Share

Perasaan Riri dan Setya

Author: Ririichan13
last update Last Updated: 2025-04-24 12:55:59

Riri menarik napas dalam, berusaha mengendalikan dirinya yang mulai berpikir yang aneh-aneh.

Ia yakin, semua ini pasti hanya kebetulan. Apa lagi, tadi siang ia sempat bertemu dan menggoda Setya, jadi wajar saja jik dia berpikiran yang aneh-aneh karenanya.

Riri berusaha untuk fokus kembali pada makan malam yang harus ia hidangkan. Namun nyatanya, perasaan aneh itu tak juga hilang.

"Bu, ada apa?" tanya Juna polos.

Sontak, suara itu sukses membuatnya sedikit tersentak. Ia menoleh cepat, dan mendapati sang anak yang masih menatapnya dengan mata bulat --yang entah kenapa pada malam ini-- terasa seperti milik Setya.

Riri memaksakan senyum. "Nggak apa-apa, kok Nak. Yuk, kita makan, keburu ayamnya dingin."

Juna mengangguk mantap, lalu mulai menyendok nasi ke dalam mulutnya dengan lahap. Riri sendiri hanya duduk di seberangnya, mengaduk-aduk makanannya tanpa benar-benar berselera.

Pikirannya masih melayang.

Setya…

Tatapan pria itu tadi ... Cara ia terkejut saat mendengar julukan Mr. Albino.

Dan sekarang, mata anaknya yang berwarna biru.

Sebuah kesadaran perlahan mulai merayap masuk ke dalam pikirannya.

Jika benar ada Setya dalam diri anaknya… maka itu berarti…

Riri menggeleng cepat, menepis pikirannya sendiri. Tidak mungkin. Tidak boleh.

Namun, hatinya mulai bertanya…

Apakah ia benar-benar sudah tahu seluruh kebenaran tentang masa lalunya?

"Bu, besok lusa aku disuruh bawa foto keluarga yang ada Ayah, Ibu, dan aku," kata Juna setelah menyelesaikan makanannya. "Bu Guru bilang harus ada foto ayahnya juga. Ibu punya foto Ayah nggak?"

Riri yang sedang membereskan meja makan seketika terdiam. "Ayah?" ulangnya pelan.

Juna mengangguk mantap, "Iya, Bu. Disuruh sama bu guru yang ada poto ayahnya juga. Kita mau bikin prakarya, bikin figura poto keluarga gitu," ucapnya menjelaskan.

Riri menghela napas berat. Ia beranjak mengambil sisa makanan anaknya, membereskannya dengan hati-hati, seakan sedang menata pikirannya yang berantakan. Setelah semua selesai, ia kembali duduk di samping Juna, tangannya terulur membelai lembut rambut sang anak.

"Ibu nggak punya poto ayah, Nak," ucapnya lirih. "Soalnya, pas ibu lagi hamil kamu, ayah sempat pergi keluar negri untuk cari kerja, dan setelah itu ...," Riri menelan ludah, suaranya semakin mengecil, "menghilang begitu saja."

Juna menatap ibunya. Raut wajah Riri terlihat sendu. Ia langsung memeluk tubuh ibunya erat-erat.

"Ibu, maafin Juna ya, Bu. Juna nggak maksud bikin Ibu sedih," gumamnya pelan, merasa bersalah.

Riri mengusap punggung anaknya dengan lembut. "Tidak apa-apa, Sayang."

Juna menarik napas dalam, lalu tersenyum kecil. "Kalau gitu, kita pakai foto kita berdua aja ya, Bu?" tanyanya lagi, berusaha mengalihkan suasana.

Riri hanya mengangguk, sambil tersenyum lalu memeluk tubuh anak lelakinya itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Namun, suasana yang mulai mencair itu tiba-tiba kembali berubah ketika Juna berseru santai, "Ah iya, Bu, masa rambut Juna juga ada yang putih-putihnya loh."

"Ah, masa iya sih, Juna udah ubanan? Bukannya uban itu numbuhnya kalau udah tua ya, Bu? Masa Juna ada sih?" tanyanya kembali dengan sedikit menggerutu.

Riri kembali mengernyit, uban? Tak mungkin Juna memiliki uban karena umurnya masih 6 tahun. Sangat mustahil baginya memiliki uban diusia yang masih muda seperti itu.

Ia pun bergegas mengambil ponselnya, lalu menyalakan senternya, da menyoroti rambut Juna. Dan benar saja, ada beberapa helai rambut yang berwarna putih disana, membuat hatinya kembali bergejolak hebat.

Riri mengusap wajahnya kasar, lalu berkata dengan suara yang lebih tenang, "Juna, yuk tidur. Udah jam sembilan malam. Ibu besok masuk pagi juga. Juna mau dibikinin sarapan apa besok?" tanya Riri sebelum terlelap.

"Hmm, Juna pingin kimbab, Bu. Masih ada nggak rumput lautnya?" tanya Juna balik.

Riri terdiam sebentar, lalu segera beranjak menuju kulkasnya untuk mengecek bahan makanan yang ada di sana.

"Ada, Nak. Besok, kita bikin kimbab isi telur, sosis dan timun ya, Nak," ucap Riri dak mendapat anggukan dari Juna.

Setelah itu, Juna pun segera merebahkan dirinya di kasur. Riri pun berada disampingnya, dan tak lama, Juna pun terlelap di pelukan sang ibu.

Namun, Riri masih terjaga. Ia masih berusaha menenangkan pikirannya yang sedikit menggila. Ia menggigit bibir, mencoba menenangkan dirinya yang mendadak gelisah. Tidak! Ini pasti hanya pikirannya yang terlalu lelah.

Ia menatap langit-langit kamar, tatapannya begitu kosong. Sesekali, ia melihat anaknya yang sudah terlelap, napasnya teratur dan wajahnya begitu damai.

Namun, hati Riri justru terasa makin gelisah.

Mata biru ...

Rambut putih ....

Setya ...

Apa mungkin?

Riri kembali menggeleng pelan, memijat pelipisnya. Tidak! Ini pasti hanya permainan pikirannya saja. Ia bahkan tak ingat dengan pria yang telah menanamkan benih di rahimnya itu.

Hanya sekelebat bayangan. Samar, kabur… seakan otaknya sendiri menolak untuk mengingat lebih jauh.

Lalu, kenapa sekarang… ia mulai merasa ada yang janggal?

Riri menghela napas panjang. Ia kembali berbaring di samping anaknya.

"Mungkin aku hanya lelah. Terlalu banyak berpikir tentang Setya... Besok pasti semuanya terasa lebih baik dan masuk akal."

Ia memejamkan mata, berharap tidurnya bisa membawa ketenangan. Tapi entah kenapa, hatinya masih terasa begitu sesak.

*

Setya tiba di depan rumahnya dengan perasaan yang sedikit frustasi dan juga lelah. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia tetap duduk diam di sana dulu untuk beberapa saat.

Beberapa kali ia menghembuskan napasnya kasar, berusaha meredam segala emosi yang bergejolak di dadanya. Namun, entah mengapa, ia merasa bahwa pertemuannya kali ini, seolah menyimpan sesuatu yang besar, entah itu suatu kebetulan atau ... entahlah, Setya sendiri bingung untuk menafsirkannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Keinginan Yuzha

    Malam mulai larut, Setya berusaha menyibukkan dirinya di klinik miliknya. Namun, tetap sjaa, bayangan Riri tak bisa lepas begitu saja. Bahkan beberapa kali, ia salah melakukan pemeriksaan terhadap pasien."Dek, kamu lagi ada masalah? Kok keliatannya galau banget sih?" tanya Yuzha penasaran terhadap tingkah adiknya."Entah, Mas. Aku juga lagi bingung, kenapa," jawab Setya datar.Cukup lama keduanya terdiam, hingga akhirnya Setya pun kembali teringat dengan penerimaan Riri sebagai karyawan di bagian farmasi."Ah iya, Mas. Mas tau nggak apoteker baru di rumah sakit sekarang?" tanya Setya mengalihkan perhatiannya."Riri?" tanya Yuzha balik dan mendapat anggukan dari Setya."Ada apa sama dia?"Setya langsung bungkam. Ia pun salah tingkah karenanya. Untuk apa tadi ia bertanya tentang Riri pada sang kakak? Nanti, bisa-bisa Yuzha berpikir yang macam-macam lagi."Eh, nggak apa kok, Mas. Kinerjanya dia gimana? Aku kek nggak ngerasa nyaman deh sama kerjaan dia," ucap Setya memberi alasan."Nggak

    Last Updated : 2025-04-24
  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Siapa Wanita Itu?

    Riri berusaha menepis pikirannya yang sedikit gila. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Juna lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi sang anak."Semoga, suatu saat kita bisa beneran ketemu ayah ya, Nak," ucap Riri, suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tangannya membelai lembut rambut Juna, seolah ingin menggantikan kehangatan yang seharusnya anak itu dapatkan dari seorang ayah."Jika tidak di dunia, biar di Surganya Allah, aminn,"lanjutnya kembali dengan senyum tipis.Juna mengangguk paham, lalu ia bergegas untuk mandi.Riri menarik napas panjang, mencoba menghalau sesak yang tiba-tiba datang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia kembali fokus pada kimbab yang sedang ia potong. Setelah selesai memotong tiga roll kimbab menjadi potongan kecil-kecil, ia pun beralih pada ponselnya, berniat menghubungi seseorang di sana.[Mas, aku hari ini bikin kimbab. Kamu mau aku bawain sekalian buat sarapan nggak?]Setelah pesan terkirim, Riri pun kembali pada Juna. Menyiapkan pak

    Last Updated : 2025-04-25
  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Kinan Hilang

    Waktu makan siang tiba, tetapi pesan Riri tetap tak kunjung dibalas. Ponselnya tetap sunyi, tanpa satu pun notifikasi dari Yuzha.Ia melirik jam di layar ponsel. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30, sementara waktu makan siangnya hanya tinggal 30 menit lagi.'Apa mungkin Mas Yuzha sibuk ya?' tanya Riri kepada dirinya sendiri.Riri menarik napas dalam, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia segera mengambil dompetnya di dalam tas. Namun, baru saja hendak melangkah keluar, seorang perawat dari IGD masuk ke dalam farmasi dengan sedikit tergesa."Ri, bantuin gua. Ini obat-obat yang dibutuhin. Stok di IGD menipis," ucapnya sedikit terengah.Riri segera mengambil kertas yang diberikan oleh lelaki itu. Secepat yang ia bisa, ia pun segera menyiapkan obat-obatan itu tanpa bertanya lebih jauh."IGD sibuk, Mas?" tanya Riri pada akhirnya."Iya, R

    Last Updated : 2025-04-26
  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Pertemuan Tak Disengaja

    "Setya!"Panggilan itu menggema di lorong sekolah yang nampak sepi. Hanya suara langkah kaki dan derit pintu kelas yang berbunyi samar.Namun, lelaki yang dipanggil namanya itu, tetap melangkah dengan tenang, seolah teriakan itu hanyalah sebuah angin yang berlalu.Sementara Riri, sosok yang memanggilnya, nampak menggerutu kesal sambil berkacak pinggang, karena lelaki itu tak jua merespon."Dasar budeg!" umpatnya.Hilang sudah kesabarannya saat ini. Tanpa pikir panjang, ia pun segera melepas salah satu flat shoes-nya, dan ...Pluk!"Awww,"Setya berhenti. Ia menunduk, mengambil sepatu yang mendarat tepat di kepalanya, lalu berdecak pelan."Shit, ngeselin banget sih!" gerutunya kesal, nyaris tanpa emosi.Sementara Riri, nampak berseru senang karena lemparannya tepat pada sasaran. Ia pun segera mengangkat rok lilitnya sedikit lebih tinggi, lalu segera menghampiri Setya yang masih terdiam disana.Setya yang masih berdecak kesal, tiba-tiba kembali terkesiap karena tiba-tiba telinganya di t

    Last Updated : 2025-04-24
  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Pertemuan Kedua

    Riri melangkah cepat menuju IGD, menahan napas yang terasa berat di dada. Pikirannya kacau. Setya. Delapan tahun tak bertemu, kini pria itu berdiri lagi di hadapannya, dengan tatapan yang sama dinginnya seperti dulu."Dia masih sama ... dingin dan sulit ditebak, menyebalkan!" gerutunya.Setibanya di IGD, Riri menyerahkan obat kepada Dokter Yuzha sambil berusaha tersenyum meski hatinya gelisah."Terima kasih, Ri," ucap Dokter Yuzha ramah."Sama-sama, Dok. Kalau gitu, saya ijin pamit balik ke farmasi ya, Dok," balasnya singkat.Namun, baru saja Riri hendak berbalik, lengannya kembali di tahan oleh Dokter Yuzha."Sibuk banget yah? Ada yang mau saya obrolin," ucap Dokter Yuzha penuh harap.Riri hanya mengangguk samar, lalu segera melepaskan cekalan tangannya. Ia berbalik, setengah berlari menuju koridor tempat tadi ia bertemu Setya.Namun—Kosong.Lorong itu kini hanya dipenuhi perawat dan dokter yang berlalu-lalang. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Setya."Sh*t! Ngeselin banget sih! Selal

    Last Updated : 2025-04-24
  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Perasaan Aneh

    Setya mengeratkan genggamannya di kemudi, berusaha mengendalikan debaran yang tiba-tiba menggila di dadanya. Sial. Kenapa hanya dengan bisikan singkat itu, tubuhnya bereaksi seakan ia dilempar kembali ke masa lalu?Ia menarik napas dalam, mencoba menepis sensasi aneh yang mengganggunya. Itu cuma suara. Itu cuma Riri yang sedang menggoda. Itu seharusnya nggak berarti apa-apa. Tapi kenapa detak jantungnya masih berantakan?Matanya melirik ke arah kaca spion, di mana ia masih bisa melihat sosok Riri yang berdiri di parkiran dengan ekspresi penuh kemenangan. Senyuman miring perempuan itu masih melekat di benaknya, seakan menantang sesuatu dalam dirinya."Miss you, Mr. Albino."Tiga kata sederhana itu menggema di kepalanya, menghidupkan kembali sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.Setya mengumpat pelan sebelum akhirnya menekan pedal gas, meninggalkan tempat itu. Namun, sejauh apa pun ia pergi, bayangan Riri tetap tertinggal di pikirannya.Setya mengendarai mobilnya dengan kecepata

    Last Updated : 2025-04-24
  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Mata Biru

    Riri terpaku sejenak, menatap anak kecil yang kini berdiri di hadapannya. Bocah itu menengadah dengan mata berbinar, senyumnya lebar, penuh kegembiraan.“Ibu lama banget pulangnya!” protesnya dengan suara renyah.Riri tersenyum tipis, lalu segera memeluk tubuh anak semata wayangnya."Hmm, anak ibu udah wangi aja. Udah mandi, Nak?" tanya Riri sambil tersenyum."Udah, Bu. Ibu kenapa lama banget sih, pulangnya?" tanyanya lagi, kali ini sambil bersedekap dada.Riri terkekeh pelan, mendengar rajukannya, lalu segera mengangkat tentengannya."Iya, maaf ya. Tadi ibu beli pecel ayam dulu. Katanya kamu mau makan pecel ayam," ucap Riri sambil membelai lembut pipi sang anak.Sang anak pun nampak girang karenanya. Ia seger mengambil tentengan itu, lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.Tak lama, seorang ibu paruh baya pun menghampiri Riri, sambil membawa tas ransel milik sang anak."Duh, Mbak Riri maaf. Si Juna dari tadi udah ribut mulu nanyain ibu kapan pulang. Terus, pas keluar liat sepeda ibuny

    Last Updated : 2025-04-24

Latest chapter

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Kinan Hilang

    Waktu makan siang tiba, tetapi pesan Riri tetap tak kunjung dibalas. Ponselnya tetap sunyi, tanpa satu pun notifikasi dari Yuzha.Ia melirik jam di layar ponsel. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30, sementara waktu makan siangnya hanya tinggal 30 menit lagi.'Apa mungkin Mas Yuzha sibuk ya?' tanya Riri kepada dirinya sendiri.Riri menarik napas dalam, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia segera mengambil dompetnya di dalam tas. Namun, baru saja hendak melangkah keluar, seorang perawat dari IGD masuk ke dalam farmasi dengan sedikit tergesa."Ri, bantuin gua. Ini obat-obat yang dibutuhin. Stok di IGD menipis," ucapnya sedikit terengah.Riri segera mengambil kertas yang diberikan oleh lelaki itu. Secepat yang ia bisa, ia pun segera menyiapkan obat-obatan itu tanpa bertanya lebih jauh."IGD sibuk, Mas?" tanya Riri pada akhirnya."Iya, R

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Siapa Wanita Itu?

    Riri berusaha menepis pikirannya yang sedikit gila. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Juna lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi sang anak."Semoga, suatu saat kita bisa beneran ketemu ayah ya, Nak," ucap Riri, suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tangannya membelai lembut rambut Juna, seolah ingin menggantikan kehangatan yang seharusnya anak itu dapatkan dari seorang ayah."Jika tidak di dunia, biar di Surganya Allah, aminn,"lanjutnya kembali dengan senyum tipis.Juna mengangguk paham, lalu ia bergegas untuk mandi.Riri menarik napas panjang, mencoba menghalau sesak yang tiba-tiba datang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia kembali fokus pada kimbab yang sedang ia potong. Setelah selesai memotong tiga roll kimbab menjadi potongan kecil-kecil, ia pun beralih pada ponselnya, berniat menghubungi seseorang di sana.[Mas, aku hari ini bikin kimbab. Kamu mau aku bawain sekalian buat sarapan nggak?]Setelah pesan terkirim, Riri pun kembali pada Juna. Menyiapkan pak

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Keinginan Yuzha

    Malam mulai larut, Setya berusaha menyibukkan dirinya di klinik miliknya. Namun, tetap sjaa, bayangan Riri tak bisa lepas begitu saja. Bahkan beberapa kali, ia salah melakukan pemeriksaan terhadap pasien."Dek, kamu lagi ada masalah? Kok keliatannya galau banget sih?" tanya Yuzha penasaran terhadap tingkah adiknya."Entah, Mas. Aku juga lagi bingung, kenapa," jawab Setya datar.Cukup lama keduanya terdiam, hingga akhirnya Setya pun kembali teringat dengan penerimaan Riri sebagai karyawan di bagian farmasi."Ah iya, Mas. Mas tau nggak apoteker baru di rumah sakit sekarang?" tanya Setya mengalihkan perhatiannya."Riri?" tanya Yuzha balik dan mendapat anggukan dari Setya."Ada apa sama dia?"Setya langsung bungkam. Ia pun salah tingkah karenanya. Untuk apa tadi ia bertanya tentang Riri pada sang kakak? Nanti, bisa-bisa Yuzha berpikir yang macam-macam lagi."Eh, nggak apa kok, Mas. Kinerjanya dia gimana? Aku kek nggak ngerasa nyaman deh sama kerjaan dia," ucap Setya memberi alasan."Nggak

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Perasaan Riri dan Setya

    Riri menarik napas dalam, berusaha mengendalikan dirinya yang mulai berpikir yang aneh-aneh.Ia yakin, semua ini pasti hanya kebetulan. Apa lagi, tadi siang ia sempat bertemu dan menggoda Setya, jadi wajar saja jik dia berpikiran yang aneh-aneh karenanya.Riri berusaha untuk fokus kembali pada makan malam yang harus ia hidangkan. Namun nyatanya, perasaan aneh itu tak juga hilang."Bu, ada apa?" tanya Juna polos.Sontak, suara itu sukses membuatnya sedikit tersentak. Ia menoleh cepat, dan mendapati sang anak yang masih menatapnya dengan mata bulat --yang entah kenapa pada malam ini-- terasa seperti milik Setya.Riri memaksakan senyum. "Nggak apa-apa, kok Nak. Yuk, kita makan, keburu ayamnya dingin."Juna mengangguk mantap, lalu mulai menyendok nasi ke dalam mulutnya dengan lahap. Riri sendiri hanya duduk di seberangnya, mengaduk-aduk makanannya tanpa benar-benar berselera.Pikirannya masih melayang.Setya…Tatapan pria itu tadi ... Cara ia terkejut saat mendengar julukan Mr. Albino.Da

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Mata Biru

    Riri terpaku sejenak, menatap anak kecil yang kini berdiri di hadapannya. Bocah itu menengadah dengan mata berbinar, senyumnya lebar, penuh kegembiraan.“Ibu lama banget pulangnya!” protesnya dengan suara renyah.Riri tersenyum tipis, lalu segera memeluk tubuh anak semata wayangnya."Hmm, anak ibu udah wangi aja. Udah mandi, Nak?" tanya Riri sambil tersenyum."Udah, Bu. Ibu kenapa lama banget sih, pulangnya?" tanyanya lagi, kali ini sambil bersedekap dada.Riri terkekeh pelan, mendengar rajukannya, lalu segera mengangkat tentengannya."Iya, maaf ya. Tadi ibu beli pecel ayam dulu. Katanya kamu mau makan pecel ayam," ucap Riri sambil membelai lembut pipi sang anak.Sang anak pun nampak girang karenanya. Ia seger mengambil tentengan itu, lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.Tak lama, seorang ibu paruh baya pun menghampiri Riri, sambil membawa tas ransel milik sang anak."Duh, Mbak Riri maaf. Si Juna dari tadi udah ribut mulu nanyain ibu kapan pulang. Terus, pas keluar liat sepeda ibuny

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Perasaan Aneh

    Setya mengeratkan genggamannya di kemudi, berusaha mengendalikan debaran yang tiba-tiba menggila di dadanya. Sial. Kenapa hanya dengan bisikan singkat itu, tubuhnya bereaksi seakan ia dilempar kembali ke masa lalu?Ia menarik napas dalam, mencoba menepis sensasi aneh yang mengganggunya. Itu cuma suara. Itu cuma Riri yang sedang menggoda. Itu seharusnya nggak berarti apa-apa. Tapi kenapa detak jantungnya masih berantakan?Matanya melirik ke arah kaca spion, di mana ia masih bisa melihat sosok Riri yang berdiri di parkiran dengan ekspresi penuh kemenangan. Senyuman miring perempuan itu masih melekat di benaknya, seakan menantang sesuatu dalam dirinya."Miss you, Mr. Albino."Tiga kata sederhana itu menggema di kepalanya, menghidupkan kembali sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.Setya mengumpat pelan sebelum akhirnya menekan pedal gas, meninggalkan tempat itu. Namun, sejauh apa pun ia pergi, bayangan Riri tetap tertinggal di pikirannya.Setya mengendarai mobilnya dengan kecepata

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Pertemuan Kedua

    Riri melangkah cepat menuju IGD, menahan napas yang terasa berat di dada. Pikirannya kacau. Setya. Delapan tahun tak bertemu, kini pria itu berdiri lagi di hadapannya, dengan tatapan yang sama dinginnya seperti dulu."Dia masih sama ... dingin dan sulit ditebak, menyebalkan!" gerutunya.Setibanya di IGD, Riri menyerahkan obat kepada Dokter Yuzha sambil berusaha tersenyum meski hatinya gelisah."Terima kasih, Ri," ucap Dokter Yuzha ramah."Sama-sama, Dok. Kalau gitu, saya ijin pamit balik ke farmasi ya, Dok," balasnya singkat.Namun, baru saja Riri hendak berbalik, lengannya kembali di tahan oleh Dokter Yuzha."Sibuk banget yah? Ada yang mau saya obrolin," ucap Dokter Yuzha penuh harap.Riri hanya mengangguk samar, lalu segera melepaskan cekalan tangannya. Ia berbalik, setengah berlari menuju koridor tempat tadi ia bertemu Setya.Namun—Kosong.Lorong itu kini hanya dipenuhi perawat dan dokter yang berlalu-lalang. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Setya."Sh*t! Ngeselin banget sih! Selal

  • Mata Biru | Jejak Albino Yang Tertinggal   Pertemuan Tak Disengaja

    "Setya!"Panggilan itu menggema di lorong sekolah yang nampak sepi. Hanya suara langkah kaki dan derit pintu kelas yang berbunyi samar.Namun, lelaki yang dipanggil namanya itu, tetap melangkah dengan tenang, seolah teriakan itu hanyalah sebuah angin yang berlalu.Sementara Riri, sosok yang memanggilnya, nampak menggerutu kesal sambil berkacak pinggang, karena lelaki itu tak jua merespon."Dasar budeg!" umpatnya.Hilang sudah kesabarannya saat ini. Tanpa pikir panjang, ia pun segera melepas salah satu flat shoes-nya, dan ...Pluk!"Awww,"Setya berhenti. Ia menunduk, mengambil sepatu yang mendarat tepat di kepalanya, lalu berdecak pelan."Shit, ngeselin banget sih!" gerutunya kesal, nyaris tanpa emosi.Sementara Riri, nampak berseru senang karena lemparannya tepat pada sasaran. Ia pun segera mengangkat rok lilitnya sedikit lebih tinggi, lalu segera menghampiri Setya yang masih terdiam disana.Setya yang masih berdecak kesal, tiba-tiba kembali terkesiap karena tiba-tiba telinganya di t

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status