Bara dan Kara berciuman begitu lama. Tidak seperti ciuman mereka yang sempat malu-malu kucing di awal percintaan panas mereka, ciuman kali ini lebih menuntut dan mendamba membuat kedua nya merasakan panas yang menjalar di sekujur tubuh mereka.Bara meraba ke arah belakang Kara dan membuka resleting blouse yang dipakai oleh Kara.Darah Kara berdesir ketika jari jemari Bara menyentuh kulit punggung nya yang hanya terhalang dua tali penyangga.Tanpa sadar Kara pun mendesah, saat Bara meraba tubuh bagian belakangnya. Kara menatap Bara yang juga menatap nya penuh nafsu.Dengan nafas yang tersengal-sengal, Bara mencium kedua mata indah istri nya itu, membuat Kara merasa sangat dicintainya oleh sang suami.Masih dengan bibir yang hanya berjarak seangin- angin dari Kara, Bara berkata. "Apa kau keberatan kalau kita bercinta di sini?" Bahkan saat mengucapkan itu, bibir Kara dapat merasakan gerak bibir Bara tepat di bibirnya.Dengan nafas yang tersengal-sengal dan dada yang naik turun, Kara ters
Malam harinya, Kara sudah berada di dalam kamarnya. Dia tampak tengah serius mengerjakan sesuatu, sampai suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Kara refleks menoleh ke arah sumber suara.Di ambang pintu, ia melihat sang suami sedang berdiri menatapnya dengan sebuah handuk kecil yang melingkar di pinggangnya Rambut yang masih basah, dengan air yang sesekali masih menetes membuat pria itu terlihat semakin sempurna."Ekhem! Aku tau kalau aku ini tampan, tapi tidak perlu melihatku sampai air liurmu hampir menetes juga kan?" goda Bara sambil berjalan mendekati sang Istri.Kara dengan refleks mengusap mulutnya, yang tentu saja tidak benar-benar hampir meneteskan air liur seperti yang Bara katakan."Kau menggodaku?!" kesal Kara.Bara terkekeh geli dan duduk tepat di samping sang Istri, "Apa yang sedang kau buat?" "Desain," ujar Kara sambil kembali fokus pada kertas-kertas di atas meja itu.Bara mengerutkan keningnya, "Desain? Kau tertarik pada desain?" tanya Bara sambil mengambil sele
Kara menghela nafas dan mencoba untuk tersenyum. "Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktu mu untuk melihat rancangan ku," ucap Kara yang kemudian duduk kembali ke tempat kerjanya.Moon yang sedari tadi melihat Kara mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan dari Johan dan Angela yang bermuka dua, sebenarnya merasa iba pada Kara.Moon membuka laci nya dan mengeluarkan beberapa katalog ekslusif perusahaan untuk rancangan konsumen VVIP. "Ini," kata Moon sambil meletakkan setumpuk katalog berwarna hitam emas dan silver. "Jaga ini dengan jiwa raga mu! Sebab aku harus menjatuhkan harga diri ku pada kedua orang itu untuk mendapatkan ini!!" bisik Moon yang kemudian kembali duduk di tempat nya.Johan tentu saja mendengarkan apa yang Moon katakan. Tapi dia tidak mau ambil pusing, mau sebanyak apapun Kara mempelajari model, kalau memang basic nya bukan seorang designer, maka hasil nya akan sama saja.Itulah mengapa Johan menyuruh Kara mengulang hasil rancangan tanpa melihat perubahan yan
"Ehm ... Maaf, Angela. Tadi tanganku tidak sengaja tersiram air panas saat hendak mengambilkan minuman untukmu, jadi aku pergi ke klinik perusahaan untuk meminta salep." Kara mengatakan yang sejujurnya.Terdengar helaan napas panjang dari wanita di hadapannya itu, "Jangan ulangi lagi. Kau sudah membuat Anggia menunggu terlalu lama tadi, dan itu membuatnya kesal.""Baik."Kara berjalan menuju meja kerjanya. Dan saat ia baru saja duduk, Moon berjalan mendekatinya dan bertanya, "Apa yang terjadi? Kenapa Mak Lampir itu memarahimu?""Moon?" Kara mengelus dadanya karena terkejut dengan Moon yang tiba-tiba berada di belakangnya, "Tadi tanganku tersiram air panas, jadi aku tak membawa minuman untuknya dan Anggia. Itulah kenapa dia marah," ujar Kara sembari mendengus pasrah.Moon mengepalkan tangannya dan berucap pelan, "Dasar Nenek Sihir! Lagi pula di perusahaan ini kan ada OB, kenapa juga dia harus menyuruhmu!?"Kara hanya tersenyum kecil menanggapi omelan Moon itu, sebelum akhirnya mereka k
Telapak tangan Kara berkeringat saat dia membaca pesan teks itu, "Apa dia melihatnya? Oh tidak ... ini pasti akan rumit!" keluh Kara dalam hati.Setelah hidup bersama dengan Bara, Kara mulai menyadari jika meredakan amarah sang suami membutuhkan tenaga yang besar. Tak perlu di jelaskan, karena kalian pasti paham bagaimana cara Kara untuk meredakan amarah prianya itu."Hei, Vivian. Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" tanya Moon yang akhirnya berhasil menyusul langkah Kara."Eh, tidak ada apa-apa . Aku hanya merasa sedikit lelah saja." Kara tersenyum pada Moon, membuat Moon menganggukkan kepalanya.Keduanya pun berjalan beriringan, kembali ke ruang kerja mereka. Berbeda dengan Dave yang masih tampak mengerutkan keningnya, memikirkan alasan dibalik sikap Kara yang menurutnya sedikit aneh."Apa dia sedang sakit? Atau dia sengaja menghindariku?" batinnya sembari melihat ke sekitar, dimana mata para wanita tampak mencuri pandang ke arahnya.Dave meletakkan sendok di tangannya, saat ponsel yan
Bara memagut bibir Kara dengan penuh gairah.Kara yang tadinya sempat dengan ciuman Bara yang tiba-tiba, kini malah mengalungkan tangannya ke leher Bara, membuat pria itu semkain menekan pinggang mungil istrinya itu hingga tubuh mereka saling menempel.Ciuman yang begitu menuntut dan mendamba itu membuat Kara merasakan panas mulai menjalar di sekujur tubuhnya, terlebih saat tangan kekar sang suami mulai meraba bagian belakang dan membuka resleting blouse yang dia pakai.Darah Kara berdesir ketika jari jemari Bara menyentuh kulit punggung nya yang hanya terhalang dua tali penyangga itu.Tanpa sadar Kara pun mendesah saat Bara meraba tubuh bagian belakangnya dan menatap Bara yang juga menatap nya penuh nafsu.Dengan nafas yang tersengal-sengal, Bara mencium kedua mata indah istri nya itu, membuat Kara merasa sangat dicintainya oleh sang suami.Masih dengan bibir yang hanya berjarak seangin- angin dari Kara, Bara berkata. "Apa kau sudah siap meberima hukumanmu, Nyonya Alexandrio?"Bahkan
"Aku harus segera kembali ke ruanganku. Kalau nanti ada yang melihatku keluar ruangan ini, aku akan kesulitan menjawab pertanyaan mereka," kata Kara.Bara menyalakan layar besar di depannya, yang menampilkan kondisi aula perusahaan."Istirahatlah dulu, aku sudah minta Elka menahan mereka paling tidak satu setengah jam," kata Bara dengan entengnya"Anda benar-benar orang yang luar biasa, Pak Presdir," ujar Kara dengan wajah tak habis pikir atas kelakuan absurd suaminya itu.Alhasil, Kara pun berisitirahat sejenak, sebelum akhirnya di keluar dari ruangan itu dan menuju ke toilet untuk membersihkan dan merapikan penampilannya yang berantakan karena ulah sang suami.Setelah dirasa cukup, Kara baru kembali ke ruangannya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya sampai saat Moon bertanya kenapa dia tak melihat Kara tadi.#Flashback Off"Kenapa semua orang pulang?" Bara bertanya-tanya dalam hati, saat ia melihat dari cctv kalau orang-orang di perusahaannya pulang, padahal hari baru menunjukan p
Bulan purnama yang indah tampak sudah duduk di atas singgasananya, menerangi gelapnya bumi bertemankan sejuknya hembusan angin malam."Sayang ... tidak bisakah kau lupakan dulu pekerjaanmu saat sedang di rumah?" rengeknya dengan manja, sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang Istri.Helaan napas panjang terdengar sebelum akhirnya dia berkata, "Desainku sudah harus siap besok, jadi bagaima bisa aky bersantai?" Dia mendorong wajah sang suami menjauh dan kembali fokus pada pekerjaannya.Bara meraih ponsel miliknya yang ia letakkan di atas nakas dan mengetikkan sebuah pesan di sana, yang selanjutnya entah ia kirim pada siapa.Namun tak lama berselang, ponsel Kara yang berada di sampingnya pun bergetar, menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang."Siapa yang meneleponku malam-malam begini?" gumam Kara sembari menyambat benda pipih itu dan menerima panggilan telepon itu setelah ia melihat nama yang tertera di layarnya."Halo, Moon. Ada apa? " tanya Kara begitu panggilan itu