Aisyah tidak langsung menjawab notif dari Denis yang memerlukan bantuan. Ia masih berdiri mematung memikirkan kondisi Mawar yang memburuk. Ia sangat kesal dengan kelakuan Mawar yang selalu benci padanya. Namun, disisi lain ia juga iba karena ada nyawa bayi yang harus diselamatkan."Jiho, Kak Devan, aku pergi dulu ya? Sampai jumpa besok lagi!"Aisyah segera pergi ke rumah sakit menemui Mawar. Jiho mengangguk dan mempersilakan Aisyah untuk pulang. Sementara Devan mengikuti Aisyah hingga ia keluar dari pabrik tersebut."Syah, kamu mau pulang sekarang? Aku boleh mampir?" tanya Devan dengab raut wajah ramah.Aisyah murung. "Kak, aku harus ke rumah Sakit. Mawar harus diselamatkan. Aku nggak tega dengannya," ujar Aisyah dengan jujur.Devan terkejut. " Ada apa dengan Mawar, Syah? Barang kali aku bisa membantu," tanya Devan penasaran.Aisyah menatap tajam Devan. "Mawar mengalami pen da ra han. Setelah dicek Dokter, janin yang ada dalam rahimnya Mawar tidak sehat. Harus memilih dioperasi atau m
Saat hampir Maghrib, Keputusan terakhir dari Dokter, Mawar harus dioperasi walaupun Mawar tidak setuju."Mawar, kata Dokter, kamu harus dioperasi! Agar kamu sehat kembali," kata Denis kepada Mawar. Kini Denis sudah ada samping Mawar yang masih tergeletak di ranjang dan tidak berdaya."Apa kamu punya biaya Mas? Operasi kan mahal?"Akhirnya Mawar merespek perkataan Denis. "Biarkan aku yang menangani biaya operasi ini Mawar! Yang jelas kamu bisa diselamatkan!" sahut Devan yang juga sudah ada di ruangan rawat inap tersebut. Pada asalnya, Mawar dari ruang UGD. Kini dipindah di ruang rawat inap agar lebih nyaman ditunggu oleh keluarganya.Mawar memejamkan matanya. "Kalau itu yang terbaik. Aku pasrah saja. Mas Denis, doain aku selamat ya? Mas Devan, makasih sudah mau menanggung biaya operasi saya. Sungguh, saya sangat terpukul dengan kejadian ini," sahut Mawar yang akhirnya ia setuju jika dioperasi. Ia menangis. Menangisi janinnya yang terancam tidak bisa diselamatkan lagi. Padahal ia sud
Aisyah menoleh sesaat ketika Devan memanggilnya. "Ada apa lagi Kak?" tanya Aisyah yang berpura-pura tidak mendengar."Kamu marah sama aku, Syah?" tanya Devan dengan rasa panik."Ti—tidak Kak. Ini sudah malam, aku harus ke dalam secepatnya nggak enak sama tetangga!" jawab Aisyah yang menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah jambu karena tersipu."Yasudah. Kamu ke dalam, tutup pintu dengan rapat. Jangan lupa dikunci!" kata Devan dengan nada serius. Aisyah mengangguk dan mengiyakan perintah Devan. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu tersebut.Setelah itu, Aisyah mengintip di balik tirai jendela melihat apakah Devan susah pergi. Ia melihat Devan sedang melakukan mobil dengan kecepatan sedang. Itu artinya ia sudah beranjak pergi.Terlihat Zola sedang duduk di ruang tamu dan tertidur. Aisyah menggelengkan kepala. "Ya Tuhan, ternyata Zola kelelahan. Kasihan dia. Ini sudah jam delapan malam. Pasti Zola belum makan! Kasihan janinnya. Aku harus membeli bakso di Mang Udin se
"Ada apa Aisyah?" tanya Zola yang melihat wajah Aisyah panik saat melihat chat pada ponsel.Aisyah menatap Zola dengan tatapan sedih. "Janin yang dikandung Mawar telah meninggal dunia Zola. Mawar koma karena kehilangan banyak da rah. Mas Denis akhirnya terpaksa transfusi darah," ujar Aisyah yang mengatakan jujur kepada Zola.Zola terkejut. "Innalilahi wainnailaihi roji'un? Malang sekali nasib Mawar, Aisyah. Bagaimana ini? Apakah besok kita ke rumah sakit kembali?" tanya Zola yang kebingungan.Aisyah merenung sambil melihat ke bawah lantai. Ia masih duduk di ruang makan. "Aku juga bingung, Zola. Padahal besok aku harus bekerja. Aku izin saja terlebih dahulu. Janinnya Mawar harus segera dikuburkan! Jadi, kita nanti harus bilang kepada orang tuanya Mawar. Agar mereka menyiapkan segala sesuatu untuk menguburkan janin milik Mawar tersebut," ujar Aisyah. "Memangnya orang tua Mawar dekat dari rumah ini?" tanya Zola penasaran. Zola beda komplek, sehingga tidak kenal dengan Mawar. Ia hanya ke
Pagi itu, rumah Denis penuh dengan tamu. Banyak sekali yang menggunjing tentang rumah tangga Denis hingga terdengar oleh Mama Linda."Bu Ibu, tahu nggak, Denis itu kabarnya punya istri dua. Dan parahnya lagi, mau mempunyai istri tiga. Denis punya simpanan wanita lagi lho? Apa nggak parah? Kemarin aku mendengar ada wanita muda yang meminta pertanggung jawaban karena wanita muda itu hamil. Neng Aisyah kasihan sekali. Kalau jadi aku, Si Denis sudah tak ceraikan!" ujar seorang ibu-ibu yang berperawakan gendut yang memakai gamis biru dan berambut keriting. "Masa sih Bu? Orang ya ada nggak di sini. Biar kita usir saja! Malu-maluin kampung kita saja. Hamil di luar nikah ya?" tanya Ibu-Ibu bergaris hitam dan berjilbab instan."Ada di sini. Kabarnya dia diterima oleh Aisyah. Aisyah baik dan kaya. Ya apa-apa dia yang nanggung. Mungkin Aisyah mau nyelamatin hartanya Denis. Semoga orang seperti Aisyah rejekinya Berlipat-lipat. Mawar juga, sukanya foya-foya akhirnya janinnya nggak keurus!" Ibu-I
Saat siang Mama Linda sedang berbicara empat mata di ruang tengah dengan Denis."Denis, kamu harus jawab jujur dengan pertanyaan Mama!" ujar Mama Linda mengawali pembicaraan."Ber—bertanya soal apa Ma?" Denis gugup karena mata sang mama menatap tajam ke arahnya."Apa kamu punya wanita simpanan lagi? Dan wanita itu sedang hamil?" tanya Mama Linda kembali. Ia sangat penasaran."Eng—enggak kok Mah. Siapa sih yang bilang begitu, pasti orang-orang pada ngaco itu!" jawab Denis berbohong. Ia belum siap jika mamanya akan tahu. Ia takut Mama Linda akan marah."Bohong! Mama sudah tidak percaya dengan kamu, Denis. Sudah banyak orang yang bilang, kamu masih berbohong? Cepat jawab jujur Denis? Di mana wanita simpanan mu itu! Mama ingin melihatnya!" bentak Mama Linda karena hatinya sudah tidak kuat. Tidak kuat akan perlakuan Denis yang di luar batas.Wajah Denis berubah pucat dan memerah. "Maafkan aku Mah. Sekali lagi Denis meminta maaf. Aku hanya nggak mau Mama dan Papa murka kepadaku!"Denis menu
"Mawar, jaga bicara kamu! Janin dari rahim kamu itu meninggal karena takdir, bukan karena kurang gizi. Kamu saja suka foya-foya 'kan? Harusnya uangmu itu kamu pakai untuk membeli gizi, bukan membeli barang yang nggak penting. Denis, istri seperti itu kok kamu pilih. Mama itu, sudah berusaha menjadi mertua yang adil, tapi istri kamu malah ingin menggugurkan kandungan Zola? Saya harap kamu bisa tanggung jawab, Denis?" Mama Linda menyarankan untuk menikah dengan Zola secepatnya. Sebelum beliau malu digunjing oleh para tetangga.Mama Linda sempat melirik Aisyah yang diam mematung menyimak pembicaraan mereka."Oke! Saya akan menikah dengan Zola secara sederhana. Mama bisa meminjamkan uang untuk saya dalam acara pernikahan ini? ATM Denis hilang Mah, Mawar, saya harap kamu jangan membantah keputusan dariku!" tutur Denis dengan lesu.Ia terpaksa harus menikahi Zola dalam waktu dekat ini. Karena ia takut mamanya akan murka."Oke Mama kasih kesempatan terakhir buat kamu Denis. Mama akan membi
Saat senja, Mama Linda pingsan karena tidak tahan melihat kedua anaknya bertengkar. "Mama!" teriak Devan kepada sang Mama.Devan langsung membawa Mama Linda di kamar kosong yang ada di rumahnya Denis. Beliau dibaringkan. Devan mulai menempelkan tangannya pada dahi Mama Linda untuk memastikan bahwa beliau sehat. Suhu tubuhnya normal. "Apa Mama panas Mas Devan?"Tidak lama, Aisyah mendekati mertuanya yang sedang pingsan sambil membawa segelas teh hangat sekaligus alat pengukur suhu badan. Setelah dicek, ternyata suhu badan Mama Linda normal."Suhu tubuh Mama normal. Sepertinya Mama syok dan tidak tahan masalah, Syah. Akibatnya beliau pingsan," ujar Devan dengan raut wajah gelisah.Aisyah memberi selimut kepada mertuanya dengan telaten lalu duduk di samping mertuanya yang masih pingsan. Tidak lama, Zola dan Denis ikut masuk ke dalam kamar untuk mengetahui kondisi Mama Linda. Lima belas menit kemudian, Mama Linda mulai membuka matanya."Aisyah. Tolong Mama ambilkan teh manis hangat.
"Maaf kalau saya punya salah dengan kalian. Jangan diperpanjang masalah ini," pinta Dokter Spesialis Anak tersebut. Dokter itu merasa malu ketika Devan tiba-tiba masuk ke ruangan periksa."Oke, saya maklumi. Terima kasih sudah memeriksa anak saya. Aisyah, ayo kita pulang. Harusnya tadi aku ikut masuk ke dalam ruangan ini!" ujar Devan sambil menarik pelan tangan Aisyah. Ia tidak mau Aisyah mengenal dokter tampan yang bernama Weldan tersebut. Aisyah menuruti perkataan Devan sambil menggendong Aslam yang mulai berhenti menangis. Entah mengapa sesudah diperiksa oleh Dokter Weldan, tiba-tiba tangisan Aslam berhenti. Melihat keajaiban itu, Aiayah menoleh ke arah Dokter Weldan. Dokter itu tersenyum hangat ke arah Aisyah. Aisyah langsung ke posisi semula. Ia takut dosa dengan pandangan yang tidak seharusnya ia berikan. Hatinya berdebar-debar melihat tatapan Dokter Weldan yang tidak biasa. "Kenapa dengan Dokter Weldan ya? Tatapannya aneh?" batin Aisyah. Ia takut akan terjadi apa-apa antar
Pagi itu, Aslam menangis sangat keras. Kebetulan Aiayah sedang di kamar mau memberikan ASI pada Aslam. Namun, Aslam tidak mau minum. Ia malah menangis terus. "Bagaimana ini Mas, Aslam nangis terus?" Aisyah kemudian menggendong Aslam karena tangis sang bayi tak kunjung berhenti juga. "Coba aku cek apa Aslam badannya panas?" Devan mengambil alat pendeteksi demam bayi yang berada di dalam nakas. Setelah dicek hasilnya membuat terkejut. "Sayang, cepet tidur ya. Anak mama jangan nangis lagi," tutur Aisyah sambil menimang-nimang Aslam yang masih menangis. Tidak lama, Devan datang dan memeriksa suhu badan bayi mungil tersebut. "Sayang, suhu badan Aslam tinggi. Ayo kita bawa dia ke Dokter sebelum terlambat," ujar Devan yang cepat-cepat ingin ke dokter karena badan anaknya demam tinggi. "Baiklah. Ayo kita ke dokter! Ini tinggal bawa tas penting dan popok bayi! Bawa susu formula nggak Mas?" tanya Aisyah takut terjadi apa-apa saat berada di dokter nanti. Devan tersenyum sambil mempersiap
Terima kasih, Mas. Kau sangat mencintaiku. Aku juga mencintaimu Mas. Semoga kita diselamatkan dari mara bahaya apa pun. Kita tidur yuk?" ajak Aisyah kepada sang suami denga lembut. Aisyah lelah sekali akibat kejadian yang tidak diinginkan kemarin terjadi. "Iya, Sayang. Kita tidur sekarang juga. Sini aku temenin, biar kamu hangat dan cepat tidur."Malam itu, keluarka kecil mulai tertidur. Alhamdulillah, dedek bayi juga tertidur dan tidak terlalu rewel. ***Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun pada pagi itu. Ia sudah menyiapkan sarapan pagi dan dibantu oleh wanita seumuran Mbok Ghinah. Devan berusaha mencari ART di rumahnya agar pekerjaan Aisyah terasa ringan. Sementara Devan sedang menimang bayi di pagi itu, ketika Aiayah dan ART baru sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. "Sayang, kamu tampan sekali seperti ayah. Semoga menjadi anak Sholeh ya? Satu lagi. Kamu harus nurut sama Mama. Mama itu dah berkorban besar mengurus kamu. Sekarang dedek udah mandi, tidur yah?" Devan mengajak berbi
Kalau kamu tidak mau menikah dengan aku, terpaksa aku akan membuang bayi imut kamu ke hutan. Kamu akan merasakan kesedihan yang teramat sangat!"Jiho sudah tidak waras. Cinta buta melupakan segalanya. Yang dulunya dia pria pendiam dan baik, kini berubah jahat dan tidak mempunyai belas kasihan. "Memangnya menikah dengan wanita beristri itu mudah? Malah nanti kamu yang akan masuk penjara karena memaksa menikah denganku? Mana mungkin aku bercerai dengan Mas Devan? Gila kau!" Aisyah geram dengan sikap Jiho yang semakin memaksa. Aisyah diikat di kursi dan tidak bisa gerak sama sekali. Sementara bayi yang masih merah terbaring di bok kecil. Bayi mungil tersebut menangis mencari sang ibu. Jika menangis, Jiho akan melepas Aisyah dan menyuruh untuk memberikan ASI secara eksklusif. "Mudah saja. Asalkan kamu mau bercerai dengan Devan. Atau kalau kamu tidak mau dedek mungil menjadi sasaran! Nih dah aku masukin ke keranjang, tinggal aku buang!" Devan mengancam serius jika Aisyah masih saja
Dua jam kemudian, Devan dan kedua anak buahnya sampai di alamat tujuan. Di mana villa yang diduga milik Jiho. "Bos, mobil kita parkir agak jauh dari vila itu agar kita tidak diketahui bahwa kita sedang ke sana. Tunggu jam delapan malam lalu kita beraksi!" usul Johni sambil memarkir mobil agak jauh di Vila tepatnya di bawah pohon mangga di pelataran luas yang di depannya ada rumah kosong. "Iya. Ini sudah jam 8 malam. Ayo kita beraksi!" ujar Devan sambil turun dari mobil. Diikuti dengan kedua anak buahnya menuju vila. Ketika sampai di villa yang dimaksud, Devan dan kedua anak buahnya berjalan mengendap-endap. Saat di depan pintu gerbang, tiga orang pria berdiri di depan gerbang. "Jon, ternyata rumah ini banyak yang menjaganya. Saya semakin yakin jika Aisyah berada dalam vila asing tersebut." Sebuah bangunan di dekat hutan yang mempunyai gerbang hitam dan dijaga oleh beberapa pengawal. Devan dan teman-temannya berdiri di balik pohon mangga untuk menyusun siasat agar mereka
"Yang benar, Mas Devan? Jika Neng Aisyah sudah pulang? Saya tadi juga ikut mengantar dia ke rumah sakit dengan Mas Jiho. Dia yang menanggung biaya persalinan Neng Aisyah. Saya tadi buru-buru pulang, karena anak saya nangis yang masih kecil," tutur ibu paruh baya yang bernama Bi Munah. Bi Munah terpaksa pulang awal karena kondisi mendesak. Walau sebenarnya beliau ingin menemani Aisyah sampai bisa pulang dengan selamat. "Berarti ini pasti pelakunya Jiho. Dia tega menculik istriku. Terima kasih infonya Bi. Kami akan ke rumah Jiho sekarang. Bi, Devan nitip rumah ini, jika ada orang yang mencurigakan datang ke rumah ini, saya ditelepon atau chat saja. Terima kasih, Ibu sudah berusaha menyelamatkan istri saya. Saya sangat teledor menjadi suami hingga payah seperti ini!" ujar Devan kepada Bi Minah dengan serius. "Siap Mas Devan. Kami tetangga akan menjaga rumah Mas Devan. Nanti saya akan lapor Pak Hansip untuk menjaga rumah ini karena terbukti Neng Aisyah dibawa pergi sama seseorang. Semo
Devan sangat panas hati ketika yang mengangkat telepon adalah suara pria di saat istrinya sedang melahirkan. Ia merasa sangat bersalah saat itu. Ia memutuskan sambungan telepon kemudian ia mulai menuju ke Rumah Sakit Medika bersama dua orang anak buahnya yang selalu setia. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit Medika. Devan menanyakan di mana istrinya berada kepada salah satu perawat. "Kak, maaf, di sini ada yang bernama pasien Aisyah Humairah? Dikabarkan dia sedang melahirkan!" tanya Devan dengan penuh kecemasan. Perawat tersebut terkejut. "Oh, yang penanggung jawabnya atas nama Jiho?" tanya Suster tersebut memastikan. Devan mengangguk cepat. "Benar, Sus. Sekarang dia ada di ruang apa?" tanya Devan kembali. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri dan anak tercintanya. "Maaf, Pasien Nona Aisyah Humairah sudah pulang bersama Tuan Jiho. Kandungan Nona tersebut sangat sehat beserta sang Ibu. Jadi, mereka sudah diperbolehkan pulang. Kalau mau menengok merek
Malam itu, Mbok Ginah merasakan kesedihan karena anak semata wayangnya dikabarkan akan pergi ke kota. Aisyah dan Devan menenangkan hati beliau agar tidak ngedrop. "Terima kasih Neng Aisyah dan Den Devan. Kalian itu baik, dan sudah Simbok anggap menjadi keluarga sendiri. Anak simbok malah bandel dan tidak pernah pengertian." Mbok Ginah masih berada di ruang tamu bersama Aisyah dan Devan. Mereka masih hanyut dalam kesedihan karena Neli nekat pergi. "Simbok istirahat dulu saja ya? Ini juga sudah petang. Mari kita sholat dan berdoa agar Neli baik-baik saja. Saya yakin, jika Neli niatnya tulus ingin mencari nafkah, pasti dia akan sukses. Mbok, jangan bersedih lagi ya?" tutur Aisyah sambil memegangi pundak Mbok Ginah yang merasa nelangsa. "Baik, Neng. Kepala saya memang dari tadi sakit. Jika Neng Aisyah dan Devan butuh makan, sudah tersedia di dapur. Saya pamit dulu." Mbok Ginah izin istirahat untuk mendinginkan pikiran dan menjaga kewarasannya karena hatinya kini tengah bersedi
"Ya Alloh Neli, berikan amplop berisi uang itu kepada Den Devan. Ibu malu, kamu bersikap seperti itu. Kalau nanti Ibu dipecat, Ibu kerja di mana? Sudah kubilang, kalau Ibu akan memberi kamu uang saat gajian!" kata Mbok Ginah dengan memelas. Sebelum Devan marah besar, Mbok Ginah memperingatkan Neli terlebih dahulu. "Sudah, sudah. Begini saja Neli. Jika kamu tidak mau memberikan amplop itu kepada saya, jalur hukum solusinya!"Devan mulai tegas kepada Neli karena sudah mengambil barang yang bukan menjadi haknya. "Laporkan saja aku pada polisi, aku tidak takut! Aku bosan dengan kemiskinan ini. Lebih baik aku di sel penjara, dari pada bebas tapi tidak punya uang!" Neli sudah frustasi dengan hidup. Dia tidak pernah bersyukur dengan uang hasil pemberian Mbok Ginah. Padahal Mbok Ginah selalu menghemat pengeluaran."Oke, ayo ikut saya ke kantor kepolisian. Kamu itu sudah merampas uangnya Aisyah. Sama saja kamu mencuri! Jika kamu memberikan amplop beserta uang itu kepadaku, aku juga akan me