Di sisi lain, Arman terbaring di ranjang rumah sakit, masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tubuhnya kurus kering, wajahnya terlihat pucat memiliki banyak cekungan tajam karena kehilangan banyak berat badan.
Audrey yang baru datang, langsung menggenggam tangan Arman dengan penuh kehati-hatian. Dia ingin menghabiskan sisa-sisa waktu yang dia miliki untuk menatap lekat wajahnya yang akan dirindukan. Rasanya masih seperti mimpi, menghadapi kenyataan jika Audrey harus pergi meninggalkan Arman tanpa bisa berpamitan dan menceritakan keadaannya. Audrey harus merahasiakan kepergiannya ke ibu kota. Merahasiakan pengorbanan yang harus dilakukan untuk kesembuhan Arman. Menyembunyikan segunung ketakutan yang harus disimpan dalam diam. Ayahnya hanya perlu tahu bahwa Audrey pergi jauh untuk bekerja. Audrey tertunduk mengecup punggung tangan Arman, menyembunyikan tangisan yang tidak dapat dibendung lagi. “Aku akan melakukan segalanya untuk Ayah, karena itu aku mohon, segeralah sembuh agar pengorbananku tidak sia-sia,” tangis Audrey penuh permohonan. *** Perjalanan menuju ibu kota menghabiskan waktu 4 jam. Sepanjang jalan Audrey masih bertanya-tanya apakah dia telah membuat keputusan yang tepat? Dengan Audrey pergi meninggalkan kota Lapolez dan menyetujui syarat yang diinginkan Salma, secara tidak langsung masa depan Audrey akan berubah, dia harus siap mengandung di usia yang masih muda, melahirkan anak untuk lelaki asing yang hanya dia kenal sebatas nama. Sungguh, hati Audrey masih berkecamuk, tidak tahu apakah kini harus menangisi pekerjaan kotornya demi uang, atau mensyukuri uang telah dia dapatkan. Harusnya, Audrey tidak perlu takut karena saat ini dia akan bersama ibunya. Namun entah mengapa, insting Audrey tetap merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ketika sampai di airport, Audrey dan Angela pergi secara terpisah. Audrey langsung diantar pergi ke sebuah apartemen untuk beristirahat. Selama di apartemen, beberapa jam sekali Audrey selalu kedatangan tamu yang diutus oleh Salma. Mereka ditugaskan untuk memberikan perawatan dari ujung kaki hingga ujung kepala selama berjam-jam agar Audrey sempurna seperti Aurelie, kembarannya. Semua orang yang diutus Salma sangat berbakat, melalui tangan-tangan mereka yang profesional, cukup dengan dua hari perawatan, mereka telah berhasil membuat Audrey malu menatap cermin karena tidak mengenali dirinya sendiri. Dengan uang, Audrey yang kumal seperti gelandangan menjadi bersinar seperti nona muda yang hidup dalam kemakmuran. Dua hari tinggal di apartemen, semua orang yang datang bertamu adalah orang asing, ibunya masih belum menunjukan diri ataupun mengajak Audrey berbicara melalui telepon. Meski begitu, Audrey tidak mengeluh. Dia selalu mengingatkan dirinya sendiri agar selalu tahu diri. Hanya saja, di hari ketiga, pagi-pagi sekali dua orang asing datang ke apartemen membawa alat rias bersama beberapa set pakaian, mereka mendandani Audrey tanpa memberi penjelasan apapun. “Sudah saya duga, Anda memang sangat cantik,” puji penata rias tersenyum puas. Audrey mengenakan dress biru muda selutut, rambut panjangnya yang berwarna hitam legam terurai membingkai wajah mungil bermata zamrud. Mendengar itu, Audrey tersipu malu, mengusap permukaan dress yang begitu lembut dan nyaman di kulitnya. Mungkin ini salah satu pakaian terbaik yang pernah Audrey kenakan dalam hidupnya selain seragam sekolahnya. “Nyonya datang,” kata Lizy segera membereskan alat-alat make up yang berserakan. Deg! Tubuh Audrey menegak, jantungnya berdebar kencang menantikan pertemuannya dengan Salma, sosok ibu yang selama ini tidak Audrey kenali wajahnya. Audrey melihat ke arah pintu kamar dengan gugup–mendengar suara langkah sepatu yang semakin dekat. Tidak berapa lama, munculah sesosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu, dia begitu cantik terbalut dalam pakaian berwarna hitam menenteng sebuah tas. Kulit Audrey meremang, berpandangan dengan sepasang mata zamrud milik Salma. ‘Itukah Ibuku?’ batin Audrey. Bibir mungil Audrey terangkat, berusaha memberanikan diri menyapa Salma yang tidak pernah dia jumpai setelah delapan belas tahun lamanya berpisah. “Cepat, aku tidak mau terlambat,” perintah Salma dengan dingin memecah keheningan. Audrey terhenyak kaget. Ada sakit yang menelusup masuk ke dalam dada melihat Salma yang bersikap seolah pertemuan ini tidak memiliki arti apapun untuknya. Salma berbalik pergi, tanpa sedikitpun menyapa ataupun menunjukan sebuah kerinduan yang perlu diobati pada seorang putri yang telah lama dia tinggalkan karena perselingkuhannya. Dengan berat, Audrey beranjak dari tempat duduknya–keluar kamar dan menghampiri Salma. Dada Audrey sesak, merasakan ada sebuah tembok tinggi yang membatasi mereka berdua. Di tempat ini, mereka seperti dua orang asing yang dipertemukan untuk kepentingan pekerjaan, ikatan darah yang mengalir seperti sudah tidak ada artinya lagi. Apakah sekarang Audrey juga harus memanggil Salma dengan panggilan nyonya? Salma bersedekap, meneliti sosok Audrey dari ujung kaki hingga ujung kepala, begitu mirip dengan Aurelie. Salma yakin, tidak ada satu orangpun yang akan bisa membedakan keduanya. Kondisi Audrey yang kurus justru bisa dijadikan alasan mengapa Aurelie pergi kabur. Salma tiba-tiba mendekati Audrey. “Mulai detik ini, kau adalah Aurelie yang lupa ingatan. Lakukan tugasmu dengan baik tanpa bertanya apapun yang sebenarnya terjadi, jangan pernah coba-coba untuk memberitahu siapapun bahwa kau adalah kembaran Aurelie, kau tidak diizinkan pergi sebelum melahirkan anak untuk Dante. Mengerti?” Audrey mengangguk dengan berat, tidak mampu menatap sepasang mata Salma yang dingin. “Kita pergi sekarang.” Salma melenggang pergi diikuti oleh langkah terantuk-antuk Audrey yang berusaha berjalan secepat yang dia bisa agar tidak tertinggal. *** Jemari Audrey saling bertaut di pangkuan, duduk dalam ketegangan melihat lalu lalang kendaraannya yang memenuhi jalanan. Tidak ada percakapan apapun yang terjadi. Salma sibuk dengan handphonenya sendiri–sama sekali tidak menunjukan minat untuk berbicara dengan Audrey. Sekarang Audrey cukup mengerti mengapa selama ini Salma tidak pernah sekalipun berusaha untuk berkunjung ataupun menghubunginya. Sepertinya, Audrey tidak memiliki tempat di hati ibunya itu. Mungkin bagi Salma, karena putrinya kembar identik, melihat Audrey sama saja seperti melihat Aurelie. Lantas, apakah pantas Audrey diperlakukan sedingin ini oleh ibunya? Audrey dengar, seorang ibu adalah pemilik cinta paling murni bagi anak-anaknya. Tapi mengapa Audrey tidak merasakan sedikitpun kehangatan dimata ibunya? “Di mana Aurelie?” tanya Audrey memecah keheningan. “Dia pergi entah kemana, karena itu aku membutuhkan bantuanmu,” jawab Salma menggantung. Wanita itu menutup handphonenya dan melihat Audrey sepenuhnya, “Kuharap kau melakukan tugasmu dengan baik.” Audrey meremas dress-nya dengan kuat, menatap lekat wajah Salma. “Apa kita akan sering bertemu?” “Jika dibutuhkan, kita akan bertemu.” “Pernahkah Anda, sedikit saja memikirkan atau merindukan saya?” tanya Audrey lagi, masih berharap ada setitik perhatian yang bisa dia terima dari ibunya sebelum mereka berpisah lagi. Salma terdiam, terlihat begitu kesulitan untuknya menjawab sebuah pertanyaan sederhana dari Audrey. Salma membuang muka, melihat rumah besar berlantai dua menghadap ke arah sungai Aldes yang berwarna biru jernih. “Kita sudah sampai,” ucap Salma mengabaikan pertanyaan Audrey. Semakin mobil mendekat ke rumah itu, dapat Audrey lihat ada seorang pria berdiri tegap di anak tangga, terbalut dalam setelan formal berwarna hitam. Pria itu memiliki pahatan wajah sempurna dengan rambut berwarna coklat dan mata biru. Pria itu menempatkan tangannya di belakang punggung, menanti kedatangan Salma untuk membawa kembali putri kesayangannya yang sempat kabur satu minggu lalu. “Dia Dante Arnaud, lelaki yang menginginkan seorang bayi dari Aurelie. Mulai hari ini kau akan tinggal di rumah ini sampai berhasil melahirkan seorang anak untuknya. Bersikaplah tenang seolah kau sudah lama mengenalnya,” perintah Salma sebelum keluar dari mobil. Beberapa kali Audrey mengatur napasnya, mengumpulkan banyak keberanian untuk keluar dari mobil. Audrey tertunduk dengan langkah gemetar takut, tidak berani membalas tatapan Dante. Dia terintimidasi oleh tajamnya sorot mata Dante, tatapannya seolah tengah menghakimi Audrey seperti seorang pendosa besar.Dante menuruni satu persatu anak tangga, menghampiri Salma yang telah berhasil mengantar kembali putrinya sesuai dengan apa yang dijanjikan. Dinginnya sikap Salma berubah dalam sekejap, wanita itu tersenyum ramah saat berdiri di hadapan Dante. “Aku telah menasihati Aurelie, aku yakin sekarang dia telah belajar dari kesalahannya dan tidak akan membuat masalah lagi. Tolong maklumi perilakunya karena dia masih muda dan kini sedang sakit,” ucap Salma. Alis Dante sedikit terangkat, melihat Audrey yang tengah tertunduk tidak memiliki keberanian untuk menunjukan wajahnya, biasanya gadis itu akan menyelak seperti anjing menggonggong dengan wajah terangkat angkuh, bertindak tidak tahu malu. Entah apa yang sudah dibuat Salma hingga dia bisa membuat putri kesayangannya menjadi sedikit lebih tenang? Apa karena ini ada hubungannya kondisinya yang lupa ingatan? Jika dilihat dengan teliti, kondisi fisik Aurelie juga jauh lebih kurus dari yang terakhir kali. Meski begitu, Dante tidak akan p
Tanpa tahu apa yang terjadi, Audrey kini tengah terperangah takjub kala memasuki kamar yang akan ditempati. Ruangan yang disebut kamar itu lebih luas dari gubuk tempatnya tinggal bersama Arman! Di dalam kamar itu, barang-barang milik Aurelie juga sudah tertata rapi, sehingga Audrey tidak perlu menggunakan pakaian dekilnya lagi. Dengan riang Audrey melompat naik ke ranjang yang luas, berguling-guling diatas atas lembutnya sprei. Sejenak menikmati sesuatu yang selama ini tidak pernah dia dapatkan dalam hidupnya. Andai saja Arman ada disini, dia pasti tidak akan lagi sakit sebadan-badan karena tidur diranjang sekeras batu. Tanpa sadar Audrey tertawa, berpikir bahwa kini dia sedang terjebak dalam negeri dongeng. Dibandingkan seperti sedang disandera, justru Audrey merasa seperti sedang menikmati liburan mewah di sebuah hotel. Brak! “Setelah kehilangan kebebasan dan ingatan, apa sekarang kau sudah mulai gila?” Suara dingin Dante berhasil menghentikan tawa Audrey, perlah
“Kau sudah mengantar Aurelie kembali?” tanya Daud, suami Salma.“Sudah. Aku juga sudah memperingatinya agar dia tidak membuat masalah lagi, karena aku tidak akan lagi ikut campur urusan Aurelie selama dia bersama Dante, kau tidak perlu khawatir,” jawab Salma dengan penuh keyakinan.“Aku masih mentoleransi kesalahan Aurelie karena dia masih muda, namun kali ini tidak ada kesempatan apapun lagi untuknya, aku sudah muak dengannya. Pastikan dia tidak membuat masalah lagi jika kau peduli pada pernikahan kita,” peringat Daud.“Aku berjanji, kali ini tidak akan lagi.”“Kupegang kata-katamu.”Salma tersenyum penuh keyakinan.Daud tidak tahu saja jika Salma telah mengatur sebuah rencana untuk memperbaiki kekacauan yang dibuat Aurelie, yaitu dengan menjadikan Audrey perisai yang menggantikan semua tanggung jawab Aurelie. Karena itulah Salma bisa percaya diri menjanjikan Aurelie tidak akan membuat ulah lagi.Ya, sejak menikah dengan Daud, Aurelie tumbuh dalam gelimang harta. Semua kebutuhannya
Dante Arnaud, dia adalah seorang pengusaha wine yang hanya diketahui nama dan wajahnya oleh segelintir orang. Dibalik ketenaran wine yang dia produksi, Dante menjalani kehidupannya secara tertutup dan jauh dari sorotan, beberapa kali winenya mendapatkan penghargaan di kancah internasioanl, selama itu juga Dante hanya mengirim perwakilannya untuk menunjukan diri. Saking tertutupnya, tidak ada banyak yang tahu tentang kehidupannya, bahkan beberapa orang yang sempat melayaninya sekalipun, hanya keluarganya yang tahu siapa itu Dante Arnaud. Dante hidup dikalangan keluarga yang berada, ayahnya adalah seorang pemilik hotel dan ibunya seorang professor di universitas bergengsi. Tidak sejalan dengan apa yang diajarkan orang tuanya, sejak masih muda Dante lebih gemar mempelajari minuman hingga memutuskan berhenti sekolah, memfokuskan diri untuk mengembangkan wine yang digemarinya. Setelah lebih dari sepuluh tahun melakukan banyak usaha, kini Dante telah menuai hasil dari kerja kerasn
Cahaya sinar matahari sudah mulai redup menandakan malam akan segera datang, kehangatan yang sempat menembus jendela berganti dingin. Audrey masih mengurung diri di dalam kamarnya, masih bergumul dengan sakit yang tidak dia ketahui bagaimana cara untuk mengatasinya. Sekasar apapun Audrey membersihkan tubuhnya hingga kulitnya berdarah perih, dia tetap merasakan kehinaan dan kekotoran yang begitu melekat. Sekeras apapun Audrey mencuci seprai untuk menghilangkan jejak nodanya, namun kenangan buruk itu tetap tertanam dikepala. Audrey meringkuk di sofa seperti sebuah janin yang rentan, setiap kali dia melihat kearah ranjang, seluruh kulitnya meremang dan dia menangis, terbayang kenangan menakukan yang telah terjadi. Audrey menarik napasnya dalam-dalam, merasakan perih ditenggorokannya yang mengering. Audrey haus dan lapar, namun dia segan untuk keluar apalagi harus bertemu dengan lelaki jahat, bernama Dante Arnaud. Audrey belum siap menerima ini semuanya, mentalnya sedang terkoyak,
Arman menggenggam erat kertas itu dengan tangan gemetar, rangkaian tulisan yang dibuat oleh balpoin luntur terkena beberapa tetes air matanya. Arman tertunduk menangis pilu, menangisi kepergian Audrey harus menghabiskan masa remajanya dengan bekerja. Arman tidak menyangkal bahwa dia memang bukanlah ayah yang baik untuk Audrey. Setiap kali melihat wajah Audrey yang mirip ibunya, kebencian didalam hatinya pada Salma selalu terpupuk, Arman selalu kembali teringat pengkhianatan Salma dan membuatnya hidup dalam kubangan keterpurukan. Kebencian Arman pada Salma membuatnya mengabaikan Audrey dan tidak pernah memberikan masa kecil yang indah untuknya. Sering kali Arman meninggalkannya dirumah sendirian tanpa memikirkan keadaannya, sering kali Audrey kelaparan karena Arman lebih mementingkan diri membeli minuman, sering kali mereka bertengkar karena penagih hutang datang. Bahkan ketika Arman sudah diponis kanker dan tidak bekerja lagi, dengan keras kepala dan egoisnya dia masih sering me
Di tengah malam yang gelap gulita, Audrey duduk menghadap telepon umum. Digenggamnya beberapa koin uang yang tersisa. Sejak perceraian orang tuanya, masa kecil Audrey hanya penuh dengan pemandangan suram. Sang ayah terjatuh dalam jurang depresi. Setiap hari dia berangkat bekerja sebagai buruh pabrik dan meninggalkan Audrey sendirian di rumah. Upah buruh yang tidak seberapa selalu habis untuk biaya makan dan mabuk-mabukan Arman, tidak jarang Arman menjual barang-barang rumah demi bisa mabuk. Audrey pun harus bertahan di rumah yang berdinding tambalan kayu yang saat hujan akan bocor dan saat musim salju selalu ada banyak arang yang terbakar di setiap penjuru tempat karena tidak ada penghangat ruangan. Audrey sangat marah. Namun, dia tidak bisa membenci sikap ayahnya setelah mendengar cerita dari banyak orang bahwa Arman berubah menjadi pemabuk semenjak ditinggal oleh isterinya yang berselingkuh. Menyedihkannya sejak Audrey menginjak usia lima belas tahun, Arman mulai berhenti be
“Syaratnya akan dibicarakan besok, sekaligus membawa uang yang kau butuhkan. Dimana kau sekarang berada?” tanya Salma semakin memperbesar harapan Audrey.“Saya ada di rumah rumah sakit kota Lapolez.”“Tunggu saja besok, sampai jumpa.”Sambungan telepon terputus begitu saja tanpa ada pembicaraan apapun lagi padahal masih ada waktu yang tersisa satu menit untuk bisa Audrey gunakan berbicara dengan ibunya.Audrey sempat berpikir, ibunya akan berbicara sesuatu untuk menguatkannya dan saling menanyakan kabar lebih lanjut, tapi ternyata sikap Salma cukup dingin.Apa karena Audrey menelponnya ditengah malam dan mengganggu waktu tidurnya?Audrey keluar dari ruang telepon umum, kembali masuk ke rumah sakit dengan segenggam harapan bahwa besok dia menemukan jalan keluar dari segala masalah yang tengah dihadapinya.***Sebuah pertemuan yang dijanjikan akhirnya terjadi.Sepanjang malam Audrey menanti dengan cemas, berpikir bahwa ibunya akan datang ke kota Lapolez untuk menemuinya, Audrey ingin se
Arman menggenggam erat kertas itu dengan tangan gemetar, rangkaian tulisan yang dibuat oleh balpoin luntur terkena beberapa tetes air matanya. Arman tertunduk menangis pilu, menangisi kepergian Audrey harus menghabiskan masa remajanya dengan bekerja. Arman tidak menyangkal bahwa dia memang bukanlah ayah yang baik untuk Audrey. Setiap kali melihat wajah Audrey yang mirip ibunya, kebencian didalam hatinya pada Salma selalu terpupuk, Arman selalu kembali teringat pengkhianatan Salma dan membuatnya hidup dalam kubangan keterpurukan. Kebencian Arman pada Salma membuatnya mengabaikan Audrey dan tidak pernah memberikan masa kecil yang indah untuknya. Sering kali Arman meninggalkannya dirumah sendirian tanpa memikirkan keadaannya, sering kali Audrey kelaparan karena Arman lebih mementingkan diri membeli minuman, sering kali mereka bertengkar karena penagih hutang datang. Bahkan ketika Arman sudah diponis kanker dan tidak bekerja lagi, dengan keras kepala dan egoisnya dia masih sering me
Cahaya sinar matahari sudah mulai redup menandakan malam akan segera datang, kehangatan yang sempat menembus jendela berganti dingin. Audrey masih mengurung diri di dalam kamarnya, masih bergumul dengan sakit yang tidak dia ketahui bagaimana cara untuk mengatasinya. Sekasar apapun Audrey membersihkan tubuhnya hingga kulitnya berdarah perih, dia tetap merasakan kehinaan dan kekotoran yang begitu melekat. Sekeras apapun Audrey mencuci seprai untuk menghilangkan jejak nodanya, namun kenangan buruk itu tetap tertanam dikepala. Audrey meringkuk di sofa seperti sebuah janin yang rentan, setiap kali dia melihat kearah ranjang, seluruh kulitnya meremang dan dia menangis, terbayang kenangan menakukan yang telah terjadi. Audrey menarik napasnya dalam-dalam, merasakan perih ditenggorokannya yang mengering. Audrey haus dan lapar, namun dia segan untuk keluar apalagi harus bertemu dengan lelaki jahat, bernama Dante Arnaud. Audrey belum siap menerima ini semuanya, mentalnya sedang terkoyak,
Dante Arnaud, dia adalah seorang pengusaha wine yang hanya diketahui nama dan wajahnya oleh segelintir orang. Dibalik ketenaran wine yang dia produksi, Dante menjalani kehidupannya secara tertutup dan jauh dari sorotan, beberapa kali winenya mendapatkan penghargaan di kancah internasioanl, selama itu juga Dante hanya mengirim perwakilannya untuk menunjukan diri. Saking tertutupnya, tidak ada banyak yang tahu tentang kehidupannya, bahkan beberapa orang yang sempat melayaninya sekalipun, hanya keluarganya yang tahu siapa itu Dante Arnaud. Dante hidup dikalangan keluarga yang berada, ayahnya adalah seorang pemilik hotel dan ibunya seorang professor di universitas bergengsi. Tidak sejalan dengan apa yang diajarkan orang tuanya, sejak masih muda Dante lebih gemar mempelajari minuman hingga memutuskan berhenti sekolah, memfokuskan diri untuk mengembangkan wine yang digemarinya. Setelah lebih dari sepuluh tahun melakukan banyak usaha, kini Dante telah menuai hasil dari kerja kerasn
“Kau sudah mengantar Aurelie kembali?” tanya Daud, suami Salma.“Sudah. Aku juga sudah memperingatinya agar dia tidak membuat masalah lagi, karena aku tidak akan lagi ikut campur urusan Aurelie selama dia bersama Dante, kau tidak perlu khawatir,” jawab Salma dengan penuh keyakinan.“Aku masih mentoleransi kesalahan Aurelie karena dia masih muda, namun kali ini tidak ada kesempatan apapun lagi untuknya, aku sudah muak dengannya. Pastikan dia tidak membuat masalah lagi jika kau peduli pada pernikahan kita,” peringat Daud.“Aku berjanji, kali ini tidak akan lagi.”“Kupegang kata-katamu.”Salma tersenyum penuh keyakinan.Daud tidak tahu saja jika Salma telah mengatur sebuah rencana untuk memperbaiki kekacauan yang dibuat Aurelie, yaitu dengan menjadikan Audrey perisai yang menggantikan semua tanggung jawab Aurelie. Karena itulah Salma bisa percaya diri menjanjikan Aurelie tidak akan membuat ulah lagi.Ya, sejak menikah dengan Daud, Aurelie tumbuh dalam gelimang harta. Semua kebutuhannya
Tanpa tahu apa yang terjadi, Audrey kini tengah terperangah takjub kala memasuki kamar yang akan ditempati. Ruangan yang disebut kamar itu lebih luas dari gubuk tempatnya tinggal bersama Arman! Di dalam kamar itu, barang-barang milik Aurelie juga sudah tertata rapi, sehingga Audrey tidak perlu menggunakan pakaian dekilnya lagi. Dengan riang Audrey melompat naik ke ranjang yang luas, berguling-guling diatas atas lembutnya sprei. Sejenak menikmati sesuatu yang selama ini tidak pernah dia dapatkan dalam hidupnya. Andai saja Arman ada disini, dia pasti tidak akan lagi sakit sebadan-badan karena tidur diranjang sekeras batu. Tanpa sadar Audrey tertawa, berpikir bahwa kini dia sedang terjebak dalam negeri dongeng. Dibandingkan seperti sedang disandera, justru Audrey merasa seperti sedang menikmati liburan mewah di sebuah hotel. Brak! “Setelah kehilangan kebebasan dan ingatan, apa sekarang kau sudah mulai gila?” Suara dingin Dante berhasil menghentikan tawa Audrey, perlah
Dante menuruni satu persatu anak tangga, menghampiri Salma yang telah berhasil mengantar kembali putrinya sesuai dengan apa yang dijanjikan. Dinginnya sikap Salma berubah dalam sekejap, wanita itu tersenyum ramah saat berdiri di hadapan Dante. “Aku telah menasihati Aurelie, aku yakin sekarang dia telah belajar dari kesalahannya dan tidak akan membuat masalah lagi. Tolong maklumi perilakunya karena dia masih muda dan kini sedang sakit,” ucap Salma. Alis Dante sedikit terangkat, melihat Audrey yang tengah tertunduk tidak memiliki keberanian untuk menunjukan wajahnya, biasanya gadis itu akan menyelak seperti anjing menggonggong dengan wajah terangkat angkuh, bertindak tidak tahu malu. Entah apa yang sudah dibuat Salma hingga dia bisa membuat putri kesayangannya menjadi sedikit lebih tenang? Apa karena ini ada hubungannya kondisinya yang lupa ingatan? Jika dilihat dengan teliti, kondisi fisik Aurelie juga jauh lebih kurus dari yang terakhir kali. Meski begitu, Dante tidak akan p
Di sisi lain, Arman terbaring di ranjang rumah sakit, masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tubuhnya kurus kering, wajahnya terlihat pucat memiliki banyak cekungan tajam karena kehilangan banyak berat badan. Audrey yang baru datang, langsung menggenggam tangan Arman dengan penuh kehati-hatian. Dia ingin menghabiskan sisa-sisa waktu yang dia miliki untuk menatap lekat wajahnya yang akan dirindukan. Rasanya masih seperti mimpi, menghadapi kenyataan jika Audrey harus pergi meninggalkan Arman tanpa bisa berpamitan dan menceritakan keadaannya. Audrey harus merahasiakan kepergiannya ke ibu kota. Merahasiakan pengorbanan yang harus dilakukan untuk kesembuhan Arman. Menyembunyikan segunung ketakutan yang harus disimpan dalam diam. Ayahnya hanya perlu tahu bahwa Audrey pergi jauh untuk bekerja. Audrey tertunduk mengecup punggung tangan Arman, menyembunyikan tangisan yang tidak dapat dibendung lagi. “Aku akan melakukan segalanya untuk Ayah, karena itu aku mohon, segeralah sembuh aga
“Syaratnya akan dibicarakan besok, sekaligus membawa uang yang kau butuhkan. Dimana kau sekarang berada?” tanya Salma semakin memperbesar harapan Audrey.“Saya ada di rumah rumah sakit kota Lapolez.”“Tunggu saja besok, sampai jumpa.”Sambungan telepon terputus begitu saja tanpa ada pembicaraan apapun lagi padahal masih ada waktu yang tersisa satu menit untuk bisa Audrey gunakan berbicara dengan ibunya.Audrey sempat berpikir, ibunya akan berbicara sesuatu untuk menguatkannya dan saling menanyakan kabar lebih lanjut, tapi ternyata sikap Salma cukup dingin.Apa karena Audrey menelponnya ditengah malam dan mengganggu waktu tidurnya?Audrey keluar dari ruang telepon umum, kembali masuk ke rumah sakit dengan segenggam harapan bahwa besok dia menemukan jalan keluar dari segala masalah yang tengah dihadapinya.***Sebuah pertemuan yang dijanjikan akhirnya terjadi.Sepanjang malam Audrey menanti dengan cemas, berpikir bahwa ibunya akan datang ke kota Lapolez untuk menemuinya, Audrey ingin se
Di tengah malam yang gelap gulita, Audrey duduk menghadap telepon umum. Digenggamnya beberapa koin uang yang tersisa. Sejak perceraian orang tuanya, masa kecil Audrey hanya penuh dengan pemandangan suram. Sang ayah terjatuh dalam jurang depresi. Setiap hari dia berangkat bekerja sebagai buruh pabrik dan meninggalkan Audrey sendirian di rumah. Upah buruh yang tidak seberapa selalu habis untuk biaya makan dan mabuk-mabukan Arman, tidak jarang Arman menjual barang-barang rumah demi bisa mabuk. Audrey pun harus bertahan di rumah yang berdinding tambalan kayu yang saat hujan akan bocor dan saat musim salju selalu ada banyak arang yang terbakar di setiap penjuru tempat karena tidak ada penghangat ruangan. Audrey sangat marah. Namun, dia tidak bisa membenci sikap ayahnya setelah mendengar cerita dari banyak orang bahwa Arman berubah menjadi pemabuk semenjak ditinggal oleh isterinya yang berselingkuh. Menyedihkannya sejak Audrey menginjak usia lima belas tahun, Arman mulai berhenti be