Naomi berkata sambil tersenyum, "Oke, Kakak akan menunggumu." Dia berdiri di tengah hutan dan melihat sekeliling. Suara desiran daun sesekali terdengar."Kak Naomi, aku sudah selesai," ucap Jessie. Gadis kecil itu keluar dari belakang pohon dan merapikan pakaiannya sendiri. Saat melihat gadis kecil yang cantik dan manis di depannya, Naomi tak kuasa mencubit pipinya.Saat ini, Jessie tiba-tiba melihat sesuatu. Dia menunjuk ke suatu arah sambil berkata, "Kak Naomi, di sana ada banyak bunga liar, ayo kita pergi lihat."Jessie berlari ke sana dengan penuh semangat, sementara Naomi mengikuti di belakang. Dia mengingatkan Jessie, "Pelan-pelan."Di perkemahan, Claire yang pergi ke tepi danau, hanya melihat Candice dan Jerry yang mengumpulkan banyak kerang. Dia melihat sekeliling, lalu bertanya, "Di mana Jessie dan Naomi?""Bukannya mereka di sana ...," jawab Candice. Dia menoleh ke suatu arah, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. "Eh?"Louis mendekat sambil menjawab, "Cari Naomi dan Jessie,
Saat pertama kali bertemu di kafe, Naomi tidak membawa uang. Kedua kalinya, dia menabrak mobil orang dan diminta ganti rugi, bahkan hampir dihajar. Ketiga kali adalah ketika mereka berjalan-jalan, tiba-tiba malah turun hujan. Sementara itu, yang keempat adalah Naomi terjatuh dari tangga dan harus digendong pulang oleh Hardy ....Naomi pun merasa makin malu karena apa yang dikatakan pria ini memang benar. Tiba-tiba, tangan seseorang terulur ke hadapannya. Naomi tertegun sejenak, lalu mendongak dan mendapati Hardy yang mengulurkan tangan ke arahnya. Pria itu menatapnya sambil bertanya, "Jangan-jangan, kamu ingin aku menggendongmu kembali ke perkemahan?"Naomi sangat terkejut. Dia segera membantah, "Ten ... tentu saja nggak!" Dia meraih siku tangan Hardy dan perlahan berdiri dari tanah. Nyeri di pergelangan kakinya membuatnya tersentak.Hardy memandang kaki kanannya yang terangkat, lalu bertanya, "Kakimu terkilir?"Naomi segera mengangguk. Kemudian, Hardy menuntunnya untuk duduk di bawah
Hardy yang duduk di depan api terlihat menambahkan kayu bakar. Kemudian, dia menoleh ke arah Naomi yang bersandar di dinding batu. Wanita itu meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri, dia sepertinya kedinginan.Hardy pun bangkit dan berjalan ke arahnya. Dia berjongkok di depan Naomi, lalu mengangkat tangan untuk menyentuh dahinya. Dahi Naomi tidak terlalu panas, sepertinya dia hanya demam ringan.Pria itu segera bangkit dan mengambil mantel yang sudah kering, lalu menyelimuti Naomi dan memeluknya. Wanita itu sontak terkejut. Entah karena dia merasa kedinginan atau bukan, tetapi momen ketika Hardy memeluknya, dia merasa sangat hangat dan nyaman."Kamu akan merasa baikan setelah tidur," ucap Hardy seraya membenamkan kepala wanita itu ke dadanya.Naomi yang mendengar suara dan merasakan detak jantung Hardy, tiba-tiba berkata sambil tersenyum, "Rasanya seperti mimpi."Hardy menunduk, lalu bertanya sambil melihat rambut Naomi, "Mimpi apa?"Saat ini, Naomi sudah linglung. Dia mengulurkan tan
Claire berjalan mendekat, lalu merangkul Candice sambil berkata, "Kamu nggak usah mengkhawatirkan Naomi. Hardy belum tentu akan macam-macam.""Claire, kamu dan Cherry sangat aneh hari ini," ucap Candice. Dia menepis tangan Claire, lalu teringat dengan sesuatu sehingga berkata, "Kenapa aku merasa seolah-olah kalian tahu tentang sesuatu dan cuma aku yang nggak tahu apa-apa?"Louis berdeham sebelum berkata, "Kamu sendiri yang terlalu bodoh dan tidak peka."Candice sontak menginjak kakinya. Namun, Louis hanya bisa menahan diri. Bagaimanapun, Candice adalah istrinya, dia tidak bisa membalasnya.Sementara itu, Javier memeluk bahu Claire sambil berkata, "Sudahlah, ini sudah malam. Ayo, kita istirahat. Besok pagi, mereka pasti akan kembali." Dia dan Claire pun kembali ke tenda. Cherry juga mendorong Cahya ke dalam tenda.Saat ini, Candice menarik Louis sembari berkata, "Cepat beri tahu aku, apa yang sebenarnya terjadi?"Louis pun memeluknya sambil berucap, "Sayang, kita kembali ke tenda dulu,
Lagi-lagi pertanyaan ini. Naomi menatapnya sambil menjawab, "Apakah ... suka harus ada alasannya?"Hardy tertawa sebelum berkata, "Apa kamu mengenalku? Kamu bahkan tidak tahu seperti apa diriku, tapi sudah menyukaiku? Apa kamu tidak takut aku adalah orang jahat?"Naomi menunduk, lalu berkata perlahan, "Aku tahu kamu bukan orang jahat."Sementara itu, Hardy mengelus bibirnya sambil berkata, "Kenapa kamu yakin aku bukan? Karena kamu merasa aman ketika bersamaku?"Naomi mengernyit kebingungan. Hardy menatapnya sembari melanjutkan, "Kamu ini benar-benar polos, bisa-bisanya menganggap semua pria itu baik? Kalau aku adalah pria lain, apa kamu kira bisa melewati malam kemarin dengan aman?"Naomi mengerucutkan bibirnya seraya berkata, "Tapi, kamu bukan pria seperti itu.""Aku tidak seperti itu karena menahan diri," ucap Hardy. Kemudian, dia melepaskan tangannya dan duduk membelakangi Naomi sambil menambahkan, "Jangan menganggap semua pria itu baik."Hardy pun bangkit dan berjalan ke dekat tump
"Benar," jawab Naomi sambil mengangguk dan tersenyum. Kemudian, dia duduk di hadapan Jeremy. Jeremy memperhatikannya sejenak, lalu tersenyum sembari berkata, "Tidak disangka kamu terlihat begitu berkarisma. Aku kira ....""Kira apa?" tanya Naomi.Jeremy tersenyum seraya membalas, "Kamu tidak terlihat seperti yang dideskripsikan ibumu."Naomi hanya mengangguk.Jeremy seketika terpikirkan sesuatu. Dia mengambil buku menu dan bertanya, "Kamu mau makan apa? Pesan saja."Naomi tertegun sejenak, lalu menimpali, "Maaf, aku sudah makan. Aku kemari karena kamu bilang mau bertemu.""Begitu, ya? Kalau begitu, kamu mau minum apa?" tanya Jeremy lagi.Lantaran segan menolak tawaran Jeremy, Naomi pun memesan segelas kopi. Ketika sedang makan, Jeremy terus bertanya tentang urusan pekerjaan. Naomi bekerja di Perusahaan Soulna, jadi dia sangat paham dengan topik pembicaraan ini.Selesai mengobrol, Jeremy sangat puas dengan Naomi. Dia berujar, "Ternyata kamu sangat serius terhadap pekerjaan juga, ya. Apa
Jeremy mengulurkan tangannya mengelus punggung tangan Naomi. Naomi seketika membeku dan mengernyit. Melihat ekspresi Naomi, Jeremy tersenyum seraya berkata, "Kita boleh mulai perlahan-lahan. Aku butuh seorang istri yang baik dan berkarisma sepertimu."Naomi tiba-tiba menarik tangannya sambil membalas, "Maaf, aku sudah punya seseorang yang kusuka."Mendengar ini, raut wajah Jeremy langsung berubah. Dia meraih tangan Naomi dan berujar, "Hanya suka, 'kan? Itu bukan masalah besar. Memangnya kalian sudah berpacaran? Sudah menikah? Kalaupun orang tuamu tahu, apa mereka setuju dengan hubungan kalian?"Naomi terkejut dengan tindakan Jeremy. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menarik tangannya, tetapi tidak berhasil. Raut wajahnya sudah berubah menjadi serius. "Jeremy, tolong lepaskan tanganku," ucapnya."Widya, aku benar-benar sangat menyukaimu. Aku menyukaimu pada pandangan pertama," kata Jeremy.Jeremy menarik tangan Naomi, lalu mengecupnya. Hal ini membuat sekujur tubuh Naomi merinding. Lanta
Naomi tercengang. "Aku nggak tahu. Aku sama sekali nggak mengerti apa hubungan kita. Lagi pula, bukankah kamu juga nggak menganggapku serius? Aku memang nggak punya pengalaman dalam percintaan, tapi aku tahu pria dan wanita yang berciuman menandakan mereka punya hubungan khusus. Sayangnya, kita nggak seperti itu," ujarnya.Hardy tertawa dengan kesal. Dia berdiri tegak di hadapan Naomi sembari bertanya, "Apa kamu kira aku sedang mempermainkanmu?""Apa ada bedanya?" tanya Naomi dengan mata yang sudah merah."Ada" Hardy menindih Naomi di dinding dan mencondongkan tubuhnya, lalu menjelaskan, "Kalau aku ingin mempermainkanmu, aku tidak akan berciuman denganmu, tapi langsung menidurimu."Naomi menatap Hardy dengan terkejut.Hardy mendekatkan bibirnya ke telinga Naomi. Dia tersenyum sinis seraya bertutur, "Apa kamu tahu, pria tidak akan banyak berpikir untuk mempermainkan seorang wanita. Mereka hanya perlu mengikuti nafsu. Bagi pria, nafsu dan perasaan bisa dipisahkan. Aku sudah bilang, janga
“Oh, ya, di mana Kak Ariel?” tanya Bastian.Jodhiva membalas, “Dia lagi temani ayahnya untuk jalan-jalan. Sekarang aku juga mau nyusul ke sana. Aku permisi dulu.”Usai berbicara, Jodhiva meninggalkan tempat.Bastia berdecak sembari menggeleng. “Orang yang sudah punya istri memang berbeda.”“Kamu ngomongnya seolah-olah kamu nggak sama dengan dia.” Yura juga meninggalkan tempat.Bastian meletakkan gelasnya, lalu mengikuti langkah Yura. “Hei, kenapa kamu malah meninggalkanku. Tunggu aku.”Claire berhenti di hadapan Javier. Javier menggandeng tangannya. “Sudah selesai mengenang masa lalu?”“Menurutmu? Bukannya sore nanti, kamu dan Ayah akan pergi ke Kediaman Keluarga Tanaka?”Javier tersenyum. “Aku lagi menunggumu untuk makan di sana.”Roger berjalan di sisi Izza, lalu menatap mereka. “Tuan Javier, Nyonya Claire. Kalau begitu, kamu pergi cari Ayah Angkat dulu.”Javier mengangguk. Dia merangkul pundak Claire, lalu berjalan ke koridor. Cahaya matahari dipantulkan ke sisi jendela. Bayangan d
Jessie tersenyum lebar. “Kalau begitu, aku akan mengenakan mahkota ini saat pernikahanku nanti. Anggap saja sebagai iklan desain ibuku.”Jules memeluk Jessie dari belakang. “Yang penting kamu suka.”…Anggota Keluarga Fernando baru tiba di Negara Hyugana dua hari sebelum resepsi pernikahan. Mereka tinggal di hotel yang dipesan Jules. Seluruh hotel ini telah dipesan oleh anggota keluarga kerajaan untuk menjamu para hadirin.Keluarga Chaniago dan Keluarga Kenata juga telah datang. Tobias juga tidak absen. Bahkan Shinta, Erin, Levin, dan Samuel yang berasal dari dunia hiburan juga telah datang. Tentu saja, Yura dan Bastian juga masuk dalam daftar undangan.Claire tiba di restoran. Pelayan membawanya ke dalam ruangan VIP. Ketika melihat pria yang duduk di dalam sana, dia pun tersenyum. “Ayah Angkat.”Owl memutar tubuhnya dengan perlahan. Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Owl masih seperti dulu saja, tapi tubuhnya kelihatan lebih kurus dari sebelumnya. Claire langsung maju untuk m
Orang lainnya juga ikut tersenyum.Menjelang malam, seluruh kota diselimuti dengan cahaya lampu neon. Setelah Jessie dan Jules menyelesaikan makan malam, mereka pun kembali ke Kompleks Amara.Jessie baru selesai mandi. Rambutnya pun masih basah. Jules mengambil handuk dari tangan Jessie, lalu membantunya untuk mengeringkan rambut.Saat ini, Jessie duduk di depan meja rias sembari menatap orang di dalam cermin. Senyuman merekah di atas wajahnya. “Kak Jules, aku sangat menantikan resepsi pernikahan kita.”“Oh, ya?” Jules mengusap rambut lembut Jessie. “Aku juga menantikannya.”“Aku merasa hidupku sangat sempurna karena bisa menikah dengan orang yang paling aku cintai, apalagi bisa bersama orang yang aku cintai berjalan ke jenjang berikutnya.”Jules pun tertawa, lalu membungkukkan tubuhnya untuk berbisik di samping telinga Jessie. “Apa kamu tahu, keinginan dalam hidupku juga sudah terwujud.”Jessie menoleh untuk menatapnya. “Keinginan apa?”Jules berbisik di samping telinga Jessie, “Menik
Hiro mengiakan.“Setelah di luar beberapa saat, kamu menjadi semakin dewasa saja.” Naomi menepuk-nepuk pundaknya. “Semoga kamu bisa semakin baik lagi.”Hiro hanya tersenyum dan tidak berbicara.…Dalam sekejap mata, akhirnya telah sampai ke akhir bulan. Liburan Jessie dan yang lain sudah berakhir. Mereka pun kembali ke ibu kota.Claire dan Javier berdiri di depan halaman untuk menunggu mereka. Setelah mereka menuruni mobil, Jessie langsung berlari ke sisi mereka. “Ayah, Ibu!” Dia langsung memeluk kedua orang tuanya.Javier mengusap kepala Jessie dengan tidak berdaya. “Padahal kamu sudah dewasa, masih saja minta dipeluk.”Senyuman di wajah Jessie semakin lebar lagi. “Tapi, di mata kalian, selamanya aku itu anak kecil!”Claire tersenyum tipis. Dia menatap beberapa orang yang berjalan kemari. “Baguslah kalau kalian bermain dengan gembira. Ayo, kita ke dalam dulu. Nanti malam kita makan bersama.”Setelah Dacia dan Ariel memasuki rumah, mereka duluan naik ke lantai atas untuk melihat anak.
Jules menatap mereka. “Kebetulan sekali kalian juga ada di sini.”Yura membalas, “Aku dan Bastian memang ada di sini. Setelah lihat unggahan Jessie, aku baru tahu ternyata kalian juga di sini.”Jessie membawanya ke tempat duduk. “Kalau begitu, kita tinggal beberapa hari bersama.”Setelah Bastian duduk, Jodhiva memperkenalkannya kepada Dacia dan Jessie. “Ini adik iparku, Dacia, dan adikku, Jessie.”“Aku pernah bertemu mereka di pernikahanmu.” Bastian masih mengingatnya. Dia pun berkata, “Adikmu itu satu sekolah dengan istriku. Istriku sering mengungkitnya.”Yura menatapnya. “Istrimu? Belum pasti aku akan menjadi istrimu.”Kening Bastian berkerut. “Kita saja sudah tunangan. Apa kamu masih bisa menikah sama orang lain?”Semua orang pun tertawa. Hanya Jessie saja yang terbengong. “Tunangan apaan? Yura, kamu sudah tunangan?”Yura berdeham ringan. “Aku lupa beri tahu kamu.”“Kamu nggak setia kawan banget, sih. Malah nggak beri tahu aku. “Jessie mencemberutkan bibirnya. Dia benar-benar tidak
Bos pemilik permainan berkata, “Dua puluh ribu diberi tiga kesempatan.”“Mahal sekali? Dua puluh ribu hanya diberi tiga kali kesempatan saja?” Dacia merasa sangat tidak menguntungkan.Bos mengangkat kepalanya. “Ini sudah paling murah. Tempat lain malah tiga puluh ribu.”Jessie menarik Dacia. “Dua puluh ribu juga nggak masalah. Nggak gampang bagi mereka untuk berbisnis. Kita juga cuma main-main saja.”Seusai berbicara, Jessie mengeluarkan uang tunai sebesar empat puluh ribu kepada bos. “Berarti enam kali kesempatan, ya.”Bos menyerahkan enam gelang kepada Jessie. Jessie menyukai sebuah gelang. Dia tahu gelang itu hanya barang KW, tapi kelihatannya sangat cantik. Jessie melempar ke sana, tetapi dia tidak berhasil mendapatkannya.Setelah melempar dua kali lagi, Jessie masih saja tidak berhasil mendapatkan targetnya. Sekarang hanya tersisa tiga kali kesempatan.Ketika melihat Jessie putus asa, Ariel pun mengambil sisa gelang dari tangan Jessie. “Coba lihat aku.”Ariel melirik tepat ke sisi
Larut malam, kota kuno ini terasa sunyi dan hening, hanya suara serangga yang bergema di antara rerumputan.Sebuah lampu menerangi rerumputan di luar tenda, menambah suasana menjadi semakin hening dan tenang.Jessie membalikkan tubuhnya masih belum tertidur. Saat sebuah tangan panjang merangkul pinggangnya, lalu memasukkan Jessie ke dalam pelukannya. “Tidak bisa tidur?”“Emm.” Jessie bersandar di dalam pelukannya. “Kak Jules, aku ingin ke toilet, tapi aku nggak berani.”Jules mencium kening Jessie. “Biar aku temani.”Mereka berdua berjalan keluar tenda. Jules mengeluarkan senter, lalu berjalan bersama Jessie. Saat mereka tiba di depan pepohonan, Jessie membalikkan tubuhnya untuk menatap Jules. “Tunggu aku di sini.”Jules mengangguk. “Panggil aku kalau ada apa-apa.”Jessie berjalan ke dalam pepohonan, tetapi dia juga tidak berani berjalan terlalu jauh.Setelah buang air, Jessie segera keluar dan memeluk lengannya. “Selesai.”Jules mengulurkan tangan untuk merangkul Jessie.Setelah kemba
Jodhiva juga tersenyum. “Cepat juga, tapi masih tergolong pagi.”Jessie menyandarkan kepalanya di atas paha Jules sembari memandang langit. Beberapa saat kemudian, dia bertanya, “Kenapa rasanya bakal turun hujan?”Orang-orang langsung melihat ke sisi Jessie.Jerremy menarik napas dalam-dalam. “Kamu jangan sembarangan bicara.”Dacia memandang ke atas langit. Langit memang kelihatan cerah, tetapi malah kelihatan mendung di bagian atas gunung. “Mungkin cuma mendung saja?”Sudah jam segini, tapi matahari masih belum menampakkan diri. Seharusnya hanya mendung, tidak sampai tahap turun hujan.Ariel berkata, “Ramalan cuaca hari ini tidak mengatakan akan turun hujan hari ini. Aku merasa seharusnya tidak akan turun hujan.”Kecuali, ramalan cuaca tidak akurat!Beberapa orang tinggal sejenak. Jules merasa ada tetesan air di wajahnya. Dia mengusap sejenak. “Eh, turun hujan, deh.”Ariel duduk di tempat. “Apa?”Jessie menunjukkan senyuman canggung di wajahnya. “Firasatku mengatakan bakal turun hujan
Yang lain juga sudah setuju.Setelah masakan disajikan, Jessie melihat makanan berwarna putih dengan berbentuk seperti kipas. Dia bertanya pada bos, “Apa ini?”Bos memperkenalkan dengan tersenyum, “Ini namanya ‘milk fan’, terbuat dari susu. Karena warnanya putih dan agak transparan, ditambah bentuknya seperti kipas, makanan ini pun diberi nama ‘milk fan’.”Ariel mencicipinya. “Emm, rasanya enak juga.”Dacia dan Jerremy juga telah mencicipinya. Rasanya memang cukup enak.Setelah masakan selesai dimasak, Bos pun menyajikan ke atas meja. “Ini adalah mie beras dengan ditaburi ayam dingin dan berbagai bahan tambahan. Ayam dimasak dengan bumbu khas, lalu disiram dengan saus buatan sendiri, minyak cabai, minyak lada hitam, dan ditambahkan kenari panggang. Ini adalah salah satu makanan khas daerah kami. Biasanya para wisatawan juga sangat menyukainya.”Jessie mencicipi sesuap. Ariel pun bertanya, “Gimana rasanya?”Jessie mengangguk, lalu menyantapnya dengan suapan besar.Yang lain juga ikut me