“Kamu sudah diberitahu bukan kalau siang ini kita akan meeting dengan pak Amin.” “Sudah pak. Bersiaplah kamu sangat beruntung.” Pak Firman melangkah pergi diikuti oleh asistennya. “Beruntung?” tapi Alisya hanya bisa terdiam kebingungan sendiri karena pak Firman langsung melanjutkan langkahnya. Apa ini soal saham yang dibicarakan Sasti?Entahlah tapi Alisya tidak berharap hal itu, apalagi mereka baru bertemu. sangat konyol kalau memang hal itu benar-benar terjadi. Menjadi istri Pandu membuat Alisya banyak tahu bahwa orang-orang kaya itu tak sebaik kelihatannya. Sebelum jam makan siang Alisya menerima telepon dari resepsionis kalau ada sopir yang dikirim untuk menjemputnya. “Mbak kelihatan sibuk banget setiap hari ke lapangan,” kata salah satu rekan kerjanya. “iya kemarin pak Firman meminta bantuanku untuk menghandle kawan lamanya yang akan mendirikan vila dan taman bermain.” “Mbak beruntung, tidak bekerja
Alisya bangun pagi ini dengan mood yang sangat berantakan. Tubuhnya terasa sakit dan perutnya terasa mual, dia menyesal kemarin tidak menyempatkan diri memeriksakan diri ke dokter. Setelah keluar dari rumah ini Pandu bahkan belum pernah datang lagi ke sini. “Nyonya ini bibi, apa nyonya tidak bekerja hari ini?” Alisya berusaha menegakkan kepalanya yang terasa sangat berat dan menoleh pada jam di dinding. Jam delapan pagi. Banyak pikiran membuat jadwal tidurnya kacau. Alisya berusaha keras untuk mempertahankan otak warasnya, dia sedang hamil dan dia butuh makanan sehat juga istirahat yang cukup, tapi sekali lagi hal itu tak bisa mencegahnya untuk bekerja seperti biasa. Dia tidak ingin lagi tergantung pada Pandu. “Iya bi sebentar!” sahut Alisya dari atas ranjang. Terdengar suara langkah kaki yang menjauh dan Alisya kembali menjatuhkan kepalanya yang berat ke atas bantal. Sepertinya masuk kerja hal yang mustahil dia lakukan hari ini. Alisya mengambil ponsel dan menghub
“Anak siapa yang kamu kandung?” Dunia seakan membeku, Alisya bahkan tak mampu untuk membuka mulutnya untuk menjawab. “Apa teman laki-lakimu itu atau Alan, sopirmu. Jawab!” teriakan Pandu mampu membuat Alisya yang begitu beku oleh rasa kecewa terlonjak. Bagaimana Pandu bisa mengatakan hal sekejam itu, bukankah laki-laki itu sendiri yang merenggut kesucian dengan paksa, apa Pandu lupa. “Tentu saja ini anak mas Pandu,” kata Alisya dengan suara dingin dan datar tanpa harapan. Laki-laki itu tiba-tiba tertawa keras sekali. “Kamu jangan mengada-ada kita hanya melakukannya sekali, tak mungkin menghasilkan bayi.” “Aku tahu mas Pandu bukan orang bodoh,” kata Alisya memalingkan wajahnya lagi, sakit sekali hatinya saat Pandu menolak anak ini. “Hanya karena kamu iri pada Sekar yang sedang hamil anakku, kamu membuat sandiwara ini sungguh menjijikkan. Aku benar-benar tak menyangka kamu sebusuk itu.” Air mata Alisya lan
“Bantu saya bercerai dari putra anda, bukankah anda mengikat kami hanya karena kontrak itu?”“Kamu sedang tidak sehat dan tidak bisa berpikir jernih.” Laki-laki tua itu menggeleng menyembunyikan segala keterkejutannya, ditatapnya sang menantu dengan seksama. Wajah Alisya memang masih pucat tapi tekad yang dimatanya tak bisa dia sembunyikan, dan diam-diam Panji Wardhana ketakutan akan hal itu. Dia sudah mengatur semuanya sebaik mungkin untuk kebaikan keluarganya nyatanya, hati dan perasaan memang tak bisa dipaksakan. “Saya sangat sadar dengan apa yang saya ucapkan, jika ayah takut saya akan melakukan sesuatu yang buruk pada mas Pandu saya bersedia berjanji secara hukum tidak akan mengungkit masalah ini lagi.” Tiba-tiba sang ayah mertua tertawa pelan mendengar perkataan Alisya, laki-laki itu melangkah mendekati Alisya dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.“Apa kamu kira janji secara hukum bisa menghindarkan orang yang bersalah dari hukuman, Nak?” sejenak Alisya bingung den
“Aku akan membebaskanmu.” Keterkejutan melumuri diri Alisya, dia memang meminta ini semua tapi disaat yang bersamaan dia juga tidak rela akan berpisah dari Pandu. Perasaannya sungguh labil saat ini, tapi bukankah dia harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia mulai. Masih jelas dalam ingatananya bagaimana hari-harinya dulu sejak mengenal Pandu. Cinta membuat hidupnya yang selalu suram menjadi lebih berwarna dan tapi keindahan itu hanya fatamorgana setelah pernikahan mereka berlangsung. Alisya pernah sangat berharap mimpi indahnya itu suatu hari jadi kenyataan tapi sekarang semua pupus sudah. “Te-terima kasih,” kata Alisya dengan bibir bergetar. “Mungkin dengan begitu kamu tidak akan merasa tertekan lagi, tapi untuk menceraikanmu aku tidak bisa,” lanjut Pandu lirih. “Apa maksud, mas?” tanya Alisya cepat. Apa Pandu bermaksud mempermainkannya? Pandu mendongak dan menatap wajah cantik wanita di depanny
“Kalian akan membusuk dipenjara jika melakukan ini! ingat ini rumah sakit!” jerit Alisya, berusaha menganggalkan apapun yang ingin dilakukan dua orang ini padanya. Tidak dia tidak sudi melayani dua orang bejat ini, dia harus menyelamatkan diri dan anaknya. Dengan sekuat tenaga Alisya mendorong laki-laki yang sudah menindihnya. “Sialan!” umpat laki-laki itu saat jatuh dari tempat tidur dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Alisya dengan mengambil tiang infus dan memukulkannya pada siapapun yang berani mendekat, sambil mulutnya tak berhenti berteriak. Alisya tahu saat ini hanya sendirian dan mau tak mau harus mengandalkan kekuatannya sendiri untuk bisa lepas dari dua bajingan ini. “Mau kemana kamu!” salah satu dari mereka langsung menangkap lengan Alisya yang sudah sampai dekat pintu dan menyeretnya kasar membuat wanita itu menjerit kesakitan. “Alisya!” suara itu Alisya langsung menoleh itu suara Pandu. “To-!“Akan kubunuh kamu kalau bersuara!” tubuh Alisya didorong keras ke d
Suara Pram terdengar sangat geram saat menghubunginya. “Kamu memang bodoh, Lis. Apalagi yang kamu tunggu, kamu ingin jadi mayat baru keluar dari sana!” Alisya memejamkan matanya, dia tahu apa yang dikatakan Pram benar adanya, tapi tentu saja dia tidak bisa gegabah pergi begitu saja yang dia hadapi bukan orang sembarangan. Dalam hal kekayaan dan kekuasaan mungkin Pram setara dengan Pandu tapi, dia hanya orang lain untuk Pram bukan saudara atau orang yang patut dia bela hingga mengabaikan kemungkinan kekacauan yang akan terjadi antara kedua keluarga. Dari kedatangan Pram di pesta waktu itu dia bisa menarik kesimpulan kalau keluarga keduanya terikat hubungan bisnis yang saling menguntungkan. “Aku tahu, Pram. Maaf sudah membuatmu selalu khawatir.” “Ckk setelah kamu sehat lagi aku akan mebawamu pergi suka atau tidak suka!” kata Pram dengan tegas. Telinga Alisya sampai berdenging saat suara laki-laki itu melengking tinggi.
“Maaf! Maafkan aku.” Alisya menatap Pandu yang masih tertidur pulas. Dia kira selama ini dia yang paling menderita dalam hubungan pernikahan mereka. Alisya merasa Pandu yang dia kenal sebagai laki-laki yang baik telah berbuat jahat padanya. Menyakiti hatinya hingga tak berbentuk lagi, tapi dia salah mendengar gumaman penuh keputuasaan Pandu tadi malam, Alisya merasa dia yang memang harus mengalah dari kisah ini, dia tak seharusnya ada di antara mereka. Jalan takdirnya dengan Sekar memang selalu bersinggungan, dia memang sangat membenci Sekar karena peristiwa masa lalu mereka. Sekar wanita yang licik dan penuh tipu muslihat, tapi dia juga berhak bersama laki-laki yang dia cintai dan mencintainya. Apalagi mereka akan memiliki anak yang tentu saja sangat diharapkan kedua orang tuanya. Lagi pula Pandu bukan orang bodoh, dia pasti sudah tahu bagaimana sebenarnya Sekar, dan terbukti rasa cinta laki-laki itu tak juga pudar. Alisya tak perlu mengkhawatirkan laki-laki itu dia pasti bi
"Ras, apa memang tidak ada peluang aku dan kamu jadi kita?" Bukan jawaban yang Pramudya dapatkan tapi sang istri yang langsung tersedak kue yang baru saja dia masukkan mulut. Pram langsung kalang kabut membantu sang istri. Pram meringis merasa bersalah saat wajah sang istri memerah sampai mengeluarkan air mata. Salahnya sih yang bicara tanpa melihat situasi dulu."Kamu niat banget mau bunuh aku Pram."Pram langsung lega saat Laras kembali melotot judes padanya, artinya istrinya sudah baik-baik saja. "Syukurlah." "Apa!" "Maksudku syukurlah kamu sudah baik-baik saja." Astaga punya istri singa betina ternyata horor juga, padahal Laras lebih banyak makan kue manis dari pada daging mentah lho. "Sudah deh sana jauh-jauh aku mau makan, kalau kamu tetap disini kamu bisa-bisa jadi duda lebih cepat," omel Laras yang langsung mendorong tubuh Pram menjauh. Pram mengalah dengan duduk di depan televisi agak jauh dari sang istri, dia tidak mau mengganggu kekhusukan sang istri makan kue dan
"Sakit ya. Maaf biar aku obati tanganmu." Laras menarik tangannya. "Apa sih maksudmu?" "Nggak ada maksud apa-apa, kita pulang dulu." "Untunglah mbak Laras ketemu." Laras yang berjalan di samping Pram hanya bisa tersenyum tak enak hati, apalagi saat Pram menyahut. "Iya, Pak. Istri satu-satunya lagi, kalau ilang kemana lagi saya mau nyari." "Mas Pram bisa saja. Tapi mbak Laras baik-baik saja kan? apa orang tadi menyakiti mbak? maaf saya tidak banyak membantu?" Laras langsung menghentikan langkahnya dan menatap sang satpam yang terlihat sangat menyesal dengan apa yang terjadi padanya tadi. Apa yang akan satpam ini pikirkan kalau sebenarnya laki-laki kasar tadi adalah ayah kandungnya? "Mbak Laras?" tanya sang satpam lagi membuat Laras langsung sadar kalau dia tengah melamun. "Dia baik-baik saja, Pak. Kami kenal baik orang tadi kok," kata Pram sopan dan manis seperti biasa. "Oh begitu syukurlah. Maaf kalau saya salah sangka." Pram langsung merangkul bahu Alisya setelah berbasa-
"Wah ternyata di sini kamu tinggal, bagus sekali." Selama lima bulan menikah dengan Pram, Laras akui hidupnya sangat tenang. Dia tidak perlu khawatir pada ibunya, karena wanita yang telah melahirkannya itu sekarang pulang ke rumah kakek neneknya dan hidup bersama bibinya yang juga seorang janda. Dalam satu minggu Laras biasa menghubungi ibunya dua tiga kali dan mendengar suara wanita itu yang bersemangat dan raut wajah ceria menceritakan kehidupan sehari-harinya membuat Laras ikut bahagia.Mungkin seharusnya Laras dulu tidak menutupi perselingkuhan ayahnya, jadi mata ibunya akan lebih cepat terbuka, tapi dia tidak bisa terus menyesal yang penting sekarang semua sudah lebih baik.Pun dengan ayahnya yang tak lagi mengusiknya, mungkin uang dua milyar itu berhasil membuatnya hidup nyaman dan tak mengusiknya lagi. Awalnya...Saat pulang kerja tadi tiba-tiba sang ayah menghadangnya di depan gedung apartemen yang dia tempati. "Apa yang ayah lakukan di sini?" Jujur saja Laras malu dengan
Bagi Pram, Laras merupakan istri yang sangat ideal untuknya. Dan dia tentu saja tak berminat menjadikan pernikahannya hanya pernikahan kontrak saja seperti yang sering Laras bilang. Bagi Pram yang sangat mengagumi pernikahan orang tua Alisya tentu dia tidak akan mempermainkan sebuah pernikahan seperti ayahnya yang hobi kawin cerai. Meski tidak dia pungkiri kalau dia dulu sering gonta- ganti pacar. "Saya suka dengan kue besar bentuk mawar ini, mbak. Apa bisa saya ambil hari jum'at besok?" tanya Pram sambil mengamati contoh kue dengan senyum yang terkembang sempurna, membuat si mbak pelayan toko melongo melihat mahluk indah di depannya ini. "Mbak?" tanya Pram lagi karena tak ada jawaban. "Eh... I-iya, Pak baik bisa." "Bagus. Saya akan menjemput kuenya jam delapan malam." Pram keluar dari toko kue itu dengan wajah cerah, hari jumat adalah hari ulang tahun Laras, dia sudah memperhatikan sang istri selama beberapa bulan mereka hidup bersama dan dari sana dia tahu kalau sang istri s
"Mau kemana lagi setelah ini?" Pram menoleh pada Laras disampingnya, mereka harus mengakhiri pertemuannya dengan Alisya karena wanita itu harus menjemput putranya dari sekolah. "Tidak ada, kita pulang saja," kata Laras malas. Jawaban Pram tadi sungguh membuatnya badmood. "Karena dia pacarku saat aku ingin menikah, dan dulu dia wanita yang lembut dan terlihat sangat baik hati seperti ibu peri." Jujur sih, Laras tidak punya dendam pada wanita yang sekarang berstatus sebagai ibu mertuanya itu, meski wanita itu kerap kali mencari masalah dan menghinanya, tapi bagi Laras itu bukan masalah besar, anggap saja dia hanya tikus yang lewat di depannya. Akan tetapi mendengar pengakuan Pram, membuat dada Laras terasa sesak bahkan sejak tadi dia hanya menunduk berusaha menahan air matanya supaya tidak ada yang tahu, tapi sialnya Alisya tahu dan sempat berbisik sambil memeluknya tadi. "Maafkan aku bertanya begitu, tapi aku yakin hati Pram masih belum ada pemiliknya dan kamu harus berjua
Alisya tahu Pram sering gonta-ganti pacar dan tentu saja rata-rata mereka cantik dan seksi, tapi tidak ada dari mereka yang seberani wanita di depannya ini. Wanita ini bukan hanya sukses menjadi nyonya besar Setiadji, tapi sebelumnya membuat Pram berpikir untuk melangkah lebih jauh. Pertunangan, meski tidak ada pesta besar. "Aku tidak tahu kalau tante ada di sini. Biasalah, Tan anak muda sering hangout bareng teman," kata Laras sambil terkekeh pelan. Dia tahu, istri ayah mertuanya ini paling benci dipanggil tante olehnya karena merasa mereka seumuran. Laras tersenyum manis melihat kepalan tangan wanita di depannya, lalu wanita itu berjalan pergi dengan kesal. Laras rasanya ingin terbahak, dia tidak sudi ditindas wanita seperti istri ayah mertuanya itu. "Apa tidak masalah nanti?" Laras menoleh dan melihat Alisya yang menikmati kuenya dengan tenang sambil mengawasinya dengan seksama.Laras menatap Alisya sejenak lalu mengangkat bahunya acuh, sesungguhnya dia tak tahu, dia tadi h
Laras memang tidak memasak layaknya Alisya, tapi wanita itu bukan wanita manja penuntut dan pemarah. Meski kadang keras kepala tapi Laras sosok yang penurut dan yang pasti dia bisa membuat Pram nyaman di apartemennya yang sudah lama sepi. Menjahili Laras menjadi kebiasan baru yang sangat menyenangkan untuknya.Tak ada pembantu tetap di sini, hanya orang yang dia bayar untuk membersihkan dan mengurus baju mereka, tapi sejak ada Laras dia yang mengurus semua itu. Dalam urusan membersihkan apartemen Laras sangat detail, sehingga apartemennya selalu bersih dan tak pernah ada lagi barang yang tergeletak sembarangan. “Mau kemana?” Padahal biasanya pada hari libur seperti ini jika mereka tidak janjian keluar rumah, mereka akan menghabiskan waktu dengan nonton televisi sambil ngemil, tapi hari ini Laras sepertinya punya rencana tersendiri. “Aku ada janji sebentar.” “Dengan siapa? Kenapa kamu tidak izin padaku?” tanya Pram sambil menaikkan alisnya sombong. Laras kesal dong, dengan muka
“Kalau iya memangnya kenapa?” tanya Laras dengan tak kalah lantang membuat ibu tiri Pram itu terperangah kaget. “Memangnya kamu tidak, lihat tas dan baju kamu, itu pasti uang suamimu. Ckkk siapa di sini yang matre dan jalang.” Kali ini Laras sudah lebih siap saat tangan Clara mengayun akan menampar pipinya, dia langsung menangkap tangan wanita itu dan memutarnya dengan keras hingga terdorong ke belakang, sayangnya yang tidak Laras antisipasi wanita itu memilih jatub terjerembab di pelukan Pram. Pram yang dari tadi hanya melongo menikmati opera di depannya kaget dan refleks langsung memeluk pinggang Clara yang hampir jatuh. “Lihat, Pram. Istrimu dia sama sekali tidak ada hormat padaku, dia bahkan berani merayu papamu.” Wanita itu menangis sesenggukan di pelukan Pram, Laras yang tahu itu hanya modus dan si suaminya yang bego itu malah melihat sang ibu tiri dengan wajah bingung segera bertindak. “Bilang aku mau rayu papa, wong kamu yang gatel gih. Sana jauh-jauh jangan sampai badan
Laras menatap ponsel yang bergetar dengan gelisah. Nomer baru yang sama sekali tidak dia ketahui. Dulu mendapat telepon dari nomer baru adalah bencana untuknya, karena biasanya sang ayah yang meminjam ponsel entah siapa untuk menghubunginya dan meminta uang. Meski dia jarang memberikannya tapi sang ayah terlihat pantang menyerah dan tentu saja menggunakan sang ibu sebagai ancaman membuat Laras tak berkutik lagi. Tapi bukankah sang ayah punya banyak uang sekarang? Ataukah sudah habis di meja judi lagi? “Angkat, Ras. Berisik tahu,” gerutu teman di samping kubikelnya yang pasti terganggu. Laras meringis minta maaf, padahal dia sudah meminimalkan suaranya tapi mungkin telinga rekan kerjanya ini setara kelelawar. Tak ingin menimbulkan masalah lagi Laras mengangkat panggilan itu. “Akhirnya kamu mengangkat panggilan papa jug,” kata suara yang dikenali Laras di ujung sana. “Papa?” “Iya, Ras. Ini papa, baru kemarin kita bertemu masak kamu lupa dengan suara papa.” Lagi dan lagi, Lara