Setelah satu hari kemarin menghabiskan waktu bersama Agatha, dan acara terakhir Steve mengajaknya makan. Kini, Grace sudah berada di rumah. Wanita itu sejenak termenung berdiri di balik tirai tipis, memandang keluar jendela.Meskipun Grace baru saja bersenang-senang dan tertawa, tetapi pikiran Grace tak lekang dari sang anak yang berada di sana. Wanita itu terus memikirkan siapa sosok yang sedang mencarinya di Jerman. Sebab, orang tersebut menduga ia mempunyai suami simpanan, bukan anaknya—Leon."Sebenarnya apa yang diinginkannya? Siapa orangnya yang berpikiran begitu ..."Teka-teki ini terus bergelayut di kepalanya. Hingga akhirnya lamunan wanita itu lenyap karena dering telepon."Papi ...?" Grace tersentak membaca nama penelpon pada layar datarnya. "Kenapa, ya?"Wanita itu terus bergumam sebelum menerima panggilan tersebut. Karena tidak mungkin sang ayah mertua menghubunginya jika tidak ada urusan yang sangat mendesak.Hingga beberapa nada dering itu berbunyi ..."Hallo, Pi?" sapa G
Setelah permintaan Alexander terlontar, suasana di meja makan menjadi senyap, dan membuat Felly mengambil alih situasi. Wanita paruh baya itu mencolek lengan sang suami agar tidak melanjutkan pembicaraan tersebut, mengingat kondisi dan keadaan Chelsea serta Darren yang masih berada dalam ruangan itu."Sebaiknya kita bahas nanti saja Pi, kita selesaikan makan malam dulu," pinta Felly.Mendengar hal itu membuat hati Chelsea terasa pilu. Wanita itu lantas tertunduk dalam, sambil mengaduk-aduk makanannya yang tidak ia habiskan."Chelsea mau tambah daging, mami ambilkan ya?" Felly berusaha mengalihkan perhatian Chelsea."Tidak usah Mi, ini saja sudah cukup. Chelsea sudah kenyang."Darren yang mengerti keadaan sang istri lantas membuka suara. "Mau kuantar ke kamar, Chel?"Tawaran Darren sangat bermanfaat saat ini. Rasanya Chelsea ingin segera mengakhiri makan malam itu, menghindari semua orang yang ada di ruangan tersebut. Rasa tidak percaya diri dan penyesalan masih menggelayuti dalam diri
Max langsung tersentak saat Grace mendorong dadanya kuat. Pria itu seketika menatap tajam dengan rahang mengeras. Tidak terpikirkan oleh Max jika Grace sangat berani menolaknya."Grace?! Kenapa kau mendorongku?!"Tetapi berbeda dengan Grace, wanita itu justru menyunggingkan senyuman, kemudian berjalan mengitari pria itu. Dengan jemari telunjuknya, ia menggerayangi tubuh sang pria dengan suara mendesah, "Kau ingin permainan ini dimulai, kan?"Max terus mengikuti gerakan Grace yang mengelilingi dirinya. Ia bahkan tidak tau apa yang akan dilakukan sang wanita padanya. "Cepat, apa yang akan kau lakukan, Grace! Tidak usah membuatku menunggu!"Cup! Grace mengecup bibir Max sekilas kemudian mutar tubuhnya seolah sedang menari, memamerkan kemolekan tubuhnya. "Tunggu, Max ... Kau harus lebih bersabar mengikuti permainanku ini," ucap Grace dengan suara mendayu. "Kau pasti akan menyukainya nanti ..."Max semakin mengepalkan tangan, menahan rasa geram. Sementara Grace terus menari di depan pria
Berulang kali Grace menegaskan dirinya sendiri, ia harus bisa bersatu dengan Max sebanyak lima kali. Terlebih, ia sudah menghitung dimana tepat masa suburnya saat ini. Peluang inilah yang digunakan Grace agar Max bisa cepat membuahinya. Mengingat pesan dokter, Max dikatakan tidak sehat jika dalam 12 kali mereka berhubungan, Grace tidak juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. "Sekarang waktu yang tepat!" batin Grace menyeringai, melangkah membawa anggur dalam gelas. Sedangkan satu tangan lain memegang cemeti. "Kau harus menikmati malam ini, Max ... Rileks-kan dirimu." Kebinalan Grace ternyata membuat Max sangat ingin menarik tangan. Sorot matanya penuh dengan gairah. "Ayo kita main sebentar ..." Grace mencipratkan anggur ke tubuh Max bagian atas. "Kamu tidak akan menyesali permainan malam ini ...." Grace menaruh gelas itu di atas meja nakas, lalu merangkak seperti bayi ke atas pangkuan Max. Ia melonggarkan ikatan tangan, agar pria itu bisa terlentang. "Sekarang, aku bena
Setelah dari rumah sang ayah, Chelsea dan Darren kini sudah berada di rumahnya. Mobil pun berhenti tepat di halaman depan rumah tersebut. Dengan sigap Darren langsung membantu menurunkan kursi roda dan membantu sang istri pindah ke kursi roda itu. Sejak sang wanita mengalami kecelakaan, suasana di dalam rumah tersebut terasa dingin, membuat Darren menghentikan pergerakan kursi roda sang istri. "Chelsea ..." panggil Darren Chelsea yang hendak masuk ke kamar lebih dulu mendengar namanya disebut pun berhenti. Ia merasa ada sesuatu yang akan dikatakan suaminya. Seakan batinnya sudah bisa membaca apa yang akan diucapkan sang suami. Wanita itu bergeming sejenak, lalu menoleh, "Ada apa?" Darren menarik napas dalam, membuangnya panjang. Kemudian melangkah mendekati sang wanita. "Tidak ada. Aku hanya ingin mendorongmu." Pria itu sangat sedih dengan apa yang menimpa istrinya. Ia ingin menjadi pria yang berguna di saat Chelsea membutuhkannya. Namun, berbeda dengan Chelsea. Wanita itu just
Tidak ada yang berani mendekat ke kamar Chelsea meski pelayan sekalipun. Wanita itu terisak meratapi pilu yang menyesakkan dadanya. Terbesit rasanya ingin mengakhiri semua ini. Namun, nada dering dari gawainya berbunyi. Terlihat nama sang sekretaris di layar itu.Chelsea berusaha menghentikan isakannya, menarik nafas dalam. Ia tidak ingin semua tahu tentang kegelisahannya, terlebih orang orang yang berada di perusahaan. "Ada apa?" tanya Chelsea mengendalikan tekanan suara agar terlihat normal."Begini Nyonya, ada tamu dari Mexico mencari Anda di kantor," jawab sang sekretaris."Mexico?" Chelsea mengerutkan dahi. "Apa kita bekerja sama dengannya? Kurasa aku tidak memiliki janji dengannya, Nora.""Ehm, benar. Kita tidak ada hubungan bisnis dengannya, tapi beliau mengatakan sahabat Anda.""Haaa ..., sahabatku? Siapa?""Daniel.""Apa? Daniel?" Chelsea terkesiap. "Tidak, Nora. Katakan saja aku sedang di luar negeri! Pokoknya jangan katakan apapun tentang keadaanku," sambung Chelsea tegas.
Setelah terdiam beberapa saat di lorong rumah sakit, Chelsea mengusap kasar air matanya, membersihkan sisa-sisa buliran bening yang membasahi pipi. Ia menarik napas dalam, membuangnya panjang sebelum kembali mendatangi Kenan. Chelsea bisa melihat Kenan masih setia menunggunya di dekat mobil miliknya. Kenan juga tampaknya sangat pekerja keras dalam melayani dirinya. "Aku sudah selesai, Ken!" Chelsea kini berada di belakang pria itu. Kenan sontak berbalik badan, mengangguk, "Baik, Nyonya. Kita pulang sekarang?" Chelsea menggeleng. "Apa ada tujuan lagi setelah ini?" "Kita mampir ke apotik sebentar," balas Chelsea. Setelah mendapat jawaban dari sang CEO. Kenan selalu sigap memegangi kursi roda Chelsea, saat wanita itu harus berpindah dari kursi rodanya ke dalam mobil. "Cari apotek sepanjang jalan saja, Ken," titah Chelsea yang diangguki Kenan. Pria itu langsung menginjak pedal gas dan mengemudi dengan kecepatan rata-rata. Sebab, ia juga harus mencari apotik di sepanjang
Setelah mengadakan rapat pagi di kantornya, Darren putuskan untuk pulang, sekaligus ingin melihat keadaan sang istri. Kejadian yang baru saja terjadi pada Chelsea, terlihat oleh Darren. Pria itu kembali lagi ke rumah karena ia tidak bisa fokus di ruang kerja kantornya.Namun, pemandangan tidak mengenakkan baru saja terjadi di depan matanya. Matanya sedikit memanas kala melihat Chelsea berada di tangan seorang pria. Entah, Darren bisa menduga jika itu supir baru istrinya. Tetapi, yang membuat hati ya bergemuruh hebat adalah posisi Chelsea yang membuat pria itu terbakar api cemburu."Apa itu tadi?" sergah Darren langsung mengambil alih tubuh Chelsea kemudian menggendongnya. Kenan seketika tertunduk, mundur beberapa langkah. "Apa yang sedang kamu lakukan, hah?!" bentak Darren menatap tidak suka.Kenan semakin serba salah apabila tidak menjawab pertanyaan Darren. Ia patut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Maaf, Tu—"Akan tetapi, ucapan Kenan terpotong oleh Chelsea yang menyelany
Sudah hampir satu bulan sejak Chelsea mulai melakukan pencarian terhadap suaminya secara mandiri. Meskipun pihak kepolisian Jerman sudah menutup kasus kecelakaan ini. Pencarian polisi berakhir, bersamaan dengan ditutupnya kasus itu dan menyatakan dua orang sebagai korban. "Kenapa harus berakhir dengan begini, Ken ..." Chelsea meratapi di tempat kejadian sebelum mobil Kenan masuk ke jurang. "Kembalikan suamiku wahai alam. Kembalikan dia meskipun itu hanya abu atau tulang belulangnya ... Ijinkan aku memeluknya sekali lagi. Aku tidak akan marah padamu. Bagaimana aku bisa marah, kalau kau adalah rumah suamiku sekarang, selamanya ...." Wanita itu bahkan tidak kuasa menahan isak tangis. Setiap hari, ia tak kenal lelah, menyerahkan segalanya untuk mencari keberadaan Kenan. "Maaf, Nyonya." Suara Christ yang tiba-tiba pun tidak menghentikan isakan Chelsea. Sang asisten yang telah setia membantu, bersama dengan beberapa orang yang dikerahkan untuk mencari, sudah melakukan segala cara
Kelopak bulu mata lentik membuka matanya perlahan, samar-samar cahaya matahari menembus tirai jendela.Pusingnya pun masih terasa, dan tubuhnya juga masih lemah, namun Grace mencoba mengingat apa yang terjadi. Semua kenangan tentang operasi dan masa koma itu kabur, tapi ada satu hal yang sangat jelas di pikirannya. Anak laki-lakinya, Leon."Ergghhh ..." Grace memegangi kepalanya yang masih berdenyut.Dengan susah payah, ia mengangkat tubuhnya dan menoleh ke sekeliling ruangan. Namun, tak ada siapapun di sana. Kosong!"Apa aku masih hidup?" Grace sendiri hampir tidak percaya dirinya masih bernyawa. Kemudian mengusap perutnya yang seakan tidak ada apa-apa. "Ke mana bayiku?" tanyanya kebingungan, entah pada siapa.Wanita itu lantas menoleh. Di sana, di ranjang yang terpisah, Leon sedang tertidur pulas. Wajah kecilnya tampak damai, meskipun di hati Grace, ada kekhawatiran yang menggantung."Leon, Mommy b
Reaksi Brian membuat Max menarik paksa hasil tes kesehatannya. Pria itu dinyatakan cocok menjadi pendonor tulang sumsum untuk Leon.Dengan wajah binar, Max langsung bangkit dari duduknya. "Ayo cepat, ke mana aku harus pergi, Brian!" "Ayo! Aku juga sudah tidak sabar menunggu waktu ini!" Brian langsung bangkit dari duduknya, kemudian melangkah keluar yang diikuti Max.Setelah kurang lebih satu jam proses pengambilan sel tulang sumsum Max, petugas Laboratorium mulai memprosesnya.Max keluar dari ruang periksa dengan langkah yang sedikit terhuyung. Udara dingin di ruang rumah sakit tak bisa mengurangi rasa lega yang perlahan merayap dalam dirinya. "Apapun yang terjadi, Daddy akan berusaha segala cara Leon," tekad Max lirih.Meski perasaan berat masih menggantung, setidaknya ia tahu bahwa tulang sumsum yang baru saja didonorkan untuk Leon, memiliki peluang besar untuk menyelamatkan hidupnya. Hasil tes genetik men
Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu bergerak pelan. Aroma desinfektan membuat Chelsea sadar seketika. Kepala terasa berat, tubuhnya lelah, dan rasa sakit mulai merayapi seluruh tubuhnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Kenaann ..." Ia berharap semua yang baru saja ia lihat adalah sebuah mimpi. Namun, sayangnya itu adalah hal nyata yang baru saja dialaminya. Chelsea melihat bekas tanah yang terdapat di sela-sela pada kuku-kuku. "Ini bukan mimpi ..." ratapnya menahan isak. Melihat sang Nyonya sudah sadar, Christ mendekati Chelsea yang terbaring di atas brankar rumah sakit. "Apa yang Anda rasakan, Nyonya?" tanyanya. Chelsea menatap asisten sang kakak, "Katakan kalau semua ini hanya mimpi kan, Christ?" Chelsea berharap asisten itu menggeleng, namun nyatanya Christ menggangguk, hatinya tahu bahwa ini semua kenyataan.
Kegelapan langit malam berubah merah menyala karena ledakan mobil Kenan yang masuk ke jurang. Serpihan body mobil pun berterbangan hingga menjadi bagian terkecil. Semua orang mengalihkan wajah, menutup mata dengan lengan masing-masing. "Tidak Keennn ..." Chelsea meratapi terduduk di atas tanah. Tatapannya kosong pada nyala api di angkasa. Arthur memegang pundak Chelsea, menguatkan wanita itu, "Semua akan baik-baik saja, Chel. Kenan pasti selamat ..." Meski sejujurnya Arthur juga ragu akan ucapannya. Jurang dan ledakan sebesar itu mana mungkin tidak menghancurkan tubuh seseorang. Christ berlari ke tepian jurang, lalu menatap ke bawah. Namun, tak ada siapapun di sana. Hanya ada pecahan puing yang berserakan dan masih menyisakan bara api yang berkobar. Kemudian ia berbalik badan lalu menggeleng lirih. Isyarat Christ semakin membuat Chelsea semakin histeris. "Tidak! Kembali padaku Kenaannn ...!" Tangisan Chelsea yang terdengar pilu makin tak terkendali, hingga tiba-tiba semu
Setibanya di basecamp yang tersembunyi, Chelsea merasa ada sesuatu yang sangat salah. Tempat itu sangat kacau dan suasana mencekam memenuhi udara. "Apa ini tempatnya, Arthur?" tanya Chelsea penuh keraguan. "Hm, benar ini tempatnya." Belum juga kedua mata Chelsea memindai tempat itu, tiba-tiba ... Brak! Freya dan Kenan keluar dari bangunan sepi dengan pencahayaan minim. Meski demikian, sorot mata Chelsea mampu menangkap siluet bayangan sang suami. "Kenan ...?!" Chelsea hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seruan Chelsea ternyata mampu mengalihkan perhatian kedua orang itu, terutama Kenan. Ia lebih terkejut saat melihat Chelsea juga berada di sekitar tempat itu. Area yang tidak sebaiknya dituju. Namun, di balik semua rasa takut dan kecemasan Chelsea, hatinya semakin teriris saat kenyataan yang lebih pahit terbuka di hadapannya. Di sana, di tengah kekacauan, dia melihat Kenan—dengan jelas berdiri di sisi Freya. Sekarang tampak seperti musuh yang berdiri di samp
Grace dengan suara penuh amarah, "Kenan! Kau datang kemari hanya untuk jadi pengkhianat! Tidak tahu malu!" Berdiri tegak, Kenan menatap Grace dengan dingin, "Aku memilih sisi yang benar, Grace. Ini bukan tentang kamu atau aku lagi, ini tentang apa yang seharusnya terjadi." Grace tertawa sinis, "Cih! Sisi yang benar? Kau menjual dirimu kepada Freya, itu yang kamu sebut benar? Jangan lebih rendah dari itu, Ken!" "Aku tidak membutuhkan pembenaran darimu, Grace. Semua ini sudah berjalan terlalu jauh. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang." Freya, yang sejak tadi diam dan menyaksikan percakapan itu, akhirnya berbicara dengan suara penuh kebencian. Grace tertawa remeh pada Freya, seolah mengejek wanita ular itu. "Apapun yang kau lakukan, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Karena kau tidak pernah dicintai sampai mati! Kau tak akan pernah tau apa itu cinta!" ucapnya penuh penekanan, "kasihan sekali!" Suasana di antara kedua wanita itu semakin mencekam. Freya ingin seka
Max tampak berjalan mondar-mandir di ruang kantor yang gelap, ekspresinya tegang dan penuh amarah. Matanya yang tajam menatap beberapa anak buah Christ yang berdiri cemas di hadapannya."Bagaimana bisa kalian belum menemukan lokasi Freya?!" bentaknya, suaranya keras dan penuh amarah. "Kalian cuma membuang-buang waktu! Ini sudah terlalu lama, aku ingin jawaban sekarang!"Anak buah Christ, yang satu bernama Markus dan yang satunya lagi disebut Simon saling pandang, tampak bingung dan tertekan."Ma-Maaf, Tuan ... kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami belum menemukan petunjuk pasti," jawab Markus, suaranya terbata-bata.Max menggeram, berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan mereka. "Berusaha? Itu bukan jawaban yang aku cari! Jika kalian tidak bisa melaksanakan perintah sederhana ini, lebih baik aku cari orang lain yang bisa!"Simon mencoba menenangkan situasi. "Kami benar-benar sudah berusaha, Tuan. Kami akan terus menca
Kenan terlihat tegang, tapi mencoba menurunkan egonya. "Freya, aku tahu aku salah. Aku tidak mencari pembenaran. Aku hanya ingin tahu di mana basecamp-mu. Aku punya rencana ... rencana untuk melancarkan keinginanmu." Namun, diam-diam, tanpa melibatkan siapa pun. Kenan akan pastikan akan membebaskan Grace. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menebus semua kesalahan." Mendengar ketulusan Kenan, dan betapa pria itu juga memenuhi keinginannya mendapatkan lokasi Grace, Freya terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya. "Kau tidak akan menjadi pengkhianat di dalam basecamp-ku, kan?" "Kau bisa percaya padaku, Freya. Aku akan lakukan apa saja untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Kau akan dapatkan semua yang kau inginkan." Dalam hati Freya melewati banyak perdebatan. Kemudian suara Freya berubah, sedikit lebih lembut. "Baiklah, aku beri kau satu kesempatan lagi. Basecamp-ku ada di kawasan Charlottenburg, dekat Stasiun Zoologischer Garten. Tapi ingat, Kenan. Satu langkah s