Share

56. Menggerogoti dari Dalam

Author: Glory Bella
last update Last Updated: 2025-03-12 19:26:36

Mulut Sagara berkedut mendengar pertanyaan itu menguar dari bibir lawan bicara. Wajahnya seketika kaku selama membalas tatapan Ranaya.

Kini istri yang ada di depan matanya jadi terasa jauh. Bayangkan, seseorang yang dulunya selalu berada di sisimu dan tidur di sebelahmu sekarang menjadi tampak asing seperti orang lain.

Sagara menyadari satu hal. Betapa menyakitkan penyesalan yang selalu datang di akhir. Apalagi untuk sesuatu yang tak dapat ia tebus.

"Ya!" sahut Sagara tegas. "Masalahnya kita belum bercerai dan kamu masih berstatus istriku, Ranaya."

Sagara mengatupkan rahang. Sepasang matanya lurus memandang perempuan di hadapannya.

Senyum puas di muka Ranaya langsung musnah, tergantikan oleh tatapan nanarnya sekarang. Sekilas matanya melebar. Ia tak menyangka kalimat itu meluncur dari bibir Sagara dengan mudah.

"Jadi kamu masih menganggap aku sebagai istrimu, Mas?" lontarnya lolos begitu saja.

“Maksudku ….” Sagara menghela napas kasar. "Maksudku, kalau kamu menikah lagi, seharusnya ki
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   57. Nama Baik Wiratama

    Sagara menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Matanya menyipit tajam usai mendengar laporan dari tim investigasinya. Bukan Flare & Co, tetapi PT Gold Mulia?Sagara tak habis pikir. Selama ini ia hanya memusatkan kecurigaan pada Flare & Co yang memang dikenal sebagai kompetitor utama Wiratama Group. Tapi Gold Mulia? Perusahaan itu memang memiliki reputasi baik, tapi tak pernah masuk hitungan sebagai ancaman serius bagi Wiratama.Bagaimana bisa ia lengah? Sagara merutuki dirinya sendiri.Sagara menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Jika benar Gold Mulia berada di balik skandal yang menyerang perusahaan perhiasannya, ia tak bisa gegabah. Menyerang balik secara terbuka hanya akan memperburuk citra Wiratama. Apalagi jika langkahnya meleset, publik bisa saja melihatnya sebagai aksi saling menjatuhkan antar-perusahaan.Tidak. Ia harus menyiapkan strategi yang lebih halus dan tak terduga.Sagara menoleh ke arah jendela kantornya, menatap gedung-gedung tinggi di kej

    Last Updated : 2025-03-13
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   58. Why has He Returned?

    Mata Tantri tak lepas dari bocah kecil di hadapannya. Entah kenapa ada debar aneh di dadanya. Perasaan itu begitu mengusik, seperti sebuah intuisi yang berbisik pelan di dalam hati.Anak itu ketika berbicara memperlihatkan lesung pipinya yang dalam, sepasang mata bulat bersinar, alis tebal, hidung mancung, juga garis bibir yang khas. Tantri nyaris menahan napas. Semua itu begitu mirip dengan Sagara."Yah, padahal Mama mau aku ajak main," keluh Radeva sambil mengerucutkan bibir.Rio mengusap pundak anak itu dan berkata dengan lembut. “Sudah, nggak usah marah. Habis ini Mama kembali, kok. Ditunggu aja dulu.”Radeva mendengus samar, lantas berlari kembali menuju teman-teman barunya dengan wajah cemberut. Meninggalkan Tantri yang masih terpaku di tempatnya.Mata Tantri masih terpancang pada anak itu. Bahkan dari caranya berlari dan rambut hitamnya yang lurus ikut berayun ringan mengingatkannya pada Sagara kecil dulu.Perlahan Tantri mulai beringsut, dan mengalihkan perhatiannya pada Rio y

    Last Updated : 2025-03-13
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   59. Sagara VS Rio

    "Iya, Rio Kalvari yang matanya sipit itu. Ingat, kan?"Tantri kembali membuka suara. Menghancurkan pertanyaan yang tertata rapi di benak Sagara. Wanita itu menyeka air mata menggunakan tisu, lalu berucap pelan lagi."Pantesan, Mama kayak pernah lihat. Ternyata adik kelasmu, Sagara."Sagara tak langsung menjawab. Ia memang mengingat Rio. Ia bahkan tidak sekadar mengingat, tapi tahu betul siapa pria itu dulu."Dia sayang banget sama anak dan istrinya, lo," lanjut Tantri dengan nada iri. "Sampai mereka dimanja gitu.”Sagara terdiam. Kepalanya menunduk sedikit. Ia masih mencoba menyusun kepingan teka-teki di benaknya. Justru dengan mengetahui Rio ada di sini, ia semakin heran rasanya.Apa yang sedang Rio lakukan di Indonesia? Kenapa pria itu kembali sekarang?"Tunggu dulu." Suara Sagara akhirnya kembali terdengar. "Mama bilang Rio sudah menikah dan punya anak cowok?"Tantri mengangguk pelan. Beberapa kali tangannya masih sibuk menghapus jejak air mata yang mengalir. "Iya. Bocah itu manis

    Last Updated : 2025-03-14
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   60. Mereka Bertemu Lagi

    “Om Papa!” Langkah Sagara terhenti. Ia menoleh dan mendapati seorang bocah laki-laki sedang berlari ke arahnya. Hari ini, di tengah kesibukannya yang mencekik, ia meluangkan waktu dengan mampir di taman kota. Ia baru saja mencoba menghirup udara segar di taman kota setelah kepalanya pening dengan berbagai kesibukannya dan terutama tentang kembalinya Rio. Jujur saja, ia sempat merasa down setelah bertemu dengan pria itu. Lebih tepatnya, ada banyak pertanyaan yang mengusiknya mengenai Rio. Sampai-sampai sejumlah telepon dari Sherly tak dijawabnya. Sekarang begitu tiba di sini, ia tak pernah menyangka akan bertemu anak itu kembali. Radeva berlari ke arahnya dengan senyum sumringah. Tentu saja Sagara mengenali bocah itu dalam sekali pandang. “Radeva?” gumamnya setengah tak percaya. Matanya mengerjap cepat. Sagara berdiri diam, menunggu bocah itu semakin dekat, lalu secara refleks ia menyambutnya dengan kedua tangan terbuka. “Akhilnya Depa ketemu Om di sini!” seru Radeva den

    Last Updated : 2025-03-14
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   61. Simulasi Keluarga Bahagia

    Untuk beberapa detik, mereka hanya saling memandang dalam kebisuan.Ayunan kaki Sagara nyaris saja terhenti. Namun, kali ini entah kenapa ia memilih melangkah mendekati perempuan itu.Tatapan Ranaya membeku. Ia syok, sama seperti Sagara. Napasnya tercekat melihat sosok yang selama ini berusaha ia hindari justru sedang menggendong anaknya, Radeva.Dunia seolah berhenti sejenak. Ia tahu tak seharusnya merasa seperti ini, tapi dadanya mendadak sesak."Ma ...." Radeva berseru ketika jarak mereka semakin dekat.Tanpa pikir panjang, Ranaya segera mengambil alih dan menggendong anaknya.“Radeva, kamu dari mana? Jangan bikin Mama khawatir, dong," tegurnya dengan nada sedikit gemetar.Sagara masih berdiri di sana. Diam, dan menatapnya.Tadi karena keasyikan memilih barang, Ranaya sempat kehilangan jejak Radeva. Ia langsung panik, lantas mencari ke sana kemari, bertanya kepada orang-orang, hingga akhirnya melaporkan pada pihak keamanan. Bahkan beberapa saat lagi pengumuman tentang hilangnya seo

    Last Updated : 2025-03-15
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   62. Tes DNA

    Detik itu juga, darah Ranaya seolah berhenti mengalir. “Apa maksudmu?” tekannya.Ia merasakan napasnya tersengal saat mendengar ucapan Sagara barusan. Matanya langsung mencari-cari celah untuk menghindar, tapi pria itu tidak memberi kesempatan.“Anak itu mirip denganku, Ran.” Tatapan Sagara penuh keyakinan. “Aku nggak sebodoh itu. Kamu jujur saja, apa kamu hamil gara-gara kejadian malam itu?”Ranaya menegang. Dadanya bergemuruh dan terasa sesak. Pikirannya langsung menolak segala kemungkinan yang bisa membuat Sagara mengetahui kebenaran itu.“Aku juga minta maaf karena sudah nuduh kamu soal obat—”“Radeva bukan anakmu,” potong Ranaya cepat. Rahangnya mengeras, mencoba menyembunyikan getar dalam suaranya. “Aku menikah setelah itu dan hamil anak ini.”Sagara terdiam. Ekspresinya tak sepenuhnya percaya, tapi ada kekecewaan yang tak bisa ia sembunyikan. Matanya tetap tajam seakan hendak menguliti kebohongan yang mungkin terselip dalam kata-kata Ranaya.“Tunjukkan dulu suamimu, baru aku pe

    Last Updated : 2025-03-15
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   63. Jadi Ketahuan

    Harto berhasil menarik lengan Tantri sebelum istrinya bergegas keluar dari mobil."Buat apa sih ngikutin anak sendiri? Kenapa nggak langsung disapa saja, Ma?" tanyanya.Ia mendesah pelan. Tak tahu harus bagaimana lagi dengan sikap istrinya ini. Tantri menyipitkan mata penuh selidik. Buru-buru sebelah tangannya ia kibaskan."Jangan dong, ah! Memangnya Papa nggak curiga kenapa dia ke sini? Dia mau menemui siapa coba?"Keduanya saling pandang untuk beberapa saat. Keheningan itu seakan memberi waktu bagi Harto untuk berpikir. Namun, pada akhirnya pria tersebut memilih mengangkat bahunya singkat."Ya nggak tahu. Temannya mungkin," sahutnya dengan enteng.Seketika Tantri menepuk dahi. Ia kemudian ganti memukul pria di sampingnya sembari mendelikkan mata.“Aduh, Papa ini!” keluh Tantri. "Memangnya anak kita punya teman?"Harto terdiam sejenak. Dari semasa sekolah, anaknya ini pintar dan lumayan mudah bergaul. Namun, ia merasa Sagara berubah sejak SMA, lebih tepatnya sejak anaknya itu menjadi

    Last Updated : 2025-03-16
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   64. Antara Jebakan dan Tipu Daya

    Tantri mengomel sambil menekan-nekan layar ponselnya. Bibirnya mengerucut, matanya sedikit memicing.“Aduh, sampai sekarang Rio belum balas pesanku juga,” keluhnya.Di sebelahnya, Harto yang tengah duduk santai sambil membaca buku milik Sagara ikut menoleh. “Coba telepon aja,” sarannya.Tantri menghela napas panjang. “Iya deh, coba Mama telepon dulu.”Dengan kekesalan yang mulai merambati, ia pun menekan ikon panggilan di ponselnya. Namun, hanya butuh beberapa detik bagi wajahnya untuk semakin berkerut dalam.“Nomornya kok nggak aktif?!” serunya terheran-heran. Padahal mereka sudah janjian, tetapi nomor pria tersebut malah susah dihubungi.Harto mendesah pelan, sementara Sagara yang duduk di seberang mereka hanya diam. Namun, dalam hati, ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat.Rio benar-benar tidak tahu diri!Sikap pria itu kepada kedua orangtuanya semakin membuatnya muak. Kalau memang pria itu mempermainkan dirinya, bukan begini caranya! Bukan malah menyangkutpautkan Tantri dan Harto sam

    Last Updated : 2025-03-16

Latest chapter

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   92. Jangan Bodoh Ya, Sher!

    Ranaya masih berdiri di ruang tamu dengan perasaan was-was. Pikirannya berkelindan dengan berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Apa yang sebenarnya diinginkan Tantri dan Harto darinya? Bagaimana mereka bisa tahu keberadaannya di sini?Dan yang paling membuatnya cemas: apakah Sagara juga sudah tahu tempat tinggalnya sekarang?"Ranaya, kamu duduk saja dulu. Radeva biar ikut Ibu," ucap Ida dengan suara lembut tapi penuh penekanan.Ranaya memandang putranya dengan enggan. Radeva yang sedari tadi memegangi tangannya erat, tampak ragu untuk melepaskan genggaman ibunya. Matanya menatap Ranaya seakan meminta kepastian."Ayo, Deva, sama Oma dulu." Ida kembali membujuk. Tangannya terulur kepada Radeva.Dengan berat hati, Radeva akhirnya melepaskan genggaman tangan Ranaya dan berjalan perlahan ke arah neneknya. Ranaya menatap punggung kecil itu sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke depan. Ia bergegas duduk di sofa yang ditempati Ida tadi, dan menghadapi kedua tamunya.Ranaya tent

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   91. Phising

    Ranaya melangkah dengan anggun. Sesekali ia mengamati sekeliling dengan tatapan tenang namun penuh pengawasan. Begitu berbelok ke salah satu ruangan, seorang pegawainya segera berdiri menyambutnya dengan sikap hormat."Ada yang bisa kami bantu, Bu Ranaya?" tanya pegawai itu dengan nada sopan.Ranaya tersenyum tipis. "Aku hanya ingin memastikan apakah desain yang kemarin sudah dikirim ke tim produksi? Karena produksi harus dilakukan hari ini juga."Pegawai itu langsung mengangguk cepat merespons ucapan pimpinannya. "Benar, Bu. Semua sudah kami proses sesuai instruksi Anda.""Bagus," ujar Ranaya mengangguk puas. "Terima kasih."“Baik, Bu, sama-sama.”Ranaya lalu melanjutkan langkahnya keluar dan berjalan dengan tenang di sepanjang koridor. Namun, tanpa sengaja, ia justru berpapasan dengan Acel. Perempuan berambut pendek itu juga tengah melangkah penuh percaya diri sembari sibuk berbicara di telepon.Pandangan mereka sempat bertemu sekilas, tapi hanya sebatas itu. Keduanya melangkah mele

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   90. Membeli Kepercayaan

    “Ranaya?”“Kamu sedang apa?”Ranaya buru-buru melirik ponselnya yang masih memanggil nomor misterius itu dan langsung mematikannya."Oh, nggak, ini aku lagi barusan nonton video." Ia mencoba mencari alasan. Dengan gerakan canggung ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. "Kenapa, Rio?""Nggak apa-apa. Kamu masih lama di sini, kan? Seumpama aku pulang dulu nggak apa-apa? Soalnya aku harus menemui rekan kerja dulu di dekat sini.""Nggak papa banget, kok. Kamu duluan aja. Ini Deva juga masih makan,” sanggah Ranaya menggeleng seraya melambaikan kedua tangannya dan mengusung senyum.Ia sama sekali tidak merasa keberatan. Lagian, sepertinya Radeva juga masih betah berada di sini. Sesekali anaknya itu melenguh keenakan karena ayam goreng yang ia santap terasa sangat gurih di lidahnya."Oke, Ran. Sekali lagi aku minta maaf, ya."Rio memasukkan barang-barangnya dengan tergesa―termasuk dua ponselnya, meraih jaket, kemudian keluar dari tempat makan dengan langkah cepat.Usai Ranaya mengangk

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   89. Siapa Pengirim Pesan Misterius?

    Angin yang berembus lembut di dermaga kecil tepi danau kala sore itu tak mampu menenangkan gejolak yang membara di dada Sagara. Rahangnya mengeras begitu telinganya menangkap dengan jelas nama yang keluar dari bibir Ranaya saat menjawab telepon.Pria itu lagi, pria itu lagi! Kenapa Rio selalu merusak momen yang tengah ia bangun bersama Ranaya?!Padahal sempat ada kelegaan dalam diri Sagara saat ia tahu bahwa Ranaya bukanlah istri pria tersebut. Namun, kedekatan mereka, cara Rio selalu ada di sekitar Ranaya, membuat bara cemburu di hatinya kian membesar.Ranaya menutup teleponnya dengan cepat. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan mengangkat wajah ke arah Sagara. Tatapan pria itu sudah berubah. Dingin, tajam, penuh emosi yang tak bisa ia definisikan."Aku minta maaf, Mas. Aku harus pergi dulu," ujarnya sedikit merasa bersalah.Sagara menatapnya tanpa berkedip. "Ke mana? Menemui Rio?" tembaknya langsung.Untuk sejenak Ranaya mengerutkan kening samar. Nada suara Sagara berubah

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   88. Resor Tepi Danau

    "Kamu serius?"Ranaya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk pada dokumen-dokumennya. Alisnya masih saling tertaut saking tak percayanya.Sagara menghela napas, lalu menyandarkan satu tangan ke meja. Kini tubuhnya sedikit condong ke arah Ranaya hingga kepala perempuan itu mendongak dan mundur secara refleks dalam sisi waspada."Apa aku terlihat bercanda sekarang?" tanya Sagara seraya menunjuk wajahnya sendiri.Ranaya susah payah menelan saliva. Dari jarak sedekat ini, apalagi kini hanya mereka berdua yang tinggal di ruang rapat, Ranaya takut jika degup jantungnya yang mulai menggila terdengar sampai telinga Sagara.Ranaya berdeham pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak aman. Perempuan itu berusaha menjaga ekspresinya agar tetap netral."Kalau begitu, aku yang tentukan tempatnya,” tukasnya, ingin mempercepat perbincangan di antara mereka.Lagian, apa kata orang-orang kalau sampai mereka tahu Ranaya dan Sagara berduaan di sini?!Sagara mengangkat bahu. Seutas senyum simpul t

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   87. Pretty Lilies for a Pretty Someone

    Malam itu, restoran fine dining dihiasi cahaya temaram, memantulkan kilau lembut di atas meja marmer. Sebuah buket bunga lili putih tergeletak di tengah meja.Acel menatap bunga itu dengan alis sedikit mengernyit, tetapi kini bibirnya mengembang dalam senyum kecil."Lili?" Acel mengangkat bunga tersebut. "Ini serius untukku?”Rio yang kala itu sudah berpakaian rapi dari ujung rambut hingga kaki mengangguk. Matanya masih terpana pada sosok perempuan cantik berambut pendek di hadapannya.“Of course, pretty lilies for a pretty someone,” ucapnya dengan merekahkan senyum.Acel sontak tergelak. Dahinya muncul garis-garis halus lagi. “Kupikir kamu lebih suka memberi mawar merah untuk wanita yang kamu kencani."Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum tipis itu masih menghiasi wajahnya."Mawar merah terlalu klise. Aku memilih lili karena melambangkan kecerdasan dan ambisi. Sama sepertimu."Acel terkekeh kecil, lantas menyibak rambut pendeknya yang berkilau."Hmm … gombalanmu b

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   86. Pergolakan Tantri

    "Apa ini, Ma?”Sagara bertanya dengan nada keheranan. Matanya mulai melucuti setiap bagian amplop tersebut hingga membolak-balikkannya secara teliti.Tantri dengan wajah kaku karena efek masker wajah yang tengah dipakainya perlahan melangkah mendekati Sagara. Matanya mulai berbinar tatkala mendapati tulisan yang merupakan tempat tujuannya tadi."Oh, itu. Ini promo treatment di klinik depan," sahutnya santai, sebelum akhirnya dengan cepat menyambar amplop itu dari tangan Sagara.Sagara menatap ibunya dengan alis bertaut. Pandangannya tak lepas dari Tantri yang tengah sibuk melepas segel amplop tersebut."Treatment? Mama mau treatment?"Tantri tersenyum tipis, membuka amplop itu dan mengeluarkan selebaran berwarna pastel yang berisi daftar perawatan kecantikan. Matanya menelusuri tulisan di dalamnya dengan tenang, seolah mengabaikan ekspresi bingung anaknya."Kan sekarang Mama sudah tua, Sagara," ujarnya pelan. Dua ujung bibirnya tertarik ke bawah sehingga membentuk lengkungan yang dala

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   85. Adegan Pijat-Memijat

    “Om Papa!”Tiba-tiba Radeva muncul dari pintu dan berhambur menuju Sagara.Pria itu sontak tertawa menyaksikan bocah mungil yang menggemaskan tersebut berlari kepadanya. Ia kemudian sedikit membungkukkan badan dan menyambut Radeva ke dalam gendongannya. Rupanya hal tersebut sedikit mengganggu pemandangan Ranaya. Ia menyaksikan adegan itu dengan tatapan kecewa. Bukannya berlari ke arahnya, tetapi Radeva malah memilih memeluk Sagara langsung.“Deva, kok kamu ke sini, Sayang? Kan Mama belum jemput?” tanya Ranaya sembari mengerutkan kening.Radeva yang masih berada di gendongan Sagara menyahut, “Sekolah Depa bebas, Ma. Tadi aku minta jemput Mbak Yanti bial bisa sulplise-in Mama!”Bocah itu mengatakannya sambil berpegangan erat pada bahu Sagara, serta menempelkan pipinya yang chubby sehingga terlihat seperti mochi yang penuh dan menyembul keluar.Setelahnya Ranaya dan Sagara sama-sama menatap pintu di mana ada seorang perempuan yang bergerak mengintip-intip dengan ragu. Ranaya menghela na

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   84. Hal Menarik di Flare & Co

    "Untuk kerja sama yang kamu minta kapan hari, aku acc hari ini." Ranaya berucap dengan tegas.Ruangan itu hening sejenak setelah Ranaya mengucapkan kata-kata itu.Hati Sagara terasa bersemi mendengar angin segar tersebut. Ia menghela napas panjang, lega karena Ranaya sudah sudi membantunya. Menyelamatkan nasib Wiratama Group, perusahaan keluarganya dari ancaman bangkrut. Tanpa sadar ia mengangguk dan mengulum senyum."Tapi jangan senang dulu."Nada suara Ranaya tegas dan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu menggesernya ke arah Sagara di atas meja kaca."Aku punya aturan dan batasan soal kerja sama kita. Silakan kamu baca dulu."Sagara mengernyitkan dahi, menatap dokumen itu dengan penuh selidik. Ia jadi merasa jika Ranaya yang sekarang tidak akan pernah membuat sesuatu menjadi mudah. Ada harga yang harus ia bayar, meski kali ini bukan dengan uang.Perlahan, Sagara mengambil dokumen itu dengan enggan dan mulai membacanya.Sementara itu, Ranaya melipat tangan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status