakan peluru yang tadinya sudah mengering kini basah kembali."Crys! Menyingkirlah!"Ethan ingin berlalu dari hadapan istrinya itu, tetapi Crystal menahannya."Biar aku periksa!" kata Crystal sambil mengulurkan tangannya untuk meraih kaos berwarna gelap yang dipakai oleh Ethan itu.Ethan menepis tangan Crystal."Ethaaan!!" jerit Crystal akan penolakan Ethan itu."Ini hanya luka kecil Crys. Biasa, sedikit kecelakaan kerja saat memperbaiki mobil pelanggan," kilah Ethan."Kalau begitu biar aku periksa, hmm? Aku akan mengobatimu," kata Crystal yang buru- buru melepas pakaiannya yang basah sehingga ia hanya tinggal memakai dalamannya saja.Lalu ia pun segeraUsai mengatasi ayahnya di bawah, Crystal pun dengan cepat, bahkan entah demi apa ia harus berjinjit saat melangkahkan kaki menaiki anak tangga, segera menemui Ethan di kamarnya. Tetapi pria itu bahkan tak ada lagi di sana. Menyebalkan! Sungguh tidak bisa di beri tahu.Crystal pun kini beralih ke kamar Ethan di sebelah kamarnya. Saat hendak menutup pintu kamarnya sendiri, ia sempat tercenung sesaat. Heran, bagaimana bisa Ethan membuka pintu kamarnya tanpa merusaknya? Padahal ia yakin sudah menguncinya dengan benar tadi.Namun tak ingin berlama-lama memikirkan hal itu, Crystal pun segera menuju kamar Ethan dan langsung membuka pintunya. Sayangnya Ethan sudah menguncinya dari luar.Crystal menggedor pintu kamar itu."Ethan! Buka pintunya!" kata Crystal dengan nada suara tidak rendah atau pun tinggi. Crystal takut jika meneriaki Ethan terlalu keras, bisa mengundang perhatian ayahnya dan Jordy nanti."Hei, Bajingan! Buka pintunya at
"A-apa maksudmu akan melakukannya, Crys?" tanya Ethan tergagap."Ya, aku akan melakukannya. Aku sendiri yang akan mengeluarkan pelurunya!" kata Crystal.Ethan langsung bergidik ngeri."Bagaimana caramu melakukannya tanpa bantuan medis?""Oh, astaga! Ethan kau ini sangat pecundang! Apa kau tak pernah melihat seseorang di film-film action mengeluarkan peluru dengan cara yang luar biasa? Aku bisa melakukannya. Jangan khawatir!" "Tidak, tidak, tidak! Aku tahu kau sakit hati padaku karena masalah Julia, tetapi itu tidak berarti kau harus balas dendam padaku dengan cara seperti ini, kan? Kau bisa membunuhku, Crys. Itu tidak semudah ketika kau menontonnya di film-film hollywood," tolak Ethan."Kau harus percaya padaku. Aku tak hanya melihatnya di film-film. Aku juga pernah melihatnya langsung saat Jordy mengeluarkan peluru dari tubuh Sergio saat tertembak di perbatasan. Jordy bisa mengeluarkannya hanya dengan membakar pisau besi dan me
"Nona Crystal, untuk apa kita ke si ...." Jordy seketika tak melanjutkan kata-katanya lagi ketika melihat Ethan yang berbaring di atas ranjang."Sssst .... jangan berisik!" Crystal menempelkan jari telunjuknya di bibir sambil menarik tangan Jordy agar mendekat ke ranjang."Ya Tuhan, Crys! Apa yang kau lakukan?" protes Ethan frustasi melihat istrinya itu kini malah membawa Jordy, yang notabene adalah tangan kanannya Benigno.Jordy terpana melihat Ethan yang sedang berbaring di ranjang dengan tangan menutupi perutnya dengan kain kasa yang dilipat berbentuk persegi."Ke-kenapa ini?" Jordy melihat pada Crystal dan Ethan secara bergantian. Dia butuh lebih dari sekedar penjelasan tentang apa yang menimpa Ethan saat ini dan apa yang mereka inginkan dengan keberadaannya berada di sini."Jordy, tolong bantu Ethan mengeluarkan peluru dari dalam perutnya!" pinta Crystal tanpa banyak berbasa-basi.Jordy mendekat. Dengan ragu ia men
"Crystal! Apa yang kau lakukan?" Tak disangka Benigno datang dari arah tangga, dan melihat pemandangan Crystal sedang menindas Arabella di depan kamar Ethan."Sayang!" seru Arabella memanggil Beningno.Dengan cepat ia bersikap seolah menjadi orang teraniya."Ben, ahh! Ya Tuhan!" Arabella dengan susah payah berdiri, dibarengi dengan kemampuan drama yang mumpuni."Apa yang kau lakukan?" hardik Benigno gusar pada putri semata wayangnya itu.Lalu dengan sebelah tangannya ia mengulurkan tangan agar Arabella bisa berdiri."Kau tidak apa-apa?" Arabella memasang wajah memelas seperti wanita yang patut dikasihani."Ya, Sayang. Aku tidak apa-apa. Aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kubuat, sehingga Crystal tega mendorongku seperti ini," adu Arabella.Crystal memutar bola matanya malas sambil komat-kamit menirukan gerak mulut Arabella yang sedang mengadukan dirinya pada sang ayah.
"Kau akan tidur si sini?" tanya Ethan di kala malam telah menjelang namun Crystal masih tak ingin beranjak dari kamarnya."Ya, apa ada masalah?" tanya Crystal tanpa merasa bersalah sama sekali."Aku tidak tahu apa yang alasanmu, Crys. Tetapi aku bukan bayi atau lansia yang harus kau jaga dan kau temani seperti ini.""Kau memang bukan lansia, tetapi untuk beberapa hal bukankah kadang-kadang kau bisa bertingkah seperti bayi?" Ethan memutar cepat otaknya."Maksudmu?" tanya Ethan menanggapi perkataan ambigu dari Crystal itu."Kau tidak ingat? Cobalah ingat-ingat lagi ... "Crystal tentu saja sedang berusaha memancing Ethan untuk berbicara sesuatu yang sensitif dan menjurus ke hal-hal yang menyenangkan. Sayangnya, Ethan saat ini sedang dalam keadaan tidak cepat tanggap dalam menalar perkataan Crystal. Atau mungkin juga karena dia sedang tidak mood untuk membicarakan sesuatu yang bisa memancing mereka berbuat hal-hal panas
"Ssshh ...." Ethan mendesah sambil menggemeretakkan giginya saat ia merasakan pisau bedah menggores perutnya.Meskipun Jordy telah menyuntikkan anastesi pada area luka tembaknya Ethan yang akan dibedah olehnya itu, nyatanya Ethan tetap dapat merasakan ngilu pada perutnya."Apa itu sakit?" tanya Crystal pada Jordy, tetapi Jordy tidak menghiraukan pertanyaan putri dari bosnya itu."Jordy!!" panggil Crystal lagi setengah menghardik."Nona Crystal, bisakah kau tidak menggangguku? Kalau kau bertanya apa itu sakit atau tidak, sebaiknya tanya Ethan saja. Kenapa kau menanyakan itu padaku?!" sahut Jordy sedikit kesal."Kau tidak lihat? Dia terlihat kesakitan! Apa mungkin dia masih bisa menjawab?" kesal Crystal."Kalau begitu kenapa kau tidak menci umnya lagi? Siapa tahu dengan begitu rasa sakitnya bisa sedikit teralihkan?" usul Jordy, sambil ia mulai membedah sedikit area perut Ethan dengan pisau bedahnya."Benar juga! Ethan. Aku
"Bertha! Tolong bantu aku!" pinta Crystal pada Bertha yang sedang memasak di dapur."Ada apa, Nona Crystal?"Sang ART tentu heran melihat anak dari Tuan Besar Beningno Mensina ini sudah hadir di pagi-pagi buta begini di dapur. Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi waktu Sisilia.Crystal mengikat cepol rambutnya di atas kepala. "Apa kau bisa membuat Frittata?" tanyanya menyebutkan salah satu jenis masakan khas Italia itu.Bertha tentu mengernyitkan keningnya."Ya, aku tentu saja tahu, Nona. Kenapa? Apa Nona Crystal ingin makan Frittata? Kalau ia saya akan membuatkannya," kata Bertha lagi.Crystal geleng-geleng kepala."Tidak, tidak. Bukan kau yang akan membuatnya, tetapi aku. Kau pernah dengar peribahasa Bertha? Jika kau ingin memenangkan hati seorang pria, maka kau harus memikirkan baik-baik isi perutnya," katanya dengan senyum berbunga-bunga.Asisten bernama Bertha itu hanya senyum-senyum men
"Sebenarnya, Crys .... kau tak harus mengantarku sampai ke kasino. Aku masih bisa mengenderai mobil sendiri," kata Ethan di perjalanan mereka menuju ke Mensina Casino."Oh, ya? Itu kan katamu!" jawab Crystal dengan ketus. "Tetapi aku tetap harus mengantarmu ke kasino, memastikan kalau kau baik-baik saja.""Aku baik-baik saja, sungguh!""Tetapi aku tidak percaya!"Ethan menghembuskan napas kesal. Crystal sungguh tak dapat diberikan pengertian."Crys ..." Ethan masih ingin mencoba sekali lagi meluluhkan pendirian istrinya yang keras kepala itu."Ethan, sebaiknya jangan menghalangiku untuk mengantarmu. Aku tak hanya akan mengantarmu, kau tahu? Aku juga akan menunggumu di kasino, memastikan kalau kau baik-baik saja!" "Hah? Apa? Kau ingin menungguiku di sana? Untuk apa?" tanya Ethan frustasi."Sudahlah, tak perlu banyak protes, atau aku bisa saja akan semakin mencurigaimu!""Kau mencurigaiku apa?"
Ethan tiba di rumah Benigno Mensina di saat hari menjelang pagi. Para penghuni rumah itu sedang sarapan."Kau tidak pulang selama berhari-hari, kemana saja kau?" hardik Benigno pada Ethan."Maafkan aku Papa, Ben. Ada hal perihal bengkel yang sedang kuurus," jawab Ethan."Apa, hal apa itu hah? Apa itu lebih penting daripada mengurus kasino? Kenapa semakin lama kau semakin tidak bisa diatur?" teriak Benigno.Ethan mengernyitkan keningnya melihat sikap mertuanya kali ini padanya. Terakhir kali dia bertemu dengan Benigno, beberapa hari yang lalu Benigno masih bersikap manis padanya. Oh, ayolah! Apa obat pria ini sedang habis? Apa dia sudah tak mengagumi menantunya ini sebagai orang yang disukai oleh Capo dei capi? Oh, mertua! Betapa cepatnya hatimu berubah!"Papa, sudahlah! Kenapa Papa jadi memarahi Ethan? Aku kan sudah mengatakan alasannya pada Papa kemarin. Kalau Ethan sedang ingin memantau bengkel seseorang yang ingin dijual di Trapani. Papa sendiri yang ingin Ethan membesarkan bengke
Bodyguard itu terdesak oleh Mario yang mengeroyoknya bersama teman-temannya. Jangan tanyakan lagi kondisi supir mobil box itu. Jauh lebih mengenaskan karena mereka mengeroyoknya berlima orang. Bodyguard itu sudah berdiri dengan terhuyung-huyung manakala Mario menyelipkan salah satu kaki kanannya di antara kedua kaki bodyguard itu dan mengunci pergerakan lututnya hingga menit berikutnya, Mario berhasil menguasai permainan dengan mengangkat tubuh lawannya dan menghempaskan tubuh bodyguard itu ke aspal jalanan."Habisi dia, dan cari kunci kontainer mobil box itu secepatnya!" kata Mario sambil memberi kode kedua temannya untuk mendekat.Bodyguard itu dengan posisi tertelungkup di jalan dengan bibir pecah dan hidung memar karena tergores aspal hampir tak memiliki tenaga lagi walaupun hanya sedikit pun.Drama ketidakadilan itu pun disempurnakan oleh kedatangan Paulo yang seolah datang dengan tepat waktu untuk menolong anak buah Alfonso. Di saat salah seorang ang
Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!! Tiiiiiiiin ....Suara klakson dari mobil box berwarna putih itu memecah keheningan malam.Dengan tak sabar supirnya mengeluarkan kepala dari jendela mobil."Bedebah!! Apa yang kau lakukan dengan menghalangi mobil kami? Menyingkir!!" teriak supir mobil box itu.Di saat yang sama sebuah mobil datang dari arah belakang mobil box."Kalian ambil alih kemudi ini! Biar aku yang keluar!" kata Mario pula.Rasa percaya dirinya ingin menghajar orang-orang ini semakin menjadi-jadi. Mario sudah lama tidak menghajar orang. Bergabung dengan Aquila Nera adalah sesuatu yang spesial baginya. Tidak semua orang bisa masuk ke organisasi yang didirikan oleh Capo dei Capi ini. Hanya orang-orang tertentu dengan skill tertentu yang masuk kualifikasi untuk bergabung demi Aquila Nera. Seperti halnya anggota Aquila Nera yang lain, Mario pun memiliki skill khusus yang membuat Capo dei Capi merekrutnya dan memasukkannya menjadi salah satu anggota Aquila Nera. Dia ahli dalam Brazilian J
Ethan pun kini membuka ponselnya juga. Membuka-buka GPS untuk melihat posisi mereka saat ini."Oke, katakan pada mereka untuk datang dengan dua mobil. Satu menunggu di Via Regatta yang satunya lagi menunggu di Via Due Vanelle! Di ujung jalan ini nanti ada persimpangan tiga. Ketika mereka belok kiri ada pihak kita yang menunggu mereka, jika mereka belok kanan pun sama, kita akan mencegat mereka. Pokoknya apa pun yang terjadi kita akan menyerang orang-orang itu terlebih dahulu. Untuk sementara membebaskan anak-anak itu akan kita lakukan nanti. Dan yang akan menjadi target utama kita adalah supir dan orang yang bertanggung jawab mengawal pengiriman anak-anak yang hendak mereka jual itu!" kata Ethan."Siap, Capo!" sahut Paulo lalu ia pun bertanya pada orang yang dia telepon. "Apa kau mendengar apa kata-kata Capo baru saja? Capo menyuruh kalian mengepung mobil box itu dengan dua mobil. Satu di Via Regatta dan yang satunya lagi di Via Due Vanelle. Jika mobil menuju via
Trapani adalah sebuah kota yang terletak di barat kepulauan Sisilia, Italia. Kota ini juga menjadi ibu kota provinsi Trapani. Kota ini terkenal dengan kota tuanya sehingga banyak ditemukan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur yang klasik. Kota ini bahkan dijuluki dengan 'kota seratus gereja'. Kota tua Trapani dikelilingi oleh gedung-gedung baroque, seniman jalanan, serta berbagai bar dan restoran. Sebagaimana kota pada tempo dulu, jalanan raya di kota ini tergolong sempit dengan bangunan-bangunan tua yang rapat antara satu dengan bangunan yang lainnya. Tak lupa lorong seperti gang sempit yang memisahkan antara gedung yang satu dengan gedung yang lain. Sebenarnya hampir tak ada beda dengan kota lain di Sisilia. Namun di kota ini banyak ditemui bangunan dan museum bersejarah.Andai Ethan tidak sedang dalam situasi seperti ini mungkin ia akan berpikir akan membawa Crystal ke sini untuk berbulan madu. Sebab tempat ini sepertinya cocok untuk pasangan pengantin baru
"Ethan, kau sebenarnya ada di mana saat ini? Tolong jangan membuatku stress. Selama berhari-hari kamu tidak pulang ke rumah! Jangan sampai aku memampangkan fotomu di semua media, televisi, surat kabar cetak dan online untuk memuat berita kehilanganmu!" jerit Crystal sebal saat panggilannya terhubung dengan Ethan.Ethan hanya terkekeh mendengar jerit histeris istrinya itu."Crys, tenanglah, Ok? Aku hanya pergi untuk mengurusi masalah bengkel. Ada orang yang ingin menjual peralatan bengkelnya di Trapani dengan harga murah. Dan aku ke sini untuk mengeceknya. Kalau cocok aku ingin membelinya dan membuka cabang baru di pusat kota. Semua alat-alatnya masih baru dan dia perlu uang secepatnya. Atau sebaiknya aku membuka cabang baru di sini saja? Pokoknya aku harus membelinya, Crys. Kalau aku tidak cepat mungkin orang lain yang akan mendapatkannya!" kata Ethan terdengar antusias.Padahal Ethan sesungguhnya sedang berbohong kepada Crystal. Dia saat ini memang sedang
Mobil Lamb orghini Aventador itu masuk ke dalam sebuah area pencucian mobil yang berada di sebelah timur kota C. Pencucian mobil ini sepertinya tidak begitu ramai pengunjung karena bangunannya yang begitu muram, hanya sebuah ruko yang pernah terbakar dan setelahnya tidak direnovasi kembali. Namun oleh pemilik sebelumnya malah dijual dengan fantastis. Lalu kini oleh pemilik baru dibuat menjadi sebuah pencucian mobil. Pengemudi Lam borgini itu pun turun dari mobilnya dan melempar kunci pada seseorang yang berjaga di sana. Orang itu pun dengan sigap menangkapnya."Carikan aku mobil lain! Dan tolong kau jaga mobil ini dengan jiwa dan ragamu! Karena ini mobil berharga milik mertua, kau tahu?" kekeh pria itu."Baik, Capo! Bagaimana kalau mobil yang itu saja?" tanya penjaga pada pengunjung yang ternyata adalah Ethan itu."BMW E30 M5?" tebak Ethan setelah sesaat dia melihat-lihat "Hu um. Meski sudah ketinggalan zaman, tapi mobil ini masih cuku
Ethan menatap layar ponselnya dan memutar untuk kesekian kali rekaman vidio yang dikirimkan Julia padanya. Lalu tak lama sebuah pesan singkat dari Julia pun kembali masuk di ponselnya.[Apa kau mengenalnya, Ethan? Eh, maaf. Maksudku Capo.] Ethan mengernyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah mendengar suara pria dalam vidio yang mengaku capo dei capi itu. [Aku rasa ini masalah yang tidak bisa kita biarkan begitu saja. Ini menyangkut keamanan kita di masa yang akan datang.]Ethan lagi-lagi belum menjawab satu pun dari semua singkat yang dikirim Julia padanya itu.[Kalau hanya mengaku-ngaku, mungkin tidak masalah. Tapi ini? Dia melakukan perampokan besar, Ethan. Dan yang lebih gila dia tidak sendiri. Dia memiliki kelompoknya sendiri. Ini tidak bisa kita biarkan, kan? Dia mencatut nama besar Capo dei Capi. Bagaimana kalau organisasi mafia lain percaya itu dirimu dan memandang rendah aturan yang kau buat? Bisa-bisa kelompo
Rivaldo yang tadi di awal mengejek Julia untuk menggodanya kini mendatangi wanita itu dan memegang pundaknya."Ju, maaf! Kami hanya becanda!""Oh, enyahlah!"Julia mencoba menepis tangan Rivaldo. Namun pria itu tak menyerah untuk mendapatkan maaf wanita itu. Ia malah semakin merangkul pundak Julia. Biar bagaimana pun dalam kelompok ini mereka adalah saudara dan keluarga. Tak boleh ada yang sakit hati karena kelakuan seseorang. "Baiklah, kita serius sekarang. Katakan padaku. Masalah apa yang kau maksud?" tanya Rivaldo setelah melihat perubahan suasana hati Julia yang kini tak menolak untuk ia rangkul."Kau tidak tahu? Kalian tidak tahu? Apa saja pekerjaan kalian selama aku dan capo tidak ada di sini? Kalian hanya bersenang-senang dan menggosip saja seperti perempuan, hmm?" cerca Julia.Semuanya hanya saling pandang. Bukan berarti mereka tak berani menjawab, hanya saja mereka tak ingin Julia semakin kesal dan berakhir dengan solid