Home / Romansa / Lady D Milik Sang Penguasa / Bab 5. That's my Lady D

Share

Bab 5. That's my Lady D

Author: Runayanti
last update Last Updated: 2025-02-04 14:51:08

Lestari- Ibu Sanjaya, perempuan berpenampilan mewah dan elegan dengan wajah yang dipenuhi kebencian dan tatapan sinis, berkata lantang, “Aku tidak pernah menyukaimu sebagai kekasih anakku, Dea. Lihat dirimu, terlihat rendahan sekali. Kau tidak pantas untuk putraku.”

"Status putra tercintaku satu-satunya saat ini sudah menjadi Kepala Cabang perusahaan ternama sementara Melia, menantuku yang cantik ini adalah anak pengusaha, hanya dia yang cocok menjadi menantuku."

Lestari mengambil alih microphone yang dipegang putranya, lalu menceritakan sedikit tentang Dea di depan para tamu. Dengan nada tegas namun penuh kekecewaan, Lestari memulai ceritanya.

"Para tamu yang terhormat, mohon maaf jika saya harus mengambil waktu sejenak untuk berbicara. Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan tentang keputusan putra saya, Sanjaya, untuk menikah dengan Melia. Ini bukan hal yang mudah bagi saya, sebagai seorang Ibu, untuk mengungkapkan hal ini di depan kalian semua, namun saya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan."

Semua tamu mulai hening, penuh perhatian mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Lestari. 

Dia melanjutkan, "Dea, mantan kekasih Sanjaya, ternyata menyimpan rahasia yang sangat mengecewakan kami semua. Selama bertahun-tahun, kami mengira dia adalah sosok yang sempurna untuk Sanjaya, tetapi baru-baru ini kami mengetahui bahwa dia terlibat dalam masalah yang sangat serius."

Lestari berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Dea ternyata mandul, dan saya meragukan apakah dia tidak sedang terlibat hubungan dengan ... seorang wanita bernama Jean."

"Haaahh?" 

Suara riuh para tamu mulai terdengar dan Dea menatap Lestari tanpa berkedip, tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh ibu Sanjaya tersebut.

"M-mandul?" Dea merasa semakin bingung dan tertekan. Dia tidak mengerti mengapa mereka memberikan vonis seperti itu.

Dea ingin menjelaskan bahwa Jean adalah sahabat terbaiknya dan apa yang dituduhkan Ibu Sanjaya adalah sebuah fitnahan. Namun, bibir Dea terasa kelu.

"Ini tentu tidak terpuji dan akan merusak reputasi keluarga kami. Dia bukan hanya terlibat dalam tindakan yang tidak etis, tetapi juga membawa pengaruh buruk bagi Sanjaya. Ini membuat Sanjaya sangat terpukul dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Kami semua sangat kecewa, namun kami mendukung keputusan Sanjaya untuk melanjutkan hidupnya tanpa Dea."

"Sanjaya butuh seorang istri ... yang normal dengan status sosial yang tinggi dan bisa dibanggakan!" Lestari menantang tatapan tajam dari Dea sambil tersenyum mencibir.

Para tamu saling berbisik, terkejut mendengar pengungkapan tersebut. Melia segera menggandeng tangan Sanjaya seolah-olah ingin menguatkannya, mereka mengarahkan pandangannya ke Dea, yang terlihat tenang meski sedikit terkejut dengan situasi yang terjadi. 

"Kami sangat bersyukur Sanjaya bertemu dengan Melia. Dia adalah sosok yang baik hati, penuh pengertian, dan memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan keluarga kami."

Lestari menoleh ke arah pasangan yang sedang berbahagia tersebut lalu melanjutkan kalimatnya, "... dan Melia sangat cantik, saya mempercayakan putra kesayanganku, dia akan bisa merasakan kasih sayang seorang wanita dan Ibu atas cucu-cucuku yang lucu nantinya."

Lestari kembali melihat ke arah Dea lalu berkata, "Kami percaya bahwa dengan Melia, Sanjaya bisa menemukan kebahagiaan yang sejati."

Melia tersenyum, berusaha menahan rasa gugupnya. Lestari mengakhiri pembicaraannya dengan, "Kami berharap semua tamu yang hadir di sini bisa mendukung keputusan Sanjaya dan Melia, dan memberikan doa terbaik untuk kehidupan mereka ke depan."

"... dan sekarang, duduklah dengan sopan di kursi yang sudah disediakan bagimu dan silakan mengikuti acara bila Anda merasa berhak, tetapi bila merasa tidak nyaman, kami juga tidak melarang Anda pergi. Yang penting, jangan menggila di sini atau Anda akan berhadapan dengan pihak yang berwajib."

Setelah itu, Lestari mengembalikan microphone kepada Melia.

Kalimat itu menghantam Dea seperti gelombang besar. Dia merasa terluka, dan dipermalukan di depan begitu banyak orang. Air mata sudah terasa penuh di matanya, namun ia menguatkan diri untuk tidak menunjukkan kelemahannya.

Dea menatap Sanjaya dan ibunya sejenak sebelum memutar tubuhnya. Dia merasa dipermalukan saat itu juga. Dia merasa harus menghilang  dari sana saat itu juga.

Namun, dia ingat tujuan dia hadir di dalam pesta tersebut lalu dengan langkah mantap mengambil sebotol minuman dari salah satu meja pesta yang terdekat.

"Pesta mewah ini bahkan menyajikan anggur berharga fantastis, setidaknya saya harus mengambil sebotol anggur dan mengucapkan selamat dengan tulus untuk kedua mempelai," ucap Dea lalu meminum anggur tersebut dengan sekali teguk, langsung dari botolnya sambil menaiki panggung, melangkah mendekati Sanjaya dan Melia.

Dengan mata memancarkan keberanian dan berkaca-kaca, Dea lalu menuangkan minuman tersebut ke atas kepala Sanjaya dan Melia secara cepat. Kedua pasangan itu mundur serentak karena terkejut.

Namun sebelum Sanjaya bisa bereaksi, Dea tertawa dengan keras dan merebut microphne yang dipegang oleh Melia sebelumnya.

"Dengarkan semua orang!" ucap Dea dengan suara yang tegas dan bersemangat, membuat semua mata tertuju padanya. 

"Saya tidak akan membiarkan diri saya direndahkan oleh siapa pun, termasuk oleh Sanjaya dan Ibunya!"

Sebuah keheningan tegang melanda ruangan, dan Dea bisa merasakan detak jantungnya dipercepat. Namun, dia tidak mundur.

"Kalian bisa mempermalukan saya di depan semua orang, tapi saya tidak akan membiarkan itu menghentikan saya. Saya akan membuktikan bahwa saya lebih dari sekadar orang yang bisa diinjak-injak!" lanjutnya dengan penuh semangat.

Beberapa tamu mulai bertepuk tangan, mendukung keberaniannya. Dea melihat langsung ke arah Sanjaya, dengan tatapan yang penuh dengan tekad dan api yang menyala.

"Dalam hidup ini, kita mungkin menghadapi cobaan dan penolakan, tapi yang penting adalah bagaimana kita bangkit kembali dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya! Jadi, terima kasih atas 'keputusan' Anda, Sanjaya! Saya akan menggunakan itu sebagai bahan bakar untuk mencapai impian saya!"

Dengan itu, Dea melemparkan botol minum berisi anggur ke lantai panggung dengan penuh semangat, suaranya mengelegar, membuat beberapa tamu terpana.  

Ada yang mendukung dan ada sebagian yang mencibir.

"... dan ingat! Wanita yang di sampingmu saat ini!" Dea melirik ke arah Melia lalu melanjutkan kalimatnya, "adalah wanita yang licik!"

Dea tertawa lalu menoleh ke arah Ibu Sanjaya lalu mengarahkan telunjuknya, "dan dia... mertua yang sama liciknya dengan putranya!"

Dea memutar tubuhnya lalu melangkah menuruni tangga.

"Semoga Anda berbahagia seperti hari ini!"

Tanpa melihat balik, dia meninggalkan ruangan dengan langkah yang mantap dan kepala tegak.

Dea tidak tahu, di antara tamu-tamu yang hadir dan menyaksikan perseteruan mereka di atas panggung, ada sepasang mata tajam dari seorang pria tampan yang tertawa tipis sambil mengenggam gelas mewah berisi wine.

Gayanya elegan dan merasa puas karena sudah menemukan Dea tanpa perlu mencari terlalu lama.

"Hmm, Dea..." desisnya.

Pria bernama 'Yama' menggoyangkan gelasnya lalu mencicipi wine sambil tetap menatap langkah Dea.

"That's my Lady D."

Yama meneguk minumannya sampai habis lalu menyusul langkah Dea keluar dari ruangan pesta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 6. Perkelahian

    Di depan pintu keluar pesta, Dea tiba-tiba berjongkok, memeluk lututnya yang bergetar. Air matanya jatuh begitu saja, membasahi gaun elegan yang tadi membuatnya tampak begitu anggun di atas panggung. Ia berusaha menahan isakannya, tetapi dada yang terasa sesak tak bisa dibohongi.Samar-samar terdengar suara tangis yang tertahan.Yama berdiri tak jauh darinya, terpaku. Sosok Dea yang tadi kuat dan penuh percaya diri kini terlihat rapuh. Sejak awal, dia tahu ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan di balik tatapan tajam dan senyum tipisnya. Tapi baru saja ia melangkah mendekat, niatnya terhenti oleh suara nyaring dari ponsel Dea.**Drrtt... Drrtt...**Dea tersentak. Dengan cepat, ia mengusap wajahnya yang basah lalu merogoh tas kecilnya. Ketika melihat nama yang tertera di layar, jantungnya seolah berhenti berdetak."Ibu"—nama yang jarang muncul di layar ponselnya kecuali dalam keadaan darurat atau dia melakukan kesalahan sehingga pantas diomeli.Dea segera menghapus air matanya dengan

    Last Updated : 2025-02-14
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 7. Salah paham

    "Kamu hanya punya satu jam!" balas Yama lalu menutup panggilan, matanya masih tajam menatap ke depan. Ia tidak terbiasa melihat seseorang yang berharga baginya tersakiti, apalagi Dea. Gadis itu mungkin belum menyadarinya, tapi sejak pertemuan mereka, Yama telah menaruh perhatian khusus padanya.Bagi orang lain, ini mungkin hanya insiden biasa—pertengkaran yang berujung pemukulan. Tapi Yama bukan orang yang mudah dibodohi. Ada sesuatu yang janggal di balik kejadian ini, dan dia tidak akan tinggal diam.Di dalam ruangan, Dea masih duduk di tepi tempat tidur ayahnya. Tangannya menggenggam erat tangan pria paruh baya itu, seakan takut kehilangan."Ayah, siapa yang melakukan ini?" tanyanya dengan suara lirih.Ayahnya menghela napas. "Tidak usah ikut campur, Dea. Ini bukan urusanmu.""Tapi, Ayah—""Diamlah!" Pria itu menguatkan suaranya, membuat Dea ter

    Last Updated : 2025-02-15
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 8. Istri kelima

    Yama menyelipkan tangannya ke saku celana, memandang Dea yang panik dengan sorot mata tenang. "Jadi kamu menilaiku seperti itu?" tanyanya dengan wajah kalem."Aku tahu," kata Dea lagi, suaranya lebih rendah tapi tetap penuh curiga. Dea menyipitkan kedua matanya. "Kau pasti meminta bayaran lebih, ya? Baiklah, aku berjanji akan membayarmu dua ratus ribu lagi. Tidak bisa lebih lagi.""Lagian, ternyata kamu bukan pria yang dicari temanku, Jean. Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa tertukar," lanjutnya tanpa mempedulikan reaksi aneh dan bingung dari Yama."Aku juga sudah rugi karena masih harus membayar pria lain yang tidak pernah melakukan tugasnya, kau tahu? Jean sudah membayarnya!"Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan ponselnya dan menatap Yama dengan kesal. "Sekarang pergi, dan aku akan mengirimkannya ke rekeningmu besok. Berikan nomor ponselmu!"Yama tertawa kecil, menggeleng pela

    Last Updated : 2025-02-16
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 9. Nona Besar

    "Lima belas? Astaga!"Dea terkejut dengan jumlah fantastis yang disebut Zacky, terlebih tidak mengerti, bagaimana seseorang yang arogan seperti dia bisa berlutut dan memohon ampun dan belas kasihan kepadanya.Yama mendekati Dea, suaranya lebih lembut saat berkata, "Dengar, Dea. Ini adalah kesempatanmu untuk keluar dari cengkeraman Zacky. Apa pun kesepakatan yang sudah kau buat dengannya, anggap saja batal.""Benarkah?" Dea menatap Zacky, yang masih berlutut gemetar, lalu menatap Yama. Ia tak bisa mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi begitu cepat."Ya, batal! Semua batal! Izinkan aku pulang. Keempat istriku dan anak-anakku sedang menungguku, mereka masih kecil, tolong berbaik hatilah, Dea.""Aku..." Dea tidak tahu mau menjawab apa."Ayo pergi dari sini," kata Yama lagi, suaranya kini lebih tegas.Dea ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. Ia tahu ada sesuatu ya

    Last Updated : 2025-02-17
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 10. Dimana Dea?

    Dea selesai lebih cepat dan segera bangkit untuk membayar di kasir. Saat ia hendak kembali, ponselnya berdering. Ia melihat nama di layar dan mengangkatnya.“Halo? Jean? Kamu sudah di sana? Apa? Serius?” Dea mengerutkan dahinya. “Haruskah aku datang sekarang?”Yama, yang masih duduk dengan perut terasa melilit, tidak bisa berkonsentrasi pada percakapan itu. Akhirnya, dia tidak tahan lagi.“K-Kamar kecil di mana?” serunya panik.Dea menunjuk ke arah kanan tanpa menoleh. “Di sana, cepat!”Tanpa menunggu lebih lama, Yama melesat dengan kecepatan penuh menuju kamar kecil, meninggalkan jejak penderitaan dan setengah piring nasi goreng yang tak tersentuh.“Hei, aku mau pergi!” seru Dea sambil menoleh ke arah kamar mandi. Namun, Yama sudah terlanjur menghilang di balik pintu.Dea menghela napas, lalu bergegas pergi mencari Jean dengan menaiki taksi. Jean sudah menunggunya di sebuah restoran tidak jauh dari sana, tapi wajahnya tampak cemas saat Dea tiba di sana.“Jean, ada apa?” tanya Dea, me

    Last Updated : 2025-02-18
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 11. Flamboyan

    Arman mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. “Akan saya lakukan segera, Pak.”Bob menatap Arman dengan tajam. “Jangan sampai ada kesalahan.”“Dimengerti.”Dea dan Jean tiba di restoran yang sudah ditentukan. Restoran itu tampak cukup ramai, tetapi sudut tempat mereka bertemu berada di bagian yang lebih sepi."Ini Steven dan Mommy Dara." Jean yang lebih dahulu memperkenalkan dua orang itu kepada Dea."Uhm, ini Dea."Steven, pria yang merasa dirugikan, sudah duduk di sana bersama seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor dan wajah penuh kepalsuan. Tatapan keduanya penuh tipu daya, seolah sudah merencanakan sesuatu."Duduklah," balas Mommy Dara dengan ketus, sementara pria di sampingnya melirik dengan enggan.Dea duduk dengan sikap waspada, sementara Jean tampak gelisah. Kedua mata Dea menelusuri dua makhluk di hadapannya.Steven, terlihat cukup tampan, tetapi tampil dengan gaya flamboyan dan senyuman tipis yang menjengkelkan mulai membuka suara."Kami mengenakan denda kepada pelan

    Last Updated : 2025-02-18
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 12. Jangan bermain api!

    Steven dan Mommy terdiam sejenak. Keringat mulai muncul di pelipis mereka, tapi Mommy masih mencoba mempertahankan sikap galaknya. Wanita gempal itu segera menggoyangkan kipas tangannya beberapa kali dengan gerakan canggung.“Jangan coba-coba bermain api, gadis kecil.”Dea menatap mereka dengan pandangan dingin. “Kau yang akan terbakar duluan.”Ketegangan menggantung di udara, dan jelas sekali bahwa Steven dan Mommy tidak menyangka Dea bisa seberani ini. Jean, meski masih gemetar, merasa ada harapan untuk lolos dari situasi ini tanpa menyerah pada pemerasan.Dia mengenal Dea dengan baik dan mereka bersahabat semenjak kecil. Watak seorang Dea tidak cepat mengalah terhadap keadaan. Kehidupannya yang keras selama ini, sudah mendidiknya agar mampu membela dirinya sendiri dan tidak menyerah terhadap keadaan.Wanita gempal yang dipanggil Mommy itu tiba-tiba memukul meja denga

    Last Updated : 2025-02-19
  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 13. Memeras

    Dea hanya mengangkat bahu seolah mencoba bersikap santai, tapi rona merah samar muncul di pipinya. Sebelum Jean sempat berkomentar lebih jauh, ponsel Dea tiba-tiba berdering. Nama ibunya tertera di layar.“Halo, Bu?” jawab Dea.Suara ibunya langsung menggelegar dari seberang telepon. “Kau ke mana? Kenapa tidak bekerja? Biaya rumah sakit ini siapa yang bayar kalau kamu tidak bekerja?!”"Majikanmu menghubungi Ibu dan melaporkan dirimu yang absen! Cepat ke sana sekarang sebelum kau dipecat, gadis nakal!"Dea memejamkan mata, berusaha menahan emosi. Dia tidak suka dipanggil gadis nakal. Ibunya selalu mengomelinya dan membebaninya dengan biaya apa pun yang dibutuhkan keluarganya.“Baik, Bu. Aku akan segera ke tempat kerja.”Setelah menutup telepon, Dea berbalik ke arah Jean. “Sudahlah, aku mau pergi bekerja dulu. Nanti kit

    Last Updated : 2025-02-19

Latest chapter

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 85. Apakah dia juga merasa seperti itu?

    Dea terdiam, akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke jendela. Di luar, langit malam tampak begitu luas dan dingin. Hatinya juga terasa sama—dingin dan penuh ketidakpastian.***Sementara itu, di mansion keluarga Yama, pria tinggi itu melangkah masuk dengan ekspresi gelap. Para pelayan menunduk dalam ketakutan saat melihat wajahnya yang penuh amarah. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang utama, di mana neneknya sudah menunggu dengan ekspresi dingin."Duduk," perintah wanita tua itu.Yama menahan diri untuk tidak melawan. Dengan rahang mengeras, ia duduk di sofa berhadapan dengan neneknya."Apa yang sedang kau lakukan, Yama?" suara neneknya terdengar tenang, namun penuh tekanan."Menutup bandara hanya untuk mencari seorang wanita tidak berguna? Berita apa lagi yang ingin kau timbulkan untuk membuat saham kita jatuh?""Ak

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 84. Bersama Sanjaya

    Mobil sudah sampai di terminal keberangkatan. Dengan kemarahan yang nyaris meledak, Yama melangkah cepat masuk ke dalam terminal VIP bandara yang kini ditutup atas perintahnya.Matanya menyapu sekeliling dengan penuh harapan, namun bayangan Dea sama sekali tidak terlihat. Rasa frustrasi menyelimutinya. Sudah pasti mereka terlambat."Brengsek!" Yama menghempaskan pantatnya dengan kasar di kursi tunggu. Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan amarah yang nyaris meluap. Kedua matanya penuh dengan sklera merah.Yama menyadari sesuatu, Neneknya terlibat dalam hal ini. Atau Meisya! Mereka sengaja mengatur agar Dea segera menghilang dalam kehidupannya, tapi ke Inggris?Yama mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Satu-satunya negara yang belum dia taklukkan! Rencana Nenek secara keseluruhan sudah mulai tercium olehnya.Bob menelan ludah, lalu mencoba meredakan ketegangan. "Kita bisa kejar k

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 83. Pesawat pribadi

    Ibunya tampak sedikit goyah saat mereka menaiki helikopter, tapi tidak berkata apa-apa. Dea sendiri hanya bisa menatap kosong ke layar ponselnya yang masih berdering sesekali, menunjukkan panggilan terakhir dari Jean. Ia menggenggam ponselnya erat, lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya sebelum melangkah masuk.Saat helikopter mulai lepas landas, Dea menoleh ke samping. Ibunya sibuk dengan ponselnya, mengetik pesan dengan cepat. Sesekali, wanita itu mengambil beberapa foto selfie dengan ekspresi bangga, seolah ini adalah perjalanan wisata bukannya perjalanan penuh kecemasan menuju ketidakpastian.Dea hanya bisa menatap lurus ke depan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan gejolak emosi yang sejak tadi menghantam dirinya. Ini bukan sekadar perjalanan untuk ayahnya. Ini adalah perjalanan yang akan mengubah segalanya.Di dalam benaknya, nama Yama berkelebat. Pria yang hanya singgah sesaat, j

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 82. Berangkat sekarang juga

    "Pergilah mengurusnya! Jadilah anak berbakti, Dea," sahut ibunya tanpa melihat ke arahnya. Fokus utamanya ke layar ponsel berisi foto Leo-sang adik.Ibunya mengibas sebelah tangannya seperti mengusir lalat imajiner, matanya masih berbinar penuh kebanggaan terhadap adik Dea, tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi di hati putri sulungnya. Dia bahkan lupa menanyakan tentang helikopter ambulance yang akan mereka pakai atau bagaimana mereka akan membayar semua itu seolah-olah semua adalah tanggung jawab Dea.Dia merasa tidak perlu memusingkan hal itu.Dengan langkah berat, Dea beranjak menuju ruang administrasi rumah sakit untuk memastikan semua berkas keberangkatan telah siap.Perawat memberikan beberapa dokumen yang perlu ditandatangani, dan ia menandatanganinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Semua ini terasa begitu nyata sekarang."Lima ratus juta... " gumam Dea dengan suara kecil seraya mengeluarkan kartu tipis yang diberikan

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 81. Bea siswa

    Dea memeluk dirinya, terasa nyeri di bagian depan dadanya karena apa yang dilakukan oleh Yama tadi. Dia menyadari betapa terobsesinya pria itu terhadap tubuhnya dan itu sangat menjijikkan serta membuat hatinya terpuruk.Dea terdiam sejenak, sebelum menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca, suaranya terdengar rapuh ketika berbicara. "Tidak..."Suaranya kecil, hampir tidak terdengar."Yama... dia hanya menginginkan tubuhku, tapi saat aku menyerah... saat aku pasrah, dia malah tidak melanjutkan aksinya."Dea merasa dirinya mungkin akan menginginkan sentuhan Yama bila dilakukan dengan cara yang lebih lembut. Pemaksaan seperti itu lebih bisa dinilai sebagai sebuah pelecehan daripada pemuasan gairah dan itu sangat menjengkelkan baginya.Jean mengernyit. "Apa maksud dia?" tanyanya bingung. "Arghhh!" geram Jean."Entah apa yang ada di dalam pikiran para pria itu?"Bayangan Bob yang memaksa mencium serta menindihnya tadi tiba-tiba

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 80. Kau menilaiku seperti itu?

    "Sial!" Jean memaki dalam hati. Dia tertangkap lagi oleh Bob. Tubuhnya dipikul di bahu Bob dengan mudah seperti memikul karung goni.Bob, yang masih kesakitan, bangkit dengan cepat. Matanya membara penuh kemarahan. "Kau membuatku benar-benar marah sekarang."Jean melakukan perlawan dengan memukul punggung Bob, kedua matanya mencari sesuatu untuk mempertahankan diri. Jean bisa mendengar dengan jelas, suara Dea di dalam kamar mandi. Temannya juga sedang dilecehkan oleh Yama. Tubuhnya bergetar karena marah!Kebencian Jean berkilat di matanya. Saat Bob menurunkan tubuhnya. Matanya melirik vas bunga di meja sudut. Ia meraihnya dengan cepat dan mengangkatnya tinggi-tinggi."Jangan mendekat, Bob!" ancamnya dengan suara gemetar.Bob menyeringai, lalu melangkah maju. "Dan kalau aku tetap maju? Kau mau apa?"Jean tidak ragu. Dengan sekuat tenaga, ia

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 79. Aku sedang bertengkar dengan pacarku!

    Tanpa pikir panjang, dia menghampiri pintu itu dan mendapati bahwa terkunci. Namun, itu tidak menghentikannya.Brak!Pintu kamar mandi terbuka dengan keras akibat tendangan Yama. Dea, yang tengah mandi di balik tirai shower, terlonjak kaget dan memekik. Segera menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan sebelah tangannya. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi."Yama?! Apa yang kau lakukan?!" serunya dengan panik, tangannya buru-buru menarik handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah.Namun Yama tidak menjawab. Nafasnya memburu, emosinya menggelegak, dan sebelum Dea sempat berbuat lebih banyak, dia melangkah maju dan meraih dagu gadis itu dengan kasar."Kau pikir bisa kembali kepada mantan kekasihmu itu?" suaranya dalam dan sarat emosi. "Di mana harga dirimu, Dea?""Lepaskan aku! Kau sudah gila!" Dea meronta, berusaha mendorong Yama

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 78. Tahan dia

    Nenek yang mendengar suara itu hanya menoleh sekilas. Tatapannya dingin, tak ada kepedulian dalam sorot matanya. Ia menatap luka kecil di jari Meisya sebentar, lalu dengan sikap acuh, ia kembali memalingkan wajahnya.Meisya merasakan sesuatu mencubit perasaannya. Ia tahu bahwa dirinya bukan cucu kesayangan neneknya, hanya calon cucu menantu yang akan terlihat seperti bawahannya.Meisya mengerti perbedaan dalam status mereka, tetapi betapa dinginnya wanita itu tetap saja membuatnya merasa tidak berarti. Seolah-olah keberadaannya tidak penting. Seolah-olah ia hanyalah bayangan yang tidak perlu diperhatikan.Perasaan itu menggerogoti hatinya, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa duduk diam, menatap apel yang belum selesai ia kupas, dan membiarkan perasaan tidak berharga itu semakin mengakar dalam dirinya."Pergilah kalau kamu sudah selesai. Nenek ingin istrahat." Suara nan ketus dari wanita tua itu membuat Meisya

  • Lady D Milik Sang Penguasa   Bab 77. Aku bilang cukup!

    Dia memang memilih menjalani skenario ini tanpa sadar. Dia memang murahan! Di hadapan mereka. Di hadapan semua orang saat ini.Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, mengalir membasahi pipinya. Dia mengepalkan tangannya, menatap punggung Yama yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang berubah dalam diri pria itu. Dan perubahan itu membuat Dea semakin merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Tidak sanggup dia jelaskan sendiri.Walaupun Dea berusaha menanamkan pikiran bahwa Yama hanya pria yang singgah dalam waktu seminggu dan belum memiliki arti apa-apa, namun entah mengapa, hatinya terasa nyeri saat ini.Sementara itu, Sanjaya masih berdiri di tempatnya. Dengan nada mengejek, ia berkata, "Tak perlu menangis, Dea. Toh, sejak awal kau memang tidak punya pilihan.""Apa maksudmu?" Dea menoleh tajam ke arahnya, kemarahan bercampur dengan luka menguasai tatapannya. "Aku lebih baik mati daripada diperm

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status