Begitu mendapat kabar kalau kasinonya dirampok, Benigno dan Jordy pun segera menuju Mensina Casino.
"Apa saja yang kalian lakukan sampai-sampai terjadi hal seperti ini?!" bentak Benigno. "Maafkan kami, Capo. Orang itu ... mereka datang membawa rombongan senjata. Menurut keterangan pengunjung yang sedang berada di depan Kasino begitu mereka turun dari mobil mereka pun langsung menembaki bodyguard kita, Capo!" kata salah seorang staf kasino. "Sialan!! Siapa orang-orang itu?! Berani-beraninya dia merampok kasinoku. Apa dia tidak punya takut sama sekali?!" Meski Jordy sudah mengatakan kalau yang merampok kasinonya adalah Capo dei capi, tapi Benigno rasanya tidak bisa percaya sama sekali pada keterangan yang diberikan oleh Jordy. "Kata salah seorang dari mereka, emh ... sepertinya dia adalah pemimpin dari perampokan itu, Capo. Dia mengatakan kalau dia adalah Capo dei Capi, Capo," kata orang itu lagi dengan mimik"Tuan Benigno saat ini sedang tidak bisa diganggu. Jika Tuan-tuan ada keperluan, tanyakan saja pada saya. Nanti saya akan menjawab semampu yang saya bisa," kata Jordy menawarkan.Danilo, polisi yang tempo hari datang ke kediaman Benigno, menatap Jordi dengan pandangan menyelidiki."Kami hanya butuh berbicara dengan Tuan Benigno sebagai pemilik dari kasino ini. Kami perlu menanyakan beberapa hal padanya tentang sesuatu yang orang lain mungkin tidak tahu jawabannya. Misalnya tentang saingan bisnisnya, jumlah uang yang dicuri oleh perampok itu. Kami ingin tahu semuanya," kata polisi itu."Tuan-tuan bisa menanyakan itu pada saya, tak harus bertanya langsung pada Tuan Ben. Saya akan menjawabnya," jawab Jordy dengan mantap.Kedua polisi ini saling pandang."Kami hanya ingin bertemu dengan Tuan Benigno!" Lagi-lagi polisi ini bersikeras ingin bertemu dengan Benigno."Tapi Tuan Ben masih ada urusan.""Kami akan menunggu."
"Kenapa kalian diam, hmm?" tantang Benigno.Saat ini ada banyak hal yang menjadi pikiran Benigno terkait perampokan ini. Dia sedang tidak baik-baik saja. Apa lagi orang yang telah merampok kasinonya adalah orang yang selama ini ia bangga-banggakan. Capo dei capi.Jadi saat mendengar polisi ini menanyakan tentang hal itu, ia menjadi sensitif karenanya."Maaf, Tuan Ben. Aku rasa Tuan Ben, sudah salah paham pada kami. Kami menanyakan hal itu tidak bermaksud menuduh Kalau Tuan Ben adalah seorang mafia," kilah Danilo."Salah paham bagaimana? Kalian menanyakan itu kepadaku seolah-olah aku mengenal capo dei capi itu. Dan apa kalian bilang tadi? Kalian bilang dia adalah bos dari segala bos mafia? Lalu kalian juga mendesakku untu memberi tahu apa pun tentangnya yang aku tahu. Bukankah dari itu saja sudah kelihatan kalau kalian sedang berupaya untuk mengorek sesuatu dariku? Lalu apa maksud dari semua itu? Kalian menuduhku adalah mafia juga?"Benign
Ethan meradang setelah mendengar berita perampokan yang terjadi di kasino mertuanya. Alfonso memang sudah sangat keterlaluan. Dia mungkin saja tak tahu kalau kasino itu adalah milik mertuanya Ethan, tetapi dia tidak mungkin tidak tahu kalau Kasino itu adalah milik orang tua Crystal uang yang notabene adalah sahabat dari istrinya itu, kan?"Papa kemana, Crys?" tanya Ethan saat malam itu dia pulang ke rumah namun tak melihat ada Benigno atau pun Jordy di sana.Crystal pun menyiapkan makan malam untuk Ethan. Biasanya meski hubungan mereka agak sedikit aneh, tapi Benigno dan Ethan selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersama maupun sarapan bersama. Tapi kali ini ruang makan kosong tanpa kehadiran Benigno."Owh, itu ... Papa berangkat ke Catania," jawab Crystal ia membantu Bertha untuk menyiapkan makan mereka."Catania?""Hum. Kau sudah tahu kalau Mensina Casino Cabang Via Agrigento dirampok? Aku sengaja tidak memberi tahumu. Aku tidak m
"Ethan Trovatelli, bersediakah saudara mengasihi dan menghormati istri saudara sepanjang hidup? Selalu setia padanya dalam suka dan duka, dalam kecukupan dan kekurangan, serta dalam sehat atau pun sakit?""Ya, saya bersedia,"jawab Ethan.Sebaliknya sang mempelai wanita di balik veil transparan yang menutupi kepalanya, ia memutar bola matanya dengan malas. Ini bukan pernikahan yang diinginkan olehnya, tentu saja. Namun pada akhirnya dia pun terpaksa mengucapkan janji yang sama."Mulai saat ini kalian resmi menjadi pasangan suami istri. Apa yang dipersatukan oleh Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia".Sekarang tibalah giliran Ethan akan mencium Crystal, di depan para tamu undangan. Ethan menyingkap veil putih yang menutupi wajah istrinya itu, lalu ia pun mendekatkan wajahnya ke arah bibir Crystal."Jangan berani-berani mencoba melakukannya," ancamnya dengan bisikan lirih pada pria yang baru saja resmi menikahinya itu.Ethan tersenyum. Dia tahu Crystal tidak menginginkannya, tetapi
Pria yang diteriaki itu tersentak dari keterkejutannya mendengar teriakan Ethan. Spontan ia menoleh pada Ethan yang kini hanya berjarak beberapa meter darinya. Tak ingin merasa malu karena salah satu anak buahnya tumbang oleh lemparan piring pria itu, Andrew Bosseli tertawa terkekeh dengan nada meremehkan."Wah, pengantin pria sepertinya sangat marah sekali. Ingin menjadi hero di depan Crystal, heh?" kekehnya. "Baiklah, akan kukabulkan. Jadilah hero untuk istri tersayangmu itu!"Usai mengatakan itu, Andrew lagi-lagi memberi isyarat dengan dagunya agar sniper yang satunya menyerang Crystal. Sniper itu pun mengangkat senjatanya.Ethan yang melihat hal itu langsung berlari secepat angin ke arah sniper itu. Dan ....BUUGGHH!!!!Belum sempat pelatuk itu ditarik, sebuah tendangan dari Ethan mendarat di rahang sniper itu. Sniper itu tumbang dan masih sempat mencoba untuk bangkit, namun satu tendangan lagi dari Ethan di kepalanya cukup membuat pria itu kehilangan tenaga untuk bangkit."Arggg
"Kau sangat berisik, apa perlu aku membungkammu dengan cara yang berbeda? Hum?" kata Ethan sambil menatap tajam wanita yang kini menginjaknya seakan ia adalah orang yang sangat tak ada harganya."Oh, ya? Kau berani?" tantang Crystal tak gentar.Ethan kini menatap liar Crystal dari telapak kaki hingg ke satu titik di tubuh Crystal tanpa berkedip. Jangan lupakan tangannya yang kini telah berhasil menggenggam betis indah wanita itu.Crystal terkesiap dan berusaha melepas kakinya dari genggaman Ethan."Lepaskan!!" perintah Crystal dengan marah."Kau sudah menggodaku sampai seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu dengan mudah, Nyonya Trovatelli?" "Aku tidak menggodamu, Bodoh! Lepaskan kakiku!" Ethan kini dengan usilnya malah mengusap-usap kaki Crystal hingga lutut hingga membuat Crystal berusaha untuk menarik-narik kakinya dari genggaman tangan Ethan.Bukan salah Ethan jika Crystal yang memancingnya. Ethan kini malah memiringkan tubuhnya. Dengan setengah duduk ia malah memel
"Lalu, kalau begitu apa yang harus kukerjakan?" tanya Ethan."Jordy!" panggil Beniqno pada anak buahnya. "Ya, Bos!" Jordy segera mendekat."Aku menyuruhmu untuk menjelaskan pada Ethan tentang seluk beluk kasino kita yang berada di dekat pelabuhan! Mulai sekarang kau harus membimbing dia agar bisa menjadi penggantiku memimpin The Black Roses, pimpinan mafia terhebat sepanjang masa!" kata Benigno dengan penuh kebanggaan.Ethan terlihat menganga. Bukannya apa-apa, mertuanya bilang dia akan dibimbing untuk menjadi mafia terhebat sepanjang masa. Yang benar ..."Maaf, Papa Ben! Bolehkah aku menolak? Aku rasa aku lebih cocok menjadi seorang mekanik," tolak Ethan dengan hati-hati."Kau tidak boleh menolak! Aku menikahkanmu dengan putriku Crystal bukan agar kau bebas melakukan pekerjaan tak berguna itu! Cukup sekali aku memiliki menantu tak berguna. Jangan menjadi Alessandro kedua! Selain itu kalau bukan kau yang akan meneruskan kepemimpinan The Black Roses, lalu siapa lagi?"Ethan sampai men
"Papa?" pekik Crystal tertahan."Sebaiknya kalian berdua menikah saja," usul Benigno."Tidak! Aku tidak mau! Apa-apaan Papa mengusulkan hal seperti itu. Aku tidak mau menikah dengannya!" tolak wanita itu tegas."Crys ....""Apa Papa masih sehat? Papa ingin aku menikah dengannya? Hah! Buat apa! Itu ide paling konyol dan paling gila yang pernah ku dengar!" umpat wanita itu lagi."Crys, ikut Papa sebentar!"Setelah meminta ijin pada pengacara itu, Benigno pun menarik Crystal ke luar sebentar. "Crys, tolong mengerti! Kau setujui saja permintaan Papa untuk kau menikah dengannya. Ini hanya untuk sementara, Crys!"Crystal geleng-geleng kepala."Tidak, tidak, tidak ... ini gila! Aku tidak mau menuruti inginnya Papa. Itu tidak lucu sama sekali.""Hanya sementara, Crys. Sampai Papa menemukan satu alasan kuat untuk menendang dia dari kehidupanmu dan Clarissa. Kau tahu kan kalau Papa tidak bisa berurusan dengan hukum dulu akhir-akhir ini?""Tapi aku mana mungkin menikah dengan orang itu. Dia adi
Ethan meradang setelah mendengar berita perampokan yang terjadi di kasino mertuanya. Alfonso memang sudah sangat keterlaluan. Dia mungkin saja tak tahu kalau kasino itu adalah milik mertuanya Ethan, tetapi dia tidak mungkin tidak tahu kalau Kasino itu adalah milik orang tua Crystal uang yang notabene adalah sahabat dari istrinya itu, kan?"Papa kemana, Crys?" tanya Ethan saat malam itu dia pulang ke rumah namun tak melihat ada Benigno atau pun Jordy di sana.Crystal pun menyiapkan makan malam untuk Ethan. Biasanya meski hubungan mereka agak sedikit aneh, tapi Benigno dan Ethan selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersama maupun sarapan bersama. Tapi kali ini ruang makan kosong tanpa kehadiran Benigno."Owh, itu ... Papa berangkat ke Catania," jawab Crystal ia membantu Bertha untuk menyiapkan makan mereka."Catania?""Hum. Kau sudah tahu kalau Mensina Casino Cabang Via Agrigento dirampok? Aku sengaja tidak memberi tahumu. Aku tidak m
"Kenapa kalian diam, hmm?" tantang Benigno.Saat ini ada banyak hal yang menjadi pikiran Benigno terkait perampokan ini. Dia sedang tidak baik-baik saja. Apa lagi orang yang telah merampok kasinonya adalah orang yang selama ini ia bangga-banggakan. Capo dei capi.Jadi saat mendengar polisi ini menanyakan tentang hal itu, ia menjadi sensitif karenanya."Maaf, Tuan Ben. Aku rasa Tuan Ben, sudah salah paham pada kami. Kami menanyakan hal itu tidak bermaksud menuduh Kalau Tuan Ben adalah seorang mafia," kilah Danilo."Salah paham bagaimana? Kalian menanyakan itu kepadaku seolah-olah aku mengenal capo dei capi itu. Dan apa kalian bilang tadi? Kalian bilang dia adalah bos dari segala bos mafia? Lalu kalian juga mendesakku untu memberi tahu apa pun tentangnya yang aku tahu. Bukankah dari itu saja sudah kelihatan kalau kalian sedang berupaya untuk mengorek sesuatu dariku? Lalu apa maksud dari semua itu? Kalian menuduhku adalah mafia juga?"Benign
"Tuan Benigno saat ini sedang tidak bisa diganggu. Jika Tuan-tuan ada keperluan, tanyakan saja pada saya. Nanti saya akan menjawab semampu yang saya bisa," kata Jordy menawarkan.Danilo, polisi yang tempo hari datang ke kediaman Benigno, menatap Jordi dengan pandangan menyelidiki."Kami hanya butuh berbicara dengan Tuan Benigno sebagai pemilik dari kasino ini. Kami perlu menanyakan beberapa hal padanya tentang sesuatu yang orang lain mungkin tidak tahu jawabannya. Misalnya tentang saingan bisnisnya, jumlah uang yang dicuri oleh perampok itu. Kami ingin tahu semuanya," kata polisi itu."Tuan-tuan bisa menanyakan itu pada saya, tak harus bertanya langsung pada Tuan Ben. Saya akan menjawabnya," jawab Jordy dengan mantap.Kedua polisi ini saling pandang."Kami hanya ingin bertemu dengan Tuan Benigno!" Lagi-lagi polisi ini bersikeras ingin bertemu dengan Benigno."Tapi Tuan Ben masih ada urusan.""Kami akan menunggu."
Begitu mendapat kabar kalau kasinonya dirampok, Benigno dan Jordy pun segera menuju Mensina Casino. "Apa saja yang kalian lakukan sampai-sampai terjadi hal seperti ini?!" bentak Benigno. "Maafkan kami, Capo. Orang itu ... mereka datang membawa rombongan senjata. Menurut keterangan pengunjung yang sedang berada di depan Kasino begitu mereka turun dari mobil mereka pun langsung menembaki bodyguard kita, Capo!" kata salah seorang staf kasino. "Sialan!! Siapa orang-orang itu?! Berani-beraninya dia merampok kasinoku. Apa dia tidak punya takut sama sekali?!" Meski Jordy sudah mengatakan kalau yang merampok kasinonya adalah Capo dei capi, tapi Benigno rasanya tidak bisa percaya sama sekali pada keterangan yang diberikan oleh Jordy. "Kata salah seorang dari mereka, emh ... sepertinya dia adalah pemimpin dari perampokan itu, Capo. Dia mengatakan kalau dia adalah Capo dei Capi, Capo," kata orang itu lagi dengan mimik
"Apa harganya tak bisa kurang lagi?" Benigno tersenyum tipis dan menggeleng. "Itu barang dengan kualitas bagus. Aku bisa memberimu tester kalau kau mau mencobanya di sini. Aku mendapatkannya tidak mudah. Dari Amerika, melalui proses pengiriman yang rumit untuk menghindari petugas pemerintahan," kata Benigno.Di depannya saat ini sedang ada calon pembeli obat-obatan terlarang yang dia selundupkan dari Amerika untuk dijual kembali di daerah Sisilia.Pria di hadapan Benigno ini kembali menjumput barang terlarang berbentuk serbuk putih itu dan merasakan teksturnya di genggaman tangan, lalu ia pun kembali menabur benda itu pada tempatnya semula."Bagaimana? Kalau kau orang lama dalam bisnis ini, kau pasti bisa membedakan mana barang bagus dan mana barang kualitas rendahan."Calon pembeli itu menimbang-nimbang sejenak."Capo, tolong kurangi harganya sedikit lagi," pinta orang itu."Astaga! Kau bukan baru pertama kal
Toretto yang sedari tadi tersambung dengan Ethan melalui panggilan telepon, kini memindahkan bluetooth handsfree yang berada di telinganya ke telinga Max."Demian, lepaskan ak ...!""Max! Dengarkan aku! Kau lupa apa yang aku katakan tadi?" Max yang sedari tadi hendak berontak dari cekalan Dominic dan Demian, sontak terdiam saat mendengar suara Ethan dari handsfree yang dilekatkan oleh Toretto di telinganya."Ya, Capo?" Max mengatur napasnya yang mulai memburu karena emosi."Aku bilang tadi bicarakan ini baik-baik dengannya, Max!" Ethan memperingatkan."Aku sudah berbicara baik-baik dengannya. Tapi dia malah dengan sombongnya malah menghinamu. Dasar tidak tahu diri! Rasanya aku ingin sekali merontokkan giginya dan meledakkan markasnya bersama dia dengan orang-orangnya!" umpat Max sambil mata tetap menatap tajam pada Ethan.Alfonso yang melihat para tamunya sedang berbicara dengan orang yang menyuruh mereka lagi
"Aku tidak tertarik ikut organisasi itu. Aku sudah memiliki organisasiku sendiri. The Monster. Kalian tahu itu, kan?" Max mengangguk."Ya, kami bisa melihat itu. Tapi tiap-tiap organisasi dan sindikat mafia yang ada di Sisilia wajib ikut organisasi SMG.""Oh, ya? Kata siapa? Kalau aku tidak tertarik ikut, kalian mau apa? Ingin memaksaku, hmm?" katanya dengan nada yang sangat remeh."Capo dei capi mengundangmu dengan baik-baik sebagai seorang pimpinan The Monster. Ini juga demi kebaikan bersama. Kalau organisasi dan sindikatmu sedang bermasalah dengan organisasi lain atau bahkan dengan pemerintah, pihak SMG bisa saja membantu." Max menerangkan lagi dengan sabar sementara ketiga temannya hanya diam. Mereka menyerahkan semuanya pada Max sebagai pemimpin misi mereka kali ini.Mendengar jawaban dari Max atas jawabannya itu, Alfonso tertawa meremehkan."Membantu katamu? Hahaha ... kau sungguh-sungguh berpikir kalau aku membu
"Are you ready?" seru Max kepada ketiga orang temannya itu.Dominic, Toretto dan Demian pun tersenyum tipis. Lalu seolah mereka sudah diberi aba-aba sebelumnya, mereka pun masing-masing mulai beratraksi menunjukkan kemampuan mereka menaklukkan lawan. Dominic misalnya, pria itu dengan gerak cepat bersalto ke arah anggota The Monster yang berada berkelompok paling banyak. Lalu tanpa melepaskan tembakan, dia pun menendang salah seorang dari mereka tanpa orang itu sempat menghindar.Merasa diserang tanpa mereka siap, beberapa dari temannya buru-buru mengokang senjata mereka dan menembak membabi buta ke arah Dominic. Dominic sendiri entah bagaimana bisa menghindari semua peluru itu sehingga tak ada satu pun peluru yang nyadar ke tubuhnya.Ketika perhatian semua orang yang ada di sana semuanya nyaris tertuju pada Dominic, hal itu pun langsung dimanfaatkan oleh Demian dan Toretto untuk menyerang anggota-anggota The Monster yang lengah. T
Sudah dibilang, mereka anggota Aquila Nera sepertinya sangat memuja Ethan sebagai panutan. Begitu pun dengan Max. Gayanya yang santai terlihat sama seperti Ethan. Malah mungkin penampilannya lebih stylish dibandingkan dengan sang capo. Lihat saja dia! Bahkan kaca mata hitamnya bertengger dengan apik di batang hidungnya.Kedua bodyguard itu saling pandang sejenak sebelum akhirnya mereka tertawa sinis mendengar siapa orang yang berada di hadapan mereka ini."Bos sedang tidak ada. Kalian pulang saja! Jangan buat lelucon di sini. Di sini capo dei capi adalah Tuan Alfonso, bukan yang lainnya," kata salah seorang dari bodyguard itu.Max tersenyum tipis saat mendengar penolakan dari bodyguard itu untuk mempertemukan mereka dengan Alfonso. Usai tersenyum dengan manisnya, pria itu tanpa aba-aba, langsung menendang bodyguard itu dengan telapak kakinya tepat di bagian dada. BRUGGGHH!!!Pria itu langsung terlempar mundur ke belakang hingga punggung