Share

Bab 4 Alasan Berkhianat

Penulis: Dhesu Nurill
last update Terakhir Diperbarui: 2023-03-09 16:54:01

"Mas!" Lusi menaikkan nada bicara karena kesal pada Raka.

Untuk apa Raka memohon pada Lusi jika tidak mau jujur? Tadi saja memaksanya untuk mendengarkan penjelasan Raka. Tetapi, sekarang? Kenapa dia bungkam? Apakah dia sudah berubah pikiran? Semua pertanyaan itu berputar di benak Lusi.

"Kalau kamu tidak jawab pertanyaanku, maka--"

"Tiga bulan, Lus." Jawaban Raka seperti petir yang menggelegar di atas kepala Lusi.

Menyentak jantung dan meluluh lantak1an persendiannya. Apa katanya? Tiga bulan? Itu artinya saat Lusi mencarikan kontrakan baru untuk Mila dan itu kontrakan milik Lusi.

Gila! Bagaimana bisa mereka melakukan pengkhianatan di belakang Lusi semulus ini? Lusi kecolongan sampai akhirnya Mila hamil duluan.

"Hahaha. Luar biasa, Mas."

Entah apa yang mendorongnya sampai tertawa seperti ini. Tidak ada yang lucu, justru hanya ada kepiluan dan miris akan nasib diri. Lusi menertawakan diri sendiri yang bodoh karena terpedaya oleh dua orang pengkhianat itu.

"Tiga bulan? Itu artinya setelah sebulan aku mengenalkanmu pada Mila, kalian bermain gila? Apakah kamu melakukannya di kontrakanku?" tanya Lusi menyelidik.

Raka hanya menunduk pasrah. Tidak ada satu kata yang terucap dari mulutnya, dan itu artinya dia tidak menyangkal tebakan Lusi.

Plak!

Tangan Lusi bergetar dengan rasa pedas yang menjalar di telapak tangan. Terlihat Raka tetap diam kala tamparan mendarat mulus di pipinya. Saking mulusnya, gambar tangan itu begitu jelas.

"Biadab! Berengsek! Bajingan! Kamu laki-laki jahat dan kotor, Mas! Apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa kamu melakukannya padaku? Apa salahku, Mas? Apa!"

Lusi menarik kerah kemeja Raka lagi, hingga wajah Raka terangkat. Dia tidak berani menatap Lusi, tapi wajahnya terlihat pasrah saat diperlakukan kasar.

"Apa yang ada di pikiranmu, Mas? Kenapa kamu tega? Kenapa?!" Lusi menangis tersedu-sedu. Sesak, sangat sesak sampai yang keluar dari mulutnya adalah isakan tertahan.

Lusi mendorong tubuh Raka hingga terjerembab ke lantai. Dia tidak mengerti. Selama ini, rumah tangga mereka baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran yang begitu berarti. Bahkan, dia tidak menemukan gelagat aneh dari suaminya. Tetapi, kenapa semua ini bisa terjadi? Apa yang salah? Di mana letak salahnya?

Semua pertanyaan itu berlomba-lomba memenuhi benak. Lusi sangat hancur.

"Kamu tidak salah, Lus. Aku sudah katakan itu. Kamu juga tidak ada kekurangan. Tapi, karena kamu yang terlalu sempurna membuatku seperti ini."

Lusi terdiam dan tangis itu langsung berhenti. Suami brengsek itu masih saja menunduk. Dia berbicara sembari bersimpuh di hadapannya.

"Aku merasa tidak ada gunanya di depanmu, Lus. Kamu sangat sempurna, sampai aku tak terlihat oleh orang lain. Kamu terlalu baik padaku hingga aku merasa hanya bisa menyusahkanmu. Semuanya salahku, Lus."

Lusi masih diam. Muak, memang. Tetapi, dia ingin mendengarkan semua penjelasan Raka.

"Aku berada di zona nyaman dan tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti. Hingga, rasa jenuh itu muncul, Lus. Dari sanalah semua ini terjadi. Aku salah, dan menyesal." Sekarang pria itu mendongak dengan mata memerah. Ada sesal juga pengharapan yang nyata. Tetapi, apakah semua itu berguna sekarang? Tentu tidak.

"Aku mohon ampun padamu, Lus. Aku salah, aku berengsek, aku biadab, aku bajingan dan apa pun sebutan yang pantas untukku, lontarkan saja. Tapi, aku mohon. Jangan tinggalkan aku, Lus."

Lusi terdiam sesaat, lalu tak lama kemudian terkekeh sembari menatap wajah Raka. Melihatnya memohon seperti itu, Lusi jadi penasaran dengannya.

"Mas, apa alasanmu ingin bertahan denganku? Jangan katakan soal cinta, karena kamu saja berani berkhianat. Jawab, Mas. Apa alasanmu yang sebenarnya?"

"Kenapa kamu diam, Mas? Katakan sesuatu. Jangan membuatku muak dan memilih menceraikanmu!" seru Lusi, kesal.

Pria itu masih saja diam. Dia malah menunduk di pangkuan Lusi sembari mengeratkan genggaman di tangan itu.

Lusi mencoba menyingkirkannya, tapi Raka malah menangis tersedu-sedu. Air mata buaya yang membuatnya muak.

Ini memang  kali pertama dia melihatnya menangis, tapi langsung muak karena air mata itu sebuah sesal dari pengkhianatannya.

"Aku mencintaimu, Lus. Sungguh. Aku  khilaf, karena telah main gila di belakangmu. Kalau saja Mila tidak hamil, aku tidak akan mau menikahinya," ujar Raka, suaranya terdengar parau.

Lusi sontak tertawa. Tetapi sialnya, air mata itu malah ikut keluar. Drama sekali hidup Raka.

"Lalu, kamu pikir aku akan tetap bertahan denganmu meski Mila tidak hamil? Tentu saja tidak, Mas! Aku masih waras untuk tidak menderita di sampingmu."

Enteng sekali Raka bilang begitu. Dia bilang tidak mau menikahi Mila, padahal dia sendiri yang sudah merenggut kesucian Mila. pengecut, kan?

"Aku, kan sudah bilang, Mas. Jangan bawa-bawa nama cinta kalau kamu saja berani mendua. Kebohongan besar itu, Mas! Dan aku tidak percaya lagi dengan perkataanmu."

Raka masih setia menunduk. Genggaman di tangan Lusi pun semakin erat. Apakah dia mulai putus asa?

Lusi diam sejenak, menjeda emosi yang sebelumnya membuncah. Beberapa kali dia menarik napas dan membuangnya secara perlahan.

Lusi masih tidak percaya kalau semua ini terjadi. Sungguh seperti mimpi buruk yang tak berujung. Tak bisa lagi tergambarkan kesakitan dan hancurnya perasaan itu.

Sekarang, Lusi berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Jika Lusi bercerai, bagaimana dengan Alia? Dia tidak mau anaknya menjadi korban broken home. Tetapi, dia juga tidak sudi harus berbagi suami dengan wanita jalang itu. Tidak.

Lusi harus berpikir jernih. Tidak bisa diputuskan hari ini. Dia tidak akan rugi jika kehilangan Raka, tapi gantinya, Alia yang akan kehilangan kasih sayang ayahnya.

Apalagi Mila akan punya anak. Perhatian Raka pasti fokus pada anak Mila yang masih bayi. 

'Tuhan, kenapa semua ini bisa terjadi? Apa yang harus aku lakukan?'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Elin Marlina
laki2 kdg mnrt mreka hanya iseng sprti mnguji diri masih laku apa ga, mreka g sadar prbuatan mrrka berakibat fatal, giliran ketauan nyesel
goodnovel comment avatar
Noval
Iyaaa di ulang2 terus katanya, gak asik ceritanya
goodnovel comment avatar
Hazreh Mandiri
terlalu bertele-tele... belum apa2 sdh bikin malas
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 5 Keputusan Lusi

    "Lusi ...."Pria itu akhirnya bersuara. Dia mendongak, menatap Lusi yang hanya diam dengan sorot mata datar."Lus, tolong ampuni aku. Aku hanya akan menikahi Mila sampai bayinya lahir, setelah itu aku akan menceraikannya. Tolong mengertilah posisiku, Lus."Bajingan itu lagi-lagi menggenggam tangan Lusi dengan sangat erat. Tetapi, sang wanita sudah tak memedulikannya."Aku sudah jujur padamu, Lus, dan aku akui semua kesalahanku. Aku khilaf, maaf."Lusi terkekeh hambar. Jujur setelah berselingkuh itu bukanlah kejujuran, tapi keterpaksaan."Mas, tadi kamu bilang aku terlalu sempurna? Lalu, kamu bilang jika kamu jenuh? Terus, kamu melampiaskannya dengan cara berselingkuh? Itu biadab namanya, Mas!"Raka diam. Kali ini dia tidak menunduk, tapi menatap istrinya dengan sesal. Sayangnya, Lusi memilih melempar pandangan ke depan."Kamu tahu, Mas? Aku manusia biasa, dan tidak ada yang sempurna di dunia ini. Itu penilaianmu saja yang tidak pernah merasakan bagaimana menjadi diriku. Lalu, jenuh? K

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-09
  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 6 Terancam Sengsara

    Lusi tersenyum miring, lalu Raka langsung menggenggam erat tangan wanita itu. Tetapi, Lusi mencoba melepaskan diri darinya."Lepas dulu, Mas. Aku mau mengambil Hp."Raka kontan melepaskan genggamannya. Lusi pun dengan cepat mengambil ponsel dari saku. Setelahnya, dia menyetel rekaman."Untuk apa kamu menyetel rekaman, Lus?" tanya Raka, terlihat bingung."Oh, ini? Aku sengaja merekamnya, biar aku dan kamu sama-sama ingat, apa saja yang sudah kita sepakati bersama." Raka masih terlihat bingung, tapi Lusi tetap melanjutkan untuk merekam pembicaraan mereka. Sekarang, situasinya membuat Lusi rugi dari segala arah. Jadi, akan dia pastikan semuanya adil.Lusi mengajak Raka untuk duduk di ruang tengah. Ini mengantisipasi kalau Alia pulang. Jika anak mereka datang, Lusi akan secepatnya menghentikan pembicaraan itu."Nah, Mas. Dengarkan semua yang aku katakan, karena aku malas jika harus menjelaskannya lagi."Raka diam saja dan Lusi pun langsung mengatakan apa saja yang menjadi syarat dari wan

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-05
  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 7 Silakan Pilih, Mas!

    Raka tidak melanjutkan ucapannya. Cukup lama dia terdiam, membuat Lusi mendesah kasar. Kalau Raka tidak mau, Lusi akan menawarkan perceraian hari ini juga. "Gimana, Mas? Itu syarat pertamaku. Kalau kamu tidak mau, gak masalah. Aku akan kirim gugatan--" "Oke, oke. Aku mau." Raka langsung memotong ucapan Lusi. Dia pasti takut mendengar kata cerai. Lusi tersenyum puas. Sekarang, dia akan melanjutkan syarat yang kedua. "Oke, yang kedua. Semua usaha yang kamu kelola, aku ambil alih. Aku yang akan mengelolanya." "Apa?!" Raka berdiri dengan wajah syok. Wajah yang membuat Lusi bersorak dalam hati. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh wanita itu. Kejatuhan Raka dan keterpurukan suaminya, akan membuat Lusi bahagia. "Apa kamu bilang tadi? Kamu mau mengelola usaha kita?" "Sttt!" Lusi menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri, menyuruh Raka untuk diam. "Kita? Maaf, ya, Mas. Itu usahaku, atas namaku. Kamu hanya mengelolanya saja, hak paten itu ada padaku. Apa kamu lupa?" Otot wajah Raka t

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-07
  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 8 Hukuman atau Balas Dendam?

    Raka terdiam saja. Dia mungkin bingung untuk memberikan keputusan. Karena, Mila pun harus tahu tentang persyaratan dari Lusi.Sebelum memutuskan untuk memilih yang mana, Lusi akan melanjutkan persyaratan yang sudah dibuat. Tentu saja dia akan memberikan banyak persyaratan, untuk membuat hidup suaminya menderita."Persyaratan yang ketiga.""Hah?!" Suaminya kontan terperanjat mendengar Lusi mengeluarkan kata-kata itu. Terlihat ekspresinya malah membuat wanita itu merasa puas."Kok, hah? Aku bilang persyaratan yang ketiga. Kenapa kamu kaget kaya gitu, sih?"Raka mulai kebingungan, tapi Lusi melanjutkan persyaratan ketiga yang diajukan pada pria itu."Yang ketiga, jangan sampai Alia tahu kalau kalian berselingkuh. Alia tahunya Mila itu teman baikku. Kalau sampai dia tahu kelakuanmu, aku tak bisa mencegah hal buruk yang mungkin saja terjadi di antara kamu dan Alia. Biarkan dia tahu kalau kamu sedang bekerja di tempat lain, sampai harus pergi dari rumah ini."Raka terperangah. Dia juga men

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-08
  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 9 Hanya Alasan

    Jikalau Lusi kembali pada Raka dan bertahan dengan suaminya, itu tidak akan sama lagi. Tidak. Pria itu sudah melakukan kesalahan fatal dan sayangnya Lusi bukan wanita pengemis cinta.Alasan bertahan demi anak hanya akan memberikan luka pada anak dengan tekanan berbeda. Dia melihat orang tuanya bersatu, tapi seperti musuh yang dibatasi oleh jurang. Lusi tidak mau Alia mengalami semua itu.Lusi sadar, serapat apa pun menyembunyikan perselingkuhan Raka dan Mila, Alia akan tahu. Hanya saja, dia melakukan ini demi mencari cara yang lebih baik.Lusi akan menjelaskan pada Alia secara pelan-pelan dan semoga anak itu akan mengerti."Lus, jangan seperti ini. Banyak laki-laki di luar sana yang melakukan perselingkuhan, tapi dimaafkan oleh istrinya. Bahkan, mereka rela dimadu."Lusi terperangah mendengar perkataan suaminya. Dia pikir Raka sudah paham saat menyetujui syarat dari Lusi. Tetepi, Raka sudah melontarkan perkataan salah karena membandingkan Lusi dengan wanita lain."Sayangnya aku bukan

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-09
  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 10 Momen Terakhir

    "Maaf," ucap Raka tiba-tiba, membuat Lusi tersadar dari lamunan.Lusi terkekeh tajam, manatapnya dengan datar. "Sekarang, maafmu tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi. Kamu mau menyesal dan bersujud padaku pun, tak akan kembali seperti dulu. Dari pada seperti itu, ada baiknya kamu gunakan waktu bersama Alia sebaik mungkin."Lusi memilih meninggalkan Raka dan bergegas berganti baju. Walaupun enggan dan malas jika berpergian dengan Raka, tapi ini adalah momen terakhir sebelum semua berubah. Sebelum syaratnya berlaku untuk Raka.'Baiklah, Lus. Tenang, dan anggap ini sebagai kenangan manis yabg bisa dikenang untuk Alia.'Alia dan Raka sedang tertawa bersama saat Lusi selesai berganti pakaian. Mereka berdua langsung menoleh pada Lusi. Tetapi, terlihat Raka tak mengedipkan mata kala melihat penampilan dirinya."Wah, Ibu cantik sekali. Iya, kan, Yah?"Bocah itu kenapa juga harus bertanya pada ayahnya? Membuat Lusi serba salah saja.Raka masih tak berkedip, tapi dia mengangguk sebaga

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-11
  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 11 Merasa Terpojok

    Lusi tersenyum puas melihat raksi suaminya. 'Ayo, Mas. Jawablah pertanyaan anakmu. Itu kan sesuai dengan keadaan rumah tangga kita.' Lusi membatin, ingin tahu bagaimana Raka menjelaskannya pada anaknya sendiri."Yah!""La-lampu hijau, Ayah harus menyetir. Tanya saja pada Ibu, nanti Ibu yang jawab."'What?! Haha.' Lusi ingin menertawakan jawaban yang diberikan oleh bajingan itu. Lihatlah ekspresi wajahnya? Dia seperti maling yang mengelak dari segala tuduhan. Ketakutan dan malu sendiri.Lusi ingin mengolok-oloknya atau mungkin menghina laki-laki sialan itu. Tatapi, sayangnya tidak bisa. Dia harus menahan diri. Jangan sampai Alia lihat pertengkaran di antara mereka."Ish, Ayah kok gitu, sih? Jadi, gimana, Bu?"Lusi kaget saat Alia benar-benar meminta jawaban padanya. Sekarang, giliran Lusi yang bingung. Bagaimana caranya membuat Alia mengerti tentang masalah rumah tangga?Lusi menghela napas sejenak. Kalau tidak dijelaskan, dia akan meminta penjelasan pada orang lain atau mungkin pada

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-13
  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 12 Ketakutan Alia

    "Ah, sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Jangan racuni Alia dengan pembicaraan tentang rumah tangga. Belum saatnya, Lus.""Kenapa belum saatnya, Mas? Aku rasa pantas saja dia tahu tentang kehidupan rumah tangga, apalagi temannya mengalami kehidupan sulit karena konflik rumah tangga orang tua. Sebelah mananya yang salah, Mas? Justru, kalau aku tidak menjelaskan dengan benar, Alia akan menelan bulat-bulat cerita dari temannya."Raka diam. Dia memejamkan mata, lalu menggenggam erat setir mobil. Lusi tahu, dia sedang menahan amarah. Sungguh mengasyikan membuat Raka tak berkutik seperti ini."Apa Ibu dan Ayah sedang bertengkar?"Lusi tersentak mendengar suara Alia. Ya Tuhan, dia lupa jika Alia ada di sini. Lusi menoleh padanya, dan mendapati wajah anak gadis itu tengah murung dengan mata memerah. 'Bagaimana ini?'"Ibu dan Ayah jangan bertengkar, Alia takut."Terdengar suara isakan dari gadis kecil itu. Lusi langsung membalikkan badan, menghadap anaknya dengan kekhawatiran yang penuh.Ah, ken

    Terakhir Diperbarui : 2023-04-15

Bab terbaru

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 567 Pekerjaan Baru

    Suara ponsel Winda berdering. Dia melihat ada nomor satpam yang menjaga supermarketnya. Wanita itu langsung meminta izin kepada Raka untuk mengangkat, takut terjadi apa-apa di tempat usahanya. "Iya, Pak. Ada apa?""Maaf, Bu Winda. Saya mengganggu waktunya, ini ada anak muda bersama Maura. Katanya dia mau kerja di sini itu atas rekomendasi Bu Winda. Apa benar?" Seketika Winda langsung terdiam. Dia menoleh kepada Raka yang sedang bersantai. Seharian kemarin mereka jalan-jalan dan Winda akhirnya bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Raka mau tidak mau harus memberikan nafkah batin kepada Winda. Dia takut kalau Winda mundur untuk mencari Alia. Entah itu karena terpaksa atau tidak, yang penting Raka sudah berusaha untuk membahagiakan Winda. Di manapun laki-laki akan diuntungkan jika berhubungan dengan wanita yang begitu mencintai, tetapi Raka merasa tertekan kalau harus berpura-pura memberikan kasih sayangnya kepada Winda. Untuk sekarang Raka tidak bisa melakukan lebih dari

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 566 Rasa Sepi dan Pengharapan

    Saat membuka pintu, Mila pikir ada Maura. Dia sampai memanggil-manggil adiknya itu, tetapi sayangnya tak ada siapa-siapa. "Ke mana anak itu?" ucap Mila. Dia menyuruh Imel untuk mencari ke sekitar rumah. Padahal gadis itu tidak tahu letak rumah ini dan bagaimana ruangannya, jadi sang gadis hanya melakukan apa yang disuruh majikannya. Entah itu mau ketemu atau tidak, yang penting sudah melaksanakan tugas."Saya lihat sampai belakang tidak ada, Bu. Tidak ada siapa-siapa," ujar gadis itu membuat Mila menghela napas panjang."Ke mana lagi sih anak itu?" gumam Mila, tetapi wanita-wanita berpikir sejenak. Mungkin Maura sudah kabur dari rumah ini. Dia tidak mengatakan apa-apa dan langsung berdiri untuk mengecek kamar Maura, ternyata masih ada barang-barangnya. "Ke mana sih dia? Kalau mau pergi harusnya pergi saja dan bawa semua barang-barang itu." Sementara Imel memilih untuk menunggu di ruang keluarga. Dia tidak berani mengikuti langkah majikannya, takut malah salah dan dimarahi. "Suda

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 565 Iming-iming

    Tepat pukul 08.00 pagi, akhirnya Mila bisa keluar dari rumah sakit itu. Dia menyuruh Imel untuk ikut ke rumahnya. Selama di perjalanan menggunakan taksi, Mila pun memilih untuk memberikan tugas penting kepada Imel. Karena dia yakin, kalau sendirian di rumah itu pasti tidak aman. Jika nanti Raka bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai ada orang baru di rumah, dia akan jujur mengatakan semuanya."Imel, saya memberikan tugas baru untukmu," ucap Mila tiba-tiba saja, membuat gadis itu menoleh. "Iya, Bu. Bagaimana?""Aku akan memberikan gaji dua kali lipat dibanding kamu kerja di toko saya, tapi tugasmu hanyalah menjadi asisten saya di rumah. Tugasmu memastikan kalau makanan saya baik dan semua yang berkaitan dengan saya, bagaimana?" tanya Mila membuat Imel terdiam.Gadis itu bukannya menjawab, tapi malah mengingat perkataan Maura tempo hari yang mengatakan kalau jika dirinya sampai mengurus Mila, maka harus sabar. Mengingat bagaimana perlakuan Mila di rumah sakit, membuat gadis itu

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 564 Stres atau Halusinasi?

    Karena Mila bersikeras, akhirnya dokter terpaksa mengizinkan wanita hamil itu pulang. Mungkin karena hormon yang berubah-ubah membuat Mila jadi seperti ini. Tetapi tenaga medis tersebut memberikan resep obat, termasuk obat penenang yang masih dikatakan aman demi kesehatan Mila. Takutnya wanita itu kembali merasakan cemas. Setelah dokter pergi, Imel pun datang. Seketika Mila langsung memarahi sang gadis."Kamu ke mana saja, sih?! Apa kamu tidak tahu? Saya hampir saja celaka karena kamu tidak ada!" seru Mila setengah membentak, membuat Imel terkesiap. Wanita itu baru saja beres dari kantin. Ternyata pagi-pagi banyak sekali yang mengantri, jadi dia terpaksa lebih lama di sana. Tetapi siapa sangka, kalau bosnya akan marah-marah seperti ini."Maaf, Bu. Tadi Ibu masih tidur, jadi saya kira tidak masalah kalau ditinggalkan sejenak. Saya cari sarapan dulu, Bu. Saya sangat lapar.""Lapar, lapar. Kamu pikir saya juga tidak lapar? Saya juga belum dikirim sarapan. Harusnya kalau kamu mau pergi,

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 563 Mimpi Buruk

    Semalaman Mila beberapa kali terbangun. Dia seperti sedang bermimpi buruk. Ucapan dari penelepon misterius itu terus-terusan terngiang di benaknya. Dia menoleh ke sekitar, takut ada orang jahat yang menyusup, tapi yang ada hanya sosok Imel. Gadis itu tertidur begitu lelap di sofa, tampaknya karyawan satu ini kelelahan karena sudah seharian menemani Mila. Wanita itu pun kembali tertidur. Entah sudah berapa kali Mila terbangun, sampai akhirnya pagi tiba. Di saat Imel bangun, Mila masih tertidur lelap. Gadis itu pikir majikannya sedang istirahat total dan berada di bawah pengaruh obat tidur, jadi dia memilih untuk ke kantin terlebih dahulu, membeli sarapan. Kalau Mila sudah terjamin makannya di rumah sakit ini, sementara dia tidak. Jadi, gadis itu memilih untuk menyiapkan diri sendiri sebelum majikannya bangun.Beberapa menit setelah Imel keluar dari ruangan, Mila terperanjat. Dia langsung terduduk sembari melihat ke sekitar. Tidak ada siapa-siapa, lagi-lagi suara di telepon itu kemba

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 562 Serba Terbatas

    Sesaat Arya kaget dengan jawaban yang diberikan oleh gadis itu. Ternyata memang Adiba spesial. Dia berani mengungkapkan apa pun, meskipun itu akan membahayakan diri sendiri. Tetapi Arya merasa tertantang, ingin tahu lebih lanjut sampai mana gadis ini punya rasa percaya diri dan keberanian. "Wow, wow! Ternyata kamu berani juga, ya? Aku tidak menyangka kalau gadis yang aku sukai ini suka to the point dan berani. Gadis yang seperti kamu langka, makanya aku suka sama kamu. Sayangnya, kamu sudah mengecewakanku. Tapi, kalau kita bertemu mungkin aku masih punya rasa sama kamu. Ya, baiklah. Lupakan itu semua. Lagi pula tidak akan ada artinya lagi untuk kita berdua, kan? Aku ingin tahu, kamu benar-benar tidak takut dengan apa yang sedang terjadi sekarang? Aku menerormu, tapi kamu tidak takut," terang sang pria itu, menantang. Membuat Adiba terdiam sejenak. Tangannya sekarang terasa dingin. Jantung berdetak dengan sangat kencang, menandakan kalau dia sebenarnya takut menghadapi pria ini. Teta

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 561 Untuk Apa Menghubungi?

    Tangan Adiba bergetar, tapi dia tidak gentar. Gadis itu langsung menyetel rekaman saat menelepon. Dia akan berusaha mengumpulkan bukti dan mencari di mana keberadaan Arya. Pria itu harus benar-benar ditangkap atau bila perlu dipenjara di tempat yang menakutkan, agar dia punya efek jera dibandingkan dipenjara di tempat biasa. Adiba yakin, Arya tidak mungkin menyesal begitu saja. "Jadi, saat ini kamu buronan?" tanya Adiba, jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Dia masih berusaha untuk tetap tenang, memancing kejujuran pria itu agar tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Arya sampai sang pria tiba-tiba saja menerornya dengan nomor yang berbeda-beda. "Menurutmu? Semua karena kamu, Adiba. Kalau saja kamu tidak mengadukan hal ini kepada Lusi, maka wanita itu tidak akan berbicara kepada Devan. Aku juga tidak akan ada dalam masalah," ungkap Arya. Dia menuangkan kekesalannya karena sudah dari lama terus memendam pikiran kacau, sebab tak ada tempat untuk berlindung. Di sini pun dia m

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 560 Memberanikan Diri

    Baru juga Adiba memikirkan Arya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ada nomor yang di-private, diyakini itu adalah Arya. Sebenarnya Adiba tidak mau menerima panggilan itu, tetapi dia harus memberanikan diri agar Arya berhenti untuk terus-terusan menerornya. Karena bagaimanapun semua sudah terjadi, Adiba melakukan ini juga demi temannya. Karena dia tahu Lusi tidak punya siapa-siapa lagi. Mungkin terdengar naif Karena seharusnya Adiba mementingkan keselamatan diri sendiri dibandingkan Lusi yang tidak ada hubungan darah, tetapi pertemanan mereka yang sudah lama membuat Adiba merasa kalau Lusi itu lebih dari saudara. Sang gadis menghela napas berkali-kali, berusaha untuk tenang. Dia akan menghadapi masalah ini. Percuma terus-terusan menghindar, percuma juga dia mengganti nomor telepon. Karena gadis itu yakin, Arya tidak akan secepat itu menyerah untuk terus menghantui dirinya. Dia akan berusaha tenang dan mencari jalan keluar yang terbaik. Setelah itu Adiba pun menerima telepon, tapi

  • Kuhancurkan Suamiku dan Gundiknya   Bab 559 Akibat Luka Lama

    Di tempat Lusi, saat ini wanita itu sedang mempersiapkan untuk pekerjaannya besok. Dia kebagian shif siang, jadi harus siap-siap agar pagi-paginya bisa menghabiskan waktu bersama Alia. Setidaknya menunggu anaknya di sekolah meskipun Alia saat ini sudah cukup besar untuk pergi sendiri atau tanpa ditunggu, tetapi Lusi ingin menghabiskan momen ini agar dia bisa memperlihatkan kalau dirinya masih memperhatikan anak itu. "Kamu yakin mau menemani Alia? Nggak ditinggal aja, ya?" "Sebentar, kok. Sampai dia masuk aja. Nanti kalau misalkan dia udah masuk kelas, aku pulang. Entah kenapa rasanya deg-degan mau pertama kali kerja takutnya malah nggak sesuai ekspektasi."Walaupun Adiba merasa janggal dengan penerimaan Lusi. Tetapi dia tidak berani mengatakan apa-apa, yang penting saat ini temannya bisa memulai hidup baru dan berharap semua baik-baik saja. "Ya sudah, itu kan rezeki kamu. Masih untung ada yang nerima di usia yang cukup matang kayak kita," ujar Adiba membuat Lusi langsung melihat de

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status