"Bercanda sayang, bunda udah senang kalau kalian bahagia bersama." ucap Aurora terkekeh geli.
Mereka tertawa geli melihat Bima dan Silvia yang salah tingkah dan malu malu."Kamu gak makan nak?" tanya Diana."Nanti aja, belum laper." jawab Bima menggelengkan kepala."Susah memang anak ini kalau di suruh makan." ucap Silvia sedikit kesal."Biarin aja, jangan di paksa, nanti kalau laper juga minta di suapin." ucap Aurora."Uhuk..uhuk.." Bima terbatuk dan memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri.[Apa bos? masa penyakitnya belum hilang?]'Nyeri bodoh! kau pikir dadaku cuma ke gores pedang!' jawab Bima kesal.[Santai bos! jangan ngegas!]"Jangan banyak gerak, luka kamu masih basah." ucap Silvia mengelus punggung Bima yang juga banyak luka yang masih basah."Aduh duh.. jangan di elus, sakit." ucap Bima meringis kesakitan."Eh! maaf maaf..." ucap Silvia langsung menarik tangannya d"Tapi gak papa lah, selagi gak ngelakuin hal buruk aku dukung aja." ucap Riski."Kau gimana Zal?" tanya Bima."Apa?" tanya Rizal bingung."Gimana hubunganmu sama Riana? kata ijul udah tunangan." jawab Bima."Ijul siapa lagi cok!" ucap Rizal semakin bingung."Julian blok! dia panggil Julian itu ijul kalau gak jul." jawab Kevin."Ooo! dia itu emang lemes banget mulutnya!" ucap Rizal kesal."Udah tunangan beneran ya? wahh gak undang-undang kau Zal!" ucap Riski kecewa."Belum anjir! itu baru rencana." jawab Rizal."Keburu putus anjink!" ucap Kevin."Mulutmu vin anjink!" ucap Rizal kesal."Aku kasih tau ya! tunangan itu kasarnya kau udah booking dia jadi istrimu! kalau gak gitu dia bisa bebas cari pria lain yang lebih serius!" ucap Kevin."Hayolo! kau mau tiba tiba di rumahnya ada tenda biru? sakit lho Zal." ucap Riski."Sialan! malah nakut nakutin!" ucap Rizal kesal.
Sore harinya, Bima baru terbangun dari tidur pulasnya. Bima tidak melihat adanya Silvia disana, namun Bima hanya mengira Silvia sudah turun ke bawah duluan.Bima pun pergi mandi, selesai mandi Bima pun langsung turun ke bawah untuk mengisi perut yang sudah keroncongan."Nak, Silvia dimana? kok dari siang gak keliatan?" tanya Aurora heran."Hem? aku kira tadi turun duluan bun, soalnya tadi tidur siang bareng. Entah kalau dia pergi." jawab Bima aneh."Paling lagi belanja, ya udah kamu lanjut makan, bunda mau ke rumah Riski dulu, katanya dia mau lamaran." ucap Aurora."Ihh! aku gak di undang." ucap Bima kesal."Kamu masih butuh istirahat nak, minggu depan aja waktu resepsi." jawab Aurora."Ohh ya udah kalau gitu." ucap Bima nurut."Udah ya, bunda pergi dulu, udah di tungguin Diana." ucap Aurora."Iya bun, hati hati." jawab Bima.Setelah itu Aurora pun pergi meninggalkan Bima yang sedang asik maka
Setelah kaki dan lengannya terbiasa, Bima pun lanjut berlatih tahap dua yang fokus pada pembentukan tubuhnya dan kekuatan fisik.Jika di rasa cukup dan maksimal, Bima lanjut ke tahap ke tiga yang fokus ke skill skillnya. Bima cukup lama berlatih di tahap ke tiga ini supaya skillnya bisa lebih maksimal dan berdamage besar.Jika sudah kembali maksimal, Bima lanjut ke tahap empat, latihan yang fokus ke patung patung milik nya. Bima melakukan beberapa inovasi pada patung dan susano'o miliknya, namun semua itu gagal, jadi ya sudah, karena merasa sudah sangat maksimal, Bima langsung masuk ke latihan tahap berikutnya.Pelatihan tahap kelima atau tahap terakhir ini adalah latihan yang fokus ke penguasaan energi, pembentukan energi, kombinasi energi/elemen, dan kombinasi antara tuan dan beast spiritual.Bima berlatih lebih keras dan lama dari tahap tahap lainnya, Bima ngepush kekuatan para beastnya dengan pelatihan berat, terutama Kong dan Dexter.
Setelah selesai makan malam, Bima pergi ke gazebo untuk merokok dan bersantai. Bima di temani Piu dan Pom duduk di gazebo sendirian menikmati malam yang terasa lebih tenang dan nyaman itu.Saat sedang menikmati malam yang indah sendirian, Silvia datang membawakan secangkir teh hangat untuk Bima dan untuk dirinya sendiri."Ini buat bibi." ucap Silvia menaruh secangkir teh hangat di depan Bima."Makasih." ucap Bima tersenyum senang."Sama sama." jawab Silvia.Hening...Tidak ada percakapan di antara keduanya untuk beberapa saat."Bibi gak kangen sama aku?" tanya Silvia mendekatkan dirinya."Enggak." jawab Bima santai."Ish! bohong!" ucap Silvia ketus.Bima hanya tertawa geli melihat wajah kesal Silvia, Silvia langsung memeluk Bima sangat erat seperti sudah di tinggal sangat lama."Badan bibi udah bagus kayak dulu lagi!" ucap Silvia ketika menyentuh perut Bima yang sudah kembali sixpack."Iyalah!" jawab Bima bangga."Badan aku bagus gak?" tanya Silvia menatap penuh harap."Gak keliatan,
Bima berjalan menuju halaman Asosiasi yang terdapat banyak hunter sedang berlalu lalang membawa senjatanya. Bima berdiri di tengah-tengah halaman dan melihat ke sekelilingnya."Keluar kalian." gumam Bima.Woshhhh....Booommm...Benar saja, ratusan orang dengan topeng hitam dan pakaian hitam dengan jubah tentara bayaran dari instansi yang lumayan terkenal muncul mengepung Bima. Mereka mengarahkan senjatanya untuk mengancam Bima, mereka juga mengeluarkan aura yang sangat kuat untuk itungan tentara bayaran."Menyerahlah dan ikut kami!" teriak kepala pasukan yang berjalan dengan rokok cerutu di tangannya."Tentara bayaran dari Organisasi Mawar Hitam ya, wah wah wah! hebat sekali!" ucap Bima tersenyum."Jangan banyak bicara! angkat tanganmu! menyerahlah!" teriak kepala pasukan tegas."Ibarat sapi, jagal dulu baru sembelih!" ucap Bima langsung mengaktifkan mata Rinne Sharingan.Booommmm...."Kami para hunter Indonesia ada di pihak Tuan Bima! berani macam macam kami akan bunuh kalian!" teria
Keesokan harinya, hari pernikahan Riski pun datang. Bima dan kawan-kawan bersiap siap untuk mendatangi acara pernikahan Riski di gedung megah dekat komplek."Aku cocok gak bi?" tanya Silvia berpose dengan memakai dress batik panjang dan tidak menunjukkan lekukan tubuhnya.Bima menengok dan di buat mimisan karena melihat kecantikan dan keanggunan Silvia."Kamu kenapa bi? sakit?" tanya Silvia panik melihat darah yang keluar dari hidung Bima."Kamu kecantikan yang! sampe mimisan aku!" ucap Bima berlari ke kamar mandi untuk mencuci hidungnya.[Gila bos! cantiknya di luar nalar!]'Sial! aku sampai mimisan!' ucap Smith kesal.'Hahahahahaha....' Kong tertawa keras melihat Smith yang menyumbat hidungnya dengan tisu."Aku pake batik aja ya, biar cocok." ucap Bima menyumbat hidungnya dengan tisu."Kemarin kan aku udah kasih baju yang sama motifnya bi. Biar kita couple!" ucap Silvia tersenyum manis."Jang
Bima pun memakan kue yang tadi di berikan oleh Thomas, dia juga membujuk Silvia supaya tidak marah lagi."Mau kue enggak?" tanya Bima mengelus pipi Silvia lembut."Gak!" jawab Silvia ketus."Aku suapin, asal jangan marah lagi." ucap Bima."Enggak!" jawab Silvia."Iya iya, maaf deh soal tadi." ucap Bima."Jangan di ulangi lagi! ingat! kamu udah punya istri!" ucap Silvia ketus."Iyaa maaf." jawab Bima.Akhirnya Silvia pun melepaskan pelukannya dan memakan kue yang Bima suapkan. Acara pun di mulai, MC acara memberikan sambutan pada Billy dan keluarga.Tak lupa dia juga memberikan selamat pada Riski dan Lidia yang sudah menikah. MC juga memberikan sambutan istimewa pada Bima dan kawan-kawan sesuai request Riski."Selamat datang juga untuk tuan Bima dan kawan-kawan, terimakasih sudah datang ke acara pernikahan tuan Riski dengan nona Lidia. Saya sangat tersanjung bisa melihat wajah wajah pahlawan pep
Sore harinya, setelah mandi dan hanya memakai celana jeans dan kaos, Bima bersama Silvia yang juga memakai jeans longgar dan kaos yang di lapisi hoodie berangkat ke mall."Belum pulang mereka bi." ucap Silvia memasuki mobil."Iya, entah ngomongin apa di sana." jawab Bima.Akhirnya mereka pun berangkat dengan obrolan asik di sepanjang perjalanan. Sesampainya di mall, mereka langsung berjalan melihat lihat barang yang ada di sana."Aku mau beli baju ya bi, bosen sama baju itu itu terus." ucap Silvia memasuki toko baju."Pilihlah." jawab Bima dengan santainya.Bima menemani Silvia memilih baju di sana, Silvia ini bukan tipe yang lama memilih baju. Kalau dia suka ya itu yang dia beli, bukan yang bertele-tele."Boleh beli berapa bi?" tanya Silvia."Terserah kamu, mau setokonya juga gak papa." jawab Bima santai."Ngawur! 5 aja ya." ucap Silvia mencubit pelan lengan Bima."Iyaaa, sesukamu aja, bebas,