Ameera menatap sendu ke luar jendela kamar yang terbuka, sementara di sana penampakan tak elok terpampang nyata. Sisa-sisa pertarungan sengit antara Drake dan Ash telah meninggalkan kerusakan yang cukup mengesankan. Bahkan jika hanya puing-puing yang terlihat, tetapi tampaknya itu tidak membuat Ameera berpaling barang sejenak.
Pandangannya lurus menghunus ke arah depan tanpa peduli jika di atas tempat tidur, ada Ash yang tengah terbaring miring menghadap ke arahnya dalam raut bosan. Ini sudah 1 jam berlalu dan Ameera seolah belum terbangun dari lamunan panjang yang tak berujung.Bangkit dari pembaringannya, Ash kemudian berjalan mendekat ke arah Ameera. Dia berkata, "Hei, apa kau akan terus diam seperti ini? Kau tidak lupa, kan? Sejak satu jam yang lalu Yuu dan Ervan sudah meninggalkan tempat ini. Bukankah seharusnya kita mengejarnya?"Ketika Ash pikir Ameera mungkin tidak akan mendengarkan, sebaliknya dia cukup terkejut begitu mendengar ada respon yang berasal dari manusia mirip manekin itu."Aku tahu," kata Ameera, lemas. Dia berbalik menatap Ash yang berdiri menjulang di hadapannya. "Aku berdiam diri di sini dan tidak menahan ketika Yuu pergi, bukan berarti aku telah menyerah akan dirinya. Hanya saja, aku sedang menunggu," tambahnya.Kening Ash berkerut. "Menunggu apa?""Malam hari, ini masih sore."Manik Ash kontan melebar, meski begitu, dia mengendalikan raut wajahnya secepat yang dia bisa dan menggantinya dengan mimik datar. Jelas, Ash tidak pernah mengira bila Ameera kemungkinan berencana membiarkan Yuu kembali berada dalam masalah.Tentu, malam hari adalah waktu yang tepat bagi Fredrick mengirimkan pembunuh lain untuk mengincar Yuu, atau kemungkinan dia akan menciptakan sosok Drake yang baru. Itu akan mudah baginya jika Ash tidak berada di sekitar Yuu.Menghela napas, Ash bergerak mengusap kepala Ameera sementara gadis itu terdiam seolah itu bukan hal baru. "Jika kau berniat membuatnya kembali diserang, aku hanya perlu menolongnya lagi, kan? Apa itu rencanamu?" tanya Yuu.Ameera mengangguk. "Ya," ucapnya dibarengi raut wajah kaku. "Dasarnya, kehidupan damai yang diimpikan Yuu tidak akan pernah terjadi. Kau tahu kenapa, Ash? Karena Ayahku tidak akan pernah berhenti mengejarnya sebelum Yuu terbunuh."Ash berdecak. "Seharusnya kau mengancamnya dengan kalimat serupa sebelum pemuda keras kepala itu pergi. Dia mungkin tidak akan pergi dengan wajah sombongnya. Sial! Aku benci bocah itu!" Ash menggerutu sembari duduk di lantai. Tangannya meraih jemari Ameera lalu memainkannya seolah itu adalah benda. "Kau seakan memintaku bekerja dua kali. Tidakkah kau sadar bahwa aku benar-benar bosan berhadapan dengan Drake yang dihidupkan berkali-kali. Dia lemah.""Berhenti mengeluh! Ikuti saja rencanaku!" balas Ameera mengeram jengkel. Wajahnya terlihat masam sementara dia menghempas tangan Ash. "Dan satu lagi, berhenti memainkan jari-jariku!" makinya.Ash terkekeh. "Ah maaf, aku pikir jemarimu ranting kayu." Pria itu sekali lagi terbahak, tidak peduli seberapa jengkel Ameera akan tingkahnya.Jujur saja, Ash punya sisi buruk seperti ini selain suka berkelahi dan terkadang pemarah."Diam lah!" bentak Ameera dan beruntung Ash ingin mendengarkan. Gadis itu bangkit dari posisi duduknya, berjalan mengitari kamar seolah dia tengah memikirkan sesuatu yang teramat berat dia pikul. "Dengar, Ash. Aku tahu ini salah, tetapi jika Yuu tidak diberi pelajaran keras, dia tidak akan mau mendengarkan. Jadi, aku berharap dia terluka cukup parah hingga harus memohon."Ash menyeringai. "Aku tidak tahu kau punya sisi jahat seperti ini. Tetapi, aku suka."Manik Ameera bergulir cepat begitu mendengar kekehan Ash di belakang tubuhnya. Dan kemudian diredam sesaat setelah gadis itu berbalik dengan raut mengancam.Ash terlihat menahan tawa. Dia kembali berucap, "Akhir-akhir ini pun kau terlihat berbeda. Bahkan aku terkejut saat menyaksikan usahamu yang cukup maksimal untuk menahan si Kepala Batu hingga harus bersujud di depannya. Hanya saja, meski kau seorang Puteri, dia benar-benar besar mulut saat menolakmu. Sepertinya, di matanya kau hanyalah ulat sutra yang baru berusaha menggapai pucuk daun. Itulah mengapa dia tidak yakin denganmu."Ameera mendadak jengkel. "Sial! Berhenti mengataiku! Asal kau tahu, aku sendiri baru merasakan malunya meski niatku tulus." Gadis itu membuang napas kesal. "Yuu tidak ada bedanya denganmu, sama-sama menjengkelkan!""Hahaha! Baiklah, aku menyerah."Puas mengejek gadis itu, Ash segera bangkit lalu mendekati Ameera. Wajahnya pun berubah serius seolah sisa kekanakan di sana tidak pernah ada sebelumnya. Ameera sama diamnya ketika Ash meraih jubah besar miliknya lalu memakaikannya. Membungkus dan menutupi tubuh Ameera yang mungil hingga nyaris terbenam."Hari sudah mulai gelap, jadi pakai jubahmu. Sebaiknya kita segera menyusul. Rencanamu akan berantakan bila kita terlambat dan justru membiarkan Drake berhasil melenyapkan Yuu."Ameera mengangguk. "Benar, kemungkinan besar Yuu dan Ervan masih berada di perbatasan menuju hutan.""Apa kau tahu ke mana Yuu akan pergi?"Ameera menggeleng. "Tidak pasti, tetapi aku punya dugaan bahwa keduanya jelas menuju Kerajaan Erdamus."Tidak ada tempat yang paling mungkin akan dikunjungi Yuu setelah mendengar impian pemuda itu. Hidup dalam kedamaian, sementara Kerajaan Erdamus terkenal akan poin plus tersebut. Jelas, Yuu akan membawa Ervan ke sana setelah lepas dari perbudakan di Ernes yang kelam.Hanya saja, Yuu ibarat bayi yang baru saja lepas dari cangkang. Sosok yang hanya terkurung menyedihkan di dalam sangkar kelam perbudakan Ernes, dan karena itulah dia tidak akan tahu seberapa keras dunia luar akan menamparnya tanpa dukungan.Ameera menyipitkan mata sembari menatap ke arah jalan gelap ketika dia baru saja keluar dari rumah."Yuu, kupastikan kali ini aku akan mendapatkanmu!"Singgasana raja Kerajaan Eros tampak suram. Aura pekat yang membawa ketidaknyamanan benar-benar telah melingkupi seisi aula istana. Kesan temaram yang menambah kelam seolah ingin membangunkan kejahatan terbesar yang telah lama tertidur.Sementara itu, satu sosok agung yang telah menduduki takhta kerajaan dan membawanya dalam kegelapan yang nyata, tengah menopang dagu didampingi sorot datar dari atas kursi kebesarannya.Lalu, beberapa meter di bawah singgasana raja, bersimpuh lah sosok lain dalam kekhawatiran. Ada getaran di tubuhnya tak kala menyadari kemarahan tuannya telah menanti lantaran tugas yang dibebankan kepadanya sama sekali tidak dapat dijalankan dengan baik. Menunduk sembari memelankan suara untuk menarik perhatian pria berkuasa di atas sana, dia berkata, "Kali ini Hamba akan memastikan Anak itu terbunuh, Yang Mulia!"Hanya saja, satu decakan keras yang berhasil lolos dari belah bibir sang raja telah membuat hati pria itu menggigil seolah dia baru saja diterjang hawa dingi
"Kemungkinan besar kita baru akan tiba di pintu gerbang perbatasan Ernes dan Erdamus besok pagi, Ayah." Yuu mendongak menatap langit yang nyaris gelap. Pepohonan besar dan lebat seolah menghalangi binar cahaya lolos menembus tanah hutan yang lembab. Hari bahkan masih sore, tetapi keadaan sekitar seolah menunjukkan malam telah tiba. "Mungkin ada baiknya kita membuat kemah," Yuu menambahkan.Ervan ikut mengamati sekitar kemudian mengangguk. "Kurasa kamu benar, Yuu.""Kalau begitu, biar aku yang mencari kayu bakar. Ayah bisa beristirahat dan serahkan pekerjaan ini padaku." Selebihnya Ervan hanya mengangguk dan membiarkan Yuu melakukan apapun. Pria baya itu duduk tepat di bawah pohon berbatang besar dengan daun rimbun. Menyandarkan punggung mengingat rasa lelah seolah telah merajam tulang punggung beserta tungkainya lantaran telah berjalan sejauh ini. Sembari mengamati Yuu, mendadak teringat ketika dia seusianya. Ervan pun harus bertahan hidup di hutan belantara sembari membawa sang pange
(Beberapa jam sebelum Yuu terbangun.)"Kupikir kau akan membiarkan Yuu menderita hingga dia sendiri yang memohon pertolongan?" Ash bertanya pada Ameera, ketika dia teringat perkataan gadis itu sebelum memutuskan menyusul.Bagi Ash, tidak butuh usaha dan waktu yang lama mengejar ketertinggalan, bahkan jika kedua orang itu sudah setengah perjalanan menuju perbatasan Ernes dan Erdamus.Tidak jauh dari tempat di mana Yuu dan Ervan tidur dengan api padam, Ash bersama Ameera justru bersembunyi di balik batang pohon besar sembari mengamati keduanya. Tepatnya, Ameera yang menyeret Ash melakukan petak umpat ini. Ameera tidak menoleh ke arah Ash saat dia menjawab dengan ketus, "Aku berubah pikiran," katanya, yang seketika mendapati kekehan Ash. "Jangan bersuara, atau Yuu akan tahu kita sudah berada di sini. Kamu tahu dia sangat pemarah," imbuhnya."Jika aku menjadi kau, aku tidak akan membuang waktu."Kali ini Ameera menoleh sembari melempar pelototan. "Kita tunggu sedikit lebih lama. Aku punya
Setelah sepakat bahwa Ameera akan membawa Ervan menjauh dari lokasi mereka, Yuu akhirnya mendekati Ash seperti yang diinginkan pria itu. Ash berdalih bahwa dia telah menanamkan barrier pelindung bersama Ameera sehingga musuh tidak akan mudah menemukannya. Dan sesaat, belum ada serangan lanjutan yang diluncurkan musuh sementara Ash memanfaatkannya untuk menyeret Yuu mencari persembunyian di balik batang pohon. Di sisi lain malam kian larut, pendar cahaya bulan yang berhasil lolos dari celah dedaunan terlalu sedikit, tetapi dengan begitu mendukung persembunyian keduanya.Manik Ash berkilat tertimpa bias cahaya seolah mempertajam sorot matanya mengawasi sekitar. Tidak berbeda jauh, Yuu di samping pun melakukan hal serupa seolah keduanya saling mengintai teritori masing-masing."Mungkinkah mereka telah pergi?" Yuu berbisik, setengah bergumam namun dia yakin Ash dapat mendengarnya.Terbukti ketika Ash membalas, "Tidak," ujarnya, waspada. "Tetap perhatikan sekelilingmu. Aku tahu kau memilik
"Apakah mungkin Aint juga ada di sini?"Ameera jelas sama terkejutnya. Gadis itu bahkan tidak peduli bila belati mengorok lehernya lantaran terus bergerak. Dia terdesak ingin memastikan keberadaan Aint. Jujur saja, musuh paling menakutkan adalah Aint. Ash bahkan tidak bisa berbuat banyak di depan pria itu. "Siapa Aint?" Yuu bertanya. Maniknya ikut berotasi mencoba mencari kemungkinan adanya sosok baru yang tidak dikenal. Tetapi, dia tidak menemukan siapapun, sampai ketika dia mendadak menegang begitu mendengar suara bisikan tepat di belakang telinganya. Suara yang membawa desir ketakutan penuh kengerian. "Apa kau mencariku, Bocah Naga?" Aint menyapa sembari tersenyum ramah. Hanya saja, bahkan dengan senyum tersebut Yuu tidak bisa menggerakkan tubuhnya."YUU!! MENJAUH DARI SANA!" Ash berteriak panik, berlari secepat mungkin menerjang sosok Aint di belakang Yuu sementara pemuda itu membatu di tempat saking terkejutnya. "Apa yang kau lakukan di sini, Aint?!" Ash menarik Yuu menjauh. Me
Saat Ash terperangkap dalam kurungan halusinasi dan kemudian berakhir tidak sadarkan diri, di saat yang sama Aint berniat melancarkan serangan terakhir yang jelas akan melumpuhkan Ash detik itu juga. Hanya saja, Yuu tidak akan membiarkannya terjadi begitu saja. "Menjauh lah darinya, Brengsek!" Tanpa rasa takut, Yuu melompat turun ke bawah lubang besar yang terbentuk dari serangan mematikan yang dilancarkan Aint ke arah Ash sebelumnya, kemudian menerjang sosok jahat tersebut bersama tekad membunuh miliknya.Mendapati gangguan yang tidak menyenangkan, Aint spontan berbalik ke arah datangnya Yuu kemudian menghindar di detik yang tidak biasa. Yuu bahkan melebarkan mata terkejut mendapati ketiadaan pria itu di titik di mana dia hendak menyerang. "Tekad membunuhmu masih terlalu lemah, Bocah Naga," celetuk Aint, sementara Yuu yang masih dilingkupi kebingungan mendongak cepat ke arah bibir lubang di mana sosok Aint duduk sembari menggoyangkan kaki. Tampak begitu santai kendati Yuu menyoroti
Ketika kata 'tentu' tersemat dari bibir Yuu, tanpa peringatan Drake maju menerjang dengan kecepatan penuh. Seolah-olah, satu kata itu menjadi bel pertanda dimulainya pertarungan. Yuu jelas terkejut, tetapi demikian dia memiliki refleks yang bagus. Dia menghindar secepat yang dia bisa bahkan sebelum Drake tiba di posisinya. "Ash akan aku pindahkan, pertarungan ini jadi tidak berarti bila dia mati karena serangan Drake yang serampangan," Yuu berkata sembari memapah tubuh Ash yang sedikit lebih besar darinya. Di samping itu, Drake mendengkus sembari menatap Aint yang mengangguk mengizinkan."Kita harus menepati janji, Drake," sahut Aint begitu menemukan raut kesal di wajah Drake yang tidak tahan dengan aturan aneh ini. Toh, Drake adalah tipe penyerang yang tidak berniat bernegosiasi dengan lawan. Kening Drake mengkerut, tetapi demikian dia berujar, "Aku tahu. Walau aku tidak mengerti sejak kapan kau tertarik mengulur waktu seperti ini."Selebihnya, Aint hanya terkekeh.Hanya sesaat sete
"Hm, jadi Bocah Naga itu bisa membuat Drake mundur sampai sewaspada itu, ya?" gumam Aint.Dia menyeringai mengamati keadaan pertarungan yang mendadak hening. Mendapati Drake yang merasa terancam bukanlah sesuatu yang biasa lantaran sosok penyerang semacam Yuu. Pemuda itu sama sekali tidak terlihat berbahaya. Jadi, rupanya Aint telah salah menilai hanya karena melihat pertarungan sebelumnya. Sekarang, Aint benar-benar merasa tertarik.Aint mengenal Drake sebagai pria yang jarang mengekspresikan kewaspadaannya. Sejauh ini, satu-satunya musuh abadi dan sangat sulit dia hadapi adalah Ash. Hanya dengan melihat bagaimana raut wajah Drake dari jarak sejauh ini, Aint telah menebak ada kecamuk di dalam benak pria itu. Dan, Yuu adalah alasannya."Sepertinya, kau sangat tidak senang melihatku kembali bangkit," komentar Yuu, masih memejamkan mata seolah pemuda itu tertidur. Kepalanya bahkan bersandar di dinding tanah.Drake mendengkus. "Tidak juga, melihatmu bangkit sama halnya memberiku kesempa
"Jadi, katakan siapa kau?!" Yuu adalah orang pertama yang bertanya ketus setelah suasana tenang di dalam pondok. Mereka duduk berhadapan hanya dengan beralaskan tikar anyam yang bahkan sudah lapuk. Sementara Ash berdiri bersandar di ambang pintu dengan ekspresi gelap yang tidak berhenti muncul di wajahnya, menatap Jeffrey dengan aura membunuh yang bisa saja meledak hanya dengan sedikit pancingan. Beruntung, Jeffery bukan tipe kompor yang gemar mengadu. Di lain sisi, Ameera duduk berdampingan dengan Yuu. Berhadapan dengan pria yang mendadak merasa tidak dia kenali meski dia telah terkurung bersamanya selama beberapa hari di dalam goa. Ada raut penghakiman yang menuntut kejelasan di wajahnya dan Jeffrey mengerti suasana ini. Pria itu justru tersenyum kecil, berusaha untuk tetap tenang di situasi yang kapan saja bisa berubah. "Seperti yang kalian dengar, namaku Jeffrey." Menatap si peramal, dia menambahkan, "dan pria tua ini, adalah guru sekaligus Kakekku." "Apa?!"
Yuu bangun sangat pagi, sama seperti hari-hari sebelumnya dan mendadak benci kebiasaan ini jika saja dia tidak melihat hal buruk yang merusak paginya. Ameera dengan tidurnya yang serampangan dan Ash yang terkadang mengigau tidak jelas hingga fajar. Meski begitu, kedua orang itu tidur sangat lelap. Satu-satunya alasan mengapa Yuu selalu terbangun lebih awal karena mimpi buruk yang kerap menghantuinya, dan kian diperparah sejak meninggalnya ayahnya. Ketika Yuu terkurung di kawasan budak, dia sering memimpikan tentang kebakaran besar yang dia sendiri bahkan tidak pernah melihatnya. Dan dia baru menyadari bahwa itu ternyata berkaitan dengan kehancuran klannya berdasarkan penjelasan Ameera juga ayahnya. Jauh di lubuk hatinya, dia bersikeras bahwa semua yang dia lakukan untuk bertambah kuat adalah untuk membalaskan dendam ayahnya, tetapi Yuu tidak bisa menampik sebagian kecil dalam benaknya yang mendesak mengakui keberadaan naga dan asal-usulnya sendiri. Yuu selalu ingin melari
"Apa maksudmu? Jadi, Jeffrey adalah roh leluhurmu?" Ash menoleh, sedikit terkejut mengetahui bahwa Ameera telah sadarkan diri. Gadis itu bahkan sudah bisa menggerakkan tubuhnya mendekat ke arah mereka meski raut wajahnya kadangkala meringis. "Siapa Jeffrey?" Ash balik bertanya dengan raut tidak suka. "Pria yang sudah kau serang." Ameera beralih kepada Yuu sambil melanjutkan, "apa kau yakin, Yuu? Meski mencurigakan, tetapi aku masih ragu bahwa Jeffrey adalah Roh yang telah menculikku. Selama berada di goa bersama, dia tidak menyakitiku." Meski rasanya Ash ingin mengamuk mengetahui bahwa pria yang memiliki aura sangat kuat dan begitu mirip dengan si roh penculik adalah pria yang cukup gagah, tetapi dia sadar bahwa sekarang bukan saatnya melampiaskan emosi yang tidak berguna. Dia tidak ingin memperlihatkan perasaan cemburu tidak pada situasi yang baik. Akan sangat merugikan bila musuh muncul dan dia kehabisan energi. Pada akhirnya Ash hanya mengepalkan tangan sembari membuang napa
Ameera bisa melihat suasana semakin runyam. Ash tidak berhenti melakukan serangan hingga Jeffrey terpaku di posisinya seolah pria itu tidak sanggup bangkit. Memikirkan banyak hal, Ameera mulai skeptis jika Jeffrey adalah orang yang sama dengan roh yang telah menculik dan membuatnya terkurung di goa yang gelap. Keraguan terbesit di benaknya, dan jika itu benar, maka Ash telah menyerang orang yang salah!Lagipula, jika Jeffrey adalah jelmaan roh itu, bukankah dia cukup kuat untuk melawan balik Ash? Namun yang terlihat justru sebaliknya. "Aku harus menghentikan Ash! Ini mungkin hanya salah paham!"Yuu melotot bukan main mendengar penuturan Ameera. Sontak dia menarik gadis itu agar tetap berada di balik persembunyian mereka. "Apa kau gila! Jika musuh melihatmu lagi, Ash hanya akan terganggu!" bentak Yuu. Ameera bersikeras, "Jeffery bukan makhluk itu, dia sama denganku, kami berdua juga korban penculikan!"Sikap keras kepala dan tidak ingin kalah Ameera telah membuat Yuu berang. Pemuda
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Jeffrey tidak menoleh ketika dia mendengar pertanyaan Ameera yang setengah berbisik. Meletakkan jari telunjuk di depan bibir, Jeffrey memberi isyarat agar Ameera tetap diam. Gadis itu menurut dengan mudah. Pria itu melangkah perlahan ke arah mulut goa, mendekatkan daun telinga tepat di sisi batu besar yang menghalangi pintu keluar mereka. Pria itu seketika menyeringai. "Roh itu tidak ada," katanya. "Benarkah?" Jeffrey mengangguk kembali. Setengah senang Ameera berjalan cepat ke arah Jeffrey. "Tunggu apa lagi, bukankah kau memiliki rencana untuk keluar dari tempat ini?" "Memang," seru Jeffrey percaya diri. Ameera masih tertelan euforia ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal. Mengamati Jeffrey yang tengah mengambil ancang-ancang untuk memecahkan batu besar di depannya, gadis itu mendadak mengerutkan kening. Sedikit pelan, Ameera bersuara, "Jeffrey, bukankah kekuatanmu telah disegel oleh Roh itu sehingga kau tidak bisa bergerak?" Kali ini
Sudah nyaris dua hari Ameera belum ditemukan. Selama itu pula, Yuu berusaha meyakinkan Ash agar tetap menjaga kewarasannya. Tanpa Ameera, Ash jelas bukan manusia hidup yang selama ini Yuu kenal. Bukan lagi pria hebat yang mengalahkan Drake hanya dengan sekali serang langsung mematahkan lehernya. Pada akhirnya, Ash berubah menjadi pria uring-uringan yang tampak kehilangan jiwa. "Kau benar-benar menjengkelkan!" Yuu menggertak sembari menyeret tubuh Ash yang masih saja berbaring di atas tanah. Ngomong-ngomong, mereka membuat kemah di pinggiran hutan desa dan tanpa tenda. Beruntung mereka memiliki api unggun untuk menghangatkan tubuh. Tetapi tampaknya, Ash sendiri telah membeku; hati dan jiwanya lebih tepatnya. "Aku tidak tahu di mana Ameera berada," Ash bergumam lemas. Di satu sisi, Yuu menggerakkan gigi dengan kesal. "Justru jika kau seperti ini, si Tuan Puteri tidak akan pernah ditemukan. Jadi, bangkitlah, brengsek!" Ash mengangguk tidak yakin. "Yuu," panggilnya, semen
"Uhuk!!"Ameera terbatuk keras. Sangat keras hingga dadanya ikut terasa remuk. Dia meringis tatkala mencoba bangkit, sementara kesadarannya memulih usai mendapati dirinya berada di tempat yang teramat asing. Keningnya mengerut mendapati alas tidur jerami berbau apek. Dinding tanah yang lembab, bahkan beberapa di antaranya dihinggapi bulir air juga serangga berukuran kecil. Gadis Itu segera terperanjat. Bergerak mundur hingga punggungnya menempel di dinding dan memperkecil batas teritorialnya. Napasnya masih terlihat naik turun, dan karenanya, rasa sesak di dada kian menyiksa. Buru-buru dia mengusapnya, kemudian menyadari bahwa pakaian yang dia kenakan masih sama dengan kemarin. Bahkan lebih buruk. Robek di segala sisi ditambah bercak darah mengering membuat kesan horor untuk Ameera."Apa yang—akh!" Gadis itu mengerang, bergegas menyentuh sudut bibirnya yang berdenyut karena rasa perih di sana. Hingga sekelebat ingatan buruk menyeruak masuk ke dalam kepalanya. Memperjelas sebab meng
"Memangnya apa yang ingin kau katakan? Wajahmu sampai seserius itu," celetuk Ash. Langkahnya terlihat ringan, mencoba mengimbangi Yuu yang berjalan pelan di sampingnya.Tetapi, langkah Yuu yang berhenti membuat Ash mengalihkan perhatiannya. "Ada apa?" tanya Ash. Yuu menoleh dengan raut horor. "Ash ... Ameera dalam bahaya," ujarnya dengan suara parau, nyaris tercekat. Telunjuk pemuda itu mengarah ke arah pintu kamar mereka yang telah rusak poranda. Detik yang sama Ash menatap hal serupa. Yuu bahkan bisa melihat perubahan raut wajah pria itu. Perpaduan pias dan syok. Tanpa bisa dicegah, Ash telah berlari dengan langkah kilat menunju kamar. "Oh, tidak! Ameera!" teriaknya, disusul Yuu di belakang. Dada Yuu naik turun. Rasa masam di tenggorokan membuat perasaannya kian memburuk. Penampakan seisi kamar yang rusak dan ketiadaan Ameera, jelas telah memberitahu mereka bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi di tempat ini.Dengan perasaan takut, Yuu melirik Ash yang tengah berjongkok. Jemari
"Mereka sudah gila!" Ameera meringis. Tidak jauh dari tempat persembunyiannya, dia menyaksikan Ash dan Yuu tengah mempermainkan dua orang preman pasar. Dua orang yang telah mereka incar sebelumnya. Bahkan jika tubuh kedua preman sedikit lebih besar, tetapi Ameera jauh lebih prihatin kepada mereka. "Berikan semua uang yang kalian miliki!" Ash memberi satu pukulan. Tepat menghantam rahang, memaksa gigi si preman terlepas bersamaan teriakan pilu. Sementara di sebelahnya, kondisi preman lainnya tidak berbeda jauh di tangan Yuu. "Kalian merampas uang dari pedagang lemah. Kembalikan semua itu," peringat Yuu. Maniknya menghunus tajam, memberi ancaman tak main-main. Merasa tidak ada jalan, sementara lawan cukup tangguh, kedua preman saling melempar lirikan. Seolah memberi isyarat satu sama lain, bahwa menyerah adalah pilihan yang tepat. Bersamaan dengan itu, dua kantong berukuran cukup besar ditarik keluar dari dalam saku salah seorang preman. Melemparkannya serampangan hingga nyaris meny