Dosen yang mengajar di kelas menutup laptopnya, pertanda jam kuliah telah berakhir, Azzrafiq melihat langit yang tertutupi awan kelabu, mengisyaratkan akan hujan sore ini, dia segera memasukkan buku tulisnya ke dalam tas ranselnya.
Sesekali Azzrafiq mengecek ponselnya, menunggu pesan dari Bianca yang tak kunjung datang, dia berdecak kesal lalu memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas, dan beranjak dari tempat duduknya.
Lagi-lagi Nisrina sudah menunggunya di depan kelas, melihat Nisrina yang seperti itu membuat mood Azzrafiq semakin buruk. Dia sedang tak ingin menyapa siapa pun yang berlagak so kenal padanya.
Azzrafiq keluar kelas dengan wajah yang kecut, Nisrina siap menyambutnya dengan senyuman manisnya, tapi kali ini Azzrafiq sama sekali tak menanggapinya, dia melewatinya begitu saja.
Ketika dipanggil pun, dia tak menyahut. Teman-teman wanita sekelasnya seolah merasa puas dengan sikap Azzrafiq yang mengabaikan Nisrina.
"Gak tahu malu banget sumpah, masa hampir tiap kelar mata kuliah dia ada depan kelas, demi nyambut Azzrafiq, eh sekarang gak dilihat sama sekali. Puas banget Acha lihatnya." Seru Acha.
"Bikin risi sih, lagian jadi cewek kok gak ada harga dirinya." Sahut Daphnie seraya mengecek ponselnya.
"Padahal dari kemaren-kemaren aja si Azzrafiq cuekin, jadinya kita puas banget kayak sekarang." Kata Acha.
"Eh iya, aku cabut duluan ya, teman-teman aku mau pada mampir ke kosan, bye." Daphnie pamitan pada Acha dan terburu-buru keluar dari Gedung.
Azzrafiq berjalan sendirian menuju kost-nya, dari banyaknya Mahasiswa yang berjalan untuk pulang, tak ada satu pun yang dia kenali, lalu dari belakang seseorang yang tak asing lagi suaranya, memanggil namanya. Dia berhenti dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Sendirian aja lo." Sapa Yudhistira.
"Terus harus satu RT gitu?" Tanya Azzrafiq malas, lalu melanjutkan lagi langkahnya.
"Kenapa lo? Bad mood banget kelihatannya." Tanya Yudhistira yang berjalan di sisinya.
"Gue lagi risi sama orang-orang yang so kenal sama gue."
"Digangguin lagi lo sama kuntilanak?"
Azzrafiq terkekeh. "Serem! Gue diikutin terus."
Yudhistira menepuk pundak Azzraffiq. "Kayaknya lo harus di ruqiyah, supaya gak digangguin terus."
"Asal lo yang ruqiyahin gue."
"Gue aja baru diintilin wewe gombel." Celetuk Yudhistira.
"Cewek jaman sekarang agresif amat ya, sampe bener-bener bikin merinding." Seru Azzrafiq.
"Lebih parah dari jaman SMA."
Di tengah jalan, Azzrafiq bertemu lagi dengan teman satu jurusannya yang sempat membuatnya terpana, wanita itu sedang duduk di scooter vesva bersama temannya. Namun wanita itu tak melihat dan tak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikannya dengan sejuta kekaguman.
Jantung Azzrafiq berdegup dengan kencang ketika melihat tambatan hatinya yang baru. Dia tersenyum dan mulai penasaran siapa nama wanita yang berhasil mengambil hatinya? Tapi dia belum berani menyapanya, belum waktunya. Tak lama wanita itu pun pergi melesat bersama scooter vesva nya.
Azrrafiq terus memperhatikan wanita itu hingga tak terlihat lagi di matanya. Mengingat Bianca yang kini mencampakkannya, semenjak menginjak kuliah dan berbeda kampus, Bianca tak memperhatikannya lagi, Bianca selalu berdalih karena sibuk kuliah dan banyak tugas, sehingga selalu tak sempat untuk mengabari Azzrafiq.
Tak dapat dipungkiri hatinya mulai beralih pada wanita lain, mungkin memang sudah seharusnya hubungannya dengan Bianca diakhiri, dan mulai membuka lembaran baru.
"Lo percaya cinta pandangan pertama gak?" Tanya Azzrafiq tiba-tiba.
Yudhistira menatap heran Azzrafiq. "Kenapa lo? Tumben amat bahas gituan." Ejeknya, ketika melihat wajah Azzrafiq berseri-seri, dia sadar wajah sahabatnya itu tak semurung tadi, kini ada senyuman di sudut bibirnya.
"Serius nanya gue." Sahut Azzrafiq.
Yudhistira terdiam sejenak. "Hmm... percaya sih, karena gue beberapa hari ini juga sering ketemu sama satu cewek di perpus dan kayaknya gue tertarik sama dia."
"Pantesan lo betah lama-lama di perpus, kirain beneran karena ada tugas, ternyata ada maksud lain juga."
"Pertama emang gue lagi banyak tugas, selebihnya ya cari yang bisa digebet lah, siapa tahu ada yang cocok." Yudhistira kembali memperhatikan wajah Azzrafiq. "Pasti lo lagi jatuh cinta sama cewek lain, kelihatan dari raut wajah lo yang berubah 180 derajat. Terus Bianca gimana?"
"Kayaknya gue bakalan putusin dia aja, so sibuk semenjak kuliah." Jawab Azzrafiq malas.
"Lo kesepian? Udah gak pernah dapet jatah lagi ya? Hahaha. Kalo emang putus jalan terbaik, yaudah putusnya jangan sampe musuhan, jangan norak."
"Sialan lo, norak sampe anjing-anjingan gitu?"
"Hahaha, emang kayak anjing sih kadang mantan tuh, tapi gue coba tetap berhubungan baik sama mereka."
"Itu karena lo gak bisa move on, makannya lo masih berhubungan baik, ditambah lo gak mau keluar dari zona nyaman." Tutur Azzrafiq.
"Bukannya gak bisa move on, gue pernah baca tulisan, menjaga tali silaturahmi itu bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki. Ya gue teladani aja. Lagian gue sekarang juga punya inceran baru." Seru Yudhistira.
"Menambah jatah mantan juga gak?"
"Damn you!!"
"Hahaha..."
"Eh ujan, gue gak bawa payung lagi." Gerutu Yudhistira seraya melindungi kepalanya dengan tangan dari percikan air hujan.
Azzrafiq dan Yudhistira berlari untuk berteduh, menunggu hujan yang sangat deras berhenti. Suara rintik hujan yang jatuh di atas tanah yang berbalut aspal, menggema terdengar sangat merdu walaupun sebenarnya kedatangannya, membuat sebagian orang kesal.
Azzrafiq mengecek ponsel nya, ada balasan pesan dari Bianca, tapi dia tak menghiraukannya. Bukan Bianca lagi yang kini dia tunggu. Dia teringat lagi pada wanita itu, perasaan menggebu dalam hatinya hadir kembali, setelah beberapa lama dia tak merasakannya.
Terakhir kali Azzrafiq rasakan ketika bertemu dengan Bianca, dua tahun lalu, semenjak menjalin hubungan dengan Bianca rasanya flat, tapi entah kenapa dia tetap mempertahankan hubungannya itu, padahal banyak wanita yang menyukainya, tapi dia tipe orang yang tak suka bila ada wanita yang selalu mengejarnya.
Azzrafiq tipe lelaki yang suka mengejar bukan dikejar, dia bahkan berani menilai, seorang wanita itu rendahan apabila terlalu agresif mengejar-ngejar lelaki.
Selama menjalani hubungan yang flat dengan Bianca, tak pernah terpikirkan olehnya untuk mencari wanita lain, karena menurutnya tak ada wanita yang bisa menarik hatinya, kecuali Bella yang saat ini entah dimana keberadaannya, sampai akhirnya bertemu dengan teman wanita satu jurusannya yang dia jumpai tadi pagi.
Ketika membayangkan wajah wanita itu, Azzrafiq selalu tersenyum, bahkan dia tak sadar Yudhistira sedang memperhatikannya, ada yang tak beres dengan Azzrafiq.
"Siapa sih cewek yang bisa buat lo beralih dari Bianca?" Tanya Yudhistira dengan nada mengejek, mengingat temannya itu selalu menolak ketika ada wanita lain yang mendekatinya, padahal kebanyakan yang mendekatinya bukan wanita sembarangan.
"Gue gak tahu siapa nama itu cewek, dia temen sejurusan."
"Berarti tuh cewek panas banget ya, bisa mencairkan hati lo yang beku gara-gara Bianca. Dulu satu sekolah tahunya lo itu benar-benar memuja Bianca. Sampai si Alisha yang model aja, yang cantiknya gak ketulungan lo tolak."
"Cantik aja itu gak cukup, pemahaman gue dulu setia sama satu cewek itu hal yang sangat dibanggakan, gue membangun image itu ke orang-orang kalo gue itu tipe cowok setia, dan sialnya berhasil."
"Terus lo dapet apaan setia sama Bianca? Image doang? Hahaha bener-bener naif lo. Padahal hubungan lo berdua juga gak asik-asik amat yang gue lihat." Sahut Yudhistira dengan nada mengejek.
"Kadang dia tuh ngerti sih apa yang gue butuhkan, makannya kita masih sama-sama, terlebih lagi.." Azzrafiq menghentikan kata-katanya ketika teringat hal yang buruk mengenai Bianca satu tahun lalu.
"Terlebih lagi karena?" Tanya Yudhistira.
"Gak ada cewek yang berhasil menarik hati gue sampai berakhir tadi pagi." Lanjut Azzrafiq tak ingin memberitahu alasan sebenarnya mengapa dia tak bisa melepaskan Bianca begitu saja padahal dirinya sendiri sudah jenuh.
"Oh ya si Bella cewek fiktif itu gimana? Lo udah gak penasaran lagi?" Tanya Yudhistira seketika memikirkan Bella, mengingat Azzrafiq beberapa bulan ini selalu mencari informasi tentang wanita itu.
Azzrafiq menghela nafasnya, karena pesona wanita itu, dia sampai lupa dengan Bella.
"Gue gak tahu harus nyari Bella dimana lagi. Buntu. Udah gak ada petunjuk tentang dia."
"Karena lo udah nemuin peralihan lainnya."
"Sembarangan lo kalo ngomong, gue gak nyari peralihan dari cewek ini, gue bakalan kejar dia walaupun sampai ujung dunia, kali ini gue bener-bener mau putus dari Bianca." Ucap Azzrafiq sambil berharap Bianca berubah, dan tak impulsif seperti dulu.
"Gue dukung!! Asal jangan omdo, kek tahun lalu mau putus tapi gak jadi, semoga cewek yang lo suka, bisa lo dapetin."
Mengingat tahun lalu dirinya pernah memutuskan Bianca namun tak berhasil, seketika mood nya kembali murung."Gue gak tahu bisa dapetin apa enggak, gue ragu, dia beda sama cewek lainnya, dia cuek sama gue."
"Jadi itu daya tariknya, cewek yang cuek sama lo. Gak usah pesimis gitu, manfaatin aja wajah lo, palingan juga tuh cewek gak akan lama di dapetin." Kata Yudhistira menyepelekan wanita yang disukai Azzrafiq.
Azzrafiq menatap sinis Yudhistira, dia tak suka jika wanita yang disukainya diremehkan. "Lo bilang kayak gitu karena lo belum lihat dia."
"Emang kayak gimana sih tuh cewek rupanya?"
"Well, She is pretty, selain itu tatapan matanya yang dingin pas lihat gue, yang entah kenapa gue langsung bertekuk lutut dibuatnya." Ucap Azzrafiq menceritakannya dengan penuh kekaguman, ketika mengingat wanita itu senyuman kembali hadir di bibirnya.
"Cantik itu relatif ya, siapa tahu menurut lo cantik tapi menurut gue engga." Kata Yudhistira seraya memandang Azzrafiq ngeri dan penuh dengan kekhawatiran, karena Azzrafiq tak berhenti tersenyum ketika menceritakan wanita yang disukainya. "Lo bener-bener udah gak waras Fiq, jujur ya gue juga lagi kesemsem sama satu cewek, tapi gak se ekstrim lo."
"Terserah lo mau bilang apa. I can't get her face out of my mind."
Yudhistira menggelengkan kepalanya, Azzrafiq memang terlihat sangat aneh dari biasanya, yang awalnya murung lalu tiba-tiba tersenyum. Yudhistira jadi penasaran seperti apa sosok yang dipuja oleh Azzrafiq itu? Tak lama berteduh, hujan akhirnya mereda, langit yang awalnya gelap kelabu berubah menjadi oranye. Azzrafiq dan Yudhistira melanjutkan langkahnya untuk pulang.
***
Malamnya Azzrafiq keluar kamar untuk mengerjakan tugas di meja makan, dia membuka laptopnya dan menancapkan flasdhisk yang diberikan Daphnie, seketika muncul nama dari flashdisk itu, dia mengkliknya dan tampak beberapa folder di dalamnya, dia mencari folder bertulisan TUGAS.
Azzrafiq telah menemukannya, namun jiwa usilnya keluar, sebelum mengklik folder TUGAS, dia membuka folder yang berisikan foto-foto, dengan bosan mengklik beberapa foto narsis Daphnie bersama teman-teman satu kelasnya, ketika klik satu foto lagi, tampak ada foto wanita yang membuatnya jatuh hati memakai baju ospek Universitas, ternyata Daphnie berteman dengan wanita itu. Azzrafiq memperbesar foto itu hanya untuk melihat wanita pujaannya yang baru.
"Wih foto siapa tuh? Cantik amat." Seru Yoga yang tiba-tiba ada di samping Azzrafiq.
"Bikin kaget aja lo." Gerutu Azzrafiq seraya menutup foto yang sedang di lihatnya.
"Lo nya aja yang gak sadar, padahal gue udah gerasak-gerusuk, saking terpesonanya kali lo sama foto tuh cewek."
"Apaan sih."
Azzrafiq kembali mengerjakan tugasnya, dia coba fokus dengan makalah yang akan dibuatnya meskipun bayang-bayang wanita itu terus berkeliaran dalam pikirannya, hingga tak sadar, dirinya selalu tersenyum ketika mengetikkan beberapa kalimat, dan waktu tengah menunjukkan pukul 01.13 dini hari.
"Lo lagi bikin naskah komedi?" Celetuk Adik yang kini duduk di hadapannya.
"Senyum-senyum muluk lo, kayak lagi banyak uang." Seru Kakak yang sedang sibuk makan.
Azzrafiq melirik Adik dan Kakak Sastrawardana bergantian, si kembar paling gila yang pernah dia temui.
"Kalo ada kalian nampakin tengah malem gini, berarti udah waktunya gue untuk tidur." Ucap Azzrafiq seraya menutup laptopnya dan membereskan beberapa buku yang menjadi bahan makalah yang dibuatnya.
"Dikira kita tuyul, sini dulu napa sih Fiq makan tengah malam gak akan merusak body lo yang proporsional itu." Tukas Adik.
Karena sudah tengah malam juga dirinya sudah sangat mengantuk, terlebih sudah melewati jam tidurnya, Azzrafiq beranjak meninggalkan meja makan beserta dua penghuninya yang tiba-tiba muncul.
"Udah ngantuk gue, lo berdua pada gak lihat jam apa? Gue juga gak tahu kalian manusia apa setan yang iseng doang menyerupai si kembar." Ucap Azzrafiq datar.
"Gila beneran tuh anak, masa iya wajah ganteng begini dibilang setan?" Gerutu Kakak yang masih sibuk mengunyah.
"Tidur kalian, jangan banyak bacot." Ujar Azzrafiq yang sudah berada di depan pintu kamarnya.
Bertemu lagi dengan hari Senin, Magika terbangun dari tidurnya. Aneh, malam ini Edward tak menghampirinya di dalam mimpi, setelah berjumpa dengan Azzrafiq, Edward seakan lenyap dalam hidupnya, padahal kemarin-kemarin hampir tiap hari dia memimpikannya."Edward kemana lagi? Kenapa gak muncul terus sih? Kan kangen jadinya." Gerutu Magika seraya beranjak dari tempat tidurnya.Pagi masih tampak gelap, matahari belum memancarkan sinarnya, Magika segera bergegas ke kamar mandi, dia harus berangkat lebih awal dari biasanya, karena sekarang dia berangkat dari rumah orang tuanya yang berada di Bandung Barat, perjalanannya menuju Kampus tercinta bagaikan mencari kitab suci dari ujung ke ujung. Sampainya di daerah Bandung Timur, laju mobilnya mulai lamban, jalanan sudah dipadati oleh beberapa kendaraan, dia sudah terbiasa dengan keadaan jalanan di sini yang memang setiap harinya selalu macet, Magika tahu akan telat lag sampai ke Kampus, maka dari itu ketimbang stress di jalan, dia menambahkan v
Di kelas, Azzrafiq melihat teman-temannya masih berkerumun membicarakan topik mengenai kelompok yang telah dibagikan oleh anggota HIMA. Belum ada habisnya mereka membicarakan ospek jurusan yang akan diselenggarakan minggu depan."Ya masa cuma saya cowoknya di kelompok." Gerutu Azka yang tak terima karena teman-teman sekelompoknya perempuan semua. "Kalo gue sih seneng, berasa jadi juragan minyak." Seru Dean. "Lah itu mah kamu, masih mending kalo pada cantik semua." Tukas Azka."Ah kayak lo ganteng aja." Cibir Dean."Emang saya ganteng kok, btw pas ngumpul kemaren, ada cewek yang ok, gak nyangka aja punya temen sejurusan yang kece, anak kelas B kayaknya." Seru Azka."Magika kan? Cantik tapi jutek gitu siapa yang mau deketin?" Ucap Agung."Jutek karena belum kenal aja, gue perhatiin sih kalo sama temen-temennya, dia kelihatan asyik anaknya." Ujar Dean.Mendengar nama Magika disebut, membuat Azzrafiq tertarik dengan obrolan teman-temannya. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang menyukai
Magika melihat Edward pergi meninggalkannya, dia terus mengejar lelaki itu, namun semakin didekati bayangan lelaki itu semakin jauh dan kabur. "Edward!!" Teriak Magika seraya terbangun dari tidurnya. Kali ini mimpinya sangat berbeda dari biasanya, setelah satu minggu lebih tak memimpikan Edward. "Giliran mimpiin dia, malah begini, apa suatu pertanda Edward gak akan pernah balik lagi ke mimpi aku?" Alarm di ponsel nya baru berbunyi, Magika segera mematikannya dan beranjak dari tempat tidurnya untuk bergegas pergi ospek jurusan. Dia memakai kemeja putih seperti saat Ospek Universitas. Sampainya depan Gedung Rektorat, keadaan kampus masih sepi, baru suara air mancur dan suara sapu lidi yang menyapu halaman yang terdengar. Zea teman sekelas Magika yang sedang duduk di trotoar, memanggil Magika dari jauh, dia melambaikan tangannya, Magika langsung menghampirinya. Zea terlihat bingung menatap temannya yang kini ada di hadapannya. "Gee, kan harusnya pake baju warna hitam bukan putih, s
Magika dan Acha berjalan keluar Gedung Fakultas, hari semakin terang, matahari sudah naik, cahayanya menyinari wajah Magika dan membuatnya silau, hingga dia menyipitkan matanya. Teman-teman seangkatannya sudah banyak yang berkumpul, tidak seperti sebelumnya yang masih bisa dihitung jari keberadaannya.Ketika melihat Magika mendekat, teman -teman kelompoknya terpana melihat tampilan baru dirinya, jangankan teman lelaki, teman wanitanya pun memuji penampilan Magika yang semakin elegan. Azzrafiq dan Maulana tak lepas memandangi wanita yang sudah tidak lagi salah kostum itu."Stunning Gee, mau pake baju apa pun juga, emang udah bakatnya kamu keren." Puji Maulana."Gila Gee, padahal kita tiap hari ketemu tapi aku baru sadar, kamu Ok juga." Timpal Endy teman sekelasnya Magika.Magika merasa tidak terlalu nyaman karena pujian yang berlebihan dari teman-temannya, dia menyunggingkan senyum paksa yang tampak dari raut wajahnya."Jadi gak kelihatan itu baju cowok." Ujar Azzrafiq."Oh ya? Bagus g
Suara lagu We Are Young dari Fun berkumandang di dalam Aula, menyambut kedatangan Mahasiswa angkatan 2012, terlihat beberapa tulisan sambutan di atas stage, meja beserta kursi untuk peserta ospek sudah berjajar rapi.Randy sebagai MC, terlihat sudah berada di atas stage dan bersiap untuk memandu jalannya acara pembukaan ospek pagi ini. Randy memberi arahan pada peserta ospek untuk duduk, di mulai dari kelompok satu, yang mengisi jajaran kursi paling depan, dan kursi kedua diisi oleh kelompok dua, begitu seterusnya.Azzrafiq yang menyadari keberadaan Alin tampak risi, Alin bahkan duduk di sampingnya, padahal tadi dia sudah bersikap sinis tapi tetap saja Alin kukuh untuk berdekatan dengannya.Azzrafiq mencari Magika dan tak menganggap Alin yang ada di sampingnya, akhirnya dia menemukan keberadaan Magika yang terlahalang oleh teman-teman kelompoknya."Gee sini, masih ada bangku kosong." Panggil Azzrafiq seraya melambaikan tangannya."Kosong gimana?" Tanya Alin heran, karena dirinya sudah
Kegiatan peserta di pagi buta ini adalah renungan pagi, sesuai kepercayaan yang dianut masing-masing, setelah selesai, tepat pukul 06.00 peserta ospek diberi waktu tiga menit lagi oleh KOMDIS untuk berganti pakaian dengan baju olahraga beserta perlengkapannya.Matahari sudah terbit, cahayanya menyinari peserta ospek yang sedang baris, bersiap untuk olahrag, dan lagi-lagi, ada peserta ospek yang tidak sesuai dengan kriteria orang yang akan berolahraga, banyak di antara mereka yang tidak memakai sepatu olah raga. Salah satunya Maulana si ketua kelompok satu."Lo ngaco amat, masa olahraga pake sepatu pantofel." Cibir Azzrafiq."Iya, lupa." Bisik Maulana, lalu berjalan ke depan."Cari perjaka aja si Maul." Celetuk Selvi.Endy menoleh pada Selvi tak habis pikir dengan ucapan temannya itu. "Hah? Cari perkara kali." "Posisi kita salah, jadi kita gak bisa belain." Gerutu Magika."Jangan bilang kita juga kena hukuman, gara-gara ketuanya salah." Timpal Acha.Karena ketua mereka melakukan kesal
Magika, Azzrafiq dan Randy, keluar jalur dan berjalan menuju sungai yang memang lumayan jauh juga dari tempat mereka saat ini berdiri. Mereka menyusuri perkebunan dan jalan setapak untuk menuju sungai.Mereka berjalan berbaris, Randy memimpin perjalanan mereka, dan jalanan sedikit licin, Magika yang berada di tengah memegang tangan Randy yang berjalan di depannya dan Azzrafiq di belakangnya.Sungai yang akan mereka tuju sudah terlihat, suara aliran sungai terdengar merdu, vibes pedesaan yang khas. Diiringi dengan suara nyanyian burung yang menambah keindahan di sini. Hanya suara suling saja yang tak ada."Sungainya sudah mulai terlihat adik-adik." Seru Randy."Kelihatannya airnya bening, padahal baru turun hujan." Kata Magika bingung."Mungkin hujannya gak sampe sini." Sela Azzrafiq seraya melihat jalan setapak yang tidak basah seperti jalan yang dilewati sebelumnya."Semoga aja ada para bidadari yang lagi mandi, terus bawa pulang." Celetuk Randy."Kita kan udah dapet Kak." Sahut Azz
Magika dan Azzrafiq masuk ke ruangan panitia, di dalam terdapat beberapa ruangan, terlihat para panitia yang berlalu lalang, ada juga yang bersantai, ada pula yang sibuk untuk mengurusi acara selanjutnya.Randy mengajak mereka ke ruangan Kesehatan, yang diperuntukan bagi peserta ospek jika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti yang Magika alami saat ini. Suasana begitu terasa sangat asing bagi mereka berdua berada di sini dan merasa canggung karena banyak kakak tingkat."Kenapa ini Ran?" Tanya Nizar yang melihat Randy membawa pasukan."Keseleo, saya balik dulu ke Aula, harus ngisi acara." Jawab Randy."Ok, kamu ke Aula aja, biar saya yang urus semuanya." Kata Nizar seraya menyiapkan alat-alat untuk mengompres."Ayo Fiq, kamu harus masuk kelompok kamu juga, kasih tahu buat bawain baju Magika, kebasahan kasihan dia." Tutur Randy."Gee, aku balik ke Aula ya." Ucap Azzrafiq.Magika menahan tangan Azzrafiq sambil berbisik."Aku gak mau ditinggal sendirian."Azzrafiq tersenyum coba mene
Pagi telah tiba, langit yang semula gelap perlahan mulai kembali terang, terdengar suara burung yang berkicau.Azzrafiq membuka matanya dan terbangun dengan wajah yang tersenyum, semalam dia berhasil melakukan hal yang diinginkannya bersama Magika di dalam mimpi, meskipun hanya di dunia mimpi, cukup membuatnya bahagia.Dan berharap suatu hari nanti mimpinya jadi kenyataan, Azzrafiq beranjak dari tempat tidurnya, dilihatnya Oma Ida sudah cantik dan bersiap untuk yoga di pinggir kolam renang."Oma mau yoga aja cantik banget kayak mau ke undangan." Kata Azzrafiq."Apapun acaranya Oma harus terlihat cantik dong, biar gak malu-maluin cucu Oma.""Asraf terima Oma apa adanya kok." Ucap Azzrafiq seraya memeluk Oma Ida."Ucapanmu mirip sekali dengan mendiang Opa." Tukas Oma seraya mengusap-ngusap pipi Azzrafiq. "Oma harus pergi sekarang, kamu kalo mau sarapan tinggal ke bawah aja, jangan lupa ajak Magika.""Iya Oma, hati-hati jalannya." Sahut Azzrafiq.Magika yang masih tertidur, mencoba tak m
Reflek Magika membuka matanya kembali dan mendorong tubuh Azzrafiq lalu segera membalikkan badannya, Azzrafiq yang terpental akibat dorongan Magika, segera beranjak dari tempat tidur dan melangkah untuk membukakan pintu.Azzrafiq melihat door viewer untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu? Menganggu saja, lagi-lagi dia gagal mencium Magika, tampak para Oma berdiri di depan pintu, dia segera membukanya."Hallo Oma-oma." Sapa Azzrafiq.Oma-oma melangkah masuk kamar, dan seketika terkejut melihat tempat tidur yang berantakan, bantal berserakan di lantai, selimut yang sudah terbuka tak karuan, dan sprei tempat tidur yang sangat kusut."Ya ampun kalian ngapain aja sampai berantakan isi kamar?" Omel Oma Neswari."Kita lagi perang bantal Oma." Jelas Magika."Kalian kan sudah besar, bukan anak kecil lagi, ngapain maen perang-perangan?" Tanya Oma Ida heran sembari menggelengkan kepala menatap cucunya.Azzrafiq hanya nyengir melihat Oma Ida melototinya."Abisnya kita bosan, nunggu Oma lama b
Selesai makan malam di balkon, Magika dan Azzrafiq kembali ke dalam kamar, Magika mendapati film yang ingin dia tonton malam ini Friends with Benefits sudah mulai, dia segera naik ke atas tempat tidur untuk menontonnya.Azzrafiq mengikuti Magika naik ke atas tempat tidur, dia duduk di sampingnya l yang tengah bersandar pada bantal."Nonton film apa nih Gee?" Tanya Azzrafiq."Friends with Benefits, seru kayaknya, kamu udah nonton belum?"Azzrafiq mengubah posisinya agar lebih nyaman."Belum, film romantis?""Udah pasti film romantis, mau nonton film lain?" Tanya Magika memberikan opsi.Azzrafiq menggelengkan kepalanya."Gak, nonton ini aja, aku pengen tahu friends with benefits tuh kayak apa?""Kalo kamu pernah nonton film No Strings Attached pasti tahu deh jalan ceritanya.""Aku juga belum nonton yang itu."Magika menoleh pada Azzrafiq. "Pemainnya pasangan asli Mila Kunis yang main film ini, ya emang sih agak garing ceritanya, cowok gak akan suka film romantis, padahal filmnya..""Kenap
Sampainya di kolam renang, Magika melihat Oma dan teman-temannya duduk santai di lounger pinggir kolam, mereka berdua menghampirinya dan menyapanya.Magika mendekati Omanya yang tengah bersantai, "Oma mau berenang?""Engga Oma takut rematik, Oma cuma mau rebahan aja." Jawab Oma Neswari sambil menyeruput jeruk panasnya."Kan masih sore Oma." Kata Magika."Tetep aja airnya dingin.""Air panas, ya ampun Oma." Timpal Magika ketika melihat sayup asap keluar dari air kolam."Oma lagi mager." Celetuk Oma Neswari."Ada jacuzzi Oma, siapa tahu mau relaksasi." Seru Azzrafiq."Kalian aja yang main air, kami gak mau basah-basahan." Jawab Oma Ida."Yaudah Asraf pinjem cardlock nya, mau masuk kamar tadi gak bisa, Asraf mau ganti baju." Pinta Azzrafiq pada Oma Ida."Bareng aja, Oma juga mau mandi dulu, yuk kita ke kamar." Ajak Oma Ida seraya beranjak dari lounger, Azzrafiq membantunya berdiri.Azzrafiq dan Magika beserta para Oma kembali ke kamar, kaki Magika terasa sangat pegal karena sudah naik da
Setelah berbincang dengan Oma mengenai isi hatinya, Azzrafiq kembali memainkan gamesnya, di tengah permainan yang seru dia mendengar ponselnya berbunyi, tampak Magika telah membalas pesannya. Seketika dia langsung berhenti memainkan gamesnya.Magika Keandra AdribrataIya Azz? \( ˆ▽ˆ )/Azzrafiq AlfathanendraMain yuk bosen di kamar terusMagika Keandra AdribrataIde bagus, aku malahan ketiduranAyo kita nikmati fasilitas HotelAzzrafiq AlfathanendraOk, sekarang aku ke kamar kamu yaMagika Keandra AdribrataTunggu duluTanpa menunggu waktu lama dia langsung bergegas keluar kamar untuk menemui wanita itu, sebelum pergi dia berpamitan pada Oma Ida yang tengah menikmati pemandangan di balkon."Oma, Asraf tinggal keluar dulu ya, Asraf mau ajak Magika keliling hotel." Azzrafiq meminta izin."Iya, selamat bersenang-senang anak muda."Membaca pesan dari Azzrafiq yang akan menghampiri kamarnya, Magika segera beranjak dari tempat tidurnya, dia berlari ke kamar mandi untuk cuci muka, dan touch u
Azzrafiq mencium parfum aroma baby powder seperti wangi ciri khas Magika di sekitarnya, dia penasaran apakah mungkin wanita itu ada di sini? Atau mungkin ada orang lain juga yang memakai aroma parfum yang sama?Dia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tahu siapa yang menggunakan parfum aroma baby powder ini, karena masih penasaran dia menolehkan kepalanya ke belakang.Magika terbelalak tak menyangka bisa bertemu dengan Azzrafiq, dari sekian banyak tempat di Bandung mereka bertemu di sini. Benar dugaannya tadi, hanya saja masih ragu untuk menyapa Azzrafiq."Azzrafiq?" Sapa Magika akhirnya."Magika?" Ucap Azzrafiq dengan riang."Kebetulan kita ketemu di sini." Magika berseru antusias."Atau emang takdir?"Magika tertawa."Berat banget gitu ya kesannya kalo disebut takdir.""Ya terima aja lah ya, kalo kita tuh emang ditakdirkan selalu bersama." Ucap Azzrafiq seraya mengambil makanan yang tersaji di meja stand. "Pantas aja aku kenal aroma wangi parfum kamu, benar aja ada orangnya.""Yang pa
Matahari sore menyinari kamar Azzrafiq, cahayanya menembus jendela, udara Bandung hari ini terasa sangat panas tidak seperti biasanya, padahal sekarang sudah musim penghujan namun panasnya tak tertahankan.Azzrafiq menutup gorden kamarnya dan berniat menyalakan AC, dia mencari remot AC di laci meja belajarnya, di dalamnya dia melihat charm bracelet milik Bella yang beberapa bulan lalu dia ambil.Benda itu selalu Azzrafiq bawa kemana pun dirinya pergi, dia mengambil charm bracelet itu dari dalam laci, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menilik bandul-bandul dari gelang itu yang bertemakan world traveller, ada yang berbentuk menara eiffel, kompas, pesawat dan lainnya."Masa benda ini bakalan gue simpen selamanya?" Kata Azzrafiq berbicara sendiri.Dia membaca tulisan kecil yang ada di charm gelang itu, ketika melihat charm berbentuk paspor tertulis sebuah nama berukuran sangat kecil di belakangnya. Dia mengernyitkan matanya ketika membaca tulisan kecil itu."Magika?" Gum
Magika masuk ke dalam kamar seraya membanting tasnya ke atas tempat tidur, dia terduduk di samping tempat tidurnya, dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Randy yang baru saja mulai dia cintai setega itu menghancurkan hatinya.Magika merasa sangat bodoh, mengingat dirinya sedari pagi terus menerus mengabari Randy yang tak membalasnya sama sekali, bisa-bisanya dia mempermalukan dirinya sendiri seperti itu.Kini air matanya terjatuh lagi membasahi kedua pipinya, terpikir olehnya selama ini Randy bersikap manis padanya hanya untuk menyakitinya, mengingat ciuman kemarin malam yang dilakukannya bersama Randy membuat Magika semakin sedih dan terluka.Bagaimana bisa ciuman yang menurut Magika sangat istimewa hanya menjadi sebatas pelarian semata bagi Randy?"Kenapa aku memilih Kak Randy? Kenapa aku memilih hati yang salah?" Sesal Magika dalam tangisannya.Malam minggu yang kelabu.***Hari senin kembali menyapa, pagi-pagi Magika bangun saatnya bersiap untuk kuliah, rasanya kepala
Malam ini acara ngopi bareng Hukum Ekonomi akan di laksanakan, Magika tengah bersiap-siap, namun dia merasa aneh, sejak pagi Randy masih belum mengabarinya, pesan darinya tak ada balasan, bahkan dia sudah menelpon berkali-kali namun tetap tak ada jawaban, dia tahu Randy panitia dari acara itu, tapi apakah sampai sesibuk itu? Sampai tak mengabarinya sama sekali.Magika melihat bayangannya di cermin, malam ini dia tampil sangat out, terlihat sangat elegant namun masih tampak natural, sudah berkali-kali, dia berganti warna lipstik agar lebih pas untuk datang ke acara kampus."Apa gak berlebihan ya? Udah kayak mau dugem aja terlalu terang gini" Gumam Magika lalu menghapus lagi lipstik yang telah diaplikasikannya.Magika mengecek ponselnya dan melihat waktu telah menunjukkan pukul 17.00, dan pesan yang dia tunggu masih belum kunjung datang, hatinya mulai resah dan merasa sedikit kesal."Kak Randy kemana sih? Aneh banget gak biasanya dia ngilang, ternyata gini ya rasanya nunggu kabar dari o