Azura menatap lurus layar laptop yang Gavin pinjamkan kepadanya. Meski pandangan matanya hanya menuju ke satu titik, tapi fokusnya terbagi ke beberapa hal. Mulai dari menyesap rasa kehilangan atas kematian kedua orang tuanya, rasa lelah atas pelariannya dari Riki, dan kini harus kuat berdiri di atas kakinya sendiri.Ada banyak hal yang cukup mengacaukan pikirannya. Meski begitu, Azura terus berucap pada dirinya sendiri kalau dia harus kembali menjalani hidup. Bagaimanapun kondisinya, Azura tetap harus bekerja."Berurusan dengan hukum membutuhkan uang yang nggak sedikit," monolog Azura.Azura memutuskan untuk menjadi freelancer. Meski tak kemana-mana, Azura masih bisa menjadi translator, copy writer, content writer, dan penulis lepas di beberapa platform fiksi dan non-fiksi. Jadi, walaupun dua puluh empat jam terkurung di ruangan seluas 6x6, Azura tetap bisa memiliki pendapatan.Huruf demi huruf, Azura rangkai satu per satu. Jari-jarinya menari di atas keyboard, menciptakan dunia baru
Azura bukan wanita yang kebal dengan godaan cinta dan perasaan sejenisnya. Terlebih lagi, itu datang dari lelaki yang sejak dulu dia impikan dan dambakan. Sekuat hati dia mencoba untuk tidak semudah itu luluh. Namun, wanita mana yang tidak melunak saat terus-menerus disuguhkan pada kebaikan, kasih sayang, perhatian, dan kelembutan."Makan dulu," ucap Gavin yang lantas duduk di sisi samping meja."Kamu benar-benar memasaknya sendiri?" tanya Azura yang masih ragu."Sejak satu jam yang lalu, aku udah berdiri di dapurmu. Dan kamu masih nggak percaya?"Azura tertawa. Sedikit aneh rasanya saat mendapati lelaki maskulin sepertinya ternyata cukup ramah dengan peralatan memasak. Bahkan, Azura masih terperangah saat melihat dua piring makanan yang tertata dengan cukup indah.Sebenarnya ini hanya hidangan sederhana. Ada beberapa slices beef yang dipadukan dengan telur, dua jamur utuh, toast, dan tomat. Namun, Azura harus mengakui kalau hidangan ini cukup menggugah."Well, aku nggak bisa masak ma
"Ra, apa Gavin sama kamu?"Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Laura, tepat saat Azura mengangkat telepon. Biasanya, Laura mengawali perbincangan dengan sapaan ringan atau tentang informasi penting mengenai kasus yang sedang dia kerjakan. Namun, kali ini berbeda. Laura justru langsung menanyakan keberadaan Gavin."Iya, dia ada di sini," jawab Azura."Sejak kapan?""Sejak pagi tadi," jawab Azura. "Perlu aku bangunkan? Dia sedang tidur.""Tidur?"Mendengar perubahan nada suara Laura, napas Azura lantas terhenti. Dia baru sadar kalau ucapannya seolah menjurus ke hal yang tidak-tidak. Padahal, Azura berani bersumpah tak ada yang terjadi di antara mereka.Maksudnya, pagi ini. Maksudnya, bukan hari hari kemarin, dan bukan pula malam malam kemarin. Pagi ini, memang tidak ada yang terjadi di antara Gavin dan Azura. Lelaki itu hanya sekedar tidur. Itu saja. "Jangan salah paham dulu. Tadi Gavin nggak sengaja tertidur di sofaku. Katanya, semalam dia harus mengerjakan draft untuk client
Sebenarnya, ini adalah hari yang indah. Azura mendapat kabar tentang kemajuan kasus hukumnya, lalu dia juga baru saja menerima bayaran cukup besar dari hasil kerjanya selama beberapa bulan. Meski begitu, hatinya tetap saja diliputi kegundahan.Segala hal tentang Gavin menjadi kian rumit. Azura sudah mulai bergerak mundur. Namun, Gavin justru semakin mendekatinya. Sialnya, terlalu sulit bagi Azura untuk menolak semua yang Gavin suguhkan."Hello, my sunset," sapa Gavin dari arah pintu.Azura menoleh, lalu tersenyum tipis. Belakangan ini, Gavin memang sering memanggilnya dengan sebutan-sebutan aneh, tapi manis. Azura sudah meminta Gavin agar lebih baik menggunakan namanya saja. Namun, lelaki keras kepala itu selalu punya alasan untuk mempertahankan sesuatu yang dia mau.Seperti halnya saat ini. Gavin menyamakan keindahan matahari tenggelam dengan sosok Azura yang menurutnya sama-sama bernuansa jingga. Azura tidak paham betul mengapa Gavin menyebutnya sewarna jingga. Lelaki itu hanya menj
"Sepertinya kamu mulai dicurigai oleh Riki," ucap Laura kepada Gavin."Mungkin.""Dan kamu masih mau menemui Azura?" Suara Laura terdengar penuh dengan kekhawatiran. "Kamu harus menjauh dari Azura, setidaknya untuk sementara waktu."Gavin mengerti kekhawatiran Laura. Namun, dia benar-benar tidak bisa meninggalkan Azura sendirian. Ibarat kata, Azura sedang menghadapi badai, dan Gavin berpikir kalau Azura akan menjadi lebih kuat kalau ada seseorang yang menggenggam tangannya.Selain itu, Gavin juga sudah terbiasa mengisi hari-harinya dengan kebersamaan mereka. Rasanya tak rela jika waktunya harus dihabiskan tanpa melihat wajah Azura. Meski hanya beberapa jam dalam satu hari, tapi bagi Gavin, itu sangat berarti.Lalu, ada satu lagi alasan terbesar yang tidak mungkin Gavin katakan pada Laura. Ini tentang perasaan yang diam-diam mulai tumbuh, bahkan telah berkembang. Orang bilang, hati manusia tidak mungkin bisa mencintai dua orang sekaligus. Namun, Gavin tidak menemukan kata lain yang bis
Di sebuah ruangan besar dengan jendela-jendela lebar, Riki sedang berdiri memandangi jalanan kota. Dia tahu bahwa waktunya tidak banyak. Investigasi yang dipimpin Laura semakin menekan, dan bukti-bukti mulai terkuak ke permukaan. Dengan marah, dia memukul meja, membuat beberapa berkas terjatuh."Kita harus segera menemukan Azura." Riki berbicara dengan nada tegas kepada anak buahnya yang berkumpul di ruangan itu. "Jika dia berhasil bersaksi, kita semua akan habis."Dengan wajah tegang dan penuh rasa takut, anak buah Riki mengangguk. Mereka tahu bahwa bos mereka tidak main-main. Setiap perintah harus dilaksanakan dengan cepat dan tepat."Saya sudah menyebar orang-orang di beberapa tempat yang mungkin dia datangi," kata salah satu dari mereka. "Kami juga memantau setiap pergerakan yang mencurigakan.""Apa hasilnya?""Masih belum kami temukan." Dia menjawab seraya menundukkan kepala.Riki spontan melempar lembar kertas di hadapannya. Berkas laporan lokasi tidaklah berarti. Riki tak butuh
'Aku ingin kamu jujur sama Azura kalau kita berdua sudah bertunangan.'Satu-satunya permintaan dari Laura terus terngiang di kepala. Gavin mengerti kalau pengakuan ini pasti akan sangat terasa berat. Namun, sepertinya memang sudah saatnya bagi Gavin untuk mengambil keputusan."I'm so sorry, Azura," lirih Gavin seorang diri.Gavin sudah tidak nyaman dengan hatinya yang terus dilanda kegelisahan. Ketidakjujuran nyatanya benar-benar membuat semuanya kacau. Tak bisa lebih lama lagi menutupi hubungannya dengan Laura, Gavin akhirnya bertekad membuka semua kepada Azura.Mempertahankan hubungannya dengan Laura adalah keputusan yang mau tak mau harus Gavin ambil. Meski rasa sayangnya kepada Azura semakin terasa nyata, tapi Gavin tidak mungkin sanggup menyakiti Laura lebih banyak lagi. Sudah saatnya Azura tahu kalau Laura sebenarnya adalah wanita yang akan menjadi istrinya.Aku telah berdosa karena sempat berpikir kalau Azura akan memiliki masa depan denganku, ucap Gavin dalam hati.Jalanan mas
Rasanya mendebarkan, tapi Azura sangat bersemangat saat pada akhirnya dia bisa keluar dari flat miliknya. Setelah berbulan-bulan bersembunyi, Azura akhirnya bisa menghirup udara bebas. Ya, bebas.Azura tak perlu lagi takut akan ancaman dari Riki dan keluarganya. Pra peradilan telah berjalan, dan mereka semua sudah diamankan. Ini benar-benar menjadi hari yang bersejarah bagi Azura. Keberanian dan tekad yang dia kumpulkan selama ini akhirnya membuahkan hasil."Papa, Mama, kita semakin dekat dengan keadilan," ucap Azura seraya menatap pantulan diri dari kaca.Perasaannya bercampur antara lega, bahagia, dan sedikit cemas. Namun, satu hal yang pasti, hidupnya terasa sedikit lebih ringan. Memang belum berhasil sepenuhnya. Masih ada proses persidangan yang akan berlangsung selama berbulan-bulan. Namun, setidaknya Azura sudah melepas sedikit beban yang dia tanggung."Ra, kita jadi ketemu?"Suara Gavin mengalun merdu saat Azura mengangkat telepon darinya. Biasanya mereka hanya bersua di dalam
Azura tak ingat kapan terakhir kali dirinya merasa begitu lelah. Bukan sekadar kelelahan fisik, tapi sesuatu yang lebih dalam. Seperti tersesat di tempat yang seharusnya familiar, mencari seseorang yang seharusnya mudah ditemukan, tapi semakin dikejar, semakin jauh bayangannya.Tentu ada seberkas rasa ingin menyerah. Hari-hari yang selama ini Azura lewati bukanlah masa yang mudah. Untungnya, Azura masih menemukan satu nama yang mungkin bisa membantunya bangun dari kubangan lumpur.Laura datang. Langkahnya mantap dan cepat. Mantel panjangnya berkibar tertiup angin, menampakkan tubuh yang tampak lebih berisi. Di sebelahnya, David berjalan lebih pelan sambil mendorong stroller bayi."Azura." Suara Laura pelan, nyaris tenggelam dalam kebisuan.Sejenak, mereka hanya berdiri berhadapan. Dua orang yang dulu saling terikat dalam simpul yang rumit, kini kembali bertemu dalam keadaan yang sama sekali berbeda."Kamu baik-baik saja?" tanya Laura. Dia sadar kalau itu adalah pertanyaan bodoh yang t
"Azura? Itu kamu, 'kan?"Tidak ada sapaan terburu-buru. Nada suara Laura memang terdengar terkejut. Mungkin dia tidak menyangka kalau Azura tiba-tiba menghubunginya. Namun, kalimat kedua darinya sudah meluncur dengan lebih tenang."Ra? Are you there?""Iya, ini aku," timpal Azura. "Hai, Laura."Azura menutup mata sejenak, meresapi kenyataan bahwa akhirnya mereka berbicara lagi setelah sekian lama tidak ada kontak. Ada perasaan aneh di dadanya. Bukan hanya canggung, tapi juga sedikit rindu.Laura pernah menjadi cahaya di tengah kegelapan yang hampir menelan Azura. Sebagai seorang pengacara, Laura tidak hanya menyelamatkan hidupnya dalam arti hukum, tapi juga dalam makna yang lebih dalam. Wanita itu pernah berhasil membebaskan Azura dari jerat yang hampir membunuh dirinya. Azura mengingat hari itu dengan jelas, bagaimana Laura berdiri di depan, berani melawan badai yang nyaris meruntuhkan.Hubungan mereka pun tidak sesederhana itu. Selain interaksi profesional antara klien dan pengacara
Azura masih diam pada pijak yang sama.Ada sesuatu.Bahu dan tengkuknya menegang. Bukan karena lelah, tapi lebih seperti ada sesuatu yang menariknya. Kepalanya seolah dipaksa untuk tetap menoleh ke lantai dua.Sejak beberapa detik yang lalu, ruangan itu sudah gelap. Cahaya dari luar hanya menyisakan kilasan samar di balik kaca besar. Semua kosong. Tak ada siapa pun.Namun, … tunggu dulu. Masih ada seseorang di atas sana.Azura menajamkan pandangan, tapi gelap di sana terlalu pekat. Sosok lelaki itu terbungkus dalam siluet yang buram. Namun, meski samar, Azura tetap bisa mengenalinya. Cara lelaki itu berdiri, garis bahunya yang kokoh, kemiringan kepalanya, dan satu tangannya yang diselipkan ke dalam saku, semua terasa begitu akrab."Gavin?" Azura berbisik pada dirinya sendiri.Udara yang semula bisa Azura hirup dengan bebas, kini berubah jadi beban yang menghimpit. Sebelum dia bisa mencari kepastian, sebelum otaknya mampu memproses lebih jauh, sosok itu lantas bergerak. Tak sampai tiga
Lobi kantor terlihat luas dengan pencahayaan hangat, kontras dengan area luar yang dingin dan cenderung abu-abu. Lantainya mengkilap, memantulkan bayangan tubuh Azura yang tampak kecil dan semakin kerdil. Udara di ruangan itu sejuk, tapi bukannya menenangkan, malah terasa asing dan tak bersahabat.Suara sepatu hak tinggi yang berdetak pelan di lantai marmer, suara ponsel yang bergetar, dan dentingan keyboard dari meja resepsionis membentuk simfoni kesibukan yang tidak berkesudahan. Tidak ada yang memedulikan Azura. Tidak ada yang memperhatikannya. Azura benar-benar hanyalah seorang pendatang tanpa identitas.Tenggorokannya terasa kering, kakinya sedikit gemetar, tapi tekad memaksa Azura untuk tetap tegak. Jemarinya mencengkeram tas, seolah mencari pegangan di tengah lautan ketidakpastian. Napasnya berat, tapi dia menolaknya menjadi tanda kelemahan. Dia sudah terlalu jauh untuk berbalik. Entah apa yang menantinya di depan, satu-satunya pilihan adalah melangkah."Permisi, saya mencari G
Warna langit begitu pekat, tanpa bintang, pun tanpa bulan. Hanya sayap pesawat yang sesekali berkilat terkena cahaya dari dalam kabin. Azura duduk diam, mencoba berpikir. Sialnya, dia seolah tidak diizinkan untuk memutar otak.Pesawat terus berguncang. Bahkan, lebih kencang dari sebelumnya. Azura menutup rapat kedua mata karena baru pertama kali mengalami turbulensi semengerikan ini. Napasnya tertahan di tenggorokan. Getaran itu merayap dari sandaran kursi hingga ke tulang belakang. Setiap gerak seolah sedang mengingatkan bahwa Azura sedang melayang di udara, menggantung di antara negara yang dia tinggalkan dan negara yang belum tentu menyambutnya.'Gila! Apa aku benar-benar sedang melakukan ini?' batin Azura dalan hati.Azura tidak tahu apakah kepergiannya ini merupakan keberanian atau kebodohan. Tidak ada yang bisa memastikan apakah Gavin masih di sana, apakah dia baik-baik saja, atau apakah dia benar-benar menginginkan Azura datang.Layar ponsel menampakkan itinerary yang dulu Gav
Langit tampak kelabu, tapi hati Azura jauh lebih suram dari warna di luar jendela. Dia duduk di tepi ranjang, meremas selimut dengan tangan gemetar. Dadanya terasa sesak, seakan ada sesuatu yang mendesak, menekannya untuk bertindak. Namun, harus ke mana? Azura bahkan tidak tahu akan memulai dari mana.Gavin masih menghilang. Sudah berapa lama? Azura tidak lagi bisa menghitung. Pesan-pesan yang dia kirim tetap tanpa balasan. Panggilan teleponnya selalu berujung pada nada sambung yang menyebalkan.Azura mencoba mencari tahu tentang Edinburgh, kota yang bahkan belum pernah dia injak. Namun, nihil. Dia tidak mengenal siapa pun di sana. Tidak ada satu pun nama atau alamat yang bisa membantunya menemukan Gavin."How did it come to this?" monolog Azura Matanya memanas, tapi dia berusaha menahan diri. Ini bukan saatnya untuk menangis. Dia harus melakukan sesuatu, apa pun itu.Memesan tiket ke Edinburgh tanpa tujuan jelas, lalu mencari Gavin tanpa petunjuk sama sekali, mungkin itu akan terden
Azura berdiri di tengah lorong panjang yang suram. Dinding batu tua yang berlumut dan lembap mengapitnya. Cahaya remang menyorot ke arah jalanan licin. Bau tanah basah bercampur dengan bau sesuatu yang lebih tajam. Azura mengernyit sambil merapatkan jemari pada hidung. Ini seperti bau karat yang menyengat. Perutnya kemudian mendadak mual saat menyadari kalau yang dia cium adalah darah.Ingin menjerit, tapi suaranya tertahan. Azura tidak bisa berbicara, persis seperti seseorang yang sedang mengalami ketindihan. Alhasil, sambil menahan sesak, Azura hanya bisa mengamati sekitar.Matanya yang nanar berkedip beberapa kali demi menajamkan pandangan. Azura yakin belum pernah menginjak tempat ini. Dilihat dari bentuk bangunannya, ini bukanlah Yogyakarta, pun bukan Indonesia.Area sekitar yang semula buram, kini mulai tampak lebih jelas. Semakin lama mengamati, akhirnya Azura bisa mengenali tempat ini.Edinburgh.Sayangnya, ini bukan Edinburgh yang terang dengan kastil megah dan festival yang
Gavin telah pergi. Benar-benar pergi. Dan ini bukan mimpi.Pagi tadi, di bandara, Azura masih bisa merasakan genggaman tangan Gavin. Namun, kini, dia hanya bisa menggenggam udara. Rindu ini terlalu dini. Kesepian ini terlalu tajam untuk dirasakan.Hening menjadi lebih menusuk dari biasanya. Tidak ada suara langkah kaki Gavin, tidak ada pula suara khasnya yang selalu memanggil dengan berbagai sebutan sayang. Azura hanya bisa mendengar kekosongan yang bergaung di pikirannya sendiri.'Aku akan mengabari kamu setiap hari, Sayang.' Itu kata terakhir dari Gavin yang Azura jadikan sebagai penguat.Sejak Gavin pergi, waktu berjalan lebih lambat. Azura sudah mencoba menyibukkan diri. Mulai dari menulis, membaca buku, menonton film, dan bekerja hingga dini hari. Namun, pikirannya selalu kembali pada satu nama, Gavin.Mereka tentu selalu saling bertukar kabar. Meski hanya hal sederhana seperti keluhan Gavin mengenai Edinburgh yang terasa jauh lebih dingin, tapi hal itu sudah sedikit membuat Azur
Suara announcer menggema di langit-langit bandara. Derap langkah tergesa berpadu dengan percakapan yang menyesakkan. Gavin terus menggenggam tangan Azura erat, seolah enggan melepaskan."Sayang." Suara Gavin lebih pelan dari biasanya, hampir tertelan dalam hiruk-pikuk sekitar. Tatapannya penuh dengan sesuatu yang tidak terucapkan. Jika ditelisik lebih dalam, sorot mata itu menggambarkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perpisahan singkat.Azura menelan ludah, mencoba mengabaikan benak yang penat. "Kamu yakin nggak bisa menundanya?" tanya Azura, meski sudah tahu jawaban yang akan diterima.Gavin menggeleng, menyesap napas dalam. "Aku ingin tetap di sini, Azura. Kamu tahu itu," gumamnya. "Tapi ini sesuatu yang nggak bisa aku tunda. Pekerjaan ini sangat mendesak."Azura mengangguk kecil. Dia tahu Gavin tidak akan pergi jika tidak ada alasan yang benar-benar penting. Namun, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal. Azura masih memiliki sederet pertanyaan yang menggantung tanpa jaw