"Mawar, jaga bicara kamu! Janin dari rahim kamu itu meninggal karena takdir, bukan karena kurang gizi. Kamu saja suka foya-foya 'kan? Harusnya uangmu itu kamu pakai untuk membeli gizi, bukan membeli barang yang nggak penting. Denis, istri seperti itu kok kamu pilih. Mama itu, sudah berusaha menjadi mertua yang adil, tapi istri kamu malah ingin menggugurkan kandungan Zola? Saya harap kamu bisa tanggung jawab, Denis?" Mama Linda menyarankan untuk menikah dengan Zola secepatnya. Sebelum beliau malu digunjing oleh para tetangga.Mama Linda sempat melirik Aisyah yang diam mematung menyimak pembicaraan mereka."Oke! Saya akan menikah dengan Zola secara sederhana. Mama bisa meminjamkan uang untuk saya dalam acara pernikahan ini? ATM Denis hilang Mah, Mawar, saya harap kamu jangan membantah keputusan dariku!" tutur Denis dengan lesu.Ia terpaksa harus menikahi Zola dalam waktu dekat ini. Karena ia takut mamanya akan murka."Oke Mama kasih kesempatan terakhir buat kamu Denis. Mama akan membi
Saat senja, Mama Linda pingsan karena tidak tahan melihat kedua anaknya bertengkar. "Mama!" teriak Devan kepada sang Mama.Devan langsung membawa Mama Linda di kamar kosong yang ada di rumahnya Denis. Beliau dibaringkan. Devan mulai menempelkan tangannya pada dahi Mama Linda untuk memastikan bahwa beliau sehat. Suhu tubuhnya normal. "Apa Mama panas Mas Devan?"Tidak lama, Aisyah mendekati mertuanya yang sedang pingsan sambil membawa segelas teh hangat sekaligus alat pengukur suhu badan. Setelah dicek, ternyata suhu badan Mama Linda normal."Suhu tubuh Mama normal. Sepertinya Mama syok dan tidak tahan masalah, Syah. Akibatnya beliau pingsan," ujar Devan dengan raut wajah gelisah.Aisyah memberi selimut kepada mertuanya dengan telaten lalu duduk di samping mertuanya yang masih pingsan. Tidak lama, Zola dan Denis ikut masuk ke dalam kamar untuk mengetahui kondisi Mama Linda. Lima belas menit kemudian, Mama Linda mulai membuka matanya."Aisyah. Tolong Mama ambilkan teh manis hangat.
Malam itu, di rumah Denis, Devan sedang berada di ruang TV. Ia membaca chat WA dari Aisyah dan ternyata ia mengajak dirinya ke kantor notaris untuk mengurusi akta tanah.Devan kemudian menjawab chat dari Aisyah."Siap Nona Aisyah. Apa pun bantuannya, akan saya bantu. Persiapkan besok dan cari alasan agar Mama dan Denis nggak tahu rencana kita!"Begitulah jawaban dari chat WA yang dikirim Devan kepada Aisyah. Ia sangat antusias membantu Aisyah dalam menangani hidupnya yang sedang tidak baik-baik saja.Tidak lama, Devan pun mengantuk. Ia mulai tertidur.***Pagi pun tiba. Seperti biasa Aisyah sudah bangun. Terlihat penghuni rumah tersebut masih pada molor. Termasuk Denis, Mawar dan Zola.Devan ternyata baru saja mandi. Sementara Mama Linda sedang mencuci muka.Aisyah memasak nasi goreng udang dan menggoreng kerupuk bawang. Tidak lama, sarapan pun sudah siap."Mama nggak habis pikir, Syah. Semua wanita barunya Denis jam tujuh belum pada bangun. Wanita seperti itu kok dipilih!" ujar Mama
"Oh. Iya. Kegiatan masa lalu lupakan Molly. Ehm, Pak Elang. Apakah dokumen pentingnya sudah diganti?"Devan mau fokus membantu Aisyah dan tidak menggubris Molly yang merusak suasana.Wajah Elang tersenyum. "Sudah. Ini tinggal tanda tangan dari Nona Aisyah dan saksi dari keluarga kandungnya pihak pria!" Elang menyodorkan map berwarna biru berupa dokumen akta tanah yang harus ditanda tangani oleh Aisyah dan Devan. Tidak lama, mereka berdua sudah menandatanganinya."Sudah. Apakah seperti ini sudah bisa dibawa pulang?" tanya Devan untuk memastikan bahwa dokumen tersebut sudah sah menjadi atas nama Aisyah Humairah.Akhirnya Devan dan Aisyah sudah menandatangani dokumen tersebut. Elang mengangguk. "Semuanya sudah beres kawan. Ini dokumen Nona!" Elang memberikan dokumen kepada Aisyah dengan tatapan tajam.Aisyah mengangguk dan menerima dokumen tersebut. "Terima kasih Elang. Kalau begitu, kami segera pergi karena saya tidak banyak waktu!"Aisyah memberi kode kepada Devan untuk segera perg
Siang itu, Aisyah sudah berhasil memindah nama dokumen akta tanah atas namanya. Sekarang ia mau pulang dan menunggun taksi. Tidak lama, Elang datang dengan membawa mobilnya dan menawarkan tumpangan kepada Aisyah."Ehm. Bagaimana ya? Yasudah saya ikut saja. Dari pada tidak ada taksi dan pulangnya lama," jawab Aisyah yang akhirnya mau pulang diantar oleh Elang.Akhirnya Aisyah mau ikut mobilnya Elang. Ia duduk di jok depan di samping Elang yang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. "Alamat rumah kamu di mana Neng?" tanya Elang kepada Aisyah. Elang adalah notaris muda berusia sekitar 29 tahun dan belum menikah. "Di jalan Tulip nomor 5. Nama kamu Elang? Maaf, saya sedikit lupa tadi," tanya Aisyah yang mengingat nama notaris tersebut.Elang mengangguk dan menoleh ke arah Aisyah. "Benar. Kamu suaminya Denis adiknya Devan kah?" tanya Elang memastikan. Aisyah mengangguk. "Benar. Kamu mengenalnya?" tanya Aisyah dengan rasa penasaran. Elang tersenyum sambil fokus ke depan karena ia s
"Ini lihat!" Saat siang, Aisyah memperlihatkan chat WA kepada Elang. Elang sedikit terkejut. "Dugaanku benar, Devan sangat menyukai kamu, Nona. Devan itu memang mempunyai dua nomor yang aktif. Nomor yang dipakai untuk meneror kamu itu, adalah nomor lama," ujar Elang sambil menyalakan mesin mobilnya kembali setelah ia membaca chat tersebut. Wajah Aisyah mulai berkerut. Hatinya menjadi tidak karuan 'Jadi, selama ini Kak Devan ada rasa denganku. Sampai dia mengirim pesan secara sembunyi. Huft, kenapa aku nggak peka ya? Kirain Kak Devan hanya menganggap aku sebatas adik,' batin Aisyah yang mulai memikirkan Devan. Pikirannya sedang tidak karuan. Elang menoleh ke arah Aisyah. "Nona Aisyah. Saya harap, Nona memilih suami yang terbaik. Menurut saya Denis itu munafik. Yang berhati tulus itu Devan. Saya sudah mengenal dia sejak lama. Di kelasnya dulu dia banyak disukai cewek dikelasnya, namun ia tidak menggubrisnya. Yang ia kagumi selalu kamu, Nona!" Elang masih menceritakan tentang
"Sudah, kalian jangan bertengkar! Malu didengar oleh para tetangga! Aisyah itu bisnisnya banyak. Teman bisnisnya juga banyak, jadi kamu jangan berburuk sangka, Denis!" ujar Mama Linda yang berusaha mencairkan suasana. Denis berwajah lesu. "Tapi Mah, Denis nggak suka Aisyah jalan sama pria. Saya itu suaminya!" jawab Denis dengan keras. Mama Linda menggelengkan kepala. "Jika kamu ingin dihargai oleh istri, jadilah suami yang baik. Kerja keras dan membahagiakan istri! Kamu saja selingkuh! Apalagi kamu sekarang kesulitan masalah uang 'kan? Aisyah itu, kerja keras agar bisa bertahan hidup! Kalau nggak ada Mama bagaimana? Apa kamu bisa tanggung jawab kepada Mawar dan Zola?" Mama Linda selalu membela Aisyah karena Aisyah memang tidak bersalah. Aisyah hanya disakiti sehingga ia menunjukan kepada semuanya bahwa dia itu wanita kuat. Denis mulai luluh jika membahas tentang uang. "Kalau itu, Denis akui Mah. Denis memang belum bisa memberi nafkah yang cukup kepada semua istri Denis. Syah,
"Mawar, ini itu hari pernikahan aku dengan Zola, wajar dong kalau kita suap-suapan, namanya juga pengantin baru. Maaf, kalau Mas membuatmu terluka. Sini Mas juga akan suapin kamu makan?" Siang itu, Denis menyuruh Mawar mendekat ke arahnya. Ia juga akan menyuapi Mawar makan. "Cuih, nggak sudi aku Mas, makan bareng sama wanita perebut laki orang! Mending aku ke kamar!" jawab Mawar yang masih cemburu. Ia langsung berlari mengurung diri di kamarnya. Zola terkejut. "Bagaimana ini Mas? Saya tidak bermaksud membuat iri Mawar," ujar Zola yang merasa tidak enak."Lupakan, Mawar memang suka ngambek. Kita selesaikan makan dulu saja!" jawab Denis menyuruh Zola untuk segera menyelesaikan makanannya."Mawar ngambek ya? " tanya Mama Linda yang melihat kejadian baru saja."Iya Mah. Wajarlah, dia cemburu, saya menikah lagi sih. Biarkan aja nanti juga sadar sendiri," ujar Denis yang tahu akan sikap Mawar yang suka .ngambek.Wajah Mama Linda berkerut. "Maka dari itu, kamun harus adil kepada ketiga i
"Maaf kalau saya punya salah dengan kalian. Jangan diperpanjang masalah ini," pinta Dokter Spesialis Anak tersebut. Dokter itu merasa malu ketika Devan tiba-tiba masuk ke ruangan periksa."Oke, saya maklumi. Terima kasih sudah memeriksa anak saya. Aisyah, ayo kita pulang. Harusnya tadi aku ikut masuk ke dalam ruangan ini!" ujar Devan sambil menarik pelan tangan Aisyah. Ia tidak mau Aisyah mengenal dokter tampan yang bernama Weldan tersebut. Aisyah menuruti perkataan Devan sambil menggendong Aslam yang mulai berhenti menangis. Entah mengapa sesudah diperiksa oleh Dokter Weldan, tiba-tiba tangisan Aslam berhenti. Melihat keajaiban itu, Aiayah menoleh ke arah Dokter Weldan. Dokter itu tersenyum hangat ke arah Aisyah. Aisyah langsung ke posisi semula. Ia takut dosa dengan pandangan yang tidak seharusnya ia berikan. Hatinya berdebar-debar melihat tatapan Dokter Weldan yang tidak biasa. "Kenapa dengan Dokter Weldan ya? Tatapannya aneh?" batin Aisyah. Ia takut akan terjadi apa-apa antar
Pagi itu, Aslam menangis sangat keras. Kebetulan Aiayah sedang di kamar mau memberikan ASI pada Aslam. Namun, Aslam tidak mau minum. Ia malah menangis terus. "Bagaimana ini Mas, Aslam nangis terus?" Aisyah kemudian menggendong Aslam karena tangis sang bayi tak kunjung berhenti juga. "Coba aku cek apa Aslam badannya panas?" Devan mengambil alat pendeteksi demam bayi yang berada di dalam nakas. Setelah dicek hasilnya membuat terkejut. "Sayang, cepet tidur ya. Anak mama jangan nangis lagi," tutur Aisyah sambil menimang-nimang Aslam yang masih menangis. Tidak lama, Devan datang dan memeriksa suhu badan bayi mungil tersebut. "Sayang, suhu badan Aslam tinggi. Ayo kita bawa dia ke Dokter sebelum terlambat," ujar Devan yang cepat-cepat ingin ke dokter karena badan anaknya demam tinggi. "Baiklah. Ayo kita ke dokter! Ini tinggal bawa tas penting dan popok bayi! Bawa susu formula nggak Mas?" tanya Aisyah takut terjadi apa-apa saat berada di dokter nanti. Devan tersenyum sambil mempersiap
Terima kasih, Mas. Kau sangat mencintaiku. Aku juga mencintaimu Mas. Semoga kita diselamatkan dari mara bahaya apa pun. Kita tidur yuk?" ajak Aisyah kepada sang suami denga lembut. Aisyah lelah sekali akibat kejadian yang tidak diinginkan kemarin terjadi. "Iya, Sayang. Kita tidur sekarang juga. Sini aku temenin, biar kamu hangat dan cepat tidur."Malam itu, keluarka kecil mulai tertidur. Alhamdulillah, dedek bayi juga tertidur dan tidak terlalu rewel. ***Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun pada pagi itu. Ia sudah menyiapkan sarapan pagi dan dibantu oleh wanita seumuran Mbok Ghinah. Devan berusaha mencari ART di rumahnya agar pekerjaan Aisyah terasa ringan. Sementara Devan sedang menimang bayi di pagi itu, ketika Aiayah dan ART baru sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. "Sayang, kamu tampan sekali seperti ayah. Semoga menjadi anak Sholeh ya? Satu lagi. Kamu harus nurut sama Mama. Mama itu dah berkorban besar mengurus kamu. Sekarang dedek udah mandi, tidur yah?" Devan mengajak berbi
Kalau kamu tidak mau menikah dengan aku, terpaksa aku akan membuang bayi imut kamu ke hutan. Kamu akan merasakan kesedihan yang teramat sangat!"Jiho sudah tidak waras. Cinta buta melupakan segalanya. Yang dulunya dia pria pendiam dan baik, kini berubah jahat dan tidak mempunyai belas kasihan. "Memangnya menikah dengan wanita beristri itu mudah? Malah nanti kamu yang akan masuk penjara karena memaksa menikah denganku? Mana mungkin aku bercerai dengan Mas Devan? Gila kau!" Aisyah geram dengan sikap Jiho yang semakin memaksa. Aisyah diikat di kursi dan tidak bisa gerak sama sekali. Sementara bayi yang masih merah terbaring di bok kecil. Bayi mungil tersebut menangis mencari sang ibu. Jika menangis, Jiho akan melepas Aisyah dan menyuruh untuk memberikan ASI secara eksklusif. "Mudah saja. Asalkan kamu mau bercerai dengan Devan. Atau kalau kamu tidak mau dedek mungil menjadi sasaran! Nih dah aku masukin ke keranjang, tinggal aku buang!" Devan mengancam serius jika Aisyah masih saja
Dua jam kemudian, Devan dan kedua anak buahnya sampai di alamat tujuan. Di mana villa yang diduga milik Jiho. "Bos, mobil kita parkir agak jauh dari vila itu agar kita tidak diketahui bahwa kita sedang ke sana. Tunggu jam delapan malam lalu kita beraksi!" usul Johni sambil memarkir mobil agak jauh di Vila tepatnya di bawah pohon mangga di pelataran luas yang di depannya ada rumah kosong. "Iya. Ini sudah jam 8 malam. Ayo kita beraksi!" ujar Devan sambil turun dari mobil. Diikuti dengan kedua anak buahnya menuju vila. Ketika sampai di villa yang dimaksud, Devan dan kedua anak buahnya berjalan mengendap-endap. Saat di depan pintu gerbang, tiga orang pria berdiri di depan gerbang. "Jon, ternyata rumah ini banyak yang menjaganya. Saya semakin yakin jika Aisyah berada dalam vila asing tersebut." Sebuah bangunan di dekat hutan yang mempunyai gerbang hitam dan dijaga oleh beberapa pengawal. Devan dan teman-temannya berdiri di balik pohon mangga untuk menyusun siasat agar mereka
"Yang benar, Mas Devan? Jika Neng Aisyah sudah pulang? Saya tadi juga ikut mengantar dia ke rumah sakit dengan Mas Jiho. Dia yang menanggung biaya persalinan Neng Aisyah. Saya tadi buru-buru pulang, karena anak saya nangis yang masih kecil," tutur ibu paruh baya yang bernama Bi Munah. Bi Munah terpaksa pulang awal karena kondisi mendesak. Walau sebenarnya beliau ingin menemani Aisyah sampai bisa pulang dengan selamat. "Berarti ini pasti pelakunya Jiho. Dia tega menculik istriku. Terima kasih infonya Bi. Kami akan ke rumah Jiho sekarang. Bi, Devan nitip rumah ini, jika ada orang yang mencurigakan datang ke rumah ini, saya ditelepon atau chat saja. Terima kasih, Ibu sudah berusaha menyelamatkan istri saya. Saya sangat teledor menjadi suami hingga payah seperti ini!" ujar Devan kepada Bi Minah dengan serius. "Siap Mas Devan. Kami tetangga akan menjaga rumah Mas Devan. Nanti saya akan lapor Pak Hansip untuk menjaga rumah ini karena terbukti Neng Aisyah dibawa pergi sama seseorang. Semo
Devan sangat panas hati ketika yang mengangkat telepon adalah suara pria di saat istrinya sedang melahirkan. Ia merasa sangat bersalah saat itu. Ia memutuskan sambungan telepon kemudian ia mulai menuju ke Rumah Sakit Medika bersama dua orang anak buahnya yang selalu setia. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit Medika. Devan menanyakan di mana istrinya berada kepada salah satu perawat. "Kak, maaf, di sini ada yang bernama pasien Aisyah Humairah? Dikabarkan dia sedang melahirkan!" tanya Devan dengan penuh kecemasan. Perawat tersebut terkejut. "Oh, yang penanggung jawabnya atas nama Jiho?" tanya Suster tersebut memastikan. Devan mengangguk cepat. "Benar, Sus. Sekarang dia ada di ruang apa?" tanya Devan kembali. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri dan anak tercintanya. "Maaf, Pasien Nona Aisyah Humairah sudah pulang bersama Tuan Jiho. Kandungan Nona tersebut sangat sehat beserta sang Ibu. Jadi, mereka sudah diperbolehkan pulang. Kalau mau menengok merek
Malam itu, Mbok Ginah merasakan kesedihan karena anak semata wayangnya dikabarkan akan pergi ke kota. Aisyah dan Devan menenangkan hati beliau agar tidak ngedrop. "Terima kasih Neng Aisyah dan Den Devan. Kalian itu baik, dan sudah Simbok anggap menjadi keluarga sendiri. Anak simbok malah bandel dan tidak pernah pengertian." Mbok Ginah masih berada di ruang tamu bersama Aisyah dan Devan. Mereka masih hanyut dalam kesedihan karena Neli nekat pergi. "Simbok istirahat dulu saja ya? Ini juga sudah petang. Mari kita sholat dan berdoa agar Neli baik-baik saja. Saya yakin, jika Neli niatnya tulus ingin mencari nafkah, pasti dia akan sukses. Mbok, jangan bersedih lagi ya?" tutur Aisyah sambil memegangi pundak Mbok Ginah yang merasa nelangsa. "Baik, Neng. Kepala saya memang dari tadi sakit. Jika Neng Aisyah dan Devan butuh makan, sudah tersedia di dapur. Saya pamit dulu." Mbok Ginah izin istirahat untuk mendinginkan pikiran dan menjaga kewarasannya karena hatinya kini tengah bersedi
"Ya Alloh Neli, berikan amplop berisi uang itu kepada Den Devan. Ibu malu, kamu bersikap seperti itu. Kalau nanti Ibu dipecat, Ibu kerja di mana? Sudah kubilang, kalau Ibu akan memberi kamu uang saat gajian!" kata Mbok Ginah dengan memelas. Sebelum Devan marah besar, Mbok Ginah memperingatkan Neli terlebih dahulu. "Sudah, sudah. Begini saja Neli. Jika kamu tidak mau memberikan amplop itu kepada saya, jalur hukum solusinya!"Devan mulai tegas kepada Neli karena sudah mengambil barang yang bukan menjadi haknya. "Laporkan saja aku pada polisi, aku tidak takut! Aku bosan dengan kemiskinan ini. Lebih baik aku di sel penjara, dari pada bebas tapi tidak punya uang!" Neli sudah frustasi dengan hidup. Dia tidak pernah bersyukur dengan uang hasil pemberian Mbok Ginah. Padahal Mbok Ginah selalu menghemat pengeluaran."Oke, ayo ikut saya ke kantor kepolisian. Kamu itu sudah merampas uangnya Aisyah. Sama saja kamu mencuri! Jika kamu memberikan amplop beserta uang itu kepadaku, aku juga akan me