"Tidak mungkin!" Aku menyela ucapan ayahku dengan datar dan memperingatkannya, "Jangan pernah berpikir untuk mencarinya. Kalau kamu masih punya martabat dan harga diri, kita akan memikirkan caranya sendiri."Ayahku melirik ke arahku dan mendengus, "Lihat betapa cemasnya kamu. Aku juga tidak bilang ingin mencarinya.""Lebih baik tidak!"Aku mendengus dan menoleh ke dalam rumah sakit, sama sekali tidak memperhatikan kilatan gelap di mata ayahku.Aku berjalan perlahan dan tertatih menuju pintu rumah sakit, tetapi tidak berani masuk ke dalam.Tadi kudengar Anto bilang Nenek Hera telah keluar dari ruang gawat darurat, entah sekarang bagaimana kondisinya.Setelah berada di dalam ruang gawat darurat sekian lama, kuharap Nenek Hera baik-baik saja.Aku mengusap gelang rusak itu di dalam sakuku dan rasa sakit yang luar biasa menyelimuti hatiku lagi.Setelah apa yang terjadi dengan nenek dan gangguan dari ayahku yang tidak tahu malu, Zayn pasti semakin membenciku.Takutnya dia tidak mau bertemu d
Saat kakakku memberitahuku hal ini, kebetulan saja aku ingat dia bilang dia pernah menyewa rumah sebelumnya.Aku mengambil majalah yang dia berikan kepadaku dan bertanya, "Kak, bukankah kamu pernah menyewa rumah sebelumnya?"Kakakku tertegun sesaat dan mengangguk, "Iya, ada apa?""Apa rumahnya sudah dikembalikan? Aku ingin ....""Belum, kamu mau tinggal di sana?" Kakakku buru-buru bertanya dan menatapku dengan agak khawatir."Audrey, bukankah kamu tinggal bersama Zayn sebelumnya? Apa dia ... ingin mengusirmu?"Saat menyebut Zayn, hatiku pasti akan terasa agak sakit.Aku langsung tersenyum pada kakakku dan berkata, "Tidak, dia tidak mengusirku. Hanya saja kamu juga tahu kalau kami sudah bercerai dan sudah pasti tidak pantas untuk tinggal bersama lagi.""Sekarang aku sudah punya pekerjaan, aku cuma ingin menyewa rumah dan menjalani hidupku sendiri."Kakakku menghela napas lega, kemudian mengangguk dan berkata, "Baguslah kalau kamu bisa begini. Sebenarnya sejak awal kakak tidak setuju kal
Eh!Sepertinya kakakku sangat mencintai gadis itu.Akan tetapi, dia bahkan tidak memiliki nomor telepon gadis itu dan gadis itu tidak bilang kapan akan datang menemuinya.Mungkin dia datang menemui kerabatnya dan merasa kasihan saat melihat kakak sendirian, jadi dia pun datang mengunjunginya.Ck, sepertinya kakakku hanya berangan-angan dan gadis ini sama sekali tidak berpikiran seperti itu.Aku mengerucutkan bibirku dan bertanya pada kakak sambil berpikir, "Itu ... apa kamu tahu kalau dia punya pacar?""Tidak ada!" Kakakku menjawab dengan sangat tegas.Sudut bibirku berkedut, "Kamu juga tahu?""Dia sendiri yang memberitahuku."Eh, oke.Kalau gadis itu bilang dia lajang kepada kakak, kemungkinan besar 'cinta yang tidak pasti' ini masih bisa dilanjutkan.Aku menepuk pundak kakakku sambil tersenyum dan berkata, "Semangat, lain kali saat bertemu dengan gadis itu, pastikan untuk minta nomornya. Ya ampun, aku sangat menantikan seperti apa rupa calon kakak iparku.""Hust, berjodoh saja belum,
Aku terkejut dan buru-buru pergi ke jendela untuk melihatnya.Aku melihat sebuah mobil bisnis berwarna hitam diparkir di halaman dan dua pria keluar dari dalam.Yang satu adalah Zayn dan yang lainnya adalah Henry.Aku langsung merasa panik.Mengapa Zayn tiba-tiba kembali ke sini?Aku baru saja membuat nenek marah sampai jatuh sakit dan ayahku juga membuat mengacau di hadapannya.Sekarang dia sangat muak melihatku. Kalau sampai melihatku ada di sini, dia pasti akan marah dan bahkan mungkin akan mengusirku.Tidak, aku harus bersembunyi. Setelah dia pergi, aku akan mengemasi semua barangku dan pergi secepat mungkin.Hanya saja aku bersembunyi di kamar mandi dan menunggu untuk waktu yang lama, tetapi tidak ada yang masuk.Apakah mereka sudah pergi?Sambil memikirkan ini, aku keluar dari kamar mandi dengan hati-hati.Aku mendekati jendela dan melihat ke bawah lagi.Mobil Zayn masih terparkir di bawah, membuktikan kalau mereka belum pergi.Aku pergi ke koridor lagi dan melihat ruang tamu di
"Eh, kudengar penyakit Nenek kumat dan salah menuduhnya mencuri gelang itu, jadi ....""Jadi inilah alasannya menghancurkan gelang itu? Kalau dia memang peduli padaku sedikit saja, dia tidak akan melakukan itu. Dia juga bukannya tidak tahu apa arti gelang itu.""Pfft, jadi kamu begitu marah karena dia tidak peduli padamu?"Aku terkejut mendengar apa yang Henry katakan.Mana mungkin? Mana mungkin Zayn marah karena ini?Bagi Zayn, aku hanyalah seorang kekasih rendahan. Mana mungkin aku yang peduli padanya atau tidak akan memengaruhi suasana hatinya?Benar saja, Zayn mencibir, "Yang membuatku marah adalah keramahan dan ketulusan Nenek tidak ada artinya bagi Audrey dan dia bahkan membencinya."Tidak, tidak, aku tidak pernah membenci nenek!Aku berteriak di dalam hati dan air mata terus bercucuran.Sekarang setelah semuanya terjadi, mungkin Zayn tidak akan percaya apa pun yang kukatakan.Di dalam ruang kerja, Henry menghela napas, "Untung saja kali ini Nenek baik-baik saja. Bagaimana kalau
Angin di malam musim gugur sangat dingin.Aku menarik koper dan berjalan di jalan dengan putus asa.Tiba-tiba aku berpikir alangkah baiknya kalau aku tidak pernah bertemu Zayn dalam hidupku.Kalau keluargaku terpuruk, biarlah. Paling-paling aku bisa memulai kembali dengan gaya hidup yang berbeda, setidaknya aku tidak akan begitu sengsara seperti sekarang.Aku berdiri di bawah lampu jalan sambil menatap langit malam yang gelap dan menarik napas dalam-dalam.Entah berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk benar-benar melupakan pria ini dan sembuh dari luka ini sepenuhnya.Daun-daun berguguran yang tertiup angin berputar di sekelilingku dan angin dengan tetesan air hujan yang sedingin es menerpa wajahku.Aku merapatkan kerah jaketku dan merasa musim gugur ini sangat dingin.Aku berdiri di bawah lampu jalan untuk waktu yang lama, lalu pergi ke kontrakan kakakku sesuai alamat yang dia berikan.Kontrakan yang dia sewa berada di tengah kawasan perkotaan, di sekitarnya ada banyak rumah murah yan
Saat aku menarik tubuhku yang lelah dan lapar ke lantai enam, pemuda itu sudah menungguku di puncak tangga, "Dik, rumahmu yang mana?""Aku ... di 606."Sebenarnya aku ingin bilang nanti aku akan menarik koperku sendiri saja.Akan tetapi, mereka tetap membantuku dan sulit bagiku untuk menolak keramahan mereka.Mendengar ini, pemuda tersebut langsung menarik koper ke depan rumah 606. Dia menoleh ke arahku dari waktu ke waktu dan berkata, "Aku dan ibu tinggal di rumah 602. Kalau ada butuh sesuatu, kamu bisa datang mencari kami.""Oke, oke, terima kasih."Sesampainya di depan pintu rumah 606, pemuda itu menatapku seolah sedang menungguku membuka pintu tanpa ada niat untuk pergi.Tiba-tiba aku merasa agak canggung dan tidak tahu harus berkata apa.Setelah terdiam beberapa detik, aku mengambil koper dan berterima kasih padanya, "Terima kasih banyak untuk hari ini. Aku akan mentraktirmu dan bibi makan di lain waktu.""Tidak apa, ini cuma masalah kecil." Setelah pemuda itu selesai berbicara, d
Aku memegang ponselku erat-erat dan menatap nama yang muncul di layar dengan linglung.Aku meneleponnya beberapa kali setelah nenek marah sampai jatuh sakit gara-gara aku, tetapi dia tidak menjawab.Mengapa sekarang dia malah berinisiatif meneleponku?Apakah dia tahu aku sudah pindah dan menyalahkanku?Akan tetapi, bukankah dia tidak mau melihatku lagi?Bukankah seharusnya dia senang karena aku sudah pindah?Entah mengapa sekelebat harapan melonjak di dalam hatiku yang gelisah.Aku mengerucutkan bibir dan menekan tombol jawab.Setelah panggilan tersambung, aku mendengar napasnya terengah. Jantungku berdebar kencang dan benar-benar tidak tahu harus berkata apa.Setelah hening selama beberapa detik, akhirnya dia berbicara lebih dulu.Nadanya sangat datar seperti sedang memerintah, "Nenek ingin bertemu denganmu, besok datanglah ke rumah sakit."Harapan di hatiku langsung pupus.Aku tersenyum mencela diri sendiri.Kukira dia meneleponku karena masalah kepindahanku.Akan tetapi, ternyata ti
Tidak disangka lantai di depan pintu menjadi licin pada saat ini.Aku langsung terpeleset, tubuhku langsung terhuyung-huyung dan akan terjatuh ke tanah."Hati-hati!"Terdengar suara teriakan cemas Agatha di dalam kamar pasien.Pada saat yang sama aku memegang kusen pintu untuk menyeimbangkan tubuhku agar tidak terjatuh.Hanya saja aku tetap duduk di atas lantai, kondisiku baik-baik saja karena aku tidak terjatuh."Apakah kamu baik-baik saja?"Agatha segera menghampiriku dengan cemas.Sebenarnya tidak terdapat masalah apa pun pada kaki Agatha, dia duduk di kursi roda karena sakit untuk waktu yang lama yang membuat tubuhnya menjadi sangat lemas.Dia membantuku untuk berdiri dan berkata dengan cemas, "Nak, apakah kamu baik-baik saja? Jangan menakutiku."Aku menyentuh lantai saat hendak berdiri.Lantai ini licin bukan karena air, melainkan karena minyak!Terdapat seseorang yang sengaja menumpahkan minyak di depan pintu.Aku langsung teringat dengan Cindy dan menatapnya dengan dingin.Cindy
Aku tidak bisa menahan diriku lagi untuk mencibir."Aku menghormati dan berusaha menyenangi Anda karena Anda adalah ibu Zayn, tapi tidak disangka Anda ingin aku memberikan anakku pada Cindy.""Anda adalah seorang ibu, aku sama sekali tidak mengerti kenapa Anda bisa berpikir seperti ini.""Anda memintaku untuk memberikan anakku pada Cindy, apakah Anda pernah memikirkan perasaan Zayn?""Demi membuat diri Anda tenang dan membalas hutang budi pada Paman Thomas, tidak disangka Anda melukai putra dan cucu Anda sendiri.""Anda benar-benar sangat egois ....""Tu ... tutup mulutmu!"Agatha menatapku dengan tatapan marah, lalu tiba-tiba menutup mulutnya dan terbatuk.Aku memelototinya dengan mataku yang memerah.Sia-sia aku berusaha menyenanginya selama beberapa hari ini.Tidak masalah jika dia bersikeras untuk menyatukan Zayn dan Cindy, tapi tidak disangka dia ingin menyuruhku memberikan anakku pada Cindy.Dia benar-benar sangat kejam.Agatha terbatuk dan tiba-tiba menangis.Aku menatapnya deng
Meskipun Agatha masih tidak memperlakukanku dengan baik, setidaknya dia sudah tidak memarahiku begitu melihatku seperti sebelumnya.Meskipun Agatha selalu tidak menyukai makanan yang kubawakan, dia akan tetap memakannya sedikit untuk menghargaiku.Pada awalnya Cindy akan mengomentari makanan yang kubawa, tapi sekarang dia sama sekali tidak mengatakan apa pun. Cindy hanya berdiri di samping sambil menatapku dan Agatha dalam diam.Semakin Cindy bersikap setenang ini, semakin mengerikan dia terlihat.Agatha meminum setengah sup itu, lalu mendorongnya menjauh. Agatha menyeka sudut mulutnya dan berkata dengan acuh tak acuh, "Sup yang kamu buat tidak seenak buatan Cindy, tapi masih bisa diminum."Aku berkata sambil tersenyum, "Mohon maaf, aku akan memperbaikinya lain kali."Agatha melirikku, tatapannya terkadang melirik perutku.Beberapa saat kemudian, Agatha berkata pada Cindy, "Tadi dokter meresepkan beberapa obat untukku, tolong ambilkan obatku. Terima kasih sudah merawatku selama beberap
Aku berkacak pinggang, lalu menatapnya dengan tatapan tidak berdaya, "Katakanlah, apa yang harus kulakukan agar kamu bisa percaya kalau aku mengandung anakmu?"Zayn memasang hidung dan mata dua manusia salju besar.Kemudian mematahkan beberapa ranting dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia salju untuk dijadikan sebagai tangan.Zayn menatap manusia salju besar di depannya dan berkata dengan tenang, "Saat kamu didiagnosis tidak bisa melahirkan anak, aku merasa sangat sedih sampai ingin mati.""Saat itu aku mengira kamu benar-benar membenciku dan memilih untuk meminum pil kontrasepsi sampai menyakiti tubuhmu sendiri demi meninggalkanku dan tidak memiliki hubungan apapun denganku.""Aku sangat membencimu saat itu, bukan karena tidak bisa memiliki anak denganmu, tapi karena sikapmu.""Selain itu, aku juga merasa panik dan tidak berdaya pada saat itu.""Karena kamu tidak bisa melahirkan anak, itu berarti aku tidak bisa menggunakan anak untuk mengikatmu di sisiku.""Hanya saja sekarang suda
"Zayn!"Zayn langsung melepaskanku setelah mengatakan ini dan berjalan keluar sambil tertawa dengan keras.Baiklah, Zayn sama sekali tidak diajari menjadi anak nakal oleh Henry.Aku bahkan merasa jika Zayn lebih nakal daripada Henry!Setelah selesai makan, Zayn membawaku keluar untuk membuat manusia salju.Sebelum keluar, Zayn takut aku masuk angin dan menyuruhku mengenakan banyak pakaian.Sarung tangan yang Zayn kenakan untukku juga merupakan sarung tangan wol yang sangat tebal yang sengaja dibawa oleh asisten Zayn atas perintahnya.Salju turun dengan lebat kemarin malam, jadi salju di tanah ini sudah setinggi mata kaki yang bisa dibuat menjadi manusia salju.Aku dan Zayn bersama-sama membuat manusia salju yang besar.Saat Zayn menggunakan wortel dan kancing untuk membuat hidung dan mata manusia salju, aku membuat dua manusia kecil di sisinya.Dia terkekeh padaku, "Untuk apa kamu buat sebanyak itu? Kamu bahkan buat dua manusia salju kecil.""Kita adalah keluarga, jadi tentu saja aku h
"Hm?"Zayn sepertinya tidak mendengar ucapanku dengan jelas. Dia sengaja mendekatkan telinganya ke bibirku dan bertanya dengan suara rendah, "Apa yang kamu katakan?""Aku sedang mengandung ...."Pikiranku mulai mengabur saat aku sedang berbicara.Saat aku hendak memasuki alam mimpi, aku samar-samar mendengarnya berkata, "Kamu pasti sedang membohongiku lagi. Hasil pemeriksaanmu sebelumnya menunjukkan kalau kamu tidak bisa mengandung."Saat aku bangun pada keesokan harinya, kamar ini sudah terang benderang.Aku melihat sekeliling, tapi aku tidak melihat Zayn.Tempat tidur di sisiku juga sudah mendingin saat aku menyentuhnya.Apakah dia bangun sepagi itu?Sebenarnya aku sama sekali tidak memahami hal ini. Jelas-jelas Zayn yang mengerahkan tenaganya saat kami sedang berhubungan badan, tapi kenapa selalu aku yang merasa kelelahan, sedangkan Zayn terlihat sangat energik?Aku menggelengkan kepalaku untuk menyingkirkan pikiran ini, lalu mengenakan jubah mandi dan menuruni tempat tidur.Tirai j
Zayn benar-benar sangat patuh pada saat ini, dia benar-benar berdiri di sana tanpa bergerak setelah mendengar ucapanku.Aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan kedua kakiku yang masih bergetar karena ciumannya sebelum ini.Aku segera berjalan ke sisi tempat tidur dan mengeluarkan pakaian seksi berwarna hitam yang tersembunyi di bawah selimut.Aku mengangkat pakaian itu dan melihatnya selama beberapa saat yang membuat wajahku semakin memerah.Aku tidak menyangka jika pria yang biasanya terlihat dingin akan membeli pakaian seperti ini.Huh ....Aku benar-benar telah meremehkannya dalam urusan cinta.Aku menyukainya, jadi tentu saja aku bersedia mengenakan pakaian ini untuknya.Hanya saja, bagaimana caranya aku mengenakan pakaian ini?Aku menatapnya selama beberapa menit sebelum mengenakannya.Aku bahkan tidak berani menatap diriku di cermin rias, aku langsung pergi ke kamar mandi sambil setengah menutupi tubuhku.Setelah aku masuk, aku langsung merasakan tatapan panas yang tertuju pa
Pikiranku pada dasarnya sudah melayang, aku sama sekali tidak bereaksi saat tiba-tiba ditanya seperti ini olehnya.Saat melihatku terdiam untuk waktu yang lama.Zayn tiba-tiba mencubit pinggangku dan mengulang pertanyaannya, "Apakah kamu tahu kenapa aku marah?"Pinggangku terasa sakit karena cubitannya.Aku menatapnya dengan kedua pandanganku yang kabur.Aku tidak tahu apakah kabut di depanku adalah air mata yang tertahan karena rasa sakit rasa sakit di pinggangku atau karena air panas dari pancuran.Aku membuka mulutku dan baru menemukan suara setelah beberapa saat berlalu, "Ka ... kamu adalah orang yang curigaan. Kamu pasti curiga kalau aku ... menyukai Arya, 'kan?"Aku berkata sambil terengah-engah dan merasa kesulitan saat mengatakan ini.Zayn mengangkat sudut mulutnya, "Curiga? Apakah menurutmu aku perlu mencurigai hal ini?"Aku menatapnya lekat-lekat.Pipiku terlihat sangat merah di dalam cermin, seolah-olah aku sehabis berendam di dalam air panas.Zayn tiba-tiba menekanku ke din
Kenapa dia begitu curigaan?!Jelas-jelas sebelum ini dia bersikap sangat lembut, tapi dia malah menjadi seperti ini sekarang.Suasana hati Zayn benar-benar sangat cepat berubah!Aku memasuki kamar dengan marah, lalu mengambil pakaian untuk mandi.Setelah mengambil pakaian, aku baru menyadari perubahan pada kamar tidur ini.Loh?Aku samar-samar mencium aroma yang wangi di dalam kamar yang menyegarkan hatiku, sepertinya ini adalah wangi parfum kesukaanku.Apa yang terjadi?Apakah Zayn menyemprotkan parfum di dalam kamar?Aku berputar di dalam kamar, lalu melihat satu buket bunga di meja samping tempat tidur, itu adalah bunga lili kesukaanku.Aku juga melihat sebuah foto di atas tempat tidur.Itu adalah fotoku dengan Zayn.Aku menatap foto itu sambil mengerutkan keningku.Bukankah ini adalah foto yang diambil oleh pemilik toko saat kami membeli mantel di istana es Kota Yuma?Aku mengingat jika Zayn bersikeras meminta pemilik toko itu untuk memotretku juga, jadi kami berfoto bersama pada w