Beranda / Romansa / Kembalinya Sang Pangeran / Bab 13. Surat Rahasia.

Share

Bab 13. Surat Rahasia.

Penulis: Ine Time
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-22 13:59:39

Kereta perbekalan dari istana tiba di halaman belakang karesidenan, deretan pelayan tampak sibuk memindahkan peti-peti dan karung dari kereta ke paviliun penyimpanan.

Suara gesekan roda di atas batu kerikil terdengar jelas, bercampur dengan perintah dari Yu Yong yang sedang memeriksa daftar barang.

Di sudut lain, Xiumei memeriksa perbekalan Jiali untuk perjalanan ke Guan. Sesekali ia melihat ke arah kereta, merasa heran dengan banyaknya barang yang datang kali ini.

Saat itulah seorang pria dengan pakaian pelayan istana menghampirinya. Wajahnya cemas, matanya terus melirik ke arah Yu Yong yang berdiri tidak jauh.

"Anda Nona Xiumei, pelayan Nyonya Han, bukan?" bisik pria itu, suaranya rendah penuh tekanan.

Xiumei mengernyit, merasa janggal. "Iya, betul. Ada apa?"

Pria itu melirik ke sekeliling lagi, lalu menyodorkan sesuatu yang tergulung kecil. "Ini surat untuk Nyonya Han. Dari Tuan Han Dunrui. Mohon sembunyikan baik-baik. Jangan sampai diperiksa oleh penjaga, apalagi Tuan Yu Yong."

Ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 14. Bisikan di Balik Tirai

    Keanggunan Chu Hua memang memikat, tetapi di balik senyum itu ada banyak lapisan tersembunyi. Semenjak kedatangan Jiali, semakin sulit bagi Chu Hua untuk mendekati Yuwen. Bahkan perhatian Yuwen pada Jiali terasa semakin berlebihan. Posisi Chu Hua semakin terancam. Perasaan itu akhirnya memuncak. Kini, Chu Hua tidak bisa lagi menyembunyikan ketidakpuasan yang melanda. Dalam hati, Chu Hua tahu semakin sulit baginya memikat Yuwen bila Jiali masih ada di sisi Yuwen. Hari itu, saat angin lembut berhembus melalui jendela kamar, Chu Hua memutuskan untuk memanggil ketiga selir lainnya. Mereka akan berkumpul di ruang pertemuan yang jarang digunakan, tempat di mana percakapan bisa berlangsung tanpa takut didengar pelayan atau pengawal. Sesaat setelah kedatangan selir-selir lainnya, suasana terasa canggung, penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan. Chu Hua duduk dengan anggun di kursinya, sementara selir lainnya menunggu perintah dengan hati-hati. “Jadi, kalian tahu kalau Yang Mulia akan

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-23
  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 15. Karesidenan Yang Zili.

    Rombongan Yuwen tiba di kediaman keluarga Yang Zili saat matahari mulai condong ke barat. Ketika kereta berhenti di depan gerbang utama, seorang wanita dengan perut membuncit berlari kecil menyambut. Senyumnya cerah seperti mentari sore, dan gerak-geriknya menggambarkan kehangatan yang membuat siapapun merasa diterima. Qing An—adiknya—tak sabar memeluk sang kakak.Ketika pertama kali mendengar kabar kakaknya akan berkunjung ke Guan, An menunggu dengan gelisah sampai hari ini tiba.“Kakak!” serunya dengan suara penuh semangat. Tangannya melingkari Yuwen, erat sekali seperti seorang anak yang telah lama kehilangan pelindungnya.Yuwen balas memeluknya, menepuk lembut punggungnya. “Hati-hati, An,” ucapnya mengingatkan, “kau baik-baik saja?”An melepaskan pelukan dengan mata berkaca-kaca. “Aku baik-baik saja, Kak. Seharusnya aku yang datang ke Hangzi, tapi Kakak selalu saja seperti biasa, keras kepala.” Ia menyeka air mata yang jatuh tanpa disadari. “Selamat atas pernikahanmu. Kakak pasti

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-24
  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 16. Perkara Hewan Buruan.

    Langit mulai berubah keemasan, cahaya lembut memantul dari riak-riak ombak di pesisir. Yuwen berdiri menatap samudera, pikirannya terhanyut pada ketenangan yang jarang ia rasakan. Angin laut menerpa jubahnya, membuat helaian kain itu berkibar perlahan.Tiba-tiba, seseorang menarik pergelangan tangannya. Yuwen menoleh, mendapati Jiali dengan senyum cerah memandanginya. "Ayo, main!" serunya tanpa menunggu jawaban membawa Yuwen lebih dekat dengan ombak.Jiali melepaskan pergelangan tangan Yuwen, ia melangkah cepat ke air, tanpa peduli jubahnya basah, menciprati Yuwen dengan air laut. Yuwen tetap diam, memandang Jiali berharap Jiali menghentikan tingkah konyolnya.Sadar kalau targetnya tidak bisa diajak kerjasama, Jiali mengalihkan target. Ia menciprati Xiumei yang berdiri tak jauh di belakang Yuwen. "Hei, Xiumei!" serunya ceria, air laut memercik ke arah pelayan itu.Xiumei terkesiap, matanya melirik Yuwen seolah meminta izin untuk bergabung dalam kegembiraan. Jiali menyadari hal itu, t

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25
  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 17. Aku Sangat Membencimu!

    Tepat seperti rencana. Beberapa perkemahan selesai didirikan sebelum bulan sepenuhnya tinggi. Lentera-lentera menyala di sepanjang tenda, memberikan cahaya keemasan yang menembus kegelapan hutan. Bayangan pohon-pohon menjulang tinggi seolah mengikuti gerakan api lentera.Di kejauhan, suara burung malam dan serangga bersahutan, mengiringi riuh rendah percakapan para pelayan yang sibuk menyusun kebutuhan untuk esok hari. Kuda-kuda yang perutnya telah penuh kini tidur dengan tenang di dekat kandang sementara dan para pengawal berjaga dalam kelompok kecil di berbagai titik.Di dalam tenda Jiali, Xiumei masih terjaga, duduk di belakang majikannya sambil menyisir rambut Jiali yang lembut. Beberapa kali ia menguap kecil, tetapi tetap melanjutkan tugasnya."Apa semuanya sudah tidur?" tanya Jiali dengan suara pelan."Sepertinya sudah, Nyonya. Beberapa pengawal tetap akan bergantian berjaga. Tenda kita dekat dengan tenda Yang Mulia. Tidak perlu cemas.”Jiali mendengus pelan, setengah kesal. "A

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26
  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 18. Beri Hutan.

    Jiali melirik beberapa piring berisi makanan yang terhidang di atas meja. Aromanya menguar ke seluruh tenda, mengisi udara dengan bau rempah-rempah yang kaya. Jiali lapar, tetapi selera makannya hilang begitu saja begitu pandangannya jatuh pada potongan daging panggang yang mendominasi menu. Matanya membeku menatap daging dengan warna cokelat keemasan, dikelilingi bumbu yang tampak berkilau.“Xiumei.” Xiumei mendekat. “apa itu ... daging kelinci?" suara Jiali terdengar serak, hampir tidak percaya.Xiumei yang berdiri di dekatnya menunduk dalam-dalam, tidak berani mengangkat wajah. "Hamba tidak yakin, tapi sepertinya begitu, Nyonya," jawabnya dengan nada hati-hati, takut menyulut amarah Jiali.Detik berikutnya, suara denting piring dan gelas terdengar memenuhi udara ketika Jiali menggebrak meja dengan keras. "Mereka benar-benar memanggangnya! Mereka membunuh kelinci itu!" serunya. Amarah yang selama ini melesak dalam dada akhirnya meledak.Dengan langkah tergesa, Jiali keluar dari tend

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 19. Mainan Qing Yunqin.

    "Kau bisa sangat membantu bila mau berhenti menangis."Ucapan Yuwen membuat tangis Jiali semakin tidak terkendali. Bagi Jiali, Xiumei bukan hanya seorang pelayan. Mereka telah bersama sejak kecil, bertumbuh dalam suasana yang saling mendukung. Xiumei adalah saudari yang tidak pernah Jiali miliki. Kehadiran wanita itu dalam hidupnya lebih dari sekadar pelayan biasa—Xiumei adalah teman, sahabat, dan satu-satunya orang yang benar-benar memahami dirinya. Kini, melihat sahabatnya terbaring tak berdaya, Jiali merasa dunia seolah runtuh.Yuwen yang memijat pangkal hidungnya dengan kesabaran mulai menipis, menatap dengan tajam ke arah Wang Sanlao. Wang Sanlao sedang sibuk membakar obat berbentuk prisma yang terbuat dari bubuk herbal. Obat tersebut diletakkan pada beberapa bagian tubuh Xiumei yang terkulai lemah. Wajahnya tegang, tetapi penuh harapan. Tahu betul jika Xiumei tidak segera ditolong, racun itu bisa merenggut nyawa.Wang Sanlao kemudian mengoleskan ramuan dedaunan yang sudah ditum

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 20. Tersangka Semanis Gula.

    Yuwen mengarahkan langkahnya menuju dapur utama, diikuti oleh Yu Yong yang berjalan cepat di sampingnya. Ketika tiba di sana ada ketegangan yang menggantung di udara. Semua orang, baik pelayan maupun juru masak, tampak cemas,mengetahui bahwa ada yang salah. Namun, takut berbicara."Yu Yong, pastikan semua pelayan dan juru masak dikumpulkan di sini," perintah Yuwen dengan suara yang tegas dan jelas. "detiap sudut dapur harus digeledah,” lanjutnya"Baik, Yang Mulia," jawab Yu Yong penuh kewaspadaan. Ia segera bergerak untuk mengeksekusi perintah itu, dan dalam sekejap, dapur tampak lebih ramai karena semua pelayan dan juru masak dikumpulkan di tengah dapur.Tatapan Yuwen menyapu mereka yang tertunduk ketakutan, seolah-olah mampu membaca isi di tiap kepala. "Kalian semua tahu apa yang terjadi pada Nona Xiumei," katanya dengan suara yang membekukan udara, "salah seorang dari kalian memberi makanan yang telah terkontaminasi. Jika ada yang berani berbohong atau menyembunyikan kebenaran, kal

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-29
  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 21. Selir Kesayanganmu.

    Suara keributan dari luar tenda membuat Jiali penasaran. Ia menarik selimut hingga setinggi dada Xiumei lalu keluar dari tendanya. Beberapa prajurit sedang membawa seorang pelayan wanita dengan tangan terikat ke belakang.Pelayan itu tampak ketakutan, wajahnya pucat pasi. Tak lama setelah itu, Yuwen diikuti oleh Yu Yong keluar dari tenda dapur, keduanya berjalan dengan langkah tegas dan penuh kewaspadaan.Jiali menghampiri mereka, matanya penuh tanya. “Apa kau menemukan petunjuk?" tanyanya menahan cemas di dalam hatinya.Yuwen berhenti sejenak dan menatap Jiali. Tanpa berkata meraih kantong kecil yang masih terpegang di tangannya dan memperlihatkannya kepada Jiali. "Ini yang ditemukan dari pelayan itu," jawab Yuwen.Jiali memandangi kantong itu dengan teliti, lalu mengalihkan pandangannya ke Yuwen. "Apa ini?" tanyanya lagi.Yuwen membuka kantong itu dengan hati-hati, memperlihatkan isinya. Di dalamnya ada sedikit sisa-sisa serbuk agak kekuningan dan terlihat mirip dengan yang ada di g

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-30

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 51. Menggantung Kesabaran.

    Yuwen menatap para prajurit yang berlatih di aula. Semuanya harus disiapkan lebih serius. Hari-hari yang berlalu sejak kepulangan rombongan kekaisaran terasa makin menegangkan.Rumor tentang rencana gila Yunqin bisa terwujud bila didukung penuh oleh Wei Junsu. Ini berbahaya.“Yang Mulia.”Yuwen melirik Yu Yong yang datang kemudian memberi hormat padanya. “Katakan. Bagaimana kondisi di perbatasan?”“Sudah beberapa petang, tidak ada yang mencurigakan. Perompak yang beberapa waktu lalu terlihat mendekati perbatasan kembali ke pegunungan.”Yuwen diam sesaat. “Meski begitu, kita tidak boleh lengah. Terlebih Hangzi belum memiliki bupati baru.”“Yang Mulia, apa sebaiknya kita menambah penjagaan di sekitar karesidenan khususnya paviliun nyonya?”Kali ini Yuwen memberikan perhatian penuh pada Yu Yong dengan berbalik menatapnya. “Apa yang menjadi pertimbanganmu Yu Yong? Katakanlah.”“Beberapa waktu belakangan, kita tidak selalu bersama dengan Nyonya. Urusan pemerintahan masih berada di bawah ta

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 50. Malam Yang Tidak Tenang.

    “Benar-benar sudah pergi,” gumamnya.Yuwen mengangguk. “Akhirnya.”Embusan angin pagi mengibaskan ujung jubah dan rambut yang tergerai. Di pelataran utama karesidenan, Jiali berdiri di sisi Yuwen, keduanya diam-diam melambaikan tangan ke arah rombongan kekaisaran yang mulai menjauh, debu lembut mengepul dari roda kereta kuda yang berderak perlahan.Di kejauhan, warna-warni pakaian istana tampak mengecil, lalu menghilang di balik gerbang utama. Jiali baru menurunkan tangannya setelah rombongan benar-benar lenyap dari pandangan lalu menarik napas pelan.“Apa kau lega?” tanya Yuwen perlahan, menoleh pada Jiali.Jiali menatap lurus ke depan. “Entahlah, aku tidak tahu.”“Mulai malam ini, aku akan kembali ke kamarku malam ini. Setelah beberapa hari terakhir, kau pasti butuh tidur yang tenang,” ucap Yuwen.Jiali menoleh cepat, terdiam sejenak kemudian menyaut, “Ya, baiklah.”Yuwen menatap sejenak wajah Jiali lalu tersenyum samar. Jiali balas mengangguk kemudian pergi meninggalkan Yuwen sendi

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 49. Apa Kau Bahagia?

    Sinar matahari merambat pelan di sela tirai tipis, menerangi wajah Jiali yang sedari tadi tersenyum-senyum tanpa alasan jelas. Xiumei, yang sedang menyematkan jepit kecil di rambut pendek nyonya muda itu, penasaran, tetapi ikut bahagia."Sepertinya semalam, Nyonya bermimpi indah," godanya sambil menata rambut Jiali dengan hati-hati.Jiali menggeleng pelan, masih menyunggingkan senyum. "Bukan mimpi. Ini lebih baik dari sekadar mimpi.”Xiumei menyipitkan mata curiga. "Apa karena sekarang Nyonya sudah jadi satu-satunya wanita Yang Mulia?" tanyanya lagi.Senyum Jiali perlahan memudar. Ia menunduk sejenak, lalu menghela napas. "Xiumei, aku sampai lupa tentang Hui Fen. Bukankah rombongan belum meninggalkan karesidenan?”Xiumei mengangguk. “Iya, Nyonya.”Tanpa berkata lebih banyak, Jiali bangkit dari kursi rias dan berjalan ke lemari pakaian. Di dalam tumpukan kain halus, ia menarik keluar sebuah kotak kecil yang terbungkus kain biru. Kotak itu ia dekap sejenak sebelum melangkah keluar kamar

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 48. Kau Menakutkan, tapi Aku Tetap Tinggal.

    Langit di luar telah gulita. Sesekali suara angin malam menyelinap lewat celah-celah jendela membuat lilin di sudut kamar kadang merunduk, nyalanya kecil dan bergoyang pelan. Yuwen membuka pintu kamar dengan langkah pelan. Pakaiannya masih rapi, hanya jubah luarnya yang ia tanggalkan sebelum masuk. Matanya menyapu ruangan sebentar, lalu berhenti pada sosok yang duduk miring hampir membelakangi ranjang, diam, membisu.“Sudah larut,” ucap Yuwen akhirnya. Suaranya lebih pelan, mengandung lelah yang tak bisa ditutupi.Jiali tetap tidak menjawab, bahkan tidak menoleh. Dari sini, Yuwen tidak bisa melihat wajah istrinya. Yuwen meletakkan sabuknya di meja. “Apa terjadi sesuatu?” tebaknya. Jiali masih diam. “Aku kira malam ini kita bisa tidur tenang tanpa bertengkar,” lanjutnya.Meski masih dalam posisi yang sama, akhirnya Jiali bersuara. “Kalau kau ingin ketenangan, kenapa tidak langsung saja ke paviliun Hui Fen?” ucapnya ringan, datar, tetapi terasa seperti serpihan es yang dilemparkan tep

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 47. Percakapan Dingin Di Antara Cawan Yang Hangat. 

    Langit Hangzi mendung sejak pagi. Matahari hanya sempat menyibak kabut tipis sebentar sebelum akhirnya kembali sembunyi di balik awan kelabu. Udara di dalam karesidenan terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena angin musim semi yang belum reda, melainkan karena keheningan yang terus menguar di tiap sudut.Di ruangan dalam, Kaisar Tao duduk sendirian cukup lama sebelum meminta Kasim Hong Li memanggil Yuwen. Satu-satunya suara hanyalah detak jam air dan desau angin yang menyelinap dari celah kayu jendela. Cawan teh di tangannya sudah dua kali diganti oleh pelayan, tetapi belum sekalipun ia teguk. Kaisar Tao cemas.Ia mengangkat cawan itu lagi. Menatap permukaan airnya yang tenang, lalu menggoyangnya pelan hingga muncul riak. Seolah berharap ada jawaban tersembunyi di dalam pusaran kecil itu.“Tak ada jalan mudah untuk seorang ayah,” gumamnya sendiri.Di benaknya masih tergambar jelas wajah Yuwen saat kecil—anak yang selalu diam, tetapi menyimpan nyala tajam di balik sorot matany

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 46. Doa Calon Mantan.

    “Apa kau ingin aku yang berjalan ke sana?”Jiali mengerjapkan mata. Tawaran Yuwen jelas adalah satu sindiran halus untuknya agar cepat masuk. Yuwen tidak akan sudi menghampiri Jiali terlebih dahulu.“Tidak perlu,” jawab Jiali lalu masuk.Sejenak pandangannya terfokus pada Hui Fen. "Pergilah, aku ingin bicara berdua saja dengan suamiku. Satu lagi, tunggu aku di paviliunmu. Aku ingin bicara denganmu."Hui Fen menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baik, Nyonya.”Setelah Hui Fen pergi, Jiali mengikuti langkahnya sampai pintu, lantas menutup pintu lalu berbalik kembali menghampiri Yuwen. "Kenapa ibumu melakukan ini?" tanya Jiali tanpa berbasa-basi.Yuwen menyandarkan punggungnya ke kursi. "Wah, pertanyaanmu langsung ke sumber masalah. Kau pasti sudah mendengar berita tentang Hui Fen. Kau ingin aku menjawab pertanyaanmu sebagai kepala karesidenan, atau sebagai suamimu?"“Kau takut berjauhan dengan Hui Fen bukan? Kau cemas wanita yang bisa kau gilir setiap malam berkurang bukan?”

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 45. Yang Tidak Terucap.

    Langit mendung mencerminkan perasaan yang berkecamuk dalam hati Jiali. Sejak pagi sampai menjelang makan siang, Jiali masih duduk di tangga paviliunnya. Pandangannya kosong ke arah rerumputan. Tanpa disadari, Jiali meremas lengannya lalu mengusap leher ketika ia ingat, hangat dan kuatnya tiap sentuhan Yuwen. Jiali menggigit bibir. Entah apa yang seharusnya ia rasakan. Lega atau sedih? Tiap malam yang belakangan ia habiskan bersama Yuwen adalah satu tugas, tetapi Jiali menyukainya? Benarkah? Lantas … bagaimana dengan Yuwen? Apakah Yuwen melakukannya karena mulai membuka hati untuk Jiali? Mulai mencintai Jiali? Jiali memukul pelan kepalanya. Ia ingat betul bagaimana sikap dingin Yuwen dan selama ini Yuwen juga setuju akan satu kenyataan. Kalau Jiali hanya sebuah beban tambahan. Pernikahan ini … juga tidak diinginkan Yuwen. Pandangan Jiali kembali sayu ketika ingat tatapan ketus tak peduli Yunqin. Kehangatan dalam mata Yunqin yang selalu terjaga lenyap. Seolah mereka tak pernah berb

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 44. Satu-satunya Selir.

    Melihat Xiumei masuk ke dalam kamar dengan tergesa, Jiali segera bangkit dari kursinya. “Ada apa? Apa ada masalah lagi?”Xiumei tersenyum lantas menggeleng. “Nyonya sudah minum teh herbal?”“Sudah. Apa ada sesuatu? Apa yang terjadi? Apa selir yang lain membuat ulah juga?”Lagi-lagi Xiumei menggeleng. “Adik-adik Yang Mulia ada di depan ingin bertemu dengan Nyonya,” ungkap Xiumei.“Adik?”“Yang Mulia Qing Lien Hua dan Qing Qiaofeng ingin bertemu dengan Nyonya.”Jiali terkejut sejenak. Ia tahu kedua adik perempuan Yuwen itu ikut dalam rombongan kekaisaran, tetapi karena berbagai urusan yang terjadi bertubi-tubi, mereka belum sempat bertemu. Dengan segera, Jiali merapikan penampilannya dan berjalan menuju ruang tamu.Begitu ia masuk, dua sosok yang tampak ceria langsung menyambutnya. Lien Hua, gadis muda dengan senyum lebar dan wajah penuh semangat, serta Qiaofeng, yang sedikit lebih pendiam tetapi memiliki sorot mata yang hangat."Kakak ipar!" seru Lien Hua riang, langsung menghampiri J

  • Kembalinya Sang Pangeran   Bab 43. Persidangan.

    Tiba di aula utama, suasana tegang memenuhi setiap sudut. Semua orang berdiri dalam barisan rapi. Kaisar duduk dengan tatapan tajam, memandangi Lu Nan yang berlutut di hadapannya. Yuwen berdiri di sisi sebelah kanan Kaisar, kedua tangannya terlipat di depan dada, raut wajahnya tenang, tetapi penuh kewaspadaan. Jiali berhenti tepat di ambang pintu. Napasnya masih memburu akibat berlari, tetapi matanya langsung menangkap sosok Chu Hua yang berdiri di antara para selir lain. Tatapan puas di wajah Chu Hua membuat perut Jiali semakin bergejolak. Jiali menggigit bibir dan melangkah maju tanpa sengaja tatapannya beradu dengan Yuwen. Yuwen bergerak menghampiri Jiali, menarik tangan Jiali lantas membawanya untuk ikut berdiri di tempatnya semula. Ekor mata Kaisar mengamati pergerakan Yuwen lantas kembali menatap Lu Nan. “Kasim Hong, berikan surat itu.” Hong Li memberikan hormat. “Baik, Yang Mulia,” ucapnya kemudian menyerahkan surat dari Lu Nan kepada Kaisar. Sejenak Kaisar membacanya,

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status