04
"Ko, dipanggil Bapak," tukas Dimas, seusai memasuki kamar tamu yang ditempatinya bersama Martin.
"Bentar lagi aku keluar. Mau ke toilet dulu," balas Martin sembari bangkit dan jalan ke toilet di sudut kiri ruangan luas bernuansa abu-abu muda.
Kala Martin melewatinya, Dimas tertegun. Asisten kedua Wirya itu mengendus-ngendus, karena aroma harum yang lembut menguar dari tubuh Martin. Sangat berbeda dengan wangi parfum yang biasa dipakai calon suami Yuanna tersebut.
Dimas berpikir sesaat, kemudian dia mengangkat bahu. Lelaki berkaus putih tersebut berpindah ke depan cermin. Dimas menyisiri rambutnya sembari bersiul.
Sekian menit terlewati, Dimas dan Martin telah berada di ruang makan. Mereka bersantap sembari mendengarkan percakapan Arsyad, Hendri dan Wirya.
Tidak berselang lama, Fenita datang bersama suami dan Kellan, anaknya. Lelaki kecil berbaju merah langsung bergabung dengan Bayazid, anak Wirya dan Delany, yang kemudian mengajak Kellan bermain di teras.
"Ada temannya, Kellan senang banget," tutur Zainab sambil memerhatikan kedua cucunya dari pintu depan yang terbuka lebar.
"Kellan nanyain terus, kapan Zid datang," balas Fenita, sembari mendudukkan diri di samping kanan ibunya.
"Sama. Dari nyampe sini kemarin sore, Zid juga ribut mau ketemu Kellan," sahut Delany.
"Harusnya Juna, Luna, Yunara dan Dalair, ikut ke sini."
"Juna dan Yunara lagi jalan-jalan sama keluarga Baltissen. Luna, ikut keluarga Adhitama ke Medan. Dalair, ada di rumah neneknya di Depok."
Fenita mengalihkan pandangan pada Kakak iparnya yang sedang mengunyah donat. "Teh Irsha, buruan, atuh. Aku pengen banget punya ponakan."
"Doain aja, yang ini berhasil," jawab Irshava di sela-sela mengunyah.
"Aamin. Kalau bisa, kembar."
Irshava meringis. "Akangmu juga pengen begitu."
"Kalau program bayi tabung, bisa, kan, dibuat kembar?"
"Bisa. Banyak yang berhasil."
Fenita mengulurkan tangan kanan untuk mengusap perut Delany yang membuncit. "Kapan HPL-nya, Ci?" tanyanya.
"Sekitar 3 bulanan lagi," jelas Delany.
"Mau lahiran di mana?"
"Aku tadinya pengen ke tempat orang tua di Thailand, tapi Ayah Zid nggak setuju. Kejauhan, katanya. Padahal aku pengen ada satu yang lahir di sana. Kalau nambah anak lagi, lahiran di Sydney."
"Oh, mau 3?"
"Aku maunya gitu, tapi Ayah minta 4."
Fenita mengulaskan senyuman. "Suamiku juga maunya anak banyak. Aku cuma sanggup 3."
"Akang mau punya anak 6. Tiap lahiran, kembar," sela Irshava.
"Dia pengen bikin grup voli," seloroh Delany.
"Hu um. Biar rame, katanya," ungkap Irshava sambil melirik suaminya. "Kubilang, Akang, mah, enak, tinggal ngomong, doang. Aku yang hamilnya, repot," bebernya.
"Teu kudu diikutan maunya Akang. Dia cuma asal bicara," timpal Zainab. "Sama kayak Bapak. Dulu dia juga pengen anak banyak. Tapi, baru ada 3, dia ngeluh, karena berantem mulu," bebernya yang menyebabkan ketiga perempuan muda tersebut terkekeh.
Matahari bergerak naik. Siang itu, seusai salat, Martin dan Yuanna pergi ke pusat perbelanjaan. Mereka menaiki motor, karena bosan menggunakan mobil.
Yuanna memeluk pinggang kekasihnya, yang sekali-sekali akan mengusap tangannya. Martin mengendarai motor dengan hati-hati, karena jalanan kota kembang sangat ramai.
Sudah menjadi hal yang lumrah, jika Kota Bandung akan ramai saat penghujung minggu. Berbagai tempat wisata di seputar kota, menjadi daya tarik pelancong dari berbagai daerah.
Sesampainya di tempat tujuan, Martin memarkirkan motor di ujung area. Dia sengaja melakukan itu agar motor tidak lecet oleh kendaraan lainnya.
Keduanya membuka helm dan Martin mengaitkannya di bagian dalam. Seusai memastikan kunci terpasang dengan baik, Martin menggandeng tangan Yuanna dan mereka melangkah bersama menuju pintu masuk.
Sedapat mungkin Martin berusaha melindungi kekasihnya. Pria berjaket jin biru, melingkarkan tangan kanannya ke pundak Yuanna, sembari meneruskan langkah menuju toko perhiasan.
Belasan menit berlalu, Martin mengamati Yuanna yang sedang mencoba tiga set perhiasan untuk mahar pernikahan. Mereka sengaja menyiapkan itu dari jauh-jauh hari, karena nantinya Martin akan sibuk bolak-balik ke Kuala Lumpur ataupun Singapura.
Usaha Martin yang baru dirintisnya dua tahun ke belakang, didukung penuh oleh Hendri, Zein dan Wirya. Ketiga komisaris HWZ itu tidak segan-segan menggelontorkan dana, supaya Martin bisa ikut beberapa proyek yang digagas bos PG dan PC.
Selain HWZ, BPAGK, SHEHHBY, ZAMRUD dan beberapa perusahaan bentukan Wirya serta teman-temannya, juga turut membantu usaha Martin di Indonesia, Singapura serta Malaysia.
"Ko, bagus yang mana?" tanya Yuanna.
"Aku nggak paham tentang perhiasan. Terserah kamu aja mau yang mana," jawab Martin.
"Ehm, aku suka yang ini." Yuanna menunjuk kotak nomor satu.
"Oke, ambil yang itu." Martin mengambil dompet dari saku dalam jaket, lalu meraih kartu hitam dan memberikannya pada Yuanna. "Pakai ini, Dek," cakapnya.
"Enggak usah. Uang yang Koko kasih waktu itu, masih ada."
"Itu buat biaya baju dan lain-lain."
"Baju nggak jadi beli. Aku dikasih gratis sama Teh Renata."
Martin membulatkan matanya. "Beneran?"
"Hu um. Sepasang, sama jas Koko."
"Alhamdulillah." Martin memerhatikan kekasihnya. "Banyak banget yang membantumu menyiapkan pernikahan," lanjutnya.
Yuanna mengangguk seraya tersenyum. "Aku juga nggak nyangka. Padahal nggak ada minta. Mungkin Teh Renata mandang ketiga bos HWZ, jadinya ngasih kado baju pengantin."
"Ya, terutama Bang W."
"Hu um. Dia sudah bantu keluarga Ganendra dari dulu."
Yuanna terdiam sesaat. Dia menoleh ke pintu toko, karena seolah-olah merasa bila tengah diperhatikan seseorang. Yuanna menajamkan penglihatan, kemudian dia mengusap punggung tangannya sembari menggerutu dalam hati.
Sepanjang transaksi pembayaran set perhiasan, Yuanna berulang kali melirik pintu kaca. Dia makin yakin jika ada sesuatu yang tidak terlihat yang tengah mengawasi.
Selanjutnya, pasangan tersebut keluar dari toko sambil bergandengan tangan. Yuanna berusaha untuk tetap tenang, meskipun hatinya was-was.
"Ko, kita nggak usah nonton," ujar Yuanna, saat tengah berada di eskalator.
"Kenapa?" tanya Martin.
"Lagi nggak mood nonton."
"Terus, mau ke mana?"
"Main basket."
Martin berdecih. "Kamu, nih. Tiap kencan pasti ngajak aku keringatan."
"Olahraga itu. Bagus buat kesehatan."
"Akunya bosan."
"Ehm, dance aja. Mau?"
"Oke, deh." Martin berpikir sesaat, lalu dia bertutur, "Sama aja itu, keringatan."
Yuanna tersenyum. "Permainan lain kurang menantang."
"Kita balap motor aja."
"Sudah sering main itu, dan Koko kalah terus."
"Hmm, balap mobil."
"Nanti merajuk kalau nggak menang."
Keduanya tiba di lantai tiga dan langsung menuju tempat langganan mereka bila tengah berkunjung ke sana.
Selama puluhan menit berikutnya, Martin dan Yuanna sibuk bermain tembak-tembakan. Keduanya terlihat serius menghabisi lawan-lawan imajiner. Hingga tidak menyadari jika ditonton banyak orang.
Seusai lelah bermain, keduanya berpindah ke salah satu tempat makan di sisi kanan bangunan. Mereka duduk saling berhadapan sembari memandangi sekeliling.
Yuanna tercenung saat kembali merasakan tengah diperhatikan. Dia mengingat-ingat doa yang pernah diajarkan Arsyad, lalu melafazkannya dalam hati.
Martin yang tengah asyik berselancar di dunia maya, terkejut ketika melihat bayangan seseorang di layar ponsel. Dia berbalik untuk memastikan, tetapi tidak ada seorang pun di belakangnya.
05Hendri dan Wirya termangu, sesaat setelah mendengarkan penuturan Yuanna, tentang kejadian di pusat kota sore tadi. Kedua sahabat itu saling melirik, kemudian mereka sama-sama menghela napas berat dan mengembuskannya sekali waktu. Hendri berpikir cepat. Dia yakin jika ada yang tidak beres, yang sedang melingkupi Martin. Hendri akhirnya menerangkan maksudnya untuk menyelidiki tempat proyek yang sedang dikerjakan Martin. Namun, dia meminta Wirya dan Yuanna merahasiakannya. "Kapan kamu mau ke sana?" tanya Wirya. "Pengennya, sih, secepatnya," sahut Hendri. "Kekejar nggak waktunya? Kamu, kan, mau ke Sydney." Hendri tertegun sesaat. "Aku mau minta gantiin Gunther aja buat kunjungan ke sana." "Lalu, yang nemenin kamu, siapa? Z mau ke Filipina bareng Naizar dan Izra." "Mau nggak mau, aku maksa Bayu dan Ubaid buat ikut. Karena Gunther gantiin aku. Emyr sama Kenzie juga sibuk keliling Indonesia. Di kantor sisa Gilang, Rini dan Gwen. Enggak mungkin aku ngajak mereka ke proyek itu." "Aj
06Pagi itu, Martin dan Aditya telah berada di TKP. Mereka memerhatikan para pekerja yang sedang berjibaku untuk memadatkan tanah lapisan terbawah. Martin berbincang dengan Muchlis dan Ridho, di saung tempat pekerja beristirahat. Aditya memutari lokasi sembari memotret beberapa hal yang menurutnya penting. Aditya berhenti beraktivitas ketika melihat beberapa orang yang sedang mengarit di seberang. Asisten Yoga tersebut penasaran dan segera mendatangi keempat orang bertopi caping. Sebab bukan orang Sunda, Aditya akhirnya menyapa mereka dengan bahasa Indonesia. Dia meringis ketika pria paruh baya di hadapannya menyahut dengan bahasa Sunda yang cepat. "Mohon maaf, Pak. Bahasa Sunda saya terbatas. Jadi kita ngobrolnya pakai bahasa Indonesia saja," pinta Aditya yang dibalas anggukan pria berkaus hitam di depannya. "Ya, Kang. Mangga," tukas lelaki tua sambil membetulkan letak capingnya. "Bapak warga asli sini?" "Muhun." "Rumahnya, jauh?" "Enteu. Sakitar sakilo. Kanan tea." Pria itu
07Malam telah larut ketika Aditya kembali ke rumah kontrakan Martin. Seno yang membukakan pintu, terkejut saat Aditya menunjukkan Al Quran berukuran sedang di tangan kanannya. Seno membiarkan Aditya memasuki ruang tamu. Kemudian dia menutup dan mengunci pintu. Seno duduk di kursi terdekat, sembari memandangi Aditya yang sedang menghafal ayat suci. "Bang, sudah ketemu sama Pak Hendri?" tanya Seno dengan suara pelan. "Ya," jawab Aditya. "Apa katanya?" "Nanti kuceritain. Mau ngafalin ini dulu." Seno terdiam, lalu dia menyandar ke tumpukan bantal sofa. Pria berkaus hitam meraih ponselnya dari meja, kemudian dia berkelana di dunia maya. Sekian menit berlalu, Aditya telah selesai menghafalkan ayat yang ditunjukkan Hendri. Pria berambut lebat memijat belakang lehernya. Lalu Aditya mengambil botol minuman dari samping ranselnya. "Bang, gimana?" desak Seno. "Kata Kang Hendri, besok dia mau ngecek ke sungai. Mungkin ada aliran khusus yang nembus ke tempat proyek," terang Aditya seusai
08Seno tertegun, sesaat setelah Hendri menuntaskan cerita tentang hasil penyelidikannya tadi pagi hingga menjelang zuhur. Seno mengingat-ingat tentang gorong-gorong yang pernah dilaporkan pekerja pembabat rumput, beberapa waktu silam. Ucapan mereka sama persis dengan keterangan Maman. Selama beberapa saat berikutnya, Seno memerhatikan Hendri dan yang lainnya berbincang. Tatapannya beralih pada Aditya yang menyambangi Hendri sambil mengulurkan ponselnya. Hendri mengambil benda itu dan langsung menyapa Abang iparnya. Namun, seketika dia meringis karena diomeli Wirya yang masih berada di kantor PBK. "Jangan marah-marah, atuh, Abang ipar. Nanti tensinya naik," bujuk Hendri. "Kamu bikin aku senewen!" sungut Wirya dari seberang telepon. "Kemarin Nirwan, sekarang Aditya yang mau dipinjam!" omelnya. "Selagi orangnya mau, Abang kasep." "Giliran ada maunya, baru muji aku. Teu baleg!" "Teu kudu dipuji. Maneh emang lebih cakep dari urang. Puas!" "Jigana teu ikhlas ngomongnya." "Pikaseb
09Sekelompok orang keluar dari mobil MPV hitam, yang terparkir belasan meter dari kediaman Martin. Mereka lari sekencang mungkin untuk menghalangi pria berkaus merah, yang tengah jalan sambil terhuyung-huyung. Nirwan yang pertama sampai, langsung menarik tangan kanan Martin. Sedangkan Ubaid menahan tangan kiri pria itu, sambil membaca doa dalam hati. Hendri dan Bayu yang tiba belakangan, serentak melakukan jurus halus olah napas. Kemudian mereka memegangi dada dan paha Martin, lalu menembakkan tenaga dalam secara penuh. Pekikan Martin mengiringi kemunculan kabut tebal di sekitarnya. Aditya yang telah berhasil membuka pintu, hendak mendekat, tetapi dicegah Nirwan. "Abang, siram air doa!" seru Nirwan sembari berusaha terus menahan Martin yang tengah memberontak. Aditya berbalik dan lari ke meja makan. Dia mengambil dua botol besar air mineral, lalu membawanya ke depan. Aditya membuka tutup botol pertama dengan tergesa-gesa, kemudian dia maju beberapa langkah dan menyiramkan air ke
10Siang itu, Martin tiba di rumah kontrakan bersama Seno, Aditya dan Nirwan. Mereka bergegas mengemasi pakaian, kemudian menaburkan bubuk bidara di sekeliling rumah. Mengikuti saran Hendri, Martin akan pindah ke hotel, dan nantinya dia ikut kelompok Hendri ke Bandung. Sebab dikhawatirkan makhluk yang lain kembali muncul, maka Martin harus menjauhi tempat itu. Sebelum berangkat, Aditya memastikan kamera CCTV berfungsi maksimal. Dia juga mengecek sambungan ke ponsel Seno, supaya yakin keadaan rumah itu tetap terpantau dari jarak jauh. Puluhan menit berikutnya, mereka telah berada di dekat gudang proyek. Hendri tengah menyoroti bagian dalam gorong-gorong, yang menurut pekerja telah tertutup tanah dan sampah. Martin memerhatikan sekeliling. Dia seolah-olah merasa mengenali tempat itu. Padahal dia belum pernah menginjakkan kaki di sana. Meskipun sudah sebulan Martin berkantor di lokasi tersebut, tetapi dia memang belum pernah meninjau kawasan belakang. Tatapan Martin beralih ke ujung
11Hendri dan Martin berdiri di teras sambil memandangi mobil MPV hitam yang dikemudikan Ubaid, bergerak menjauhi kantor pengelola proyek. Setelah mobil itu lenyap dari pandangan, keduanya berputar dan memasuki kantor. Tidak berselang lama Aditya dan Nirwan datang bersama Seno, sembari membawa banyak wadah makanan di dalam kantung plastik besar. OB kantor membagikan tempat makanan itu pada semua staf, kemudian sisanya dibawa ke belakang untuk dibagikan pada beberapa karyawan lainnya. Hendri bersantap sambil memandangi layar ponsel. Sudut bibirnya melengkungkan senyuman, kala membaca perdebatan rekan-rekannya di grup PC, tempatnya menjadi anggota. Tawa Hendri meledak menyaksikan kericuhan di grup itu. ****Grup PC 3*Idris : @Bertrand, sini kamu! Kita duel! Farzan Bramanty : Hayoloh, Bertrand. Farisyasa Kagendra : Bertrand ngumpet. Yoga Pratama : Dia ngeri dihajar Bang Idris. Nandito SAG : Buruan minta maaf, @Bertrand. Jevera Patibrata : Yang muda kudu sungkem sama yang tua.
12Hendri terbangun ketika mendengar suara Martin. Alih-alih membangunkan lelaki muda tersebut, Hendri justru meraih ponselnya dari meja kecil, lalu mengarahkannya pada Martin sembari mengaktifkan fitur video. Aditya yang turut terbangun, akhirnya ikut merekam igauan Martin. Sang asisten Yoga itu terkejut, ketika pria berkaus putih memekik dan meneriakkan nama seseorang. Hendri terus mengamati kala Martin terisak-isak. Dia seolah-olah bisa merasakan kesedihan calon iparnya tersebut. Terutama karena tangisan Martin yang menyayat hati. Sekian menit berlalu, suasana telah kembali tenang. Martin sudah terlelap, demikian juga dengan Seno dan Nirwan. Hendri memberi kode pada Aditya untuk mengikutinya pindah ke sofa. "Margaretha, aku kayak pernah lihat nama itu, tapi nggak tahu di mana," cakap Hendri. "Coba diingat-ingat lagi, Kang. Mungkin itu petunjuk penting," sahut Aditya. "Nantilah. Aku, tuh, kalau memaksa otak buat berpikir, malah makin buntu." "Terus gimana?" Hendri memegangi
65Bulan berganti. Proyek KARZD akhirnya rampung. Pagi itu diadakan peresmian bangunan yang akan menjadi pusat bisnis sepanjang hampir 1km. Ketiga bos HWZ dan keluarga, serta para tamu undangan, memenuhi lobi utama gedung yang akan menjadi pusat kegiatan di kawasan strategis ituKeluarga Danantya, Pramudya, Baltissen dan Adhitama juga turut hadir. Selain mereka, beberapa sahabat Martin di PC dan PCD juga menghadiri acara penting bagi KARZD. Setelah Hendri dan Martin menyampaikan pidato, Mulyadi menaiki panggung untuk membacakan doa, yang diikuti hadirin dengan khusyuk. Selanjutnya, acara pengguntingan pita yang dilakukan kelima komisaris perusahaan tersebut. Zein dan Martin mengapit Wirya, Zulfi dan Hendri. Mereka bersama-sama memotong pita, kemudian mereka mempersilakan ketiga bocah untuk memencet tombol. Bayazid, Fazluna dan Rhetta, berseru ketika berbagai hiasan dari kertas mengilat, muncul dari lantai dua dengan diiringi aneka pita kecil berwarna-warni. Puluhan menit terlewati
64Jalinan waktu terus bergulir. Semua anggota rombongan penembus lorong waktu, telah kembali ke kediaman masing-masing dan menjalankan aktivitas seperti biasanya. Yìchèn yang menetap di kediaman Frederick Adhitama, telah membaca surat panjang dari Shin Hung. Bersama Qianfan dan yang lainnya, Yìchèn juga sudah membahas isi surat dan silsilah keluarga Chow serta Shin Fung. Dua minggu berlalu, Martin dan tim Bandung mendatangi Yìchèn di Jakarta. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan tentang isi surat itu. "Koko yakin mau berangkat ke sana?" tanya Martin sambil memandangi kembarannya lekat-lekat. "Ya, tapi tidak sekarang," jawab Yìchèn. "Lalu, kapan?" desak Martin. "Menunggu aku punya identitas sendiri." "Oh, belum selesai, ya?" Yìchèn mengangguk mengiakan. "Pengacara keluargaku tengah mengurusnya." Martin mengangkat alisnya. "Keluarga Koko?" "Ya. Aku sekarang jadi bagian dari keluarga PBK." Martin mengulaskan senyuman. "Betul juga, sih." "Koko mau diangkat anak sama Papa
63Bau angit sisa-sisa kebakaran, yang sempat memenuhi area kanan belakang kantor pengelola proyek KARZD, perlahan menghilang. Matahari pagi bergerak cepat memutari bumi. Siang menjelang dengan diiringi gerimis, yang menyebabkan tanah di sekitar gudang kecil menjadi basah. Tim tiga dan empat berjibaku membangun tenda, dengan dibantu Seno, Ridho, dan Muchlis. Maman, Jajang, dan para petugas keamanan, juga turut membantu menjadi penyedia konsumsi. Dua lampu sorot besar diarahkan ke pintu gudang yang ditutupi kain hitam. Empat lampu lainnya digunakan untuk penerangan sekitar tenda, yang dibangun memanjang dari depan gudang kecil hingga ujung gudang besar. Yuanna merapikan lipatan handuk dan pakaian ganti buat anggota rombongan yang berada di lorong waktu. Sedangkan Gantari dan Sinta menyusun bungkusan plastik bening yang berisikan kue-kue serta minuman. Arsyad jalan mondar-mandir di sisi kanan tenda. Dia benar-benar khawatir, karena kelompok Zainal dan Hendri belum juga muncul. Pada
62Seorang pria tua menyambut rombongan Yìchèn dengan penghormatan. Dia memberikan bungkusan kain pada orang terdepan, yakni Dante. Keduanya bercakap-cakap sesaat, sebelum lelaki tua membuka pintu bangunan kecil itu. Cahaya terang seketika terpancar dari dalam. Semua orang di bagian depan menyipitkan mata, kemudian mereka berbaris dua orang, sesuai arahan Wirya. Yìchèn yang berpindah ke depan bersama Freya, memberi hormat dengan sedikit membungkuk pada suami Shin Fung, dan keluarga Chow, yang membalas dengan hal yang sama. Yìchèn menegakkan badan, lalu menunggu kedua orang terdepan memulai perjalanan mereka menuju masa modern. Hendri dan Zein menggerak-gerakkan kedua tangan mereka membentuk jurus halus olah napas. Keduanya serentak menembakkan tenaga dalam ke cahaya, yang seketika meredup dan memperlihatkan kumparan kabut tebal yang tidak terlalu terang. Hendri dan Zein melangkah bersamaan. Ubaid dan Bayu mengikuti di belakang. Keempatnya bekerjasama menembakkan tenaga dalam ke s
61Langit malam dipenuhi jutaan bintang. Rembulan memamerkan bentuknya yang sempurna, hingga mampu sedikit menerangi dunia. Angin berembus sepoi-sepoi di sekitar halaman depan kediaman keluarga Shin Fung, dan menyebabkan dedaunan di pohon-pohon itu bergoyang dengan pelan. Puluhan orang memenuhi seputar halaman. Mereka menonton ritual sembahyang ala orang Tiongkok, yang dilakukan Shin Fung, keluarga Chow, Yìchèn dan Qianfan. Chyou dan kelompok berselempang kain merah, berjaga-jaga di dekat tempat pemujaan. Kelompok Wirya yang menggunakan selempang biru, bersiaga di sekitar area sebagai lapisan kedua. Pasukan Ming Tianba menjadi pelindung utama di seputar rumah besar. Mereka bergantian mengawasi jalanan, supaya bisa mendeteksi pergerakan dari luar. Sebab saat itu masih zaman penjajahan Belanda, semua warga harus berhati-hati dalam mengadakan aktivitas yang melibatkan banyak orang. Kendatipun Shin Fung dan Tan Liu Chow telah mendapatkan izin dari pejabat setempat untuk melakukan per
60Rombongan pimpinan Chyou tiba di depan rumah besar berarsitektur khas zaman dulu. Batu hitam menghiasi sisi bawah dinding, sedangkan bagian atasnya di-cat putih. Shin Fung mempersilakan semua orang memasuki ruangan. Dia penasaran, karena tidak ada seorang pun yang membuka kain penutup di wajah mereka. Selain itu, nyaris tidak ada yang berbincang. Selain Yìchèn, Qianfan, dan beberapa pengawal berselempang kain merah.Para pelayan bergegas menyuguhkan minuman dan makanan di belasan meja besar. Loko, Michael, Gibson dan Cedric mengelilingi setiap meja untuk mengecek, apakah ada racun pada hidangan. Shin Fung membatin, bila sepertinya anak buah Yìchèn memahami berbagai cara pengamanan, dan hal itu kian meningkatkan rasa keingintahuannya. "Saya belum tahu nama Tuan," ujar Shin Fung sambil memandangi pria berbaju cokelat di kursi sebelah kanannya. "Saya, Vong Qianfan," jawab lelaki yang rambutnya telah dihiasi uban. "Berasal dari mana?" "Guangzhou." "Bagaimana Tuan bisa bertemu de
59Kelompok satu dan dua akhirnya tiba di ujung lorong. Kabut putih tebal nan dingin menyelimuti tempat hening dan sangat terang itu.Semua orang mengatur barisan sesuai rencana yang telah dibuat ketiga komisaris HWZ. Mereka menunggu Martin mengatur napas, lalu mereka mengikuti langkah pria berpakaian bangsawan Tionghoa tersebut, menembus kabut. Hendri, Ubaid, Zein dan Bayu, mendampingi Martin di barisan terdepan. Keempat pria berpakaian prajurit tersebut, menembakkan tenaga dalam ke sisi kanan serta kiri, agar orang-orang di belakang bisa melihat lebih jelas ke depan. Tiba di depan gerbang besar bernuansa putih, Ubaid dan Bayu mundur. Posisi mereka digantikan Chyou dan Qianfan, yang akan bertugas sebagai pendamping utama Martin. Martin menempelkan telapak tangan kanannya ke gerbang. "Bibi, aku datang," tuturnya menggunakan bahasa Tiociu. Martin mundur selangkah ketika gerbang membuka sedikit demi sedikit, hingga terbuka sepenuhnya. Martin tertegun menyaksikan seorang perempuan pa
58"Baru kali ini aku masuk lorong waktu. Ternyata sepi dan ... aneh," tutur Zulfi dengan suara pelan. "Aku juga baru tahu bagian dalamnya kayak gini. Kemarin itu cuma masuk beberapa meter," jawab Wirya. "Kita melalui jalur aman, Bang. Ini bagian paling dalam dari lingkaran kumparan waktu," jelas Rahman yang berjalan di depan bersama Wirya. "Ada berapa lapisan, Man?" tanya Zulfi yang berdampingan dengan Dante di barisan kedua. "Biasanya, ada tiga." Rahman menunjuk keluar. "Tim Kang Hendti ada di lapisan kedua. Lorongnya lebih besar, tapi banyak akar dan bebatuan. Nggak kayak yang kita lewati ini," lanjutnya. "Lapis ketiga, lebih gelap sekaligus banyak gangguan. Itu yang dilewati kelompok Kang Hendri, waktu mencari Koko Martin tempo hari," pungkas Rahman. "Pantas mereka semua luka-luka," sahut Wirya. "Ya, karena di sana mereka bertemu dengan berbagai bentuk makhluk gaib. Paling banyak, kurcaci yang bentuknya mengerikan," terang Rahman. "Kayak di film The Lord Of The Ring?" "Be
57Matahari baru naik sepenggalah, ketika sekelompok orang berkumpul di dua tempat. Kelompok Zainal berada di belakang kantor pengelola proyek. Sedangkan kelompok Zein berada di dekat mulut goa tepi sungai. Yìchèn yang ikut dalam rombongan kedua, memerhatikan sekeliling sambil bergumam. Dia kaget, karena tempat itu memang mirip dengan sungai di Guandong, yang pernah didatanginya tempo hari. Yìchèn memegangi beberapa bebatuan yang landai. Sungai yang airnya menyusut karena musim kemarau, menjadikan batu-batu itu bisa terlihat jelas. Pria berambut sebahu, duduk di salah satu batu. Dia meraih seruling khas Chinese yang dibawakan Chyou dari Taiwan, lalu menempelkan benda itu di bibirnya.Alunan musik tunggal nan lembut, menyebabkan semua orang terdiam. Mereka menonton Yìchèn yang tengah bermain musik sambil membayangkan sosok orang-orang yang dikasihinya. Yìchèn begitu merindukan Mùchèn dan kedua orang tuanya. Bahkan pria berambut sebahu tersebut juga merindukan kudanya, yang telah ma