Pria itu tinggi dan mengenakan jaket coklat. Memakai kacamata tebal dan rambutnya sedikit berantakan, tetapi wajahnya menyiratkan ketegasan yang sulit diabaikan.
Jean mengerutkan kening. Ia tidak mengenalnya, tetapi firasatnya mengatakan bahwa pria ini bukan sekadar orang biasa yang kebetulan lewat.
Sedikit mencurigakan.
Di sisi lain, Bob—juga tengah mengamati Jean. Ia datang ke tempat ini berdasarkan informasi yang diberikan oleh detektif khusus yang ia sewa. Sesuai perintah Yama, ia harus turun tangan langsung mencari keberadaan Dea.
Bob melangkah mendekat dengan sikap waspada. Jean sudah berada di anak tangga paling bawah, tinggal satu langkah lagi, tetapi Bob menghalangi jalannya.
Saat ini, dia berhadapan dengan Bob sehingga tubuh mereka hampir sama tinggi.
"Permisi, apakah Anda mengenal seseorang bernama Dea?"
Jean sedikit terkejut, degup jantungnya mulai tidak beratur
Jean membelalakkan mata. Tubuhnya kaku di tempat, sementara Bob tetap menahan tengkuk lehernya agar tidak bisa bergerak. Rasa panas merambat ke wajahnya, antara amarah dan keterkejutan."Sial!" Itu adalah ciuman pertama baginya.Beberapa detik yang terasa seperti selamanya berlalu sebelum akhirnya Jean berhasil mendorong Bob dengan sekuat tenaga."Kau-kau gila!" teriaknya dengan wajah merah padam. Menaikkan tangannya untuk menampar Bob, tetapi tangannya malah di tahan pria itu.Bob hanya tertawa kecil, sementara Jean menatapnya dengan tatapan membunuh. Ini benar-benar awal yang buruk antara mereka berdua.Jean menatap tajam ke arah pria di depannya, napasnya masih tersengal akibat insiden sebelumnya. Dengan penuh amarah, ia bertanya, "Kau siapa?"Bob menghela napas, lalu merapikan jaketnya yang sedikit kusut. Wajahnya masih sedikit memerah akibat kejadian seb
Bob, yang berjalan lebih dulu, hanya mendengus mendengar gumaman Jean. Ia menoleh sebentar dengan ekspresi jengah. “Dasar kampungan,” desisnya sebelum melangkah lebih cepat menuju pintu utama.Jean mendelik kesal, tapi tak bisa membantah. Selama ini, bayangan yang ia miliki tentang Yama sangatlah berbeda. Ia selalu menganggap pria itu sebagai seseorang yang bekerja di dunia malam—seorang penyedia jasa penghibur alias gigolo. Namun, apa yang kini ia lihat benar-benar bertolak belakang dengan dugaannya."Apa kata Dea tentang ini nanti?" Jean berdecak kagum.Dengan perasaan campur aduk, Jean mengikuti Bob memasuki gedung itu. Begitu melangkah masuk, ia langsung disambut oleh ruangan lobi yang luas dan elegan. Lantai marmer mengilap, lampu gantung kristal yang megah, serta para pegawai yang mengenakan seragam rapi menambah kesan eksklusif pada tempat ini.“Saya kok merasa salah tempat, apa kamu
Yama tidak langsung menanggapi. Ia menatap Jean lekat-lekat, seolah menilai sesuatu dalam dirinya.Setelah beberapa saat, ia akhirnya berbicara. “Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya. Dan aku ingin tahu apakah kau bisa menjadi orang itu.”Jean semakin bingung. “Aku? Apa maksudmu?”Jean masih mencoba memahami situasi yang baru saja dihadapinya ketika Yama kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih tegas.“Kamu akan bekerja padaku, menjaga Dea mulai sekarang.”Jean tertegun. “Menjaga Dea? Dari apa?”Yama mengetuk meja dengan jarinya, menciptakan irama yang teratur dan membuat suasana terasa semakin tegang. Sorot matanya dingin dan penuh perhitungan. “Dari keluargaku yang mungkin akan menyingkirkannya.”Jean merasakan tubuhnya menegang. Ia tidak pernah mengira bahwa situasi Dea bisa seb
"Ahh, ini kacau sekali... bagaimana bila kalian lupakan saja malam itu, lalu Dea..." Jean menoleh ke arah Bob dan pria lainnya yang merasa tertarik untuk mendengar lebih lanjut."Kurang nyaman untuk membahas ini dengan pria sebanyak itu di belakang kita," bisik Jean.Yama mengangguk pelan, ekspresinya berubah serius. Lalu dengan satu gerakan halus, ia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada anak buahnya.Semua pria di ruangan segera bergerak keluar, kecuali Bob."Kamu juga, Bob," perintah Yama."Tapi, Tuan..."Tatapan tajam Yama membuat Bob menelan kembali protesnya. Dengan enggan, ia berbalik dan berjalan ke luar ruangan, meski tetap berdiri di depan pintu dengan ekspresi tidak senang.Saat hanya tinggal berdua, Yama kembali fokus pada Jean. "Lanjutkan."Jean menghela napas. "Apakah kamu sudah memiliki per
Dia merasa masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan membayar kembali satu milyar itu. Pria di hadapannya juga tidak akan menerima begitu saja. Dan Nenek Yama akan patuh pada saat Yama mulai mencintai Dea."Bila mereka saling mencintai, tidak ada orang yang mampu memisahkan mereka karena Yama, pria penuh kuasa ini tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Dea. Yes! Sebuah pertimbangan yang sempurna," pekik Jean dalam hati. Merasa pintar!Kali ini Jean melanjutkan kalimatnya dengan nada lebih lembut. "Dea tidak akan langsung menerima pernikahan ini. Tapi jika kau bersabar, mungkin lama-kelamaan dia akan terbiasa."Yama menyipitkan matanya. "Jadi kau ingin aku menunggunya jatuh cinta padaku dulu baru menerima pernikahan?"Jean mengangguk seperti bocah kecil dan kedua mata berbinar-binar."Dan ini tentu akan membutuhkan waktu. Kamu tahu jelas, aku bukan pria yang suka bermai
"T-tapi untuk apa? Maksudku, Tuan bisa mengutus kami bila ingin menyelidiki sesuatu. Kami akan-""Laksanakan sesuai perintahku dan jangan bertanya lagi."Klik!Panggilan diputuskan secara sepihak. Yama merasa janggal tetapi juga tertarik untuk memainkan peran barunya."Hmm, kita lihat sampai di mana permainan ini akan berlanjut," gumamnya dengan wajah dingin dan datar.Sementara itu, di dalam mobil, Bob melirik Jean dari sudut matanya. Sejak mereka meninggalkan tempat Yama, wanita itu tak mengucapkan sepatah kata pun.Sebelumnya, Jean selalu penuh celotehan, tapi kali ini ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.Penasaran dengan hasil diskusi antara Jean dan Yama, Bob akhirnya membuka mulut. "Jadi, bagaimana? Apa yang kalian putuskan?"Jean tetap diam, menatap lurus ke luar jendela, seolah tak mendengar pertanyaan Bob.
Dea mengernyit. "Apa yang terjadi? Wajahmu merah sekali. Kamu demam?""Tidak!" Suara Jean terlalu besar. Membuat Dea hampir menyenggol mangkuknya sendiri karena terkejut.Jean segera memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Dea dan mengatasi kecanggungan dirinya yang merasa serba salah."Ak-aku harus mandi. Panas! Gerah sekali hari ini!" Ia buru-buru berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mandi, meninggalkan Dea yang semakin bingung dengan mie yang masih terjulur dari mulutnya."Aneh," gumamnya seraya menelan sisa mie dengan sekali sedot.Dea hanya mengangkat bahu dan kembali menikmati mi instannya. "Aneh sekali..." gumamnya sekali lagi dengan pelan.Jean berdiri di depan cermin kamar mandi, air hangat mengalir dari pancuran di belakangnya, menguapkan kaca hingga samar-samar memantulkan bayangannya.Ia menatap dirinya sendiri, menelusuri garis-garis wajahnya, la
Jean mengetuk meja dengan jemarinya, lalu mendengus. "Dia hanya pria menyebalkan yang suka bermain dengan kata-kata. Aku tidak akan terjebak.""Hmm," Dea mengangguk pelan, tetapi tidak terdengar yakin. "Kalau begitu, kenapa wajahmu memerah saat keluar dari kamar mandi tadi?"Jean terbatuk. "Itu—itu tidak ada hubungannya dengan Bob!"Dea tersenyum penuh arti, tetapi tidak menekan lebih jauh."Hmm, Bob.""Baiklah, kalau kamu bilang begitu. Tapi ingat satu hal, Jean. Kamu boleh sekuat apa pun, boleh setegar apa pun, tetapi kamu juga manusia. Kamu bisa jatuh cinta. Itu bukan hal yang buruk.""Aku sendiri, juga ingin jatuh cinta lagi," lanjut Dea dengan mata menerawang jauh. "Tapi itu butuh waktu, Sanjaya menyakitiku terlalu dalam.""Cinta?" Jean mendengus. "Aku tidak butuh cinta. Aku hanya butuh memastikan orang-orang yang kusayangi tetap aman. Itu saja.""Kamu, te
"Aku hanya perlu melakukan ini sekali saja," gumamnya, meyakinkan dirinya sendiri. "Setelah itu, aku bisa segera kembali ke Indonesia."Sanjaya melangkah dengan tekad bulat untuk pergi mencari obat yang bisa membuat Dea tertidur, tanpa menyadari bahwa ia tengah berjalan menuju kehancurannya sendiri, juga kehancuran Dea.Senja menjelang ketika Meisya kembali menghubungi Sanjaya. Nada suaranya dingin dan tegas, tanda bahwa kesabarannya mulai menipis."Jadi?" tanyanya tanpa basa-basi. "Mana obat tidur yang kusuruh kau beli?"Di seberang telepon, Sanjaya menelan ludah. "Aku... aku belum berhasil mendapatkannya. Obat seperti itu tidak dijual sembarangan, Meisya. Aku sudah mencari di beberapa tempat, tapi...""Alasan!" bentak Meisya. "Aku membayar mahal untuk rencana ini, Sanjaya! Kalau kau tidak becus, aku akan mencari orang lain.""J-jangan!" Sanjaya mengepalkan tangan. Diriny
Di dalam kamar hotel yang mewah dengan lampu redup, Meisya duduk di atas sofa berlapis beludru berwarna lembut. Jemarinya yang ramping menggulung layar ponsel berisi setumpuk foto yang baru saja dikirimkan kepadanya. Bibirnya menipis, matanya menyipit menatap gambar-gambar itu.Dea tampak tersenyum di salah satu foto, duduk berdampingan dengan Sanjaya di sebuah kafe. Di foto lain, pria itu terlihat menatapnya dengan intensitas yang sulit diartikan. Meisya menggigit bibirnya, menahan amarah yang mendidih di dadanya. "Tatapan penuh cinta! Menggelikan pria munafik ini!"Dalam foto lain, Sanjaya terlihat sedang menikmati makanannya dengan Dea di kursi rumah sakit. Sebuah pemandangan yang menunjukkan keakraban mereka dalam berbagi moment kebersamaan, tetapi Meisya tidak merasa tertarik sama sekali."Cih! Foto yang membuang uang!" geram Meisya.Dia sangat kesal karena Yama tetap saja memikirkan Dea, meskipun ia telah me
Namun, secepat kilat, Dea melangkah mundur, kedua matanya melebar lalu berlari menjauh. “Aku bau sekali! Dan kau gila!” serunya tanpa menoleh lagi.Yama hanya bisa terpaku, menatap punggung Dea yang semakin menjauh, meninggalkannya dengan seribu pertanyaan yang belum terjawab. Yama bertempur dengan perasaannya sendiri, dia sangat membenci wanita itu sekaligus ingin menciumnya. "Ya, dia memang bau sekali saat ini, bau kuda! Tetapi aku benar-benar ingin menciumnya!" geram Yama dengan kedua mata mulai memerah bercampur amarah.“Bob!” panggilnya tiba-tiba.Asistennya yang selalu sigap itu segera menghampiri. “Ya, Tuan!”“Saya mengerti dan akan segera pergi mengikutinya untuk mencari tahu semua data!” kata Bob dengan penuh semangat.Yama sedikit terkejut. Menoleh, menatap Bob tanpa berkedip. Biasanya, ia harus memberi perintah lebih jelas,
Pagi di London masih diselimuti kabut tipis ketika Yama menatap ponselnya dengan wajah dingin. Sejauh ini, Bob belum mendapatkan kabar apa pun tentang Dea. Setiap upaya untuk melacak keberadaannya di Inggris selalu menemui jalan buntu. Sepertinya nenek telah menggunakan kekuasaannya untuk menghalangi mereka mendapatkan informasi. Untuk saat ini, Yama memutuskan untuk fokus penuh pada proyek yang ditugaskan kepadanya.“Masih tidak ada kabar?” Yama bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela suite hotelnya.Bob menggeleng. “Kami sudah mencoba berbagai cara, tapi tidak ada satu pun petunjuk. Sepertinya seseorang telah menutupi semua jejaknya dengan sangat rapi.”Yama menghela napas panjang, lalu merapikan dasinya. “Kalau begitu, kita mainkan dulu permainan ini sesuai aturan mereka.”Sesaat kemudian, Yama tiba di lapangan polo kerajaan dengan penuh persiapan. Ia mengenakan
{Laporkan bahwa kartu itu hilang dan lakukan pencarian terhadap tersangka pencurian kartu.}Beberapa menit kemudian, perintah itu dijalankan. Dea masih berdiri di depan meja kasir saat membayar biaya tambahan untuk ayahnya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara mesin EDC yang berbunyi nyaring."Maaf, kartu Anda ditolak," ujar petugas administrasi dengan ekspresi meminta maaf dan wajah penuh kecurigaan."Apa? Itu tidak mungkin," gumam Dea panik. Dia mengeluarkan kartu itu lagi dan mencobanya sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama. Kartu itu tidak dapat digunakan.Panik mulai menjalari tubuhnya. Dia mencoba menghubungi Meisya, tetapi jawaban dari mesin penjawab membuatnya semakin putus asa.Di saat yang sama, Meisya sedang berada di dalam pesawat ekonomi dan sedang berhadapan dengan beberapa hal yang membuatnya ingin muntah setiap saat."Maaf, Nona. Kartu ini telah dila
Wanita itu bahkan membuang benihnya dengan menelan obat kontrasepsi, serendah itukah moralnya sebagai seorang wanita? Sejijik itukah dia untuk memiliki bayi bersamanya?Yama mendengus dan mengepalkan tangannya erat-erat! Sklera merah pada matanya membuat sorotan tatapannya tajam seperti elang yang hendak membunuh mangsanya. Dia membenci Dea!Setibanya di hotel, Yama langsung masuk ke suite mewahnya tanpa banyak bicara. Ia membuka laptop dan mulai membaca laporan-laporan yang dikirimkan Bob satu hari sebelumnya. Sementara Bob mengekori langkah majikannya sambil berulang kali meniup tangan dan menempelkannya ke telinga untuk mengatasi dengung akibat jetflag yang ia alami dalam setiap penerbangan.Setiap detail tentang proyek ini telah dipersiapkan dengan matang. Da membaca ulang daftar tamu yang akan menghadiri pesta kerajaan. Ada beberapa nama yang menarik perhatiannya—tokoh bisnis, politisi, serta anggota keluarga kerajaan
Bob tidak tahan lagi. Dengan cepat, ia melangkah maju, menarik Jean dari genggaman Ayah tirinya."Hei, kau siapa? Sekuriti!" teriak Ayah tiri Jean mulai marah."Aku pacarnya," kata Bob dengan nada tegas. "Dan kamu hanya ayah tirinya. Kamu tidak punya hak mengurusnya!"Semua orang di ruangan itu terkejut. Termasuk Jean yang kini berada dalam pelukan Bob."Ada apa ini?" Ibu Jean datang menghampiri mereka dan sedikit terkejut melihat keberadaan Bob dalam pesta mereka, "hei, bagaimana kamu bisa masuk kemari?"Ayah tiri Jean menyipitkan mata. "Apa maksudmu? Panggil sekuriti, lepaskan putriku!"Bob menarik napas dalam sebelum mengucapkan kalimat yang membuat ruangan membeku."Kami bahkan sudah tinggal bersama. Kita akan menikah dalam waktu dekat! Jean milikku! Dia bukan putri kecil milikmu lagi, mengerti!? "Suasana mendadak hening.
"Siapkan semua dokumen yang diperlukan untuk perjalanan ke Inggris. Aku ingin kita berangkat dalam tiga hari. Selain itu, selidiki bagaimana cara mendapatkan perhatian dari sang Pangeran dan Ratu. Kita tidak bisa datang begitu saja dan berharap mereka tertarik dengan proyek kita. Kita harus mencari cara yang lebih cerdas."Bob mengangguk, mencatat perintah itu dalam kepalanya. "Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi beberapa kontak di sana dan mencari tahu informasi lebih lanjut.""Bagus. Dan satu hal lagi, pastikan kita mendapatkan akses ke pesta perayaan yang diadakan oleh sang Ratu. Itu akan menjadi langkah pertama kita."Bob tersenyum kecil. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan memastikan undangan itu ada di tangan Anda sebelum keberangkatan kita."Namun sebelum Bob keluar ruangan, ia tampak ragu sejenak. Yama yang peka terhadap perubahan ekspresi orang-orang di sekitarnya segera menyadarinya.
Yama masih menatap Neneknya. Dia tidak percaya sepenuhnya karena dia mengenal kedua wanita beda generasi itu dengan baik. Ada hal lain yang perlu dipastikan sebelum ia benar-benar memutuskan segalanya."Nek, kamu ingin aku segera menyelesaikan proyek di Inggris, bukan?" tanyanya, mencoba menegaskan posisinya dalam keputusan ini.Sang Nenek mengangguk lagi. "Ya, sesudah itu, kalian akan melangsungkan pernikahan. Hal itu sudah kusampaikan dari jauh hari sebelum kamu bertemu dengan Dea si murahan itu."Meisya menahan senyum kemenangan di balik ekspresi datarnya. Ini berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan."Baik," Yama akhirnya berkata. "Aku akan segera berangkat ke Inggris dan menyelesaikan semuanya.""Aku ikut," selak Meisya cepat, nadanya penuh ketegasan.Yama menoleh padanya dengan ekspresi kesal. "Terserah!" sahutnya ketus sebelum beranjak pergi.