Malam semakin larut. Vivi duduk di kursi belajar dalam kamar fokus pada layar laptop di atas meja. Kepalanya mengangguk-angguk kecil mendengar lagu SHINee, boy band Korea Selatan favoritnya.
Dia sedang stalking akun facebook penulis yang karyanya ia colong. Dengan tabah ia membuka satu-satu akun bernama Efendi, hingga sampai juga ke sebuah akun penulis itu. Dengan akun palsu Vivi meng-add dia jadi teman, berharap bisa mengetahui lebih banyak sosok itu.
First impression dari Vivi untuknya, Efendi cowok baik, ramah dan cukup supel. Dia enggak garing, terus terang ia sangat nyaman mengobrol dengan cowok itu. Tidak nampak kesedihan dari pesan-pesan balasan yang ia terima.
Iseng-iseng dia mengunjungi akun Efendi di aplikasi tulis menulis. Mau tau, sejauh mana terror follower Mimi menggempur akun itu.
Vivi membaca beberapa komentar barbar di novel, juga di wall, dan semua itu membuatnya menghela napas juga memaksa bibir bergetar. Semakin lama ia membaca, tanpa sadar air mata mengalir di pipi, meninggalkan jejak garis tak lurus di sana.
Dia enggak tega, enggak kuat, ingin melambai menyerah. Harusnya semua caci maki itu untuk dirinya. Karena sang Plagiat di sini adalah Vivi. Dia tertunduk menutup mata pakai telapak tangan, berusaha tidak bersuara, takut mengundang perhatian Kakak.
Beberapa komentar brutal di sana yang sangat membuat mata perih, juga hati tersayat antara lain;
[Dasar penulis amatir bejat! Tahu diri dong, main comot karya orang! Itu yang nulis capek, eh, kamu datang tinggal ambil. Mamamu enggak pernah mengajari jangan mencuri apa gimana?]
[Astagfirullah, dia bikin karya susah, enak aja main klaim, pakai nyerang pribadi lagi. Istigfar, tobat, tutup akun, sunat sampai habis sana.]
[Ayo report sama-sama! Supaya nih novel lenyap, dan akun penulisnya di-deleted!]
Batinya mengambil alih. Ia benar-benar tak tega, dan harus berbuat sesuatu. Jari-jari Vvi cekatan mengetik pesan di sana. [Cukup! Sudah, hentikan! Kalian semua jangan membully. Setiap manusia punya kesalahan, kenapa dipermasalahkan? Sudah cukup, aku enggak mau kalian begini ke dia.]
Sayang sekali komentar Vivi tak dianggap. Kebiasaan netizen Indonesia kalau sudah keluar kerangkeng mereka bagai serigala lepas ke lahan ternak kambing. Mereka semua follower instagram Mimi, mungkin hanya Mimi yang bisa menarik tali kendali.
Vivi berusaha menulis permintaan maaf pada Efendi, tapi tiada balas dari akun itu. Aneh, Efendi belum memblok akun Vivi. Itu membuatnya tambah merasa berdosa. "Setan macam apa diriku, yang tega melakukan semua ini?"
Untuk mengurangi perasaan itu, Vivi main facebook, asal pencet tombol hingga tak sengaja melihat foto profile sosok idaman hati. Cowok berkacamata tampan yang selama ini ingin ditemui.
Mata Vivi mendelik nyaris keluar, wajahnya nyaris menabrak layar laptop. "Cogan! Mas Coganku! Ace001?"
Dia langsung meng-add akun facebook itu. Setelah itu Vivi mulai stalking cowok itu, mulai dari instagram, twitter, semua foto di internet, hingga paham jika ternyata cowok itu anak gym yang suka membaca. Dia lulusan SMA Kusuma Bangsa Palembang dan sekarang berkuliah di Universitas UBAYA. Satu foto pemuda itu membuat Vivi kembali mendelik lebih tajam.
Terdapat tulisan nama gym yang tak sengaja terambil. Sekarang dia tahu di mana alamat gym itu.
Waktu berjalan tanpa henti, sepulang kuliah di hari Sabtu, Vivi heboh bersama dua sahabat tercinta. Mereka bertiga berjalan di lorong padat mahasiswa, wajar jika bicara memakai nada tinggi.
"Pokoknya ntar kita keluar ke City of Tomorrow, titik!" Maksud Vivi dengan City of Tomorrow, adalah nama sebuah mall di kawasan Surabaya, dekat pertigaan tol arah Sidoarjo. "Ayolah, enak di sana, foodcourt-nya lebih besar, banyak cogan pula--"
"Vi, kita udah saling kenal lama. Aku tau isi kepalamu. Katakan, apa alasan sebenarnya mengajak nongkrong di sana?" Sasa cukup jeli melihat tepat dalam hati Vivi. "Kalau enggak jujur mending aku di rumah aja, santai, tiduran."
Vivi cemberut meremas lengan ransel karena Sasa menentang ucapannya. Cukup lama dia diam hingga angkat bicara. "Alasanku karena cowok ganteng di toko buku itu loh."
Langkah Sasa terhenti. "Serius?" Pertanyaan itu mendapati anggukan Vivi dan membuatnya berjalan riang menarik-narik lengan sahabatnya. "Dapat info dari mana? Yakin nih, bukan hoax? Vi, serius, enggak?"
Vivi menodong gadis berjilbab itu pakai android. Bukan hanya Sasa, tapi Mimi ikut mengintip layar hp. Mereka berdua mengamati foto cowok yang Vivi colong.
"Masyaallah, iya ini, yang tempo hari!" Sasa jingkrak-jingkrak girang karena akhirnya bisa bertemu dengan cowok ganteng idolanya. "Oke deh, ntar sore ke sana ya!" Dia menjadi pelari paling cepat juga paling lincah mendahului murid-murid lain.
"Eh, dasar marmut. Cepet banget berubah pikiran." Komentar Mimi. "Yakin tuh, bakal ketemu di Cito?" Maksud Mimi dengan Cito, singkatan City of Tomorrow.
Vivi mengangguk memberi kepastian dengan bibir melipat ke dalam. "Coba cek foto pas dia berada di gym. Kaca gym ada tulisan apa, coba?"
"FLASH FITNESS INDONESIA." Mimi membaca lantang, lalu mencari letak tempat itu di android miliknya. Senyumnya merekah ketika mendapati memang tempat itu ada d Cito. "Oh my goat! Beneran ada! Tapi, apa enggak apa-apa membawa Sasa? Ntar kalian rebutan lagi."
Vivi sendiri jadi suntuk lantaran memberi tahu Sasa. Ia tak berpikir sampai sana, tadi dia hanya butuh wingman. Nasi sudah jadi bubur, yang bisa dia lakukan hanya memberi cuilan ayam supaya jadi bubur ayam.
Mimi menangkap raut wajah itu, cekikikan menyenggol lengan Vivi. "Nyesel, kan?"
"Dikit." Vivi tetap setia menuruni anak tangga bareng Mimi. "Tolong stop."
"Hmm? Stop apaan?"
"Stop follower barbarmu, Mi. Jujur, aku enggak enak sama penulis itu. Followemu liar banget, sampai--"
Mimi berdecak kesal. "Halah, biarin. Pencuri seperti dia harus diberi hukuman. Sudah, kamu tenang aja, toh nama baikmu aman."
Vivi kecewa dengan pola pikir Mimi. Bukan itu masalahnya. Ia menimbang untung dan rugi untuk jujur, hingga hati ikut bermain. Dengan suara kecil dia bicara, "Jujur. Aku yang mencuri. Bukan dia."
"Eh?" Kaki Mimi tertanam sesaat di lantai tangga, lalu jalan lagi mengimbangi langkah Vivi. "Serius?"
"Iya."
Mimi termenung. Andai Vivi bisa meminta satu keinginan pada Om Jin, dia ingin mengetahui apa isi pikiran Mimi. Dia berharap Mimi tak membencinya karena melakukan dosa seperti ini. Semua juga terjadi begitu saja.
Di luar dugaan satu tangan Mimi merangkul Vivi. "Dah lah, biar aja."
"Loh, kok begitu?"
"Kita hidup di dunia yang keras. Jika memang ingin naik panggung, seperti pohon besar harus siap diterpa angin. Andai baru begini saja dia sudah loyo, mending mundur. Lagian Efendi tuh cowok, kan?"
Vivi mengangguk. Sejauh ini dia yakin Efendi cowok. "Tapi follower-mu kejam banget, barbar, urakan. Aku ikut kerasa loh, sampai mikir andai aku yang dibegitukan."
Mimi mengangguk kecil. "Jadi mau bagaimana nih? Mau kubongkar rahasiamu ke mereka--"
"Jangan. Cukup suruh mereka berhenti." Vivi tertunduk lesu. "Aku enggak tega, sumpah."
Rangkulan Mimi pada leher Vivi semakin erat. Ia memberi kecupan persahabatan di pipi sahabatnya itu. "Ini yang aku suka darimu, Vi. Hatimu lembut, enggak tegaan. Walau sok kuat, sok barbar, nyatanya lembek seperti tai ayam. Sok pintar tapi goblok."
"Terus, terus, hina terus, ngelunjak ya kalau ngomongin orang!" Vivi mencubit pinggang Mimi, mengejar gadis yang berlari lebih cepat itu. Keduanya kejar-kejaran sampai terengah di lapangan sekolah.
Sesampainya di rumah Vivi yang selama ini jarang mandi sekarang mau berlama-lama berendam dalam air bunga tujuh rupa, sampai memakai lulur segala. Sehabis mandi dia juga memakai lotion Korea punya kakak. Dengan memakai baju sabrina pundak terbuka yang memiliki panjang selutut, Vivi tampil seperti barbie.
"Cie, si Barbie KW, mau ke mana?" celetuk April, memandang dengan raut wajah mengejek seakan minta ditampol.
"Aku enggak mau ribut, jadi kuelus-elus aja ya Kak lenganmu. Bye." Seperti kancil Vivi melangkah menuju teras rumah, nyaris jatuh ketika menuruni anak tangga.
"Mau ngedate sama siapa? Wangi bener? Eh, tunggu. Kamu nyolong lotion Kakak, ya?"
"Enggak, enggak, enggaaaaak!" Vivi tancap gas berlari sekencang mungkin.
April sendiri menggeleng gemas mengamati kelakuan boncil satu itu, tetapi dia prihatin. April duduk di sofa ruang tengah, membaca novel karya Efendi, korban adiknya. Betapa kagetnya dia ketika mendapati komentar-komentar hujatan hingga senyumnya muncul ketika mendapati pesan dari adiknya di wall akun Efendi. "Cil bocil, aslinya kamu nyesel kan, nyolong karya orang?"
Dia punya rencana untuk menolong Vivi, tetapi semua tergantung pada Rafa Rafian, pacarnya yang bisa dipanggil Rafa atau Rafi, tergantung hati.
Sementara itu setelah melakukan perjalanan jauh, Vivi sampai juga di Cito. Ketiga gadis duduk di kursi foodcourt, setiap bicara mereka harus sedikit berteriak karena tempat itu gaduh oleh suara obrolan pengunjung yang memadati mall.
Kedua teman Vivi pun tampil luar biasa. Sasa sengaja melepas kerudung memakai kuncir dua seperti Mei Mei dalam film Upin Ipin. Sementara Mimi memakai kemeja lengan panjang enggak dikancing, plus celana panjang dan kaos oblong gambar motif bendera Amerika. Tomboy banget.
Sasa menengok ke arah tempat gym yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berada. "Mana, katanya ada mas ganteng, mana?"
"Ada kok, coba cari lagi," jawab Vivi, matanya seperti CCTV mengamati sekitar hingga terhenti di layar hp yang Mimi pegang.
Si tomboy tengah asik dengan instagram, tak terlalu peduli pada sosok pemuda cakep yang sedang jadi buronan kedua sahabatnya. Sepertinya dia sedang berusaha mengendalikan masa sesuai keinginan Vivi.
Vivi mendapati senyum Mimi timbul. Ia mengintip lebih jauh, mendapati Efendi memfollow akun Mimi.
Dengan begitu Mimi bisa melihat semua postingan yang hanya bisa dilihat ketika mempunyai hubungan follow mem follow. Dia bahkan memfollow akun itu, sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh selebgram.
Vivi tersenyum. Setidaknya karena kejadian tak terduga dalam aplikasi tulis menulis, Efendi bisa berkenalan dengan Mimi di instagram. Dia tak sengaja membaca satu pesan Mimi yang sangat membuat hati lega.
[Nanti akan kucoba bantu promo novel barumu. Kamu buat akun baru saja, ya.]
Apa mungkin timbul cerita lain diantara Efendi dan Mimi? Entah, Vivi tak bisa membaca masa depan. Tetapi dia berharap banyak untuk itu.
"Eh, eh!" Sasa histeris menggoyang lengan Vivi. "Beneran ada! Cogan Vi! Mi! Itu dia orangnya, ayo samperin!"
"Hee, ntar dulu, jangan gasak-gusuk!" cegah Mimi, menarik kepang Sasa dan kerah Sabrina Vivi. "Cogan seperti dia, jangan langsung disamperin, ntar kabur. Kalian harus menjadi pemburu yang baik."
Perkataan Mimi membuat Vivi dan Sasa bertukar pandang bingung, terlebih sahabat mereka itu menarik lengan mereka."Ayo duduk dulu. Aku jelasin."Keduanya menurut seperti murid TK disuruh guru untuk duduk. Di mata mereka Mimi memang spesial. Cowok mana yang tidak takluk oleh Ratu Tomboy Sejagat? Anak basket? Mimi pernah suka sama senior, dia menantang basket dan cowok itu tunduk. Anak band? Ada murid SMA yang ditaklukkan dengan cara dia ikut bermain gitar. Seorang dokter? Dulu Mimi pura-pura sakit dan berhasil memacari dokter muda itu. Semua cowok-cowok itu hanya bertahan seminggu jadi pacarnya, lalu secara sepihak dia memutuskan mereka. Benar-benar playgirl sejati.Sekarang keduanya menanti apa yang akan Mimi ucapkan.Dan tak butuh waktu lama untuk gadis itu berucap. "Jangan mengejar cogan, tapi buat mereka penasaran dengan kita.""Penasaran gimana?" selidik Vivi."Ya jangan jadi murahan. Intinya--""Intinya nge-drama, ya kan?" sela S
Di bawah naungan langit yang sama, beda tempat dan beda suasana.April tampil cantik dengan gaun sabrina hitam panjang, duduk manis di jok depan mobil Camry keluaran terbaru warna hitam. Sesekali ia menoleh ke arah kursi kemudi sambil tertawa mendengar ucapan pemuda gendut berkaca mata, keturunan Tiongkok berpipi tembem lucu yang memakai kemeja dengan rompi sweeter tanpa lengan. Dia Rafa Rafi, mau dipanggil Rafa bisa, Rafi juga tak apa."Your so beautiful," puji Rafa."Thank you.""Jadi, buat apa nih, nyari editor?"April menjelaskan duduk perkara pada Rafa, mulai dari Vivi yang aneh sampai masalah plagiat dan penulis novel. Rafa mendengar dengan baik sekali, kadang memberi tanggapan dengan anggukan tetap fokus pada jalan di depan."... gitu." April menutup curhat dengan helaan napas berat, lalu bertanya, "Bagaimana, bisa bantu enggak?""Bantu gimana?" Rafa diam cukup lama hingga ketika sampai di lampu merah, mobil b
Setelah pulang dari mall, Vivi mengunci diri dalam kamar. Ia duduk di kasur menelungkup kepala ke antara dua kaki yang dilipat. Dadanya berdebar-debar ketika membayangkan kejadian di lahan parkir bawah tanah mall. Bukan hanya motor punya Anjas, tetapi beberapa motor lain pasti rusak. Dia benar-benar menjadi anak nakal di sana. Bagaimana jika para pemilik motor yang rusak menagih uang kompensasi? Vivi hanya mahasiswi yang belum mandiri, masih bergantung kepada orang tua. Apa yang ibu akan katakan ketika mengetahui hal ini? "Vi? Ada apa, Nak?" Suara ibu terdengar dari luar kamar, mengiringi ketukan lembut pintu. "Kamu kenapa, kok langsung masuk kamar? Sasa sama Mimi datang tuh. Vi, kamu mau menemui mereka?" Sayup terdengar suara Mimi di luar sana. "Sudah tidur mungkin, Tante. Tadi habis main kejar-kejaran soalnya jadi Vivi kecapekan. Kalau begitu kami pamit pulang dulu, permisi." Keadaan kembali sunyi hingga sayup terdengar suara TV dari luar kamar. Cuk
Vivi belum tau pasti editor itu gadis atau laki. Walau demikian dia tetap bersemangat untuk menemui editor. Menurutnya ini adalah jalan untuk menuju kesuksesan. Ia sangat berharap editor itu mampu mengajari tentang dunia literasi. Karena alasan itu, dia mengenakan pakaian terbaik milik Kakak, pakaian sopan serba tertutup. Blouse lengan panjang berwarna vanilla dengan bawahan celana jeans dan sepatu ket. Ia ingin tampil sesempurna mungkin dan membentuk image baik di pertemuan pertama. Setelah siap, Vivi pergi menemui editor di tempat mereka janjian. Di dalam kafe, dia duduk dekat jendela sambil menonton banyak pejalan kaki berhilir-mudik di trotoar. Aroma pastri memberi nuansa nikmat. Obrolan lembut dari pelanggan pun tidak menghalangi suara musik yang menyapa telinga. Seorang pelayan berkemeja panjang putih dengan rompi sweeter tanpa lengan datang menghampiri Vivi. Dia mentoel lengan gadis itu memakai ujung tumpul pena, membuat yang ditoel menol
Betapa terkejut Anjas mendapati Vivi keluar dari kafe sampai nyaris menjatuhkan hp. Dia tak menyangka gadis sial masih nekat stalking. Ini kesempatan untuk memarahinya karena aksi di mall benar-benar membuat sengsara. Ia bangkit hendak mengejar, tapi urung karena mendapati stop map warna kuning tergeletak di meja yang baru saja gadis itu tinggal. Sesuai perjanjian harusnya gadis yang bakal dia ditemui membawa stopmap warna itu. Dia belum percaya jika gadis itu Vivi, berdoa supaya semua isi pikiran tidak benar. Untuk itu dia pindah duduk ke kursi yang masih hangat bekas dipakai Vivi. Setelah memakai kacamata baca, Anjas mulai membaca satu persatu halaman dalam stopmap, mulai dari kalimat pembuka sampai penutup. Cekatan dia mencoret-coret kalimat memakai pena, hingga kertas draft menjadi seperti canvas berisi lukisan tinta hitam. Dengan kasar ia menaruh stopmap kembali ke meja. Lemas Anjas menghela napas, bersandar pada sandaran kursi sambil memijat kedua
April terpaksa merayu Rafa untuk membuat janji baru dengan Anjas. Syukurlah, semua bisa berjalan dengan baik. Karena kesibukan Anjas, pertemuan dijadwal ulang, tepatnya beberapa hari kedepan.April menyampaikan berita ini ketika Vivi baru pulang dari kampus, ia mencegat adiknya di muka anak tangga paling bawah, menggenggam kedua pundak gadis itu."Ingat, kamu harus bertemu dengannya, enggak peduli dia siapa, mengerti?" Pesan April, mewanti-wanti adiknya."Siap, Kak." Vivi sampai memberi hormat pada gadis di hadapannya.Setelah kejadian tempo hari, dia memang bersemangat untuk bertemu Anjas karena pemuda itu benar-benar punya niat baik untuk membantunya. Anggapan itu karena draft dalam stopmap Vivi benar-benar dikoreksi olehnya.Hari demi hari berlalu. Keanehan demi keanehan terjadi pada diri Vivi. Dia yang terkenal hiperaktif sekarang seperti kambing hendak disembelih buat kurban, tapi kalau kambing mungkin diamnya sedih, tak ada nafsu hidup, kalau
Anjas bengong melihat betapa cerah wajah Vivi ketika menjawab tadi. Sekilas ia teringat akan sosok yang dulu memiliki senyum tak kalah indah. Sosok yang sempat sangat dia sayangi, tetapi sekarang menjadi setan yang sangat dibenci, hingga ingin memakannya mentah-mentah."Romance itu genre, kan?" tanya Vivi, dengan wajah polos menyertai ucapan.Anjas terkekeh. Genre pilihan Vivi sangat sering dia dengar sampai membuat muak. "Kenapa harus Romance? Kenapa bukan Fantasy? Kenapa bukan History?""Karena Romance indah, banyak cinta dan uwu-uwu. Semua manusia pasti memiliki kisah cinta, kan? Kakak juga pasti punya. Jadi bakal mudah menulis novel Romance, percaya deh."Vivi menangkap perubahan raut wajah Anjas yang tadi ramah kembali dingin. Ia sadar jika telah berbuat salah, tapi apa? Kenapa? Mungkin karena sombong? Dia memilih bertanya dari pada tersesat dalam pikiran. "Kenapa Kak?""Premis apa yang ingin kamu buat untuk novel Romance?" lanjut Anjas, kali
Vivi memandang Anjas tanpa kedip. Kedua tangan mengepal. Dia tak ingin berakhir seperti ini. Terlalu jauh untuk kembali. BErapa banyak pengorbanan yang ia beri. Tak sadar air mata mengalir di pipi.Anjas bangkit menarik lengan Vivi supaya mau duduk, tapi gagal.Vivi menepis tangan Anjas. "Aku enggak mau berhenti. Kakak membuatku ingat alasan menulis. Membuatku mengerti walau baru dikit. Kenapa sekarang malah disuruh berhenti? Maaf kalau aku bodoh--"Anjas duduk kembali. Cukup lama menikmati Vivi yang berjibaku menahan tangis supaya tidak meluber semakin deras. Gadis unik, anek, tapi penuh semangat. Ia menyeringai."Kalau mendengar sesuatu, jangan sepotong-potong. Duduk, biar kujelaskan. Kalau enggak mau duduk. kita udaham, bagaimana?"Diancam begitu perlahan Vivi duduk, mengusap air mata sambil mengatur napas sesengakan, mendapati Anjas menulis sesuatu di kertas, lalu mendorong benda itu di atas meja."Baca baik-baik."Vivi membaca tu
Anjas duduk di sofa nyaman. Dua pria berjas berdiri di belakang. Beberapa gadis yang duduk tak jauh dari tempatnya duduk berbisik-bisik sambil tertawa genit. Ketika Anjas menoleh, mereka tersenyum tak berani memandang balik. Mungkin karena penampilan Anjas kali ini? Dia memakai kaos lengan panjang dengan kerah membentuk V, berlapis sweeter bentuk rompi. Celana panjang kain hitam serasi dengan pantofel yang ia kenakan. Tiba-tiba wajah kedua gadis berubah menjadi wajah Anis dan Vivi. anjas menggeleng pelan, sedikit menunduk mengurut kening. Ia lanjut membaca. "Psst, gadis aneh tadi siapa ya? Katanya mau bertemu pacar, gitu," bisik seorang gadis kepada pacarnya, melintas santai di depan Anjas. "Enggak tahu juga. Tapi heboh banget," jawab pemuda, mengajak pacarnya duduk di sofa sebelah Anjas. Pengumuman terdengar nyaring. Sebentar lagi pesawat akan berangkat. Anjas hanya membawa hp, juga tas satchel hitam. Sebelum pergi ia
Motor yang Vivi kendarai, sampai di lahan parkir apartemen Anjas. Dia melepas helm sambil berlari kecil menuju gedung. Ia tak peduli pada Mimi dan Efendi yang baru datang melintas di samping mengendarai motor mereka. "Astagfirullah, Vivi tunggu!" Sasa memungut helm yang Vivi lepas. Yang dipanggil benar-benar tak mendengar ucapan, malah nyelonong masuk seorang diri ke dalam gedung. "Vivi, tunggu dulu, jangan bergerak sendiri seperti ini!" sentak Sasa, mengekor. Di depan lift, Vivi memencet tombol berulang kali bagai tiada hari esok. "Cepet ... cepetan!" Pintu lift terasa lama terbuka, bagai seabad dia menanti. Kesal Vivi memukul tembok. "Vivi!" sentak Sasa, menahan kedua tangan sahabatnya. "Jangan seperti ini, malu dilihat orang." Vivi memandang sekitar. Dua sekuriti berada di dekatnya. Banyak mata pengunjung melihat dan mereka berbisik-bisik. Bahkan beberapa orang di kafe apartemen berkumpul di dekat kaca jendela memandang aneh k
"Itu siapa?" bisik Alvin sambil memandang Efendi. "Jadi, dia cowok yang kamu suka? Orang Timur Tengah?" Vivi menggeleng sambil tertawa kecil. "Bukan lah. Dia Ismed, temannya Kak Anis. Sebentar ya, Vin. aku ke sana dulu." "Jangan pergi, di sini banyak wartawan, nanti mereka bisa berpikir macam-macam kalau kamu menemui cowok itu." "Tapi--" "Nanti ya, setelah wawancara selesai, baru temui dia." Vivi memandang sekitar. Wartawan memang banyak mengerumuni mereka, membuatnya susah untuk bergerak. Terlebih Ismed terjebak di kerumunan, tertahan oleh pihak keamanan. Ismed bisa bertahan di sana menunggu. Vivi memberi kode anggukan pada pemuda itu hingga membuatnya sedikit tenang. Para wartawan tak memberi kesempatan untuk Alvin dan Vivi pergi, memaksa mereka dikawal para pengawal berpakaian safari hitam menuju lahan parkir mobil. Mereka semakin jauh dari Ismed. Di kejauhan anggota band Miracle Never Die yang lain nyaris mendapat perlakuan sama se
Alvin membuka pintu kamar hotel, menaruh tas ransel ke dalam kamar. Cukup besar kamar itu juga adem karena embusan angin dari AC."Nah Vi, Bu, selama di Malang, kalian tinggal di sini, ya. Tenang saja, semua biaya Alvin yang tanggung."Ibu tertawa kecil menepuk-nepuk pipi pemuda itu. "Kamu sudah bisa mentraktir rupanya, ya." Beliau memandang seisi kamar, duduk di tepi kasur besar empuk di tengah ruang. Beliau melihat Alvin membuka pintu kamar mandi."Nah, ini kamar mandinya, Bu.""Iya Nak, terima kasih. Tante mau istirahat dulu." Beliau mendapati anak gadisnya berdiri sambil tertunduk malu, begitu juga Alvin yang nampak tak tenang. "Sudah, kalian pergi main sana, bebas mau ke mana saja asal Vivi harus kembali ke kamar ini sebelum jam sepuluh malam, mengerti?"Alvin mengangguk kecil."Ibu beneran enggak ikut nonton konser Alvin?" tanya Vivi, raut wajahnya penuh harap. Ia mengambil lembut jemari tangan Ibu.Beliau menggeleng. "Ibu
Banyak orang hilir mudik, tapi tidak satu pun yang dia kenal. Secangkir kopi panas dan sepiring jamur goreng menghias meja. Sekantung plastik putih berada di atas kursi sebelah kursi yang diduduki Ismed. Dia bersenandung pelan mengamati lift dan pintu masuk apartemen, berharap Anjas cepat pulang. Sesuai janji dia ingin mengganti hp milik Anjas yang rusak karena insiden malam kemarin.Pengunjung kafe semakin sedikit. Pejalan kaki di lobby pun mulai jarang. Tak terasa tiga gelas kopi kosong menghias meja. Hingga saat ini belum nampak sosok yang ditunggu. Ismed memandang jam di layar hp. Angka 23.45 memaksa suara decak kesal keluar dari bibirnya."Mana sih, kok lama. Apa dia menginap di rumah Vivi?" Senyumnya mereka membayangkan hal itu. Baru saja hendak bangkit, sosok yang dinanti tiba.Perban melingkar di kening. Anjas melangkah pelan dibantu satpam. Beberapa orang di belakang meja resepsionis bergegas turut membantu."Ya Tuhan." Ismed bu
Terdengar suara obrolan dari lorong. Banyak sampul buku terbitan Rayon menghias dinding ruang berdinding putih. Di ruang lumayan luas itu, Sasa duduk berjajar dengan Anjas dan Efendi, menanti seorang pria duduk di balik meja. Pria itu membaca dengan seksama draft di tangan sembari sesekali mengangguk, tersenyum. "Bagus ini jalan ceritanya. Sudah matang sekali dalam penulisan dan plotnya mengalir. Pembentukan karakter pun nyaris sempurna. Hanya sedikit kesalahan dalam penggunaan kalimat berdasar KBBI. Apa kamu yang ngedit, Njas?" Anjas mengangguk. "Cuma sedikit. Mayoritas isi draft dibuat oleh Sasa sendiri." "Benar begitu. Mbak?" Sasa mengangguk kecil. Wajahnya memerah malu, tertunduk tiada berani memandang langsung pria ramah berkemeja lengan pendek yang sembari tadi memandang kagum pada Sasa. "Kenapa kok enggak pernah mengirim kemari?" tanya pria ramah. Sasa tak menjawab, mungkin karena dia sungkan. Anjas tahu jika Sasa
Vivi menemui tamu yang Kakak maksud. Sosok itu berdiri membelakangi pintu, memakai denim hitam, celana jeans biru muda pudar, kupluk biru tua dan bersenandung kecil. Kedua tangan berada di belakang pinggang memegang setangkai bunga merah.April sengaja tak bersuara pergi dari sana, menepuk pundak Vivi."Siapa?" bisik Vivi."Cari tahu sendiri."Perlahan Vivi mendekat. Pasti Anjas. Ya, siapa lagi. Pikirannya sekarang penuh oleh pria berkacamata itu. Walau dia tahu tinggi badan mereka tak sama, tetapi harapnya terlalu besar hingga tercetus untuk menebak. Lalu bunga yang pemuda itu bawa, bunga kenangan Vivi dan Anjas. Pasti dia."Kak Anjas?"Pemuda itu berbalik. Senyum lebar gigi putih terlihat jelas. Ia melambai. "Hai Vi.""Ya Tuhan, Alvin? Kok bisa?" Vivi bingung karena baru saja melihat sosok pemuda itu di tv. "Bukannya baru wawancara--""Itu kan kemarin. Sehabis wawancara, aku tanya sama wartawan ada apa dan dia mencerita
Berita di TV tentang Anis membuat Anjas tersenyum puas. Dia bangkit dari duduk di sofa, melangkah ringan menuju balkon.Dia berdiri di sana. Angin sejuk pagi menerpa wajah, membuat rambut bergerak-gerak. Cahaya matahari baru terbit menebar hangat nikmat, sampai meresap ke hati. Tak sabar ingin bertemu Vivi, memberi kabar gembira.Ketika hendak masuk ke ruang, sebuah mobil Pajero hitam menyita perhatian. Mobil itu parkir di dekat pohon mangga di lahan parkir depan gedung. Pengemudi mobil turun. Seorang pria berjas hitam mendongak, melambai kecil ke arahnya. Anjas tahu pagi ini dia bakal kedatangan seorang tamu.Dia turun menuju kafe lantai bawah. Di sana Ismed duduk seorang diri ditemani dua cangkir kopi di meja. Kafe masih sepi, hanya beberapa kursi terisi pelanggan. Suara obrolan kecil mengiringi langkahnya.Melihat Anjas, ia tersenyum melambai kecil. Anjas menyeringai karena tingkah pria itu. Ia duduk di kursi depan Ismed."Sudah kubelikan
Suara gemercik air berasal dari arah dapur. Air dingin menerpa kulit tangan. Vivi sibuk mencuci piring seorang diri. Rencananya sehabis ini dia bakal kerja bakti bersama April dan ibu bersih-bersih rumah. Sekali lagi dia memandang layar hp.Dia berharap Anjas menghubungi, setidaknya mengirim pesan, tetapi tidak. Semua harap itu sirna. Ia menghela napas. Kenapa masih berharap? Anjas telah kembali bersama Anis. Dia telah meninggalkan kapal yang tenggelam, bernama kapal Vivi dan melompat ke kapal yang besar, kapal yang membawanya berlayar ke samudera bahagia..Matanya berkedip dengan cepat. Bibir bergetar. Vivi menutup mulut supaya suara tangis tidak terdengar.Sakit hatinya. Walau mencoba percaya jika apa yang dia lihat menyembunyikan suatu alasan, tetap saja ... rasanya seperti berjalan di ribuan duri kaktus. Sebegitu jahat Anjas hingga setelah berjuang bersama, sekarang dengan mudah membuangnya?Pasti ada penjelasan kenapa pemuda itu tak bisa